Tampilkan postingan dengan label Hukum Merokok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hukum Merokok. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Oktober 2018

Merokok Itu Pilihan Politik

Ilustrasi merokok - File Hello Sehat
Oleh: Mohamad Sobary

Saya lupa siapa orangnya, yang dengan bagus, membuat suatu pernyataan ”subversif”: merokok atau tidak, ”let my body decides”, di dalam suatu seminar mengenai keretek sehat, ”divine” keretek, yang diramu berdasarkan temuan cemerlang Dr Gretha Zahar, hasil suatu ”pengajian” dan ”pengujian” ilmiah berpuluh-puluh tahun, yang kemudian diperkenalkan ke seluruh dunia oleh Prof Dr Sutiman Bambang Sumitro, sebagai keretek bebas nikotin dengan ”teknologi nano” yang sudah mendunia, sehingga nama kedua tokoh penting itu kini menjulang tinggi sedemikian rupa seperti hendak menyaingi bintang- bintang di langit.

Apa makna strategis temuan ilmiah ini bagi dunia pertanian tembakau, kehidupan ekonomi kaum tani, dan bisnis keretek, yang demikian menggiurkan kaum kapitalis Barat, maupun bagi kesehatan masyarakat? Dalam sejarah umat manusia, belum ada suatu sikap antitembakau, antikeretek, yang dijadikan kampanye global, besarbesaran, dengan dana luar biasa besar, melebihi apa yang terjadi di dalam kurang lebih tiga dekade terakhir.

Kita dicekoki gagasan mengenai bahaya rokok, dan perjuangan kemanusiaan yang tanpa tandingan: menjaga kesehatan masyarakat? Ide menjaga kesehatan masyarakat tidak akan begitu manjur kalau tidak disuarakan oleh WHO. Maka, apa sulitnya mengajak WHO untuk melakukan kampanye antikeretek? Kapital, didukung strategi komunikasi, lobi-lobi dan kemampuan politik meyakinkan seluruh dunia, dengan mudah meraih target sasaran yang diinginkan.

Kampanye global antirokok, antikeretek menjadi serangan telak dan dipercaya orang, sedang ”khotbah” mengenai usaha menjaga kesehatan masyarakat, disambut seperti kita menyambut dewa penyelamat kehidupan yang sudah lama kita nantikan. ”Tapi sabar dulu. Benarkah gerakan kampanye global antikeretek ini sesuatu yang layak kita dengarkan?” ”Tentu saja layak. Kenapa tidak?”

”Oh, kalau begitu benar, bahwa ini tanda strategi mereka mengena. Strategi mereka sukses besar. Tapi tahukah Saudara, siapa yang berdiri di balik gerakan global antikeretek ini” ”Itu saya tidak tahu.” ”Jangan heran, dua kekuatan bisnis raksasa dunia: industri rokok dan farmasi.” Informasi ini sudah tersebar luas di dalam terbitan-terbitan yang mudah diakses publik pembaca. Ini bukan rahasia lagi.

”Mengapa harus heran? Mereka memang sangat peduli, penuh perhatian, dan siap menjaga kesehatan dunia. Sudah pada tempatnya kedua kekuatan bisnis itu yang tampil” ”Anda percaya mereka hendak menyelamatkan dunia? Mereka turunan, atau titisan Dewa Wisnu, yang tugasnya memang menjaga keselamatan dunia?” ”Aku tak percaya Dewa Wisnu. Apa dewa itu memang ada, dan mampu membikin dunia ni selamat?”

”Kalau begitu Saudara benar. Apakah Saudara percaya dua kekuatan bisnis raksasa dunia, tanpa mandat dari siapa pun, mau, secara tulus, dan sukarela, mengeluarkan dana luar biasa besar untuk menyelamatkan kesehatan masyarakat dunia? ”Itu saya tidak tahu, tapi setahu saya itu bukan urusan saya.” ”Saudara harus menjadikannya urusan Saudara” ”Mengapa harus? Dan siapa yang mengharuskan?”

”Yang mengharuskan ialah kehendak Saudara sendiri untuk memperoleh kebenaran, dan untuk meyakinkan bahwa Saudara tidak tertipu” ”Tertipu? Oleh apa? Kau jangan mengada-ada” ”Saudara yakin ada dunia bisnis rela mati-matian membuang dana super besar tanpa berharap akan keuntungan di kemudian hari?” ”Yakin atau tidak bisa ditunda. Tapi memang bukan sifat dunia bisnis untuk berbuat amal seperti itu”

”Saudara benar. Jadi Saudara mau mengerti bahwa di balik gerakan kampanye global antirokok itu ada motif bisnis untuk meraih untung berkali-kali lipat dari dana luar biasa besar yang sudah dikeluarkan?’ ”Kenapa kau tak bilang begitu dari tadi? Kalau ini, jelas bagi saya. Jelas bahwa saya paham sepaham-pahamnya. Jadi terkutuklah mereka yang berteriak antirokok, antikeretek, dan menyelamatkan kesehatan, padahal sebenarnya mereka sedang mengecoh dan membuat kacau seluruh dunia? Mereka penipu besar. Terkutuklah para penipu. Terkutuklah dewa penghancur kehidupan.”

