Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

Kapan Sayyidina Muhammad SAW Menjadi Nabi?

Ada yang bilang bahwa Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi sejak awal sebelum usia 40 tahun, bahkan sebelum Adam tercipta. Itu tidak benar. Nabi Muhammad jelas baru menjadi Nabi setelah berusia 40 tahun, sebelum itu belum menjadi Nabi meskipun sudah ada berbagai kejadian luar biasa yang menunjukkan bahwa beliau spesial. Kejadian luar biasa tersebut istilahnya irhash, bukan mukjizat sebab istilah mukjizat hanya bagi mereka yang telah diangkat menjadi Nabi saja. Hadis yang menceritakan bahwa beliau diangkat sebagai Nabi tatkala berusia 40 tahun cukup banyak. Di antaranya adalah: عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ، قالَ: «بُعِثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وهُوَ ابْنُ أرْبَعِينَ سَنَةً "Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah diangkat menjadi Nabi tatkala berusia 40 tahun"  Sebenarnya dalil di atas sudah cukup, tapi sebagian orang betul-betul meyakini sebelum Itu Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi meskipun belum mendapat wahyu pertamanya. Mereka juga menguatkan pendapatnya dengan beberapa hadis. Untuk itu per

Catatan Kecil Sang Narapidana : Anakku Ingin Bicara

Anakku ingin berbicara, dari hati ke hati selama ini kata terhenti tertutup pintu dan tebalnya dinding. Anakku belahan jiwa, mengukir kebahagiaan di kegelapan sepi, menatap langit mata berkaca-kaca, hati tak pernah membenci, tak pernah memaki, aku ingin kau dapat tegar berdiri, menyibak tirai malam menuju fajar berseri, anakku yang manis. Katakanlah selagi kau bisa, jangan ragu bermuram durja, berbicaralah selagi aku masih ada…. --- 31 Maret 2011 17:40 By Muhammad Saroji - Majalah Sastra © Copyright - All Rights Reserved

Catatan Kecil Sang Narapidana : Sulit

Memikirkanmu aku menjadi sakit, karena kau jiwa yang sulit. Cinta, mengapa menjadi berbelit-belit, apa kau merasa pesonamu telah setinggi langit? Apakah harus ku rapal semar mesem? atau lelakon topo pendem? Cinta, Pikiran tak karuan hidup tanpa tujuan, gema adzan membangunkanku dari mimpi, oh, hanya mimpi... --- Ditulis di Batu Ceper - Tangerang, 21 Maret 2011 By Muhammad Saroji - Majalah Sastra © Copyright - All Rights Reserved

Catatan Kecil Sang Narapidana : Ya Allah

Ya Allah, perkenankan hamba berlayar di lautan AsmaMu, bandara hati ini bergoncang hebat, meluapkan bah rindu-bahtera berlalu, hamba yang kecil, lemah dan fakir tengadahkan tangan ke penghulu langit mabuk, tenggelam dalam kejahiliahan fikir. Ya Allah, inilah suaraku bergaung lirih menyayat kalbu, samudera CintaMu menenggelamkan alpaku, pilar-pilar suci kokoh berdiri di berandanya hamba bersanding, meratap dan mengemis. Ya Allah, memujiMu Ya Malik, mengharap RidhoMu Ya Karim, membelah jiwaku Ya Salam, hamba lelah hamba letih Ya Rohman Ya Rohim Ya Allah…. --- Ditulis di Tangerang 20 Maret 2011. Diterbitkan pertama kali pada tanggal 1 April 2011 01:10. By Muhammad Saroji - Majalah Sastra © Copyright - All Rights Reserved (Tangerang 20 Maret 2011)

Catatan Kecil Sang Narapidana : Hati Penyair Kepada Kekasihnya

Ku ingin terbang bagai burung menjelajah senja menjemput setangkup rindu, mawar sekuntum di jambangan tak kan layu, harum mewangi di-iringi nyanyian merdu, mengalun, merayu. Tapi kepak sayap ini tersangkut duri, lumpuh terpuruk di penjara ini. Perkenankan permohonan ini mengalir, mengepul asap dupa menyapa relung mimpi, Duh, dimanakah kau kini ? duh, mengapakah jiwa ini terjerembab di rimbunan perih ? duh, kapankah berakhir keterjajahan ini ? duh, ternyata kau tak mengerti ada embun hangat mengalir di pipi ini… --- 1 April 2011 01:19 By Muhammad Saroji - Majalah Sastra © Copyright - All Rights Reserved

Catatan Kecil Sang Narapidana : Hati Penyair Kepada Sahabatnya

Sahabatku, Malam ini Purnama timbul tenggelam, bersembunyi di balik tirai malam. Sahabatku, indah bukan bila kita bersahabat dan bersaudara, tapi selama ini kita tak pernah bertatap muka, berjabat apalagi bercengkrama, toh kita telah hadir dalam do'a dalam harapan dalam jiwa yang tak pernah bersetubuh apalagi bercinta. Inilah penjara, akulah narapidana, terkurung dalam kepalsuan diri bercumbu dalam ratapan kata, lirih, hampir tanpa makna menitikan bulir air mata kering ditelan padang pasir. Sahabatku, telah berakhir penantian, telah meluap rindu bak bengawan kering kerontang. Bukankah tatapan mata langit meruntuhkan daun kering berguguran? Kulitku mataku kakiku menjamah flamboyan, merah, mengingatkanku ketika kau katakan …akulah cintamu, akulah hidupmu akulah matimu akulah surgamu. Sahabatku, penantian telah berakhir pada saat purnama kan bergulir, bukan aku cintamu bukan untukku hidupmu bukan untukku matimu bukan untukku surgamu…, --- Batu Ceper - Tangerang 19 maret 20

