Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2022

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 199

ثُمَّ اَفِيْضُوْا مِنْ حَيْثُ اَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰ8هَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ( البقرة : ١٩٩) Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak ('Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah ayat 199) Kemudian bertolaklah kamu dari tempat orang banyak bertolak, yakni dari Arafah setelah wukuf menuju Masyarilharam, Muzdalifah, Mina, dan Mekah, dan mohonlah ampunan kepada Allah di tempat-tempat tersebut dari semua dosa yang pernah dilakukan. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang kepada orang yang tobat dan memohon ampun. Orang Arab Jahiliah ketika menunaikan ibadah haji merasa tidak perlu mengikuti cara-cara orang banyak berwukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, dan melempar jamrah, padahal semuanya berasal dari manasik haji yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim. Mereka meyakini bahwa tidak keluar dari Mekah merupakan penghormatan terhadap Kakbah dan t

Hukum Memakan Makanan yang Ditemukan Di Jalan

Forum Muslim -  Di antara beberapa permasalahan tentang makanan yang sering dialami oleh banyak orang adalah tentang status makanan yang ditemukan di jalan. Saat menemukan makanan di jalan, kadang terbesit dalam hati kita tentang kehalalan mengambil makanan tersebut. Sebab jika dibiarkan tergeletak di jalan, kita merasa makanan itu menjadi mubazir, terlebih saat makanan yang kita temukan tersebut masih sangat layak untuk dimakan. Sehingga kita beranggapan alangkah baiknya jika makanan itu kita ambil untuk dimakan atau diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Lantas sebenarnya bolehkah kita mengambil makanan yang tergeletak di jalan, baik untuk dimakan atau diberikan kepada orang lain?  Dalam beberapa kutub at-turats dijelaskan bahwa benda bernilai yang ditemukan di tempat yang tidak bertuan (tidak dimiliki oleh seseorang) seperti jalan raya, masjid, pasar dan fasilitas umum lainnya, maka disebut sebagai barang temuan atau luqathah.  Termasuk bagian dari luqathah adalah makanan ya

Hukum Puasa Dzulhijjah Sekaligus Qadha Ramadhan

Forum Muslim -  Umat Islam disunnahkan untuk melaksanakan puasa di sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah. Apalagi, bulan ini tergolong dalam bulan yang mulia karena masuk di antara empat bulan asyhurul hurum, selain Dzulqa’dah, Muharram, dan Rajab. Menjadi pertanyaan tersendiri, ketika orang yang masih memiliki utang puasa wajib Ramadhan, apakah boleh melaksanakan puasa sunnah Dzulhijjah? Atau bahkan boleh melaksanakan puasa sebagai qadha Ramadhan sekaligus puasa Dzulhijjah? Orang yang masih memiliki utang puasa Ramadhan dianjurkan untuk segera membayar atau meng-qadha utang puasanya. Mengutip pandangan Al-Khatib Al-Syarbini sebagaimana dilansir  NU Online  dalam tulisan berjudul  Bolehkah Niat Qadha Puasa Ramadhan Sekaligus Puasa Syawal , orang yang mengqadha puasa tidak mendapatkan keutamaan puasa sunnah di bulan tersebut. Meskipun demikian, orang tersebut masih dianggap mengamalkan puasa sunah, tetapi tidak mendapatkan pahala sebagaimana yang disebutkan dalam hadits. Namun, orang y

Hukum Menggabungkan Niat Kurban dan Aqiqah dengan Seekor Hewan

Forum Muslim -  Sebutan bagi rambut di kepala bayi. Sedangkan menurut ahli fiqih, aqiqah ialah hewan sembelihan yang dimasak gulai kemudian disedekahkan kepada orang fakir dan miskin. Hukum awal aqiqah adalah sunnah muakkad. Namun, bisa menjadi wajib jika sebelumnya telah dinadzarkan. Ada perbedaan jumlah hewan antara bayi lelaki dengan bayi perempuan. Untuk bayi lelaki minimal dua ekor kambing, sedangkan untuk bayi perempuan satu ekor kambing. Biasanya pelaksanaan aqiqah dilaksanakan di hari ketujuh dari kelahiran si bayi. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam hadisnya: “ Dari Samurah, ia berkata, Nabi bersabda: Seorang bayi itu digadaikan dengan (jaminan) aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh (dari hari kelahiran), (pada hari itu pula) si bayi diberi nama dan dipotong rambutnya ”. (HR Tirmidzi) Namun, sering kali kita menemukan orang yang melakukan aqiqah di bulan Dzulhijjah dan dibarengkan dengan pelaksanaan kurban di mushalla maupun masjid yan