Kalau temuan besar dua tokoh dalam bidang ilmu pengetahuan di atas tak diganggu oleh kepentingan bisnis global yang penuh tipu muslihat itu, jelas bahwa tembakau kita selamat, kehidupan petani tembakau selamat, dan perekonomian mereka terjamin untuk bisa membuat hidup mereka senang.

Selain itu, dunia bisnis keretek kita, yang besar itu, juga ademayem tanpa terusik. Jangan dilupakan pula bahwa ”home industries” di bidang keretek, yang kecil-kecil, sekadar untuk hidup, tak dibunuh terus-menerus oleh aturan-aturan cukai yang mematikan. Aturan cukai itu juga wujud kekejaman bagi dunia usaha rakyat, bangsa kita sendiri. Mereka telah dianiaya pemerintah kita sendiri karena pengaruh Dasamuka negeri asing yang serakah.

Pengaruh temuan ilmiah tersebut pada dunia kesehatan? Kalau keretek yang diproduksi di kemudian hari sudah bebas nikotin, yang berbahaya tadi, apa tak berarti bahwa merokok tak menimbulkan efek buruk bagi kesehatan? Nyamanlah kita. Bahkan kalau hasil temuan ilmiah itu dilibatkan dalam produksi keretek nasional kita, merokok justru menyehatkan. Kampanye global antikeretek, demi kesehatan masyarakat, menjadi perkara yang harus kita simak secara cermat, hati-hati, dan saksama, agar kita tak tertipu.

Di tahun 1960-an, kopra kita dikriminalisasi di Amerika Serikat, dituduh menimbulkan beban kolesterol dan kegemukan. Tapi kopra kita diolah dan diproduksi di sana, dengan keuntungan lebih besar. Sekarang ini produksi sawit kita juga diperlakukan begitu. Mereka culas, penipu besar, raksasa berkedok dewa penyelamat. Peduli apa bangsa kita dengan mereka? Bagi kita sekarang, bukan seperti pikiran ”subversif” yang bagus tadi: merokok atau tidak, ”let my body decides”.

Bukan itu lagi. Itu bagus dalam suatu konteks politik kebudayaan lain. Sekarang, dalam konteks ketika kita paham sepaham-pahamnya bahwa kampanye global antikeretek, hanyalah omong kosong belaka, karena intinya kepentingan bisnis untuk menguasai keretek nasional kita. Dengan demikian, jawaban kita sekarang lain, lebih tepat, lebih kontekstual, lebih bagus: merokok itu pilihan politik.

Saya bukan perokok. Tapi memasuki usia 58 tahun, saya merokok untuk dua hal: menghormati hasil temuan ilmiah Dr Gretha Zahar dan kegigihan Prof Dr Sutiman di laboratorium biologinya di Universitas Brawijaya Malang. Bagi saya, merokok sebagai pilihan politik juga berarti sikap melawan keserakahan yang tak bisa dibiarkan begitu saja dari pihak asing yang mengancam harkat ekonomi bangsa kita.

Jadi jelas: merokok itu pilihan politik. Merokok itu perlawanan terhadap penjajah ekonomi bangsa kita. Merokok itu, apa namanya bila bukan tanda semangat nasionalisme yang paling nyata? [FM]

Sumber : KORAN SINDO, 10 Februari 2014

Rabu, 03 Januari 2018

Pro Kontra Hukum Merokok

Tinjauan Sejarah

Rokok tidak dikenal dalam Islam awal. Konon, manusia pertama yang merokok adalah suku Indian di Amerika, sebagai ritual khusus memuja dewa atau roh. Di abad 16, saat Eropa menemukan benua Amerika, sebagian penjelajah ikut-ikutan mencoba menghisap rokok yang kemudian dibawa ke Eropa. Akhirnya, rokok menjadi tren di Eropa pada tahun 1492. Rodrigo De Jares mulai membuka pabrik rokok di Kuba, yang kemudian pada tahun 1556-1558 mulai diperkenalkan ke Prancis, Spanyol dan Portugal. Pada abad 17, para pedagang Spanyol masuk ke Turki, dan saat itu kebiasaan merokok mulai masuk ke negara-negara Islam.

