Tampilkan postingan dengan label Oase Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase Iman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Mei 2010

Allah




Allah yang maha pengasih dan penyayang.  

 Allah tempat ku bergantung dan berharap.   

Allah aku memuji dan memuja.   

Allah cengkramlah jiwa raga.   

Allah jangan biarkan aku merana.   Allah, telah lelah jiwa raga. Tapi Kau berfirman : jangan putus asa.  

 Allah Malik Karim.  

Sabtu, 27 Maret 2010

Membangun Kesalehan Personal dan Sosial



“Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj: 77)
Ayat ini merupakan ayat kedua terakhir dari surah yang unik dan istimewa, surah al-Hajj. Dikatakan surah yang unik karena sebagian ulama tafsir menggolongkan surah ini ke dalam kategori surah  Makkiyah, namun sebagian yang lain justru sebaliknya menggolongkannya ke dalam kategori surah Madaniyah. Surah ini juga unik karena di dalamnya ada dua ayat sajdah, yaitu ayat 18 dan ayat ini seperti yang di pahami dari sebuah riwayat dari Uqbah bin Amir:
”Keutamaan surah al-Hajj karena terdapat dua ayat sajdah padanya. Barangsiapa yang tidak bersujud pada keduanya, janganlah ia membaca surah ini.” (HR. at-Tarmidzi dan Abu Dawud)
Ayat ini menggambarkan secara ringkas manhaj Allah SWT untuk manusia dan beban taklif  bagi mereka agar mendapatkan keselamatan dan kemenangan. Ia di awali dengan perintah untuk rukuk dan sujud yang merupakan gambaran gerakan  shalat yang tampak dan jelas, dilanjutkan dengan perintah untuk beribadah secara umum yang meliputi segala gerakan, amal dan pikiran yang di tujukan hanya kepada Allah SWT sehingga segala aktivitas manusia bisa beralih menjadi ibadah bila hati ditujukan hanya kepada Allah SWT bahkan Kenikmatan-kenikmatan dari kelezatan hidup dunia yang dirasakannya dapat bernilai ibadah yang di tulis sebagai  pahala amal baik .
Ayat ini di tutup dengan perintah berbuat baik secara umum dalam hubungan horizontal dengan manusia setelah perintah untuk membangun hubungan vertikal dengan Allah SWT, dalam shalat dan ibadah lainnya. Oleh sebab itu, perintah ibadah dimaksudkan  agar umat Islam selalu terhubung dengan Allah SWT sehingga kehidupan berdiri di atas fondasi yang kukuh dan jalur yang dapat membawa kepada-Nya. Sedangkan perintah untuk melakukan kebaikan, dapat membangkitkan kehidupan yang istiqamah dan kehidupan masyarakat yang penuh dengan suasana kasih sayang.
Perintah ini dipertegas kembali di akhir surah al-Hajj, bahwa umat Islam akan mampu mempertahankan eksistensinya  sebagai umat pilihan dan sebagai  saksi atas umat yang lain manakala mampu membina  hubungan baik dengan Allah SWT dan membina hubungan baik sesama manusia:
”Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (AL-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, Dialah sebaik-baik pelindung dan Sebaik-baik penolong.” (QS. al-Hajj:78)
Pada ayat di atas, Allah SWT memberi perintah kepada orang beriman agar mampu membangun kesalehan personal dan sosial  secara bersamaan agar senantiasa dalam kemenangan, rukuk dan sujud merupakan cermin tertinggi dari pengabdian seseorang kepada Allah SWT, sedang ”berbuatlah kebaikan” merupakan indikasi kesalehan sosial.
Secara redaksional  dalam urutan perintah ayat di atas, ternyata Allah SWT mendahulukan kesalehan personal dari kesalehan sosial. Ini berarti bahwa untuk membangun kesalehan sosial, harus dimulai dengan kesalehan personal. Atau kesalehan personal akan memberikan kekuatan untuk saleh juga secara sosial. Bahkan seluruh perintah beribadah kepada Allah SWT dimaksudkan agar lahir darinya kesalehan sosial, seperti shalat misalnya, bagaimana ia bisa mencegah dari perbuatan keji dan munkar:
“Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan)  keji dan munkar.” (QS. Al Ankabut : 45)
Kisah yang diabadikan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya bagaimana seorang wanita yang saleh secara personal yang diwujudkan dengan ibadah shalat, puasa dan ibadah mahdhah lainnya namun ternyata Rasulullah SAW menyatakan bahwa ia dalam neraka. Karena ternyata kesalehan itu tidak membawanya menuju kesalehan sosial, bahkan ia cenderung tidak mampu menjaga lisannya dari tidak melukai hati orang lain.
Dalam tataran tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, terdapat beberapa hubungan dan korelasi (munasabah) yang sangat erat antara kesalehan personal dan sosial dengan nilai-nilai mulia dari ajaran Islam. Untuk menggapai predikat ihsan misalnya, seseorang dituntut untuk mampu sholeh secara individu dan sosial yang diwakili dengan shalat malam dan berinfak,
“Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat : 16-19)
Ibnu Asyur mengomentari ayat ini dengan menjelaskan bahwa dua bentuk amal inilah yang sangat berat untuk dilakukan karena: pertama, bangun malam merupakan sesuatu yang sangat berat karena mengganggu istirahat seseorang. Padahal amal itu merupakan amal yang paling utama untuk membangun kesalehan personal seseorang. Kedua, amal yang melibatkan harta terkadang sangat sukar untuk dipenuhi karena manusia pada dasarnya memiliki sifat kikir dengan sangat mencintai hartanya. Di sinilah Allah SWT menguji kesalehan sosial seseorang dengan memintanya untuk mengeluarkan sebagian harta untuk mereka yang membutuhkan.
Nilai lain yang terkait dengan dua kesalehan ini, adalah sebab utama yang paling banyak menjerumuskan seseorang ke dalam neraka karena tidak mampu membentengi diri dengan dua kesalehan tersebut, seperti pernyataan jujur penghuni neraka yang diabadikan Allah SWT dalam firman-Nya,
“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab, ’Kami dahulu tidak termasuk  orang-orang yang mengerjakan shalat dan kami tidak pula memberi makan orang miskin dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya.” (QS. Al-Mudatsir : 42-45)
Resep agar tidak bersifat keluh kesah lagi kikir juga sangat terkait dengan kemampuan seseorang membangun dalam dirinya dua kesalehan tersebut secara simultan. Allah SWT memberi jaminan,
“Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang miskin yang meminta dan orang yang tidak memiliki apa-apa (yang tidak mau meminta).” (QS. Al-Ma’arij : 22-25)
Berapa banyak dari umat ini yang hanya mementingkan saleh secara sosial tapi lupa akan hubungan baik dengan Allah SWT. Sebaliknya, banyak juga yang saleh secara personal namun ketika berhadapan dengan sosial, ia larut dan tidak mampu membangun kesalehan di tengah-tengah  mereka. Sungguh umat ini sangat membutuhkan kehadiran komunitas yang saleh secara personal, dalam arti mampu menjaga hubungan baik dengan Allah SWT. Saleh secara sosial dalam arti mampu memelihara hubungan baik dan memberi kebaikan dan manfaat yang besar bagi kemanusiaan. (Allahu a’lam)

Jumat, 26 Februari 2010

Meminta, Mengharap dan Menghiba


Allah,
di antara gerimis dan malam sunyi,
di antara lelah dan keluh kesah,
lelah bekerja seharian
demi keluarga tercinta

Allah,
bukankah daya ini karuniaMu ?
Dengannya aku memuji
bersujud dan berdzikir,
kemudian Kau tambahkan dayaku lagi,
dengannya aku bekerja, berjalan dan berlari

Allah,
tapi aku tetap meminta, meratap dan menghiba
sampai aku tak dapat meminta lagi.


