Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Kapan Sayyidina Muhammad SAW Menjadi Nabi?

Ada yang bilang bahwa Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi sejak awal sebelum usia 40 tahun, bahkan sebelum Adam tercipta. Itu tidak benar. Nabi Muhammad jelas baru menjadi Nabi setelah berusia 40 tahun, sebelum itu belum menjadi Nabi meskipun sudah ada berbagai kejadian luar biasa yang menunjukkan bahwa beliau spesial. Kejadian luar biasa tersebut istilahnya irhash, bukan mukjizat sebab istilah mukjizat hanya bagi mereka yang telah diangkat menjadi Nabi saja. Hadis yang menceritakan bahwa beliau diangkat sebagai Nabi tatkala berusia 40 tahun cukup banyak. Di antaranya adalah: عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ، قالَ: «بُعِثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وهُوَ ابْنُ أرْبَعِينَ سَنَةً "Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah diangkat menjadi Nabi tatkala berusia 40 tahun"  Sebenarnya dalil di atas sudah cukup, tapi sebagian orang betul-betul meyakini sebelum Itu Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi meskipun belum mendapat wahyu pertamanya. Mereka juga menguatkan pendapatnya dengan beberapa hadis. Untuk itu per

Kedudukan Amal, Ahwal dan Maqom Inzal

حُسْنُ الاَعماَلِ نَتَاءِجُ حُسْنِ الاَحوالِ وَحُسنُ الاَحوَالِ منَ التـَّحَققِ فىِ مقاَماَتِ الاِنْزالِ "Baiknya amal perbuatan itu, sebagai hasil dari baiknya Ahwal, dan baiknya Ahwal itu sebagai hasil dari kesungguhan istiqamah pada maqom inzaal ( apa yang diperintah oleh الله. ” Hikmah yang lalu mengaitkan nilai amal dengan zuhud hati terhadap dunia. Hati yang menerima cahaya Nur Ilahi akan mendapat pengalaman kerohanian yang dinamakan ahwal (hal-hal). Ahwal yang menetap pada hati dinamakan maqom. Maqom Inzal yaitu: pengetahuan/ ilmu yang berhubungan dengan ketuhanan الله, yang oleh الله diberikan kepada hati hambanya, supaya hamba tidak mengaku-aku, tidak karena surga atau takut neraka. Jadi baiknya Amal itu muncul dari baiknya Ahwal, baiknya Ahwal itu muncul dari maqom inzal/ ilmu yang diberikan oleh الله. Amal yang baik itu hanya yang diterima oleh Tuhan, dan itu pasti karena baik dalam segi keikhlasan kepada الله, dan tidak mungkin ikhlas kecuali jika ia mengerti be

Zahid dan Roghib

ماَقـَلَّ عَملٌ بَرَزَ من قلْبٍ زاَهِدٍ ولاكَثـُرَ عملٌ بَرَزَ من قلبٍ رَاغِبٍ "Tidak dapat dianggap kecil/ sedikit amal perbuatan yang dilakukan dengan hati yang zuhud ,dan tidak dapat dianggap banyak amal yang dilakukan oleh seseorang yang cinta dunia.” Kita telah diajarkan keluar dari alam kepada Pencipta alam, berhijrah kepada الله dan Rosul-Nya. Kita diajar supaya memilih sahabat yang dapat membangkitkan semangat untuk berjuang pada jalan الله dan berbuat taat kepada-Nya. Hikmah 55 ini memberi gambaran apakah hijrah rohani itu akan berhasil atau gagal. Alat untuk menilainya ialah dunia. Bagaimana kedudukan dunia di dalam hati akan mempengaruhi perjalanan kerohanian. Ukuran amal itu menurut hati orang yang beramal, apabila amal itu dilakukan orang yang zuhud (hatinya tidak tergantung pada dunia), walaupun kelihatan sedikit akan tetapi hakikatnya banyak. Karena zahid itu amalnya bisa selamat dari penyakit yang menjadikan amalnya tertolak, seperti riya’ mencari kepentingan du

Memilih Sahabat

 لاَتصْحَبْ من لاَيُنْهِضُكَ حالهُ ولاَ يَدُلُّكَ علَى اللهِ مقاَلهُ    "Jangan bersahabat dengan seseorang yang tidak membangkitkan semangat taat kepada الله, perilakunya dan tidak memimpin engkau ke jalan الله apa yang dikatakannya." Dalam hadits: "Seseorang akan mengikuti pendirian [kelakuan] temannya, maka lihatlah saudaramu dengan siapakah harus didekati sebagai teman."   Sufyan Astsaury berkata: "Barangsiapa yang bergaul dengan orang banyak harus mengikuti mereka, dan barangsiapa mengikuti mereka, harus menjilat pada mereka, dan barangsiapa yang menjilat kepada mereka, maka ia binasa seperti mereka."  Sahl bin Abdullah berkata: "Berhati-hatilah [jangan] bersahabat dengan tiga macam manusia: 1. Pejabat pemerintah yang dzalim [kejam].  2. Ahli quraa' yang pejilat.  3. Sufi gadungan [yang bodoh tentang hakikat tasawuf].    Ali bin Abi Thalib karramullah wajhah berkata: "Sejahat-jahat teman yang memaksa engkau bermuka-muka [menjilat] dan me

Pindahlah Dari Alam (Makhluk) Kepada Pencipta Alam (2)

