Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 September 2016

Cinta Dalam Kehidupan


Kekasihku
ketika aku gersang
engkau adalah embun yang menitik
hingga aku sejuk
dingin dan beku.



Ketika aku beku
engkau adalah mentari yang bercahaya
hingga aku meluluh hangat dan mendidih.



Ketika aku membara
engkau adalah salju yang dingin
putih dan lembut
laksana kapas yang tipis
laksana langit yang suci.



Engkaulah mutiara
hiasan hidupku di kala duka
engkaulah rembulan
temanku bercerita di kala kecewa
engkaulah telaga biru
tempat biduk cintaku berlabuh
dari pengembaraan yang jauh.




Jakarta
10 Mei 1992

Selasa, 21 April 2015

Hiduplah Dengan Berbuat Baik

✅ Belilah beberapa buah sandal jepit plastik atau bakiak kayu, letakkan di sekitar masjid agar para jamaah dapat menggunakannya saat akan berwudhu. Anda akan menikmati pahala dari setiap orang yang memakainya.

✅ Letakkanlah di jendela kamarmu segelas air atau makanan untuk burung-burung kecil yang datang hinggap ke sana.

✅ Sisihkanlah dari hasil upah jerih payahmu, sebagian untuk disumbangkan kepada anak yatim.

✅ Belilah sekantong plastik kaos tangan dan kaos kaki, agar bisa diberikan kepada para pekerja.

✅ Letakkanlah di kamarmu sebuah kotak, dimana setiap kali kamu merasa melakukan dosa, masukan uang receh 3-5 ribu ke dalamnya, jika sudah 1 bulan, buka kotak itu dan besedekahlah dengan uang tersebut.
Lakukanlah ini setiap bulan.

✅ Jika anda hadir dalam acara kumpul-kumpul bersama keluarga dan kerabat, belilah ½-1 doos air mineral, niatkan untuk sedekah kepada orang-orang yg butuh minum, yang sakit, dan lainnya.

✅ Jika anda mengisi bensin atau parkir, kemudian petugasnya
mengembalikan uang receh sisa kembalian, berikan sisa uang itu
untuknya sebagai sedekah.

✅ Belilah Mushaf (Al Quran) letakkan di salah satu masjid dan bayangkan berapa pahala yang akan anda dapat pada setiap huruf yang mereka baca.

✅ Berikanlah perasaan gembira kepada setiap muslim, khususnya kepada mereka yang sedang tertimpa kesedihan.

✅ Lemparkanlah senyum kepada orang yang anda temui, berilah salam kepada orang yang duduk dan bertuturlah dengan ucapan yang baik karena semuanya adalah sedekah.

✅ Jangan biarkan anda tertidur, melainkan telah memaafkan setiap orang yang telah berbuat buruk kepadamu (menggibahi kita, mengadu domba kita, merendahkan kita/meremehkan kita dan mendzalimi kita).

✅ Kirimkan pesan ini ke semua kontakmu, siapa tahu ada orang yang mau mengamalkan ini, sehingga andapun akan mendapatkan pahala.
Masya Allah...
semoga yang ikut membagikan pesan ini mendapat rezki dari arah yang tanpa di sangka-sangka... Aamiin Allahumma Aamiin
Wallahu a'lam bish Shawab

Minggu, 29 Maret 2015

Sebait Alpa

Aku
secarik kertas
rindu dendam
menoreh warna
menyibak cakrawala
melukis cinta
dalam bait alpa.


Betapa kejamnya hati manusia
jiwa ini menjadi saksinya
haruskah hati lemah jadi korban
di antara semua orang yang mengaku pahlawan?


Aku
hanyalah sebait alpa
yang bernyanyi tentang kematian
kematian pangkat
kematian derajat
kematian harta
kematian air mata……
Mencampak kematian hakiki
kematian nurani…..


Betapa berdayanya manusia ini
namun sombong di antara sesama
tapi betapa lemahnya manusia ini
selalu dilanda resah dan gelisah.


Duhai jiwaku yang bergelora
duhai amarahku yang membabi buta
duhai kecewaku yang berkepanjangan,
inilah nurani
kalau hendak engkau terjemahkan..!!


Aku
selalu kecewa dan menyesali diri
lukisan cinta hanya nyata di hamparan kertas
torehan warnanya hanya tipu daya belaka
kesetiaan hanyalah sebait alpa…


Pemalang 29 Juli 2000

--


© Copyright - All Rights Reserved

Minggu, 22 Maret 2015

Halusinasi

Kamis wage malam jum'at kliwon,
ku tabur kembang dan ku bakar kemenyan,
di sisi makam bundaku yang telah rapuh dimakan rayap,
asap wangi dupa mengingatkanku pada kematian,
yang dalam hidupku paling aku takutkan.


Kematian ?
Ah,
Begitu mengerikankah kematian ?
Yang ditinggal menangis meratap-ratap,
sambil tak lupa mengingat-ingat
seberapa besar kelak warisan yang didapat,
sang arwah sendiri entah selamat entah celaka,
tetangga sekampung turut memanjatkan doa,
padahal ditanggung sendiri seluruh amal perbuatan
sewaktu hidup di dunia.


