Tampilkan postingan dengan label Presiden Soekarno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Presiden Soekarno. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Mei 2020

Ketika Soekarno Tak Punya Uang

Presiden Soekarno

Forum Muslim - Menjelang Lebaran Soekarno menemui mantan Menteri Luar Negeri Roeslan Abdoelgani untuk utang uang. "Cak, tilpuno Anang Tayib. Kondo-o nek aku gak duwe duwik (Cak, teleponkan Anang Tayib. Kasih tau bahwa aku tak punya uang)," kata Soekarno.
Anang adalah keponakan Roeslan, tinggal di Gresik, pengusaha peci merk Kuda Mas yang sering dikenakan Soekarno.

"Beri aku satu peci bekasmu. Saya akan lelang," kata Roeslan Abdoelgani.

"Bisa laku berapa, Cak?" tanya Soekarno.

"Wis tah, serahno ae soal iku nang aku. Sing penting rak beres tah (Sudahlah, serahkan saja soal itu pada saya. Yang penting 'kan beres)" jawab Roeslan.

Roeslan lalu menyerahkan kepada Anang satu peci yang bekas dipakai Soekarno. Roeslan kaget karena jumlah peserta lelang begitu banyak, semuanya pengusaha asal Gresik dan Surabaya. Tapi yang membuatnya sangat terkejut ternyata Anang melelang tiga peci.

"Saudara-saudara," kata Anang. "Sebenarnya hanya satu peci yang pernah dipakai Bung Karno. Tetapi saya tidak tau lagi mana yang asli. Yang penting ikhlas atau tidak?"

"Ikhlas!!!" seru para peserta lelang.

"Alhamdulillah," sahut Anang.

Dalam waktu singkat terkumpul uang sepuluh juta rupiah. Semua uang itu segera diserahkan Anang kepada Roeslan.

"Asline rak siji se (Yang asli 'kan satu)" kata Roeslan.

"Ya. Sebenarnya dua peci lainnya akan saya berikan untuk Bung Karno," kata Anang.

"Tapi kedua peci itu jelek."

"Memang sengaja saya buat jelek. Saya ludahi, saya basahi, saya kasih minyak, supaya kelihatan bekas dipakai."

"Kurang ajar kamu, Nang. Kamu menipu banyak orang."

"Kalau ndak begitu mana mungkin bisa dapat banyak uang."

Roeslan kemudian menyerahkan semua uang hasil lelang kepada Soekarno.

"Cak, kok banyak banget uangnya," kata Soekarno kaget.

"Itu semua akal-akalan Anang, " kata Roeslan. Ia menceritakan bagaimana cara Anang menggandakan peci.

"Kurang ajar Anang. Kalau begitu yang berdosa saya atau Anang?" tanya Soekarno.

"Anang." jawab Roeslan."Uang begitu banyak akan dipakai untuk apa?"

"Untuk zakat fitrahku. Bawalah semua uang ini ke makam Sunan Giri. Bagikan untuk orang melarat di sana," jawab Soekarno.

Sumber: buku 'Suka Duka Fatmawati Sukarno Seperti Diceritakan kepada Kadjat Adrai'. (FM)

Senin, 31 Desember 2018

Lagu dan Agama

Presiden Soekarno

Oleh: Bandung Mawardi

Pada 1934-1936, Sukarno sering berkorespondensi dengan A. Hassan mengenai agama. Di Endeh, Flores, Sukarno mendapat kiriman buku-buku dari A. Hassan di Bandung. Sukarno mulai tekun membaca dan menulis artikel-artikel bertema Islam. Pemikiran Sukarno tentu tak searah A. Hassan. Hubungan itu perlahan retak saat tahun-tahun menjelang kemerdekaan. Perbedaan arah berkaitan dengan pemikiran agama dan kebangsaan. Sukarno serius membesarkan nasionalisme bercap Indonesia. Di seberang, A. Hassan rajin memberi kritik dan serangan atas nasionalisme berdalih agama.

Serangan terhadap nasionalisme mengarah ke bendera, lagu, patung, upacara, sistem pemerintahan, dan akhlak pemimpin. Pada 1941, A. Hassan mengeluarkan buku berjudul Islam dan Kebangsaan. Buku kecil berisi perlawanan atas pemikiran-pemikiran Sukarno berkaitan dengan Islam dan Indonesia.