وَانْظـُرْ الٰى قَولهِ صلَي اللهُ عليهِ وَسَلَّمَ : فمَنْ كاَنَتْ هِجْرَتُهُ الىَ اللهِ وَرَسُوله فَهِجْرَتهُ الى اللهِ وَرَسُولهِ. ومن كاَنَتْ هِجْرَتُهُ الىَ دُنْياَ يُصِيبُهاَ اَوِامْرَأَةٍ يَتزَوَّجُهاَ فَهِجرَتهُ الٰي ما هاَجَرَ اِليهِ. فاَفْهَم قولَهُ عَلَيهِ الصَّلاةُ والسَّلامُ وَتأمَّلْ هٰذاَ الاَمرَاِنْ كُنْتَ ذاَفهْمٍ "Dan perhatikan sabda Nabi ﷺ: 'Maka barangsiapa yang berhijrah menuju kepada الله dan Rosul-Nya [menurut perintah الله dan Rosul-Nya], maka hijrahnya akan diterima oleh الله dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena kekayaan dunia, dia akan mendapatkannya, atau karena perempuan akan dinikahi, maka hijrahnya terhenti pada apa yang ia hijrah kepadanya. Camkanlah sabda Nabi ﷺ ini dan perhatikanlah persoalan ini jika engkau mempunyai kecerdasan faham.” Hikmah ini adalah lanjutan dari Kalam Hikmah yang lalu. Keluar dari satu hal kepada hal yang lain adalah hijrah juga namanya. Dan yang utama dalam hadits ini ialah sabda Nabi ﷺ, bahwa hijrah yang

Aneh dan Ajaib

 الْعَجَبُ كُلُّ العًَجَبِ مِمّاَ لاَ انْفِكاَكَ لهُ عَنْهُ وَيَطلُبُ ما لاَ بَقاَءَ لهُ مَعَهُ فاِنـّهَاَ لاَ تَعْمَى الاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعمىَ الْقُلوْبُ الَّتىِ فِى الصُّدُورِ    "Keanehan yang sangat mengherankan [ajaib] terhadap orang yang lari dari الله  yang sangat dibutuhkan, dan tidak dapat lepas dari padanya.  dan berusaha mencari apa yang tidak akan kekal padanya. Sesungguhnya bukan mata kepala yang buta, tetapi yang buta ialah mata hati yang di dalam dada." Hikmah 45, menceritakan tentang tingkatan makrifat yang dicapai melalui penyaksian mata hati. Makrifat melalui mata hati diperoleh dengan cara bertauhid. Hikmah 46, menggambarkan tentang tauhid yang tertinggi. Tingkatan yang tertinggi itu tidak mudah dicapai. Jalan untuk mencapainya adalah dengan menghapuskan semua jenis syirik, yang lahir dan yang batin/samar. Hikmah 47 hingga 49 menceritakan tentang syirik yang samar, yaitu hati bukan bergantung kepada الله  saja tetapi pada makhluk yang sama, ia juga berha

Berbaik Sangka Kepada Allah

اِن لَمْ تُحْسِنْ ظَنـَّكَ بِهِ لاَجْلِ حُسنِ وَصْفِهِ فَحَسِّنْ ظَنـَّكَ بهِ لِوُجوُدِ مُعَامَلتِهِ مَعَكَ فَهَلْ عَوَّدَكَ الاَّ حَسَناً اَسدىَ اِليكَ الاَّ مَنَناً "Jika engkau tidak bisa berbaik sangka [husnud-dhon] terhadap الله تعالى karena sifat-sifat الله yang baik itu, berbaik sangkalah kepada الله karena karunia pemberian-Nya kepadamu. Tidakkah selalu ia memberi nikmat dan karunia-Nya kepadamu? ” Manusia dalam hal husnud-dhon kepada الله itu ada dua golongan. 1. Golongan khos-shoh , yaitu orang yang berhusnud-dhon kepada الله karena melihat sifat-sifat الله yang bagus dan tinggi. 2. ‘Ammah, yaitu orang yang berhusnud-dhon kepada الله karena macam-macamnya nikmat الله dan anugerah dari الله yang tidak bisa terhitung. Apabila engkau tidak dapat berbaik sangka terhadap الله, karena الله itu bersifat: Rabbul Alamiin [Tuhan yang mencipta, melengkapi, memelihara dan menjamin seisi alam, Ar-Rahman, Ar-Rahim: Pemurah, Penyayang]. Maka sudah selayaknya engkau harus berba

Jangan Mengadu Kepada Selain Allah

لاَ تـَرْفَعَنَّ اِلىَ غيرِهِ حاَجَةً هُوَ مُورِدُهاَ عَليْكَ فكَيْفَ يَرْفَعُ غيرَهُ ماكانَ هُوَ لهُ واضِعاً مَنْ لاَيَسْتَطِيعُ ان يَرْفَعَ حاَجةً عن نَفْسِهِ فَكيْفَ يَسْتَطِيعُ اَنْ يَكونَ لهاَ عَن غيرِهِ راَفِعاً "Jangan mengadu dan meminta sesuatu kebutuhan/hajat selain kepada الله, sebab Ia sendiri yang memberi dan menurunkan kebutuhan itu kepadamu. Maka bagaimanakah sesuatu selain الله akan dapat menyingkirkan sesuatu yang diletakkan oleh الله. Barangsiapa yang tidak dapat menyingkirkan bencana yang menimpa dirinya sendiri, maka bagaimanakah ia akan dapat menyingkirkan bencana yang ada pada orang lain.” `Adanya sesuatu bencana [musibah] itu menyebabkan engkau berhajat [butuh] kepada bantuan [pertolongan], maka dalam tiap kebutuhan [hajat] jangan mengharap selain kepada الله, sebab segala sesuatu selain الله itu juga berhajat seperti engkau. Sebab barangsiapa yang menyandarkan [menggantungkan nasib] pada sesuatu selain الله, berarti ia tertipu oleh sesuatu bayangan fatamor

