Tampilkan postingan dengan label Zina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zina. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Januari 2019

Qiyas Hudud Seks Sejenis Dengan Zina

Forum Muslim - Dalam kasus zina, dibedakan hukuman hududnya antara pelaku zina muhshan dan pelaku zina ghairu muhshan. 

1. Pelaku Zina Muhshan 

Mereka yang sudah pernah melakukan jima' syar'i sebelumnya, tentu bentuknya dalam perkawinan yang sah. Dengan kata lain sudah menikah. Kalau dia berzina, hukumannya adalah rajam, yaitu dilempari batu sampai mati.

Asif berzina dengan seorang wanita dan Rasulullah SAW memerintahkan kepada Unais untuk menyidangkan perkaranya dan beliau bersabda :

وَاغْدُ يَا أُنَيْس عَلىَ امْرَأَةِ هَذَا فَإِنِ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا

Wahai Unais, datangi wanita itu dan bila dia mengaku zina maka rajamlah. (HR. Bukhari)

2. Pelaku Zina Ghairu Muhshan 

Mereka yang belum pernah melakukan jima' syar'i sebelumnya. Artinya belum pernah menikah. Maka kalau dia berzina, hukumannya adalah cambuk 100 kali, sebagaimana disebutkan dalam An-Nur ayat 2 : 

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ 
Wanita dan laki-laki yang berzina maka jilidlah masing-masing mereka 100 kali. (QS. An-Nuur : 2)

أَنَّهُ أَمَرَ فِيمَنْ زَنَى وَلَمْ يُحْصَنْ بِجَلْدِ مِائَةٍ، وَتَغْرِيبِ عَامٍ

Nabi SAW memerintahkan hukuman buat pezina bukan muhshan : dicambuk 100 kali dan diasingkan setahun. (HR. Bukhari)

3. Bagaimana Dengan Pelaku Seks Sejenis?

Tidak ada nash yang disepakati dalam masalah ini. Namun mazhab Asy-Syafi'iyah kemudian melakukan QIYAS antara pelaku seks sejenis dengan pelaku zina.

Kalau pelakunya muhshan, maka diriajam. Sebaliknya kalau pelakunya ghairu muhsham, dicambuk 100 kali. 

Memang ada hadits yang menyebutkan pelaku seks sejenis pada hakikatnya sama dengan orang yang berzina, yaitu hadits berikut :

إذا جاء الرجل الرجل فهما زانيان، وإذا أتت المرأة المرأة فهما زانيتان

Laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki, maka keduanya berzina. Wanita yang melakukan hubungan seksual dengan wanita, keduanya berzina. (HR. Al-Baihaqi)

Namun beberapa kalangan mengkritik kelemahan hadits ini semisal Albani dalam Irwa' Al-Ghalilnya (8/16). Oleh karena itulah hadits dhaif ini tidak dipakai sebagai landasan untuk merajam dan mencambuk pelaku seks sejenis.

Dan sebagai penggantinya, digunakanlah QIYAS, yaitu qiyas antara orang yang melakukan seks sejenis dengan laki-laki dan perempuan yang berzina. Dengan demikian, pelaku seks sejenis kalau muhshan tetap dirajam dan kalau bukan muhshan dicambuk 100 kali.

Ahmad Sarwat, Lc., MA 

NB.

Mazhab Al-Hanafiyah : cuma dita'zir karena dianggap bukan zina dan tidak masuk kriteria zina. Dan hukumannya terserah hakim.

Mazhab Al-Malikiyah : Dirajam tanpa dibedakan antara muhshan dan ghairu muhshan. Karena tidak diqiyaskan ke zina, tetapi berdasarkan hadits من وجدتموه يعمل عمل قوم لوط، فاقتلوا الفاعل والمفعول به

Mazhab Al-Hanabilah : Sama dengan Maliki.

Yang ingin mendalami dengan kitab yang mudah dipahami dan ringkas, silahkan rujuk Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu karya Dr. Wahbah Az-Zuhaili. Di Maktabah Syamilah jilid 7 halaman 5393.

Rabu, 21 Maret 2018

Bertaubat dari Zina Mata Mengantarnya Ke Surga

Ilustrasi zina mata
Forum Muslim - Sesungguhnya, ia tak sengaja. Waktu itu ada misi yang harus dikerjakannya. Kesalahannya –kalau boleh dibilang begitu- hanya satu; ia tidak konsentrasi. Ia menoleh ke arah lain. Mengarahkan pandangannya ke rumah di kota itu; Madinah.


Ia tengah menjalankan tugas dari Rasulullah SAW untuk suatu keperluan. Di tengah jalan, "bencana" datang menyapanya. Sewaktu melayangkan pandang ke salah satu rumah yang tidak tertutup pintunya, terlihatlah olehnya wanita yang sedang mandi. Mungkin hanya dalam hitungan detik, bukan menit.

Wajahnya mendadak pucat, tubuhnya gemetar ketakutan. Ia segera berlari melewati rumah demi rumah, kampung demi kampung, hingga keluar Madinah. Ia tiba di sebuah padang pasir yang sepi. Di sana ia menangis sejadi-jadinya. Menyesali apa yang telah dilihatnya. Dengan derai air mata dan suara yang tersisa ia memohon ampunan Rabbnya.

Rasulullah kehilangan sahabat ini untuk satu hari. Beliau bertanya-tanya, tetapi sahabat yang lain tidak juga mengetahui keberadaannya. Hingga berlalulah empat puluh hari. Akhirnya malaikat datang mewahyukan di mana ia berada. Umar dan Salman ditugasi Sang Nabi untuk menjemputnya.