Maharani, Katakan Cinta Sekali Saja

Maharani, Rinduku malam ini bagaikan jelaga hitam, menerawang pandangan di kegelapan tak ada alpa tentang kerinduanku seorang, rindu yang sepi, suci dan abadi. Maharani, padamu ku titipkan suara, aku tak dapat bersenandung apalagi merayu sedu sedan, bulir-bulir asa menantikan jawaban, katakan cinta, sekali ini saja. Maharani, Ku biarkan pena ini menari di atas selembar kertas, karena menatapmu aku tak kuasa, bola matamu adalah sejuta cinta, desah nafasmu adalah deru kerinduan, aku mengaduh tersimpuh, katakan cinta, sekali ini saja… --- Di tulis di Batu Ceper - Tangerang, 7 April 2011 17:18 By Muhammad Saroji - Majalah Sastra © Copyright - All Rights Reserved

Catatan Kecil Sang Narapidana : Pink Diary

Kupandangi kapstock lusuh yang terpajang di dinding, buram kacanya yang retak membias di keremangan kamar, entah berapa puluh tahun kapstock ini terpajang di sana, telah terpajang sebelum aku lahir ke dunia, menemani kesunyian tempat bergantung pakaian lusuh dan kumal, tempat wajah makin tuaku berkaca, masih pantaskah disebut ketampanan di usia kini. Di peraduan ini aku terbaring lelah, sambil memandangi secarik undangan pernikahan berwarna pink 15 tahun yang lalu yang masih tersimpan rapih di album diaryku, pernikahan seseorang yang telah pernah menawan hatiku. Mengapa ?, mengapa masih ku simpan kertas undangan itu,? Karena sampai sekarang aku tak pernah menghadiri pesta pernikahan itu. Di peraduan ini hatiku mengenang perih, sama seperti 15 tahun yang lalu, kau tak pernah tahu saat itu aku berharap memohon maaf padamu, tapi thypus itu menghalangi langkahku, berjuang antara hidup dan mati demi kesembuhanku, mengikhlaskanmu berbahagia, berbahagialah hatimu, doaku untukmu. (True

Mawar Putih

Mengapa ku rindukan mawar putih di kala sunyi, ketika bersanding senja dengan gelap malam, seakan kau titipkan kepalamu di bahu kiriku, kemudian ku suntingkan mawar putih di sela-sela rambut sutramu, ketika itu kau pejamkan mata, dan ku bisikkan aku cinta padamu. Ah, tak ingin larut dalam lautan cemburu, mawar putih itu tak pernah ku petik ! tak ingin terlalu lama berpolitik karena kau memang tak pernah ku petik! dan aku tak pernah mencari alasan mengapa mesti meninggalkanmu…. Mawar Putih, seperti itukah harum pesonamu ? Aku memujimu, tak pernah luntur tak pernah mati? Aku mencintaimu, meski tak pernah ku miliki ! --- 30 April 2011 23:14 By Muhammad Saroji Majalah Sastra © Copyright - All rights reserved

Wajah Kekasih

Senja saga di tepian bandara ketika angin semilir membelai wajah kekasih dalam bayangan duh, lautan rindu menyuarakan gelombang menikam Mahapatih terbujur di hamparan gersang, menjadi ketakutan, menjadi kematian. Suara gagak mengingatkan pengembaraan, menyeberang negeri membelah lautan mengibarkan panji, bahwa ini tidak pernah putus asa pun tak pernah patah hati, tapi gagak makin jauh hilang di tepian langit merah saga menjemput kekasihya yang setia menunggu, di penantian yang panjang. Senja saga di tepian bandara, ketika angin dingin berhembus makin perlahan, wajah kekasih biarlah tinggal samar bayangan, mengiringi kelelahan di hamparan peraduan di malam-malam yang panjang… --- 22 April 2011 05:14 By Muhammad Saroji Majalah Sastra © Copyright - All rights reserved

Jangan Tinggalkan Aku Sendiri, Maharani

Muhammad Saroji - File Pribadi Kukuh,  nafas terbuang menghembus di belantara, dari puncak tebing hingga dasar lembah langkah terhempas membelah kesendirian. Pelipis ini berdarah-darah mengeja kemauan sukma entah hendak kemana, bulir rindu resah membiru titik embun runtuh dari pucuk daun, mata hatiku, Maharaniku. Lihatlah, akar menghujam perut bumi, tercabut, rubuh dan perih. Lihatlah aku menangis meratapi, masih mampukah menterjemahkan mimpi. Masih pantaskah aku bermimpi, Maharani ? --- 21 April 2011 00:21 By Muhammad Saroji Majalah Sastra © Copyright - All rights reserved

Cinta Dalam Perjalanan

Muhammad Saroji - File Pribadi Kekasihku  dalam kerinduan ini bukankah cinta ini menjadi indah ? Dengannya aku mengingatmu memujimu mengagungkanmu. Kekasihku bersandarkan pilar tua ini mengenangmu laksana membaca cerita suka cita kita, bukankah akan merasa kehilangan karena telah dipisahkan ? Bukankah cintaku ini nyata ? Senyata cinta kasihmu di hatiku. Tapi hampir saja aku berbalik arah ketika mengetuk pintumu aku tiada bisa aku sangka telah musnah hakikat sebuah cinta aku sangka telah terpuruk segala daya untuk sekedar mengenangmu dan menyentuh jari-jari lentikmu. Aku hampir saja berbalik arah acuh dan nista ketika merindumu adalah fatamorgana ketika merengkuhmu adalah lembah hayalan. Kekasihku bukankah masih ada cinta sedikit sisa dari ratapan hamba berputus asa ini cinta masih ada meski sedikit tersisa dari ratapan hamba yang tersiksa jangan biarkan birahi ini membara menyentuh api di padang gersang jangan biarkan hamba bagai kuda jalang yang berlari liar menembus malam hitam