Berdzikir dengan Tasbih Warisan Agama Hindu?

Ada sebuah gambar yang menempatkan Sayidi Al-Habib Umar bin Hafidz dari Yaman bersama tokoh agama lain yang sama-sama memegang tasbih. Intinya melarang penggunaan tasbih karena tasbih digunakan dalam agama lain. Benarkah pernyataan itu? Dari segi sejarahnya benar, tapi bukan berarti dilarang. Mufti Al-Azhar menulis: ﻭﺇﺣﺼﺎء اﻟﺬﻛﺮ ﺑاﻟﺴﺒﺤﺔ ﻣﻦ اﺧﺘﺮاﻉ اﻟﻬﻨﺪ .... ﺛﻢ ﺗﺴﺮﺏ ﺇﻟﻰ اﻟﺒﻼﺩ ﻭاﻷﺩﻳﺎﻥ اﻷﺧﺮﻯ "Penggunaan zikir dengan alat tasbih termasuk buatan orang India (yang beragama Hindu) ... Kemudian tasbih ini masuk ke negara dan agama lain". Beliau menulis lengkap sejarah tentang Brahmana yang menggunakan tasbih, hingga jumlah biji tasbih. Namun apakah dilarang? Syekh Athiyyah melanjutkan:  ﻟﻴﺲ ﻓﻰ اﻹﺳﻼﻡ ﻭﺳﻴﻠﺔ ﻣﻌﻴﻨﺔ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﺑﺎﻟﺘﺰاﻣﻬﺎ ﺣﺘﻰ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﻏﻴﺮﻫﺎ ...  ﻭاﻹﺳﻼﻡ ﻻ ﻳﻤﻨﻊ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺇﻻ ﻣﺎ ﺗﻌﺎﺭﺽ ﻣﻊ ﻣﺎ ﺟﺎء ﺑﻪ. "Dalam Islam tidak ada media tertentu yang mengharuskan kita untuk selalu mengamalkan. Islam juga tidak melarang kecuali yang bertentangan dengan dalil agama". Di dalam Islam ada ban

Tafsir Kemenag, Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 106

۞ مَا نَنْسَخْ مِنْ اٰيَةٍ اَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَآ اَوْ مِثْلِهَا ۗ اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ  ( البقرة : ١٠٦) Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? ( QS. Al-Baqarah ayat 106 ) Kaum musyrik berkata, "Tidakkah kalian perhatikan Muhammad? Ia menyuruh para sahabatnya melakukan sesuatu, kemudian ia menyuruh mereka melakukan sebaliknya. Hari ini ia mengatakan satu hal, besok ia mengatakan hal yang berbeda. Al-Qur'an itu pastilah karangan Muhammad. Ia mengatakan sesua tu yang bersumber dari dirinya sendiri, yang satu sama lain saling bertentangan." Menjawab celaan mereka ini, Allah mengatakan bahwa ayat yang Kami batalkan atau Kami hilangkan dari ingatan-mu, wahai Muhammad dan orang beriman, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik, leb

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 105

مَا يَوَدُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَلَا الْمُشْرِكِيْنَ اَنْ يُّنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ خَيْرٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ  ( البقرة : ١٠٥) Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar. ( QS. Al-Baqarah ayat 105 ) Orang-orang yang kafir dari Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani, dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya kepadamu suatu kebaikan, salah satunya Al-Qur'an sebagai kebaikan yang paling tinggi dari Tuhanmu, karena kedengkian dan rasa iri dalam diri mereka. Tetapi secara khusus Allah memberikan rahmat-Nya, berupa kenabian, wahyu, kenikmatan, dan kebajikan kepada orang yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, misalnya kepada Nabi Mu hammad. Dan Allah pemilik ka

