Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2022

Kapan Sayyidina Muhammad SAW Menjadi Nabi?

Ada yang bilang bahwa Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi sejak awal sebelum usia 40 tahun, bahkan sebelum Adam tercipta. Itu tidak benar. Nabi Muhammad jelas baru menjadi Nabi setelah berusia 40 tahun, sebelum itu belum menjadi Nabi meskipun sudah ada berbagai kejadian luar biasa yang menunjukkan bahwa beliau spesial. Kejadian luar biasa tersebut istilahnya irhash, bukan mukjizat sebab istilah mukjizat hanya bagi mereka yang telah diangkat menjadi Nabi saja. Hadis yang menceritakan bahwa beliau diangkat sebagai Nabi tatkala berusia 40 tahun cukup banyak. Di antaranya adalah: عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ، قالَ: «بُعِثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وهُوَ ابْنُ أرْبَعِينَ سَنَةً "Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah diangkat menjadi Nabi tatkala berusia 40 tahun"  Sebenarnya dalil di atas sudah cukup, tapi sebagian orang betul-betul meyakini sebelum Itu Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi meskipun belum mendapat wahyu pertamanya. Mereka juga menguatkan pendapatnya dengan beberapa hadis. Untuk itu per

Kapan Sayyidina Muhammad SAW Menjadi Nabi?

Ada yang bilang bahwa Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi sejak awal sebelum usia 40 tahun, bahkan sebelum Adam tercipta. Itu tidak benar. Nabi Muhammad jelas baru menjadi Nabi setelah berusia 40 tahun, sebelum itu belum menjadi Nabi meskipun sudah ada berbagai kejadian luar biasa yang menunjukkan bahwa beliau spesial. Kejadian luar biasa tersebut istilahnya irhash, bukan mukjizat sebab istilah mukjizat hanya bagi mereka yang telah diangkat menjadi Nabi saja. Hadis yang menceritakan bahwa beliau diangkat sebagai Nabi tatkala berusia 40 tahun cukup banyak. Di antaranya adalah: عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ، قالَ: «بُعِثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وهُوَ ابْنُ أرْبَعِينَ سَنَةً "Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah diangkat menjadi Nabi tatkala berusia 40 tahun"  Sebenarnya dalil di atas sudah cukup, tapi sebagian orang betul-betul meyakini sebelum Itu Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi meskipun belum mendapat wahyu pertamanya. Mereka juga menguatkan pendapatnya dengan beberapa hadis. Untuk itu per

Nabi Adalah Orang Yang Suci

Di zaman Kanjeng Nabi, orang yang buang hajat, harus menggali tanah dulu. Saat selesai, baru dikubur. Itu pun ada jejaknya berupa jejak timbunan tanah untuk menimbun kotoran. Tapi beda dengan para Nabi termasuk Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Dalam Asy Syifa disebut bahwa Kanjeng Nabi Muhammad SAW saat akan buang air besar atau air kecil di satu tempat, merekahlah permukaan bumi untuk menampung kotoran dan air kencing Kanjeng Nabi. Setelah selesai, bumi yang dipakai buang hajat tersebut menutup kembali, menelan kotoran tersebut. Sehingga di tempat tersebut bersih dan tidak ada jejak kotoran Kanjeng Nabi. Mukjizat ini banyak saksi matanya. Salah satunya Siti Aisyah yang heran saat melihat kamar kecil yang habis dipakai Kanjeng Nabi, bersih tidak ada tanda-tanda habis dipakai. Kanjeng Nabi Muhammad SAW menjawab يا عئيشة! لما علمت أن الله أمر الأرض أن تبتلع ما خرج من الأنبياء؟ "Wahai Aisyah, apa kamu belum tahu bahwa Gusti Allah memerintahkan bumi untuk menelan apapun yang keluar dari tub

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 144

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ ( البقرة : ١٤٤) Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah ayat 144) Sebelum arah kiblat dipindahkan kembali ke Kakbah, Nabi sering menengadahkan wajahnya ke arah langit. Nabi sangat berharap agar Allah segera memindahkan kiblat

