Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2009

Kapan Sayyidina Muhammad SAW Menjadi Nabi?

Ada yang bilang bahwa Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi sejak awal sebelum usia 40 tahun, bahkan sebelum Adam tercipta. Itu tidak benar. Nabi Muhammad jelas baru menjadi Nabi setelah berusia 40 tahun, sebelum itu belum menjadi Nabi meskipun sudah ada berbagai kejadian luar biasa yang menunjukkan bahwa beliau spesial. Kejadian luar biasa tersebut istilahnya irhash, bukan mukjizat sebab istilah mukjizat hanya bagi mereka yang telah diangkat menjadi Nabi saja. Hadis yang menceritakan bahwa beliau diangkat sebagai Nabi tatkala berusia 40 tahun cukup banyak. Di antaranya adalah: عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ، قالَ: «بُعِثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وهُوَ ابْنُ أرْبَعِينَ سَنَةً "Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah diangkat menjadi Nabi tatkala berusia 40 tahun"  Sebenarnya dalil di atas sudah cukup, tapi sebagian orang betul-betul meyakini sebelum Itu Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi meskipun belum mendapat wahyu pertamanya. Mereka juga menguatkan pendapatnya dengan beberapa hadis. Untuk itu per

Durhaka

Ilustrasi anak durhaka - File  harianaceh.co.id Berawal dari ketidakpatuhan diri kepada orang tua, mengkhianati teman, mengingkari kata hati, berlanjut menjadi kedurhakaan kepada Allah. Teramat banyak nafsu keinginan manusia, mengumpulkan harta, meraih pangkat dan jabatan, hingga mengejar segala apa yang ada dalam benak fikiran. Sesungguhnya apa yang diterima manusia adalah baik dalam pandangan Allah kalan manusia pandai menghayatinya. Jika Allah menurunkan musibah, maka sabar adalah sikap terbaik agar kita mendapat ridhoNya. Dan jika Allah menurunkan nikmat, maka bersyukur adalah sikap terbaik agar Allah juga meridhoinya. Sesungguhnya orang yang menyesali kesusahan, mengutuk kemiskinan adalah orang yang durhaka, karena dia tidak tahu untuk apa kesusahan dan kemiskinan dikaruniakan. Barangkali kitapun akan menduga, jikalau Allah memberinya kesenangan dn kekayaan akan bertambah durhakalah dia. Ketaatan dan keluhuran budi tidak disandarkan pada ukuran harta dan jabatan yang telah Allah k

Ketika Aku Duduk Di Berandamu

Ketika Aku Duduk Di Berandamu ingin benar aku bertanya kepadamu tentang apa itu arti hakikat karena berulang kali kau katakan padaku puasa itu tidak perlu sholat juga buat apa apalagi berwudhu karena kau berpendapat sholat sebenarnya adalah amalan hidup kita wudhu sebenarnya adalah kesucian bathin kita... Tapi ketika ku lihat sendiri kau merasa kehausan dan kau reguk segelas air itu dengan tanganmu sendiri sungguh aku tiada lagi hendak bertanya kepadamu apa itu hakikat... -- Created By Muhammad Saroji

Di Puncak Kemakrifatan

Ketika kau berada di puncak kemakrifatan mana mungkin aku katakan kepadamu bahwa kau adalah jazad tanpa tulang tanpa darah bahkan mataku pun dapat menyaksikan rambut hitammu dibelai halus oleh angin yang semilir yang bila itu kau tak peduli kau tak lain hanyalah jazad yang berdebu tidak mengherankan karena itulah kesempurnaan penciptaanmu di balik kelemahan jasmanimu bahkan ketika kau berada di puncak kemakrifatan tak mungkin bukan aku katakan dirimu Tuhan yang menguasai seluruh semesta alam ? Tapi akan kau mengerti betapa maha perkasanya sang pencipta dan betapa lemahnya sang makhluk. Ketika itu aku teringat Aisyah r.a. berkata : Ya Nabi, seluruh dosa-dosamu baik di masa lalu maupun yang akan datang telah diampuni oleh Allah, mengapa masih Engkau tegakkan sholat malam hingga bengkak-bengkak kakimu ? Nabi pun menjawab : tidakkah aku pantas menjadi hamba yang bersyukur ? -- Created By Muhammad Saroji

Kematian

Kematian ? Siapa peduli dengan kematian ? Seakan kematian milik orang yang mati ketika kepada dia kita menziarahi bahkan bila sebenarnya besok kita harus mati kita tak peduli. Kehidupan , begitu njlimetkah kehidupan sehingga segala sesuatunya harus kita perjuangkan ? Ketika ku tanya kepada engkau mungkin kau jawab : dalam kematian itulah kehidupan yang sebenarnya. Apakah kehidupan disini hanya tipu-tipu ? Tidakkah seperti mengeja dan menghitung ? Apakah hanya ini kemudian itu ini lagi dan itu lagi hingga yang tadinya salah tiba-tiba menjadi kebenaran yang menakutkan... -- Created By Muhammad Saroji