Maqom Fana

 كاَنَ اللهُ وَلاَشيئ مَعَهُ وَهُوَ الاَنَ علىَ ماَكاَنَ عليهِ   "(sebelum adanya makhluk) Telah ada الله, dan tiada suatu di samping-Nya, dan Ia kini sebagaimana ada-Nya semula.” Keadaan seperti ini adalah keadaan orang yang sudah berada di maqam fana', dia tiada melihat sesuatu kecuali الله. Bagaikan seorang di dalam gedungnya, kemudian ia mengisi rumah dengan perabot dan boneka atau patung, lalu ditanya: 'Siapakah yang ada di dalam gedung itu?' Jawabnya: 'Hanya dia seorang', yakni semua boneka dan patung itu tidak dapat disebut sebagai temannya. Demikian pun orang ahli hakikat tidak melihat adanya sesuatu yang dapat disebut selain الله ﷻ.  Sumber : https://telegram.me/kitabhikam

Ridho Dengan Nafsu Adalah Pangkal Kemaksiatan

أَصْلُ كلُّ مَعصِيَّةٍوَغَفلةٍ وَشَهْوَةٍ الرِّضاَ عَنِ النفْسِ، واصْلُ كُلِّ طَاعةٍ وَيَقَظَةٍ وَعفَةٍ عَدَمُ الرِّضاَ مِنْكَ عَنْهاَ "Pokok /sumber dari semua maksiat, kelalaian dan syahwat itu, karena ingin memuaskan (ridho dengan)hawa nafsu. Sedangkan pokok/sumber segala ketaatan, kesadaran dan moral [budi pekerti], ialah karena adanya pengendalian terhadap hawa nafsu.” Sebagaimana firman الله سبحانه وتعالى: "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang. QS. Yusuf 53.” Ridho dengan nafsu itu menjadi sumber semua kemaksiatan dan lupa kepada الله dikarenakan menjadi sebabnya tertutupnya cela dan cacatnya nafsu, sehingga celanya nafsu akan dianggap baik. dan orang yang ridho dengan nafsunya akan menganggap baik kelakuannya, orang yang menganggap baik kelakuannya tentu akan lupa kepada الله, dan sebab l

Keluarlah Dari Sifat Basyariyyah

اُخْرُجْ من اَوْصافِ بَشاَرِيَّتِكَ عنكلِ وَصْفٍ مُنَا قِضٍ لِعُبُودِيَّتِكَ لِتَكُونَ لِنِدَاءِ الحَقِّ مُجِيبًا ومنْ حَضـْرَتِهِ قـَريْباً "Keluarlah dari sifat-sifat kemanusianmu [sifat buruk dan rendah], semua sifat yang menyalahi kehambaan-mu, supaya mudah bagimu untuk menyambut panggilan الله dan mendekat kepada-Nya.” Sifat-sifat manusia terbagi jadi dua yaitu : Lahir dan Bathin. Sifat lahir ialah yang berhubungan dan dilakukan dengan anggota jasmani, dan sifat bathin ialah berlaku dalam hati [rohani]. Sedang yang berhubungan dengan anggota lahiriyah juga terbagi dua: Yang sesuai dengan perintah syari'ah dan yang menyalahi perintah syari'ah yang berupa maksiat. Demikian pula yang berhubungan dengan hati juga terbagi dua: Yang sesuai dengan hakikat [kebenaran] bernama iman dan ilmu, dan yang berlawanan dengan hakikat [kebenaran] berupa nifaq dan kebodohan. Sifat-sifat yang buruk [rendah] ialah: Hasad, iri hati, dengki, sombong, mengadu domba, merampok [korupsi], gi

Al Haq Itu Tidak Bisa Dihijab

الحقُّ ليسَ بِمحجُوبٍ وَاِنـَّماَ المحجُوبُ انتَ عنِ النظَرِ اليهِ اذ ْ لَوْ حجَبَهُ شَيءٌ لسَتَرَهُ ولوكاَنَ لهُ ساتِرٌ لكانَ لِوُجُدِهِ حاصِرٌ وكلُّ حاصِرٍ لشىءٍ فَهُوَ لهُ قاَهِرٌ وَهُوَالقاَهِرُ فوَقَ عبادِهِ "Al-Haq, ialah الله سبحانه وتعالى, tiada terhijab [terbatas tirai] oleh sesuatu apapun, sebab tidak mungkin adanya sesuatu yang dapat menghijab الله. Sebaliknya manusialah yang terhijab sehingga tidak dapat melihat adanya الله. Sebab sekiranya ada sesuatu yang menghijab الله, berarti sesuatu itu dapat menutupi الله, dan andaikata ada tutup bagi الله, berarti wujud الله dapat terkurung/ dibatasi, dan sesuatu yang mengurung/ membatasi itu, dapat menguasai yang dikurung/ dibatasi, padahal “الله yang berkuasa atas segala makhluk-Nya.” Pada hakikatnya الله itu tidak bisa dihijab, yakni hijab itu menjadi sifatnya الله itu tidak. akan tetapi yang menghijab sehingga kamu tidak bisa melihat الله itu adalah sifat-sifat nafsumu sendiri. karena sekiranya ada sesuatu yang bisa menghi

