Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2009

Kapan Sayyidina Muhammad SAW Menjadi Nabi?

Ada yang bilang bahwa Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi sejak awal sebelum usia 40 tahun, bahkan sebelum Adam tercipta. Itu tidak benar. Nabi Muhammad jelas baru menjadi Nabi setelah berusia 40 tahun, sebelum itu belum menjadi Nabi meskipun sudah ada berbagai kejadian luar biasa yang menunjukkan bahwa beliau spesial. Kejadian luar biasa tersebut istilahnya irhash, bukan mukjizat sebab istilah mukjizat hanya bagi mereka yang telah diangkat menjadi Nabi saja. Hadis yang menceritakan bahwa beliau diangkat sebagai Nabi tatkala berusia 40 tahun cukup banyak. Di antaranya adalah: عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ، قالَ: «بُعِثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وهُوَ ابْنُ أرْبَعِينَ سَنَةً "Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah diangkat menjadi Nabi tatkala berusia 40 tahun"  Sebenarnya dalil di atas sudah cukup, tapi sebagian orang betul-betul meyakini sebelum Itu Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi meskipun belum mendapat wahyu pertamanya. Mereka juga menguatkan pendapatnya dengan beberapa hadis. Untuk itu per

Hati Yang Tawakal

Memahami hidup yang serba sulit ini, seseorang pada hakikatnya sedang mendalami keindahan-keindahan hidup yang ditakdirkan oleh Allah. Tak satupun manusia di dunia ini mengalami kesenangan atau kesusahan terus menerus tanpa batas. Apa artinya menikmati kebahagiaan tanpa pernah tahu apa itu kesusahan. Keduanya digilirkan kepada semua manusia baik yang miskin maupun yang kaya. Di dalam hatilah letaknya kebahagiaan, kuncinya adalah menerima setiap keadaan dengan lapang dada dan ikhlas. Jika kita tidak membiasakan sifat menerima segala keadaan dengan ikhlas di hati kita, maka hati kita akan dipenuhi dengan penyakit-penyakit hati yang membahayakan seperti pemarah, iri hati, dendam, pengadu domba dan sebagainya. Karenanya biasakanlah diri ini untuk selalu bertawakal kepada Allah dengan selalu bekerja dan beribadah kepadaNya. Maka celakalah seseorang yang mau beribadah kepada Allah dengan mempersyaratkan terpenuhinya hajat-hajat hidup di dunia. Tanpa kita mintapun seluruh hajat hidup kita tel

Ada apa dengan pengamen

Bila dalam perjalanan dari Pekalongan menuju Jakarta atau sebaliknya, harap waspadai keberadaan para pengamen yang berada di kota Cirebon-Gebang-Indramayu, terutama pada saat jalanan sedang macet karena adanya pelebaran jalan atau karena sebab lainnya. Kebanyakan mereka berkelompok empat atau lima orang dengan memamerkan tampang-tampang seram dan menyanyikan lagu-lagu pengamen jalanan yang tidak punya nilai estetika sama sekali. Ungkapan mereka dari pada mencuri atau merampok, dari pada nganggur tak punya pekerjaan karena ijasah selembar tak berguna apa-apa adalah ungkapan bohong dan palsu belaka. Merekalah manusia-manusia yang tidak mau dimanusiakan, menebar ketakutan dan kebrutalan berbalut premanisme dan keputusasaan. Wajah mereka tanpa cahaya, kecuali gelap dan kosong belaka. Masa depan mereka suram diiringi doa sumpah serapah dan laknat dari para penumpang bis kota jurusan Pekalongan Jakarta. Hak setiap orang untuk mengais rejeki dan hak setia orang untuk melakukan perjalanan deng

Merengkuh Gunung

Betapa besar cita-cita manusia, sebesar gunung yang tinggi menjulang. Bila diri ini mampu tentu akan digenggam tujuh lapis bumi dan tujuh lapis langit, hayalannya luas membentang menembus cakrawala, melintasi galaksi maha perkasa, menembus langit gaib, misteri dan maha gaib. Itulah manusia, tidak lebih kecil dari orang hutan dan tidak lebih besar dari kerbau yang dungu, tapi dengan otaknya mampu terbang  meninggalkan burung-burung, dan menyelami dasar samudra yang tidak pernah dijamah oleh ikan paus sekalipun. Tapi kesombongannya mampu meruntuhkan gunung tembaga pura dan memuntahkam lumpur panas dari dasar perut bumi. Dengan sekali klik, kota New York pun dapat diluluhkan menjadi bubur api dengan sebutir biji nuklir, dan dengan sekali klik, fitnah dan virus kehidupan tersebar bagai air bah di dunia maya, menyerang jantung kehidupan, membunuh hati nurani. Inilah kehidupan, manusia dengan segala kemampuannya boleh berbuat dan menjadi apa saja, menjadi baik atau buruk, beradab atau jahili

Intan

Memahami hidup, tergantung siapa yang menilai. Hidup seperti intan berlian, indah dan mahal harganya, juga sulit dan keras bila dipoles atau diasah. Dan bila kita memandang hidup, seperti memandang intan, terkena cahaya akan gemerlap berkilauan, tapi bila si buta yang memandang akan tampak tidak ada apa-apa, hanya gelap selamanya. Manusia jangan buta hatinya, memandang hidup tidak dengan penghayatan dan perasaan. Jadikan hidup ini indah dan berharga agar kita menikmati keberkahannya. Dan jadikan Tuhan sebagai sandaran, karena sorganya kehidupan Dia yang punya.  

HATI YANG TAWAKAL

Memahami hidup yang serba sulit ini, seseorang pada hakikatnya sedang mendalami keindahan-keindahan hidup yang ditakdirkan oleh Allah. Tak satupun manusia di dunia ini mengalami kesenangan atau kesusahan terus menerus tanpa batas. Apa artinya menikmati kebahagiaan tanpa pernah tahu apa itu kesusahan. Keduanya digilirkan kepada semua manusia baik yang miskin maupun yang kaya. Di dalam hatilah letaknya kebahagiaan, kuncinya adalah menerima setiap keadaan dengan lapang dada dan ikhlas. Jika kita tidak membiasakan sifat menerima segala keadaan dengan ikhlas di hati kita, maka hati kita akan dipenuhi dengan penyakit-penyakit hati yang membahayakan seperti pemarah, iri hati, dendam, pengadu domba dan sebagainya. Karenanya biasakanlah diri ini untuk selalu bertawakal kepada Allah dengan selalu bekerja dan beribadah kepadaNya. Maka celakalah seseorang yang mau beribadah kepada Allah dengan mempersyaratkan terpenuhinya hajat-hajat hidup di dunia. Tanpa kita mintapun seluruh hajat hidup kita tel

Ada apa dengan pengamen

Bila dalam perjalanan dari Pekalongan menuju Jakarta atau sebaliknya, harap waspadai keberadaan para pengamen yang berada di kota Cirebon-Gebang-Indramayu, terutama pada saat jalanan sedang macet karena adanya pelebaran jalan atau karena sebab lainnya. Kebanyakan mereka berkelompok empat atau lima orang dengan memamerkan tampang-tampang seram dan menyanyikan lagu-lagu pengamen jalanan yang tidak punya nilai estetika sama sekali. Ungkapan mereka dari pada mencuri atau merampok, dari pada nganggur tak punya pekerjaan karena ijasah selembar tak berguna apa-apa adalah ungkapan bohong dan palsu belaka. Merekalah manusia-manusia yang tidak mau dimanusiakan, menebar ketakutan dan kebrutalan berbalut premanisme dan keputusasaan. Wajah mereka tanpa cahaya, kecuali gelap dan kosong belaka. Masa depan mereka suram diiringi doa sumpah serapah dan laknat dari para penumpang bis kota jurusan Pekalongan Jakarta. Hak setiap orang untuk mengais rejeki dan hak setia orang untuk melakukan perjalanan deng

PECUNDANG

Di kegelapan menelusuri jalan bebatuan rembulan temaram tak lagi purnama srigala hutan melolong panjang ini ketakutan kian mencekam ini kegelapan untuk siapa jiwa merintih berkali-kali menjadi pecundang. Di sini saja di gua ini menjadi pertapa tua mengasah talenta bertabur kembang kemenyan ini mimpi mencari makna mencari kasih sayang hilang terbuang. Kepada anaku seorang doa asa mengiring fajar jangan putus asa buah hatiku ini hidup menggali hikmah bukan menggali kematian tanpa makna ! Pemalang 29 April 2009

PECUNDANG

Di kegelapan menelusuri jalan bebatuan rembulan temaram tak lagi purnama srigala hutan melolong panjang ini ketakutan kian mencekam ini kegelapan untuk siapa jiwa merintih berkali-kali menjadi pecundang. Di sini saja di gua ini menjadi pertapa tua mengasah talenta bertabur kembang kemenyan ini mimpi mencari makna mencari kasih sayang hilang terbuang. Kepada anaku seorang doa asa mengiring fajar jangan putus asa buah hatiku ini hidup menggali hikmah bukan menggali kematian tanpa makna ! Pemalang 29 April 2009

