Tampilkan postingan dengan label Peraduan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peraduan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 November 2016

Peraduan

Muhammad Saroji - File Pribadi




Bumiku peraduanku
pembaringan yang sepi beranda yang dingin.


Di saat maut menjemput, peraduanku meraup jazad ini sepanjang usia
yang telah tertutup
pun tulang dan daging ini tak kan pernah menjadi besi atau batu,
ini cuaca pertanda lapuk panas dan dingin sepanjang hari
derita hidup tak mungkin selamanya teratasi
tak ku biarkan peraduan ini memanjakan hati
atau biarkan langkah kaki mencari jalan sendiri, mengobati luka perih di bumiku
di peraduanku.


Bumiku
peraduan sepi
tempat aku mengerti arti hina dan sedih
dalam segala khalwat meratap menangis
di sini aku berjuang dan menghikmati segala makna cinta yang hakiki
abadi

-------

Bogor 23 Desember 1995
@All Righte Reserved

Kamis, 20 Oktober 2016

Peraduan

Muhammad Saroji dan Kawan-kawan - File Pribadi


Bumiku peraduanku,
pembaringan yang sepi,
beranda yang dingin
Di saat maut menjemput,
peraduanku meraup jazad ini,
sepanjang usia yang telah tertutup,
pun tulang dan daging ini tak kan pernah menjadi besi atau batu,
ini cuaca pertanda lapuk,
panas dan dingin sepanjang hari,
derita hidup tak mungkin selamanya teratasi,
tak ku biarkan peraduan ini memanjakan hati,
atau biarkan langkah kaki mencari jalan sendiri,
mengobati luka perih
di bumiku,
di peraduanku.


Bumiku,
peraduan sepi,
tempat aku menghayati arti hina dan sedih,
dalam kekhusyukan khalwat meratap menangis,
di sini aku berjuang dan menghikmati,
segala makna cinta yang hakiki,
abadi.


- - -
Ditulis di Gunung Putri - Bogor, 23 Desember 1995.
Muhammad Saroji
© Copyright - All rights reserved

Rabu, 19 Oktober 2016

Bumiku

Muhammad Saroji - File Pribadi



Bumiku merintih sedih,
bersimbah darah dari luka dan tangisan perih,
di segala penjuru maut mengepung,
ke mana jiwaku hendak berlari.

Tuhanku,
negeri ini,
pemimpin ini, angkuh sekali,
menindas si miskin dan yatim piatu,
congkak hati bagai karang batu,
kali ini izinkan aku memohon ampun
dosa bertumpuk martabat terpuruk
aku mengeluh kapan kegelapan runtuh
aku bermimpi kapan cahaya terang kembali.


Tuhanku,
kapan bumiku ramah kembali…

---

2 Oktober 2009 13:42
By Muhammad Saroji
© Copyright - All rights reserved