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 104

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقُوْلُوْا رَاعِنَا وَقُوْلُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوْا وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ اَلِيْمٌ  ( البقرة : ١٠٤) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): "Raa'ina", tetapi katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih. ( QS. Al-Baqarah ayat 104 ) Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu katakan," Ra 'ina" ,2 yang berarti," Peliharalah dan jagalah kami," kepada Rasulullah karena kata itu akan dimanfaatkan oleh orang-orang Yahudi untuk berolok-olok yang menyerupai kata "ra'unah", yang berarti bebal dan sangat bodoh, tetapi katakanlah," Unzurna (Perhatikanlah kami)", dalam mempelajari agama dan dengarkanlah serta taatilah perintah-perintah Allah kepadamu dan janganlah kamu menyerupai orang-orang Yahudi yang berkata, "Kami mendengar dan kami ingkar". Dan orang-orang kafir dari kaum Yahud

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 103

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 103 وَلَوْ اَنَّهُمْ اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَمَثُوْبَةٌ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ خَيْرٌ ۗ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ ࣖ  ( البقرة : ١٠٣) Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui. ( QS. Al-Baqarah ayat 103 ) Dan jika mereka beriman dan bertakwa, takut kepada azab Allah, pahala dari Allah pasti lebih baik daripada sihir yang menyibukkan mereka, sekiranya mereka tahu. Allah swt menerangkan bahwa jika orang-orang Yahudi percaya kepada Kitab mereka dan bertakwa, tentulah mereka akan mendapat pahala yang besar. Selanjutnya Allah menerangkan bahwa mereka itu dalam setiap perbuatan dan kepercayaan tidak didasarkan pada ilmu pengetahuan yang benar, karena kalau mereka mendasarkan kepercayaan dan perbuatannya itu pada ilmu pengetahuan, tentulah mereka percaya pada Nabi Muhammad saw, dan mengikutinya, dan tentulah

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 102

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 102 وَاتَّبَعُوْا مَا تَتْلُوا الشَّيٰطِيْنُ عَلٰى مُلْكِ سُلَيْمٰنَ ۚ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمٰنُ وَلٰكِنَّ الشَّيٰطِيْنَ كَفَرُوْا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَآ اُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوْتَ وَمَارُوْتَ ۗ وَمَا يُعَلِّمٰنِ مِنْ اَحَدٍ حَتّٰى يَقُوْلَآ اِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۗ فَيَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُوْنَ بِهٖ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهٖ ۗ وَمَا هُمْ بِضَاۤرِّيْنَ بِهٖ مِنْ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَيَتَعَلَّمُوْنَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۗ وَلَقَدْ عَلِمُوْا لَمَنِ اشْتَرٰىهُ مَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۗ وَلَبِئْسَ مَاشَرَوْا بِهٖٓ اَنْفُسَهُمْ ۗ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ  Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mer

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 101

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 101 وَلَمَّا جَاۤءَهُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيْقٌ مِّنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَۙ كِتٰبَ اللّٰهِ وَرَاۤءَ ظُهُوْرِهِمْ كَاَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَۖ  Dan setelah datang kepada mereka seorang Tafsir Kemenag  : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 101 dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah). ( QS. Al-Baqarah ayat 101 ) Ayat ini menjelaskan sisi lain dari keburukan orang-orang Yahudi. Dan setelah datang kepada mereka seorang rasul dari Allah, yakni Nabi Muhammad dengan membawa kitab suci yang membenarkan apa yang ada pada mereka, yakni kitab suci, sebagian dari orang-orang Yahudi yang diberi Kitab Taurat melemparkan Kitab Allah itu ke belakang punggung, yakni mengabaikan nya s

