Tampilkan postingan dengan label Khalifah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khalifah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2020

Menjadi Khalifah di Bumi, Berarti Menjadi Hamba Berilmu


Forum Muslim - Allah SWT mencipta manusia untuk menghamba sekaligus sebagai khalifah di bumi, dan ilmu sebagai bekal utamanya. Khalifah bermakna pemimpin, pengelola, atau sejenis pejabat. Bekal pertama Nabi Adam AS ketika membuktikan kebenaran keputusan Allah mengangkatnya sebagai khalifah di muka bumi, adalah ilmu.

Sebelum Allah menanamkan ilmu ke dalam diri Nabi Adam, malaikat masih ragu akan pengangkatan bangsa manusia sebagai khalifah. Sesampai para malaikat yakin dan percaya, bahwa mereka tak lebih pantas menjadi khalifah dibanding dengan Nabi Adam, yang ternyata lebih mampu menguasai ilmu berupa asma' yang telah diajarkan oleh Allah. Hal ini terekam dalam Qur'an Surat Al Baqarah ayat 30.

Dengan demikian, secara historis manusia tak lain harus menempuh kehidupan ini dengan alur yang tak boleh berhenti menuntut ilmu, belajar sampai kapan dan di mana pun, agar dapat menjadi khalifah yang diamanatkan oleh Allah sejak awal penciptaan. Ini jika manusia tidak mau keluar dari fitrahnya.

Demikian pesan ulama NU, Kiai Ahmadi, kepada para aktivis pengurus Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Pimpinan Cabang Kota Yogyakarta dan Pimpinan Anak Cabang Kecamatan Gebog Kudus saat bersilaturrahim di rumahnya, Dukuh Kalilopo Desa Klumpit Gebog.

"Anak-anak muda harus rajin menuntut ilmu agar bisa memenuhi tanggung jawab di dunia sebagai khalifah. Agar ajaran Islam Ahlussunnah Waljama'ah tetap lestari dan tegak di muka bumi," paparnya di depan para pengurus yang mayoritas terdiri dari mahasiswa dan santri, Sabtu (17/01).

Kiai Ahmadi juga menasehati sesuai dengan Surat At Taubah ayat 122, tentang ajakan jihad ilmu para pemuda muslim liyatafaqqohuu fid diin. Agar para generasi NU senantiasa menjaga ghiroh keilmuan, menghidupkan diri sebagai khalifah dan menghidupi diri dengan beribadah.

Pertemuan itu dalam rangka silaturrahim dan sharing PC. IPNU-IPPNU Kota Yogyakarta dengan PAC. IPNU-IPPNU Gebog Kudus. Rombongan dari Kota Yogyakarta sejumlah 24 pengurus yang sebelumnya telah berziarah ke makam Sunan Muria, Raden Umar Sa'id. Usai dari rumah Kiai Ahmadi, mereka menuju ke makam KH. Arwani di Kompleks Pesantren Yanbu'ul Qur'an dan makam Sunan Kudus dan masjid Al Aqsha.

Rombongan PC IPNU-IPPNU Kota Yogyakarta tersebut melakukan perjalanan di Kudus ditemani oleh Nailul Falah, putra ketiga dari Kiai Ahmadi. (Istahiyyah/Anam)
 
Sumber:

Senin, 10 Februari 2020

Raja dan Khalifah


Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Kalau merujuk kembali dalam sejarah Islam, tiga kekhalifan besar yang pernah dilalui umat Islam Bani Umayah, Bani Abasiyah dan Bani Utsmaniyah, lebih dekat ke bentuk negara kerajaan ketimbang model negara modern.

Cirinya, yang berkuasa itu meski disebut khalifah, sultan atau amirul mukmnin, namun cara naik tahtanya tidak lewat pemillu yang kita kenal. Caranya lewat keturunan, karena ayahnya raja maka dia pun jadi raja. 

Sebutlah misalnya Sultan Muhammad Al-Fatih II yang dikenal sebagai penakluk Eropa 1453 M. Di usia kanak-kanak sudah naik tahta, sebab ayahnya Sultan Murod memutuskan pensiun dini.

Model-model pemerintahan macam ini tidak kita kenal di masa modern sekarang ini. Kalau pun anak presiden mau jadi presiden, dia harus berjuang dulu ikut pemilihan. Tidak satu pun presiden atau perdana menteri di masa kita hidup ini yang naik tahta karena faktor keturunan.

Khilafah Islam di masa lalu kalau secara teknis, lebih merupakan monarki dan kerajaan, ketimbang sebuah negara modern yang kita kenal. 