Kita simak pemahaman A. Hassan mengenai lagu: "Orang Islam jang sebenarnja, orang jang berakal waras, tidak perloe hormatkan lagoe jang tak hidoep, tak berakal, tak tahoe menerima atau menolak penghormatan… kaoem kita meniroe segala sesoeatoe perboeatan jang terbit dari Eropah dengan harapan, bahwa gaja-gaja dan aksi-aksi luaran itoe bisa djadi kaki atau tangan boeat kemadjoean dan kemerdekaan."

Kalimat-kalimat itu merupakan sindiran kepada Sukarno sebagai penganjur pembuatan lagu-lagu bertema nasionalisme, sejak masa akhir 1920-an. Gubahan lagu W.R. Soepratman menjadi pilihan untuk membesarkan nasionalisme dengan memperdengarkan lagu dalam rapat-rapat umum dan acara politik kebangsaan. Kita menduga sindiran itu tak bergema atau memberi pengaruh besar. Pada masa 1940-an, lagu-lagu kebangsaan malah semakin bertambah. Kaum pergerakan kebangsaan memilih lagu sebagai propaganda dan penguatan demi pencapaian kemerdekaan. Lakon kemerdekaan pun memuat lagu-lagu. Sejarah turut bergerak dengan lagu-lagu.

Namun, pada 1953, terbit buku berjudul Lagu-lagu Sekolah Agama susunan Kasim St. M. Sjah. Buku itu memuat 23 lagu. Penerbitan buku dipicu saran dan keluhan dari para guru di pelbagai madrasah dan para pejabat di Djawatan Pendidikan Agama. Kasim menerangkan: "…dibutuhkan njanjian-njanjian di sekolah-sekolah agama, maka kami susunlah lagu-lagu ini, jang kata-katanja sebahagian besar menggambarkan kebesaran agama Islam dan perdjuangan-perdjuangan Nabi besar kita Muhammad s.a.w. berserta pengikut-pengikut beliau dan nabi-nabi lain pada menegakkan agama Allah." Orang-orang diajak berlagu agar semakin meningkatkan kemauan menjadi manusia mulia dan menghamba pada Tuhan.

Kini kemeriahan lagu-lagu bertema agama di Indonesia sering memuncak saat Ramadan dan Lebaran. Album-album lagu bercap religi sering diproduksi sebagai suguhan dakwah. Kita tentu mengingat lagu-lagu Bimbo, Rhoma Irama, Hadad Alwi, Gigi, Opick, dan Ungu sebagai para pelantun lagu-lagu religi. Kelompok musik Gigi dan Opick bisa dianggap paling rajin dalam mengeluarkan album-album religi setiap tahun. Agenda mengalami Ramadan mulai berkaitan dengan lagu-lagu yang mengandung pesan-pesan agama. Kita pun sering melihat acara pengajian, diskusi, atau buka puasa bersama menghadirkan para artis atau kelompok musik: memberi "hiburan" bernuansa agama. Di Indonesia, lagu-lagu memperindah dan mengajak ke renungan-renungan religius meski tak menampik ada maksud hiburan dan komersial. [FM]

TEMPO, 26 Juni 2015
Bandung Mawardi | Esais

Senin, 17 Desember 2018

Galeri Presiden Soekarno

Presiden Soekarno

Senin, 26 Maret 2018

Riwayat Mosi Integral M. Natsir Yang mengembalikan Negara lndonesia Serikat ke Negara Kesatuan Republik Indonesia

M. Natsir
Forum Muslim - Meski Bung Karno sejak 1930-an sering perang pena dengan dua tokoh pergerakan Islam A Hassan dan muridnya, M Natsir. Keduanya tokoh sentral PERSIS.  Namun ajaibnya melalui wasilah kedua tokoh Islam inilah Indonesia kembali ke ruh Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Atas permintaan khusus Bung Karno. 

Pesan Pak Natsir Kepada Umat Islam Indonesia

Oleh M. Amin Djamaluddin
(Direktur LPPI / Staf Khusus Pak Natsir dalam Bidang Aliran Sesat)

Pada suatu hari, Bapak M. Natsir (alloohu yarham) bercerita di hadapan Pak Sukayat (alloohu yarham) dan saya (M. Amin Djamaluddin) di kantornya DDII Jl. Kramat Raya no. 45 Jakarta Pusat.

Pak Natsir berkata, "Suatu hari, Presiden Ir. Soekarno datang menemui saya (M. Natsir) dan berkata, "Saudara Natsir, saya serahkan negara ini kepada Saudara!" Kedatangan Presiden Soekarno menemui Pak Natsir itu, disebabkan Indonesia ini sudah tidak ada lagi, dan yang ada adalah negara serikat yang bernama RIS (Republik Indonesia Serikat) yang sudah terbagi menjadi 16 (enam belas) negara bagian.