Negeri Impian

Aku bermimpi tentang negeri impian negeri yang subur makmur dan kaya raya penduduknya ramah tamah dipimpin kepala negara yang bijaksana. Pernahkan Anda membayangkan negeri itu di depan mata kita tempat kaki kita berpijak tempat kita dilahirkan dan dibesarkan oleh ayah bunda tercinta ? Pernahkah Anda membayangkan betapa bahagia kita hidup di dalamnya tiada peperangan tiada penindasan tiada korupsi tiada pendustaan ? Pernahkah Anda membayangkan jauh di negeri Palestina dimana anak-anak meregang nyawa diterjang peluru para tentara negeri bedebah orang tua galau gulana telah sah-kah pembantaian umat manusia ? telah muliakah menumpahkan darah-darah manusia tak berdosa ? Ini bukan impian tapi kenyataan di sana anak-anak Palestina hidup di bawah bayang-bayang peperangan jihad fi sabilillah di sini anak-anak bermain layang-layang menikmati keindahan masa kecil dalam buaian bunda aku terus bermimpi tentang negeri yang indah dan permai jauh dari peperangan jauh dari genggaman penguasa haus

Munajat Cinta Abadi

Muhammad Saroji - File Pribadi Hari itu udara pengap,  panas bercampur gelisah, karena aroma keringat tubuhku yang sakit, yang tersiksa dan menderita. Aku mencoba mengerti, BUKAN! Tapi aku harus menikmati, karena sakit adalah bagian dari nikmat, bagian dari penebus dosa, mungkin aku kerap tergelincir, atau sering menyakiti orang, atau sering berdusta, atau bahkan membenci Tuhan. Aku lagi sakit, tapi aku lebih membutuhkan untuk mendamaikan diri, berdamai dengan waktu, berdamai dengan kesulitan, bahkan berdamai dengan rajukanmu sekalipun. Aku bahkan akan terus menikmati, setiap langkah yang melaju atau tersisih, akulah kehidupan, setiap saat bercengkrama dengan waktu menunggu kematian. Menikmati setiap detik, barangkali ada keberkahan yang mengalir, aku kan selalu berdoa, semoga ada cinta dan kasih sayang, yang abadi. --- By Muhammad Saroji Wed, 16 Mar 2016 13:46:11 +0800 Majalah Sastra © Copyright - All rights reserved

Cinta Di Bibir Senja

Kau, laksana air yang menyeruak, meniti bibir senja dalam balutan gerimis. Kau, sepotong cinta yang tak pernah dapat dibeli, dengan cucuran keringat yang membasahi bumi, mengapakah? Kau-pun dapat menangis, seperti robekan kulit tua yang tersayat perih, seperti seorang anak kecil berlari-lari, memanggil umi....umi.... pada seseorang yang makin jauh pergi. Kau, tentu ingin bernyanyi, atau sekedar berkeluh kesah, atau sekedar menghibur diri, dari duka nestapa karena penjajahan di negeri sendiri. Kau, tentu tak ingin bukan, sekedar tersimpuh lemah tak berdaya, dan bercengkrama pada tembok istana itu, sendiri? Kau, kau harus bangkit, kau pasti punya cerita, seperti kisah cinta Romi dan July, sepetik cinta yang kau beri, tak pernah berarti apa-apa, kalau hidup hanya sekedar menghitung hari. --- By Muhammad Saroji Fri, 15 Apr 2016 12:16:11 +0800 Majalah Sastra © Copyright - All rights reserved

Sudahlah Kang.......

Sudahlah kang......, jangan kau cabik-cabik hatiku dengan janji-janji manis tapi palsu, pertahankan kesucianmu, langkahmu masih panjang, tapi pasti. Sudahlah kang......, kau adalah pejuang, tapi tak lebih dari pecundang, pertahankan kehormatanmu, berkata tidak adalah sekali, jangan kau ulangi menjadi tidak TIDAK. Kang........ Kau tau bukan kelemahanku, diam dan menangis...?, bukan ! Itu kelebihanku, itu-pun kau terdiam dalam cengkraman amarahku, aku menjerit, berdiri dan berlari, tak sudi menatap kecengenganmu. Sudahlah kang......, hidup bukan mimpi, tapi perjuangan, kematian adalah pasti, bukan hayalan. Kau tau bukan, Kang......? Keluhanku bukan jeritan nelangsa, bukan pula hendak mengutuk membabi buta, tapi memang kedustaanmu itu tak berharga, tak bermanfaat kekuasaanmu bagi sesama. Tanahku tempat berpijak ini Kang, kering bagaikan padang pasir yang gersang, kau tau bukan di tempat ini dulu berceceran darah para syuhada? Kau pasti lelah Kang, atau merasa bimbang ada yang hendak

Cinta Berbalut Gerimis

Muhammad Saroji - File Pribadi Kau,  bisu menerawang pada lazuardi senja, setia menunggu kembalinya si kecil dari ujung pematang sawah, rindu itu seperti jilatan api kecil, temaram seperti cahaya lilin ditiup angin. Kau, selalu bernyanyi tra la la, tri li li...., padahal suaramu sumbang seperti kaleng rombeng, percayalah, tapi itu bukan suara hatimu, suara hatimu adalah dendam dan kebencian, tentang penindasan dan kebiadaban dari orang-orang yang mendakwakan diri sebagai penguasa, sebagai penegak hukum, pengemban amanat, padahal pengkhianat. Kau, Lantang suaramu memekak telinga, berisik mengusik di antara deru angin dan rinai gerimis. Di negeri ini, kau bebas bersuara bukan? bebas mengaji dan berdzikir, itulah kemerdekaan. By Muhammad Saroji Majalah Sastra © Copyright - All rights reserved

Rembulan Emas

Senja merah saga bersandingkan rembulan emas di langit timur, tirai awan laksana kapuk tipis, menemani bintang gemintang yang indah dan cemerlang. Di tepian bandara ini aku hendak melukis, menorehkan kanvas pada lembar-lembar kehidupan merah, kuning, biru, jingga, ungu, tangis, tawa, rindu, diam, cemburu, itulah cerita, dari perjalanan kaki hingga pengembaraan kalbu, di senja merah saga ini aku ingin berseri, bukan tangisan meratapi bintang sunyi, ini perjalanan bagai mengarungi samudra luas layar terkembang, terhanyut perahu terbawa angin, tapi perahu cinta ini tak ingin berbalik arah, dari kasih sayang menjadi dendam benci. Maharaniku, tegarkanlah perjalanan ini, setegar rembulan emas yang bertahta di langit timur, ini jiwa bukan lembar keputusasaan, bukan sukma tercabut dari duri, angin dingin tetap bertiup dari tepian bandara, menuju dermagamu tempat bahteramu berlabuh. Bahteramu jiwamu kasih sayangmu hidup matimu suci tetap suci. Maharaniku, di senja merah saga ini aku ing

Larut

Malam semakin larut semakin dingin berselimut kabut tak jua mata kunjung terlelap gelisah di pembaringan mengintip rembulan dari balik jendela terlelap, tenggelam di balik awan. Duh, langit gelap gerimis berkepanjangan ingin beranjak mencari kehangatan kesunyian kian mencekam membekukan langkah. Jiwaku, bersandar pada pilar kayu yang mulai lapuk inilah desah nafas yang tengah merajut mimpi di tengah keheningan diri yang tersisih. Di mana matahariku menanti seberkas cahaya kecil di penghujung hari, tangisan bayi-bayi mungil merindukan kedamaian dunia, tanpa kemunafikan, tanpa pengkhianatan, tanpa pertumpahan darah. Karawang, 3 Mei 2011 02:05 penghujung hari By Muhammad Saroji Majalah Sastra © Copyright - All rights reserved

Perjalanan Tak Bertepi

Ku pandangi dirimu dari puncak tebing ini, diri yang selalu melangkah, tertatih-tatih ku hela nafas panjang sesekali menggelengkan kepala, menyesali mengapa mesti terjadi perjalanan ini, perjalanan yang tak pernah bertepi. Sesekali antara batu dan jari kaki bertaut darah menitik, meringis perih duh, inikah kenikmatan penderitaan dari hati manusia tersisih. Gelak tawa peri bidadari mendekap awan dalam peraduan mimpi, sejoli hati melenguh sedih di antara langit dan bumi. Kemanakah hendak mengepakkan sayapnya, dirimu perkasa bertahta bak maharaja duh, mawar berduri keringlah sudah terpinggirkan dari melati putih… Di sinilah meredakan kemarahan, di puncak tebing… 6 Mei 2011 17:26 By Muhammad Saroji Majalah Sastra © Copyright - All rights reserved

Catatan Kecil Sang Narapidana : Lolong Anjing Di Malam Jum’at

Muhammad Saroji - File Pribadi Perempuan itu mengangkat gagang telepon, lalu dengan suara tersengal memanggil seseorang di ujung sana: Kaaang……..!!! cepatlah pulang malam ini Kang, tak usah menunggu lebaran haji, aku keburu dicekam rasa ketakutan lolong anjing di setiap malam jum'at….!! Perempuan itu masih merajuk, dengan ratapan yang makin ngawur, Kang !! Kenapa kau Kang!!, tak menjawab panggilanku, aku takut kang, takut, tiap malam sendirian, dicekam kesepian dan kengerian. huh….!!! suara perempuan itu mengomel. Dipandanginya foto lusuh wajah suaminya yang terpajang di dinding, "fuck you!!, kau tak jauh beda dengan anjing kurus yang menggonggong di malam itu. Diraihnya foto itu, dibanting ke lantai, pyaarrr!! hancur berantakan. usai sudah, mati sudah cerita kita, kang! 20 Mei 2011 05:51 By Muhammad Saroji Majalah Sastra © Copyright - All rights reserved

Catatan Kecil Sang Narapidana : Rumah Itu Bukan Rumahku

"Kaaaaaaaaaaang, aku Kangeeeeeeeeeeeeeeeennn!!" Kaaaaang !!!!!! Teriak-ku merajuk sambil pasang muka cemberut, kenapa tidak sebentar saja kita duduk disini, ngopi sambil memandangi bintang di langit, kita sudah kaya raya, Kaaaang !" Tapi teriakanku seperti nyanyian katak dalam tempurung, nyaring kaaaaaaaaaaang….. kuuuuuuuuuuuuuung……….. tapi badan terkurung bagai orang gemblung. huh!!!!!!!!!! aku bisa memaksamu berhenti, kang!!!! berhenti berlari kesana kemari, ku pasang kakiku di depan kakimu dan kau terjatuh, gubrakkkkk!!!!!!!!!! dan meringis kesakitan. Tapi bukan itu maksudku, kang! Aku cinta padamu aku kangen padamu kau segalanya bagiku, Bukankah aku ini surgamu ? Bukankah ini rumahmu? Bukankah aku ini istrimu ? Bukankah mereka semua anakmu ? Kenapa kang??????? kenapa membuncah seribu amarah, kang!! Kaaaaaaang!!!!!!!!!!!!!!, haaaaaaaah??????????? kau malah tutup telinga??????????? kau anggap aku apa????????? Kaaaaaaaaaaaang! aku benci kamuuuu….. aku teriak sam

Catatan Kecil Sang Narapidana : Tuhan, Bolehkah ?

Pekan ini Aku pulang Kang, meski tak penuh kantongku, tapi cukuplah untuk setoranku aku kangen thole Kang, sebak dadaku menahan himpitan kuasa dan angkaramu tak mampu membendung rasa kangenku pada buah hatiku. O, iya Kang, ada sebuah hadiah juga untukmu, tapi masih ku rahasiakan darimu, hanya Tuhan yang tahu, karena aku telah mengadukan perihal hadiahku kepadaNya. Tak usah menjemputku di stasiun seperti biasanya ya Kang, aku mau menikmati perjalanan sendirian saja, karena nanti aku tak kan bisa menikmatinya. Ini suratku untuk suamiku tersayang, minggu lalu, suami yang telah menikahiku dengan mahar sekeping uang ratusan sisa kalah judi domino. Tak apalah, yang penting syaratnya sudah terpenuhi, itu kata suamiku. Malam ini, saat semua terlelap tertidur, bayangan suamiku tergambar jelas di langit-langit kamar pengap ini. Tubuh tegapnya berlumuran darah !! Pisau dapur seharga Rp 3500, menancap di punggungnya!! Ah, suamiku sayang, kini kaupun mati terjengkang!!, Siapa suruh kau seti