Belenggu

BELENGGU Bertahun-tahun tanganmu terbelenggu tanpa bisa mengurai ataupun mengeja huruf-huruf yang terpampang di dinding istanamu bahkan belenggu itupun membelenggu kebebasanku kemerdekaanku yang hakiki hingga aku tak dapat melihat atau meraba warna merah dan putih di balik bilik kamarku hingga aku ragu, seorang patriotis kah aku Biarpun terbelenggu tapi tanganmu memegang peluru aku takut kau di singgasana lupa diri lupa ingatan membunuh dirimu sendiri bahkan orang di belakangmu aku yang tak berdaya hanya bisa menyaksikan kau tertawa-tawa di antara orang-orang yang menjerit kesakitan Akulah saudaramu bapak kita dulu membesarkan kita kakek nenek kita dulu merawat para pejuang yang menjadi korban mereka sama-sama berdoa demi keadilan kemerdekaan dan kemakmuran Tapi biarpun tanganmu terbelenggu meriammu memenjarakanku ke balik dinding hingga aku tersisih dari mereka sesama pejuang pejuang hak asasi dan kemanusiaan mungkin sampai nanti aku mati dan orang-orang tak lagi menyanyikan lagu bagi

Kasih Sayang

KASIH SAYANG Sengaja aku melangkah menelusuri bukit dan lembah aku bagai burung kelaparan melihat rintihmu remuk redam kasihan kepadamu yang papa meminta bumi ini berkata ramah bilakah ada salju abadi tempat elang dan peri berbaris Andai kau tahu hari ini ada tangis itulah tangis bidadari yang menyesali kemerdekaan kemerdekaan tanpa kedamaian kemerdekaan tanpa bendera berkibar kemerdekaan tanpa makna Kasih sayang kau di manakah kini tempat dulu aku meminta memuja ini negeri mengapa hancur binasa di manakah kau sembunyikan kejujuran hanya ada satu nama tentang kemerdekaan itulah kedamaian kedamaian penuh kasih sayang Samong-Pemalang 16 Desember 1999 Dari album Bunga Seroja

Reformasi

REFORMASI Peluru itu telah dimuntahkan enam orang mahasiswa jatuh berguguran bersimbah darah di antara puluhan ribu rakyat yang mengeluh tak berarti permohonan maaf ratusan penjarah mati terpanggang dalam kurungan api amarah tumbal keserakahan ribuan gedung hancur berantakan puing-puing berserakan di sepanjang jalan menyisakan asap hitam membumbung sehitam perjalanan sejarah tak terlihat jelas siapa yang benar siapa yang salah tentarapun ragu mengarahkan laras senapannya kostrad marinir memasang mata curiga karena selama ini ternyata mereka menembaki kawan sendiri kawan sesama pejuang bangsa para pejuang reformasi Di antara perundingan para pejabat diskusi para politisi debat para birokrat tak jelas apa yang dibicarakan tak jelas apa yang diputuskan tiba-tiba terjadi amukan massa massa mengamuk seperti anak mengamuk pada bapaknya minta makan agar tak kelaparan minta baju agar tak kedinginan minta susu agar bayi tak kesakitan hari itu 14, 15, dan 16 mei tahun 1998 darah dan air mata mel

Cinta Dan Jiwa

CINTA DAN JIWA Jiwaku tiba-tiba bertanya ketika melihatmu seperti melihat diriku sendiri seperti itukah sebuah cinta merasa dan menikmati di antara dua hati Embun pagi telah larut dalam sinar mentari menguapkan titik-titik keringat yang tiada henti seonggok daging merintih perih di manakah cinta dan jiwa dapat disatukan seperti bersatunya anak dengan ibu bapaknya yang ada amarah karena kasih sayang yang ada tangis karena kebahagiaan Di sini di hati yang dingin ini ada jiwa yang menggigil bagai tersentuh salju yang abadi tapi ingin mencair menjadi aliran sungai yang bening melintasi bukit-bukit cadas mencapai samudra yang luas tapi di manakah cinta dan jiwa dapat di satukan agar dua hati menjadi satu jalinan kasih bebas mencurahkan perasaan dan kegalauan hati Jiwaku tak lagi bertanya-tanya ketika melihatmu seperti melihat diriku sendiri engkau bagaikan cermin yang bening mengajari kesabaran dan kejujuran itu mahal karena sekarang jarang ada jiwa mengagungkan kesabbran dan kejujuran di s

Istanaku

Istanaku tempat aku berbaring dan berteduh berdiri kokoh di puncak gunung pilar yang kokoh seakan menyangga langit singgasana emas lantai perak dinding bertabur permata istanaku bagai rumah dalam impian. Istanaku siapapun tahu di dalamnya bersemayam Raja dan Ratu akulah Sang Pangeran putra mahkota pewaris tahta kerajaan penuh kemewahan. Istanaku tempat para abdi mengabdi tempat para pejabat menghitung pajak tempat para permaisuri memajang kembang tempat rakyat kecil menyampaikan keluh kesah. Istanaku tapi kali ini dikudeta tak ada raja tak ada abdi tak ada pajak tak ada kembang istanaku terbakar istanaku hancur berantakan putra mahkota mati permaisuri binasa kerajaanku luluh lantak diterjang perang bratayudha Puing istanaku negeri jiwaku sukma laraku meratap menangis merintih betapa galaunya kehidupan ketika nafasnya terbagi-bagi antara pengabdian dan pendurhakaan ini jiwa merintih perih ketika anak negeri telah mewarisi kekayaan bukan kekayaan intan berlian, bukan tapi kekayaan kebodo

ALPA

Seutas benang engkau ulurkan dan engkau sulam menjadi sehelai kain yang terhampar pada hamparan itu engkau lukiskan jiwa kita dengan warna-warna yang indah. Ketika itu aku memberontak kekasihku aku alpa kau adalah punya bahasamu sendiri dan kau adalah punya duniamu sendiri yang tak dapat aku mengerti karena tak pernah kau mengajari aku mengeja arti guratan-guratan itu agar aku dapat memahami apa itu cinta dan apa itu kasih sayang. Seutas benang tak lagi engkau ulurkan tak ada lagi warna-warna yang kau lukiskan kain itu telag membaluti lukaku penuh bercak noda darahku darah perjuanganku darah peperangan melawan musuh-musuh bangsaku dan ketika itu engkau ucapkan, ....inilah selembar cintaku yang menghampar bersama kain suciku sesuci cintaku padamu pahlawanku.... Jakarta 21 Juli 1992

ISTANAKU

Istanaku tempat aku berbaring dan berteduh berdiri kokoh di puncak gunung pilar yang kokoh seakan menyangga langit singgasana emas lantai perak dinding bertabur permata istanaku bagai rumah dalam impian. Istanaku siapapun tahu di dalamnya bersemayam Raja dan Ratu akulah Sang Pangeran putra mahkota pewaris tahta kerajaan penuh kemewahan. Istanaku tempat para abdi mengabdi tempat para pejabat menghitung pajak tempat para permaisuri memajang kembang tempat rakyat kecil menyampaikan keluh kesah. Istanaku tapi kali ini dikudeta tak ada raja tak ada abdi tak ada pajak tak ada kembang istanaku terbakar istanaku hancur berantakan putra mahkota mati permaisuri binasa kerajaanku luluh lantak diterjang perang bratayudha Puing istanaku negeri jiwaku sukma laraku meratap menangis merintih betapa galaunya kehidupan ketika nafasnya terbagi-bagi antara pengabdian dan pendurhakaan ini jiwa merintih perih ketika anak negeri telah mewarisi kekayaan bukan kekayaan intan berlian, bukan tapi kekayaan kebodo

HIDUP

Hidup ini berjalan seperti air yang mengalir dari telaga perjalanannya membawa kita ke tempat yang jauh pada sebuah bibir samudra di sana kita bertemu dengan lautan yang maha luas. Kehidupan itu menapaki kerikil bebatuan menelusuri belantara yang gelap menerjang badai dan gelombang merambah padang ilalang yang gersang dan kita bersatu dalam suka dukanya antara menerima anugrah dan menikmati musibah. Nyawa ini mengirup segar udaranya kemudian lisan mengucap syukur Alhamdulillah betapa nikmat hidup diciptakan betapa sayang hidup dibuang-buang. Dalam sujud menghitung karuniaNYA dalam dzikir menghikmati keagunganNYA dalam keluh mengharap ampunanNYA . Pemalang 27 April 2009 -- MUHAMMAD FIRDAUS SYARIFUDDIN

PERJUANGAN

Bila Engkau ingin tahu bahwa hidup ini akan memberikan makna kepadamu, maka hikmatilah bahwa hidup ini adalah perjuangan, perjuangan di dalam sunyi, juga perjuangan di alam yang membara. Nafsu dan keinginanmu adalah api yang menyala-nyala, dengannya Engkau hidup, dan dengannya pula Engkau ditimpa kehancuran bila Engkau tidak mampu mengendalikannya. Ingatlah bahwa perjuangan paling berat adalah perjuangan melawan hawa nafsu dan perjuangan memelihara imanmu. Dan orang yang paling perkasa di antara kamu adalah orang-orang yang dapat mengalahkan hawa nafsunya. Untuk dapat mengalahkan hawa nafsu, lihatlah dirimu sendiri, bahwa Engkau hidup tak sendiri, Engkau punya Tuhan Yang Maha Kuasa, berbaktilah kepadaNya dengan sepenuh jiwa raga. Hidup di dunia ini adalah fana, laksana di tengah padang yang menghampar Engkau menanam, carilah bekal perjalanan menuju alam yang abadi, dan bekal yang harus Engkau miliki adalah menjalankan amanat Tuhan dengan hati yang ikhlas tanpa mengharap puji-pujian. Ja