Setelah didatangi oleh Presiden Soekarno tersebut serta mengatakan perkataannya, "Saya serahkan negara ini pada Sdr. Natsir!" maka Pak Natsir segera menemui gurunya, A. Hassan.

Kepada gurunya A. Hassan, Pak Natsir menceritakan bahwa Presiden Soekarno telah datang menemuinya, dan Bapak Presiden telah menyerahkan negara ini (Republik Indonesia) kepada saya. "Adakah saran dari Tuan Hassan dalam masalah ini?" Pak Natsir meminta petunjuk dari gurunya A. Hassan.

Sejenak kemudian, A. Hassan pun menjawab, 

"Ingat Sdr. Natsir, waktu dinding Ka'bah roboh terkena banjir, dan Hajar Aswad terbawa banjir, pada waktu itu, seluruh kabilah Quraisy berebut untuk mengembalikan Hajar Aswad tersebut ke tempatnya semula. 

Pemimpin kabilah yang ini mengatakan bahwa mereka lah yang berhak untuk mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya semula. 

Sedangkan pemimpin kabilah yang lain mengatakan bahwa mereka lah yang berhak untuk mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya. Pendeknya, perebutan untuk mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya semula hampir membuat perpecahan di antara kabilah-kabilah Quraisy di Mekkah pada saat itu.
Akhirnya Muhammad bin Abdullah mengadakan rapat dengan semua pemimpin kabilah Quraisy tersebut. Pada saat itu, Muhammad bin Abdullah belum menjadi Nabi dan Rasul, karena baru berusia 25 tahun. Rapat tersebut memutuskan bahwa yang berhak mengembalikan Hajar Aswad ke tempatnya semula adalah orang yang paling dahulu masuk Masjidil Haram nanti Subuh.

Ternyata, orang yang paling dahulu masuk Masjidil Haram adalah beliau sendiri (Muhammad bin Abdullah). Menurut keputusan rapat berarti Muhammad bin Abdullah lah yang berhak mengembalikan Hajar Aswad tersebut ke tempatnya semula.

Akan tetapi, apa yang beliau lakukan? Muhammad bin Abdullah meletakkan Hajar Aswad tersebut di atas sehelai kain tebal. 

Kemudian beliua mengajak semua pimpinan kabilah-kabilah Quraisy itu untuk sama-sama memegang kain yang di atasnya ada Hajar Aswad tersebut, kemudian mengangkatnya bersama-sama dan dengan tangan beliau lah Hajar Aswad tersebut diletakkan di tempatnya semula. 

Akhirnya terhindar lah perpecahan di antara kabilah-kabilah Quraisy pada saat itu".


M. Natsir

Mendengar kisah ini, akhirnya Pak Natsir menemui semua presiden RIS (Republik Indonesia Serikat) seorang demi seorang. Pak Natsir mengajak seluruh presiden RIS untuk kembali ke RI (Republik Indonesia).
Setelah berkali-kali Pak Natsir menemui semua presiden RIS tersebut, akhirnya semuanya sepakat untuk kembali ke RI (Republik Indonesia).

Kemudian, setelah semua presiden RIS setuju untuk kembali ke RI, barulah Pak Natsir membawa masalah tersebut ke Majlis Konstituante, yang menghasilkan keputusan bahwa Negara Indonesia adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan bukan RIS.

Bagaimana sulitnya mengembalikan RIS tersebut menjadi NKRI, sangat luar biasa, menurut cerita Pak Natsir. 

Oleh sebab itu, Pak Natsir berpesan kepada seluruh umat Islam Indonesia dengan mengatakan bahwa NKRI itu adalah harga mati, jangan coba-coba diganggu gugat oleh kalian. Kalau kalian ingin menegakkan hukum Islam di NKRI, maka kalian harus membuat partai politik yang benar-benar islami dan pilihlah calon-calon anggota DPR RI dan MPR RI dari orang-orang yang benar-benar islami. 

Sehingga, jika partai-partai kalian tersebut menang di Pemilu, maka anggota DPR RI yang telah dipilih oleh rakyat bisa membuat UU yang berdasarkan hukum Islam. Cara ini lah yang harus kalian perjuangkan.

Selain itu, Pak Natsir juga berpesan kepada saya (M. Amin Djamaluddin) pada saat beliau sedang berbaring sakit, tepatnya sewaktu saya memijat kaki beliau di atas tempat tidurnya di rumah beliau, 

"Sdr. Amin, Kramat Raya 45 Pusat Dewan Da'wah itu adalah markas perjuangan umat Islam, jangan Saudara tinggalkan Kramat 45 itu!"