KepadaMu Ya Allah

Ya Allah, KasihMu yang luas tak bertepi tempat jiwaku bersandar berpasrah diri pada Samudra CintaMu berlabuh bahtera hidupku merebahkan diri pada peraduan yang suci. Ya Allah, perkenankan hamba terlelap sejenak melepas lelah dan gulana dalam buaian KasihMu hingga fajar kan menyingsing menjemput matahari terbit. Ya Allah, tetapkan imanku berkahkan umurku baikkan takdirku, amin 13 Mei 2011 17:46 By Muhammad Saroji Majalah Sastra © Copyright - All rights reserved

Kepasrahan

Dalam dekapan jiwaku engkau kecewa saat matahari kan terbenam engkau berpaling pula. Biarlah agar dapat kubaca jejak jejak langkah yang menyerah dalam kesunyian jiwamu. Di bawah matahari senja sebenarnya beri aku gairah biar tunduk pasti dalam kedamaian cintamu dan aku relakan malam malam kelamku berlalu dan hilang ketika kalah menghadapi kenyataan. Biarlah engkau kan meneguhkan diri dalam segala keyakinan dan pendirianmu aku kan melihat sendiri dengan tenang matahari terbenam di pojok desaku di antara pucuk pucuk daun bambu dan kujelang malam malam kelamku bersama kasih abadi Tuhanku. Pemalang 23 agustus 1989

Fikri

Kedamaian? Langit lihatlah! Lazuardi biru membentang awan awan berarak bertabur bintang gemintang. Tatap ! Di kejauhan batas cakrawala yang memanjang antara renja dan hijau panorama lihat pula di persada bumi tempat kaki kita tegak berdiri berpijak,berjalan mengembara mencari karunia Ilahi. Fikri itu semua tetap ada dan tetap kau saksikan sampai jiwa kita tak lagi merasa sampai pada batas kehidupan. Bukankah itu semua rahmat kasih Ilahi? Tentramlah kita dalam rahmatNYA hiduplah kita dalam hikmahNYA bersegeralah menuju kedamaianNYA yang hakiki dan abadi. Pemalang 12 oktober 1989

Kerdil

Tanganmu menjamah dengan sengaja dirimu memanja membelenggu diriku. Ketika itu aku punya satu cinta !! Tiba tiba hatiku retak pudar keteguhan cintapun terpetak petak. Di dadaku bimbang masih adakah kejujuran untuk sebuah cinta ? Cermin mengatakan sungguh jalang itulah aku. Kerdil itulah jiwaku. Pemalang 23 oktober 1989

Catatan Kecil Sang Narapidana : Nyai Kumprung

Siang itu matahari sangat terik, ketika Nyai Kumprung memanggil-manggil cucunya yang sedang memancing di kali kecil di sebelah gubug reotnya, "Le, thole, pulango le..! sudah siang, jangan mancing bae…!". Tapi si anak kecil itu yang tak lain adalah Si Udin tak menoleh sedikitpun panggilan dari neneknya yang sudah tampak sempoyongan jalannya. "Le! thole! Apa kowe ora ngeleh, iki lho ada nasi aking kesukaanmu!" pintanya lagi. aaah………..aking lagi, aking lagi… cuma nasi aking doang! Aku maunya yang kayak di tipi itu Mbah, yang ada satene" jawab Si Udin tiba-tiba menimpali. "Kowe iki persis kayak Bapakmu, ngaeng-ngaeng!!, nDak tau jaman lagi sulit, ekonomi lagi pailit, mrono nyusul Bapakmu ning neraka…!!!" teriak Nyai Kumprung sambil mengacung-acungkan pecut ranting kecil ke arah Si Udin lalu berlalu pergi. Lampu templok di pojok kamar meliuk-liuk ditiup angin yang dingin, malampun kian larut, ketika terdengar Si Udin meringis merintih-rintih di dalam kamar

Penantian dan Perjuangan

"Mbah, siapa lelaki yang duduk lesu di bawah pohon itu, Mbah?" tanya udin kepada Nyai Kumprung. "Mana le? Ngawur kamu, wong nDak ada siapa-siapa je! Cepetan, buruan, iket kayunya yang kenceng, kayu sebanyak ini cukuplah buat nanak nasi aking dua hari" jawab Nyai Kumprung. "Itu Mbah, itu…..duduk di bawah pohon akasia mati di sebrang kali itu…" teriak udin sambil menunjuk ke arah barat di seberang kali di depan gubug reotnya. "oh, itu le…wis-wis!, jangan diurusin, nanti kamu ketularan penyakitnya" jawab Nyai Kumprung sambil bergegas membawa ikatan kayu bakar masuk ke gubug reotnya. Dan Si Udin pun mengikuti di belakangnya. Nampaknya memang senja itu cuaca sedang mendung, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. "Le, buruan mandi, udah maghrib, ngaji ya le biar pinter kaya ibumu" teriak Nyai Kumprung dari dapur sambil meniup nyala api di tungku yang kadang mati tertiup angin. Tapi nampaknya Udin tak menghiraukan teriakan neneknya. &quo

Yang Di Depan Mata, Yang Bersemayam Dalam Hati

Huuh…. ingin mengeluh tentangmu karena kamu yang pernah bersemayam dalam hatiku, dan karena kamu hadir di depan mataku. Sejujurnya…. lama ingin mencampak bayang-bayang kehadiranmu, kamu adalah masa lalu dan aku tak ingin bermimpi tentang kamu, sudah kupendam sudah terbuang. Benar! Sudah kupendam sudah terbuang tiada lagi tersisa. Tapi kini kamu hadir kembali, di mataku kau mengeluh kau merajuk. Tidak! Tidak kini tidak besok mungkin selamanya, aku tetap di sini, tak pernah bersamamu sampai mati… 7 Juni 2011 16:49 By Muhammad Saroji Majalah Sastra © Copyright - All rights reserved