Yakinlah, Doa dan Harapan Akan Tepat Terwujud Pada Waktunya

Saudaraku, Seringkali manusia terburu-buru ketika menginginkan sesuatu. Tak jarang kesabarannya hilang ketika sesuatu yang dinanti atau yang diharap-harapkan tak kunjung datang. Al-Qur’an menyebut sifat manusia yang suka tergesa-gesa ini dalam firman-Nya, كَانَ ٱلۡإِنسَٰنُ عَجُولٗا “Dan memang manusia bersifat tergesa-gesa.”  (QS. Al-Isra’: 11) Dalam ayat lain Allah Azza wa Jalla berfirman, خُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ مِنۡ عَجَلٖۚ “Manusia diciptakan bersifat tergesa-gesa.”  (QS. Al-Anbiya’: 37) Kita sering mendengar kalimat “semua akan menjadi baik jika tepat pada waktunya.” Jika direnungkan, kalimat ini bukan hanya kalimat motivasi biasa yang ingin mendinginkan hati manusia yang sedang dalam kesulitan saja. Tapi kalimat ini benar-benar menggambarkan kenyataan yang sebenarnya... Saudaraku, Terkadang kita sangat menginginkan sesuatu dan sangat berharap apa yang kita inginkan akan segera terwujud. Namun pernahkah kita berpikir bahwa sesuatu yang kita inginkan itu bila datang di waktu yang “tidak

Lapangan Petarukan

Filsafat Hidup

Posisi apapun sama sekali bukan tujuan. Tidak menjadi apapun juga tidak masalah. Tidak kenal juga tidak masalah. Tidak diakui keberadaannya juga tidak masalah. Tidak dihormati juga tidak masalah. Justru bisa bersembunyi dari perhatian banyak orang malah lebih leluasa dan santai. Mendapatkan penghormatan bukan berarti kesuksesan. Menghormati belum tentu karena betul-betul memiliki rasa hormat. Bisa aja orang yang menghormati kita karena takut, karena diharuskan, karena mereka bekerja untuk kita, mereka butuh sama kita atau supaya terlihat pantas saja. "Hidup Ndak usah dibuat sulit, nggak usah ruwet, asal tidak maksiat, bisa menjadi pribadi yang menyenangkan dan bermanfaat bagi orang, serta tidak mengusik hidup orang lain, itu sudah cukup," -KH. Bahauddin Nur Salim- Dalam hidup yang sebentar ini, apa sejatinya yang kita cari? Ungkapan “hidup itu singkat” baru benar-benar kita pahami apabila ada kawan, saudara, ataupun orang terdekat kita yang meninggal dunia. Selebihnya, kita s

10 Muharram Di Karbala

Adalah sebuah bencana kemanusiaan yang menimpa salah satu pemimpin para pemuda surga, cucu Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, Sayidina Husain di Karbala. Namun para ulama kita dari Ahlussunah wal Jamaah, baik Habaib dan para Kyai, tidak mengajarkan kepada kita memperingati hari Asyuro ini dengan cara meratapi, dendam, menyiksa diri dan kesedihan. Melainkan dengan puasa dan melapangkan nafkah untuk keluarga maupun santunan kepada fakir dan miskin. Sebelum kejadian tersebut sebenarnya Nabi sudah diberi tahu terlebih dahulu: عَنْ عَائِشَةَ ، أَوْ أُمِّ سَلَمَةَ : " أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِإِحْدَاهُمَا : ( لَقَدْ دَخَلَ عَلَيَّ الْبَيْتَ مَلَكٌ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيَّ قَبْلَهَا، فَقَالَ لِي: إِنَّ ابْنَكَ هَذَا حُسَيْنٌ مَقْتُولٌ ، وَإِنْ شِئْتَ أَرَيْتُكَ مِنْ تُرْبَةِ الْأَرْضِ الَّتِي يُقْتَلُ بِهَا ) قَالَ: ( فَأَخْرَجَ تُرْبَةً حَمْرَاءَ ) "  Dari Aisyah atau Ummu Salamah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Malaik

