Tampilkan postingan dengan label Debu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Debu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Oktober 2016

Cinta Yang Berdebu

Muhammad Saroji - File Pribadi


Senja itu langit kelam,
pekik burung elang menyapa lengang,
angin dingin berhembus perlahan,
menyentuh daun-daun kering berguguran.


Tuhan,
ku bawa kemana cinta ini di hari menjemput malam,
tubuh kaku menggigil kedinginan,
berbaring pasrah di akar pohon akasia,
muka berdebu jalang menengadah,
ke langit kelabu adakah bulan bintang,
hanya pekik burung elang menyapa lengang,
angin dingin berhembus makin kencang,
menyentuh ranting-ranting kering berjatuhan.


Tuhan,
adakah di hati ini keberkahan kehidupan,
sepanjang jalan tangan menengadah,
hamba menghiba, mengharap dalam keputusasaan,
adakah setitik saja
ketulusan sebuah cinta,
di saat hamba tak berdaya,
di saat hamba tak berpunya,
di saat segalanya bagai rumput kering di padang gersang.


Tuhan,
Mata ini makin liar memandang ke segala penjuru arah,
hanya ada pekik burung elang menyapa lengang,
angin dingin berhembus makin kencang,
menyentuh hasrat cintaku yang makin dalam,


Tuhan,
izinkan hamba bersimpuh,
bersujud di kehadiratMu,
mengusap luka yang perih,
menterjemahkan kerinduan yang agung.

- - -
Ditulis di Gunung Putri - Bogor, 2 November 1996
Muhammad Saroji
© Copyright - All rights reserved

Jumat, 14 Oktober 2016

Nyanyian Debu

Muhammad Saroji - File Pribadi

Jakarta,

kenapa aku begitu marah,

membara !



Indah,

bukankah matahari ini indah,

meski redup terhalang mendung ?



Kemana,

ku singkirkan kerikil-kerikil berdebu ?

menunggu aku marah ?

Menunggu aku tak sabar lagi menghitung waktu ?

Menunggu hujan menggantikan embun ?



Tidak !

Katamu dari jauh,

Tidak !

Kataku juga meraihmu,

menamparmu,

memperkosamu

membunuhmu,

tapi jalan sepi memanjang

menghilangkan tepi,

mengiris kaki

menapaki duri !



Tidak ! Katamu lagi,

bangkit berdiri

mencampak mati

siapa peduli air mata ini,

siapa menguliti tirai nurani ini,

jangan biarkan nafas hanya gumpalan asa sia-sia,

rintihkan dosa bergelimangan,

ini hidup nyata

ini kematian nyata.

---

15 Februari 2010 22:24

By Muhammad Saroji

© Copyright - All rights reserved

Tangisan Debu

Muhammad Saroji - File Pribadi

Kalbuku,

dalam sunyi memanggil bumi jiwaku,

menanam, menyirami bunga sekuntum.



Dari bilik sunyi ini tubuhku menggigil,

memanggil kalbuku sunyi terbuai mimpi,

di manakah terang benderang memberi arah dan pijakan,

di tiang manakah bendera dikibarkan,

bendera kepasrahan memohon ampunan,

lutut ini berdebu

lidah ini kelu

ketika bahasa terucap, tertawalah kehinaan

bukan menawan perasaan iba dan kasih sayang.



Bumiku

jiwaku

ketika kaki ini berdebu

bukankah indah perjuangan ini di matamu ?

Tetesan darah ini indah,

kucuran keringat ini indah,

keluh kesah ini indah

meski debu ini tiada berharga..

---

15 Februari 2010 22:44

By Muhammad Saroji

© Copyright - All rights reserved

Senin, 05 September 2016

Debu-Debu Jalanan

Kukorbankan

seribu keinginan yang terpendam,

kucampak ke tong sampah…





Kukorbankan

seribu impian karena kau bilang: kau egois !

Ya

kukorbankan, kulapangkan agar jalanmu lurus

tak berkerikil tak bergelombang

karena aku

tak lebih hanya debu-debu jalanan !

Ya,

katamu ini demi cinta !

ini demi kasih dan sayang !

Katamu inilah saatnya berkorban

agar cinta tak dikorbankan !

Ya,

demi cinta

seribu impian itu kucampak ke tong sampah,

bercampur bangkai berserakan,

kembali menjadi impian

berkalang tanah..



---

17 Juni 2010 00:14

By Muhammad Saroji

- Majalah Sastra - Majalahsastra.com

© Copyright - All rights reserved