Ketika Aku Berlayar

Ketika aku berlayar di lautan bersamamu aku tahu perahu itu terlalu kecil untuk kita berdua karena samudera yang akan kita arungi teramat luas teramat dalan amat mengerikan bisa menyesatkan kita. Tapi kau tak peduli kau selami kedalaman laut itu sendiri hanya untuk mendapatkan sebutir mutiara aku mana mungkin berani siapa tahu mutiara itu hanya beling-beling kaca atau hanya imitasi belaka lagi pula aku tak punya peta aku tak tahu menuju arah kemana tapi apa kau bilang sudahlah, perahu ini buatmu saja apalah arti sebuah perahu karena perahu yang sesungguhnya adalah diriku ini yang akan berenang dan menyelam (..hingga tenggelam ? ditelan gelombang..?) :p -- Created By Muhammad Saroji

Dalam Kegelapan Itu

Dalam kegelapan ini mana mungkin aku tahu kau ada di mana karena malam ini begitu luas aku takut, yang ku cari kau yang ku temukan binatang. Aku butuh cahaya bukan cahaya kiasan, bukan tapi cahaya sebenarnya karena bagaimanapun aku aku tetap manusia biasa meski kau sebut aku wali di puncak kemakrifatan atau kau sebut aku presiden atau bajingan kelas teri sekalipun aku membutuhkan sesuap nasi dan jamban untuk membuang ampasnya. -- Created By Muhammad Saroji

Ketika Ada Suara

.....lereng itu terbakar hanguskan semuanya walau banyak rintangan musnah diterjang api. Cahaya tersibak di antara dua kegelapan, redup dan samar menembus bilik kamar. Tangis tercurah di antara dua kesedihan, dulu dan sekarang kalau tidak ada cinta tentu pengorbanan tak ada. Pengorbanan ? Terlalu ringan diucap di lisan dimanakah arif dan bijaksana dicampakkan tangan ini mencarinya kembali di dalam lumpur comberan kembali, tak mungkin bukan ? Prasasti perjalanan telah terpahatkan nurani merintih hanya bisa membaca tanpa bisa merubahnya. Cahaya, adakah kan menyinari lagi bila malam ini kembali kelam. Ketika ada suara aku tahu itu suara hatimu seperti sebuah kata pinta untuk meneteskan setitik embun pada ilalang yang tak lagi rimbun. ....lereng itu telah terbakar embun itu telah menguap di terjang kegersangan.

Suara

Ku dengar kau seperti bersuara dari jauh mengucapkan salam. Seperti angin yang semilir kau belai rambut sutra ini. Di beranda ini kemudian aku tercengang sudah lama, kau telah tiada. Di taman itu pernah ku tanam kembang melati tapi tak pernah tumbuh dan berbunga seperti tak pernah kunikmati indahnya bunga-bunga pengantin kemarau ini begitu kering jauh di lereng gunung, hutan itu terbakar seperti kenangan itu membakar diriku, hangus dan runtuh semestinya inilah hari kemerdekaanku dan ku kibarkan bendera kemenanganku tapi hanya mimpi. Jauh di sana mungkin kau menangis tapi sebenarnya akulah yang menangis merintih dan perih. Ku dengarkan kau seperti bersuara sebuah nyanyian tentang cinta dan kerinduan tentang sepucuk doa tentang darah dan air mata yang terlanjur tertumpah, tanpa makna. Suara itu hanya kau yang punya hanya aku yang mendengar karena sukmamu jiwa ragaku.

Bintang Maharani, Kerinduan Itu Bukan Milikmu

Rani , ketika aku telah sampai di kotamu, mendung bergulung-gulung hujanpun turun dalam dingin yang menusuk aku tahu kau telah lama merindu. Rani, sambutlah aku yang datang dengan restu bundaku di kota ini kusandarkan sukmaku tapi kepadaku kau tak pernah bicara tapi ku genggam lembut tanganmu untuk kau dengarkan sebuah kisah perjalanan panjangku menelusuri lembah dan puncak-puncak bukit di sana ku lihat ranting-ranting pinus pucuk-pucuk hijau daun pohon jati kembali mekar tumbuh bersemi kemarau panjang telah terlewati kegersangan musim meninggalkan kenangan abadi. Malam ini dingin sekali, Rani tapi kau tak pernah bergeming tapi cinta dan kasihku tak pernah membeku tapi bunga mawar dalam vas kau raih kau cium kau cumbu tapi aku tak mengerti menghayati makna cintamu aku tak mengerti. Rani, barangkali cerita cinta itu hanya indah di buku album tapi kupercaya kesucianmu tak pernah tak ada harapanku ini seperti musim semi musim daun kembali menitikkan butir-buti