Sejarah RMP Sosrokartono, Kakak Kandung RA Kartini

Kartono, nama lengkapnya RM. Panji Sosrokartono.  Lahir tahun 1877.  Kakak kandung RA. Kartini Tahun 1898, Kartono seorang pribumi pertama yang kuliah di luar Hindia - Belanda.  Karena kecerdasannya beliau menjadi kesayangan para dosennya. Beliau bisa 27 bahasa asing & 10 bahasa nusantara.  Pangeran ganteng ini pinter bergaul, anak orang kaya, terkenal dan merakyat. Banyak perempuan Eropa nyebutnya "De Mooie Sos." (artinya Sos yang ngganteng). Bule Eropa & Amerika  menyebut beliau dengan hormat  'De Javanese Prins' (Pangeran Jawa) akan tetapi  sesama pribumi memanggilnya Kartono saja.  1917, beliau menjadi wartawan Perang Dunia I koran Amerika yakni 'The New York Herald' cabang Eropa.  Beliau memadatkan artikel bahasa Perancis sejumlah 30 kata dalam 4 bahasa (yakni Inggris, Spanyol, Rusia, Sebagai wartawan perang, beliau diberi pangkat Mayor oleh Sekutu,  tapi menolak membawa senjata ... kata beliau : "Saya tidak menyerang orang,  oleh karena itu

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 143

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ ۗوَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ( البقرة : ١٤٣) Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengas

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 142

۞ سَيَقُوْلُ السُّفَهَاۤءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلّٰىهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِيْ كَانُوْا عَلَيْهَا ۗ قُلْ لِّلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُۗ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ( البقرة : ١٤٢) Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus". (QS. Al-Baqarah ayat 142) Setelah pada ayat yang lalu diceritakan perilaku kaum Yahudi secara umum, pada ayat ini Allah menjelaskan sikap mereka dan juga orang musyrik terkait persoalan khusus, yaitu pengalihan kiblat salat dari Baitulmakdis di Palestina ke Kakbah di Mekah. Pada saat Nabi berhijrah ke Madinah, beliau dan para sahabatnya selama 16 sampai 17 bulan melaksanakan salat menghadap ke Baitulmakdis. Pada Rajab tahun ke-2 Hijriah, Allah memeri

Tafsir Kemenag: Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 141

تِلْكَ اُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَّا كَسَبْتُمْ ۚ وَلَا تُسْـَٔلُوْنَ عَمَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ࣖ ۔ ( البقرة : ١٤١) Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah ayat 141) Itulah, yakni Nabi Ibrahim dan anak cucunya, umat yang telah lalu. Seandainya mereka benar menganut agama Yahudi atau Nasrani seperti yang kamu duga, perbuatan mereka tidak akan berguna bagi kamu karena mereka mengamalkan agamanya dengan benar, se dangkan kamu tidak. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban ten-tang apa yang dahulu mereka kerjakan. Allah menyatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya serta umat-umat yang telah lalu, mereka akan diberi balasan yang sesuai dengan amal perbuatannya, kamu tidak dibebani tanggung jawab at

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 140

اَمْ تَقُوْلُوْنَ اِنَّ اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطَ كَانُوْا هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى ۗ قُلْ ءَاَنْتُمْ اَعْلَمُ اَمِ اللّٰهُ ۗ وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهٗ مِنَ اللّٰهِ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ ( البقرة  Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?" Katakanlah: "Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?" Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah ayat 140) Kaum Yahudi dan Nasrani mengaku mengikuti Nabi Ibrahim yang mengajarkan tauhid, yang dengannya mereka merasa berhak masuk surga, padahal mereka telah me nyimpang. Dugaan mereka itu dibantah dalam ayat ini. Ataukah kamu, orang-orang Yahudi dan Nasrani, berkata bahwa Ibrahim, Ismail, I

