Tampilkan postingan dengan label Sketsa Malam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sketsa Malam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Maret 2018

Antara Fiksi Dan Teori Mimetik, Siapa Yang Gemblung?

Pengantar Ghost Fleet
Forum Muslim - Parto Ledeng tersenyum sinis. "Fiksi kok dijadikan rujukan politik. Zaman makin gemblung," katanya tiba-tiba.

"Tukang ledeng kok ngomongin politik. Memangnya kamu sudah baca _Ghost Fleet_?"  sergah Darkoped.

"Jujur, belum. Tapi, si penulisnya sendiri kan sudah bilang, itu buku novel. Fiksi."

"Kamu tahu siapa penulis novel itu?"

"Tahu. Si Peter Warren Singer dan August Cole."

"Siapa Peter Warren Singer? Dia tidak punya riwayat sebagai penulis fiksi. Novel yang dibuatnya itu berkisah tentang skenario perang dunia yang melibatkan Amerika Serikat dengan China dan Rusia yang bersekutu. Ya, Peter Singer itu ilmuwan politik, sarjana hubungan internasional, ahli strategi di New America Foundation. Dia pendiri Proyek Kebijakan AS di Dunia Islam pada Pusat Kebijakan Timur Tengah di Brookings. Dia juga bekerja di Pusat Ilmu dan Urusan Internasional Belfer di Universitas Harvard, Satuan Tugas Balkan di Departemen Pertahanan AS, dan Akademi Perdamaian Internasional."

"Kita sedang membahas fiksi, Ped. Bukan bicara siapa penulisnya."

"Iya, supaya kamu tahu, itu bukan fiksi biasa. Peter Singer itu dikenal ahli perang abad 21, perang modern, perang asimetris. Jadi, dia membuat fiksi berdasarkan data dan kajian ilmiah. Kajian-kajiannya dipakai rujukan oleh Pentagon, Kongres AS, hingga berbagai ilmuwan dunia. Ada empat buku dia tulis sebelum dia menulis novel _Ghost Fleet,_ semuanya nonfiksi. Buku terlarisnya berjudul _Wired for War: The Robotics Revolution and Conflict in the 21st Century._ Untuk penulisan buku itu, dia mewawancarai ratusan ilmuwan robotika, penulis fiksi ilmiah, tentara, pemberontak, politisi, pengacara, jurnalis, dan aktivis hak asasi manusia dari berbagai negara."

"Itu buku tentang apa"

"Di buku itu Singer berbicara tentang teknologi robotik yang akan memainkan peran dominan dalam peperangan masa depan."

"Nah, beda. Itu buku ilmiah, bukan fiksi," kata Parto Ledeng.

"Kamu pernah dengar novel _The Great Pacific War_?"

"Apa itu?"

"Makanya, banyak baca. Itu novel dulu dibaca oleh Bung Karno. Dari novel itulah muncul kesadaran Bung Karno tentang akan terjadinya Perang Pasifik. Novel itu ditulis oleh Charles Hector Bywater, wartawan Amerika yang fokus pada kegiatan intelijen angkatan laut. Dari pengalaman liputan mengenai kegiatan intelijen itulah, dia menulis novel yang menggambarkan akan terjadinya Perang Pasifik antara Amerika dan Jepang."

"Oh, itu fiksi yang kebetulan saja jadi kenyataan."

"Bukan fiksi yang jadi kenyataan. Kalau mau membahas karya sastra, kamu harus paham juga tentang teori mimetik. Teori ini menyebutkan, karya sastra merupakan refleksi perilaku real yang ada di masyarakat."

"Wah, makin gemblung. Ngelantur ke mana-mana kamu, Ped. Fiksi ya fiksi, Ped."

"Sebenernya yang gemblung itu siapa, sih?" (Ki Srunthul)

Rabu, 18 Februari 2009

Sketsa Malam

Nirmala
perlahan masih kurasakan
walau lama hati telah mencampakkan
senyum Nirmala di malam itu
yang membisikkan dengan mesranya
alunan rindu yang membentang
dan menyapaku di kala duka.

Ingin sekali ku rasakan
titik derai air mata
dan di kala itu pula
ingin sekali kucurahkan
coretan dan sayatan di jiwa
yang meluluh dan merajam rasa.

Dengan seribu sapaan di jiwa
kini kucoba tuk bertanya
namun seribu langkah yang dulu ada
telah membisu dan menunduk
hingga tiada lagi tahu arah ke mana
walau lama hasrat hati telah membara.

Di bawah matahari senja
sekali lagi ingin ku coba
menyapa seribu luka yang masih ada
sekedar menepis sayat-sayat di jiwa
namun sekali lagi di malam ini
hanyalah dapat ku tertegun.

Ku tatap ujung-ujung jejak
dan ku raut segala ruang kehidupan
tapi di segala pintu gerbang
tertampar hatiku akan noda
hingga kau malu menyapanya
karena seribu duka telah menelan kita.

Pekalongan 12 Juli 1988

Sketsa Malam

Nirmala
perlahan masih kurasakan
walau lama hati telah mencampakkan
senyum Nirmala di malam itu
yang membisikkan dengan mesranya
alunan rindu yang membentang
dan menyapaku di kala duka.

Ingin sekali ku rasakan
titik derai air mata
dan di kala itu pula
ingin sekali kucurahkan
coretan dan sayatan di jiwa
yang meluluh dan merajam rasa.

Dengan seribu sapaan di jiwa
kini kucoba tuk bertanya
namun seribu langkah yang dulu ada
telah membisu dan menunduk
hingga tiada lagi tahu arah ke mana
walau lama hasrat hati telah membara.

Di bawah matahari senja
sekali lagi ingin ku coba
menyapa seribu luka yang masih ada
sekedar menepis sayat-sayat di jiwa
namun sekali lagi di malam ini
hanyalah dapat ku tertegun.

Ku tatap ujung-ujung jejak
dan ku raut segala ruang kehidupan
tapi di segala pintu gerbang
tertampar hatiku akan noda
hingga kau malu menyapanya
karena seribu duka telah menelan kita.

Pekalongan 12 Juli 1988