Berusahalah Mengetahui Aib Dirimu Sendiri

تَشَوُّفكَ اِلىَ ما بطَنَ فيْكَ مِنَ العُيُوبِ خَيرٌ منْ تَشَوُّفِكَ الى ماحُجِبَ عَنْكَ منَ الغُيُوبِ "Usahamu untuk mengetahui cela diri yang masih ada di dalam dirimu, itu lebih baik dari usahamu untuk terbukanya bagimu tirai ghaib” Seorang salik haruslah berusaha selalu melihat cela dan aib yang ada pada diri sendiri, jangan sampai mempunyai tujuan supaya mengetahui perkara yang ghoib yang menjadi kemauan hawa nafsu, seperti ingin mengetahui rahasia di hati orang lain, rahasia taqdir dan lain-lain. Karena itu bisa mencela kehambaanmu kepada الله. Orang arif berkata: “Jadilah hamba الله yang selalu ingin mencapai Istiqamah, dan jangan menjadi hamba yang menuntut karomah. Istiqomah adalah menunaikan kewajiban, sedang karomah adalah menuntut kedudukan. Karomah dan kedudukan yang diberikan الله kepada seorang wali itu, sebagai hasil dari Istiqamah.” Istiqomah berarti tetap dalam Ubudiyah, tidak berubah keyakinan dan kepercayaannya kepada الله, ketuhanan الله, kekuasaan الله dan

Nurut - Tawajjuh (Ibadah)

اِهْتـَدى الرَّاحِلُوْنَ بِأَنْوَارِ التـَّوَجُّهِ والواصِلوْنَ لهُمْ اَنوارُ الموَجَّهةِ ، فاَلاَوَّلُونَ لِلاََنْوَارِ وَهٰــءـولاَءِ الاَنوَارُ لهُمْ لاَنَّهُمْ للهِ لاَ لِشيءٍ دونَهُ قُلِ اللهُ ثـُمَّ ذ َرْهُمْ فى حَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ. "Orang-orang salik [yang mengembara menuju kepada الله] telah mendapat hidayat dengan nur [cahaya] ibadah yang merupakan amalan untuk taqarrub [mendekat] kepada الله, sedang orang-orang yang telah sampai, mereka tertarik oleh nur yang langsung dari Tuhan bukan sebagai hasil ibadah, tetapi semata-mata karunia dan rahmat الله. Maka orang-orang salik menuju ke alam nur, sedangkan yang telah sampai berkecimpung di dalam nur, sebab orang yang telah sampai itu telah bersih dari segala sesuatu selain الله. الله berfirman: "Katakanlah: الله, kemudian biarkan yang lain-lain di dalam kesibukan mereka bermain-main.” Hakikat tauhid itu bila telah tidak melihat pengaruh-pengaruh sesuatu selain الله, dan inilah yang bernama haqqul-yaqin, dan melihat

Perbedaan Pandang Orang Sudah Wushul Dengan Salik

شتان بين من يستد لُّ به او يستد لُّ عليهِ . المستدلُّ بهِ عرف الحق َّ لاَهله فاَثبت الاَمرَ من وجود اَهله . والاِ ستدلالُ عليهِ من عدمِ الوُصولِ اِليهِ. وَالاَّ فَمتىَ غابَ حتي يُستدلَّ عليهِ ومتىَ بعدَ حتى تكونَ الاَثارَُ هِيَ الَّتيِ توصِلُ اِليهِ. "Jauh berbeda orang yang berpendapat (membuat dalil); adanya الله menunjukkan adanya alam, dengan orang yang berpendapat (membuat dalil); bahwa adanya alam inilah yang menunjukkan adanya الله. Orang yang berpendapat adanya الله menunjukkan adanya alam, yaitu orang yang mengenal hak dan meletakkan pada tempatnya, sehingga menetapkan adanya sesuatu dari asal mulanya. Sedang orang yang berpendapat adanya alam menunjukkan adanya الله, karena ia tidak sampai kepada الله. Maka kapnkah الله itu ghaib sehingga memerlukan dalil untuk mengetahuinya. Dan kapankah الله itu jauh sehingga adanya alam ini dapat menyampaikan kepadanya .” Orang yang wushul ila-lloh itu ada dua cara : 1. Muriiduun / Salikuun yaitu: orang yang mengharapkan bisa w

