Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2016

Di Puncak Tebing

Muhammad Saroji - File Pribadi Aku berdiri di puncak tebing, memandang jauh ke bawah , pada orang-orang yang lalu lalang mencari nafkah, penuh semangat dengan kucuran keringat, melintasi debu-debu beterbangan demi anak dan istri tercinta. Di puncak tebing ini ku pandangi alam sekeliling, pada bumi yg tidak perawan lagi, penuh nanah penuh sampah, diperkosa manusia-manusia serakah, diperah hingga berdarah-darah, hingga tinggal lolongan sumpah serapah dari orang-orang miskin yang terlanjur hidup dalam susah payah. Di puncak tebing ini, bukanlah aku hendak mengutuk pada "negeri bedebah", karena dikelola oleh orang-orang durhaka, tapi di puncak tebing ini aku hanya ingin mencari jejak kekasihku, yang terlintas di antara bebatuan dan rerumputan, ditengah padang gersang, kering dan mencekam, ketika itu kekasihku bilang, cintaku hanyalah untukmu seorang, bahkan tak kan pernah hilang, sampai nyawa terlepas dari badan. Bumik

Tegar

Muhammad Saroji - File Pribadi Di jalanMu tiada hendak aku melangkah kecuali dengan hati tegar, biarlah menjadi indah biarlah perjuangan ini menjadi kemuliaan menelusuri tebing-tebing tinggi menyibak tirai kabut di antara ranting-ranting pinus. Bukankah seharusnya malam ini aku terlelap, bahkan bercumbu rayu atau bergulatan cinta, tetapi ketukan pintu memanggilku pelan mengajakku berdamai dan bercerita tentang sebagaian dunia yang hilang karena kegagalan dan kelemahan kebodohan dan keputusasaan. Tegar hanya itulah kata-kata yang dapat kusematkan menutup rasa rindu menanti keberhasilan yang tertunda. Tegar dan tabah untuk selamanya. --- 26 Mei 2010 14:24 By Muhammad Saroji © Copyright - All rights reserved

Negeri Impian

Aku bermimpi tentang negeri impian negeri yang subur makmur dan kaya raya penduduknya ramah tamah dipimpin kepala negara yang bijaksana. Pernahkan Anda membayangkan negeri itu di depan mata kita tempat kaki kita berpijak tempat kita dilahirkan dan dibesarkan oleh ayah bunda tercinta ? Pernahkah Anda membayangkan betapa bahagia kita hidup di dalamnya tiada peperangan tiada penindasan tiada korupsi tiada pendustaan ? Pernahkah Anda membayangkan jauh di negeri Palestina dimana anak-anak meregang nyawa diterjang peluru para tentara negeri bedebah orang tua galau gulana telah sah-kah pembantaian umat manusia ? telah muliakah menumpahkan darah-darah manusia tak berdosa ? Ini bukan impian tapi kenyataan di sana anak-anak Palestina hidup di bawah bayang-bayang peperangan jihad fi sabilillah di sini anak-anak bermain layang-layang menikmati keindahan masa kecil dalam buaian bunda aku terus bermimpi tentang negeri yang indah dan permai jauh dari peperangan jauh dari genggaman penguasa haus

Cinta Dalam Perjalanan

Kekasihku dalam kerinduan ini bukankah cinta ini menjadi indah ? Dengannya aku mengingatmu, memujimu, mengagungkanmu. Kekasihku bersandarkan pilar tua ini mengenangmu laksana membaca cerita suka cita kita, bukankah akan merasa kehilangan karena telah dipisahkan ? Bukankah cintaku ini nyata ? Senyata cinta kasihmu di hatiku. Tapi hampir saja aku berbalik arah ketika mengetuk pintumu aku tiada bisa aku sangka telah musnah hakikat sebuah cinta aku sangka telah terpuruk segala daya untuk sekedar mengenangmu dan menyentuh jari-jari lentikmu. Aku hampir saja berbalik arah, acuh dan nista ketika merindumu adalah fatamorgana ketika merengkuhmu adalah lembah hayalan. Kekasihku bukankah masih ada cinta dalam sedikit sisa, dari ratapan hamba berputus asa? ini cinta masih ada meski sedikit tersisa dari ratapan hamba yang tersiksa, jangan biarkan birahi ini membara menyentuh api di padang gersang, jangan biarkan hamba bagai kuda jalang yang berlari liar menembus malam hitam pekat. Aku mem