Kamis, 28 Desember 2017

Presiden Soekarno, Negara Nasional dan Cita-Cita Islam

Presiden Soekarno



( cuplikan ) Kuliah Umum Presiden Soekarno di Depan Civitas Academica Universitas Indonesia Pada Tanggal 7 Mei 1953

Saudara-saudara, maka jikalau kita diajak kembali kepada hal itu, saya kira Saudara-saudara mengerti, bahwa saya sampai kepada pokok uraian saya ini. Ditanyakan oleh Saudara Dahlan Ranuwihardjo bagaimana hubungannya Pancasila dengan Islam.

Saudara-saudara tahulah. Pancasila ini sudah satu kompromi yang laksana meminta kita punya darah dan air mata. Siapa yang membuka sejarah kita terutama sekali pada bulan Juli 1945, satu bulan sebelum proklamasi Indonesia berkumandang di angkasa. 

Siapa yang membuka riwayatnya kita punya musyawarat-musyawarat, kita punya perdebatan-perdebatan, kita punya pertikaian satu sama lain, bahkan kita punya pada waktu itu hampir menjadi kita punya kebencian satu sama lain, akan mengerti bahwa Pancasila sudah satu kompromi.

Pada waktu itu, di dalam sidang badan yang dinamakan Dokuritu Zyunbi Cosakai -- Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdeka­an Indonesia — pada waktu itu pemimpin-pemimpin Islam duduk dengan pemimpin-pemimpin Nasional dengan pemimpin-pemimpin Sosialis. 

Pada waktu itu mula-mula bicara tenang-tenang, pada waktu makin berkobar-kobar, pada waktu itu hampir-hampir pecah persatuan nasional kita. Pada waktu itu aku ada, Kiai Maskur ada, Ki Bagus Hadikusumo ada, pemimpin-pemimpin Islam lain-lain ada, Saudara Abdul Kahar Muzakir ada, 

Saudara Chairul Saleh ada, Muhammad Yamin ada, pemimpin-pemimpin seluruh Indonesia berkumpul mem-bicarakan akan dasar-dasar negara yang akan diproklamirkan.

Alangkah berbahayanya situasinya pada waktu itu. Tetapi Allah SWT Saudara-saudara memberi ilham, memberi taufik hidayah akan persatuan kita. Memberi, menjelma satu dasar yang bisa distujui oleh semuanya yaitu dasar Pancasila, yang sampai dalam tiga Undang-Undang Dasar RI tidak pernah terangkat. 

Undang-Undang Dasar RI Yogyakarta, Undang-Undang Dasar RIS, Undang-Undang Dasar Sementara RI sekarang ini, Pancasila tetap terpegang teguh, ialah oleh karena Pancasila adalah sudah satu kompromi yang dapat mempersatukan golongan-golongan ini.

Maka oleh karena itu Saudara-saudara, insaf dan sadarlah akan keadaan yang berbahaya di dalam bulan Juli 1945 itu. Jangan kita, Saudara-saudara, mengalami lagi keadaan yang demikian itu. Jangan pecah persatuan kita. Dan jikalau kukatakan "pecah persatuan kita", kalau aku berkata demikian, itu berarti pecah, gugur, meledak, musnah negara kita yang telah kita perjuangkan bersama ini dengan penderitaan, dengan segenap penderitaan dan pengorbanan yang hebat-hebat.  

Kembalilah kepada persatuan. Aku sama sekali — sebagai tadi kukatakan berulang-ulang — tidak pernah melarang sesuatu orang mempropagandakan ideologinya.
Tetapi ingat, persatuan mutlak, persatuan mutlak, persatuan mutlak. 

Accenten leggen kepada persatuan. Jangan diruncing-runcingkan. Aku ingat kepada kaum Kristen. Kaum Kristen bukan satu, bukan dua, bukan tiga, bukan seratus, bukan dua ratus, ribuan kaum Kristen mati gugur di dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan ini. Apakah yang menjadi harapan kaum Kristen itu, 

Saudara-saudara, yang kita pantas juga menghargai korban-korban mereka itu? Harapan mereka ialah bahwa mereka bisa bersama-sama dengan kita semuanya menjadi anggota kesatuan bangsa Indonesia yang merdeka. Jangan memakai istilah minoritas. Jangan. 