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 139

قُلْ اَتُحَاۤجُّوْنَنَا فِى اللّٰهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْۚ وَلَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُخْلِصُوْنَ ۙ  ( البقرة : ١٣٩) Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati, (QS. Al-Baqarah ayat 139) Ayat ini berkaitan dengan ayat 135 yang memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengatakan kepada mereka bahwa kami hanya mengikuti agama Nabi Ibrahim. Kini, pada ayat ini, Nabi Muhammad diperintahkan untuk mendebat mereka. Katakanlah, "Apakah kamu hendak berdebat dengan kami tentang keesaan dan kemahasempurnaan Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Kita sama-sama menyembah-Nya dan kita pun tidak bisa menghindar dari ketetapanNya. Kalau begitu, bagi kami amalan kami yang akan kami pertanggungjawabkan, dan demikian pula bagi kamu amalan kamu yang akan kamu pertanggungjawab kan. Dan ha

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 138

صِبْغَةَ اللّٰهِ ۚ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ صِبْغَةً ۖ وَّنَحْنُ لَهٗ عٰبِدُوْنَ ( البقرة : ١٣٨) Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah. (QS. Al-Baqarah ayat 138) Keberagamaan dan keimanan seperti yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim itu merupakan shibgah atau celupan Allah. Siapa yang lebih baik shibgah-nya daripada Allah? Tentu tidak ada. Dan kepada-Nya kami menyembah. Kata "celupan" pada ayat ini mengandung arti keimanan kepada Allah yang tidak disertai kemusyrikan sedikit pun. Makna ini ditegaskan oleh perkataan "dan hanya kepada-Nyalah, bukan kepada yang lain, kami menyembah." Ini juga mengindikasikan bahwa keberagamaan kita harus bersifat total sehingga seluruh totalitas kita terwarnai oleh celupan agama Allah itu. Iman yang sebenarnya ialah iman yang tidak dicampuri oleh unsur-unsur syirik. Ibnu Jarir berkata, "Sesungguhnya orang-orang Nasrani bila anak mereka dilahirkan, maka mer

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 137

فَاِنْ اٰمَنُوْا بِمِثْلِ مَآ اٰمَنْتُمْ بِهٖ فَقَدِ اهْتَدَوْا ۚوَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّمَا هُمْ فِيْ شِقَاقٍۚ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللّٰهُ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ۗ ( البقرة : ١٣٧) Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah ayat 137) Maka jika mereka yang mengajakmu mengikuti agama mereka itu telah beriman persis sebagaimana yang kamu imani, sehingga mereka menjadi pengi kutmu, sungguh, mereka telah mendapat petunjuk yang benar. Akan tetapi, jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan denganmu, maka Allah mencukup kan engkau, wahai Nabi Muhammad terhadap mereka dengan pertolongan dan janji-Nya yang pasti ditepati. Dan Dia Maha Mendengar perkataan musuh-musuhmu, Maha Mengetahui apa saja yang

Nasihat Malik bin Dinar

Malik bin Dinar berkata, مُذْ عَرَفْتُ النَّاسَ لَمْ أَفرَحْ بِمَدحِهِم، وَلَمْ أَكرَهْ ذَمَّهُم؛ لأَنَّ حَامِدَهُم مُفرِطٌ، وَذَامَّهُم مُفرِطٌ Ketika saya benar-benar mengenal manusia, maka saya tidak lagi bahagia bila mereka memuji dan saya juga tidak marah jika mereka menghujat. Karena jika memuji, manusia (seringkali) berlebihan, dan jika menghujat juga berlebihan. (Siyar A'lam an-Nubala',  V/362) ما يجْتَمع الْإِخْلَاص فِي الْقلب ومحبة الْمَدْح وَالثنَاء والطمع فِيمَا عِنْد النَّاس إِلَّا كَمَا يجْتَمع المَاء وَالنَّار والضب والحوت. فَإِذا حدثتك نَفسك بِطَلَب الْإِخْلَاص فَأقبل على الطمع أَولا فاذبحه بسكين الْيَأْس وَأَقْبل على الْمَدْح وَالثنَاء فازهد فيهمَا زهد عشّاق الدُّنْيَا فِي الْآخِرَة فَإِذا استقام لَك ذبح الطمع والزهد فِي الثَّنَاء والمدح سهل عَلَيْك الْإِخْلَاص  Keikhlasan dan rasa senang untuk dipuji, serta menginginkan yang ada pada manusia, ini tidak akan pernah bersatu di dalam hati. Seperti mustahilnya air dan api berkumpul, atau seperti tidak mungkinnya k

