Tampilkan postingan dengan label Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hati. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Desember 2019

Sepuluh Sebab Kematian Hati

Ilustrasi Hati

Forum Muslim - Seorang ulama salaf (generasi terdahulu umat Islam) yang bernama Syaqiq bin Ibrahim rahimahullah menceritakan, bahwa suatu hari Ibrahim bin Adham rahimahullah melewati sebuah pasar di Kota Bashrah. Lalu orang-orang pun mengerumuninya dan bertanya kepadanya:

يَا أَبَا إِسْحَاقَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ فِي كِتَابِهِ : ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ سورة غافر آية 60 ، وَنَحْنُ نَدْعُوهُ مُنْذُ دَهْرٍ فَلا يَسْتَجِيبُ لَنَا

“Wahai Abu Ishaq, Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya : ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan doamu.’ (QS. Ghofir: 60) Sementara kami selalu berdoa kepada-Nya semenjak waktu yang lama, namun Dia tidak pernah mengabulkan doa kami.”

Maka Ibrahim bin Adham pun berkata:

يَا أَهْلَ الْبَصْرَةِ ، مَاتَتْ قُلُوبُكُمْ فِي عَشَرَةِ أَشْيَاء

“Wahai penduduk Bashrah, (yang demikian itu) karena hati kalian telah mati disebabkan sepuluh perkara.”

 أَوَّلُهَا : عَرَفْتُمُ اللَّهَ ولَمْ تُؤَدُّوا حَقَّه

 “Pertama: Kalian mengenal Allah. Namun kalian tidak menunaikan hak-Nya”.

 الثَّانِي : قَرَأْتُمْ كِتَابَ اللَّهِ ولَمْ تَعْمَلُوا بِه

“Kedua: Kalian membaca Kitabullah (Al-Quran Al-Karim). Namun kalian tidak mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya.”

وَالثَّالِثُ : ادَّعَيْتُمْ حُبَّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَرَكْتُمْ سُنَّتَه

“Ketiga: Kalian mengaku cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun kalian meninggalkan tuntunannya.”

وَالرَّابِعُ : ادَّعَيْتُمْ عَدَاوَةَ الشَّيْطَانِ وَوَافَقْتُمُوهُ

“Keempat: Kalian mengatakan benci dan memusuhi syetan. Namun kalian justru selalu menyepakati dan mengikutinya.”

وَالْخَامِسُ : قُلْتُمْ نُحِبُّ الْجَنَّةَ ولَمْ تَعْمَلُوا لَهَا

“Kelima: Kalian mengatakan, ‘kami cinta surga’. Namun kalian tidak beramal untuk mendapatkannya.”

وَالسَّادِسُ : قُلْتُمْ نَخَافُ النَّارَ وَرَهَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِهَا

“Keenam: Kalian mengatakan, ‘kami takut masuk Neraka’. Namun kalian justru menggadaikan diri kalian dengannya.”

وَالسَّابِعُ : قُلْتُمْ إِنَّ الْمَوْتَ حَقٌّ وَلَمْ تَسْتَعِدُّوا لَهُ

“Ketujuh: Kalian mengatakan, ‘sesungguhnya kematian pasti akan datang’. Namun kalian tidak mempersiapkan diri untuk menyambutnya.”

وَالثَّامِنُ : اشْتَغَلْتُمْ بِعُيُوبِ إِخْوَانِكُمْ وَنَبَذْتُمْ عُيُوبَكُمْ

“Kedelapan: Kalian sibuk mencari aib saudara-saudara kalian. Namun lalai dari aib diri kalian sendiri.”

وَالتَّاسِعُ : أَكَلْتُمْ نِعْمَةَ رَبِّكُمْ ولَمْ تَشْكُرُوهَا

“Kesembilan: Kalian memakan kenikmatan dari Rabb kalian. Namun kalian tidak pernah mensyukurinya.”

وَالْعَاشِرُ : دَفَنْتُمْ مَوْتَاكُمْ وَلَمْ تَعْتَبِرُوا بِهِم

“Kesepuluh: Kalian menguburkan orang mati diantara kalian. Namun kalian tidak mau mengambil pelajaran darinya.”