Tanda - Tanda Kebodohan

ماتركَ من الجهلِ شيْـءـاًمن ارادَ ان يُحدِثَ فى الوَقتِ غيرَمااظهرهُ اللهُ فيهِ "Tiada meninggalkan sedikitpun dari kebodohan, barangsiapa yang berusaha akan mengadakan sesuatu dalam suatu masa, selain dari apa yang dijadikan oleh الله di dalam masa itu.” Sungguh amat bodoh seorang yang mengadakan sesuatu yang tidak dikehendaki oleh الله. Pada Hikmah lain ada keterangan: Tiada suatu saat pun yang berjalan melainkan di situ pasti ada takdir الله yang dilaksanakan.الله berfirman: "Tiap hari Dia [الله] menentukan urusan." Menciptakan, menghidupkan, mematikan, memuliakan, menghinakan dan lain-lain. Maka sebaiknya seorang hamba menyerah dengan ikhlas kepada hukum ketentuan الله pada tiap saat, sebab ia harus percaya kepada rahmat dan kebijaksanaan kekuasaan الله. Sumber : https://telegram.me/kitabhikam

Anggota Lahir Sebagai Cermin Anggota Batin

ماَاسْـتـُودِعَ فىِ غيْبِ السَّراءـرِ ظهرَ فِى شَهادَةِ الظوَاهِرِ “Apa yang tersembunyi dalam rahasia ghoib, yaitu berupa Nur ma’rifat dan nur ilahi, pasti akan ada pengaruhnya di anggota lahir.” Apabila dalam hati hamba sudah ada Nur ma’rifat dari الله,pengaruhnya Nur tersebut akan jelas tampak pada anggota lahir, karena keadaan lahir itu bisa menjadi cermin keadaan batin. Abu Hafs berkata: Bagusnya adab kesopanan lahir, membuktikan adanya adab yang didalam batin. Rosulullah ﷺ . Ketika melihat seorang yang memain-mainkan tangannya ketika sholat, maka رَسُول اللهﷺ . Bersabda : Lau-khosya’a qolbuhu lakhosya-‘at jawarikhuhu. (andaikan khusyu’ hati orang itu, niscaya khusyu' semua anggota badannya.” Abu Tholib al-makky barkata: الله telah menunjukkan tanda bukti orang kafir, yaitu bila disebut nama الله mereka mengejek dan enggan tidak mau menerimanya.الله berfirman :” Apabila disebut nama الله saja (sendiri), cemas dan muak hati orang-orang yang tidak percaya kepada akhirat, sebal

Permulaan Menentukan Akhirnya

مِن علاماتِ النـَّجْحِ فى النهاَياتِ الرُجُوعُ الى اللهِ فى البِدَايات "Suatu tanda akan lulusnya seseorang pada akhir perjuangannya, jika selalu tawakkal, menyerahkan kepada الله sejak awal perjuangannya.  Siapa saja yang memperbaiki suluknya pada permulaan dengan kembali kepada الله, pasrah, dan minta pertolongan hanya kepada الله supaya diberi bisa wushul kepada-Nya, dan tidak mengandalkan amalnya yang berpenyakit, maka pada akhirnya akan mendapat kelulusan bisa wushul kepada الله, dan diberi keselamatan tidak putus di tengah jalan. Seorang arif berkata: Barangsiapa menyangka bahwa ia akan dapat sampai kepada الله dengan perantaraan sesuatu selain dari pada الله, pasti akan putus karenanya. Dan barangsiapa dalam ibadahnya bersandar pada kekuatan dirinya, tidak diserahkan kepada الله, hanya sampai di situ saja, dan tidak mencapai bagian-bagian yang hanya dapat dicapai dengan tawakkal dan menyandarkan diri kepada الله. مَنْ اَشـْرَقت بدايَتـُهُ اشرَقَتْ نِهاَيَتـُهُ "Bara

Bersandarlah Kepada Allah

ماتوَقـَّفَ مطلبٌ انتَ طَالبُهُ بِرَبِّكَ ولاتَيَسَّرَ مطلَبٌ انتَ طالبهُ بِنفسِكَ "Tidak akan terhenti suatu permintaan yang semata-mata engkau sandarkan kepada karunia [kekuasaan] Tuhanmu, dan tidak mudah tercapai permintaan yang engkau sandarkan kepada kekuatan dan daya upaya serta kepandaian dirimu sendiri.” Siapa yang menyampaikan semua hajat-hajatnya kepada الله, pasrah dan bergantung hanya pada الله, maka الله akan mendekatkan yang jauh, memudahkan yang sulit dan memberi keberhasilan pada hajatnya.Dan barang siapa mengandalkan kepandean, kekuatannya sendiri, maka الله akan menyerahkan hajatnya itu pada mereka sendiri.dan الله akan menghinakan mereka dan semua hajatnya tidak akan berhasil.  Sumber : https://telegram.me/kitabhikam

Sifatnya Dunia

لاَتسْتغـْرِبْ وقـُوعَ الاَكداَرِ مادُمتَ فى هٰذِهِ الدَّار فإنـَّهَا ماأبْرزَتْ الاَّماهُوَ مُسْتَحِقّ ُوصْفِها وواجِبُ نَعْتِهَا  "Jangan heran atas terjadinya kesulitan-kesulitan selama engkau masih di dunia ini, sebab ia tidak melahirkan kecuali yang layak dan murni sifatnya.” Abdulloh bin Mas'ud رضي الله عنه berkata: "Dunia ini adalah penderitaan dan duka cita, maka apabila terdapat kesenangan di dalamnya, berarti itu hanyalah sebuah keberuntungan."  Syeikh  Jafar As-shoddiq رضي الله عنه berkata:  من طلب مالم يُخلق اتعبَ نفسه ولم يُرزق. قيل له : وما ذاك؟ قال: الراحة فى الدنياَ   "Barangsiapa meminta sesuatu yang tidak dijadikan oleh الله, berarti ia melelahkan dirinya dan tidak akan diberi. Ketika ditanya: Apakah itu? Jawabnya: Kesenangan di dunia."  Syeikh  Junaid al-Baghdadi رضي الله عنه berkata: "Aku tidak merasa terhina apa yang menimpa diriku, sebab aku telah berpendirian, bahwa dunia ini tempat penderitaan dan ujian dan alam ini dikelilingi