Mengobati Penyakit Hati

فأمراض القلوب أصعب من أمراض الأبدان، لأنّ غاية مرض البدن، أن يفضي بصاحبه إلى الموت، وأما مرض القلب؛ فيفضي بصاحبه إلى الشقاء الأبدي، ولا شفاء لهذا المرض إلاّ بالعلم، فالعلم للقلب؛ مثل الماء للسمك؛ إذا فقده مات "Penyakit-penyakit hati lebih berat dibandingkan penyakit badan, dikarenakan puncak dari penyakit badan akan mengantarkan penderitanya kepada kematian. Sedangkan penyakit hati, akan mengantarkan orang yang terjangkitinya kepada kesengsaraan yang abadi. Dan tidak ada obat bagi penyakit ini, kecuali dengan ilmu agama. Maka ilmu bagi hati, keadaanya seperti air bagi ikan, apabila tidak ada maka akan mati. Miftah Daar As-Sa'adah (hlm.140) من دوام على الذِّكر بقلب حاضر وأدب وافر ‏رأى للذكر في قلبه أثر ظاهر وأشرقت عليه أنوار القُرب من الله ‏‌ #الإمام_الحداد⁩ رحمه الله ونفعنا به في الدارين Siapa orang yang rutin ber dzikir Dengan hati yang konsentrasi Dengan adab yang sempurna Maka niscaya dia akan melihat serta merasakan Efek positif di dalam hati nya Dan dia akan terpenuhi dan

Belajar Adab Sebelum Ilmu

‏قال الزهري عليه رحمة الله: «كنا نأتي العالم فما نتعلم من أدبه أحب إلينا من علمه». تاريخ الإسلام للذهبي (٨/٢٤٠). Az Zuhri ra mengatakan, "Dahulu kami mendatangi seorang ulama. Maka, apa yang kami pelajari dari akhlak dan perangainya, lebih kami sukai daripada apa yang kami pelajari dari ilmunya." [Tarikh Islam: 8/240; Imam Adz Dzahabi ra]

Kewibawaan Seorang Muslim

"ﺇﻥّ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻳُﻌﻄﻰ ﻣﻬﺎﺑﺔً ﻭﺣﻼﻭﺓً ﺑﺤﺴﺐ ﺇﻳﻤﺎﻧﻪ ﻓﻤَﻦ ﺭﺁﻩ ﻫﺎﺑَﻪ ، ﻭﻣَﻦ ﺧﺎﻟﻄﻪ ﺃﺣﺒّﻪ ، ﻭﻫﺬﺍ ﺃﻣﺮٌ ﻣﺸﻬﻮﺩٌ ﺑﺎﻟﻌَﻴﺎﻥ." "Sungguh seorang mukmin akan diberi kewibawaan dan kelezatan sesuai dengan kadar keimanannya. Siapa saja yang melihat mukmin tersebut, dia akan merasa segan kepadanya dan siapa saja yang bergaul dengannya, dia akan mencintainya. Ini merupakan suatu hal yang bisa disaksikan oleh mata manusia." تدبير الحق عز وجل لك خير من تدبيرك ، وقد يمنعك ما تهوىٰ ابتلاء ، ليبلو صبرك ، فأره الصبر الجميل ، تر عن قرب ما يسر Rencana ALLAH padamu lebih baik dari rencanamu. Terkadang ALLAH menghalangi rencanamu untuk menguji kesabaranmu, maka perlihatkanlah kepada-Nya kesabaran yang indah. Tak lama kamu akan melihat sesuatu yang menggembirakanmu.” (Shaidul Khathir 1/205)