Adu Vonis Bid'ah

Biasanya yang terkenal mengumbar vonis bid'ah adalah kaum Wahabi/Taymiyun. Dikit-dikit sudah bilang bid'ah pada golongan lain yang tak sepaham. Tapi pembaca tulisan saya mungkin sadar kalau saya sering menggunakan vonis bid'ah juga pada mereka. Mereka membuat larangan baru, saya sebut bid'ah; bikin istilah baru, saya sebut bid'ah. Jadi antara saya dan mereka sama-sama adu vonis bid'ah. Hhhhhh... Sebenarnya apa yang saya lakukan ini bukan hal baru dalam mazhab Syafi'iyah. Sejak dulu, para ulama besar memang menyebut kenyelenehan Ibnu Taymiyah dan pengikutnya sebagai bid'ah. Imam ar-Ramli misalnya, salah satu imam besar dalam mazhab Syafi'i menulis demikian : وَلَا اعْتِبَارَ بِمَا قَالَهُ طَائِفَةٌ مِنْ الشِّيعَةِ وَالظَّاهِرِيَّةِ مِنْ وُقُوعِ وَاحِدَةٍ فَقَطْ، وَإِنْ اخْتَارَهُ مِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ مَنْ لَا يُعْبَأُ بِهِ وَاقْتَدَى بِهِ مَنْ أَضَلَّهُ اللَّهُ. "Tidak perlu dipertimbangkan apa yang dikatakan oleh segolongan Syi'ah dan Dhah

Perbedaan Hidayah, Taufiq, dan Inayah

Oleh : Habib Ali Baqir al-Saqqaf : • Hidayah, adalah petunjuk dari Allah berupa futuhnya hati tentang mana yang benar dan mana yang salah. Biasanya didapat oleh orang yang asalnya belum beriman kepada Allah atau non muslim. • Taufiq, adalah petunjuk atau anugrah kemampuan untuk melaksanakan kebenaran atau ketaatan setelah beriman kepada Allah. • Inayah, adalah perhatian khusus dari Allah terhadap seorang hamba sehingga hamba tersebut menjadi hamba yang istimewa kedudukannya di sisi Allah. Inayah ini lah yang biasanya didapatkan oleh ulama, para 'arif billah, dan orang-orang shaleh (FM)

Wahai Rasulullah, Mengapa Engkau Menangis?

Pada suatu hari Rasulullah saw ditemui oleh malaikat Jibril. Rasul bertanya “Ada apa wahai Jibril?”.  Jibril menjawab, “Wahai Muhammad, sesungguhnya hari ini Allah swt sedang mengobarkan nyala api Neraka dan seluruh malaikat amat ketakutan, mereka tidak tahu harus bagaimana, Untung aku ingat bahwa engkau adalah sumber cinta dan sayang Allah swt kepala alam semesta. Dengan alasan itu aku kesini, bertabaruk dengan cinta Allah kepada dirimu". Rasulullah saw terdiam beberapa saat. Kemudian bertanya lagi, “Wahai Jibril, ceritakan padaku bagaimanakah neraka itu sesungguhnya”. Jibril menjawab “Wahai Muhammad, Neraka itu bagaikan lubang-lubang yang terdiri dari 7 tingkat. Jarak antara satu lubang dengan yang lain ialah perjalanan 70 tahun. Lubang yang paling bawah adalah yang paling panas". Nabi saw meneruskan pertanyaannya, "Lalu siapakah penghuni lubang-lubang neraka itu wahai Jibril?”. Jibril menjawab, “Lubang yang paling bawah diciptakan untuk orang orang munafik

Bukan Hijrah

Kalau ada orang yang tidak taat beragama lalu berubah tekun dalam menjalankan ajaran agama, itu namanya bukan hijrah. Allah dan Rasulullah mengajari kita bahwa yang begitu itu namanya taubat. Mempopulerkan istilah hijrah untuk kasus orang bertaubat seperti di atas adalah bid'ah yang tidak dilakukan generasi salaf. Bid'ah mengubah istilah taubat menjadi hijrah ini menjadi tren di kalangan masyarakat yang berubah dari yang awalnya suka maksiat menjadi sosok yang suka merasa paling baik dalam beragama. Mereka menomorsatukan tampilan fisik dan suka terlihat berbeda dari masyarakat lain. Awalnya mereka fasiq lalu berubah menjadi mu'jib binafsihi dan mutakabbir. Keluar dari lubang buaya lalu masuk sarang harimau.  Sedangkan istilah taubat tetap dipakai oleh masyarakat yang berubah dari awalnya suka maksiat menjadi orang yang taat, rendah hati dan merasa dirinya bukan siapa-siapa. Mereka berubah menjadi lebih baik tanpa mencolok tampil beda di muka umum.