Di Persimpangan

Inilah, hati yang selalu galau di persimpangan, menatap tajam pada sebuah kehendak, kemudian kau katakan : bukan padaku kau memandang, berpalinglah! Aku pun berpaling pada yang lain, dan tak akan berpaling lagi pada yang lain , tapi kau katakan : tak mungkin, karena hatimu tak yakin. Ku berseru kepadamu : haruskah aku menjerit? haruskah aku memberontak? Jangan ajari aku menjadi binal dan kalap! huh……..! di persimpangan ini yang berkuasa kehendakmu, bukan bahasaku bukan air mataku bukan hidup matiku bukan jiwa ragaku….. 7 Juni 2011 16:46 By Muhammad Saroji Majalah Sastra © Copyright - All rights reserved

Ya Allah

Ya Allah, hanya padaMu hamba memohon ampun akan kekacauan semua ini. Ya Allah, diriku hanyalah setitik debu, lemah dan fakir. Ya Allah, genggamlah hati resah ini, siramilah kegersangan ini, Ya Allah Ya Malik Ya Karim Ya Allah…. Jangan biarkan hamba melangkah sendiri, menelusuri kegelapan, kosong dan hampa. Ya Allah, kepadaMu ku pasrahkan segalanya. 7 Juni 2011 16:43 By Muhammad Saroji Majalah Sastra © Copyright - All rights reserved

Samar Bayangan

Ku lihat keteguhanmu, berdiri di antara rimbunan kegersangan, menelisik perjalanan membuncah menengadahkan tangan, berbisik tentang kerinduan tentang keramahan tentang kedamaian. Ku berlari menelusuri puncak tebing, menuju suara lelahmu memanggil : "ternyata hanya samar bayangan… kaulah bergentayangan… samar dan hilang bertirai awan…". Duh, lupakanlah aku yang menyerah kalah, tinggalkanlah aku yang hampir kalap berkalang tanah, pada kelembutan melati ku titipkan cinta agar kau tau inilah cinta binasa dari sisa perjalanan, merajuk hingga akhir hayat….. 17 Agustus 2011 23:41 By Muhammad Saroji Majalah Sastra © Copyright - All rights reserved

Arcadia

Aku berdiri di persimpangan ini, menanti redanya gerimis di ujung senja ini, jaket lusuh basah kuyup, membalut tubuh kurus menggigil kedinginan. Duh, betapa malangnya diri ini, di negeri apakah ini, Negeri Arcadia-kah ? Ku jemput saja hujan yang semakin deras ini, biarlah, toh hanya sebentar menelusuri jalanan yang mulai terendam banjir, di ujung gang telah berdiri orang-orang menanti, orang-orang arcadia yang serindu senasib. Arcadia, mengapa kau ini, tak kau bebaskan aku untuk berlalu pergi, mencari jalanan sendiri, aku telah lelah, hampir menyerah kalah, aku telah perih, hampir tak tertahankan lagi. Arcadia, inilah aku… 14 Juli 2011 06:16 By Muhammad Saroji Majalah Sastra © Copyright - All rights reserved

Munajat

Ya Allah, Kau ajari aku dalam hidup dan kehidupan ini tentang perjuangan. Memahami duka deritanya, menghayati siratan hikmahnya. Ya Allah, sesuatu yang menjadi cobaan terbesar adalah keikhlasan, keikhlasan mensujudiMu, keikhlasan memahami kehendakMu. Ya Allah, betapa lemahnya hati manusia, berbolak-balik tak tentu menelusuri arah, sebentar ke kiri, sebentar lagi ke kanan, tak tegak, selalu dalam kebimbangan. Ya Allah, Kau karuniai aku kehidupan, Kau karuniai aku hidayah keislaman, dan kau gerakkan jiwa ragaku agar mensujudiMu, memujiMu, dan dengan RahmatMu Kau beri aku pahala karena mensujudiMu, dan kau katakan : "Akulah tujuanmu, dan RidhoKu adalah permintaanmu". Ya Allah, hingga kapan kesempatanku untuk tegak di jalanMu, dunia menggodaku, kerinduan tahta membelenggu, seribu keinginan memasung, menyingkirkan Suci AsmaMu, mencampak kehendakMu bagai Firman tak berarti. Ya Allah, detik demi detik, sepanjang siang sepanjang malam, tercurah RahmatMu tak pernah terhitung

Hanya Dirimu

Hanya dirimu yang mengatakan : "Hay…!" ketika aku sempat berdiri di persimpangan jalan. Hanya dirimu, ketika sempat ku terpaku, memandang liar kemudian tersipu malu ketika kau katakan : "Telah lupakah….?" (aku termenung sejenak, siapakah dia…) "Hay! Kaulah yang menyuntingkan mawar putih, di hitam rambut sutraku, sembilan tahun yang lalu!" teriakmu. Aku terhenyak, hanya dirimu, yang membuatku tak mengerti, siapakah engkau, mimpi? Hanya dirimu, menggodaku, kemudian berlalu pergi, tak pernah kembali….. 5 Juli 2011 23:54 By Muhammad Saroji Majalah Sastra © Copyright - All rights reserved

Belahan Jiwaku

Dalam kelelahanku ku rebahkan tubuhku di pembaringan, Ku berlindung di bawah hamparan kain batikmu, agar aku selalu teringat akan kehangatan cinta kasihmu, kaulah permata hatiku kaulah belahan jiwaku. Perjalanan ini panjang, melelahkan dan berliku, tapi kau setia menunggu kehadiranku sepanjang siang sepanjang malam, kaulah penjaga hatiku kaulah sinar permata yang tak pernah redup, tak lelah tak pernah mengeluh. Sampai kapanpun, Ku kan tetap berlindung di bawah hamparan kain batikmu, agar aku selalu teringat akan kehangatan cinta kasihmu, karena kaulah permata hatiku kaulah belahan jiwaku…. 2 Juli 2011 19:55 By Muhammad Saroji Majalah Sastra © Copyright - All rights reserved