Tingginya Kedudukan Ilmu Agama

العلم أمره عظيم، آثاره طيبة على صاحبه في حياته، وبعد مماته Ilmu (agama) itu perkaranya sangatlah agung. Ilmu (agama) memiliki pengaruh yang baik terhadap pemiliknya, baik di masa hidupnya maupun setelah kematiannya. Marhaban Yaa Thalib al-'Ilmi hlm.214

Belajar Ilmu Agama Selagi Masih Ada Kesempatan

‏قال أبو الدرداء رضي الله عنه: «تعلموا قبل أن يرفع العلم إن رفع العلم ذهاب العلماء». [حلية الأولياء: 1/213] Abu Darda ra berkata, "Belajarlah sebelum ilmu agama diangkat. Sesungguhnya diangkatnya ilmu agama adalah dengan wafatnya para ulama." [Hilyatul Auliya: 1/213].

Mencari Rejeki Dengan Bertawakkal Kepada Allah

Dari Sayyiduna Umar bin Khatthab ra dari Rosulullah Saw Beliau bersabda : لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا Seandainya kalian bertawakal kepada ALLAH dengan sebenar-benarnya tawakal, pasti ALLAH akan memberi rezeki kepada kalian, sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung, pergi di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan pulang dalam keadaan perut terisi penuh. (HR.Tirmidzi) Ash-Shahihah (310)

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 136

قُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَمَآ اُنْزِلَ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَمَآ اُوْتِيَ النَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْۚ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْۖ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ( البقرة : ١٣٦) Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS. Al-Baqarah ayat 136) Bimbingan Allah kepada Nabi Muhammad dan pengikutnya yang disebut pada ayat 135 dilanjutkan pula pada ayat ini. Katakanlah, wahai orang-orang yang beriman, kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani itu," Kami beriman kepada Allah Yang Mahasempurna dan kepada apa yang di

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 135

وَقَالُوْا كُوْنُوْا هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى تَهْتَدُوْا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ اِبْرٰهٖمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ( البقرة : ١٣٥) Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". Katakanlah: "Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik". (QS. Al-Baqarah ayat 135) Ayat ini erat hubungannya dengan ayat 130 ketika Al-Qur'an mencela mereka yang enggan memeluk Islam. Kecaman itu kini dilanjutkan. Dan mereka, orang-orang Yahudi dan Nasrani, berkata, "Jadilah kamu penganut Yahudi atau penganut Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk." Ini artinya mereka tidak hanya berhenti pada perbuatan sesat mereka, tetapi juga mengajak orang lain untuk sesat bersama mereka. Katakanlah, wahai Muhammad,"Tidak! Kami tidak akan mengikutimu! Tetapi kami mengikuti agama Nabi Ibrahim yang lurus dan dia tidak termasuk golongan

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 134

تِلْكَ اُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَّا كَسَبْتُمْ ۚ وَلَا تُسْـَٔلُوْنَ عَمَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ( البقرة : ١٣٤) Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah ayat 134) Mereka itulah umat yang telah lalu, jauh sebelum kamu, yang tidak kamu saksikan. Mereka berpegang teguh pada wasiat itu, sedangkan kamu, wahai kaum Yahudi, tidak. Oleh karena itu, baginya, yakni para leluhurmu, apa yang telah mereka usahakan berupa keyakinan yang tulus dan bagimu apa yang telah kamu usahakan dengan mengikuti hawa nafsumu. Mereka tidak ditanya tentang apa yang kamu lakukan, dan kamu pun tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang apa yang dahulu mereka kerjakan. Ayat ini mengisyaratkan umat-umat yang dahulu dan perbuatan mereka, yaitu umat Nabi Ibrahim dan nabi-nabi yang didoakannya, yang telah diterangkan pada ay