Kaum Kristen tidak mau dirinya disebut minoritas. Wij hebben gevochten niet om een minoriteit te worden. Kaum Kristen berkata: "Wij hebben onze zonen prijsgegeven niet om een minoriteit te worden."

Apakah yang engkau kehendaki?

Yang dikehendaki ialah sama-sama menjadi anggota warga negara satu negara merdeka: Republik Indonesia Kesatuan. Sama dengan aku, sama dengan alim ulama, sama dengan pemuda-pemudi, sama dengan pegawai, semuanya sonder perkecualian: warga negara Republik Indonesia, semua, sonder ada minoritas-minoritas atau mayoritas-mayoritas. Tidakkah Islam, Saudara-saudara, malahan sebenarnya di dalam hal accenten leggen kepada "musyawarah". 

Aku menjawab pertanyaan-pertanyaan Saudara Dahlan Ranuwihardjo: "bagaimana duduknya dengan demokrasi?" Kembali aku minta tolong kepada alim ulama. Aku belum pernah menjumpai perkataan demokrasi di dalam istilah Islam. Aku sekadar menjumpai "musyawarah". 

Apalagi aku tidak pernah menjumpai istilah stem-stem di dalam istilah Islam. Memang yang dianjurkan oleh Islam adalah musyawarah, berunding. Tidak dianjurkan stem-steman, sehingga satu pihak berkata: ya, aku lebih besar jumlah, aku yang mesti menang, tidak!

"Demokrasi" memang sebenarnya - demokrasi yang kita maksud bukanlah graadmeter sesuatu waarheid. Demokrasi kita bukan sekadar de helft plus een heeft altijd gelijk. Demokrasi bagi kita ialah musyawarah. 

Kita mengadakan demokrasi untuk menunjuk-kan dengan terang ke dunia luar untuk menginsafkan diri kita dengan terang ke dalam, bahwa kita tidak menghendaki otokrasi. Bahwa kita tidak menghendaki teokrasi, tidak menghendaki sesuatu golongan menghikmati, menguasai golongan lain. 

Di dalam isitilah Itulah kita memakai perkataan demokrasi. Bukan de helft plus een heeft altijd gelijk, bukan de helft plus een is altijd menang. Tidak, tidak!

Islam memerintahkan musyawarah. Musyawarah, Saudara-saudara, di dalam alam kebijaksanaan. Demokrasi bukan duel. Demokrasi adalah sekadar satu alat, alat kebijaksanaan. Cara untuk menyampaikan sesuatu dengan cara yang bijaksana di dalam urusan kemasyarakatan dan kenegaraan. 

Satu cara dan cara yang kita kehendaki semuanya. "Demokrasi" kita ialah sebagai sering kukatakan: satu demokrasi met leiderschap. Satu demokrasi dengan kebijaksanaan, bukan sekadar stem-steman. Kalau sekadar stem-steman, buat apa diadakan musyawarah, buat apa diadakan debat-debatan. Lebih baik kumpulkan. Kumpulkan! Sudah.

Sekarang isunya misalnya, isunya Islam ai. u tidak? Stem! Itu: de helft plus een heeft altijd gelijk. Sekarang isunya komunisme, stem sonder bicara lagi, terus stem saja. 

Tetapi Saudara-saudara, itu bukan yang dikehendaki oleh kita dan itu bukan pula yang dikehendaki oleh Islam. Islam menghendaki musyawarah-musyawarah di dalam alam persaudaraan, musyawarah agar mencapai apa yang kita kehendaki bersama dengan cara yang sebijaksana-bijaksananya dan dapat memuaskan segala pihak.

Inilah Saudara-saudara apa yang saya maksud di sini borong-borong. Demokrasi bukan berarti mayorikrasi oleh karena kita diwajibkan bermusyawarah bukan sekadar stem-steman, mana suara yang terbanyak adalah benar.

Inilah jawabanku kepada Saudara Dahlan Ranuwihardjo mengenai kedudukan demokrasi tadi.

Tentang kedudukan Pancasila dan Islam, aku tidak bisa mengatakan lebih daripada lain dengan mensitir ucapan Saudara Pemimpin Besar Masyumi Muhammad Natsir. 

Di Pakistan, di Karachi, tatkala beliau mengadakan ceramah di hadapan Pakistan Institute for International Relation beliau mengatakan bahwa Pancasila dan Islam tidak bertentangan satu sama lain. Bahkan sama satu sama lain.