Dengan susah payah Umar berhasil menemukannya. Ia memeluk sahabat itu penuh rindu. "Wahai Umar, tahukah Rasulullah SAW tentang dosaku", tanyanya penuh kekhawatiran. "Aku tidak tahu permasalahan itu. Yang jelas, Rasulullah menugaskan kami untuk mencarimu."

"Wahai Umar, satu permohonanku padamu. Jangan kau bawa aku menghadap Rasulullah, kecuali ketika beliau sedang shalat."

Sesampainya di Madinah dan mendapati Rasulullah membaca Al-Qur'an dalam shalatnya, sahabat ini pingsan. Ia jatuh sakit hingga berhari-hari. Ketika Rasulullah tahu kondisinya dan menjenguk ke sana, ia masih saja khawatir akan dosanya. "Apa yang kau rasakan?" Rasulullah bertanya kepada sahabat yang kini telah berada dalam pangkuannya ini. "Seolah semut merayap di antara tulangku, dagingku dan kulitku".

"Apa yang kau inginkan?" tanya beliau lagi. "Ampunan Rabbku", jawabnya penuh harap. Tak lama kemudian Jibril menyampaikan wahyu, "Wahai Muhammad, Rabbmu mengirimkan salam untukmu. Dia berfirman padamu, 'Seandainya hambaKu ini datang padaKu dengan kesalahan yang memenuhi bumi, tentulah Aku akan menemuinya dengan ampunan sebanyak itu pula."

Ketika Rasulullah SAW memberitahu wahyu ini kepadanya, sahabat ini meninggal seketika. Namanya Tsa'labah.

Tsa'labah. Ia mengajarkan kepada kita untuk bertaubat, bahkan dari kemaksiatan yang –oleh orang di zaman sekarang- tidak dianggap. Ia mengajarkan kepada kita untuk bertaubat, meskipun dari kesalahan yang sebenarnya tidak disengaja.

Ah... memang begitulah orang-orang shalih itu selalu mempesona. Mereka memiliki ketakutan yang luar biasa kepada Tuhannya hingga senantiasa sensitif terhadap dosa. Dan dari sana ia bergerak cepat menuju keridhaan Rabbnya. Bertaubat, mengejar akhirat. Dunia seakan dicampakkan begitu saja. Dan pada akhirnya... itu membawa mereka ke surga.

Beruntunglah Tsa'labah... dan orang-orang shalih yang mengambil jalan yang sama; taubatan nasuha. Ia tidak berapologik bahwa itu bukan kesalahannya; justru ia sangat cemas bahwa apa yang dilihatnya, meskipun tidak lama, sudah masuk pada tataran zina. "…Dua mata zinanya melihat, dua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya berbicara, tangan zinanya menyentuh,…" sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ini demikian menancap di jiwa, menggerakkannya untuk bertaubat saat itu juga.

Beruntunglah mereka yang menyadari kesalahannya, atau bahkan merasa bersalah meskipun tidak sengaja, lalu menghampiri ampunan Allah dengan taubatnya. "Setiap bani Adam (pernah) berbuat salah," sabda Rasulullah dalam kesempatan lain yang direkam oleh Imam Tirmidzi, "dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang bertaubat."

Mungkin ada orang-orang yang memandang orang Shalih seperti Tsa'labah dengan tatapan hina. Menjustifikasinya sebagai orang yang melakukan kesalahan besar. Mungkin disebabkan mereka tidak tahu, bahwa justru dari kesalahan itu ia memperoleh derajat mulia di sisi Rabbnya. Dari kacamata dunia mungkin "sejarah" Tsa'labah berakhir di sana; ia menyendiri, sakit, lalu mati. Namun dalam pandangan Allah, Rasul-Nya, kemudian kaum mukminin yang ditunjukkan Allah akan hakikatnya, Tsa'labah memperoleh keberuntungan luar biasa; ridha Allah dan surga-Nya.

Ya Allah... jadikanlah kami hamba-hambaMu yang bertaubat, janganlah Engkau benamkan kami dalam golongan orang-orang yang mencari kesalahan saudara kami dan merasa lebih baik dari mereka yang telah menangisi kesalahannya, menyesali dosanya, dan bersimpuh pada-Mu dengan taubat nasuha...

Ya Allah... jika hari ini kami masih dinilai mulia oleh manusia, itu hanya karena Engkau tidak membuka semua aib diri ini kepada mereka. Maka tutupilah aib kami yang telah terukir di masa lalu dengan ampunanmu... lindungilah kami dari aib baru dengan taqwa kepadaMu.

Ya Allah... janganlah Engkau uji kami dengan ujian yang kami tidak sanggup memikulnya. Jangan biarkan hambaMu ini sendirian dalam menghadapi beratnya kehidupan dunia yang sering menyeret jiwa dalam lembah noda, memelesetkan kaki dalam jerembab dosa, atau membuat kami terpelanting dalam jurang nista...

Ya Rabb... jika Engkau nampakkan kesalahan kami untuk memperbaiki kami, jadikanlah kami ridha menerimanya dengan segera bertaubat kepadaMu dan meningkatkan kualitas diri kami. Namun jika apa yang menimpa saudara-saudara kami seiman adalah tipu daya, sungguh... hanya kepada-Mu kami mengadukan kelemahan kami, kurangnya kekuatan kami, dan rapuhnya siasat kami berhadapan dengan manusia.

Wahai Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah Pelindung bagi orang lemah, dan Engkau jualah pelindung kami! Kepada siapakah kami hendak Engkau serahkan? Kepada orang-orang yang tidak menyukai kami, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diri kami? Jika Engkau tidak murka kepada kami, maka itu semua tak kami hiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepada kami. Kami berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat, dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan kepada kami. Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diri kami hingga Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apapun melainkan atas perkenan-Mu".

Alaahumma aamiin.

Sumber : Muchlisin