Sunyi

Rembulan adalah penjelmaan sunyiku yang terlukis menjadi kata-kata Matahari adalah gelora jiwaku yang mengalir bersama desah nafas kecewaku Bintang-bintang adalah harapanku yang aku kepal menjadi bara api aku terkapar menggelepar tak setitik embun membekukan jiwaku. Aku akan tertawa menghikmati segala sunyiku tak hendak agar engkau tahu perjuanganku itu percuma untuk mencapai cinta kasihmu dan rembulan adalah penjelmaan sunyiku di saat engkau tiada lagi bersamaku. Jakarta 11 Juli 1992

Sunyi

Rembulan adalah penjelmaan sunyiku yang terlukis menjadi kata-kata Matahari adalah gelora jiwaku yang mengalir bersama desah nafas kecewaku Bintang-bintang adalah harapanku yang aku kepal menjadi bara api aku terkapar menggelepar tak setitik embun membekukan jiwaku. Aku akan tertawa menghikmati segala sunyiku tak hendak agar engkau tahu perjuanganku itu percuma untuk mencapai cinta kasihmu dan rembulan adalah penjelmaan sunyiku di saat engkau tiada lagi bersamaku. Jakarta 11 Juli 1992

SUNYI

Rembulan adalah penjelmaan sunyiku yang terlukis menjadi kata-kata Matahari adalah gelora jiwaku yang mengalir bersama desah nafas kecewaku Bintang-bintang adalah harapanku yang aku kepal menjadi bara api aku terkapar menggelepar tak setitik embun membekukan jiwaku. Aku akan tertawa menghikmati segala sunyiku tak hendak agar engkau tahu perjuanganku itu percuma untuk mencapai cinta kasihmu dan rembulan adalah penjelmaan sunyiku di saat engkau tiada lagi bersamaku. Jakarta 11 Juli 1992

Tuhanku

Hidupku adalah perjalanan laksana menuju sebuah cakrawala mestinya jiwaku melangkah hingga jauh menembus langiu dan warna hatiku adalah sebuah kerinduan yang dalam dan mestinya aku bertekad hati selain Engkau adalah cintaku tak mungkin. Dengarkanlah kerinduan-kerinduan ini yang menjadi desah kecewa dan tangis setiap hari hati ini adalah bunga-bunga cinta ada getarnya ada geloranya mestinya bukan suara lagu tapi tasbih yang mengalun abadi yang menelusuri darah, daging, dan relung sukma alunnya biar abadi tak lekang karena suka dan duka. Aku berjalan mencapaiMU inilah baktiku tiada rasa jemu inilah cintaku sekedar yang aku tanam dan aku sirami tiada mengelu keluh inilah pujanku sebatas kefasihan lisanku tiada aku kelu Tuhanku.... Jakarta 30 April 1992

Tuhanku

Hidupku adalah perjalanan laksana menuju sebuah cakrawala mestinya jiwaku melangkah hingga jauh menembus langiu dan warna hatiku adalah sebuah kerinduan yang dalam dan mestinya aku bertekad hati selain Engkau adalah cintaku tak mungkin. Dengarkanlah kerinduan-kerinduan ini yang menjadi desah kecewa dan tangis setiap hari hati ini adalah bunga-bunga cinta ada getarnya ada geloranya mestinya bukan suara lagu tapi tasbih yang mengalun abadi yang menelusuri darah, daging, dan relung sukma alunnya biar abadi tak lekang karena suka dan duka. Aku berjalan mencapaiMU inilah baktiku tiada rasa jemu inilah cintaku sekedar yang aku tanam dan aku sirami tiada mengelu keluh inilah pujanku sebatas kefasihan lisanku tiada aku kelu Tuhanku.... Jakarta 30 April 1992

PERTEMUAN

Di sini aku hadir sebagai insan berjiwa kembara mestinya tak ada duka dan keresahan walau hati begitu kering kerontang mestinya pula tak ada keluh kesah walau jasad ini dilanda lapar dan dahaga. Sesungguhnya semangatku masih membara karena darahku masih berwarna merah dan cita-citaku masih tegar menjulang karena tanganku masih kuat dan perkasa. Di sini aku hadir untuk mencampak kelelahan agar biru rinduku terlampiaskan sudah merengkuh sejuknya kasih sebening telaga. Kasih aku tak bermaksud menutupi kekecewaanku sungguh di sini aku hadir di sini pula ada pertemuan yang menjadi kenangan indah. Kosambi-Karawang 26 Juni 1992 Untuk Dear Nani

TUHANKU

Hidupku adalah perjalanan laksana menuju sebuah cakrawala mestinya jiwaku melangkah hingga jauh menembus langiu dan warna hatiku adalah sebuah kerinduan yang dalam dan mestinya aku bertekad hati selain Engkau adalah cintaku tak mungkin. Dengarkanlah kerinduan-kerinduan ini yang menjadi desah kecewa dan tangis setiap hari hati ini adalah bunga-bunga cinta ada getarnya ada geloranya mestinya bukan suara lagu tapi tasbih yang mengalun abadi yang menelusuri darah, daging, dan relung sukma alunnya biar abadi tak lekang karena suka dan duka. Aku berjalan mencapaiMU inilah baktiku tiada rasa jemu inilah cintaku sekedar yang aku tanam dan aku sirami tiada mengelu keluh inilah pujanku sebatas kefasihan lisanku tiada aku kelu Tuhanku.... Jakarta 30 April 1992

Lama Tak Berbicara

Membiarkanmu lama tak berbicara padahal hati ini resah menunggu kata-kata di mana ada suara terdiam di mana nyanyian berkumandang aku lelah menunggu engkau tiba. Aku ini nyanyian kepiluan meniti pematang hingga ujung petang aku menghiburmu hingga kau dapat tertawa tak peduli itulah sandiwara. Mengapa harus ada kata cinta kalau cinta yang suci tidak ada, mengapa harus ku teteskan darah dan air mata kalau sesungguhnya kita tak tahu hakikat perjuangan. Aku mengais sesuap nasi demi buah hati tercinta aku berkorban demi masa depan mereka aku menangis, itulah cinta yang sesungguhnya. Membiarkanmu lama tak berbicara padahal hati ini gundah bilakah terbit kecerahan tak peduli aku ini ada di mana tak peduli kaki ini melangkah ke mana, Tapi kau bicara dalam bahasa diam kau pasrah bagai daun bergoyang kau melambai meninggalkan kenangan kau hendak menggapai masa depan. Pemalang 29 Januari 2002

PIJAR

Di rengkuhanku memeluk gunung ketika anak itik menyibak air di ujung malu aku berlalu mengaca diri tiada berpunya di sepanjang jalan doa berkait mengiring elang mengarung angkasa di sepanjang jalan aku berfikir telah benarkah kaki ini melangkah di sepanjang jalan aku bertanya telah putihkah hitamnya sejarah di dada ini seakan meledak kalut berdebu bara berpijar... Begitu kelabukah perjalanan sejarah tak berguna setumpuk ijasah tak berguna secarik tanda tangan tak berguna selembar uang tak berguna satu-satunya nyawa. Perjalanan ini hendak kemana mencari asa berpijar coreng moreng darah bertumpah mengotori aspal yang bergelombang duh ! Andai saja diri ini punya teman tentu aku tak menjerit kesepian andai saja diri ini punya daya tentu kan ku pecahkan bukit-bukit karang. Perjalanan ini hendak ke mana mencari tambatan kokok ayam jantan telah bersahutan fajar telah bersinar azan subuh telah berkumandang nyanyian sunyi telah usai didendangkan angin pagi telah bertiup perlahan perjalanan ini

Lentera

LENTERA Ku acungkan lentera di antara mukaku dan mukamu kita sama-sama kehilangan arah perjalanan malam ini panjang dan berliku ular dan burung hantu berkeliaran di mana-mana mengintip dan mengancam jiwa menjadi ketakutan seperti hidup menjelang hancur binasa Lenteraku padam seketika ketika seekor kelelawar menyambar dengan garang aju berjalan mengendap-endap di kegelapan mencari dirimu yang hilang seketika ditelan malam gelap gulita. Duhai kegalauan hati ini makin gundah engkau hilang benar-benar hilang engkau musnah benar-benar musnah kalau kau masih ada tentu kau akan berkata begitu pula itu aku sangka karena engkau juga punya hati dan perasaan tapi aku terpuruk di lereng berbatu jatuh bergulingan perih dan berdarah sakit sungguh sakit sampai hingga aku tersadar ketika hari menjelang panas ketika air matamu menetes di mukaku berdebu Sudahlah itulah bisikanmu yang keluar dari hati penuh keluh malam telah berlalu tak sepantasnya kita rambah belantara malam berkabut di sana sepantasnya