Minggu, 31 Januari 2010

Ridho



Kadang kita ridho dengan keadaan diri kita sendiri karena belajar
meridhoi apa yang telah menjadi ketetapan Ilahi.

Tapi apakah orang-orang tercinta juga meridhoi keridhoan kita dan
memaafkan segala kelemahan dan kekurangan kita ?

Sesungguhnya kita tidak bahagia karena tidak ridho dengan ketetapan
Ilahi, dan kita membelenggu diri sendiri dengan keinginan-keinginan
yang tak pasti.


Ikhlas




Kebahagiaan terletak di dalam hati, dan dia harus diusahakan, harus
diciptakan.

Kita bahagia karena melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kata hati.
Tetapi terkadang kita melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kata
hati karena demi membahagiakan orang lain, dan hati kita menjadi
tertekan. Itulah yang menjadi dasar ditumbuhkannya perasaan ikhlas pada
diri kita, dan itulah yang dinamakan pengorbanan dan pengabdian.






Keterangan gambar : Istri dan anak tercinta

Minggu, 24 Januari 2010

Pecah Batu Pecah Kerikil




Zaman,
telah berganti zaman
zaman,
menorehkan langkah kaki menjadi sejarah
kabut tipis yang menyelimuti bebatuan
menjelang gerimis di keremangan senja
bebatuan tua terkikis angin
bebatuan tua terlindas zaman.

Zaman,
telah pecah batu hancur berantakan
bukan hancur sedikit demi sedikit
zaman telah mengajakku bicara
tentang keresahan dan keputusasan
padahal aku hanya kerikil
tajam dan berduri.

Zaman,
telah hancur batu berserakan
hampir padam api kemarahan
kerikil-kerikil putus asa
benar, putus asa
menjadi debu berkalang tanah.

Zaman,
dibawah kakiku menyala api neraka
kemana aku menghindar
kemana aku berlari
padahal surga adalah negeri impian
ketika aku bersumpah jabatan
untuk adil dan bijaksana !

Zaman !
Kemana aku berlari
pada saat zamanmu telah hancur berantakan !
batu ini hancur berantakan !

Selasa, 15 Desember 2009

Kebahagiaan, Demi Siapakah

Jakarja,
ketika menjelang mata hampir terlelap
ketika hujan baru saja reda
masih juga menunggu rembulan sebesar mayang
menunggu sinar keperakan semburatkan keindahan cakrawala.


Jakarta,
ketika itu aku bimbang
pertemuan jiwa dan jiwa
mestinya mengalunkan dendang keindahan
merengkuh damai dan kebahagiaan
seperti curah hujan
membasahi bumi gersang,
tapi tidak
jiwa dan jiwa saling curiga
kata dan kalimat meluncur menikam
pedih merusak kebahagiaan.


Jakarta,
ketika kebahagiaan itu mesti diperjuangkan
dengan tetesan keringat dan air mata,
toh tidak cukup !
Seperti ada panggilan dan bersumpah
untuk memerah darah hingga tetes penghabisan
hingga aku ragu
kebahagiaan itu untuk siapa
kebahagiaan itu milik siapa.


Jakarta,
yang memisahkan Ibunda dari kasih sayang
yang berkata ini hidup dan kehidupan
ganas dan mencekam.


Jakarta,
di puncak gedung ini aku bertanya
kebahagiaan,
demi siapakah ?

[tags Jakarta, hujan, bulan, mayang, kebahagiaan, demi siapakah ?]

Sabtu, 12 Desember 2009

Bersyukur Itu Indah

Ingin sehat dan panjang umur?
Biasakanlah selalu bersyukur terhadap semua karunia Allah yang kita terima.
Karena dengan membiasakan bersyukur terhadap segala nikmat, akan menjadikan hati kita menjadi lapang dan terbebas dari perasaan iri dan dengki kepada orang lain.