SEMESTA ALAM DALAM GENGGAMAN ALLAH SWT

S EMESTA ALAM ALAM RAYA TUNDUK DALAM GENGGAMANNYA DENGAN NABINYA MUHAMMAD SAW ALLAH BERKENAN MENCURAHKAN RAHMATNYA BAGI SELURUH ALAM SELURUH ALAM BERTASBIH KEPADANYA

Balada malezye

Hari ini, mengapa aku menjadi teringat pernyataan temanku : dasar ayam, diusir juga datang lagi, datang lagi...! Iya, ayam dan mungkin seluruh hewan peliharaan, akan kembali ke kandang walaupun telah diusir oleh tuannya, karena hewan tidak mempunyai akal fikiran, barangkali insting mereka hanya mengatakan : hari menjelang senja, telah penuh perut dengan makanan, pulang ahh ke kandang... dasar ayam.. Tapi bagaimana bila yang di usir itu orang ? Dan orang itu memakai seragam tentara bersenjata lengkap dengan berkendaraan sebuah kapal perang yang sangat besar dengan memakai bendera malezye...? Tentu macam-macamlah orang punya pendapat, dan yang jelas tentara malezye itu bukan ayam, apalagi ayam potong, bukan pula ular atau srigala. Kalau tentara malezye itu merasa sebagai orang, tentulah mereka pulang ke kandangnya, di negeri klantansana, bukan AMBilsebelumtelAT, tapi kalau merasa sebagai manusia, tapi sudah tua dan pikun juga, kandangcina ataupun kandangpilipina pun di embat juga .... NG

Jakarta- Jakarta

Jakarta, ketika malam mulai lengang ketika rembulan tak lagi purnama sayup-sayup terdengar bunyi kendaraan melintas mengusik gendang telinga yang merindukan kesunyian ini malam aku amat lelah ingin benar mata terpejam merengkuh bantal guling menjemput impian tapi suara gaduh tadi siang masih saja terngiang di telinga kegaduhan mesin pabrik klakson mobil bersahutan kemacetan panjang jalan raya hingar bingar musik kenangan masa muda bersatu menjadi satu warna ibu kota, hidup dan kehidupan. Jakarta, di saat menghembus angin dingin yang kering pertanda gersang musim telah tiba telah dua purnama kaki ini melangkah menelusuri detik-detik kehidupan yang tak lagi ramah tak mungkin bukan ? aku mundur ke belakang ? Tak mungkin bukan ? aku harus menyerah dan kalah ? Jakarta, inilah saatnya aku kembali mengeja makna cinta dan kasih sayang yang berdiri menantang di antara dendam dan kebencian ini hidup untuk cinta, tapi cinta apa ? orang rela mati karena cinta merana dan terhina karena cinta. Jakar

Kelana

Ku tinggalkan kampung dan kasih sayangmu, bundaku dengan kepal doamu ku langkahkan kakiku bukan untuk pergi jauh, bukan tapi pergi berkelana untuk kembali. Terima kasih bundaku telah kau ajari aku untuk tidak mengeluh mengeja hidup meramahi keganasan musim kapalku jangan sampai kau retak dindingmu karena kembaraku masih teramat jauh menelusuri gelombang menyeruak lautan menyusuri rimba menerjang ilalang di sini perjuanganku amat panjang membahagiakanmu yang telah bersusah payah melahirkan. Berhari-hari tubuh bercucuran peluh dulu kau kisahkan padaku tentang kakekku yang berjuang berperang demi kemerdekaan bangsaku mengusir penjajah yang menginjak dan menghina negeriku bertahun telah berganti harum nama kakekku laksana kembang melati sukma perjuangannya seakan berteriak, ..hancurkan para koruptor ! Singkirkan manipulator ! Bidikkan pelormu menembus jantung diktator ! Sucikan negerimu dari pejabat-pejabat berjiwa kotor ! Bundaku, mudah berhias dan berdasi kini segala cita telah ku raih

Kakek Dan Fatimah

Ingatlah ketika Fatimah bertanya kepada kakeknya, dimanakah kedamaian dilahirkan ? Patutkan Fatimah mendamba kedamaian seperti Fatimah bahagia dalam dekapan bundanya ? Aku dulu seperti Fatimah mencari pilar-pilar hati yang hampir retak tempat bersemayam kesejukan dan seberkas cahaya adakah hidup ini seperti Fatamorgana menorehkan sejarah tanpa peduli kakek tiada dikenang cucunya ? Berbagai kisah telah diceritakan tak jua aku paham apa arti kehidupan aku tak pandai mencari apalagi menghayati apa arti bendera dikibarkan yang bila tercampakkan orang ramai mengobarkan api peperangan dimanakah itu cinta ketika sang bapak meninggalkan anaknya menuju medan laga dan gugur menjadi pahlawan apakah hidup hanya untuk sebuah kebanggaan ? aku bertanya seperti Fatimah dan ketika itu kakek diam saja. Mungkinkah hati itu sebening kaca dan ketika hendak mencapainya dia seluas samudra berbagai warna dibiaskan hingga orang dapat membaca dia berwarna biru atau dia sedang dirundung kelabu. Tidak kakekku Eng

