Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2022

10 Muharram Di Karbala

Adalah sebuah bencana kemanusiaan yang menimpa salah satu pemimpin para pemuda surga, cucu Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, Sayidina Husain di Karbala. Namun para ulama kita dari Ahlussunah wal Jamaah, baik Habaib dan para Kyai, tidak mengajarkan kepada kita memperingati hari Asyuro ini dengan cara meratapi, dendam, menyiksa diri dan kesedihan. Melainkan dengan puasa dan melapangkan nafkah untuk keluarga maupun santunan kepada fakir dan miskin. Sebelum kejadian tersebut sebenarnya Nabi sudah diberi tahu terlebih dahulu: عَنْ عَائِشَةَ ، أَوْ أُمِّ سَلَمَةَ : " أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِإِحْدَاهُمَا : ( لَقَدْ دَخَلَ عَلَيَّ الْبَيْتَ مَلَكٌ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيَّ قَبْلَهَا، فَقَالَ لِي: إِنَّ ابْنَكَ هَذَا حُسَيْنٌ مَقْتُولٌ ، وَإِنْ شِئْتَ أَرَيْتُكَ مِنْ تُرْبَةِ الْأَرْضِ الَّتِي يُقْتَلُ بِهَا ) قَالَ: ( فَأَخْرَجَ تُرْبَةً حَمْرَاءَ ) "  Dari Aisyah atau Ummu Salamah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Malaik

Adu Vonis Bid'ah

Biasanya yang terkenal mengumbar vonis bid'ah adalah kaum Wahabi/Taymiyun. Dikit-dikit sudah bilang bid'ah pada golongan lain yang tak sepaham. Tapi pembaca tulisan saya mungkin sadar kalau saya sering menggunakan vonis bid'ah juga pada mereka. Mereka membuat larangan baru, saya sebut bid'ah; bikin istilah baru, saya sebut bid'ah. Jadi antara saya dan mereka sama-sama adu vonis bid'ah. Hhhhhh... Sebenarnya apa yang saya lakukan ini bukan hal baru dalam mazhab Syafi'iyah. Sejak dulu, para ulama besar memang menyebut kenyelenehan Ibnu Taymiyah dan pengikutnya sebagai bid'ah. Imam ar-Ramli misalnya, salah satu imam besar dalam mazhab Syafi'i menulis demikian : وَلَا اعْتِبَارَ بِمَا قَالَهُ طَائِفَةٌ مِنْ الشِّيعَةِ وَالظَّاهِرِيَّةِ مِنْ وُقُوعِ وَاحِدَةٍ فَقَطْ، وَإِنْ اخْتَارَهُ مِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ مَنْ لَا يُعْبَأُ بِهِ وَاقْتَدَى بِهِ مَنْ أَضَلَّهُ اللَّهُ. "Tidak perlu dipertimbangkan apa yang dikatakan oleh segolongan Syi'ah dan Dhah

Perbedaan Hidayah, Taufiq, dan Inayah

Oleh : Habib Ali Baqir al-Saqqaf : • Hidayah, adalah petunjuk dari Allah berupa futuhnya hati tentang mana yang benar dan mana yang salah. Biasanya didapat oleh orang yang asalnya belum beriman kepada Allah atau non muslim. • Taufiq, adalah petunjuk atau anugrah kemampuan untuk melaksanakan kebenaran atau ketaatan setelah beriman kepada Allah. • Inayah, adalah perhatian khusus dari Allah terhadap seorang hamba sehingga hamba tersebut menjadi hamba yang istimewa kedudukannya di sisi Allah. Inayah ini lah yang biasanya didapatkan oleh ulama, para 'arif billah, dan orang-orang shaleh (FM)

Wahai Rasulullah, Mengapa Engkau Menangis?

Pada suatu hari Rasulullah saw ditemui oleh malaikat Jibril. Rasul bertanya “Ada apa wahai Jibril?”.  Jibril menjawab, “Wahai Muhammad, sesungguhnya hari ini Allah swt sedang mengobarkan nyala api Neraka dan seluruh malaikat amat ketakutan, mereka tidak tahu harus bagaimana, Untung aku ingat bahwa engkau adalah sumber cinta dan sayang Allah swt kepala alam semesta. Dengan alasan itu aku kesini, bertabaruk dengan cinta Allah kepada dirimu". Rasulullah saw terdiam beberapa saat. Kemudian bertanya lagi, “Wahai Jibril, ceritakan padaku bagaimanakah neraka itu sesungguhnya”. Jibril menjawab “Wahai Muhammad, Neraka itu bagaikan lubang-lubang yang terdiri dari 7 tingkat. Jarak antara satu lubang dengan yang lain ialah perjalanan 70 tahun. Lubang yang paling bawah adalah yang paling panas". Nabi saw meneruskan pertanyaannya, "Lalu siapakah penghuni lubang-lubang neraka itu wahai Jibril?”. Jibril menjawab, “Lubang yang paling bawah diciptakan untuk orang orang munafik