Mata Hati Cinta

Kulihat di matanya pancaran cinta yang lembut bersahaja, kusapa dalam diam, seakan hamparan embun di tengah telaga. Wahai jiwa yang membuatku bahagia, wahai cinta yang membuatku bergelora, ku suntingkan mawar merah dalam padang asmara. Mekarlah bunga sekuntum, mewangi melati suci, prasasti terpahat untukmu, cintaku bertahta abadi. 10 Juni 2011 07:48 By Saroji © Copyright - All rights reserved

Catatan Kecil Sang Narapidana : Bara Api

Lantunan "Ayat-Ayat Cinta" melengking keras dari alarm ponsel jadulku mengiringi gema adzan subuh. Aku terbangun, bergeliat, menatap liar pada langit-langit kamar, seketika tubuh menggigil kedinginan, bukan dingin cuaca, bukan, tapi dingin hati yang dirasuki mimpi penuh memori, dua kali. Seketika ku berbisik lirih : "ada apa Sayang…?, bukankah aku telah melupakanmu, dan kamu telah melupakanku. Itulah kesepakatan kita….". Tapi malam ini kau bagai bara api, menaburkan amarah dan benci, membakar tubuhku, melumat jantungku, menghujam nadiku, aku berteriak "tidak" karena aku perkasa, kau amarah yang memburu… jiwaku, sekeping hati yang menyimpan kenangan indah bersama kekasih, Jiwamu yang hadir dalam mimpi, kupohonkan maaf kepadamu berulang kali sampai aku mati… 12 September 2011 17:40 By Saroji © Copyright - All rights reserved

Catatan Kecil Sang Narapidana : Entahlah

Entahlah, kekeringan ini kan berbatas… Entahlah ada apa di sana… Entahlah, terpidana terpinggirkan. Mengapa, harus ku dengar tangis keluh kesah kalau ternyata diri ini tak berdaya… Entahlah diri ini siapa, menjunjungmu tak bisa hendak bersembunyi berpaling muka. Kau tahu aku tak berdaya tak berkuasa…. 12 September 2011 17:05 By Saroji © Copyright - All rights reserved

Sudahi Lelah Ini

Kelelahan merambat masuk, memenuhi relung-relung hati, ingin ku buka cadar kelabu ini, demi menyeka keringat, melepas nestapa tapi kelelahan ini bukan untuk di maki apa lagi dibenci. Di ujung senja ini ku buka mata rapat-rapat ini, membuka untuk melihat terbenamnya matahari, bangunlah jiwaku tak sepantasnya kau bermimpi! Sudahi lelah ini! Bangunlah dan segeralah mandi di bejana suci ini! Panggilah buah hatimu, usaplah rambut hitamnya, kau selalu berharap : jaya, berjayalah karena hidup bukan sekedar mimpi tapi perjuangan sampai akhir hayat nanti! 12 September 2011 16:52 By Saroji © Copyright - All rights reserved

Mata Hati Cinta

Bulir embun menitik di keremangan malam, pada pucuk-pucuk pinus angin berhembus desahkan suara, entahlah… Suara kerinduan tak bermuara, menuju tebing yang tinggi, menelusuri lembah yang gelap, kemudian entah ke mana…. Mata hati cinta! Mata hati tak berair mata, kering luluh ditelan rimbunan gersang. Menghujanlah ribuan embun basahi jiwa, jangan hanya biaskan cahaya bintang dalam fatamorgana! Tapi aku ini pejuang, tak pantas luluh lantak oleh kecengengan nestapa, aku ini sang perkasa, tak pantas tertunduk berkalang tanah. Mata hati cinta! mata hati tak berair mata, karena kaulah pejuang, kaulah sang perkasa, tak pernah tunduk, tak pernah putus asa, selamanya…. 12 September 2011 13:22 By Saroji © Copyright - All rights reserved

Catatan Kecil Sang Narapidana : Tegar

Kenapa harus kalah dengan kejamnya kehidupan… Kenapa harus mengalah pada ketidakpastian…. Kenapa harus terkalahkan oleh ketersendirian…. Wahai jiwa yang tersisih, seperti langit jingga ditinggal sang mentari. Wahai malam yang kan berganti pagi, dijemput embun menitik turun ke bumi…. Bangkit dan bernyanyilah seperti nyanyian camar di tengah samudra. Berdiri dan berlarilah seperti kijang kencana meraut hujanan cakra, kaulah pejuang kaulah pahlawan kaulah intan kaulah mutiara di tengah lautan kehidupan… 9 Oktober 2011 10:35 By Saroji © Copyright - All rights reserved

※◆※Kasihku※◆※

※Kasihku.., Andai saja,.. Diri ini bisa seperti dia.,. Yang ada dalam hatimu… Yang kau cinta dan kau rindu… Alangkah…. Bahagianya hatiku… ※Kasihku…. Aku lelah tanpamu…. Sungguh… Aku lelah,.. Sungguh aku tak berdaya… ※Kasihku…. Dimana kau kini… Kaki ini lelah mencarimu… Kaki ini lelah mengejarmu… Kau… Membiarkanku… Sendiri dan termangu… ※Kasihku… Disetiap desah nafasku… Hanya terukir namamu… Disetiap derai air mataku…. Hanya menahan kangen dan rindu… Pada dirimu…. ※Kasihku…. Akan tetapi… Dirimu begitu jauh dariku… Serasa…. Tak mampu aku menjangkaumu… ※Kasihku…. Hanya kidung rinduku… Yang terbawa hembusan angin lalu… Semoga…. Bisa terbawa…. Sampai pada dirimu,,. Betapa… Aku merindukanmu… ★☆ Created 11/10/11 Published 11 Oktober 2011 10:36 By Saroji © Copyright - All rights reserved