Tafsir Kemenag, Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 133

اَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاۤءَ اِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ الْمَوْتُۙ اِذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْۢ بَعْدِيْۗ قَالُوْا نَعْبُدُ اِلٰهَكَ وَاِلٰهَ اٰبَاۤىِٕكَ اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ( البقرة : ١٣٣) Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS. Al-Baqarah ayat 133) Orang-orang Yahudi berkata kepada Rasulul lah, "Tidakkah engkau tahu bahwa Yakub-yang juga disebut Israil-menjelang kema tiannya berwasiat kepada anak-anaknya untuk memeluk agama Yahudi?" Untuk menjawab hal itu Allah menurunkan ayat ini. Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Yakub, ketika dia berkata kepada anakanaknya, "Apa yang kamu sembah sepeningg

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 132

وَوَصّٰى بِهَآ اِبْرٰهٖمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُۗ يٰبَنِيَّ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰى لَكُمُ الدِّيْنَ فَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۗ ( البقرة : ١٣٢) Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (QS. Al-Baqarah ayat 132) Salah satu faktor yang membuat kedudukan Nabi Ibrahim tinggi di dunia dan akhirat adalah Islam, yaitu penyerahan diri sepe nuhnya kepada Allah. Dan Ibrahim pun mewasiatkan ajaran penyerahan diri itu kepada anak-anaknya, Ismail dan Ishak. Demikian pula Yakub, ia berwasiat kepada anak-anaknya," Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama penyerahan diri ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim yang berserah diri. Ibrahim dan Yakub berwasiat kepada putra-putranya, demikian juga yang dilakukan oleh cucunya Yakub

Tafsir Kemenag : Tafsir Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 131

اِذْ قَالَ لَهٗ رَبُّهٗٓ اَسْلِمْۙ قَالَ اَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ( البقرة : ١٣١) Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam". (QS. Al-Baqarah ayat 131)  Kalau pada ayat 130 diuraikan kedudukan Nabi Ibrahim di dunia maupun di akhirat, maka pada ayat ini diuraikan faktor yang membawa beliau ke kedudukan tersebut. Ingatlah, wahai Nabi Muhammad, ketika Tuhan Pemelihara Nabi Ibrahim berfirman kepadanya, Ibrahim," Berserahdirilah!" Dia segera menjawab, "Aku tunduk, patuh, dan berserah diri kepada Tuhan seluruh alam. Kepada Ibrahim diperintahkan agar berserah diri, mengakui keesaan Allah dan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya saja. Yang dimaksud dengan "berserah diri" di sini ialah tunduk dan patuh kepada agama Allah, agama yang sesuai dengan akal pikiran yang disertai dengan dalil-dalil atau bukti-bukti yang nyata. Agama tersebut akan dilanjutkan penyampaiannya o

Hak Istri Atas Suaminya

مجالسة الصالحين تحولك من ستة إلى ستة ١- من الشك إلى اليقين ٢- ومن الرياء إلى الإخلاص ٣- ومن الغفلة إلى الذكر ٤- ومن الرغبة في الدنيا إلى الرغبة في الآخرة ٥- ومن الكبر إلى التواضع ٦- ومن سوء النية إلى النصيحة "Duduk dengan orang Sholeh itu akan merubah-mu dari enam perkara kepada enam (kebaikan). 1.Dari keraguan menjadi keyakinan. 2.Dari yang riya menjadi ikhlas. 3.Dari kelalaian menjadi dzikir. 4.Dari ambisi terhadap dunia menjadi semangat terhadap akhirat. 5.Dari sifat sombong menjadi tawadhu'. 6.Dari niatan yang buruk menjadi nasihat. Ighosatul Lahafan  1/136 دعوة المصطفى Rosul Saw tatkala ditanya apakah hak isteri atas suaminya?  Beliau menjawab: أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلاَ تَضْرِبِ الوَجْهَ، وَلاَ تُقَبِّحْ، وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ. “ Engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian jika engkau berpakaian, janganlah memukul wajah dan janganlah menjelek-jelekkannya serta janganlah memisahkannya kecua