Terdampar

Di kota tuamu ini aku terdampar dalam kesendirian dari menahan haus hingga dinginnya malam kemana jasad rapuh ini mencari perlindungan dari dingin yang menusuk dan mimpi malam yang mencekam ataukan ku mengadu pada pohon randu tempatku bersandar hanya ada nyanyi jangkrik bersahutan ketika mataku menatap liar aku makin takut menjalani hari begitu mdngerikan. Dari jauh kembang akasia menghampar kekuningan ditimpa sinar purnama putih keperakan daun-daun kering berguguran melayang dihembus angin perlahan di bumi berserakan. Inilah bulan juli mengharukan bukan haru bahagia, bukan ketika sungai-sungai dilanda kekeringan seperti keringnya air mata pengelana inilah kota tua tempatku terdampar gersang dan kerontang merintih kepucatan. Wahai para jiwa berjiwa retak dindingmu diterjang bala cobaan wahai RAJA para raja tunjukkan kuasaMu tunjukkan jalan terangMu karuniakan tongkat dan lenteraMu penuntun sesat langkah kakiku. Dari hari ke hari ku rasakan jasad ini mendekati mati belum lagi balas budi

Belenggu

Dua belas tahun silam ku tikam jiwa orang ketika itu aku berteriak, merdeka ! Merdeka dari belenggu dan penjajahan. Ternyata itu awal penderitaan itu jiwa tak mengingkari kata jiwa ketika darah tertumpah dan merintih kepiluan di persada tempat dulu dilahirkan dan dibesarkan jiwaku terbelenggu jasadku terkurung dalam tirai besi yang kelabu. Dua belas tahun ku mendekam dalam penjara sepi dari tangis ibunda dan teriakan, merdeka ! dan ketika aku bebas bagai burung-burung beterbangan seakan telah musnah selaksa kebahagiaan tak ada orang kecuali memandang dengan sebelah mata tak ada orang kecuali dengan bisikan penuh kecurigaan duh..! dua belas tahun silam ketika itu ku bela sebuah cinta cinta yang di injak-injak orang ku bela kasihku yang dicampak orang ketika itu jiwa ragaku kupertaruhkan untuk sebuah cinta ! Kini dari pintu ke pintu ku berharap belas kasih orang membujuk merayu demi sesuap makanan tapi dimana ada orang percaya pintu terkunci maaf tertutup jiwa terkutuk telah terlan

Biru

Dari jauh ku dengar kau bernyanyi..a...a... debur ombak di pantai sesekali menelan suaramu aku tak tahu apakah kau bernyanyi tentang kehidupan karena kehidupan ini terlalu pahit untuk di nyanyikan. Mestinya aku tergugah oleh merdunya suaramu seperti kicau burung-burung kau merdu merayu tapi itu senandung hanyalah alunan semu kedamaian ku damba engkau tak tahu. Dari jauh selalu ku dengar kau bernyanyi...a....a... tapi selalu debur ombak menelan suaramu tapi aku tahu kau bersenandung tentang kehidupan di mana yang sengsara tetap sengsara yang tertindas makin tak berdaya. Di mana ada kedamaian bumi ini telah lama merdeka sungguh pilu hati merasa mengeluh di bumi persada nan hijau raya. Ombak di pantai tetap menderu dari jauh terbias warna biru langkah kakiku makin jauh meninggalkanmu meski kau tetap bernyanyi tiada jemu. Aku tahu tak sekedar nyanyian kau membaluti lukaku tak sekedar air mata kau menghayati dukaku apa yang selama ini aku dambakan tak lain hanyalah kedamaian hanyalah kedama

Terima Kasih, Sahabatku

Dari halaman ini aku ucapkan banyak terima kasih pada sahabatku, yang dulu selalu senasib seperjuangan, kemana-mana bersama, menelusuri jalanan, dari satu kota ke lain kota, mencari nafkah. Kini, setelah kita berpisah, masih sempat kau berkirim kabar, mengeja halaman demi halaman, dan kau sampaikan kritikan, bagus sahabatku, kau memandangku dari apa yang aku tulis, karena inilah suara jiwaku, bahasa sunyiku, menjelajahi dunia maya yang terang tapi sebenarnya misteri. Sahabatku, ketika sedang ku asah kembali sebuah talenta, aku sadar betapa sulitnya merangkai kata-kata, betapa sulitnya menciptakan keindahan tanpa menyakiti diri sendiri dan orang lain, ketika ku jelajahi alam perasaan betapa mahalnya sebuah kejujuran. Kau tahu aku bukan siapa-siapa, tapi aku tahu kini aku harus sendiri, menghayati hukuman ini. Hukuman terhadap ketidak berdayaan, hukuman terhadap ketidakmampuan jasadku membahagiakan orang-orang tercinta. Untuk semua sahabatku, terima kasih segalanya. -- Created By Muhamma

