Tampilkan postingan dengan label kerinduan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kerinduan. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 April 2015

Tuhanku

Tuhanku,
maafkan kelemahanku,
di haribaanMu aku bersimpuh,
bersujud mohon ampun.


Tuhanku,
maafkan kefakiranku,
aku hanyalah setitik debu,
terombang-ambing dalam hempasan waktu,
dari hari ke hari
meratap menyesali kelemahan diri.


Tuhanku,
perkenankan aku merajuk,
meratap dan membujuk,
dalam sedu sedan suara tangis,
tuntunlah tanganku
peluklah jiwaku,
dalam kehangatan KasihMu.


Tuhanku,
maafkan pintaku
maafkan kelemahanku
maafkan kefakiranku,
amin.

--


© Copyright - All Rights Reserved

Minggu, 26 April 2015

Di Sini



Di sini.. dihembusan angin aku

ingin memelukmu
wajah kokoh mana yang tak hanyutkanku
sekilas mata dan kelelawar bertawar
kemanakah biru cinta ini bersabar
melihat dijalan yang kutapaki benar
dan 
mesti belajar menciummu
dalam kekosongan
disini
aku merasa dihargai
sebagai manusia
yang hidup
pada dua sisi
kurang dan kuat

Disini aku menantimu melintas sebentar saja
menyeka air mata
merekam jarak dan dahaga

ketika aku erat memelukmu wajah keberanian
ketika malam itu bersama bulan
yang setengah tenggelam
terasa disini
begitu pelan
berjalan
waktu
diam
berhenti
mati

rindu ciuman di jalan jalan
disini
bunga tulip tak sewangi
melati
harum mu kunanti

sampai kini

Minggu, 29 Maret 2015

Andai Engkau Milikku

Perjalanan masih jauh,
ketika kakiku menyentuh bibir pantai itu,
berharap tinggal setapak lagi langkah ini,
sedikit lagi.


Aku bukan siapa-siapa,
merengkuhmu juga tak bisa,
berkata kebenaran demi meredam kesalahan,
kebenaran berujung kemarahan,
sakit sekali,
seperti mendaki tebing karang berduri.


Aku bukan siapa-siapa,
meski berkali-kali ku berkata, andai engkau milikku.

--


© Copyright - All Rights Reserved

Di Persimpangan Jalan

Di persimpangan jalan ini aku berdiri,
menunggu rantaumu kapan kan kembali,
negeriku,
negerimu terbentang jarak
jauh sekali,
tapi hatiku hatimu masih merekat,
dekat sekali,
itulah cinta
jarak dan waktu memisahkan,
tapi kasih dan sayang mempersatukan,
kerinduan dan pengharapan menjalin jiwa resah
menjadi kenangan indah.


Kapan cinta dan kasih dipertemukan kembali,
laksana matahari senja dijemput malam sunyi,
bersanding di pelaminan,
bersatu di peraduan,
mencurahkan kasih dan sayang,
dalam bejana-bejana cinta.


Kapankah penantian ini mendapat jawab,
di persimpangan jalan ini menunggu penuh harap,
negeriku negerimu, mengapa tak dipersatukan saja,
agar jasad rindu ini
tak harus merasa dipisahkan.


Di persimpangan jalan ini
selalu ku pandangi wajah orang-orang,
lelah lusuh berlalu lalang,
di pojok rumah ini
juga telah ku tanam kembang mawar dan melati,
berharap cintaku kan datang kembali,
pada saat kembang mawar dan melati telah bersemi,
berharap kelak kan ku suntingkan
seperti keindahan di malam pengantin.


Negeriku negerimu
terbentang jarak amat jauh,
di persimpangan jalan ini penantianku tetap teguh,
cinta ini tak kan luruh,
rindu ini tak kan runtuh,
menantimu kembali lagi
merajut kasih bersemi kembali.


Bekasi 14 Mei 2009
sumber gambar: gwp.co.id
--


© Copyright - All Rights Reserved

Selasa, 24 Maret 2015

Khalwat

Ada sesal,
sejenak Engkau tiba,
terlanjur aku terpuruk bernama nafsu
Engkau memburunya dikatakan , itu derita.


Prasangka bertahta tak mungkin jua Engkau dapatkan aku,
karena cinta itu terpetak-petak,
terlanjur aku terpuruk di dalamnya,
terlanjur kau tak kan dapat mencapaiku,
untuk bersatu di dalamnya.