Duka Palestina

Telah robek, tuli dan berdarah telinga dunia pekak mendengar suara congkak zionis israel durjana. Apakah tidak bernilai rasa kemanusiaan hingga anak-anak tak berdosa menjadi korban pembantaian ? Apakah tidak ada hukum dan keadilan hingga mengabadikan penjajahan sepanjang zaman ? Apakah telah menyerah bangsa-bangsa yang mengaku bermartabat pada cengkraman laknat ? Apakah telah didustakan Mata dan Telinga Tuhan hingga keadilan dan kasih sayang hanya slogan belaka ? Bukalah mata dunia ! Ini adalah pembantaian dan penistaan ! siapa yang pantas disebut bangsa teroris ? israel-lah jawabannya ! Bukankah kebiadaban ini nyata, Seperti fir'aun memburu Musa ? Bukankah telah tenggelam firaun ditelan lautan, sebagai jawaban atas puncak kedzalimannya ? Tuhan, hanya Engkaulah yang pantas berbicara tentang hakikat kemulian dan kemenangan, hati ini pasrah dan gelisah, hanya Engkaulah yang pantas mendengar rintihan dan ratapan anak-anak di negeri tertindas, tidak pantas kedurhakaan tidak panta

Bunga Cinta

Indah, indah nian kau memberi tembang ketika dadaku berguncang tak terkata kata-kata berlari aku menuju suara ku berteriak: Indah, di mana cintamu ku jelang di mana diriku menyuntingkan kembang..! Indah, jangan berhenti bersuara jangan mengira aku pasrah aku cari dirimu hingga kemana karena langkah kaki ini adalah cinta ! Cinta ? Oh tidak sekali-kali tak didustakan bunga ini tetap ku siram karena bunga ini adalah tanda cinta. --- By Muhammad Saroji - Majalah Sastra - Majalahsastra.com © Copyright - All rights reserved

Jakarta - Jakarta

Siang itu langit cerah, tapi debu polusi membuatnya pucat Jakarta, apakah harus begini selamanya, kemacetan, kesemrawutan, kekerasan, kekalutan, kemiskinan… Jakarta, andaikan seseorang bermimpi engkau adalah surga, di sanalah puncak segala keadilan di sanalah tak ada yatim menitikkan air mata, tak ada penggusuran membabi buta tak ada tuna wisma tidur di emperan, tak ada pengamen memeras di bis kota bahkan tak ada sumpah serapah para demonstran di bundaran hotel indonesia. Jakarta, memang siapa yang menciptakan keadilan ? Dengar dan lihatlah andaikan seseorang bermimpi engkau adalah surga, tengadahkanlah muka langitmu suram, bukankah kejujuran mudah diperjualbelikan ? Bukankah tempat tinggalku di istana hanyalah bayangan ? Bayangan kekhawatiran bayangan kendurhakaan bayangan diri sendiri ditikam dari belakang… Jakarta, bukankah aku selalu merindukanmu, dalam gelap dan genangan air mata, agar dari bilik kamarmu memancar sinar kearifan dan kedamaian, yang memancar ke segala penjuru

Allah

Allah yang maha pengasih dan penyayang. Allah tempat ku bergantung dan berharap. Ya Allah aku memuji dan memuja. cengkramlah jiwa raga. Ya Allah jangan biarkan aku merana. Ya Allah, telah lelah jiwa raga. Tapi Kau berfirman : jangan putus asa. Ya Allah Ya Malik Ya Karim. 29 Mei 2010 21:40 By Muhammad Saroji - Majalah Sastra - Majalahsastra.com © Copyright - All rights reserved

Malu

Sungguh aku ingin bangkit dan beranjak pergi meninggalkan kegelapan ini, kekacauan ini. Telah tercampak malu terbuang ke semak-semak, di sela rumput liar aku mengaduh, kemanakah gerangan orang-orang yang berorasi demi kemerdekaan ?. Sungguh tak pernah terjual suara ini, sungguh demokrasi ini aku tak mengerti, sungguh kekacauan ini siapa peduli, siapa peduli negeri merana ini ? Apakah menanti seorang anak kecil dari puncak tebing, bertirai daun, menengadahkan tangan mengetuk pintu penghulu langit memohon ampunan seribu dosa para penguasa hingga rakyat jelata, sungguh Nuh pun mengembangkan layar bahtera meninggalkan negeri para durjana hingga puncak tebingpun hanyalah lautan belaka. Duh, dimanakah cahaya ? bukankah lentera itu telah membumi di jiwa ? Lalu mengapa kebenaran didustakan ? Bukankah dalam jiwa telah bersemayam fitrah ? Lalu mengapa malu dinistakan tercampak di semak belukar di antara rumput-rumput liar ? --- 29 Mei 2010 06:11 By Muhammad Saroji - Majalah Sastra - Maj

Gadis Kecilku

Gadis kecilku gadis cantik yang menawan hatiku kupandangi kau dari jauh di bawah mentari pagi indah berseri. Engkaulah bidadari yang bersemayam dalam mimpi engkaulah penyejuk hati meski kehadiranmu hanyalah mimpi. Sorgalah singgasanamu kesucian berlabuh air mata biru aku ingin bernyanyi ingin menimang ingin berseri hanya mimpi. Gadis kecilku hanyalah mimpi. --- 6 Juli 2010 23:29 By Muhammad Saroji - Majalah Sastra - Majalahsastra.com © Copyright - All rights reserved

Cinta Ini, Seberapa Pantas

Di kamar tidur ini aku terbaring lesu, melepas lelah karena kerja seharian, sambil menatap poster wanita cantik yang terpajang di dinding. Agaknya wanita dalam poster itu adalah seorang model yang sangat cantik namun aku lupa entah siapa namanya. Aku membayangkan andai istriku seperti dia, mungkin hatiku sungguh bahagia. Tapi aku tak ingin membiarkan angan-angan ini mengganggu fikiranku. Ku buang angan-angan itu menjauh, karena menuruti keinginan hawa nafsu adalah bagaikan menenggak air laut, makin diminum akan terasa semakin haus. Bukankah selama ini istriku adalah belahan jiwaku yang paling setia? Bukankah dari rahimnya telah keluar anak-anak yang menjadi permata di jiwa ? Bukankah dari air matanya telah menitikkan harapan-harapan yang mulia ? Bukankah dari kasih sayangnya telah terpancar mahligai-mahligai kebahagiaan ? Itulah kesetiaan cinta sejati seorang istri, yang selalu sabar menunggu suami kan kembali. Di kamar ini, kupandangi lagi poster wanita cantik yang terpajang di di

Debu-Debu Jalanan

Kukorbankan seribu keinginan yang terpendam, kucampak ke tong sampah… Kukorbankan seribu impian karena kau bilang: kau egois ! Ya kukorbankan, kulapangkan agar jalanmu lurus tak berkerikil tak bergelombang karena aku tak lebih hanya debu-debu jalanan ! Ya, katamu ini demi cinta ! ini demi kasih dan sayang ! Katamu inilah saatnya berkorban agar cinta tak dikorbankan ! Ya, demi cinta seribu impian itu kucampak ke tong sampah, bercampur bangkai berserakan, kembali menjadi impian berkalang tanah.. --- 17 Juni 2010 00:14 By Muhammad Saroji - Majalah Sastra - Majalahsastra.com © Copyright - All rights reserved

Keadilan Dan Kedustaan

Ketika tiba senja yang temaram, ketika tanah yang kering merindukan hujan, ketika yang lapar merintih kesakitan, masih adakah kejujuran untuk sebuah keadilan ?. Selalu saja orang-orang mencari kebenaran sendiri meski menipu itu di dada sakit meski dusta itu di mata perih mata batin merintih melihat pencuri dirajam mati mata hati menjadi mati melihat sepak terjang orang mencari rizqi menikam jantung sendiri jantung kebenaran jantung kesucian jantung keabadian tempat sorga digantungkan. Duhai malang benar nasib keadilan dipenggal tangan-tangan kotor berlumur darah kelak bangkai keadilan terpuruk di bak sampah dibuang ke kali hanyut ke lautan ditelan ombak samudra sirna... Kelak siapa lagi kan dipenggal bumi tiada nafas tiada kelah arwah keadilan menagih janji hutang nyawa dibayar nyawa butang mati dibayar mati sadarlah wahai penguasa penguasa para santri para priyayi hingga mata kering tak menangis lagi sepasang merpati tak mengenal cinta lagi kelak kau kan mengerti janji Allah itu

Durhaka

  Berawal dari ketidakpatuhan diri kepada orang tua, mengkhianati teman, mengingkari kata hati, berlanjut menjadi kedurhakaan kepada Allah. Teramat banyak nafsu keinginan manusia, mengumpulkan harta, meraih pangkat dan jabatan, hingga mengejar segala apa yang ada dalam benak fikiran. Sesungguhnya apa yang diterima manusia adalah baik dalam pandangan Allah kalan manusia pandai menghayatinya. Jika Allah menurunkan musibah, maka sabar adalah sikap terbaik agar kita mendapat ridhoNya. Dan jika Allah menurunkan nikmat, maka bersyukur adalah sikap terbaik agar Allah juga meridhoinya. Sesungguhnya orang yang menyesali kesusahan, mengutuk kemiskinan adalah orang yang durhaka, karena dia tidak tahu untuk apa kesusahan dan kemiskinan dikaruniakan. Barangkali kitapun akan menduga, jikalau Allah memberinya kesenangan dn kekayaan akan bertambah durhakalah dia. Ketaatan dan keluhuran budi tidak disandarkan pada ukuran harta dan jabatan yang telah Allah karuniakan kepadanya. Sungguh teramat malu kita

Bandara hati

Menelusuri tepian pantai dari satu muara ke lain muara menikmati nyanyian burung belibis yang terbang rendah di antara pucuk-pucuk gelombang. Dalam perjalanan ini apa yang ku cari asmara kasih telah patah hati nyanyian kerinduan telah terpisah dari badan jasad ini memuja cinta cinta terlarang ! Di mana bandara hati tempat ku hamparkan selembar sajadah dalam balutan lumpur ini aku juga tahu ini dosa dosa anak manusia yang durhaka tak mungkin bukan aku berkubang selamanya ? Mumpung masih ada sisa usia ! Di manakah bandara hati tempat aku tidur terlelap sejenak melepas keinginan hidup yang melelahkan. Tuhan, dalam siksaMu ku hikmati keagungan Mu   5 Juli 2009 05.37

Maya

Ku cari wajah-wajah cinta di antara bimbang dan kepasrahan ku nikmati rindu dendamnya keindahan yang memikat ternyata hanya bayangan maya. Di ujung pagi melepas mimpi badan berdiri dari pembaringan berjalan tertatih-tatih menuju ke lain mimpi. Benarkah ini sebuah pilihan atau sekedar mengurutkan angka-angka jangan biarkan usia ini lapuk, Tuhan aku juga ingin bahagia.   5 Juli 2009 05.40

Wajah - Wajah Cinta

Wajah-wajah cinta berdiri dari pembaringan lelah jiwa raga layu dan terbuang. Matahari tak menampakkan sinarnya wajah-wajah cinta tampak bagai wajah kriminal jahat dan jahiliah. Keadilan untuk siapa ? Kasih sayang terbuang percuma ! Sungai kering air mata kering tangisan tak bersuara ! Biarkan hati nurani ini bercerita jangan acungkan belati hingga lidah gagap bersuara biarkan kaki ini melarikan diri melepas kehinaan yang melelahkan ! Bunuh diri, tidak bukan ? Tapi kebekuan ini membunuhku seribu kali seribu kali hidup dan mati seribu kali makin tak ku mengerti siapa diri ini Wajah-wajah cinta berdiri dari pembaringan kering dan pasrah putih pucat putus asa   5 Juli 2009 12.12

Apa Kabar Tanah Airku ?

            Dari balik jeruji penjara ini aku mengintip di luar sana langit mendung awan bergulung menutupi bumi merdeka apa kabar bangsaku ! apa kabar tanah airku ! Di luar sana rakyat bersorak hujan mengguyur di tanah yang telah lama gersang kemarau berlalu tersibak keramahan dari bilik penjara ini aku bersyukur masih banyak Rahmat dicurahkan   5 Juli 2009 12.19

Aku Pada Pujaanku

Kepadamu Ku bacakan mantra-mantra tapi aku takut kau mandraguna ku bisikkan rayuan kata-kata tapi aku takut kau pengagum realita ku baitkan syair dan puisi tapi aku takut kau pujangga mulia ku impikan kau dalam peraduanku tapi aku takut kau benci hayalan-hayalan. Akupun tak berbuat apa-apa aku mesti diam ? Diamku tanpa mantra-mantra tanpa bisik rayuan tanpa puisi tanpa impian bahkan tanpa keberanian. Itu cintaku menjadi angin yang gersang dan kau makin garang jauh dan terbuang. Ternyata diamku tak berguna dan segalanya tak bermakna tak ada kesetiaanku kearifan menjadi debu yang beterbangan dan cinta di hatiku menjadi rasa penuh kehampaan. Jakarta 4 September 1994

Tuhan

Tuhan malam ini aku merenung menghikmati ketetapanMu. Tuhan suka duka di jiwaku tangis, darah dan air mata semua milikMu aku adalah firmanMu aku adalah ketetapan suciMu. Kau hembuskan RahmatMu menjadi desah nafasku dan dalam ajalku Kau jemput aku dengan amal yang aku miliki. Jakarta 2 Mei 1994

Bintang Maharani

Di bawah matahari senja ketika kuntum sedap malam bermekaran ku sebut namamu Bintang , Bintang Maharani. Di pematang sawah ini aku berlari titik embun di pucuk daun padi berpendar semburatkan warna pelangi burung pipit bernyanyi hinggap bergembira di batang padi yang menguning ini kisah cintaku di masa kecil masa indah penuh wangi bunga bersama Bintang Maharani. Bintang Maharani di mana engkau kini dulu menghalau pipit bersama di hamparan sawah yang menguning dulu sekolah bersama dan engkau selalu jadi pujaan karena engkau adalah bintang bintang kelas Bintang Maharani. Bukankah telah kita berjanji cinta itu abadi dan jiwa kita tak terpisahkan di bawah matahari senja ini aku mencari di ujung pematang ini aku menanti sambil bernyanyi la..la..la seperti dulu pernah kita nyanyikan. Matahari senja telah berganti purnama keperakan di arak awan-awan putih bintang gemintang bersinar berseri mengiringi malam menjemput impian di peraduan sepi ini aku berdoa semoga kelak jiwa kita di persatukan d

Permaisuri

Di ujung suaraku kau ku panggil hati ini menggigil hendak menggapai kau permaisuriku hilang kini melintasi pematang menyibak ilalang benarkah senja semburatkan merah tembaga permaisuriku hilang sudah. Oh raja diraja oh jiwa berjiwa oh cinta prahara duka oh kelana pupus sudah ini mawar berduri di taman melati seroja pengantin sirna kemana kelelawar mengepakkan sayapnya burung malam berhenti bersahutan. Ku berlari hendak meraih bejana cintaku bertumpah air di persimpangan musim Permaisuriku meratap menangis ini mahkota bertahta apa ini singgasana kencana siapa.. Oh raja diraja oh kepiluan meratapi apa oh darahku terlelap sudah oh permaisuriku bidadari sudah oh kemenanganku sempurna sudah oh kematianku dekat sudah...   5 Juli 2009 13.20

Perjuangan

Bila Engkau ingin tahu bahwa hidup ini akan memberikan makna kepadamu, maka hikmatilah bahwa hidup ini adalah perjuangan, perjuangan di dalam sunyi, juga perjuangan di alam yang membara. Nafsu dan keinginanmu adalah api yang menyala-nyala, dengannya Engkau hidup, dan dengannya pula Engkau ditimpa kehancuran bila Engkau tidak mampu mengendalikannya. Ingatlah bahwa perjuangan paling berat adalah perjuangan melawan hawa nafsu dan perjuangan memelihara imanmu. Dan orang yang paling perkasa di antara kamu adalah orang-orang yang dapat mengalahkan hawa nafsunya. Untuk dapat mengalahkan hawa nafsu, lihatlah dirimu sendiri, bahwa Engkau hidup tak sendiri, Engkau punya Tuhan Yang Maha Kuasa, berbaktilah kepadaNya dengan sepenuh jiwa raga. Hidup di dunia ini adalah fana, laksana di tengah padang yang menghampar Engkau menanam, carilah bekal perjalanan menuju alam yang abadi, dan bekal yang harus Engkau miliki adalah menjalankan amanat Tuhan dengan hati yang ikhlas tanpa mengharap puji-pujian. Ja

Kapan Aku Merdeka?

Jiwa ragaku lelah melangkah tak berdaya berfikir tiada gairah kepalaku pening mataku berkunang-kunang sekujur badan di landa demam sedang hatiku menggigil kedinginan engkau bilang, kasihan.... Aku mencari jawab, kapan aku merdeka belenggu merangkul tanganku beban pundak bertumpuk di pundakku ketika hendak mencapai engkau engkau kukuh berbenteng ketika aku hendak naik ke puncak menara engkau bilang, mungkinkah.... Aku pasrah agar batin ini tenang meski duka menyelimuti badan tapi keresahan itu datang bagai derasnya gelombang di lautan menghempas jiwa ragaku hingga aku kalah dan sia-sia engkau bilang, biarlah. Duh Gusti kapan aku merdeka ? Kosambi - karawang 29 Juni 1992

Pertemuan

Di sini aku hadir sebagai insan berjiwa kembara mestinya tak ada duka dan keresahan walau hati begitu kering kerontang mestinya pula tak ada keluh kesah walau jasad ini dilanda lapar dan dahaga. Sesungguhnya semangatku masih membara karena darahku masih berwarna merah dan cita-citaku masih tegar menjulang karena tanganku masih kuat dan perkasa. Di sini aku hadir untuk mencampak kelelahan agar biru rinduku terlampiaskan sudah merengkuh sejuknya kasih sebening telaga. Kasih aku tak bermaksud menutupi kekecewaanku sungguh di sini aku hadir di sini pula ada pertemuan yang menjadi kenangan indah. Kosambi-Karawang 26 Juni 1992

Alpa

Aku secarik kertas rindu dendam menoreh warna menyibak cakrawala melukis cinta dalam bait alpa. Betapa kejamnya hati manusia jiwa ini menjadi saksinya haruskah hati lemah jadi korban di antara semua orang yang mengaku pahlawan ? Aku hanyalah sebait alpa yang bernyanyi tentang kematian kematian pangkat kematian derajat kematian harta kematian air mata... Mencampak kematian hakiki kematian iman... Betapa berdayanya manusia ini namun sombong di antara sesama tapi betapa lemahnya manusia ini selalu dilanda resah dan gelisah. Duhai jiwaku yang bergelora duhai amarahku yang membabi buta duhai kecewaku yang berkepanjangan inilah iman kalau hendak engkau terjemahkan..!! Aku selalu kecewa dan menyesali diri lukisan cinta hanya nyata di hamparan kertas torehan warnanya hanya hanya tipu daya kesetiaan hanyalah alpa alpa... Pemalang 29 Juli 2000

Di Negeri Ini

Di negeri ini aku tak ingin bicara demokrasi setidaknya untuk kali ini apa lagi berbicara kekuasaan ...keuangan ...ketuhanan ...mengerikan !! Ini negeri dimana sepatah kata tak berarti lagi tidak seorang ratu bersabda apatah lagi orang jelata jangan dipaksakan belati untuk bersuara ketika hukum tak lagi menjadi payung di sini ada rakyat yang marah karena kekayaan hanyalah jaminan hutang belaka bukan menggadaikan negara, bukan ! tapi jiwa negara ini benar-benar merintih kesakitan aku hanya mencari panutan bukan orang pintar yang hanya pandai berbicara. Ini negeri ketika media TV dan koran menjadi Tuhan raja takluk pada sabdanya rakyat tunduk pada kebohongannya. Ini negeri ketika Tuhan yang sebenarnya didustakan kalau tidak untuk dikatakan apatriotis sebenarnya aku malu tinggal di negeri ini tapi di sini aku dilahirkan dan dibesarkan di sini pula Bapak Ibuku dimakamkan tapi di sini aku melihat kekuasaan... Keuangan ketuhanan begitu mengerikan di kengerian ini demokrasi itu begitu mengeri

Suara

Aku dengarkan, kau seperti bersuara dari jauh menyampaikan salam. Seperti angin yang semilir kau belai rambut kering ini. Di beranda ini kemudian aku tercengang sudah lama kau telah tiada. Di taman itu aku tanam melati tapi tak pernah tumbuh kemarau ini begitu gersang jauh di lereng gunung hutan itu terbakar seperti kenangan itu yang membakar diriku harusnya aku suntingkan bunga itu di sela-sela rambut sutramu tapi hanya mimpi. Jauh di sana mungkin engkau menangis tapi aku tak tahu untuk siapa atau kenapa karena kau tak pernah terbuka. Aku dengarkan kau seperti bersuara sebuah salam tentang kerinduan tentang sepucuk doa tentang kepiluan tak berkesudahan. Suara itu hanya kau yang punya hanya aku yang mendengar....... Pemalang 19 Oktober 2002

Dalam Sujudku

Dalam sujudku rinduku jadi bayang-bayang racuni aku hingga jadi mabuk Engkau tak peduli aku terkapar Engkau terbang tinggi meninggalkan aku sendiri. Engkau menjadi tumpuan rinduku setitik cinta masih menyalakan bara tapi Engkau terbang semakin tinggi seakan membiarkan aku menjemput mati. Oh, dalam sujudku ternyata masih juga aku setitik kealpaan cinta tergambar penuh prasangka dengan lukisan-lukisan yang berdebu. Jangan tinggalkan aku Tuhanku beri kesempatan aku beristighfar meski sedetik saja agar dapat kubasuh hatiku meninggalkan alpaku mencampak debu-debu yang berlumur di sekujur tubuhku. Tebet.Jakarta 9 Januari 1992

Cinta Dalam Kehidupan

Kekasihku ketika aku gersang engkau adalah embun yang menitik hingga aku sejuk dingin dan beku. Ketika aku beku engkau adalah mentari yang bercahaya hingga aku meluluh hangat dan mendidih. Ketika aku membara engkau adalah salju yang dingin putih dan lembut laksana kapas yang tipis laksana langit yang suci. Engkaulah mutiara hiasan hidupku di kala duka engkaulah rembulan temanku bercerita di kala kecewa engkaulah telaga biru tempat biduk cintaku berlabuh dari pengembaraan yang jauh. Jakarta 10 Mei 1992