Bukan Hijrah

Kalau ada orang yang tidak taat beragama lalu berubah tekun dalam menjalankan ajaran agama, itu namanya bukan hijrah. Allah dan Rasulullah mengajari kita bahwa yang begitu itu namanya taubat. Mempopulerkan istilah hijrah untuk kasus orang bertaubat seperti di atas adalah bid'ah yang tidak dilakukan generasi salaf. Bid'ah mengubah istilah taubat menjadi hijrah ini menjadi tren di kalangan masyarakat yang berubah dari yang awalnya suka maksiat menjadi sosok yang suka merasa paling baik dalam beragama. Mereka menomorsatukan tampilan fisik dan suka terlihat berbeda dari masyarakat lain. Awalnya mereka fasiq lalu berubah menjadi mu'jib binafsihi dan mutakabbir. Keluar dari lubang buaya lalu masuk sarang harimau.  Sedangkan istilah taubat tetap dipakai oleh masyarakat yang berubah dari awalnya suka maksiat menjadi orang yang taat, rendah hati dan merasa dirinya bukan siapa-siapa. Mereka berubah menjadi lebih baik tanpa mencolok tampil beda di muka umum.

Generasi Muda Petani Sukses

Luka Berdarah

Mengusap Wajah Setelah Salam, Betulkah Bidah?

Sejak di pondok saya mempelajari kitab Fikih Syafi'i tentang salat belum menjumpai sunah haiat mengusap wajah setelah salam. Jadi meme di bawah ini bagi saya terjadi sekitar 25 tahun lalu.  Mengusap wajah setelah salam ada dua macam: 1. Mengusap Karena Ada Bekas Tanah Di Kening ﻋﻦ ﺑﺮﻳﺪﺓ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻗﺎﻝ: " «ﺛﻼﺙ ﻣﻦ اﻟﺠﻔﺎء: ﺃﻥ ﻳﺒﻮﻝ اﻟﺮﺟﻞ ﻭﻫﻮ ﻗﺎﺋﻢ، ﺃﻭ ﻳﻤﺴﺢ ﺟﺒﻬﺘﻪ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﻓﺮﻍ ﻣﻦ ﺻﻼﺗﻪ، ﺃﻭ ﻳﻨﻔﺦ ﻓﻲ ﺳﺠﻮﺩﻩ» ". ﺭﻭاﻩ اﻟﺒﺰاﺭ ﻭاﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻷﻭﺳﻂ ﻭﺭﺟﺎﻝ اﻟﺒﺰاﺭ ﺭﺟﺎﻝ اﻟﺼﺤﻴﺢ. Dari Buraidah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: "Tiga hal yang tidak baik, kencing berdiri, mengusap dahi sebelum selesai salat dan meniup tempat sujud" (HR Al-Bazzar dan Thabrani. Para perawi Al-Bazzar adalah perawi sahih) Namun mengusap kening atau wajah setelah salat tidak sampai dilarang sebagaimana disampaikan oleh Syekh Ibnu Rajab Al-Hambali: ﻭﺭﻭﻯ اﻟﻤﻴﻤﻮﻧﻲ، ﻋﻦ ﺃﺣﻤﺪ، ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ اﺫا ﻓﺮﻍ ﻣﻦ ﺻﻼﺗﻪ ﻣﺴﺢ ﺟﺒﻴﻨﻪ. Al-Maimuni meriwayatkan bahwa Ahmad bin Hambal jika selesai s

Perbedaan Beban Musibah dan Beban Aturan

Rata-rata orang Indonesia yang mengatakan "Allah tidak akan memberi beban pada seseorang di luar kemampuannya" salah paham terhadap makna perkataannya itu. Dikiranya bahwa Allah tidak akan memberikan ujian yang di luar batas kemampuan.  Ada dua jenis beban yang perlu diketahui: 1. Beban musibah, disebut juga dengan istilah tahmil. Beban ini dapat berupa beban ringan (musibah ringan) dan bisa juga merupakan beban sangat berat (musibah sangat berat) yang menyebabkan orangnya stres, depresi, gila hingga mati. Allah jelas memberikan semua jenis musibah itu pada manusia, ada yang dalam batas kekuatan manusia dan ada yang tidak. 2. Beban aturan syariat, disebut juga sebagai taklif. Dalam hal ini Allah tidak akan memberikan aturan yang di luar kemampuan manusia. Maksudnya, ketika semisal diberi perintah shalat lima kali sehari, puasa sebulan penuh saat ramadhan, zakat, sedekah, berbuat baik dan seterusnya, itu semua adalah aturan yang memungkinkan dilakukan oleh manusia atau dengan