Tinjauan Medis

Ijmâ' (konsensus) dokter-dokter di seluruh dunia tentang rokok adalah: rokok membahayakan. Ada beberapa jenis racun yang membahayakan pada perokok. Di antara efek yang dumunculkan adalah penyakit kanker, jantung, pernapasan, pencernaan, gangguan kehamilan, dan emfisema. Peringatan Pemerintah yang tercamtum pada bungkus rokok mewakili efek-efek yang dimunculkan rokok.

Racun yang terkandung dalam rokok kurang lebih 4000 elemen-elemen, dan setidaknya 200 di antaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida. Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru. Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen, dan mampu memicu kanker paru-paru yang mematikan. Karbon monoksida adalah zat yang mengikat hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen.

Sulitnya, ketika lingkungan sudah tercemari oleh asap rokok ternyata sangat berisiko terhadap perokok pasif. Sebuah riset di Inggris membuktikan bahwa lebih dari empat ribu orang Inggris terbunuh gara-gara menjadi perokok pasif setiap tahunnya. Angka ini membuat para ilmuan terhenyak dan memaksa profesionalisme kesehatan untuk memberlakuan larangan merokok di tempat-tempat hiburan, tempat-tempat umum maupun di kantor. Sebagian besar yang terkena kasus tersebut bukanlah perokok. Mereka hanyalah orang yang selalu berada di dekat perokok. Sekitar 3.000 orang meninggal dengan usia kurang dari 65 tahun dengan kangker paru-paru, penyakit jantung dan stroke.

Gambaran baru tentang angka-angka ini empat kali lebih tinggi daripada data sebelumnya. Menurut perkiraan sebelumnya, sekitar 1.000 orang di Inggris setiap tahunnya akan terbunuh hanya karena menghirup asap rokok. Ditambahkan lagi, lingkungan penuh asap rokok di pub, bar, restoran dan tempat umum lainnya benar-benar merusak pekerja serta orang lain.

Tinjauan Fikih

Terjadi perbedaan di kalangan fuqahâ' (para pakar fikih) terkait dengan hukum rokok; haram, mubah, dan makruh. Perbedaan ini lebih didasari karena rokok memang tidak pernah dikenal di Islam awal. Apalagi dalam kalangan fikih terjadi perbedaan dalam menentukan hukum asal dari suatu perkara, apakah halal atau haram. Di antara ulama yang mengatakan mubah adalah Syekh Ali al-Ajhuriy al-Malikiy. Bahkan ia menulis sebuah risalah yang menghukumi halal rokok, yang di dalamnya memuat fatwa-fatwa ulama dari kalangan empat madzhab. Imam al-Babili mengatakan bahwa esensi merokok hukumnya halal, sedangkan keharamannya disebabkan hal eksternal. Syekh Sulthan al-Mazzahi juga mengatakan demikian, rokok tidaklah sampai haram bahkan tidak Makruh, dan pendapat ini diperkuat oleh Imam Sabramallisi.

Sayid Abdul Ghani an-Nablusiy juga menghukumi mubah. Ia menulis sebuah riasalah berjudul ash-Shulhu Baina Ikhwân fî Ibâhahati Syurbid-Dukhân. Di sini an-Nablusiy menyerang ulama yang menghukumi haram atau makruh. Ia menulis, "Haram dan makruh adalah hukum syariah yang keduanya harus memiliki tedensi yang kuat, dan tidak ada dalil yang jelas mengenai rokok. Sebab, sifat memabukkan dan membahayakan pada rokok masih subyektif. Bahkan di dalamnya juga terdapat manfaat bagi penggunanya."

Senada dengan an-Nablusiy adalah asy-Syaukaniy dalam Irsyâdus-Sâ'il Ilâ Adilatil-Masâ'il. Karena tidak ada dalil yang jelas atas keharaman rokok, dan ia bukan benda yang memabukkan dan beracun, serta tidak membahayakan secara cepat atau lambat. Asy-Syaukani menulis, "Orang yang mengatakan rokok haram harus menampilkan argumennya dan tidak cukup hanya mengatakan kata ini dan itu."