Jangan Menunggu Kesempatan

لاتترَقـَّبْ فُرُوغ َالاغيارِ فَاِنَّ ذٰلكَ يَقطَعكَ عن وجودِ المراقبةِ لهُ فيماَ هُوَ مقِيمُكَ فيهِ "Jangan menantikan habisnya penghalang-penghalang untuk lebih mendekat kepada الله, sebab yang demikian itu akan memutuskan engkau dari kewajiban menunaikan hak terhadap apa yang الله telah mendudukkan engkau di dalamnya. [Sebab yang demikian itu memutuskan kewaspadaanmu terhadap kewajibanmu]." Yang dituntut bagi salik, yaitu selalu melakukan amal ibadah, dan selalu mengawasi taqdirnya الله pada amal yang kau kerjakan, jangan terpengaruh dengan apa-apa yang menjadikan kau ragu dan penghalang-penghalangnya ibadah. Abdulloh bin Umar رضي الله عنه berkata: "Jika engkau berada di waktu senja, maka jangan menunggu tibanya pagi, demikian pula jika engkau berada di waktu pagi, jangan menunggu sore hari. Pergunakanlah kesempatan di waktu muda, sehat, kuat dan kaya untuk menghadapi masa tua, sakit, lemah dan miskin." Sahl bin Abdullah at-Tustary berkata: "Jika tiba wak

Semua Atas Takdir Allah

مامنْ نفسٍ تـُبْدِيه الاَ ولهُ قدرٌ فيكَ يُمضيهِ "Tiada suatu nafas terlepas dari padamu, melainkan di situ pula ada takdir الله yang berlaku atas dirimu." Sebab tiap nafas hidup manusia pasti terjadi suatu taat atau maksiat, nikmat atau musibah [ujian]. Berarti nafas yang keluar sebagai wadah bagi sesuatu kejadian, karena itu jangan sampai nafas itu terpakai untuk maksiat dan perbuatan terkutuk oleh الله سبحانه وتعالى. Sumber : https://telegram.me/kitabhikam

Salik Jangan Berhenti Karena Godaan

مااَرادتْ هِمّـَة ُ سالكٍ ان تقِفَ عِندَما كُشِفَ لهاَ الاَّونادَتـْهُ هَوَاتِفُ الحقيقَةِ الَّذى تطْلُبُهُ امامكَ وَلاَ تبَرَّجَتْ ظَواهِرُالمكوّناتِ الاَّ ونادتكَ حقاَءـقهاَ انَّما نحنُ فِتنةٌ فلا تـكفـُرْ "Tiada kehendak dan semangat orang salik [yang mengembara menuju kepada الله] untuk berhenti ketika terbuka baginya sebagian yang ghoib, melainkan segera diperingatkan oleh suara hakikat. Bukan itu tujuan, dan teruslah mengembara berjalan menuju ke depan. Demikian pula tiada tampak baginya keindahan alam, melainkan diperingatkan oleh hakikatnya: Bahwa kami semata-mata sebagai ujian, maka janganlah tertipu hingga menjadi kafir.” Arti SALIK yaitu: menempuh jalan. Yang di maksud Salik disini usaha caranya bisa Wushul kepada الله. Yang di maksud WUSHUL disini yaitu : sampai pada tingkatan merasa selalu berada di sisi الله, di dekat الله, dalam segala kesempatan dan waktu. Abu Hasan at-Tustary berkata: "Di dalam pengembaraan menuju kepada الله jangan menoleh kepada yang lain,

Jangan Minta Dipindah Dari Satu Maqom Ke Maqom Lainnya

لاتَطلُبْ منهُ ان يُخرِجكَ من حالةٍ ليَسْتعملكَ فيماَ سِواها فلوارَادكَ لاسْتَعْملك من غير اِخرَاجٍ "Jangan engkau meminta kepada الله supaya dipindahkan dari suatu masalah kepada masalah yang lain, sebab sekiranya الله menghendakinya tentu telah memindahkanmu, tanpa merubah keadaan yang terdahulu.” Dalam suatu hikayat: Ada seorang yang salik, dia bekerja mencari nafkah dan beribadat dengan tekun, lalu ia berkata dalam hatinya: Andaikata aku bisa mendapatkan untuk tiap hari, dua potong roti, niscaya aku tidak susah bekerja dan melulu beribadat. Tiba-tiba ia tanpa ada masalah tiba-tiba ia ditangkap dan dipenjara, dan tiap hari ia menerima dua potong roti, kemudian setelah beberapa lama ia merasa menderita dalam penjara, ia berpikir: Bagaimana sampai terjadi demikian ini? Tiba-tiba ia mendengar suara yang berkata: Engkau minta dua potong roti, dan tidak minta keselamatan, maka Kami [الله] menerima dan memberi apa yang engkau minta. Setelah itu ia memohon ampun dan membaca istighfa