LAMA TAK BERBICARA

Membiarkanmu lama tak berbicara padahal hati ini resah menunggu kata-kata di mana ada suara terdiam di mana nyanyian berkumandang aku lelah menunggu engkau tiba. Aku ini nyanyian kepiluan meniti pematang hingga ujung petang aku menghiburmu hingga kau dapat tertawa tak peduli itulah sandiwara. Mengapa harus ada kata cinta kalau cinta yang suci tidak ada, mengapa harus ku teteskan darah dan air mata kalau sesungguhnya kita tak tahu hakikat perjuangan. Aku mengais sesuap nasi demi buah hati tercinta aku berkorban demi masa depan mereka aku menangis, itulah cinta yang sesungguhnya. Membiarkanmu lama tak berbicara padahal hati ini gundah bilakah terbit kecerahan tak peduli aku ini ada di mana tak peduli kaki ini melangkah ke mana, Tapi kau bicara dalam bahasa diam kau pasrah bagai daun bergoyang kau melambai meninggalkan kenangan kau hendak menggapai masa depan. Pemalang 29 Januari 2002

MENGAPA

Mengapa tak kau katakan tidak ketika aku berkata tidak kepercayaan itu begitu teguh tapi kepercayaan itu luntur seketika ketika ku tahu kau menikamku dari belakang. Mengapa perjuangan itu berbuah nestapa ketika ku tahu kau menggunting dalam lipatan ini darahku ini tetes keringatku ini doaku air mataku remua untukmu demi keagunganmu. Kini aku mengerti aku bukan siapa-siapa bukan darah dagingmu bukan jiwa ragamu kau sentuh aku sekedar upah keringatku kau sapa aku sekedar pelipur laramu. Kini ku mengerti perjuangan tak selamanya begitu tak selamanya kau menindas aku tak selamanya memerah keringatku ini air mata kan berbicara demi darah dan dagingku demi jiwa ragaku walaupun kau tikam aku dari belakang tapi selamanya keadilan akan menang. Pemalang 29 Juli 2000

Menyibak Gelapnya Malam

MENYIBAK GELAPNYA MALAM Aku menyibak gelapnya malam padahal begitu lelah aku menekuninya ada setitik keraguan yang kemudian menyelinap seakan diri ini tak berarti dan makin tak berdaya Kalau tidak karena diri ini punya cinta telah aku tinggalkan gelapnya malam ini dengan mimpi-mimpi yang indah dan kulalui cakrawala dengan segenap hayalku yang melambung tinggi mencapai rinduku di ujung langit Ternyata cinta mengalahkan segalanya bisik rinduku melantun pelan berhembus menelusuri gelapnya malam lidah kelu melantun kata dan firman-firman sucipun tersenandungkan dari lorong-lorong kesunyian Inilah cinta inilah kerinduan untukMU yang Agung dan Abadi Tuhanku jangan tinggalkan aku dalam cinta dan kerinduan ini. Jakarta 9 Maret 1992

Menghayati Kemuliaan Ibu Dan Bapak

Tanggal 21 april selalu kita peringati sebagai Hari Kartini. Sebagai sosok Pahlawan Nasional yang kita banggakan terutama oleh kaum perempuan, kitapun selayaknya turut meneladani perjuangan beliau yang memperjuangkan nasib perempuan Indonesia untuk memiliki harkat dan martabat yang sejajar dengan kaum pria. Perempuan, sebagai makhluk Tuhan yang pada kodratnya diberi tugas untuk melahirkan, menyusui dan membina rumah tangga bersama sang suami, tentu tidak manusiawi kalau hak-hak sosial budayanya dalam kehidupan bermasyarakat dikebiri dalam tembok rumah yang tebal. Pada zaman penjajahan belanda dahulu, adat istiadat jawa mengharuskan seorang perempuan untuk selalu tinggal di rumah,melayani suami dan mengurus anak-anak tanpa diberi kebebasan untuk meniti karir di luar rumah sebagai pekerja di bidang pemerintahan, pendidikan maupun lain-lainnya. Bahkan kesempatan untuk memperoleh pendidikan pun tidak mereka dapatkan. Perempuan adalah kasta nomor dua yang tidak diutamakan di dalam segala bi

Surat Untuk Jack

Jumat, sepuluh oktober sembilan tujuh hari itu aku menyebut seuntai namamu hanya sepatah kata, Jack Jack yang dulu pernah menjadi sahabatku. Hari itu sungguh kelabu ada mendung bergulung tapi itu bukan pertanda akan turunnya hujan kemarau ini sungguh memanggang hidupku memaksaku merintih pada segenap jiwaku tapi tak ku katakan, ya untuk aku mengutuk keadaanku tapi ini sungguh menyiksa karena bukan hanya aku seorang menahan lapar dan dahaga bukan hanya itu di setiap sudut kota maut mengintip debu-debu bertebaran menyebarkan aroma penyakit pada manusia-manusia sesama bangsaku yang terjebak pada permahnan adu domba betapa lemahnya nasib manusia itu, Jack ! Lemah seperti seberkas kapas tertiup angin nestapa seperti seekor ayam teriris belati duhai, Jack ! Kau tahu bukan, berapa harganya sebuah kejujuran dan keadilan ? Keadilan itu ada di mata Tuhan apakah akan kau katakan Tuhan tak adil di tengah kegersangan ini ? Jack, mari kita berkaca diri tak ada yang lebih mulia bukan di antara kita ?

Kalau Cinta Hanya Sekedar Nyanyian

Kalau Cinta Hanya Sekedar Nyanyian Kalau cinta hanya sekedar nyanyian, tentu aku bisa melantunkannya kepada semua orang, tapi cinta itu bukan sekedar nyanyian. ketika cinta itu dapat dirasakan, adalah karena ia bersemayam di dalam dada, dan ketika ia dapat merasakan keindahannya, adalah karena cinta itu sebuah keindahan, bertutur budi adalah indah, berbelas kasih adalah indah, memuji adalah indah, dan sujud adalah indah, sujudmu adalah tanda cinta, dimana engkau merasakan indahnya ketidakberdayaan, jazadmu yang fana mengajarkan ketidaksombongan, jiwamu yang kekal mengajarkan ketaqwaan. Duhai sukma yang mengembara, yang mencaci maki kesusahan dan penderitaan, duhai sukma yang selalu berkata tidak, jika hendak berkehendak, tidakkah ini sebuah pengingkaran kata hati. Jika jiwa yang abadi ini merasa perkasa, dan kalau imanpun hanya sekedar nyanyian pula, tentu hati ini akan iri, melihat sepasang merpati yang terbang tinggi, membelah cakrawala, mengarungi angkasa, menelusuri lorong-lorong s

MENGHAYATI KEMULIAAN IBU DAN BAPAK

Tanggal 21 april selalu kita peringati sebagai Hari Kartini. Sebagai sosok Pahlawan Nasional yang kita banggakan terutama oleh kaum perempuan, kitapun selayaknya turut meneladani perjuangan beliau yang memperjuangkan nasib perempuan Indonesia untuk memiliki harkat dan martabat yang sejajar dengan kaum pria. Perempuan, sebagai makhluk Tuhan yang pada kodratnya diberi tugas untuk melahirkan, menyusui dan membina rumah tangga bersama sang suami, tentu tidak manusiawi kalau hak-hak sosial budayanya dalam kehidupan bermasyarakat dikebiri dalam tembok rumah yang tebal. Pada zaman penjajahan belanda dahulu, adat istiadat jawa mengharuskan seorang perempuan untuk selalu tinggal di rumah,melayani suami dan mengurus anak-anak tanpa diberi kebebasan untuk meniti karir di luar rumah sebagai pekerja di bidang pemerintahan, pendidikan maupun lain-lainnya. Bahkan kesempatan untuk memperoleh pendidikan pun tidak mereka dapatkan. Perempuan adalah kasta nomor dua yang tidak diutamakan di dalam segala bi

SURAT UNTUK JACK

Jumat, sepuluh oktober sembilan tujuh hari itu aku menyebut seuntai namamu hanya sepatah kata, Jack Jack yang dulu pernah menjadi sahabatku. Hari itu sungguh kelabu ada mendung bergulung tapi itu bukan pertanda akan turunnya hujan kemarau ini sungguh memanggang hidupku memaksaku merintih pada segenap jiwaku tapi tak ku katakan, ya untuk aku mengutuk keadaanku tapi ini sungguh menyiksa karena bukan hanya aku seorang menahan lapar dan dahaga bukan hanya itu di setiap sudut kota maut mengintip debu-debu bertebaran menyebarkan aroma penyakit pada manusia-manusia sesama bangsaku yang terjebak pada permahnan adu domba betapa lemahnya nasib manusia itu, Jack ! Lemah seperti seberkas kapas tertiup angin nestapa seperti seekor ayam teriris belati duhai, Jack ! Kau tahu bukan, berapa harganya sebuah kejujuran dan keadilan ? Keadilan itu ada di mata Tuhan apakah akan kau katakan Tuhan tak adil di tengah kegersangan ini ? Jack, mari kita berkaca diri tak ada yang lebih mulia bukan di antara kita ?