Dan bersabarlah terhadap segala kesulitan dan penderitaan yang kita alami. Bersabar, berarti kita bertahan untuk tidak mengeluh, tidak mengutuk, tidak mencela, apalagi berprasangka bahwa Allah tidak adil dan tidak sayang terhadap kita, karena apapun yang kita terima, itulah yang terbaik untuk kita di mata Allah agar kita mengetahui hikmahnya.

Biasakanlah bersyukur kepada sesama manusia (terhadap pemberian orang tua, suami, istri dll) agar kita diberi kemudahan untuk selalu bersyukur kepada Allah.

Senin, 07 Desember 2009

Meniti Hari

<font color = "red"><b>Kekasihku
biarkan Cinta itu mengajak bicara
dari hati ke hati
menceritakan warna-warna
di antara hitam dan putih
cinta itu membagi kisah
dalam suka dan duka
ketika memandang purnama
cinta itu terang berbinar-binar
dan ketika memandang mendung yang tebal
berharap akan turun hujan
mencurahkan kehidupan.</b>
<br></br>
<b>Itulah cinta
kita memaknai dalam keindahan
karena cinta itu berbicara dalam pesona
menceritakan bahwa hidup itu romantika
membagi kisah bahwa kita lahir dan hidup dari cinta
yang penuh keindahan</b></font>

Selasa, 01 Desember 2009

Tuhan, Beri Aku Jalan

Jakarta
ketika gerimis berkepanjangan
menyembunyikan purnama di balik kegelapan
bukankah masih ada keindahan
dengan berseminya bunga-bunga ?

Jakarta
ketika aku mulai pasrah
menekuni detik-detik perjalanan
bukankah masih ada kata-kata untuk ditawarkan
dihidangkan diantara duka dan kebahagiaan
menghikmati cobaan
menikmati karunia
dalam doa dan kesendirian.

Jakarta
di sinilah aku memulai hidup
menelusuri jalanan
dari tempat ke lain tempat
dari pintu ke pintu
menjual keringat
perjuangan dan pengorbanan
demi keluarga tercinta.

Walau disini jauh dari kicau burung
jauh dari hijau persawahan
perkumpulan manusia amat luar biasa
dengan tujuan hampir sama
mencari nafkah
demi keluarga tercinta.

Tuhan
di Jakarta ini
di antara gerimis berkepanjangan
di antara dingin dan kegelapan malam
beri aku lentera
penerang di kegelapan.

Tuhan
beri aku jalan

Kamis, 19 November 2009

Bunda

Matahari yang kemerahan di langit barat
pucat pasi disapu awan kelabu
akan hujankah malam mendatang
ataukah hanya mendung yang berkepanjangan
menemani jiwa-jiwa terlena
jiwa-jiwa pendurhaka..!

Maafkan Bunda
sampai saat ini kebaktianku hanya tuba belaka
meracuni samudra embun yang kau curahkan
hingga usiamu ditelan senja
hingga kulit dan daging kering kerontang
di saat lisanmu yang fasih berseru Astaghfirullah Astaghfirullah
di antara buah hatimu
masih ada yang menusuk jantungmu
bergelimang kemaksiatan
berlumur noda
dan tak pernah menyesal
tak pernah menyesal
sedikitpun.

Kapan Kau kan bahagia
di saat buah hatimu menggelengkan kepala
untuk sebuah keharuman doa...

Ibunda
maafkan...

[category personal]
[tags ibunda, air tuba, samudra, embun, maafkan]

--

CREATED BY :
MUHAMMAD SAROJI

Rabu, 11 November 2009

Keadilan dan Kedustaan

Ketika tiba senja yang temaram,
ketika tanah yang kering merindukan hujan,
ketika yang lapar merintih kesakitan,
masih adakah kejujuran untuk sebuah keadilan ?.