Jangan Menunda Amal

اِحالتكَ الاَعمالِ علىٰ وجودِ الفراغِ من رعوناتِ النـَّفـْسِ "Menunda amal perbuatan [kebaikan] karena menanti kesempatan lebih baik, suatu tanda kebodohan yang mempengaruhi jiwa” Seorang murid apabila terlalu disibukkan dengan urusan dunianya, yang bisa menghalangi amal yang menyebabkan dekat dengan الله, sehingga dia menangguhkan amal menunggu kesempatan yang tidak sibuk itu dinamakan kumprung/kebodohan. Kebodohan itu disebabkan oleh:  1. Karena ia mengutamakan duniawi. Padahal الله سبحانه وتعالى berfirman: ‘’Tetapi kamu mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan kekal selamanya.’’  2. Penundaan amal itu kepada masa yang ia sendiri tidak mengetahui apakah ia akan mendapatkan kesempatan itu atau kemungkinan ia akan dijemput oleh maut yang setiap saat selalu menantinya.  3. Kemungkinan azam, niat dan hasrat itu menjadi lemah dan berubah. Seorang penyair berkata: "Janganlah menunda sampai besok, apa yang dapat engkau kerjakan hari ini. Waktu sangat berh

Bukti Kekuasaan Allah (3)

يا عجبا كيفَ يظهرُالوجودُفى العدمِ ، ام كيفَ يَثبُتُ الحادثُ معَ من لهُ وَصفُ القِدَمِ "Sungguh sangat ajaib, bagaimana tampak wujud dalam ketiadaan, atau bagaimana dapat bertahan sesuatu yang hancur itu, di samping dzat yang bersifat qidam.” Yakni, sesuatu yang hakikatnya tidak ada bagaimana dapat tampak ada wujudnya. Hakikat ‘adam [tidak ada] itu gelap, sedangkan wujud itu bagaikan cahaya terang. Demikian pula bathil dan haq. Bathil itu harus rusak dan binasa, sedangkan yang haq itulah yang harus tetap kuat bertahan. Kata KAYFA yang jumlahnya ada sepuluh, semua isim Istifham, tapi yang dimaksudkan menggunakkan arti Ta’ajjub(heran),dan arti menafikan (tidak mungkin). Ta’ajjub itu karena syuhudnya kepada الله, jika hamba sudah syuhud kepada الله semua wujud selain الله itu hilang dari pandangan mata hatinya, semua selain الله itu sama sekali tidak ada wujudnya. Sumber : https://telegram.me/kitabhikam

Bukti Kekuasaan Allah (2)

كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهوالذى اظهركلَّ شيىءٍ "Bagaimana dapat dibayangkan bahwa الله dapat dihijab [dibatasi tirai] oleh sesuatu padahal الله yang menampakkan [mendhohirkan] segala sesuatu.” كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهوالذى ظَهربِكلّ شيىءٍ "Bagaimana mungkin akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia [الله] yang tampak [dhohir] pada segala sesuatu.”  كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهوالذى ظهرفى كلّ شيىءٍ  "Bagaimana akan mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal Dia [الله] yang terlihat dalam tiap sesuatu.”  كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهوالذى ظهرلِكلّ شيىءٍ   كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهو الظاهرقبل وجودِ كلّ شيىءٍ  "Bagaimana akan dapat ditutupi oleh sesuatu, padahal Dia [الله] yang tampak pada tiap sesuatu. Bagaimana mungkin akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia [الله] yang ada dhohir sebelum adanya sesuatu.”  كيفَ يتصوَّرُ ان يحجبهُ شيىءٌ وهو اَظَْهرمن كلّ شيىءٍ  "Bagaimana akan mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal Dia [الله] lebih jelas dari se

Bukti Kekuasaan Allah

مِمَّايَدُلُّكَ على وجُودِ قهرِهِ سُبْحانهُ ان حجبكَ عَنهُ بما ليسَ بموجُودٍ معهُ "Di antara bukti-bukti yang menunjukkan adanya kekuasaan الله yang luar biasa, ialah dapat menghijab engkau dari pada melihat kepada-Nya dengan hijab tanpa wujud di sisi الله.” Sepakat para orang-orang arif, bahwa segala sesuatu selain الله tidak ada artinya, tidak dapat disamakan adanya sebagaimana adanya الله, sebab adanya alam terserah kepada karunia الله, bagaikan adanya bayangan yang tergantung selalu kepada benda yang membayanginya. Maka barangsiapa yang melihat bayangan dan tidak melihat kepada yang membayanginya, maka di sinilah terhijabnya. الله berfirman: "segala sesuatu rusak binasa kecuali dzat الله." رَسُول الله ﷺ membenarkan ucapan seorang penyair yang berkata: ''Camkanlah!Bahwa segala sesuatu selain الله itu palsu belaka. Dan tiap nikmat kesenangan dunia, pasti akan binasa.]  Sumber : https://telegram.me/kitabhikam