PadaMu Tuhan

Senja ini tidak ada mendung angin berdebu keras menderu daun-daun kering berserakan ke bumi meninggalkan ranting-ranting layu dan mati. Oh bumiku, jiwaku segenap langkah kaki gersang dan perih ku berlindung di bawah terik sinar matahari malam hari dingin dan amat sunyi mimpi mencekam menghantui hati bumiku, jiwaku menangis perih meratapi nasib bilakah haus terobati bilakah lapar terpenuhi bilakah kedamaian melingkupi bilakah bahagia merengkuhi. KepadaMu Tuhan andai ku lihat Engkau ku ciumTangan dan KakiMu ku ikuti kemana Engkau pergi ku turuti segala yang Engkau Kehendaki tapi aku hilang diri tak ingat betapa Engkau Maha Kasih aku lupa diri janji apa yang telah aku ingkari burung-burung elang melanglang langit membuatku meratap ngeri apakah aku telah benar-benar mati. Tuhanku senja ini tidak ada mendung tapi keresahan bergulung-gulung bagaikan awan yang kelabu aku teringat Kau Maha Kasih terima kasih Tuhanku dalam siksaMu masih Kau beri aku kesempatan berserah diri. Bogor 7 Juli 1997

Angin Tanpa Suara

Angin Tanpa Suara Embun dingin pada rumput di kotamu menyentuh pada dinding kalbuku seakan dia menyapa ...di mana kebebasan di mana kemerdekaan ! ! Tak ku tahu dimanakah ujung sebuah perdamaian dimana seorang ibu membagi kasih sayang pada anaknya selama ini aku terjajah di tempat dimana aku dilahirkan dan tak dapat ku jawab dimana ada kemerdekaan karena ia telah lama dijarah orang bumiku menangis hatiku merintih air lama tak mengalir pada bengawan yang kering kini. Di kotamu ini angin berdesah tanpa suara tapi debu-debu perih menghempas menerjang embun tak lagi berguguran di pangkuan bumi meninggalkan daun-daun makin kering, pucat pasi tak jua ku temukan kemerdekaan di sini karena di sini yang ada hanya kebebasan tanpa makna kebebasan tanpa suara tanpa kata-kata di sini orang-orang berperang di sana orang-orang saling tikam menorehkan luka yang dalam dendam dan kebencian tak seperti ibundaku dulu yang melahirkan dan membesarkan dengan taruhan nyawa satu-satunya tanpa kesedihan tanpa

Sendiri

Dalam kesendirian roda pedati itu menggelinding melintasi jalanan berbatu seorang kakek tersenyum menaiki ....negeri ini telah lama merdeka, gumamnya. Roda pedati itu terus menggelinding melewati sawah, ladang, dan perbukitan hingga sampai di sebuah pintu gerbang kota bibir yang keriput tersenyum berseri ....mata rabunku tak berdusta, negeri ini ternyata begitu indah, pujinya tiada henti. Roda pedati itu tiba-tiba berhenti seorang tentara berpangkat mayor datang menghalang sang kakek termangu tak mengerti ....pak tua, silahkan pergi dari kota celaka ini sebelum negeri ini terlanjur di timpa huru-hara !! Pak tua kecewa dan menyesali diri di tariknya tali kendali pedatipun berlalu pergi ...kadang manusia itu tak seramah bumi ini, gumamnya. Jakarta 27 November 1996 - - - Catatan : Terserah Anda mengartikan tulisan ini.

Hati Yang Berdebu

Ubun-ubunku yang tak pernah sakti hati, jantung, dan paru-paru yang tak pernah menjadi besi hari demi hari aku pusing tujuh keliling oh jari jemari menggaruk di rambut kepala yang tak pernah gatal kulit lecet biar bernanah berdarah agar aku tahu sakit di antara tawa ubun-ubunku tak pernah berfikir baqa tak pernah menjadi ratu pantas aku manja dan mengeluh, selalu meratapi panas menyesali hujan ubun-ubun itu pusing tujuh keliling menghitung sisa detik ...* * / @ ..@\ :....?~~... ....@...@..@..!. Hatiku ! Kau menterkejutkan aku hatiku jangan berkata begitu seakan kau maha tahu. ...@ ..m@'@fkan aku hatiku kau adalah suara jiwaku yang selama ini aku campakkan ke comberan aku baru mengerti ubun-ubunku tak pernah sakti karena selama ini aku bermanja makan dan tidur di balai mewah ! Maafkan aku hatiku karena tak pernah kubasuh mukaku berdebu selama ini tangan berbalut daki kaki berlumpur duli tapi kau selalu berkata suci dan di lisan selalu ku dustai. Barangkali kau berkehendak jasad lusu