ALPA

Aku secarik kertas rindu dendam menoreh warna menyibak cakrawala melukis cinta dalam bait alpa. Betapa kejamnya hati manusia jiwa ini menjadi saksinya haruskah hati lemah jadi korban di antara semua orang yang mengaku pahlawan ? Aku hanyalah sebait alpa yang bernyanyi tentang kematian kematian pangkat kematian derajat kematian harta kematian air mata... Mencampak kematian hakiki kematian iman... Betapa berdayanya manusia ini namun sombong di antara sesama tapi betapa lemahnya manusia ini selalu dilanda resah dan gelisah. Duhai jiwaku yang bergelora duhai amarahku yang membabi buta duhai kecewaku yang berkepanjangan inilah iman kalau hendak engkau terjemahkan..!! Aku selalu kecewa dan menyesali diri lukisan cinta hanya nyata di hamparan kertas torehan warnanya hanya hanya tipu daya kesetiaan hanyalah alpa alpa... Pemalang 29 Juli 2000

Gugur Bunga

Telah gugur bunga itu tercampak dari ranting yang kering tak ada lagi tebaran aroma wangi bunga itu luruh ke bumi. Bungaku bunga rakyat bunga bangsa dipuja kaum miskin disanjung para bangsawan bungaku mati meninggalkan luka karena tikaman belati dari belakang oleh kawan sendiri. Bunga itu bunga bangsa dipuja orang sedunia tapi dihina kawan sendiri dia mati membawa luka luka kaum miskin dan sengsara. Bungaku kini menjadi pahlawan meski mati dia meninggalkan kenangan kenangan orang-orang dengki yang gila kekuasaan yang memimpikan kedudukan dan jabatan betapa sakit bungaku menahan tikaman ditanggung sendiri dirasakan sendiri. Bungaku telah gugur ke bumi mati ditikam kawan sendiri kawan yang gila jabatan kawan yang lupa daratan. 2 Februari 2001

GUGUR BUNGA

Telah gugur bunga itu tercampak dari ranting yang kering tak ada lagi tebaran aroma wangi bunga itu luruh ke bumi. Bungaku bunga rakyat bunga bangsa dipuja kaum miskin disanjung para bangsawan bungaku mati meninggalkan luka karena tikaman belati dari belakang oleh kawan sendiri. Bunga itu bunga bangsa dipuja orang sedunia tapi dihina kawan sendiri dia mati membawa luka luka kaum miskin dan sengsara. Bungaku kini menjadi pahlawan meski mati dia meninggalkan kenangan kenangan orang-orang dengki yang gila kekuasaan yang memimpikan kedudukan dan jabatan betapa sakit bungaku menahan tikaman ditanggung sendiri dirasakan sendiri. Bungaku telah gugur ke bumi mati ditikam kawan sendiri kawan yang gila jabatan kawan yang lupa daratan. 2 Februari 2001

Alamku

ALAMKU Alamku adalah bidadari yang menangis tak ada prenjak yang bernyanyi riang tiada tamu yang datang negeriku merintih pilu kembang-kembang gugur layu Amarah telah bangkit dari pertapaan mencengkram nurani remuk redam bukan kesaktian dia merajarela dia kesakitan membabi buta Alamku merintih diperkosa sungai kering berlumur janin-janin perawan daun kering berserakan di bukit menangisi pohon yang mati ambruk bertumbangan debu bertebaran membakar mata menjadi meradang kemudian buta Alamku adalah bidadari yang terkoyak darah manis diperah perut yang lapar tak sekedar lapar makan dan minuman sungguh lapar iman dan kebenaran Tak salah bidadari merintih seluruh persada terinjak kaki bernoda lukisan sejarah bertoreh jejak-jejak jahiliyah kini tak ada lagi pertapa tua kecuali kepasrahan kapan ditegakkan Alamku adalah bidadari yang menangis menyesali kodrat manusia yang hanya pandai menunjuk ke depan tanpa bisa menunjuk pada hati nurani sendiri sehingga manusia selalu bertanya kapan Ratu Adil

Ketika Gerimis Berkepanjangan

KETIKA GERIMIS BERKEPANJANGAN Ketika gerimis berkepanjangan biarkan aku basah kuyup menikmati dinginnya tak ada jalan lain bagiku selain meramahinya seperti burung yang berkicau menyambut mentari pagi seperti daun yang melambai ditiup angin biarkan aku ini menjadi bagiannya di antara orang-orang yang berkeluh kesah biarkan aku ini merdeka di antara orang-orang yang terbelenggu terjajah di sepanjang pematang ini perjalanan ini biarlah menjadi saksi tentang rindunya aku dengan sebuah kedamaian tanpa cibiran wajah-wajah muram biarlah aku ini tak menjadi bebanmu jikalau batin ini merasa menderita dan pandanglah kehidupan tanpa sebelah mata karena nikmat dan derita itu semuanya ujian KepadaMu Tuhan ketika gerimis ini masih berkepanjangan dalam kedinginan ini di manakah aku dapati kenikmatanku kenikmatan iman mensyukuri karuniaMu ketika aku dapati seorang perempuan berkeluh kesah tentang hidupnya yang tak berharta benda di manakah kasih sayangku dan ketika aku dapati seorang anak yatim yang

Senja

SENJA Senja ketika ku nikmati semilir angin di puncak tangga itu di seberang sana matahari semburatkan cahaya lembayung kau tahu di dada ini ada harapanku agar kau tak meninggalkan diriku. Kau tahu di dada ini ada cinta yang abadi di dada ini ada harapan yang suci senja itu jadi saksi ketika kau dan aku saling mengeluh saling mencurahkan perasaan di hati kemudian hujan turun deras sekali dan senjapun hilang berganti malam kau tahu ketika itu air mataku deras sekali menyesali cinta kita yang tak pernah tergapai seperti sebait puisi yang tak pernah menjadi prasasti kaupun pergi seperti angin yang semilir ini. Senja ketika tangga rumah ini telah tiada lagi rapuh ditelan lapuk kau tak pernah tahu ketika aku berjalan dan bersandar dari satu cinta ke lain cinta aku mengembara berkelana menelusuri debu berjuang mencari kesucian mencari kedamaian mencari kepastian seperti dulu pernah engkau ceritakan agar aku mencari sendiri kesucian itu ....tak ku dapatkan. Senja di sini aku meramahimu mereng

SENJA

SENJA Senja ketika ku nikmati semilir angin di puncak tangga itu di seberang sana matahari semburatkan cahaya lembayung kau tahu di dada ini ada harapanku agar kau tak meninggalkan diriku. Kau tahu di dada ini ada cinta yang abadi di dada ini ada harapan yang suci senja itu jadi saksi ketika kau dan aku saling mengeluh saling mencurahkan perasaan di hati kemudian hujan turun deras sekali dan senjapun hilang berganti malam kau tahu ketika itu air mataku deras sekali menyesali cinta kita yang tak pernah tergapai seperti sebait puisi yang tak pernah menjadi prasasti kaupun pergi seperti angin yang semilir ini. Senja ketika tangga rumah ini telah tiada lagi rapuh ditelan lapuk kau tak pernah tahu ketika aku berjalan dan bersandar dari satu cinta ke lain cinta aku mengembara berkelana menelusuri debu berjuang mencari kesucian mencari kedamaian mencari kepastian seperti dulu pernah engkau ceritakan agar aku mencari sendiri kesucian itu ....tak ku dapatkan. Senja di sini aku meramahimu mereng

Di Negeri Ini, Di Ngeri Ini

DI NEGERI INI DI NGERI INI Di negeri ini aku tak ingin bicara demokrasi setidaknya untuk kali ini apa lagi berbicara kekuasaan ...keuangan ...ketuhanan ...mengerikan !! Ini negeri dimana sepatah kata tak berarti lagi tidak seorang ratu bersabda apatah lagi orang jelata jangan dipaksakan belati untuk bersuara ketika hukum tak lagi menjadi payung di sini ada rakyat yang marah karena kekayaan hanyalah jaminan hutang belaka bukan menggadaikan negara, bukan ! tapi jiwa negara ini benar-benar merintih kesakitan aku hanya mencari panutan bukan orang pintar yang hanya pandai berbicara. Ini negeri ketika media TV dan koran menjadi Tuhan raja takluk pada sabdanya rakyat tunduk pada kebohongannya. Ini negeri ketika Tuhan yang sebenarnya didustakan kalau tidak untuk dikatakan apatriotis sebenarnya aku malu tinggal di negeri ini tapi di sini aku dilahirkan dan dibesarkan di sini pula Bapak Ibuku dimakamkan tapi di sini aku melihat kekuasaan... Keuangan ketuhanan begitu mengerikan di kengerian ini d

Suara

SUARA Aku dengarkan, kau seperti bersuara dari jauh menyampaikan salam. Seperti angin yang semilir kau belai rambut kering ini. Di beranda ini kemudian aku tercengang sudah lama kau telah tiada. Di taman itu aku tanam melati tapi tak pernah tumbuh kemarau ini begitu gersang jauh di lereng gunung hutan itu terbakar seperti kenangan itu yang membakar diriku harusnya aku suntingkan bunga itu di sela-sela rambut sutramu tapi hanya mimpi. Jauh di sana mungkin engkau menangis tapi aku tak tahu untuk siapa atau kenapa karena kau tak pernah terbuka. Aku dengarkan kau seperti bersuara sebuah salam tentang kerinduan tentang sepucuk doa tentang kepiluan tak berkesudahan. Suara itu hanya kau yang punya hanya aku yang mendengar....... Pemalang 19 Oktober 2002

