Tampilkan postingan dengan label Suara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Oktober 2016

Catatan Kecil Sang Narapidana : Suara

Muhammad Saroji - File Pribadi



 Ku dengar kau seperti bersuara, dari jauh mengucapkan salam.
Seperti angin yang semilir membelai rambut keringku.


Aku tercengang, sudah lama kau tiada.
Di taman itu pernah ku tanam kembang melati,
tapi tak pernah tumbuh dan berbunga,
seperti tak pernah ku nikmati indahnya bunga-bunga pengantin itu bersamamu,
kemarau ini begitu kering,
jauh di lereng gunung hutan itu terbakar,
seperti terbakarnya kenangan itu diriku.


Kekasihku,
inikah hari kemerdekaanku
atau ku kibarkan bendera kemenanganku?
Tidak,
tapi hanya mimpi.
Jauh di sana mungkin kau menangis,
tapi sebenarnya akulah yang menangis
merintih dan perih.


Ku dengarkan kau seperti bersuara,
sebuah nyanyian tentang cinta dan kerinduan,
tentang sepucuk doa,
tentang darah dan air mata,
yang terlanjur tertumpah, tanpa makna.


Suara itu,
hanya kau yang punya
hanya aku yang mendengar,
karena cintamu
jiwa ragaku.


---
Karawang - 21 Oktober 2016
By Muhammad Saroji
© Copyright - All rights reserved

Minggu, 04 September 2016

Suara



Aku dengarkan, kau seperti bersuara
dari jauh menyampaikan salam.




Seperti angin yang semilir
kau belai rambut kering ini.




Di beranda ini kemudian aku tercengang
sudah lama kau telah tiada.




Di taman itu aku tanam melati
tapi tak pernah tumbuh
kemarau ini begitu gersang
jauh di lereng gunung
hutan itu terbakar
seperti kenangan itu yang membakar diriku
harusnya aku suntingkan bunga itu
di sela-sela rambut sutramu
tapi hanya mimpi.




Jauh di sana
mungkin engkau menangis
tapi aku tak tahu untuk siapa
atau kenapa
karena kau tak pernah terbuka.




Aku dengarkan kau seperti bersuara
sebuah salam tentang kerinduan
tentang sepucuk doa
tentang kepiluan tak berkesudahan.




Suara itu
hanya kau yang punya
hanya aku yang mendengar.......





Pemalang
19 Oktober 2002

Sabtu, 25 April 2009

Tuhanku

Hidupku adalah perjalanan
laksana menuju sebuah cakrawala
mestinya jiwaku melangkah
hingga jauh menembus langiu
dan warna hatiku
adalah sebuah kerinduan yang dalam
dan mestinya aku bertekad hati
selain Engkau
adalah cintaku tak mungkin.

Dengarkanlah kerinduan-kerinduan ini
yang menjadi desah kecewa dan tangis setiap hari
hati ini adalah bunga-bunga cinta
ada getarnya
ada geloranya
mestinya bukan suara lagu
tapi tasbih yang mengalun abadi
yang menelusuri darah, daging, dan relung sukma
alunnya biar abadi
tak lekang karena suka dan duka.

Aku berjalan mencapaiMU
inilah baktiku
tiada rasa jemu
inilah cintaku
sekedar yang aku tanam dan aku sirami
tiada mengelu keluh
inilah pujanku
sebatas kefasihan lisanku
tiada aku kelu
Tuhanku....


Jakarta
30 April 1992