Keutamaana Ilmu Ulama Salaf

Sayyiduna Umar bin Abdul Aziz ra mengatakan, إن السابقين عن علم وقفوا، وببصر ناقد كفوا، وكانوا هم أقوى على البحث لو بحثوا "Sesungguhnya orang-orang terdahulu  (para ulama salaf) diam karena ilmu.  Mereka pun menahan diri (dari sesuatu) karena mata hati yang tajam.  Sungguh,  mereka lebih mampu meneliti (sebuah masalah) kalau mereka mau melakukannya." Ibnu Rajab ra mengatakan, وقد فتن كثير من المتأخرين بهذا، وظنوا أن من كثير كلامه وجداله وخصامه في مسائل الدين فهو أعلم ممن ليس كذلك، وهذا جهل محض "Sungguh,  banyak orang belakangan yang tertipu dengan hal ini. Mereka menyangka bahwa siapa yang banyak bicara, debat,  dan bantahannya dalam masalah agama,  berarti dia lebih berilmu. Ini adalah murni kebodohan. وانظر إلى أكابر الصحابة علمائهم، كأبي بكر، وعمر، وعثمان، وعلي، ومعاذ، وابن مسعود، وزيد بن ثابت، كيف كانوا كلامهم أقل من كلام ابن عباس وهم أعلم منه Lihatlah para sahabat yang senior dan ulama mereka, seperti Sayyiudna Abu Bakar,  Sayyiduna Umar, Sayyiduna Ali, Sayyiduna Mu

Tiga Perkara Yang Harus Diwaspadai

Wahb bin Munabbih ra menyatakan, احْفَظُوا عنِّي ثلاثًا : إيَّاكُم وهَوًى مُتَّبَعًا ، وقَرِينَ سُوءٍ ، وإعجابَ المَرءِ بنَفسِهِ "Hafalkanlah 3 hal dariku Waspadalah kalian dari hawa nafsu yang dituruti, Teman yang jelek dan Bangganya seseorang dengan dirinya sendiri" As-Siyar Karya adz-Dzahabi 4/549 (FM)

Keutamaan Meneladani Para Sahabat

"ﻣﺸﺎﺑﻬﺔُ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻭﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﺗَﺰِﻳﺪُ ﺍﻟﻌﻘﻞَ ﻭﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺍﻟﺨﻠﻖ!." "(Upaya) untuk menyerupai Shohabat dan tabi'in akan menambah kecerdasan, agama dan akhlak mulia." Iqtidha' ash-Shirath al-Mustaqim (1/527)

Jangan Mengurangi Timbangan Agama

‏قال ابن رجب : «إذا كان الويل لمن طفف مكيال الدنيا، فكيف حال من طفف مكيال الدين؟!». | لطائف المعارف (٢٠٩) | Ibnu Rajab berkata, "Apabila azab dan kebinasaan ditimpakan kepada orang-orang yang mengurangi timbangan-timbangan dunia. Maka, bagaimana keadaannya dengan orang-orang yang mengurangi timbangan agama...!?" Lathaiful Ma'arif, hal:209. (FM)

Sebab-Sebab Seseorang Menolak Kebenaran

كثير من الناس يتعامى ويتجاهل وقد يكون الحق في متناول يديه ولكن تمنعه عقبات : منها الهوى ، ومنها الكبر ، ومنها التقليد،  ومنها أشياء كثيرة وعوامل عديدة .. يكون الحق في متناول يديه وأمام عينيه فيُكتف يديه ويغمض عينيه ويعرض عن الحق فهو أيضا زائغ عن الحق مصيره إلى الهلاك والعياذ بالله . المجموع الرائق / المخرج من الفتن                    (صـ23، 24) Banyak dari manusia yang menutup mata dan pura-pura tidak mengetahui. Padahal kebenaran ada ditangannya (diketahui dengan jelas dan gamblang). Akan tetapi beberapa hal yang menyebabkan dia menolak kebenaran tersebut: 1.Hawa nafsu 2.Sombong 3.Fanatik buta. Dan perkara /sebab-sebab lainnya yang banyak dan beraneka ragam bentuknya. Kebenaran ada di tangannya, di depan kedua matanya. Akan tetapi tidak dia terima, dia tutup kedua matanya, dia berpaling dari kebenaran tersebut. Maka orang yang seperti ini, dia telah menyimpang dari kebenaran. Dan tempat kembalinya adalah kebinasaan. Al Majmu' Ar Raiq/ Al Makhraj Minal Fittan hal.23/24. (FM)