(Disebutkan oleh Abu Nu’aim Al-Ashbahani dalam Hilyatul Auliya’ VII/426 karya,  Ibnu Abdil Barr dalam Jâmi Bayân Al-‘Ilmi wa Fadhlihi no. 1220, Asy-Syâthiby dalam Al-I’tishom I/149 (Tahqîq Masyhûr Hasan Alu Salman), dan selainnya). (FM)

Senin, 12 Desember 2016

Separuh Hati




Dalam keremangan senja,
seorang anak duduk sendiri,
itulah aku.


Di bawah matahari senja
mestinya segera saja aku berkhalwat,
agar suara adzan yang kelak memanggilku
untuk bersujud,
tiada hilang ditelan goresan waktu,
tapi belum juga aku berdiri,
beranjak dan berlari
untuk bersuci diri.


Perjalanan masa lalu,
mengapa hanya setitik memberi makna,
hamparan bumi untuk bersujud,
ayat-ayat suci penerang hati,
sorban dan sajadah yang mewangi,
mengapa tak sedetikpun terlintas di hati,
dan sampai tengah malam ini,
mestinya segera saja aku bersuci,
dan membaca kalam-kalam Illahi dengan lidah yang fasih,
atau ku tundukan kepala ini merata di bumi.


Duh Tuhanku,
dengan cara apa aku bersuci,
dengan siapa ilmu itu aku cari,
untuk siapakah ku persembahkan jiwa raga ini.


Duh Tuhanku,
betapa aku ini malu,
kuasaMu meliputi bumi dan langit,
sekejap usiaku ada di tanganMu,
tapi mengapa
hingga jazad ini rapuh,
tak ku temui hakikat diriku sendiri,
dengan sekali kehendak saja,
terjadilah apa yang Kau kehendaki,
tapi dengan apa aku menyembahMu,
dengan apa ku persembahkan baktiku,
tiada daya,
tiada kuasa,
separuh hati memikirkan dunia,
separuh hati ketakutan menjelang mati,
dunia penuh tipuan menyesatkan,
akhirat penuh misteri tak terpecahkan,
separuh hati bimbang dan kebingungan,
separuh hati berkata hidup ini selalu maju ke depan,
sampai hingga aku tiba di sebuah pintu,
di mana segala amal perbuatanku kelak di pertanggungjawabkan.


Duh, Tuhanku,
hanya petunjuk dan pertolonganMu,
itu yang ku rindukan.

---
Jakarta 29 Oktober 1995
By Muhammad Saroji
© Copyright - All rights reserved

Kamis, 01 September 2016

Catatan Kecil Sang Narapidana : Hati Yang Terbelah

Jakarta,

kupandangi ujung kotamu, bias

pesawat naik turun membelah angkasa,

angin senja membisik telinga

dengan sentuhan dingin dan telanjang,

duh,

aku di sini untuk apa ?





Di seberang sana seseorang berseru : hatimu terbelah!

Ku tanyakan, terbelah karena apa ?

Dia diam

membisu seribu bahasa.





Jakarta,

senja makin pekat menjemput jelaga malam,

pesawat masih turun naik membelah angkasa,

bergantian,

aku merenungi ucapannya sambil tengadahkan tangan,

……

Tuhanku,

telah cukup hamba terpidana,

telah lelah jari merangkai kata,

telah runtuh kerinduan maya,

telah sirna bagai daun kering berguguran,

inilah kelelahanku

inilah keluhanku,

tak sesuatupun yang aku cinta,

selain DiriMu…





---

Ditulisdi Batu Ceper - Tangerang, 24 Maret 2011

By Muhammad Saroji - Majalah Sastra

© Copyright - All Rights Reserved

Selasa, 07 April 2009

Rindu Seorang Sahabat

Seorang sahabat pun punya rindu,
tidak dinyatakan untuk tanda cinta,
tidak dipendam untuk jadi kenangan

Rindu sahabat adalah perasaan tulus,
hati merasa sebagai suatu karunia,
berbahagialah insan yang menerima cinta,
karena hakikatnya ia karunia pula

Ketika budi pekerti menguasai segalanya,
keluhuran yang tumbuh tak tampak sebagai fatamorgana,
insan boleh berbangga berslogan,
tapi kata hati dan perbuatan harus sejalan.

Diapun sahabatku,
dia yang jauhpun sahabatku,
engkaupun sahabatku,
kepada kalian kutebarkan salam.

Ciputat-Tangerang 27 Januari 1992