Ketike Engkau Ku Jelang

Aku lihat di pelupuk matamu ada titik bening bagai embun menoreh di pipi menyentuh di hati. Di sini sekarang Engkau tiba merebahkan dukamu di hatiku berkeluhkesahlah menangislah sepuas hatimu agar aku tahu makna pengharapan di hatimu. Senja ini biarlah menjadi warna yang kelabu saat ku basuh dukamu karena peristiwa lama. Jelanglah hari esok dengan keceriaan hati cinta kita bersemi kembali. Bogor 2 November 1996

Yang Hilang - Yang Terbuang

Sembilan purnama telah berlalu Engkau berpaling dari rasa kasihku masih ada sisa-sisa cinta yang bila dipupuk menjadi sia-sia antara Engkau dan Aku tak lagi terjalin rindu Aku mengerti Aku bukan milikmu yang sejati. Sembilan purnama telah berlalu tapi masih menyisakan kenangan yang pedih tapi kita mencoba tak peduli karena menangis tak berarti bunga mawar yang menjalin kisah kasih kita kini tinggal duri yang menancap di hati luka itu berdarah sakit itu tak terlupa. Antara Engkau dan Aku ingatlah ketika kita berdua di pelabuhan sunda kelapa dulu ketika itu senja mulai turun warna jingga menghiasi cakrawala kau berjanji kita selalu sehati dan angin dingin menyibak rambut hitammu indah terurai bagai sutra yang lembut ku kira kita selamanya ternyata perjalanan usia mengukir takdir cinta jabat tangan di kala itu adalah pertemuan terakhir dan sembilan purnama telah berlalu mengantarkan aku di jalanan berbatu merengkuhi dingin dan sepi menghayati pergolakan hidup sendiri. Bogor 2 November 199

Hingga Aku Kembali

Meskipun mawar dalam gelas itu layu, sayangku tidak berarti aku layu seperti bunga itu tunggulah aku di beranda sunyimu dari rantau aku kan kembali. Cinta itu abadi, sayangku nanti di halaman rumah kita tanam bunga mawar kembali kita pupuk dan kita sirami agar selalu tumbuh dan mekar bersemi. Kau mesti tahu, sayangku betapa beratnya merangkai kata-kata di dada ini aku ingin seperti seorang penyair yang berbicara satu kata seribu makna berpetuah bagai pertapa tua bersabda bagai mutiara berkilauan. Sayangku tak dapat ku bayangkan ketika sebutir intan di lumpur adalah tetap intan tetap cemerlang meski terbenam di kegelapan penyair berbicara dan bertindak tapi tanpa ragu dan kebimbangan tiada takut meski darah dan daging dirajam tetap tegar bagai karang di terjang gelombang penyair bercermin dari orang ke orang mengasah budi menjadi arif dan bijaksana. Jangan takut, sayangku meski akal fikiran mengembara jauh di atas awan rebahkanlah cintamu di dadaku aku tak lupa kau cintaku seorang tak a

Manohara Odelia Pinot dan Prita Mulyasari, Kenapa....?

Manohara Odelia Pinot dan Prita Mulyasari adalah contoh dua wanita Indonesia yang tersandung kasus hukum yang begitu banyak menyita perhatian publik Indonesia. Meski kedua wanita ini berbeda kasus dan latar belakang kepribadian, namun mempunyai kesamaan dalam mengalami dan menjalani musibah hukum. Kedua wanita Indonesia ini banyak mendapat dukungan moril dan empati dari sebagian besar rakyat Indonesia karena mereka dinilai secara subyektif menjadi korban permainan hukum dari orang-orang atau lembaga yang memiliki kekuasaan yang sangat besar. Akan sangat naif dan mustahil pemerintah kerajaan malaysia memproses kasus hukum Manohara dengan suaminya tengku fahri secara adil dan transparan...la iya lah, wong putra mahkota !? Lain halnya dengan kasus Prita Mulyasari, hakim dan jaksa harus dapat membuktikan dugaan adanya gratifikasi yang dilakukan oleh rumah sakit omni internasional. Kalau memang benar dugaan gratifikasi dapat dibuktikan, maka tugas hakim harus tegas dalam menegakkan hukum un

Menanti

Siapa yang berdiri di tepi malamku tersenyum menyeringai buas bagai harimau rimba mengancam menikam belati membuat nafas sesak bagai mati. Oh, aku ingin menjerit tapi dia bagai tukang sihir membuat kaku lisan dan seluruh kata-kata serasa maut hendak menjemput membuat aku tak ingat lagi. Tapi angin berdesir makin kencang menjadi topan menyapu bersih aku terlempar jatuh ke bumi. Oh bumiku pijakanku oh, telah runtuh peraduanku oh, ternyata hanya mimpi seram sekali kapan hidupku damai hati... Di mana damaiku kemana bahagiaku lelah benar jazad ini. Siapa yang berdiri di tepi malamku diakah yang merenggut kebahagiaanku ? Oh kiranya salah sangka ? Kiranya mimpi belaka ? Bahagia ingin ku ciptakan sendiri ? Tangan lemah ini menggapai-gapai mencari Tuhan puncak damai apa yang selam ini aku dambakan tak lain hanya kedamaian hanya kedamaian itu saja. Bogor 27 Oktober 1996 - -