Ditulis di dalam "Islamic Review" Maret 1953, coba dengarkan. Saudara Natsir menjawab pertanyaan Saudara Ranuwihardjo: Pakistan is modern country. So is may country Indonesia. But though we recognize Islam to be faith of Indonesian people. 

We have not made an expressed mention of it in our constitution. Nor have we excluded religion from our national life. Indonesia has expressed its creed in the Pancasila, or the five principles, which have been adopted as the spiritual, moral and ethical foundation of our nation and our state. Your part and our is the same. Only it is differently stated.

Saudara-saudara, voila monsieur Mohammad Natsir, Apa Saudara-saudara sekarang sudah paham lidhing dongeng. Ikhtiar ceramah saya ini tidak lain tidak bukan ialah agar supaya jangan kita salah paham satu sama lain. 

Dengan dihilangkannya salah paham itu kita bisa mengadakan understanding satu kepada yang lain yang lebih baik agar supaya bisalah tersusun kembali kita punya persatuan nasional yang seerat-eratnya untuk menyelesaikan revolusi nasional kita ini. 

Yaitu mendirikan satu negara nasional yang meliputi segenap wilayah natie Indonesia seluruhnya dari Sabang sampai Merauke.

Minggu, 08 Oktober 2017

AH Nasution Jenderal Yang Menumbangkan Rezim Soekarno

Forum Muslim - Adalah salah kaprah jika menganggap bahwa Soeharto lah yang menggulingkan Soekarno. Jika melihat fakta sejarah, Jenderal Besar Abdul Haris Nasution adalah orang yang paling berperan dalam menjatuhkan Soekarno dari jabatanya Presiden Seumur Hidup.
Saat tragedi G30S/PKI, AH Nasution (sapaan akrab beliau) menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan serta menjabat Kepala Staff Angkatan Bersenjata . Dia adalah target utama yang harus dihilangkan, kegagalan Cakrabirawa membunuhnya adalah awal serangan balik yang maha dashyat untuk Soekarno dan Dewan Revolusi.
Nasution adalah salah satu Jenderal Angkatan Darat (AD) yang terpaksa setuju pada perintah Soekarno untuk menyerang Malaysia. Sebagian besar Jenderal AD menolaknya. Mereka tak mau nyawa prajurit AD digadaikan untuk ambisi pribadi Soekarno. Apalagi dalam perang tersebut, ada upaya penyebaran faham komunisme oleh PKI dan menyokong Partai Komunis Malaysia.
Para relawan yang disusupkan juga dipersenjatai dengan senjata kiriman dari negara komunis, yang nantinya bakal diusulkan oleh DN Aidit untuk jadi angakatan kelima.
Nasution berhasil lolos dengan luka di kaki. Dari tempat persembunyianya, dia meraba-raba korps pasukan yang setia padanya. Ketemulah Soeharto yang menjawab Panglima Kostrad (Pangkostrad).
Namun pada masa itu jabatan Panglima Komando Strategis Cadangan Angkatan Darat tidak membawahi pasukan, berbeda dengan sekarang. Soeharto dengan cerdik memanggil komandan RPKAD (Kopassus) Sarwo Edhie dan meminta kesetiaanya dan pasukanya.
Setelah memiliki pasukan dan kelengkapanya, Soeharto meminta Nasution untuk datang ke markas Kostrad. Di sinilah Nasution kali pertama mendapat perawatan atas luka-lukanya dan melancarkan serangan balik.
Sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan. Nasution memberi perintah pada Soeharto untuk menjaga kesiagaan pasukan Angkatan Darat sembari menyusun serangan balasan.
Ketika Dewan Revolusi diumumkan dari markas TNI AU di Halim. Nasution adalah orang pertama yang membangkang.
Nasution yang kakinya terluka sedang membahas situasi di markas Kostrad pada malam tanggal 1 Oktober 1965