DI NEGERI INI DI NGERI INI

DI NEGERI INI DI NGERI INI Di negeri ini aku tak ingin bicara demokrasi setidaknya untuk kali ini apa lagi berbicara kekuasaan ...keuangan ...ketuhanan ...mengerikan !! Ini negeri dimana sepatah kata tak berarti lagi tidak seorang ratu bersabda apatah lagi orang jelata jangan dipaksakan belati untuk bersuara ketika hukum tak lagi menjadi payung di sini ada rakyat yang marah karena kekayaan hanyalah jaminan hutang belaka bukan menggadaikan negara, bukan ! tapi jiwa negara ini benar-benar merintih kesakitan aku hanya mencari panutan bukan orang pintar yang hanya pandai berbicara. Ini negeri ketika media TV dan koran menjadi Tuhan raja takluk pada sabdanya rakyat tunduk pada kebohongannya. Ini negeri ketika Tuhan yang sebenarnya didustakan kalau tidak untuk dikatakan apatriotis sebenarnya aku malu tinggal di negeri ini tapi di sini aku dilahirkan dan dibesarkan di sini pula Bapak Ibuku dimakamkan tapi di sini aku melihat kekuasaan... Keuangan ketuhanan begitu mengerikan di kengerian ini d

SUARA

SUARA Aku dengarkan, kau seperti bersuara dari jauh menyampaikan salam. Seperti angin yang semilir kau belai rambut kering ini. Di beranda ini kemudian aku tercengang sudah lama kau telah tiada. Di taman itu aku tanam melati tapi tak pernah tumbuh kemarau ini begitu gersang jauh di lereng gunung hutan itu terbakar seperti kenangan itu yang membakar diriku harusnya aku suntingkan bunga itu di sela-sela rambut sutramu tapi hanya mimpi. Jauh di sana mungkin engkau menangis tapi aku tak tahu untuk siapa atau kenapa karena kau tak pernah terbuka. Aku dengarkan kau seperti bersuara sebuah salam tentang kerinduan tentang sepucuk doa tentang kepiluan tak berkesudahan. Suara itu hanya kau yang punya hanya aku yang mendengar....... Pemalang 19 Oktober 2002

Inilah Perjalanan

Inilah perjalanan hidup, kadang lucu tapi kadang ironis. Berangkat dari ketidaktahuan, belajar sedikit demi sedikit, menjadi pintar dan bijaksana. Tapi hati-hati karena salah memahami karunia, kita bisa terjebak dalam kesombongan dan kemungkaran

Inilah Perjalanan

Inilah perjalanan hidup, kadang lucu tapi kadang ironis. Berangkat dari ketidaktahuan, belajar sedikit demi sedikit, menjadi pintar dan bijaksana. Tapi hati-hati karena salah memahami karunia, kita bisa terjebak dalam kesombongan dan kemungkaran

Masih

Aku ini, kasih masih memendam rindu untukmu seorang tapi rasa itu begitu gelap Engkau adalah fatamorgana. Aku ini, kasih menyimpan cinta untukmu seorang tapi cinta itu seperti bayangan maya semakin aku mendekatinya semakin jauh Engkau tak terhingga. Di manakah cinta dan rindu aku sandarkan di bawah matahari senja ini aku mencari jawaban di manakah kedamaian kasih sayang ternyata Engkau hanyalah bayangan... Jakarta 28 Januari 1992

Masih

MASIH Aku ini, kasih masih memendam rindu untukmu seorang tapi rasa itu begitu gelap Engkau adalah fatamorgana. Aku ini, kasih menyimpan cinta untukmu seorang tapi cinta itu seperti bayangan maya semakin aku mendekatinya semakin jauh Engkau tak terhingga. Di manakah cinta dan rindu aku sandarkan di bawah matahari senja ini aku mencari jawaban di manakah kedamaian kasih sayang ternyata Engkau hanyalah bayangan... Jakarta 28 Januari 1992

CINTA YANG HILANG

CINTA YANG HILANG Rembulan sayu menatapku gelap malam begitu lengang tapi biduk cintaku terus melaju berlayar mengarungi telaga cintamu. Ternyata setitik cinta itu hancur mengapa cintaku itu kepadamu aku ingin malam ini aku agung ternyata aku tak lebih agung darimu. Engkau telah cemburu dalam lantun kataku yang tak berpuisi sesungguhnya akupun telah mengerti telaga biru cintamu tak bening lagi. Oh kekasih pujaan hati cinta ini tak berarti lagi rembulan sayu menatapku karena cintaku kepadamu kini tak berarti lagi

MASIH

MASIH Aku ini, kasih masih memendam rindu untukmu seorang tapi rasa itu begitu gelap Engkau adalah fatamorgana. Aku ini, kasih menyimpan cinta untukmu seorang tapi cinta itu seperti bayangan maya semakin aku mendekatinya semakin jauh Engkau tak terhingga. Di manakah cinta dan rindu aku sandarkan di bawah matahari senja ini aku mencari jawaban di manakah kedamaian kasih sayang ternyata Engkau hanyalah bayangan... Jakarta 28 Januari 1992

Cinta Dalam Kehidupan

Kekasihku ketika aku gersang engkau adalah embun yang menitik hingga aku sejuk dingin dan beku. Ketika aku beku engkau adalah mentari yang bercahaya hingga aku meluluh hangat dan mendidih. Ketika aku membara engkau adalah salju yang dingin putih dan lembut laksana kapas yang tipis laksana langit yang suci. Engkaulah mutiara hiasan hidupku di kala duka engkaulah rembulan temanku bercerita di kala kecewa engkaulah telaga biru tempat biduk cintaku berlabuh dari pengembaraan yang jauh. Jakarta 10 Mei 1992

Andai Aku Bisa Terbang

ANDAI AKU BISA TERBANG Andai aku bisa terbang, tentu tak kuarungi gelap hayalku untuk sekedar menyapa sunyimu, tentu kan kubawa Engkau mengarungi luasnya semesta, menyambangi bintang-bintang dan mengunjungi bibi-bibi bidadari untuk menyanyikan tembang kerinduan tentang surga, kapan dianugerahkan. Andai aku bisa terbang, tentu kan kupetik bunga-bunga nirwana. Kusunting di sela-sela rambut sutramu dan ku ambilkan air telaga langit agar kau reguk air-air kehidupan yang sejuk laksana embun dan cinta itu akan mekar subur tumbuh untuk selamanya. Tapi aku tidak bisa terbang daya tiada kata tiada sayapku patah-patah langkah kaki gontai diterjang gelombang aku memandangmu dari jauh di antara titik air mata bercucuran aku menyapamu dari jauh hanya bahasa isyarat menyapa kegersangan keramahan musim belum aku jelang untuk membawaku pada arti kelemahan dan keputusasaan. Aku memang tidak dapat terbang menyapamu hanya lewat angin malam membisikkan rindu semerdu nyanyi burung malam yang menunggu datan

CINTA DALAM KEHIDUPAN

CINTA DALAM KEHIDUPAN Kekasihku ketika aku gersang engkau adalah embun yang menitik hingga aku sejuk dingin dan beku. Ketika aku beku engkau adalah mentari yang bercahaya hingga aku meluluh hangat dan mendidih. Ketika aku membara engkau adalah salju yang dingin putih dan lembut laksana kapas yang tipis laksana langit yang suci. Engkaulah mutiara hiasan hidupku di kala duka engkaulah rembulan temanku bercerita di kala kecewa engkaulah telaga biru tempat biduk cintaku berlabuh dari pengembaraan yang jauh. Jakarta 10 Mei 1992

ANDAI AKU BISA TERBANG

ANDAI AKU BISA TERBANG Andai aku bisa terbang, tentu tak kuarungi gelap hayalku untuk sekedar menyapa sunyimu, tentu kan kubawa Engkau mengarungi luasnya semesta, menyambangi bintang-bintang dan mengunjungi bibi-bibi bidadari untuk menyanyikan tembang kerinduan tentang surga, kapan dianugerahkan. Andai aku bisa terbang, tentu kan kupetik bunga-bunga nirwana. Kusunting di sela-sela rambut sutramu dan ku ambilkan air telaga langit agar kau reguk air-air kehidupan yang sejuk laksana embun dan cinta itu akan mekar subur tumbuh untuk selamanya. Tapi aku tidak bisa terbang daya tiada kata tiada sayapku patah-patah langkah kaki gontai diterjang gelombang aku memandangmu dari jauh di antara titik air mata bercucuran aku menyapamu dari jauh hanya bahasa isyarat menyapa kegersangan keramahan musim belum aku jelang untuk membawaku pada arti kelemahan dan keputusasaan. Aku memang tidak dapat terbang menyapamu hanya lewat angin malam membisikkan rindu semerdu nyanyi burung malam yang menunggu datan

AQIDAH KITA

Aqidah kita adalah: Iman kepada Allah, iman kepada Malaikat, kitab-kitab suci yang diturunkan Allah, para rasul utusan Allah dan percaya kepada hari kiamat serta percaya pada qadar baik dan buruk. Kita meyakini rububiyah Allah SWT yaitu bahwa dialah Tuhan Yang Menjadikan,Memiliki dan Mengatur semua alam ini. Kita meyakini uluhiyah Allah SWT yaitu bahwa Dialah Tuhan yang Harus Disembah. Menyemah selain kepada Allah SWT adalah salah. Kita meyakini asma'-asma' dan sifat-sifat Allah SWT, yaitu nama-nama yang paling baik (Al asma' Al Husna) dan sifat-sifat yang sempurna seperti yang dituturkan dalam Al qur'an atau sepeti yang disampaikan oleh Rasul dalama hadisnya. ( bersambung )