Menanti

Siapa yang berdiri di tepi malamku tersenyum menyeringai buas bagai harimau rimba mengancam menikam belati membuat nafas sesak bagai mati. Oh, aku ingin menjerit tapi dia bagai tukang sihir membuat kaku lisan dan seluruh kata-kata serasa maut hendak menjemput membuat aku tak ingat lagi. Tapi angin berdesir makin kencang menjadi topan menyapu bersih aku terlempar jatuh ke bumi. Oh bumiku pijakanku oh, telah runtuh peraduanku oh, ternyata hanya mimpi seram sekali kapan hidupku damai hati... Di mana damaiku kemana bahagiaku lelah benar jazad ini. Siapa yang berdiri di tepi malamku diakah yang merenggut kebahagiaanku ? Oh kiranya salah sangka ? Kiranya mimpi belaka ? Bahagia ingin ku ciptakan sendiri ? Tangan lemah ini menggapai-gapai mencari Tuhan puncak damai apa yang selam ini aku dambakan tak lain hanya kedamaian hanya kedamaian itu saja. Bogor 27 Oktober 1996 - - Created By CentralSitus

Muhammad Saroji

Created By CentralSitus

Permaisuri

Bilakah ku temui kau dalam sendiri lalu ku sampaikan hasrat cintaku yang membara kelak kau kujadikan permaisuri dalam kerajaan asmaraku yang luas membentang. Tapi kesendirian itu bagimu tak ada aku sendiri yang sunyi tak ada malam yang dapat aku sapa siangpun hanya terik matahari yang menyengat kulitku legam kau bukan permaisurhku yang kupuja bukan pula impianku yang kujelang sepanjang malam. Baiklah ku tinggalkan saja kau di sana dh dunhamu yang penuh kemegahan tapi pantaskah aku berputus asa dalam kisah cinta yang belum tahu menang dan kalah. Permaisuriku hanya bertahta dalam bayanganku burung prenjak seakan tahu berlompatan di dahan mengejekku. Baiklah Aku bercinta dengan duniaku saja dunia penuh rasa sepi bahagia sendiri menderita sendiri. Bogor 25 Oktober 1996 -- Created By Muhammad Saroji

Yang Di Dalam Dada

Bintang Maharani baiklah kau lihat yang di dalam dada di sana ada cinta tapi tak perlu ku sampaikan aku tahu kau tak berkenan tapi perkenankanlah aku tidur sejenak agar dapat ku bermimpi bertemu bidadari dan ku adukan isak tangisku tentang cinta yang selalu tak bertepi jangan kau siksa aku dengan pandangan mata yang tak ku mengerti aku tahu kau tak berkenan ku adukan kesahku tapi perkenankanlah aku bangun terjaga kembali dari mimpi yang tak berarti dan kau sambut aku kembali tapi aku tahu kau tak berkenan kau tak tersentuhkan. Bintang Maharani baiklah kutinggalkan kau diberanda sepi agar tak ku tahu kau tertawa atau menangis bagimu tak berharga itu cinta kasihku tak bernilai pengorbananku baiklah aku bertepuk sebelah tangan pada angin yang tak menghembuskan kesejukan tak ku ucapkan salam agar bila aku menyesal kaupun tak mengerti Bintang Maharani memang aku ini tak berguna apalagi sekedar mengeluh dan berputus asa kau lebih tak berkenan. Bogor 22 September 1996

Cakrawala

Dipandang kau berdiri kibarkan nurani sunyi mestinya ku sapa kau dengan salam atau sekedar basa-basi tapi senja ini sengaja kudiamkan agar kau mengerti apa sebenarnya yang terjadi. Kulihat bayangmu di cakrawala mungkin senyummu seindah warna lembayung senja tapi di sana tiada senyummu bahkan tiada keramahanmu diam membisu seperti batu bertafakur dalam bimbangku, apakah kau milikku ? Benar, kau adalah milikku tapi di hatimu bukan hanya aku seorang sepetik cinta telah kau genggam tapi separuh hatimu juga telah dipetik orang ku lihat bayangmu di cakrawala mungkin ada harapan kau adalah milikku seorang tapi di sana hanya ada bayang-bayang kebimbangan fatamorgana tak dapat aku menjangkaunya. Duh kekasihku di senja ini sengaja kau ku diamkan agar kau mengerti apa sebenarnya yang terjadi tapi kau tetap tegar berdiri mengibarkan nurani sunyi. Bogor 21 September 1996