Dari Halim atas nama Dewan Revolusi, Soekarno langsung menunjuk Mayjen Pranoto Reksosamodra, sebagai Panglima Angkatan Darat. Mengetahui ini, Nasution segera mengamankan Pranoto di Markas Kostrad, dia dibrifing agar tidak menerima jabatan ini.
Menyadari bahwa kekuatan Angkatan Darat saat itu hanya prajurit RPKAD, jumlah kostrad sendiri saat itu tak memiliki personel prajurit. Nasution meminta bantuan Panglima Angkatan Laut, RE Martadinata.
Gabungan prajurit RPKAD dan KKO sukses memukul balik gerakan G30S dan memaksa Presiden Soekarno pulang ke istana negara. Membubarkan Dewan Revolusi.
Nama Nasution berkibar hati rakyat Indonesia saat, melebihi Soeharto. Di saat bersamaan dia berduka atas kematian putranya.
Dalam beberapa minggu pertama setelah G30S, Nasution-lah yang terus-menerus melobi Soekarno untuk menunjuk Soeharto sebagai Panglima Angkatan Darat. Soekarno, yang setelah 1 Oktober tetap menginginkan Pranoto sebagai pimpinan angkatan darat, awalnya dia ingin menjadikan Soeharto hanya sebagai Panglima Kopkamtib, tetapi dengan lobi terus-menerus yang dilakukan Nasution, Soekarno akhirnya dibujuk dan pada tanggal 14 Oktober 1965, ditunjuklah Soeharto sebagai Panglima Angkatan Darat.
Soekarno sebenarnya memahami sepak terjang Nasution, untuk mengebiri langkahnya, dia menawarkan posisi wakil presiden. Nasution pintar, melalui Soeharto, pada awal 1966 mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa tidak ada kebutuhan untuk mengisi kursi wakil presiden yang kosong.
Nasution dengan cerdik dia membidik kursi ketua MPRS. Tujuanya satu, agar bisa  menumbangkan Soekarno agar penderitaan rakyat berakhir.

Soekarno telah diangkat oleh MPRS sebagai presiden seumur hidup, maka hanya MPRS saja yang bisa melengserkanya.

Setelah Soeharto menerima supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) dari Soekarno. Nasution menyadari bahwa Supersemar tidak hanya memberikan kekuasaan darurat kepada Soeharto tetapi juga memberinya kontrol eksekutif.
Nasution menyarankan kepada Soeharto bahwa ia berhak membentuk kabinet darurat. Menggantikan kabinet yang pro PKI dan pro Soekarno. Soeharto, masih hati-hati tentang apa yang dia bisa atau tidak bisa lakukan dengan kekuatan barunya, karena pembentukan kabinet adalah tanggung jawab presiden. Nasution mendorong Soeharto, berjanji untuk memberikan dukungan penuh.
Tanggal 18 Maret 1966, Soeharto menangkap Chaerul Saleh, ketua MPRS dan anggota MPRS yang dianggap pro PKI. Sebagai gantinya dibentuk MPRS pengganti.
MPRS yang baru pun bersidang dan Nasution terpilih sebagai ketuanya secara aklamasi. Dengan cerdik, pada 21 Juni 1966 Nasution dan MPRS meratifikasi Supersemar. Dengan keputusan ini berarti Soekarno dilarang menariknya kembali.
Pada 22 Juni, Soekarno mencoba melawan dengan menyampaikan pidato berjudul Nawaksara(Sembilan butir) di depan sidang MPRS. Namun Nasution bergeming, bahwa Supersemar tidak boleh dicabut atau ditarik kembali.
Selama dua minggu ke depan, Nasution sibuk memimpin Sidang Umum MPRS. Di bawah kepemimpinannya, MPRS mengambil langkah-langkah seperti melarang paham Marxisme-Leninisme, mencabut keputusan Soekarno sebagai presiden seumur hidup, dan memerintahkan pemilihan legislatif yang akan diselenggarakan pada bulan Juli 1968.
Sidang Umum MPRS juga meningkatkan kekuasaan Soeharto dengan secara resmi memerintahkannya untuk merumuskan kabinet baru. Sebuah keputusan juga disahkan yang menyatakan bahwa jika presiden tidak mampu melaksanakan tugasnya, ia kini akan digantikan oleh pemegang Supersemar, bukan wakil presiden. Inilah kenapa Nasution dulu ogah diangkat jadi Wapres, dengan jadi ketua MPRS dia bisa menumbangkan Soekarno.
Tahun 1966 pun berlalu, Soekarno semakin defensif dan popularitasnya di kalangan rakyat Indonesia semakin menurun. Jika Soeharto masih berbelas kasihan pada Bung Karno seperti membelanya di hadapan demonstran rakyat. Tidak dengan Nasution, Soekarno harus segera diganti.
Nasution menyatakan bahwa Soekarno harus bertanggung jawab atas situasi buruk yang melanda pemerintahan dan masyarakat Indonesia pada saat itu. Nasution juga menyerukan agar Soekarno dibawa ke pengadilan.
Pada 10 Januari 1967, Nasution dan MPRS bersidang lagi dan Soekarno menyerahkan laporannya (dia tidak menyampaikan hal itu secara pribadi sebagai pidato) yang diharapkan bisa mengatasi masalah G30S. Diberi judul “Pelengkap Nawaksara”.
Salah satu poinya jika dirinya (Soekarno) akan disalahkan atas G30S, Menteri Pertahanan dan Keamanan pada saat itu (Nasution) juga harus disalahkan karena tidak melihat G30S datang dan menghentikannya sebelum terjadi. Tentu saja laporan ini sekali lagi ditolak oleh MPRS yang dipimpin Nasution.
 
