Tampilkan postingan dengan label Kau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kau. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Oktober 2017

Kau dan Aku Usai Sudah


Muhammad Saroji - File Pribadi

Kau dan aku itu usai sudah,
ada batas yang tegas seperti tembok yang memisahkan dua kamar.
Kau dan aku tak patut bermain mata,
bagiku masa lalu kita adalah sampah,
yang harus dicampakkan.

Kau dan aku itu usai sudah,
setelah kita sama-sama tau di depan kita ada lonceng kematian.

@All Rights Reserved

Rabu, 19 Oktober 2016

Pertama Kali Ku Mengenal Cinta Adalah Kau

Muhammad Saroji - File Pribadi

Pertama kali aku mengenal cinta adalah kau,
tapi tak pernah ku jabat tanganmu
atau ku cium pipi merahmu,
atau merengkuh tubuhmu,
ke bahu kiriku.


Hidup berkawan sepi,
aku tersenyum sendiri bila mengenangmu,
tapi memandangmu dari dekat tak mungkin,
apalagi bercengkrama
berpadu kasih.


Pertama kali aku jatuh cinta adalah kau,
tapi tak pernah kau ku miliki,
hanyalah sepasang kembang yang ranum,
mawar dan amarilis,
ku bayangkan kau rebah di pangkuanku,
menikmati gerimis,
menyaksikan anak-anak kita berlarian bermain air,
memercik wajah-wajah penuh kasih.


Dan suara hati ini untuk engkau,
tangisan lirih tentang kerinduan yang tak pernah luruh,
hidup berkawan sepi,
menyibak padang ilalang
dan ranting-ranting berduri, sendiri
melati sekuntum bermekaran kemudian luruh,
seperti runtuhnya cintaku padamu, kini.


Kau,
pertama kali ku mengenal cinta.
dan kau,
pertama kali aku jatuh cinta.

---

Karawang - 19 Oktober 2016
By Muhammad Saroji
© Copyright - All rights reserved

Senin, 11 Mei 2009

Kedamaian

Malam begitu sunyi
jam dinding berdentang dua belas kali
sepotong cinta telah terbuang tadi siang
aku sendiri lagi.

Tak perlu lagi kutaburi dupa-dupa
agar harumnya membagi duka
karena kau tak pernah mengerti
selama ini tak pernah kunikmati kedamaian.

Kedamaian ?
Kau kira seperti terlelap tidur di ranjang ?
Atau jazad rapuh yang terkubur ?


Oh jiwa nestapaku
semoga esok matahari bersinar
dan jiwaku mendapat kedamaian.

Aku makin gelisah
asap rokokmu
mengepul merayapi dinding malam
mengingatkanku kau menghinaku
tadi siang...

Gunung Putri-Bogor
28 Juni 1995
Created by CentralSitus

Desah Nafas Kecewa

Kau hanya memandang diriku
dari jauh
tanpa kata-kata.

Biar
agar kau tak dengar desah nafas kecewaku.

Dalam perjalanan waktu
orang-orang silih berganti
tak terasa
beribu lelaki telah kau dekapi.

Menyakitkan
mimpi buruk paling menakutkan !

Di persimpangan jalan itu
tak lagi kau tatap wajahku
pergi dan menjauh.

Biar
agar kau tak dengar desah nafas terakhirku...

Jakarta
3 Desember 1994
Created by CentralSitus

Jumat, 27 Februari 2009

Potret

Sejak kecil
dan senantiasa
bertahun aku dalam kesendirian.

Ibu
potretmu itu sejuk dan teduh
tapi bisu tanpa suaramu
selalu aku tanyakan
kapan aku kan berjumpa denganmu.

Senantiasa
bertahun aku dalam kesendirian
tanpa hidupmu
sedangkan bayangmu hadir dalam kebisuanku.

Tanpa hidupmu
kau hantarkan aku menjadi bagian dari hidup
di dunia yang penuh pergolakan semu.

Ibu
tanpa hidupmu
selalu kupendam kerinduan yang dalam
padamu.

Pemalang 16 agustus 1989