Catatan Kecil Sang Narapidana : Seharusnya Aku Tak Di Sini

(dari balik jendela…) Pagi itu ku lihat dirimu duduk termangu, melamun seorang diri, binar nanar bola matamu, berkaca-kaca. Ku hampiri dirimu, menyapa meski basa-basi, tapi kau melenguh berdiri dan berpaling, ……aku protes kepadamu, mengapa kau hukum aku seperti ini…. Aku, yang tak mengerti kehendakmu, maafkan, yang tak memahami kekecewaanmu Kekasihku bukankah cinta itu suci ?, tapi tak secuilpun hatimu kumiliki Kekasihku, tak sepantasnya aku duduk di sini, menunggumu hingga akhir hayat nanti. maafkan… 14 Oktober 2011 11:41 By Saroji © Copyright - All rights reserved

Sahara

Di Beranda sunyi ini ketika jiwaku menghikmati diri tentang makna cinta yang kau beri kekasihku biarlah rinduku tiada bertepi cintaku bagai bengawan yang mengalir abadi….. Namun kesunyian ini seakan harga mati semati cintamu yang berlalu pergi Berandaku sunyi berkabut perih menitikkan embun menggores mata hati begitu angkuh kau berdiri di puncak tebing mencampak asaku menghujam lukaku cintaku ini, kau apakan kini Layu, perih, sendu, mati…. Di beranda sunyi ini sahara jiwaku gersang dan kering ketika jiwaku menghikmati diri tentang makna cinta yang kau beri Kekasihku biarlah rinduku tiada bertepi, cintaku bagai bengawan yang mengalir abadi, karena inilah cintaku yang suci dan abadi sampai mati…… 6 Oktober 2011 21:53 By Saroji © Copyright - All rights reserved

Di Batas Kota

Bagaikan burung, sayap ini telah mengepak jauh, menelusuri tebing, jurang dan ngarai… demi menjemput dirimu, demi cinta kasihmu. Ku dengar di sana kau bersedih, tentang cinta yang datang, hilang dan pergi, kau berlari memberanikan diri meninggalkan luka yang mengiris hati. Di batas kota, di antara bibir pantai dan tebing yang tinggi, ku lihat keanggunanmu yang bening, menitikan embun di pucuk jari manis, aku hanya menghela nafas, panjang-panjang, di batas kota ada cerita cinta yang tersisa… hingga akhir hayat nanti. 7 Oktober 2011 22:08 By Saroji © Copyright - All rights reserved

Sahara

Bagaikan burung, sayap ini telah mengepak jauh, menelusuri tebing, jurang dan ngarai… demi menjemput dirimu, demi cinta kasihmu. Ku dengar di sana kau bersedih, tentang cinta yang datang, hilang dan pergi, kau berlari memberanikan diri meninggalkan luka yang mengiris hati. Di batas kota, di antara bibir pantai dan tebing yang tinggi, ku lihat keanggunanmu yang bening, menitikan embun di pucuk jari manis, aku hanya menghela nafas, panjang-panjang, di batas kota ada cerita cinta yang tersisa… hingga akhir hayat nanti. 6 Oktober 2011 21:53 By Saroji © Copyright - All rights reserved

Catatan Kecil Sang Narapidana : Sudahi Lelah Ini

Kelelahan merambat masuk, memenuhi relung-relung hati, ingin ku buka cadar kelabu ini, demi menyeka keringat, melepas nestapa tapi kelelahan ini bukan untuk di maki apalagi dibenci. Di ujung senja ini ku buka mata yang merapat ini, membuka untuk melihat terbenamnya matahari, bangunlah jiwaku tak sepantasnya kau bermimpi! Sudahi lelah ini! Bangunlah dan bersegeralah mandi di bejana suci ini! Panggilah buah hatimu, usaplah rambut hitamnya, kau selalu berharap : jaya, berjayalah karena hidup bukan sekedar mimpi tapi perjuangan sampai akhir hayat nanti! 6 Oktober 2011 21:36 By Saroji © Copyright - All rights reserved

Catatan Kecil Sang Narapidana : Sekeping Hati

Malam, Jauh berlalu meninggalkan siang, berkejaran silih berganti, datang dan pergi menemani hari. Malam, Malam ini tak lagi aku bermimpi, tentang kemesraan sejoli dua hati, tentang melati yang bertaburan di pelaminan pengantin. Sekeping hati, separuh nyawa berlalu pergi. Akulah sang penanti, perindu cinta yang tak mungkin kembali sampai mati. 6 Oktober 2011 21:27 By Saroji © Copyright - All rights reserved

〖※〗Kutermangu〖※〗

※Kutermangu..... Menatap jendela kamarku,Mencoba...Menerobos keluar,Dari sela lubang,yang terbuka tidak terlalu lebar,Diluar,Malam,Gelap gulita....※Kutermangu....Dalam kesendirian,..Mata lelah,Menatap kegelapan,Yang semakin sunyi dan mencekam...Tiada sinar rembulan,Bahkan bintangpun,juga enggan untk berpijar,..※Kutermangu,.Dalam sendiri..Hati ini,Begitu lelah,Menahan beratnya beban,Berusaha,Kumencari jawaban,Akan tetapi...Semua tetap diam dan bungkam,※Kutermangu....Dalam sendiri,Mencoba untuk mengeri,Rasa cinta,Rasa rindu,Yang selalu menyiksaku,Janganlah terus mendera hatiku,Aku,Tidak mau,Sungguh,Aku tidak mampu,Pergi jauh dariku,※Kutermangu.....Dalam sendiri,Kurebahkan,Hati dan jiwaku,Yang begitu lelah karenamu,Malam,Temani aku dalam tidurmu,Selimuti hatiku dengan kedamaianmu,Agar tiada lagi kegundahan dalam jiwaku,Tiada lagi kegundahan dalam jiwa.,〖※〗【※】131011

Cinta Tak Sampai

Cintaku tak sampai pada Illahi, pada Nabi, pada kekasih hati. Terasa letih tuk menggapainya. Seakan kekecewaan mengantarkan pada keputusasaan. Cintaku tak sampai sebab kesabaranku belum teruji sebab kekhilafanku belum terampuni. Kesempatan itu masih panjang… namun aku semakin bimbang tak sanggup tuk memilih terasa pahit… terasa sakit… 16 Oktober 2011 18:01 By Asma Nur Murdiyah © Copyright - All rights reserved