Nasution memberi selamat kepada Jenderal Soeharto atas pengangkatannya sebagai acting presiden, 12 Maret 1967

Pada bulan Februari 1967, DPR-GR menyerukan Sidang Istimewa MPRS pada bulan Maret untuk mengganti Soekarno dengan Soeharto. Soekarno tampaknya pasrah akan nasibnya, akhirnya pada 12 Maret 1967, Soekarno secara resmi dicabut mandatnya sebagai Presiden oleh MPRS. Nasution kemudian menyumpah Soeharto ke tampuk kekuasaan sebagai pejabat presiden. Setahun kemudian pada 27 Maret 1968, Nasution memimpin pemilihan dan pelantikan Soeharto sebagai Presiden penuh.
Setelah kemenanganya menumbangkan kediktatoran Soekarno. Jendral Nasution pelan-pelan menarik diri dari urusan Politik di era Presiden Soeharto. Baginya, perjuangan telah usai, membebaskan rakyat Indonesia dari cengkeraman diktator bernama Soekarno.(Sumber : Militermeter)

Senin, 06 Maret 2017

Peci Mubaligh NU Menjadi Identitas Presiden Soekarno


Presiden Soekarno


Di sela-sela sidang Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada September 1959 Bung Karno menyatakan bahwa dia sebenarnya kurang nyaman dengan segala pakaian dinas kebesaran, tetapi semua ini dipakai untuk menjaga kebesaran Bangsa Indonesia.


"Seandainya saya adalah Idham Cholid yang ketua Partai NU atau Seperti Suwiryo, ketua PNI, tentu saya cukup pakai kemeja dan berdasi, atau paling banter pakai jas," kata Bung Karno sambil melihat respon hadirin.


"Tetapi soal peci hitam ini, tidak akan saya tinggalkan. Soalnya, kata orang, saya lebih gagah dengan mengenakan songkok hitam ini, benar enggak Kiai Wahab ?" tanya Bung Karno pada Rois Am NU yang juga anggota DPA itu.


"Memang betul, saudara harus mempertahankan identitas itu. Dengan peci hitam itu, saudara tampak lebih gagah seperti para muballigh NU," jawab Kiai Wahab Chasbullah. Pernyataan Kyai Wahab ini menyulut gelak tawa seluruh anggota DPA.


"Dengan peci itu saudara telah mendapat banyak berkah, karena itu ketika berkunjung ke Timur Tengah, saudara mendapat tambahan nama Ahmad," seloroh Kiai Wahab.


"Betul," sahut Bung Karno. "Ketika saya ke Saudi, Raja Su'ud memberi gelar Ahmad kepada saya. Presiden Gamal Abdel Naser di Mesir dan Presiden Ben Bella di Aljazair serta kalangan pers seluruh Timur Tengah juga memberi nama tamabahan Ahmad kepada saya."


"Ketahuilah olehmu Nasution, Ruslan Abdul Gani Nama Nabi kita itu banyak, ada Muhammad, Ahmad, Musthofa dan sebagainya. Dan kau Leimena, walaupun beragama Kristen, kau harus tahu bahwa nama Nabi Muhammad itu juga Ahmad." Sementara mengucapkan kata-kata ini, para hadirin yang mengikuti sidang DPA pun manggut-manggut dalam suasana akrab. Lalu sidang DPA pun segera dimulai.


Bung karno, selain menjabat presiden, juga sekaligus menjabat ketua DPA. Karena itu, sidang-sidang DPA, Bung Karno-lah yang selalu memimpin.


Dengan gayanya yang informal, berbagai persoalan besar dan serius dibicarakan dalam forum ini. Walaupun disertai perdebatan seru, tetapi tetap berlangsaung dalam suasana kekeluargaan, saling menghargaai dan saling percaya.


Hal ini dikarenakan sidang-sidang DPA telah terarah pada satu tujuan, yaitu kebesaran bangsa Indonesia. Dan pecipun semakin kukuh menjadi identitas nasional bangsa Indonesia. []



Diangkat dari Buku Saifuddin Zuhri, Berangkat Dari Pesantren, Gunung Agung, Jakarta, 1987.