Pernyataan asy-Syaukani ini mendapat reaksi dan ditanggapi oleh Abul 'Ala al-Mubarakfuri. Dalam Tuhfatul-Ahwadzi, al-Mubarakfuri mengatakan, memang betul bahwa asal dari setiap sesuatu adalah halal jika memang tidak ada dalil yang melatarinya. Akan tetapi jika memang benda itu memiliki dampak negatif secara cepat atau lambat, tentunya masalahnya lain. Kenyataannya, orang yang makan tembakau dan menghisap asapnya memiliki reaksi negatif yang cepat. Bahkan, al-Mubarakfuri menantang orang yang ragu tentang hal itu dengan disuruh memakan seperempat dirham atau seperenam dirham tembakau. Kemudian lihatlah reaksinya, bagaimana kepalanya akan mumet, pandangannya akan kabur dan tidak akan mampu mengerjakan sesuatu. Ia tak akan bisa berdiri atau berjalan. "Ini menjadi bukti jelas bahaya tembakau, tanpa diragukan lagi," tulis al-Mubarakfuri.

Setidaknya, al-Mubarakfuri mewakili ulama yang mengatakan rokok adalah haram. Di antara Imam yang juga keras memfatwakan haram adalah al-Qurthb Sayid Abdullah al-Haddad dan Allamah Ahmad al-Hadwan. Begitu juga al-Quthb Ahmad bin 'Umar bin Smith dan lainnya. Al-Habib al-Imam al-Husain bin asy-Syekh Abi Bakr bin Salim sangat melarang merokok. Beliau berkata, "'Aku khawatir para perokok yang tidak mau bertaubat sebelum meninggalnya mati dalam keadaan sû'ul khâtimah."

Hukum tengah dari dua kontrofersi ini adalah makruh, dan menurut Syekh Isma'il Zain yang mu'tamad di kalangan Syafi'iyah adalah Makruh Tanzîh. Setidaknya, mewakili ulama yang mengatakan hukum ini adalah Abu Sahal Muhammad bin al-Wa'idz al-Hanafi. Adapun alasan atas kemakruhan rokok lebih disebabkan hal-hal yang dimunculkan dari rokok, seperti bau tidak sedap, dapat melalaikan kepada ibadah dan menggunakan harta pada hal yang kurang bermanfaat. Al-Wa'idz kemudian berkomentar, "Dalil tentang kemakruhan rokok adalah qath'î (pasti), sedangkan dalil tentang keharamannya masih dzanni (spekulatif). Semua yang berbau tidak sedap adalah makruh. Bawang dan rokok termasuk di dalamnya."

Meski ulama berbeda pandangan antara halal dan haram, dan itu memang merupakan realita di kalangan madzhab empat, tapi jika ternyata penggunaan rokok menyebabkan terjadinya mudharat pada akal atau badan pemakainya, maka merokok haram baginya, sebagaimana haramnya madu bagi penderita panas yang dapat membahayakan pada tubuhnya. Dan, jika dijadikan obat, maka hukumnya boleh, bahkan bisa jadi sunat, sebagaimana berobat dengan benda najis.

Tinjauan Etika

Mungkin sementara waktu kita memiliki pandangan sesuai dengan khilafiyah di kalangan ulama, sehingga kita bisa beralasan mengikuti ulama yang menghukumi mubah. Namun ada sisi lain yang juga perlu diperhatikan ketika menyangkut hak orang lain yang mungkin terganggu dengan kepulan asap rokok yang dihembuskan. Dalam hal ini, menyakiti orang lain tentunya tidak ada kaitannya dengan hukum mubah menghisap rokok. Apalagi riset medis jelas membuktikan bahaya bagi perokok pasif.

Maka, sangat tepat sikap tegas pemerintah atas pelarangan merokok di tempat-tempat tertentu karena ada maslahah yang bersifat umum. Kejadian seperti ini pernah terjadi di Mesir. Wakil Presiden Mesir melarang rakyatnya untuk merokok di jalan umum dan kafe. Ternyata banyak orang yang menyalahai aturan pemerintah itu. Asy-Syarwaniy menghukumi wajib taat pada perintah imam yang melarang menghisap rokok di tempat-tempat tertentu. Asy-Syarwaniy menghukumi durhaka ('âshin) terhadap orang yang menyalahinya perintah tersebut. Demikian pula menurut al-Bujairamiy. Sebab, dalam pelarangan itu ada kemaslahatan umum.

Terlebih lagi, meski dalam fikih rokok dikenal khilâf, tapi pandangan etika ada beberapa catatan yang harus diperhatikan. Sebab, ulama juga sepakat bahwa merokok bisa melahirkan hukum haram disebabkan faktor eksternal. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Syekh Isma'il Utsman Zain, di antara faktor yang menyebabkan haramnya merokok adalah berada di depan orang yang membaca al-Qur'an, Hadits Nabi, di masjid, majlis ilmu atau di tempat-tempat yang dinilai sû'ul adab jika merokok.

Sumber : Buletin Sidogiri Pondok Pesantren Sidogiri