Aku terjaga,
sebuah tangan lembut menjamah pundakku,
ternyata aku bermimpi
yang membuatku tak bisa terlelap lagi.


Ah, kematian…
benarkah di dunia ini ada kematiam ?
Ku layangkan pandangan ke langit,
hanya kelam,
tak ada bintang gemintang,
ku sapa angin dingin yang menusuk tulang,
kebekuannya mengantarkan aku pada sebuah pintu
tinggi dan kokoh
tertutup rapat,
di bagaian mana aku mengetuknya
atau akan ku ucapkan salam saja,
tapi sunyi tiada jawaban,
desah nafas kecewaku musnah ditelan kegelapan,
aku berpaling,
aku galau,
amat kecewa,
entah mengapa
satu pertanyaan tiada jawaban,
tiba-tiba ku dengar suara tawa menggema,
ku sangka jin atau malaikat
hendak mencabut sukmaku,
tidak !
Aku tidak mau dijemput maut !
Tidak ?
Kematian sendiri aku tak tahu.


Aku terkejut,
sebuah tangan lembut menjamahku,
aku menggigil kedinginan,
dan jatuh bergulingan
ternyata aku bermimpi,
di saat aku bermimpi…

Rabu, 11 Maret 2015

Biarkan Cinta Berbicara

Kekasihku,
biarkan cinta itu mengajak bicara,
dari hati ke hati,
menceritakan warna-warna,
di antara hitam dan putih,
biarkan cinta itu membagi kisah,
dalam suka dan duka,
Ketika memandang purnama,
cinta itu terang berbinar-binar,
dan ketika memandang mendung yang menghitam,
berharap akan turun hujan
mencurahkan kehidupan.


Kekasihku,
Biarkan cinta berbicara,
menghayati keagungan janji,
laksana keindahan mawar,
merekah di pangkuan nurani,
Itulah cinta,
yang membawa kita dari usia ranum,
hingga ke pelukan mati,
karena cinta itu berbicara dari hati ke hati,
bercerita tentang perjuangan yang panjang,
doa yang tak pernah berhenti,
kita,
lahir dan hidup dari cinta,
yang penuh keindahan.

Rabu, 25 Februari 2015

Tuhan, Beri Aku Cinta

Muhammad Saroji - File Pribadi

Sepasang prenjak hinggap di ranting,
berlompatan, menggugurkan daun kering ke bumi,
hari berganti hari,
sepasang prenjak terus bernyanyi,
mengiringi perjalanan sang mentari.


Di lain hari,
seorang lelaki tua duduk tafakur usai sembahyang,
menghitungi tasbih dengan jari jemari,
ya,
lelaki tua,
sang pengelana tua,
lelaki perkasa yang tiba-tiba menjadi renta,
terbayang usia yang sudah di ambang senja,
di bibir kematian.


Pun kematian itu tak kenal usia,
memagut lembut pada jiwa-jiwa yang tertunduk,
atau menyerang garang pada jiwa-jiwa yang jalang,
kematian hanyalah kematian,
pun itu tak dapat didustakan,
berlarilah dari kematian,
selagi engkau masih merasa perkasa....


Tuhan,
di peraduan ini,
di sela-sela nafas harum-MU ini,
entah berapa kali aku telah berjanji,
untuk selalu setia pada janji,
berbakti pada ibu,
pada guru,
pada bumi pertiwi,
tiada dayaku,
hanya ada daya-MU,
tiada cintaku,
yang ada hanya limpahan kasih-MU.

Jangan biarkan malamku berlalu hilang dan kering,
seperti keringnya daun yang luruh ke bumi,
jangan biarkan nyanyian prenjak melebihi keindahan suara-MU,
aku tau Kau selalu membelaiku,
merayu bahkan memanggil.

Tuhanku,
cintaku hanyalah setitik debu,
pantaskah bermimpi tentang sorgaku,
tempat bidadari dan buah-buahan nan ranum,
cintaku hanyalah setitik embun,
tak berbekas di telan hamparan padang pasir.


Tuhanku,
beri aku cinta,
yang menitik di antara derai air mata.


© Copyright - Muhammad Saroji

Tuhan, Beri Aku Cinta

Sepasang prenjak hinggap di ranting,
berlompatan, menggugurkan daun kering ke bumi,
hari berganti hari,
sepasang prenjak terus bernyanyi,
mengiringi perjalanan sang mentari.


Di lain hari,
seorang lelaki tua duduk tafakur usai sembahyang,
menghitungi tasbih dengan jari jemari,
ya,
lelaki tua,
sang pengelana tua,
lelaki perkasa yang tiba-tiba menjadi renta,
terbayang usia yang sudah di ambang senja,
di bibir kematian.


Pun kematian itu tak kenal usia,
memagut lembut pada jiwa-jiwa yang tertunduk,
atau menyerang garang pada jiwa-jiwa yang jalang,
kematian hanyalah kematian,
pun itu tak dapat didustakan,
berlarilah dari kematian,
selagi engkau masih merasa perkasa....


