Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Desember 2017

Puisi Gus Mus

Add caption


KH. Mustofa Bisri
Renungan Gus Mus (KH MUSTHOFA BISRI) .          
Atheis dimusuhi karena tidak bertuhan. 
Bertuhan dimusuhi karena tuhannya beda.
Tuhannya sama dimusuhi karena nabinya beda.
Nabinya sama dimusuhi karena alirannya beda.
Alirannya sama dimusuhi karena pendapatnya beda.
Pendapatnya sama dimusuhi karena partainya beda.
Partainya sama dimusuhi karena pendapatannya beda.
Apa kamu mau hidup sendirian di muka bumi untuk memuaskan nafsu keserakahan?.

Jumat, 02 September 2016

Puisi Embun Pagi

Dingin,

menikmati bekumu di malam ini

hari menjelang pagi

ketika tak juga pandangan ini menjemput mimpi

telah kalahkah tadi siang ?

Telah pasrahkan jiwa pecundang ?

Telah berdarahkan kulit pembungkus tulang ?

Di penghujung malam ini

ketika rembulan dan angin ditelan sepi

embun menitik membasahi bumi ini

bumi jiwa ini

bumi kelana ini,

sungguh ! Berjalan-jalan itu pasti

melangkah tertatih-tatih

kekiri ke kanan, menorehkan sejarah

tentang kehidupan yang tak pasti.





Tuhan,

jangan biarkan aku tersesat di puncak kegersangan ini !

Kaki berdarah tergores kerikil-kerikil kecil.





Tuhan,

jangan biarkan hati menangis merintih-rintih

menanti kedamaian, rindu tiada jawab.





Tuhan,

kekarkan badan ini

hari mungkin masih panjang

kabulkan keinginan ini

karena di sana jiwa terluka mendamba kasih sayang.

Untuk Kasih Sayangku, amiin



---

26 November 2010 00:00

By Muhammad Saroji - Majalah Sastra

© Copyright - All Rights Reserved

Selasa, 20 Juli 2010

Badan di Perjalanan




Aku memandangi kemegahan kota yang basah diguyur air hujan
aku memandangi wajah-wajah tua yang hampir menyerah dihimpit zaman
aku memandangi keresahan yang lelah ditaburi bintang-bintang
benarkah sanjungan itu kemuliaan?
benarkah telah sirna lentera itu dari malam?


Ku dengarkan sayup suara adan di kesunyian,
duh para pengelana bilakah menghentikan langkahnya,
bersembah sujud mensyukuri karunia di badan,
badan ini berapa lama di perjalanan
meniti hari siang dan malam
menjemput impian
bilakah tasbih dan tahmid fasih di lisan
menyentuh kalbu diambang kegersangan.


Ini kisah bukanlah seperti kembang
yang harum mewangi, kemudian layu dibuang di comberan,
ini kisah badan di perjalanan
meniti hari pagi siang petang dan malam
menyibak tirai usia di kegelapan
menghitung entah tinggal sisa berapa
menghitung apakah amal ini seperti tulang berserakan
dari sisa anjing liar yang ditinggalkan
ataukah seperti mutiara yang cemerlang bercahaya,
Tuhan,
hambaMu menanti jawaban.


Minggu, 28 Februari 2010

Allah, Allah, Allah...





Allah,
rindu
indah.



Allah,
menujuMu penuh harap
kasih dan sayang.



Allah, Allah, Allah...


Allah, Allah, Allah...





Allah,
mencariMu
dalam kegelapan
di antara bebatuan terjal.



Allah,
dengan cahayaMu
kegelapan menjadi sirna


Allah, Allah, Allah...




Allah,
indah
suci.



Allah,
Malik
Karim.



Allah,
sucikan hatiku,
amin.


Jumat, 26 Februari 2010

Meminta, Mengharap dan Menghiba


Allah,
di antara gerimis dan malam sunyi,
di antara lelah dan keluh kesah,
lelah bekerja seharian
demi keluarga tercinta

Allah,
bukankah daya ini karuniaMu ?
Dengannya aku memuji
bersujud dan berdzikir,
kemudian Kau tambahkan dayaku lagi,
dengannya aku bekerja, berjalan dan berlari

Allah,
tapi aku tetap meminta, meratap dan menghiba
sampai aku tak dapat meminta lagi.