Selalu saja
orang-orang mencari kebenaran sendiri
meski menipu itu di dada sakit
meski dusta itu di mata perih
mata batin merintih
melihat pencuri dirajam mati
mata hati menjadi mati
melihat sepak terjang orang mencari rizqi
menikam jantung sendiri
jantung kebenaran
jantung kesucian
jantung keabadian
tempat sorga digantungkan.

Duhai malang benar nasib keadilan
dipenggal tangan-tangan kotor berlumur darah
kelak bangkai keadilan terpuruk di bak sampah
dibuang ke kali hanyut ke lautan
ditelan ombak samudra
sirna...

Kelak siapa lagi kan dipenggal
bumi tiada nafas tiada
kelah arwah keadilan menagih janji
hutang nyawa dibayar nyawa
butang mati dibayar mati

sadarlah wahai penguasa
penguasa para santri para priyayi
hingga mata kering tak menangis lagi
sepasang merpati tak mengenal cinta lagi
kelak kau kan mengerti
janji Allah itu pasti
dan kau tak dapat bersembunyi.

Senin, 09 November 2009

Kebahagiaan

Pagi itu cerah sekali
ketika aku baru turun dari musholla sehabis melaksanakan sholat subuh.
Embun-embun di pucuk daun menetes di pangkuan bumi yang lembab,
mengiringi semburat kemerahan mentari pagi.
Kudengar kicauan burung prenjak, burung kesukaan anakku yang kini kian
tumbuh dewasa.

Selama ini
semoga aku tak pernah menyesal
membiarkan anak-anakku bermain
membiarkan mereka mengekspresikan kebahagiaan sebagai anak ndeso
yang jauh dari kemegahan kota metropolitan, jauh dari cumbu rayu
perang, jauh dari politik adu domba para politisi.
Aku biarkan mereka bermain bersama teman-teman mencari jangkrik,
memancing dan mandi di kali, di iringi suara burung-burung, desir
angin gunung yang semilir, ku biarkan mereka mengeja bahasa alam, alam
yang masih perawan, bersama kupu-kupu mengarungi keindahan semesta.

Anakku,
bernyanyilah di negeri yang jauh dari perang
tentang damai dan kehidupan
jangan biarkan prenjak terbang sendirian
karena kehilangan kekasih tersayang.
Janganlah kau menjadi pdmbunuh
meski hanya seekor burung yang kecil
karena kecil itu amat berarti
karena kita juga makhluk yang kecil
dan terasing.

Anakku
bukankah kau tahu
mentari datang untuk menyinari
dan malam datang untuk engkau sukuri
adakah hari ini engkau mengerti
harapan orang tuamu setelah engkau besar nanti
jangan berputus asa
jangan menyerah
karena dunia itu
tak selebar telapak tangan.

Biarkan Prenjak Itu Bernyanyi, Anakku

pagi itu cerah sekali
ketika aku baru turun dari musholla sehabis melaksanakan sholat subuh.
Embun-embun di pucuk daun menetes di pangkuan bumi yang lembab, mengiringi semburat kemerahan mentari pagi.
Kudengar kicauan burung prenjak, burung kesukaan anakku yang kini kian tumbuh dewasa.

Selama ini
semoga aku tak pernah menyesal
membiarkan anak-anakku bermain
membiarkan mereka mengekspresikan kebahagiaan sebagai anak ndeso
yang jauh dari kemegahan kota metropolitan, jauh dari cumbu rayu perang, jauh dari politik adu domba para politisi.
Aku biarkan mereka bermain bersama teman-teman mencari jangkrik, memancing dan mandi di kali, di iringi suara burung-burung, desir angin gunung yang semilir, ku biarkan mereka mengeja bahasa alam, alam yang masih perawan, bersama kupu-kupu mengarungi keindahan semesta.