Tuhan,
di peraduan ini,
di sela-sela nafas harum-MU ini,
entah berapa kali aku telah berjanji,
untuk selalu setia pada janji,
berbakti pada ibu,
pada guru,
pada bumi pertiwi,
tiada dayaku,
hanya ada daya-MU,
tiada cintaku,
yang ada hanya limpahan kasih-MU.

Jangan biarkan malamku berlalu hilang dan kering,
seperti keringnya daun yang luruh ke bumi,
jangan biarkan nyanyian prenjak melebihi keindahan suara-MU,
aku tau Kau selalu membelaiku,
merayu bahkan memanggil.

Tuhanku,
cintaku hanyalah setitik debu,
pantaskah bermimpi tentang sorgaku,
tempat bidadari dan buah-buahan nan ranum,
cintaku hanyalah setitik embun,
tak berbekas di telan hamparan padang pasir.


Tuhanku,
beri aku cinta,
yang menitik di antara derai air mata.


© Copyrights - nahdiana.com

Rabu, 09 Juni 2010

Hidup Ini Harus Memilih

Dalam hidup ini, apapun harus kita pilih, sehingga kitapun harus
memilih apa yang sesuai dengan kebutuhan kita. Teori pilihan sebenarnya
gampang, seperti : kalau ada yang gampang mengapa harus dibikin susah ?
Kalau ada jalan yang baik mengapa harus mengambil jalan salah ?
Sehingga almarhum Gus Dur pun sempat berseloroh : begitu aja kok
repot...


Sebenarnya, di hampir semua manusia dewasa yang normal,telah dapat
membedakan perkara yang baik dan buruk, namun karena pengaruh
lingkungan keluarga yang kurang harmonis, lingkungan pergaulan yang
buruk, akan dapat mempengaruhi kejiwaan seseorang terjebak dan
terjerumus pada pilihan-pilihan kehidupan yang buruk seperti
mengkonsumsi narkoba untuk menghilangkan stress, zina dan pelacuran
untuk menghindari pernikahan halal yang dianggap mahal biayanya, atau
kabur dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat yang baka dengan
cara terjun bebas dari lantai 33 gedung bertingkat karena stress
memikirkan permasalahan hidup dan penyakit yang tak kunjung usai.


Kiranya, kepada Allahlah kita selalu berdoa, memohon untuk diberi jalan
kebenaran dan diberi kekuatan untuk melaksanakan kebaikan-kebaikan.

Selasa, 17 Maret 2009

Memahami Kehidupan

Ada sebatang pohon yang tua.
Bila hujan turun beberapa helai daun tumbuh.
Bila musim gugur datang, angin menerbangkan semua daunnya.
Jika diberi pilihan kepada kita, menjadi apakah kita ? menjadi
hujan, angin, musim gugur, daun atau pohon ?
Adalah sebuah pertanyaan yang mengandung falsafah kehidupan, apapun yang kita pilih adalah menggambarkan sifat dan perilaku kita sendiri.

Makna sebuah pohon dalam arti yang seutuhnya adalah rangkaian
kehidupan dari akar hingga pucuk daun yang meliputi
batang, cabang, ranting hingga bunga dan buahnya. Termasuk di dalamnya keindahan dan wangi bunga , pahit atau manis buahnya bila dipandang dari nilai estetika.
Kalau kita memilih pohon, karena pohon itu tegar, lambang keperkasaan.

Kalau kita memilih angin, itulah nafas kehidupan yang menjadi ruh
perjuangan, kadang lembut kadang bergelora.

Kalau kita memilih musim gugur, itulah sifat tafakur yang menjadi
penawar kegersangan dikala gundah hati.

Kalau kita memilih hujan, itulah perjuangan kita, pasti ada hasilnya
diantara dikabulkan atau ditolak oleh Tuhan.

Kalau kita memilih daun, itulah romantika hidup kita agar kita tak
bangga dengan kesenangan dan tak sedih dengan duka cita.

Dan apapun yang kita pilih, itulah gambaran batin kita, dan apapun yang anda pilih, aku adalah aku, anda adalah anda, kitalah jiwa yang merdeka, kita jiwa yang seutuhnya bagai sebuah pokok batang tua yang merangkai dari akar hingga pucuk daun
terkena hujan, ditiup angin, dimakan usia, layu dan mati luruh ke bumi

Itulah gambaran kehidupan yang sempurna...
...dari eksistensi kehidupan di dunia.

Jumat, 27 Februari 2009

Batas

Hatiku trauma
hasratku berduka
dan itu masih ada
walau terasa hangat belai mentari
tapi jiwa kaku mati.

Keinginan membentang
sampai ke ujung batas hidup
ketika mencapai puncak jemu
sampai padaku rasa ingin tahu
batas antara mati dan hidup.

Oh ......

bertahan itu wajar
dalam mengukur kepandaian akal
aku mesti bertahan
sampai padaku
batas antara hidup dan mati.

Pemalang 16 agustus 1989