Tiga Golongan Yang Tidak Tertolak Doanya

Dari Shohabat Anas bin Malik ra Rosul Saw bersabda: ثلاثُ دَعَواتٍ لا تُرَدُّ : دعوةُ الوالدِ ، و دعوةُ الصائمِ ، و دعوةُ المسافرِ Ada tiga doa yang tidak tertolak: [1]Doa orang tua(kepada anaknya) [2]Doa orang orang yang berpuasa [3]Doa orang yang sedang be pergi an (HR.Al Baihaqi dalam Sunan-nya no.6619). Dalam riwayat lain : ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ : دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِه Ada 3 doa yang mustajab tanpa diragukan lagi: [1]Doa orang yang terzalimi [2]Doa orang yang sedang be pergi an [3]Doa orang tua kepada anaknya (HR.At Tirmidzi no.1905). Al Munawi ra menjelaskan: ( ودعوة الوالد لولده ) لأنه صحيح الشفقة عليه ، كثير الإيثار له على نفسه ، فلما صحت شفقته : استجيبت دعوته ، ولم يذكر الوالدة مع أن آكدية حقها تؤذن بأقربية دعائها إلى الإجابة من الوالد ؛ لأنه معلوم بالأولى Doa orang tua kepada anaknya di ijabah karena rasa sayang orang tua yang tulus kepada anaknya, dan orang tua banyak mendahulukan an

Jangan Sia-Siakan Waktumu

Jangan Sia-Siakan Waktumu نَدَمُ ابن مسعود على اليوم يَمُرُّ من عُمره وقال الصحابي الجليل عبد الله بن مسعود رضي الله غنه: ( ما نَدِمْتُ على شيء ندمي على يوم ٍغَرَبَتْ شمسُه، نَقَصَ فيه أجلي، ولم يَزِدْ فيه عملي) ( قيمة الزمن عند العلماء، العلامة عبد الفتاح أبو غدة، ص47) Penyesalan Ibnu Mas’ud atas hari yang telah terlewati dari usianya. Telah berkata Shohabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud RA : "Tidaklah aku menyesali sesuatu, melainkan penyesalanku atas hari dimana matahari  telah terbenam, usiaku telah berkurang, namun amal (ibadahku) tidak bertambah". (Kitab Qiymatuzzaman ‘inda al-‘ulama, al-‘Allamah ‘Abdul al-’Fattah Abu Ghuddah, Halaman 47) (FM)

Perintah Untuk Berlindung Darii Gangguan Syaitan

Dalam sebuah hadis dijelaskan: 6322 - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَرْعَرَةَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ Anas bin Malik Ra berkata: Nabi Saw jika akan masuk tempat buang air, beliau membaca: Ya ALLAH...aku berlindung kepada-Mu dari khubuts dan khobaits” (Hadis riwayat Al-Bukhori:6322) As-Syaukani Ra berkata: وَالْخُبْثُ: جَمْعُ خَبِيثٍ وَالْخَبَائِثُ: جَمْعُ خَبِيثَةٍ، قَالَ الْخَطَّابِيِّ وَابْنُ حِبَّانَ وَغَيْرُهُمَا: يُرِيدُ ذُكْرَانَ الشَّيَاطِينِ وَإِنَاثَهُمْ “Al-khubuts adalah jama dari kata khobits, sedangkan khobaits jama dari khobitsah. Al-Khottobi, Ibnu Hibban dan ulama yang lainnya ra berkata: yang dimaksud adalah khubuts itu setan jantan dan khobaits setan betina” (Nailul Author:1/97) Ali al-Mula Al-Qori ra berkata: أَيْ: إِذَا أَرَادَ دُخُولَ الْخَلَاءِ، وَ