Cinta Yang Berdebu

Senja itu langit kelam pekik burung elang menyapa lengang angin dingin berhembus perlahan menyentuh daun-daun kering berguguran. Cinta oh cinta ku bawa kemana dia di hari menjemput malam tubuh kaku menggigil kedinginan berbaring pasrah di akar pohon akasia muka berdebu jalang menengadah ke langit kelabu adakah bulan bintang hanya pekik burung elang menyapa lengang angin dingin berhembus makin kencang menyentuh ranting-ranting kering berjatuhan. Cinta oh cinta adakah di hati ini kehidupan sepanjang jalan tangan menengadah hamba menghiba mengharap ria-sia adakah setitik saja ketulusan sebuah cinta di saat hamba tak berdaya di saat hamba tak berpunya di saat segalanya bagai rumput yang kering di padang gersang mata ini makin liar memandang ke segala penjuru cakrawala hanya ada pekik burung elang menyapa lengang angin dingin berhembus makin kencang menyentuh hasrat cintaku yang makin berdebu mati kaku. Hanya ada burung elang dan angin dingin yang membawaku pergi menikmati tidur yang panjan

Sajak Putus Cinta

Mengapa dulu kucinta kau dengan taruhan nyawa padahal dirimu cinta tiada rindu tiada kubela kau dari tusuk belati orang aku sendiri bagai gila membabi buta kau pertontonkan auratmu dan serentak orang-orang berebut menjamahmu dan seketika kau hendak berlari tunggang langgang. Inikah sandiwaramu kau jebak aku dalam kebencian semua orang kau hilang kata hilang rasa tak ada air mata meneteskan sesal tangisku hanya kau, mengapa kau tak menangis mengapa tak mengerti bahwa hidup sekarang nestapa. Baiklah kau tersenyum saja agar dapat kuterbitkan kebencianku orang sekampung telah terlanjur membenci ...agar dapat kutinggalkan kau dalam rasa tak teriris. Inilah kenyataan agar dapat kau berkelepak bagai burung malam lilin di tanganku kau rautlah tak hendak aku membakar diri sendiri kau berkelanalah dalam duniamu menempuh hujan gerimis tanpa ratapan cinta. Inilah malam pada saat seharusnya kutemui dirimu dalam kesucian agar dapat ku tinggalkan sepatah kata perpisahan (lilin itu membakar dirimu sen

PRITA MULYASARI

Assalaamu'alaikum WR. WB. Kami para Blogger turut prihatin dan ikut berbela sungkawa atas musibah yang dialami oleh Ibu Prita Mulyasari. Mudah-mudahan Ibu Prita Mulyasari diberikan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini, karena pengekangan terhadap kebebasan mengeluarkan pendapat adalah bentuk kedhaliman terhadap hak setiap manusia untuk menyampaikan pendapat yang dilindungi oleh undang-undang. Kami para Blogger memberi dukungan moral dan berdoa untuk Ibu Prita Mulyasari agar tabah menghadapi ujian, terus maju pantang mundur, perjuangkan kebebasan berbicara dan berpendapat. (BLOGGER)

Lautan Cinta

Dalam gelora cinta tak ada jarak antara kau dan aku bersatunya dua jiwa bagaikan air dengan secawan anggur. Dalam lautan cinta kita rasakan kerinduan yang bergelora rindumu karena aku jauh cintamu karena aku indah. Akulah yang merindukanmu aku pula yang mencintaimu karena keindahanmu tiada bertepi. Bersatulah dalam cinta kaulah yang menyatukan ! Curahkanlah kasih sayang kaulah yang ciptakan kesucian ! Dalam lautan cinta kerinduan dan kasih sayang adalah perjuangan. Jakarta 27 November 1995

Di Balik Awan

Sepercik darah bidadari membangunkanku dari mimpi aku menangis bidadari oh bidadari inilah merah darahmu yang kemarin aku lukai sakit perih. Di puncak batu gunung ku cari matahari hanya mendung memenuhi lazuardi sebilah belatiku menancap di bumi engkau tahu aku bukan seorang pemberani apalagi sekedar membunuh diri di balik awan bersembunyi gerimis langit yang mendung seakan menangis hujan pun turun membasahi bumi tangis bidadari meratap tiada henti. ....peperangan telah tiba ! Bidadari berteriak lantang sekali aku menangis bidadari oh bidadari mengapa masih juga kau hitungi mimpi-mimpi ingatlah cinta kasihku bagai samudra tak pernah kering bagai sungai selalu mengalir meski aku bukan seorang pemberani... Jakarta 27 November 1995

Cinta Dan Kasih Sayang

Goresanku bertinta merah lambang kecemburuan dalam cinta sedikitpun aku tak berdusta kaulah milikku seorang ! Tapi mukamu merah padam, jangan ! Damaikanlah hatimu bersatulah dalam jiwaku kasih sayangku abadi. Semangatmu menyala-nyala, berjuanglah ! Dengan gelora di jiwa kau dan aku bersatu selama-lamanya dalam suka dan duka. Jakarta 27 November 1995