Mungkin ini awal dihempaskannya aku dari kesucian sukma,
dicampak jauh sukma itu menjauhi badan.


Duh Gusti,
bukan Kau yang mesti memburuku,
karena rasa cinta kasih Mu,
akulah yang mesti merindukanMu.


Duh Gusti,
beri aku waktu sedetik lagi,
untuk mencampak prasangka di dada ini,
biar cinta itu mengalir,
mengalirkan air cinta sebening telaga,
dari surga suciMu
dan kelak Kau katakan itu kebahagiaan.


Duh Gusti,
inilah cintaku,
yang tak terpetak-petak

--


© Copyright - All Rights Reserved

Senin, 23 Maret 2015

Makan Itu Cinta !!!

Makan itu cinta!
begitu teriak seseorang dari balik pagar.
ada apa dengan cinta?
duh,
kedengaran sangat mengerikan,
memekakkan telinga.
ah,
persetan!
aku nikah dengan cinta,
bekerja dengan cinta,
punya anak dengan cinta,
masalah….?
bertemu dengan cinta,
berpisah dengan cinta,
berpadu rindu dengan cinta,
masalah…..?
daaaan…..
hampir mati demi cinta,
masalah…..?
ah,
jangan marah.
jangan pula gelisah,
jangan pula melaknat cinta.
kasihan orang yang tak punya cinta,
seumur hidup rindu dendam dalam cinta.
ah,
kenyang benar aku makan cinta.

--


© Copyright - All Rights Reserved

Jumat, 06 Maret 2015

Nyanyian Rindu

Coba engkau katakan padaku
apa yang seharusnya aku lakukan
bila larut tiba wajahmu terbayang
Kerinduan ini semakin dalam.


Gemuruh ombak di pantai Kuta
Sejuk, lembut angin di bukit Kintamani,
Gadis-gadis kecil menjajakan cincin
tak mampu mengusir kau yang manis.


Bila saja kau ada di sampingku,
sama-sama arungi danau biru.
Bila malam mata enggan terpejam,
Berbincang tentang bulan merah......


Coba engkau dengar lagu ini
Aku yang tertidur dan tengah bermimpi,
Langit-langit kamar jadi penuh gambar
wajahmu yang bening, sejuk, segar.


Kapan lagi kita akan bertemu
meski hanya sekilas kau tersenyum.
Kapan lagi kita nyanyi bersama,
Tatapanmu membasuh luka....

(Lirik lagu ciptaan Ebiet G Ade)

Sabtu, 25 April 2009

Tuhanku

Hidupku adalah perjalanan
laksana menuju sebuah cakrawala
mestinya jiwaku melangkah
hingga jauh menembus langiu
dan warna hatiku
adalah sebuah kerinduan yang dalam
dan mestinya aku bertekad hati
selain Engkau
adalah cintaku tak mungkin.

Dengarkanlah kerinduan-kerinduan ini
yang menjadi desah kecewa dan tangis setiap hari
hati ini adalah bunga-bunga cinta
ada getarnya
ada geloranya
mestinya bukan suara lagu
tapi tasbih yang mengalun abadi
yang menelusuri darah, daging, dan relung sukma
alunnya biar abadi
tak lekang karena suka dan duka.

Aku berjalan mencapaiMU
inilah baktiku
tiada rasa jemu
inilah cintaku
sekedar yang aku tanam dan aku sirami
tiada mengelu keluh
inilah pujanku
sebatas kefasihan lisanku
tiada aku kelu
Tuhanku....


Jakarta
30 April 1992

Jumat, 27 Februari 2009

Potret

Sejak kecil
dan senantiasa
bertahun aku dalam kesendirian.

Ibu
potretmu itu sejuk dan teduh
tapi bisu tanpa suaramu
selalu aku tanyakan
kapan aku kan berjumpa denganmu.

Senantiasa
bertahun aku dalam kesendirian
tanpa hidupmu
sedangkan bayangmu hadir dalam kebisuanku.

Tanpa hidupmu
kau hantarkan aku menjadi bagian dari hidup
di dunia yang penuh pergolakan semu.

Ibu
tanpa hidupmu
selalu kupendam kerinduan yang dalam
padamu.

Pemalang 16 agustus 1989