Jumat, 27 Maret 2020

Perbedaan Pandang Orang Sudah Wushul Dengan Salik





شتان بين من يستد لُّ به او يستد لُّ عليهِ . المستدلُّ بهِ عرف الحق َّ لاَهله فاَثبت الاَمرَ من وجود اَهله . والاِ ستدلالُ عليهِ من عدمِ الوُصولِ اِليهِ. وَالاَّ فَمتىَ غابَ حتي يُستدلَّ عليهِ ومتىَ بعدَ حتى تكونَ الاَثارَُ هِيَ الَّتيِ توصِلُ اِليهِ.

"Jauh berbeda orang yang berpendapat (membuat dalil); adanya الله menunjukkan adanya alam, dengan orang yang berpendapat (membuat dalil); bahwa adanya alam inilah yang menunjukkan adanya الله. Orang yang berpendapat adanya الله menunjukkan adanya alam, yaitu orang yang mengenal hak dan meletakkan pada tempatnya, sehingga menetapkan adanya sesuatu dari asal mulanya. Sedang orang yang berpendapat adanya alam menunjukkan adanya الله, karena ia tidak sampai kepada الله. Maka kapnkah الله itu ghaib sehingga memerlukan dalil untuk mengetahuinya. Dan kapankah الله itu jauh sehingga adanya alam ini dapat menyampaikan kepadanya.”

Orang yang wushul ila-lloh itu ada dua cara :
1. Muriiduun / Salikuun yaitu: orang yang mengharapkan bisa wushul kepada الله.
2. Murooduun / Majdzubuun yaitu: orang dikehendaki oleh الله atau ditarik oleh الله sehingga bisa wushul kepada الله.

Golongan pertama (Muriiduun / Salikuun) dalam suluknya masih terhalang dari الله, karena mata hatinya masih  melihat selain الله, الله masih ghoib dalam mata hatinya, sehingga dia menggunakan makhluk (selain الله) untuk dalil adanya (wujudnya) الله. Lisannya berdzikir, diya yaqin kalau yang menggerakkan lisannya berdzikir itu الله, tapi dia masih memperhatikan lisan dan dzikirnya, belum memperhatikan الله yang menggerakkan lisannya.

Golongan kedua (Murooduun / Majdzubuun) dia langsung ditarik oleh الله dan dihadapi الله, sehingga hilanglah semua makhluk selain الله dalam mata hatinya, semua tidak ada wujudnya, yang wujud hanya الله. Tapi ketika dia turun kebawah lagi (sadar dengan kehidupan dunia) dia tahu semua makhluk itu wujud karena wujudnya الله.

ليُنفق ذوسَعَةٍ من سعَتهِ الوَاصِلوْنَ اِليهِ ومن قدِرَ عليهِ رِزْقهُ السَّا ئرُونَ اِليْهِ

"Hendaknya membelanjakan tiap orang kaya menurut kekayaannya, ialah mereka yang telah sampai kepada الله. Dan orang yang terbatas rezekinya, yaitu orang sedang berjalan menuju kepada الله.

Orang yang telah sampai kepada الله, karena mereka telah terlepas dari kurungan melihat kepada sesuatu selain الله, ke alam tauhid, maka luaslah pandangan mereka, maka mereka berbuat di alam mereka lebih lapang, sebaliknya orang yang masih merangkak-rangkak di dalam ilmu dan faham yang terbatas, mereka inipun mengeluarkan sekedarnya.

Sumber : https://telegram.me/kitabhikam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar