Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2010

Kapan Sayyidina Muhammad SAW Menjadi Nabi?

Ada yang bilang bahwa Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi sejak awal sebelum usia 40 tahun, bahkan sebelum Adam tercipta. Itu tidak benar. Nabi Muhammad jelas baru menjadi Nabi setelah berusia 40 tahun, sebelum itu belum menjadi Nabi meskipun sudah ada berbagai kejadian luar biasa yang menunjukkan bahwa beliau spesial. Kejadian luar biasa tersebut istilahnya irhash, bukan mukjizat sebab istilah mukjizat hanya bagi mereka yang telah diangkat menjadi Nabi saja. Hadis yang menceritakan bahwa beliau diangkat sebagai Nabi tatkala berusia 40 tahun cukup banyak. Di antaranya adalah: عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ، قالَ: «بُعِثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وهُوَ ابْنُ أرْبَعِينَ سَنَةً "Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah diangkat menjadi Nabi tatkala berusia 40 tahun"  Sebenarnya dalil di atas sudah cukup, tapi sebagian orang betul-betul meyakini sebelum Itu Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi meskipun belum mendapat wahyu pertamanya. Mereka juga menguatkan pendapatnya dengan beberapa hadis. Untuk itu per

Ridho

Kadang kita ridho dengan keadaan diri kita sendiri karena belajar meridhoi apa yang telah menjadi ketetapan Ilahi. Tapi apakah orang-orang tercinta juga meridhoi keridhoan kita dan memaafkan segala kelemahan dan kekurangan kita ? Sesungguhnya kita tidak bahagia karena tidak ridho dengan ketetapan Ilahi, dan kita membelenggu diri sendiri dengan keinginan-keinginan yang tak pasti.

Ridho

Kadang kita ridho dengan keadaan diri kita sendiri karena belajar meridhoi apa yang telah menjadi ketetapan Ilahi. Tapi apakah orang-orang tercinta juga meridhoi keridhoan kita dan memaafkan segala kelemahan dan kekurangan kita ? Sesungguhnya kita tidak bahagia karena tidak ridho dengan ketetapan Ilahi, dan kita membelenggu diri sendiri dengan keinginan-keinginan yang tak pasti.

Ikhlas

Kebahagiaan terletak di dalam hati, dan dia harus diusahakan, harus diciptakan. Kita bahagia karena melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kata hati. Tetapi terkadang kita melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kata hati karena demi membahagiakan orang lain, dan hati kita menjadi tertekan. Itulah yang menjadi dasar ditumbuhkannya perasaan ikhlas pada diri kita, dan itulah yang dinamakan pengorbanan dan pengabdian. Keterangan gambar : Istri dan anak tercinta

Ikhlas

Kebahagiaan terletak di dalam hati, dan dia harus diusahakan, harus diciptakan. Kita bahagia karena melakukan pekerjaan yang sesuai dengan kata hati. Tetapi terkadang kita melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kata hati karena demi membahagiakan orang lain, dan hati kita menjadi tertekan. Itulah yang menjadi dasar ditumbuhkannya perasaan ikhlas pada diri kita, dan itulah yang dinamakan pengorbanan dan pengabdian.

Biarkan Prenjak Itu Bernyanyi , Anakku

Burung Prenjak - File Kicaumania Pagi itu cerah sekali ketika aku baru turun dari musholla sehabis melaksanakan sholat subuh. Embun-embun di pucuk daun menetes di pangkuan bumi yang lembab, mengiringi semburat kemerahan mentari pagi. Kudengar kicauan burung prenjak, burung kesukaan anakku yang kini kian tumbuh dewasa. Selama ini semoga aku tak pernah menyesal membiarkan anak-anakku bermain membiarkan mereka mengekspresikan kebahagiaan sebagai anak ndeso yang jauh dari kemegahan kota metropolitan, jauh dari cumbu rayu perang, jauh dari politik adu domba para politisi. Aku biarkan mereka bermain bersama teman-teman mencari jangkrik, memancing dan mandi di kali, di iringi suara burung-burung, desir angin gunung yang semilir, ku biarkan mereka mengeja bahasa alam, alam yang masih perawan, bersama kupu-kupu mengarungi keindahan semesta. Anakku, bernyanyilah di negeri yang jauh dari perang tentang damai dan kehidupan jangan biarkan prenjak terbang sendirian karena kehilangan kekasih tersayan

Biarkan Prenjak Itu Bernyanyi , Anakku

Pagi itu cerah sekali ketika aku baru turun dari musholla sehabis melaksanakan sholat subuh. Embun-embun di pucuk daun menetes di pangkuan bumi yang lembab, mengiringi semburat kemerahan mentari pagi. Kudengar kicauan burung prenjak, burung kesukaan anakku yang kini kian tumbuh dewasa. Selama ini semoga aku tak pernah menyesal membiarkan anak-anakku bermain membiarkan mereka mengekspresikan kebahagiaan sebagai anak ndeso yang jauh dari kemegahan kota metropolitan, jauh dari cumbu rayu perang, jauh dari politik adu domba para politisi. Aku biarkan mereka bermain bersama teman-teman mencari jangkrik, memancing dan mandi di kali, di iringi suara burung-burung, desir angin gunung yang semilir, ku biarkan mereka mengeja bahasa alam, alam yang masih perawan, bersama kupu-kupu mengarungi keindahan semesta. Anakku, bernyanyilah di negeri yang jauh dari perang tentang damai dan kehidupan jangan biarkan prenjak terbang sendirian karena kehilangan kekasih tersayang. Janganlah kau menjadi pembunuh

Gallery

Gallery

Pecah Batu Pecah Kerikil

Zaman, telah berganti zaman zaman, menorehkan langkah kaki menjadi sejarah kabut tipis yang menyelimuti bebatuan menjelang gerimis di keremangan senja bebatuan tua terkikis angin bebatuan tua terlindas zaman. Zaman, telah pecah batu hancur berantakan bukan hancur sedikit demi sedikit zaman telah mengajakku bicara tentang keresahan dan keputusasan padahal aku hanya kerikil tajam dan berduri. Zaman, telah hancur batu berserakan hampir padam api kemarahan kerikil-kerikil putus asa benar, putus asa menjadi debu berkalang tanah. Zaman, dibawah kakiku menyala api neraka kemana aku menghindar kemana aku berlari padahal surga adalah negeri impian ketika aku bersumpah jabatan untuk adil dan bijaksana ! Zaman ! Kemana aku berlari pada saat zamanmu telah hancur berantakan ! batu ini hancur berantakan !

Pecah Batu Pecah Kerikil

Zaman, telah berganti zaman zaman, menorehkan langkah kaki menjadi sejarah kabut tipis yang menyelimuti bebatuan menjelang gerimis di keremangan senja bebatuan tua terkikis angin bebatuan tua terlindas zaman. Zaman, telah pecah batu hancur berantakan bukan hancur sedikit demi sedikit zaman telah mengajakku bicara tentang keresahan dan keputusasan padahal aku hanya kerikil tajam dan berduri. Zaman, telah hancur batu berserakan hampir padam api kemarahan kerikil-kerikil putus asa benar, putus asa menjadi debu berkalang tanah. Zaman, dibawah kakiku menyala api neraka kemana aku menghindar kemana aku berlari padahal surga adalah negeri impian ketika aku bersumpah jabatan untuk adil dan bijaksana ! Zaman ! Kemana aku berlari pada saat zamanmu telah hancur berantakan ! batu ini hancur berantakan !

Bilakah ?

Bilakah waktu ini berhenti berputar ? Berhenti bekerja berhenti bernafas ? Bilakah ini menjadi kenyataan ? Kedamaian dan kemerdekaan ? Bilakah orang yang menjabat tangan memegang nurani menyingkirkan egois ? Bilakah aku mengerti semuanya ini mempunyai arti ?

Ku ketuk pintuMu

Allah, ku ketuk pintuMu membukakan jalan menuju masjidMu. Allah, selama ini aku khilaf lupa diri hilang diri. Allah, hati ini bertanya ketika menungguMu mencurahkan rahmat. Bukankah aku tidak tahu diri rahmatMu melimpah ruah tanpa dapat aku hitungi. Allah, izinkan aku bicara bukan kelantangan bukan kekecewaan bukankah aku ini sepenggal nyawa ? Yang setiap helaannya dipertanggungjawabkan ? Allah, di lantai suciMu ini barangkali Kau ridloi segala kekuranganku barangkali Kau maafkan segala kelemahanku...

Allah

Allah yang maha pengasih dan penyayang. Allah tempat ku bergantung dan berharap. Allah aku memuji dan memuja. Allah cengkramlah jiwa raga. Allah jangan biarkan aku merana. Allah, telah lelah jiwa raga. Tapi Kau berfirman : jangan putus asa. Allah Malik Karim.

Gerimis Berkepanjangan

Jakarta, ketika gerimis masih berkepanjangan ketika kudengar ketukan pintu tanpa salam ketika kemudian aku enggan untuk beranjak dari pembaringan karena ngantuk dan kelelahan benar betapa lelahnya jiwa raga. Hujan, pun kemudian turun semakin deras menghalau debu-debu kemarau yang berkepanjangan membangunkan biji-biji yang hampir mati untuk kemudian tumbuh dan berkembang memekarkan kembang-kembang melati yang mewangi untuk disuntingkan di baju pengantin. Melati, aku pun terkenang perjalanan di sebuah musim semi, ketika itu betapa mahalnya menggapai cinta betapa merananya aku berkalang tanah betapa membiusnya badai fitnah kontras dengan bentang alam raya yang cemerlang. Di langit, ku pandang bintang yang gemerlapan ketika itu aku berseru : majulah jiwaku ! Bukan penderitaan, karmamu " Jakarta, di saat gerimis masih berkepanjangan, masih juga kudengarkan ketukan pintu tanpa salam, jiwa ragaku lelah ! perkenankan aku tidur sejenak ! Tidak, tidak juga kuperkenankan diriku tidur, karen

Kangen

Bukankah aku juga manusia seperti kamu, punya cinta dan kerinduan ? Di perantauan ini aku kangen wajah anak-anak, wajah-wajah bersih tak bernoda yang baru saja mengeja kata-kata berkata dan berbicara dengan lafal terbata-bata. Oh dunia, jangan ajari anakku kebencian dan pengkhianatan meski kebencian dan pengkhianatan telah berpuncak di kepala. Wahai dunia para penguasa bukankah puncak kedholiman adalah awal dari keruntuhan runtuhnya pengkhianatan digiring ke tengah lautan lautan siksa api neraka.

Menanti keadilan

Seperti menunggu hujan di tengah padang pasir, begitulah kira-kira penantian akan datangnya keadilan di negeri ini. Meski ada keadilan itu, namun hanya sedikit, selebihnya entah bersembunyi di mana, di kolong jembatankah, di comberankah, atau di tengah-tengah bisul bernanah. Sepertinya keadilan seperti makhluk yang menjijikkan, beramai-ramai orang mencampakkan, hingga keadilan teraniaya, tertindas dan diperkosa. Bila keadilan dapat berbicara, kemanakah dia akan mengadukan nasibnya, kepada rakyat jelata yang tak berdaya ? Atau kepada Tuhan yang Maha Adil dan Bijaksana ? Ya ! Karena keadilan milik Tuhan, biarlah Dia yang menghakiminya.

Ngeblog

Jakarta, pada saat mata ini baru saja terlelap, kemudian terbangun lagi karena mendengar lolongan anjing, kemudian mata ini tidak mau terpejam lagi. Itupun dalam tidur yang sekejap, masih saja sempat aku bermimpi, mimpi yang tidak indah sekali. Duh, mendingan aku ngeblog, meski masih terlihat seperti orang goblog ! ( orang goblog ?) ada yang menarik dari kata-kata seperti orang goblog ! Berarti aku pinter? Nggak juga ! Karena pada dasarnya aku goblog, lebih jelas lagi: "guoblog", karena dari hari ke hari bertambah banyak masalah yang makin tak ku mengerti, dan aku mending berucap: ah, biar sajalah...

Cinta Ini Rumit, Cinta !

Ketika senja di langit Jakarta temaram ketika angin dingin berhembus perlahan ketika itu aku hendak menuju lantai suciMu lantai tempat jiwaku mengadu meratap dan berpasrah diri. Hampir saja hampir saja aku menjelma menjadi manusia jalang kotor dan terbuang !. Hampir saja aku terjerumus, tertipu dan terpuruk. Nafsu memperdaya mengajakku berselingkuh mengkhianati AsmaMu mencampak kasih sayangMu. Ketika senja di langit Jakarta temaram, hampir saja aku terbuang ! Tapi tidak ! Aku yang membuang diri aku yang berlari aku yang mencampakkan diri ! Dimanakah jiwaku ! Aku hilang diri dimanakah cintaku ! Aku tersentak berlari. Tuhanku ! Dimanakah jiwaku ! Tuhanku ! cinta ini sulit ! Tuhanku ! terjemahkan mimpi ! Tuhanku ! Hidup ini, inikah mati ? Tuhanku ! Kirimkan kabar untuk cinta , cinta ini rumit, Cinta !