Hukum Memakan Bekicot

Menjadi sebuah dilema ketika mempertimbangkan antara boleh dan tidaknya memakan daging bekicot. Dalam satu sisi ada yang menghalalkan, sedang di sisi yang lain mengharamkan. Ada pula yang hanya merasa jijik tanpa tahu menahu hukum tersebut, ada pula yang doyan dan getol dengan keunikan rasa daging bekicot. Bekicot memiliki nama latin Achatina fulica, ia berasal dari Afrika Timur dan menyebar ke hampir semua penjuru dunia akibat terbawa dalam perdagangan. Hewan ini memiliki tubuh yang lunak, sehingga digolongkan dengan kelompok hewan mollusca. Menurut Suwignyo (2005: 132), Bentuk cangkang bekicot pada umumnya seperti kerucut dari tabung yang melingkar seperti konde. Puncak kerucut merupakan bagian yang tertua, disebut apex. Bekicot memiliki kandungan gizi dan protein tinggi, dan mengandung asam amino esensial. Kandungan protein dalam 100 gram daging bekicot ada 57,08 gram, 3,34 gram lemak, 2,05 gram serat besar, 13,8 abu, 1,58 gram kalsium dan 1, 48 gram pospor. (Chaves, 1997 dalam Sovi

Hukum Memakan Bekicot

Menjadi sebuah dilema ketika mempertimbangkan antara boleh dan tidaknya memakan daging bekicot. Dalam satu sisi ada yang menghalalkan, sedang di sisi yang lain mengharamkan. Ada pula yang hanya merasa jijik tanpa tahu menahu hukum tersebut, ada pula yang doyan dan getol dengan keunikan rasa daging bekicot. Bekicot memiliki nama latin Achatina fulica, ia berasal dari Afrika Timur dan menyebar ke hampir semua penjuru dunia akibat terbawa dalam perdagangan. Hewan ini memiliki tubuh yang lunak, sehingga digolongkan dengan kelompok hewan mollusca. Menurut Suwignyo (2005: 132), Bentuk cangkang bekicot pada umumnya seperti kerucut dari tabung yang melingkar seperti konde. Puncak kerucut merupakan bagian yang tertua, disebut apex. Bekicot memiliki kandungan gizi dan protein tinggi, dan mengandung asam amino esensial. Kandungan protein dalam 100 gram daging bekicot ada 57,08 gram, 3,34 gram lemak, 2,05 gram serat besar, 13,8 abu, 1,58 gram kalsium dan 1, 48 gram pospor. (Chaves, 1997 dalam So

Surat Al Fatihah

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين الرحمن الرحيم ملك يوم الدين اياك نعبد واياك نستعين اهدنا الصراط المستقيم صراطالذ ين انعمت عليهم غيرالمغضوب عليهم ولضالين

Pembukaan

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين الرحمن الرحيم ملك يوم الدين اياك نعبد واياك نستعين اهدنا الصراط المستقيم صراطالذ ين انعمت عليهم غيرالمغضوب عليهم ولضالين

Peristiwa Lama

PERISTIWA LAMA Dalam kelam aku membujuk perasaan rindu tiada lagi dapat tertahan terburu-buru nafsu merayu kecewa dan sesal adalah tanda cinta. Tak sebaik cinta dari kata-kata kalimat merangkai melantunkan puisi rindu ini bagiku adalah sebuah prahara laksana cinta mati dimakan api. Sebenarnya itu adalah sebuah peristiwa lama luka yang pedih menjadi trauma tekad hati hendak membasuhnya namun hati dendam mencampak ketegarannya. Luka luka itu mengiringi kebahagiaan gelap malam ini bertambah kelam kecewa cinta itu terkubur dalam-dalam hari ini mengambil hikmahnya itulah kebijaksanaan. Ciputat-Jakarta 27 Januari 1992

Peristiwa Lama

PERISTIWA LAMA Dalam kelam aku membujuk perasaan rindu tiada lagi dapat tertahan terburu-buru nafsu merayu kecewa dan sesal adalah tanda cinta. Tak sebaik cinta dari kata-kata kalimat merangkai melantunkan puisi rindu ini bagiku adalah sebuah prahara laksana cinta mati dimakan api. Sebenarnya itu adalah sebuah peristiwa lama luka yang pedih menjadi trauma tekad hati hendak membasuhnya namun hati dendam mencampak ketegarannya. Luka luka itu mengiringi kebahagiaan gelap malam ini bertambah kelam kecewa cinta itu terkubur dalam-dalam hari ini mengambil hikmahnya itulah kebijaksanaan. Ciputat-Jakarta 27 Januari 1992

Belenggu

BELENGGU Bertahun-tahun tanganmu terbelenggu tanpa bisa mengurai ataupun mengeja huruf demi huruf yang terpajang di dinding istanamu bahkan belenggu itupun membelenggu kemerdekaanku hak kebebasanku yang paling hakiki hingga aku tak dapat melihat apalagi meraba warna merah dan putih di balik bilik kamarku hingga aku ragu, seorang tololkah aku ? Biarpun terbelenggu tapi tanganmu memegang kendali peluru aku takut di singgasana itu kau lupa diri lupa ingatan kau arahkan peluru itu membunuh dirimu dan orang-orang di belakangmu aku yang tak berdaya hanya bisa mendengar kau tertawa-tawa di antara orang-orang yang merintih kelaparan tanpa bisa melawan dan menadahkan tangan. Derita rakyatmu kau pikirkanlah jangan berpesta pora dengan dalil upacara kebesaran yang hanya seremonial kau dengan kekuasaanmu bertindaklah jangan terpaku pada belenggu yang membunuh rakyatmu akulah saudaramu bapak ibu dulu membesarkan kita dengan curahan kasih sayang kakek nenek kita dulu menjadi tumbal perjuangan sebelu

Belenggu

BELENGGU Bertahun-tahun tanganmu terbelenggu tanpa bisa mengurai ataupun mengeja huruf demi huruf yang terpajang di dinding istanamu bahkan belenggu itupun membelenggu kemerdekaanku hak kebebasanku yang paling hakiki hingga aku tak dapat melihat apalagi meraba warna merah dan putih di balik bilik kamarku hingga aku ragu, seorang tololkah aku ? Biarpun terbelenggu tapi tanganmu memegang kendali peluru aku takut di singgasana itu kau lupa diri lupa ingatan kau arahkan peluru itu membunuh dirimu dan orang-orang di belakangmu aku yang tak berdaya hanya bisa mendengar kau tertawa-tawa di antara orang-orang yang merintih kelaparan tanpa bisa melawan dan menadahkan tangan. Derita rakyatmu kau pikirkanlah jangan berpesta pora dengan dalil upacara kebesaran yang hanya seremonial kau dengan kekuasaanmu bertindaklah jangan terpaku pada belenggu yang membunuh rakyatmu akulah saudaramu bapak ibu dulu membesarkan kita dengan curahan kasih sayang kakek nenek kita dulu me

Tinggi-Tinggi

TINGGI-TINGGI Kibarkanlah benderamu tinggi-tinggi seperti hendak mencapai puncak langit cumbuilah bidadari-bidadari itu di balik mega dan pekikkanlah kata-kata merdeka ! Seperti dulu kakek nenekmu pernah berperang mereka mengangkat stambul tinggi-tinggi mempertaruhkan nyawa yang berharga mati karena mati itu tidak sia-sia Tapi sanggup berkata apa kau sekarang ? Harta tiada, kemerdekaan tiada tanganmu terbelenggu, jiwamu terpasung ini negeri menangis merintih-rintih menjerit tapi penuh makna tak pasti setetes darah dan setitik air mata bidadari itu ibu pertiwi itu tak berarti untuk menutupi lukamu Kibarkanlah benderamu tinggi-tinggi sebelum sukmamu di jemput mati mati itu sungguh sia-sia karena kau tak tahu apa arti pengorbanan itu negeri ini merindukan kedamaian tapi kau ciptakan kepongahan rakyat ini mendambakan kemerdekaan tapi kau ciptakan peperangan ini negeri hancur binasa sebelum rakyat tahu apa arti adil dan kemakmuran negeri ini terlanjur terkoyak sebelum kau tahu apa arti pers

Tinggi-Tinggi

TINGGI-TINGGI Kibarkanlah benderamu tinggi-tinggi seperti hendak mencapai puncak langit cumbuilah bidadari-bidadari itu di balik mega dan pekikkanlah kata-kata merdeka ! Seperti dulu kakek nenekmu pernah berperang mereka mengangkat stambul tinggi-tinggi mempertaruhkan nyawa yang berharga mati karena mati itu tidak sia-sia Tapi sanggup berkata apa kau sekarang ? Harta tiada, kemerdekaan tiada tanganmu terbelenggu, jiwamu terpasung ini negeri menangis merintih-rintih menjerit tapi penuh makna tak pasti setetes darah dan setitik air mata bidadari itu ibu pertiwi itu tak berarti untuk menutupi lukamu Kibarkanlah benderamu tinggi-tinggi sebelum sukmamu di jemput mati mati itu sungguh sia-sia karena kau tak tahu apa arti pengorbanan itu negeri ini merindukan kedamaian tapi kau ciptakan kepongahan rakyat ini mendambakan kemerdekaan tapi kau ciptakan peperangan ini negeri hancur binasa sebelum rakyat tahu apa arti adil dan kemakmuran negeri ini terlanjur terkoyak se

Aku Di Sini Untuk Apa ?