Namun yang tidak mirip kerajaan justru khilafah di masa para shahabat, yaitu khilafah rasyidah yang bergantian dipimpin Abu Bakar Ash-Shiddiq (2 tahun), Umar bin Al-Khattab (10 tahun), Utsman bin Al-Affan (12 tahun) dan Ali bin Abi Thalib (5 tahun).  Masing-masing diangkat jadi khalifah bukan karena mereka anak raja, bukan karena putera mahkota, tapi semata-mata dipilih oleh umat Islam lewat ijtihad jama'i.

Memang tidak seluruh umat Islam ikut terlibat dalam pemilihan. Maka tidak ada pemilihan umum di masa itu. Yang bermusyawarah dan memutuskan adalah sebuah tim kecil yang beranggotakan para pakar dan ahli, yang kemudian diistilahkan dengan ahlul halli wal aqdi. 

Ketika Abu Bakar wafat, anaknya tidak otomatis jadi khalifah. Begitu juga ketika Umar, Ustman dan Ali wafat, anak-anak mereka tidak otomatis jadi khalifah berikutnya. 

Namun masuk ke zaman khilafah berikutnya, ketika Muawiyah bin Abi Sufyan wafat, yang jadi khalifah berikutnya Yazid bin Muawiyah. Lalu Yazid punya anak yang diberi nama Muayiwah juga dan naik jadi khalifah menggantikan ayahnya.  Dan begitulah seterusnya sampai khalifah terakhir Bani Utsmaniyah di Turki.

Kecuali tegas menyebut khilafah rasyidah, sekedar menyebut 'khilafah' saja berkonotasi kepada masa khilafah yang sebenarnya kerajaan dan monarkhi. Di masa kini negara yang masih 100% monarki secara de facto dan de Jure diantaranya Kerajaan Saudi Arabia. 

Raja-raja di Saudi Arabia  itu 100% berkuasa secara resmi, bukan hanya sekedar simbol macam Inggris dan beberapa sisa kerajaan lainnya di Eropa. Dan mereka naik tahta karena faktor keturunan, yaitu sama-sama anak raja Abdul Aziz. 
Yang pernah umrah atau haji pasti tidak asing dengan nama King Abdul Aziz. Ya, itu nama bandara di Jeddah.

Jadi kalau ada cita-cita mendirikan khilafah, ketahuilah sebenarnya yang mau dibangun itu kerajaan yang sistemnya monarki. Kita mundur lagi ke zaman dulu kala. Anak khalifah nantinya dipastikan jadi khalifah. Sebuah trah atau keluarga besar akan jadi penguasanya. 

Nama khilafahnya biasanya menggunakan nama kakek moyang keluarga besar itu. Misalnya nama kakek moyangnya Paimin atau Paijo, maka nama khilafahnya Khilafah Bani Paiminiyah atau Khilafah Bani Paijoiyah.

Jumat, 14 Juli 2017

Khalifah dan Pilar Empat dalam Doa KH Maimoen Zubair

KH Maimoen Zubair - File aps18.com
Forum Muslim - KH Maimoen Zubair mengatakan, nikmat yang besar adalah negara Republik Indonesiam negara kesatuan yang berdasarkan Pancasila. Ia menyampaikan hal itu pada saat berdoa penutup di Halaqah Alim Ulama yang digelar Majelis Dzikir Hubbul Wathon di hotel Borobudur Jakarta, Kamis malam (13/7).

Kiai sepuh itu mengatakan, segala apa pun adalah menurut kehendak Allah. Segala apa pun berada dalam kudrat iradat Allah. 

“Kau menjadikan bangsa kami alhamdulillah menjadi bangsa yang benar-benar menjadi tuntunan setelah sudah runtuhnya khalifah-khalifah,” katanya.  

Menurut Mustasyar PBNU ini, khalifah yang diberikan adalah empat. Sedangkan yang empat itu adalah hal yang harus dirujuk. 

“Kita mempunyai pilar yang empat, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan yang akhir Undang-Undang 1945,” lanjutnya. 

Ia berharap pilar empat itu menjadikan ketenteraman, kebahagiaan, kestabilan, kenikmatan, kembali kepada adalatul umara, kepada ilmul ulama, dan kepada syakhawatul aghniya, dan terakhir dua’ul fuqara.

“Fuqara yang Kau maksud adalah hamba-hamba-Mu, wali-wali-Mu, yang Kau tidak tolak doanya,” lanjut pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang itu.  

Kita beristighfar kepada-Mu, katanya, dan kemudian minta istighatsah kepada-Mu, kemudian wasilah kepada-Mu, nabi-nabi-Mu, wali-wali-Mu. 

“Kuatkanlah persatuan bangsa kami, persatuan bangsa kami ini sehingga mempunyai pilar empat sebagaimana yang Engkau firmankan bahwa awal kali Kau bina di bumi ini adalah mempunyai pilar empat yaitu ka’bah.”

Halaqah yang diinisiasi Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin itu dihadiri Presiden RI Joko Widodo, Wakil Rais ‘Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan sekitar 700 ulama. (NU)