Anakku,
bernyanyilah di negeri yang jauh dari perang
tentang damai dan kehidupan
jangan biarkan prenjak terbang sendirian
karena kehilangan kekasih tersayang.
Janganlah kau menjadi pdmbunuh
meski hanya seekor burung yang kecil
karena kecil itu amat berarti
karena kita juga makhluk yang kecil
dan terasing.

Anakku
bukankah kau tahu
mentari datang untuk menyinari
dan malam datang untuk engkau sukuri
adakah hari ini engkau mengerti
harapan orang tuamu setelah engkau besar nanti
jangan berputus asa
jangan menyerah
karena dunia itu
tak selebar telapak tangan.

Minggu, 08 November 2009

Elang

Selalu saja
kau melambung
berkata-kata
tinggi dan sukar dicari
bagai elang mencari mangsa
di bumi.

Jangan
jangan kau kira aku mati
bahkan dada ini terasa perih
betapa susahnya mengeja keinginan
betapa susahnya mencagai pengertian.

Kekasihku
biarkan elang terbang tinggi
di langit
toh kaki kita yang menapak disini
masih bisa melangkah
menelusuri lembaran-lembaran sejarah
tentang kisah orang yang saling mencintai
mengasihi di antara rindu dan benci
hingga lahirlah kita
sampai mati.

Rabu, 04 November 2009

Biarkan Cinta Berbicara

Muhammad Saroji - File Pribadi


Kekasihku,
biarkan Cinta itu mengajak bicara
dari hati ke hati,
menceritakan warna-warna
di antara hitam dan putih.

Cinta itu membagi kisah
dalam suka dan duka,
ketika memandang purnama
cinta itu terang berbinar-binar,
dan ketika memandang mendung yang tebal
berharap akan turun hujan mencurahkan kehidupan.


Itulah cinta,
kita memaknai dalam keindahan,
karena cinta itu berbicara dalam pesona,
menceritakan hidup itu romantika,
membagi kisah kita lahir dan hidup dari cinta
yang penuh keindahan.

@All Rights Reserved

Senin, 02 November 2009

Kebahagiaan

Kebahagiaan itu terletak di dalam hati.
Adalah hak setiap insan untuk merasakan kebahagiaan,biarpun dia miskin
atau bodoh.

Siapa sangka
anak yatim juga bisa tertawa
pengemis jalanan juga bisa tersenyum
bahkan si buta juga bisa bercanda ria
adalah karena merasakan kebahagiaan.

Kebahagiaan adalah karunia
karena kita mau merasakannya.

Kamis, 16 April 2009

Doa Barokah

بارك الله لي و لكم و لجميع المسلمين امينSEMOGA ALLAH MENCURAHKAN KEBERKAHAN KEPADAKU, KEPADAMU DAN SELURUH KAUM
MUSLIMIN.
AMIN

Jumat, 10 April 2009

Merajut Harapan

Dalam kehidupan ini, meski mengalami berbagai kesulitan kita pantang menyerah dan berputus asa.
Masih ada hari esok untuk kita berbuat dan menyusun harapan-harapan yang lebih baik.
Dan untuk mencapai kesuksesan , kitapun harus berani mengeluarkan waktu dan biaya , karena tidak ada kesuksesan yang diterima secara gratis tanpa pengorbanan.

Selasa, 07 April 2009

Rindu Seorang Sahabat

Seorang sahabat pun punya rindu,
tidak dinyatakan untuk tanda cinta,
tidak dipendam untuk jadi kenangan

Rindu sahabat adalah perasaan tulus,
hati merasa sebagai suatu karunia,
berbahagialah insan yang menerima cinta,
karena hakikatnya ia karunia pula

Ketika budi pekerti menguasai segalanya,
keluhuran yang tumbuh tak tampak sebagai fatamorgana,
insan boleh berbangga berslogan,
tapi kata hati dan perbuatan harus sejalan.

Diapun sahabatku,
dia yang jauhpun sahabatku,
engkaupun sahabatku,
kepada kalian kutebarkan salam.

Ciputat-Tangerang 27 Januari 1992