AKU DI SINI UNTUK APA ? ...mengapa masih bimbang ? Seperti helaan nafas setiap detik yang tidak pernah kita sadari , kehidupan ini telah membawa kita di sini , di pagi ini , di situs ini , di kebahagiaan ini dan di kesusahan ini , bercampur menjadi satu yang berwarna-warni. kita tidak mengerti apa pendapat orang bila melihat warna lukisan hidup ini , apa seperti pelangi atau gambar abstrak yang sulit dimengerti. Bila saja kita dapat memilih , tentu akan kita pilih kehidupan sebagai anak orang kaya , berlimpah harta dan kasih sayang , beramal dan bersedekah pada fakir miskin , mempersiapkan pada anak cucu tujuh keturunan kita agar dapat mewarisi kekayaan kita dan meneruskan kehormatan kita. Dan ini hidup , perjalanan hidupnya telah membawa kita pada suatu tempat dan tujuan yang terkadang di luar keinginan kita. Dan inilah hidup , punya problem dan teka-teki , kita disuruh menghadapinya , antara kemalasan dan keterpaksaan , antara tanggtng jawab dan pengkianatan , hidup kemudian menjadi

السلام عليكم ورحمة‎ ‎الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين الرحمن الرحيم ملك يوم الدين اياك نعبد واياك نستعين اهدنا الصراط المستقيم صراطالذ ين انعمت عليهم غيرالمغضوب عليهم ولضالي ن Selamat Dstang di situs www.forummislom.org Islam adslah Indah Semoga Allah te tap mencurahkan keberkahanNya Kepada Umat Islam

السلام عليكم ورحمة‎ ‎الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين الرحمن الرحيم ملك يوم الدين اياك نعبد واياك نستعين اهدنا الصراط المستقيم صراطالذ ين انعمت عليهم غيرالمغضوب عليهم ولضالي ن Selamat Dstang di situs www.forummislom.org Islam adslah Indah Semoga Allah te tap mencurahkan keberkahanNya Kepada Umat Islam

Yang Tersisa Dari Sebuah Perjuangan

YANG TERSISA DARI SEBUAH PERJUANGAN Setelah berhari-hari kita melalui perjalanan panjang dan berliku, menyeka keringat di kening dan muka yang mulai kusut, barulah kita menyadari bahwa hidup ini banyak teka-teki yang kadangkala amat sulit dimengerti. Umur berpuluh-puluh telah kita habiskan,antara makan dan buang hajat yang selalu berulang,usus dan lambung yang tak berhenti menghisap saripati bumi,umurku,umurku,umurku, tinggal berapa hari lagi. Jangan lagi menghiaskan tampang yng lucu,ini hidup sedang meniti perjanjian abadi antara ruh dan Allah,beberapa kata dan kalimat menghasilkan dosa dan pahala, bahkan setiap hembusan nafas dipertanyakan tanggung jawabnya. Kali ini kita tidak bisa ingkar, lidah selalu mengecap getir dan kenikmatan, tangan meraih dan mencampakkan, di ujung sana sahabat banyak yang telah mati, di sini kita menikmati beberapa banyak karunia tanpa pernah bersyukur dan bersujud sambil mengucapkan Alhamdulillah.. Pantaskah kita disebut mulia padahal kita manusia paling i

Yang Tersisa Dari Sebuah Perjuangan

YANG TERSISA DARI SEBUAH PERJUANGAN Setelah berhari-hari kita melalui perjalanan panjang dan berliku, menyeka keringat di kening dan muka yang mulai kusut, barulah kita menyadari bahwa hidup ini banyak teka-teki yang kadangkala amat sulit dimengerti. Umur berpuluh-puluh telah kita habiskan,antara makan dan buang hajat yang selalu berulang,usus dan lambung yang tak berhenti menghisap saripati bumi,umurku,umurku,umurku, tinggal berapa hari lagi. Jangan lagi menghiaskan tampang yng lucu,ini hidup sedang meniti perjanjian abadi antara ruh dan Allah,beberapa kata dan kalimat menghasilkan dosa dan pahala, bahkan setiap hembusan nafas dipertanyakan tanggung jawabnya. Kali ini kita tidak bisa ingkar, lidah selalu mengecap getir dan kenikmatan, tangan meraih dan mencampakkan, di ujung sana sahabat banyak yang telah mati, di sini kita menikmati beberapa banyak karunia tanpa pernah bersyukur dan bersujud sambil mengucapkan Alhamdulillah.. Pantaskah kita disebut mulia padahal kita manusia pal

Khalwat

Ada sesal sejenak Engkau tiba terlanjur aku terpuruk bernama nafsu Engkau memburunya dikatakan , itu derita. Prasangka bertahta tak mungkin jua Engkau dapatkan aku karena cinta itu terpetak-petak terlanjur aku terpuruk di dalamnya terlanjur kau tak kan dapat mencapaiku untuk bersatu di dalamnya. Mungkin ini awal dihempaskannya aku dari kesucian sukma dicampak jauh sukma itu menjauhi badan. Duh Gusti, bukan Kau yang mesti memburuku karena rasa cinta kasih Mu, akulah yang mesti merindukanMu. Duh Gusti, beri aku waktu sedetik lagi untuk mencampak prasangka di dada ini biar cinta itu mengalir mengalirkan air cinta sebening telaga dari surga suciMu dan kelak Kau katakan itu kebahagiaan. Duh Gusti inilah cintaku, yang tak terpetak-petak

Khalwat

Ada sesal sejenak Engkau tiba terlanjur aku terpuruk bernama nafsu Engkau memburunya dikatakan , itu derita. Prasangka bertahta tak mungkin jua Engkau dapatkan aku karena cinta itu terpetak-petak terlanjur aku terpuruk di dalamnya terlanjur kau tak kan dapat mencapaiku untuk bersatu di dalamnya. Mungkin ini awal dihempaskannya aku dari kesucian sukma dicampak jauh sukma itu menjauhi badan. Duh Gusti, bukan Kau yang mesti memburuku karena rasa cinta kasih Mu, akulah yang mesti merindukanMu. Duh Gusti, beri aku waktu sedetik lagi untuk mencampak prasangka di dada ini biar cinta itu mengalir mengalirkan air cinta sebening telaga dari surga suciMu dan kelak Kau katakan itu kebahagiaan. Duh Gusti inilah cintaku, yang tak terpetak-petak

Merajut Harapan

Dalam kehidupan ini, meski mengalami berbagai kesulitan kita pantang menyerah dan berputus asa. Masih ada hari esok untuk kita berbuat dan menyusun harapan-harapan yang lebih baik. Dan untuk mencapai kesuksesan , kitapun harus berani mengeluarkan waktu dan biaya , karena tidak ada kesuksesan yang diterima secara gratis tanpa pengorbanan.

Dalam Sujudku

Dalam sujudku rinduku jadi bayang-bayang racuni aku hingga jadi mabuk Engkau tak peduli aku terkapar Engkau terbang tinggi meninggalkan aku sendiri. Engkau menjadi tumpuan rinduku setitik cinta masih menyalakan bara tapi Engkau terbang semakin tinggi seakan membiarkan aku menjemput mati. Oh, dalam sujudku ternyata masih juga aku setitik kealpaan cinta tergambar penuh prasangka dengan lukisan-lukisan yang berdebu. Jangan tinggalkan aku Tuhanku beri kesempatan aku beristighfar meski sedetik saja agar dapat kubasuh hatiku meninggalkan alpaku mencampak debu-debu yang berlumur di sekujur tubuhku. Tebet Jakarta 9 Januari 1992

Dalam Sujudku

Dalam sujudku rinduku jadi bayang-bayang racuni aku hingga jadi mabuk Engkau tak peduli aku terkapar Engkau terbang tinggi meninggalkan aku sendiri. Engkau menjadi tumpuan rinduku setitik cinta masih menyalakan bara tapi Engkau terbang semakin tinggi seakan membiarkan aku menjemput mati. Oh, dalam sujudku ternyata masih juga aku setitik kealpaan cinta tergambar penuh prasangka dengan lukisan-lukisan yang berdebu. Jangan tinggalkan aku Tuhanku beri kesempatan aku beristighfar meski sedetik saja agar dapat kubasuh hatiku meninggalkan alpaku mencampak debu-debu yang berlumur di sekujur tubuhku. Tebet Jakarta 9 Januari 1992

Sekarang

SEKARANG Sekarang kita mulai lagi dari awal, perjuangan dan pembangunan negara yang porak poranda, seperti dulu ketika Bung Karno dan Bung Hatta baru memproklamirkan kemerdekaan. Tapi dulu rakyat bersuka cita menyambut kemerdekaan, tak seperti sekarang rakyat bersedih dan menderita, di mana-mana orang bahkan pejabat berbicara dan bercerita tentang hutang, berkata penuh harap tentang korupsi dan kolusi dapat diberantas, ini tanah merdeka aneh tapi nyata, menderita kelaparan padahal alam subur makmur, terbelenggu hutang padahal alam kaya raya, bagaimana aku bisa percaya kemakmuran akan merata, sedangkan harta negara dikuasai segelintir orang, ini tanah merdeka tapi jiwa rakyat terbelenggu dan terjajah, ini tanah kaya tapi jiwa rakyat miskin terlunta-lunta, ini tanah nusantara raya tapi negara seperti dalam neraka.. Di mana ada kedamaian ? Semua orang menggelengkan kepala, kapan anak-anak bangsa menghirup angin segar kemerdekaan, sedangkan tanah ini seperti negeri antah