Generasi Muda Petani Sukses

Luka Berdarah

Mengusap Wajah Setelah Salam, Betulkah Bidah?

Sejak di pondok saya mempelajari kitab Fikih Syafi'i tentang salat belum menjumpai sunah haiat mengusap wajah setelah salam. Jadi meme di bawah ini bagi saya terjadi sekitar 25 tahun lalu.  Mengusap wajah setelah salam ada dua macam: 1. Mengusap Karena Ada Bekas Tanah Di Kening ﻋﻦ ﺑﺮﻳﺪﺓ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻗﺎﻝ: " «ﺛﻼﺙ ﻣﻦ اﻟﺠﻔﺎء: ﺃﻥ ﻳﺒﻮﻝ اﻟﺮﺟﻞ ﻭﻫﻮ ﻗﺎﺋﻢ، ﺃﻭ ﻳﻤﺴﺢ ﺟﺒﻬﺘﻪ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﻓﺮﻍ ﻣﻦ ﺻﻼﺗﻪ، ﺃﻭ ﻳﻨﻔﺦ ﻓﻲ ﺳﺠﻮﺩﻩ» ". ﺭﻭاﻩ اﻟﺒﺰاﺭ ﻭاﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻷﻭﺳﻂ ﻭﺭﺟﺎﻝ اﻟﺒﺰاﺭ ﺭﺟﺎﻝ اﻟﺼﺤﻴﺢ. Dari Buraidah bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda: "Tiga hal yang tidak baik, kencing berdiri, mengusap dahi sebelum selesai salat dan meniup tempat sujud" (HR Al-Bazzar dan Thabrani. Para perawi Al-Bazzar adalah perawi sahih) Namun mengusap kening atau wajah setelah salat tidak sampai dilarang sebagaimana disampaikan oleh Syekh Ibnu Rajab Al-Hambali: ﻭﺭﻭﻯ اﻟﻤﻴﻤﻮﻧﻲ، ﻋﻦ ﺃﺣﻤﺪ، ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ اﺫا ﻓﺮﻍ ﻣﻦ ﺻﻼﺗﻪ ﻣﺴﺢ ﺟﺒﻴﻨﻪ. Al-Maimuni meriwayatkan bahwa Ahmad bin Hambal jika selesai s

Perbedaan Beban Musibah dan Beban Aturan

Rata-rata orang Indonesia yang mengatakan "Allah tidak akan memberi beban pada seseorang di luar kemampuannya" salah paham terhadap makna perkataannya itu. Dikiranya bahwa Allah tidak akan memberikan ujian yang di luar batas kemampuan.  Ada dua jenis beban yang perlu diketahui: 1. Beban musibah, disebut juga dengan istilah tahmil. Beban ini dapat berupa beban ringan (musibah ringan) dan bisa juga merupakan beban sangat berat (musibah sangat berat) yang menyebabkan orangnya stres, depresi, gila hingga mati. Allah jelas memberikan semua jenis musibah itu pada manusia, ada yang dalam batas kekuatan manusia dan ada yang tidak. 2. Beban aturan syariat, disebut juga sebagai taklif. Dalam hal ini Allah tidak akan memberikan aturan yang di luar kemampuan manusia. Maksudnya, ketika semisal diberi perintah shalat lima kali sehari, puasa sebulan penuh saat ramadhan, zakat, sedekah, berbuat baik dan seterusnya, itu semua adalah aturan yang memungkinkan dilakukan oleh manusia atau dengan