Alam Terang Karena Nur Ilahi

الكَونُ كلُّهُ ظُلمة ٌ واِنّمَا اَناَرَهُ ظُهُورُالحَقِّ فيه فمن رأى الكَوْنَ ولم يَشْهَدْهُ فيهِ اوعِندهُ اوقَبْله اوبَعْدهُ فقد اَعوزَهُ وجودُ الانوَرِ وحُجِبتْ عَنه شموس المعارفِ بِسُحُبِ الاثارِ "Alam itu semuanya dalam kegelapan, sedangkan yang meneranginya, hanya karena dhohirnya Al-Haq [الله] padanya, maka barangsiapa yang melihat alam, lantas tidak melihat الله di dalamnya, atau di dekatnya, atau sebelumnya, atau sesudahnya, maka sungguh ia telah disilaukan oleh nur [cahaya], dan tertutup baginya surya [nur-cahaya] ma'rifat oleh tebalnya benda-benda alam ini.” Alam semesta yang mulanya tidak ada dan memang gelap, sedang yang menampakkannya sehingga berupa kenyataan, hanya kekuasaan الله padanya, karena itu barangsiapa yang melihat sesuatu benda alam ini, lantas tidak terlihat olehnya kebesaran dan kekuasaan الله yang ada pada benda itu, sebelum atau sesudahnya, berarti ia telah disilaukan oleh cahaya. Bagaikan ia melihat cahaya yang terang benderang, lalu ia mengira

Resiko Hati Yang Keruh

كيف يُشْرقُ قلبٌ صُوَرُالاَكوَانِ مُنطبِعَة ٌ فى مِرْاَته ؟ ام كيفَ يرحلُ الى الله وهو مُكبَّلٌ بِشهواتِهِ ؟ ام كيفَ يَطمعُ ان يَدْخُلَ حَضرَةَ اللهِ وهو لم يتطهَّرْ من جنابةِ غفلاتهِ ؟ ام كيفَ يرجُواَنْ يَفهَمَ د قاءـقَ الاسراَرِ وهُوَ لمْ يَتـُبْ من هفَوَاتِهِ؟ "Bagaimana akan dapat bercahaya hati seseorang yang gambar dunia ini terlukis dalam cermin hatinya. Bagaimana berangkat menuju kepada الله, padahal ia masih terbelenggu oleh nafsu syahwat. Bagaimana akan dapat masuk menjumpai الله, padahal ia belum bersih dari kelalaian. Bagaimana ia berharap akan mengerti rahasia yang halus dan tersembunyi, padahal ia belum taubat dari kekeliruannya." Dalam hikmah ke 13 ini menjadi kelanjutan hikmah sebelumnya (12) yang menerangkan tentang pentingnya Uzlah, sedang hikmah 13 memperingatkan Uzlah jasad (tubuh) saja tidak akan ada artinya jika hatinya tidak ikut ber-Uzlah, hatinya masih bebas dan dipenuhi empat perkara : 1.Gambaran, ingatan, keinginan terhadap benda (dunia), seperti

Uzlah

 مانفعَ القَلبَ شَيءٌ مثلُ عُزْلةٍ يَدْخُلُ بها ميدان فِكرةٍ  "Tidak ada sesuatu yang sangat berguna bagi hati [jiwa], sebagaimana menyendiri untuk masuk ke medan tafakur.” Seorang murid /salik kalau benar-benar ingin wushul kepada الله, pastilah ia berusaha bagaimana supaya hatinya tidak lupa pada الله, bisa selalu mendekatkan diri kepada الله. Dalam usaha ini tidak ada yang lebih bermanfaat kecuali uzlah (menyendiri dari pergaulan umum), dan dalam kondisi uzlah murid mau Tafakkur(berfikir tentang makhluknya الله, kekuasaan الله, keagungan الله, keadilan الله dan belas kasih nya الله) yang bisa menjadikan Hati timbul rasa takdhim kepada الله. Menambah keyaqinan dan ketaqwaan kepada الله. Adapun bahayanya murid yang tidak uzlah itu banyak sekali, رَسُول اللهﷺ bersabda: "Perumpamaan seorang sahabat yang tidak baik, bagaikan pandai besi yang membakar besi, jika kamu tidak terkena oleh percikan apinya, maka kamu terkena bau busuknya."    الله تعالى mewahyukan kepada Nabi Mu

Hari - Hati Dengan Ketenaran

اِدْفن وُجُودَك فى ارضِ الخُمول. فما نبتَ مِمَّالم يُدفن لايتِمُّ نِتاجهُ "Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab tiap sesuatu yang tumbuh namun tidak ditanam, maka tidak sempurna hasil buahnya.” Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya bagi seorang yang beramal, dari pada menginginkan kedudukan dan terkenal pergaulannya di tengah-tengah masyarakat. Dan ini termasuk keinginan hawa nafsu yang utama. ﷺ رَسُول الله bersabda: "Barangsiapa yang merendahkan diri, maka الله akan memuliakannya dan barang siapa yang sombong, الله akan menghinanya. Ibrahim bin Adham رضي الله عنه berkata: "Tidak benar tujuan kepada الله, siapa yang ingin terkenal." Ayyub as-Asakhtiyani رضي الله عنه berkata: "Demi الله tidak ada seorang hamba yang sungguh-sungguh ikhlas pada الله, melainkan ia merasa senang, gembira jika ia tidak mengetahui kedudukan dirinya." Mu'adz bin Jabal berkata: ﷺ رَسُول الله bersabda: "Sesungguhnya sedikit riya' itu sudah termasuk syirik. D