Tampilkan postingan dengan label Fatamorgana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fatamorgana. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Oktober 2016

Fatamorgana

Muhammad Saroji dan Kawan-kawan



Dipandang kau berdiri
kibarkan nurani sunyi,
mestinya ku sapa kau
dengan salam,
atau sekedar basa-basi,
tapi senja ini engkau sengaja ku diamkan,
agar kau mengerti
apa sebenarnya yang terjadi.


Ku bayangkan kehadiranmu di cakrawala,
manis senyummu seindah warna lembayung senja,
tapi di sana tiada senyummu,
bahkan tiada keramahanmu,
diam membisu seperti batu bertafakur.


Dalam bimbangku, apakah engkau milikku ?
Benar,
kau adalah milikku,
tapi di hatimu bukan hanya aku seorang,
sepetik cinta telah kau genggam,
tapi separuh hatimu juga telah dipetik orang.


ku bayangkan dirimu di cakrawala,
mungkin ada harapan kau adalah milikku seorang,
tapi di sana hanya ada bayang-bayang kebimbangan,
fatamorgana,
tak dapat aku menjangkaunya.


Duh kekasihku,
di senja ini sengaja kau ku diamkan,
agar kau mengerti apa sebenarnya yang terjadi,
tapi kau tetap tegar berdiri,
mengibarkan nurani sunyi.



- - -
Ditulis di Gunung Putri - Bogor 21 September 1996.
Muhammad Saroji
© Copyright - All rights reserved

Kamis, 13 Oktober 2016

Fatamorgana

Muhammad Saroji - File Pribadi

Memandangmu,

yang berdiri di balik tirai jendela,

kekaguman menyeruak,

angin senja berhembus perlahan,

kepadamu hendak ku berteriak,

tapi suara tertahan,

suara lebih baik terpendam,

suara keraguan yang hendak bertanya : engkau kenapa ?



Istana,

di balik pintunya matamu menerawang,

di balik kegundahanmu lisanmu hendak bercerita,

tapi dari sini aku memujimu,

bahkan hendak meraih tanganmu,

membawamu berlari

meninggalkan istanamu,

menapaki pematang,

menelusuri ilalang,

menghikmati, menjadi manusia jelata..

Tak mungkin bukan ?

Ya, tak mungkin

karena akulah manusia alam,

yang bebas dan merdeka

dan kaulah maharani yang menjadi penghulu kemewahan dan keagungan,

yang sebenarnya adalah penjara !


Maharani,

dari balik pintu istanamu,

keindahan itu, fatamorgana bukan ?

air mata itu, perih bukan ?

Kekecewaan itu, menyedìkan bukan ?

------

By Muhammad Saroji

Selasa, 07 April 2009

Rindu Seorang Sahabat

Seorang sahabat pun punya rindu,
tidak dinyatakan untuk tanda cinta,
tidak dipendam untuk jadi kenangan

Rindu sahabat adalah perasaan tulus,
hati merasa sebagai suatu karunia,
berbahagialah insan yang menerima cinta,
karena hakikatnya ia karunia pula

Ketika budi pekerti menguasai segalanya,
keluhuran yang tumbuh tak tampak sebagai fatamorgana,
insan boleh berbangga berslogan,
tapi kata hati dan perbuatan harus sejalan.

Diapun sahabatku,
dia yang jauhpun sahabatku,
engkaupun sahabatku,
kepada kalian kutebarkan salam.

Ciputat-Tangerang 27 Januari 1992