Menjemputmu

Ketika aku menjemputMu ada seberkas kerinduan yang mendalam padaMu seakan Kau ruh yang bersemayam dalam dadaku sukma yang memberi kehangatan dalam setiap langkah kakiku. Tapi ketika Kau datang aku menangis tidak seperti dulu aku sambut dengan tawa tawa itu kinimahal harganya semahal orang berfikir bagaimana mendapatkan sesuap makanan tapi ternyata tangis ini menjadi begitu indah karena bersamaMu aku mengerti kehidupan kehidupan yang dulu pernah diinjak-injak disia-siakan dan dicampakkan bagai sampah citraMu adalah cahaya kesucian memberi aku penerang di malam yang gelap. Kau datang padaku di saat negeri ini luluh lantak di saat tanah ini bersimbah darah dan air mata di negeri ini banyak orang mengeluh dan berputus asa pada saat kemarau kebakaran di mana-mana dan pada saat hujan banjir dimana-mana negeri ini dulu pernah dipuja-puja disucikan dan dimuliakan tiada bangsa lain akan menghina kini negeriku menangis perih ditikam dipancung anak sendiri dimanakah akhlak budi pekerti bersembuny

Ketika Kebenaran Diabaikan

Ketika kebenaran diabaikan kau tak akan berkata tidak meski nuranimu berkata tidak dan kau akan terhimpit dalam ketakutan merki seribu pasukan mengawalmu. Hukum itu untuk siapa tak lain adalah untuk kita semua sesungguhnya kita adalah sederajat punya hak asasi dan kewajiban yang sama ingatlah dimanapun kau berbuat kelak akan dipertanggungjawabkan tak berarti harta benda dikumpulkan jika amal kebajikan tak kau biasakan dua tahun lalu ketika permaisurimu telah tiada ternyata keagungan itu telah dicabut oleh Yang Maha Kuasa itulah bukti yang nyata kekuasaan dunia itu tiada kekal dan hanya meninggalkan ratapan Ketika rakyatmu kini kembali menggugat adalah karena keadilan itu milik semua orang. Jakarta 22 Desember 1998

Aku Masih Ingat

Aku masih ingat ketika dulu melihatmu kau agung dan kau perkasa memandang matamu bagai menatap matahari tapi sinar matamu bagai cahaya bulan. Berjuta orang memuja-muja beratus negara membungkukkan kepala wahyu itu wahyu nusantara kau memimpin negeri kaya bagaikan raja. Bagiku kau bagaikan malaikat kulitmu tak tersentuh kecuali oleh golongan ningrat pakaian kebesaranmu selalu harum semerbak meski kau berorasi tentang kemelaratan dan kebodohan aku risih merindukanmu untuk duduk sederajat dan sebangku denganku aku malu begitu malu kau puncak segala kekuasa aku puncak segala ketidakberdayaan. Matahari selalu terbenam di sebelah barat tempat ka'bah dimana aku berkiblat amanat kekuasaan kau genggam hingga senja dimana malam gelap sebentar lagi menjelang. Tapi ternyata kau tidur terlena sejarah emas dulu kau ukirkan kini berbalut sampul darah dan air mata beribu orang dulu kau hinakan beribu orang kini menghujat. Tapi aku tetap risih merindukanmu bangku dan kursimu jauh berbeda dan aku ma

SeharusnyaTak Kenal Lelah

Seharus hidup ini tak kenal lelah apalagi kemudian berputus asa dan menyerah tapi ini kehidupan benar-benar laksana perang saling tusuk saling tikan menjegal dan saling menjatuhkan ada yang mati terkapar sekarat meregang nyawa di pinggir jalan raya, ada yang bercuci tangan melenggang dan berdendang menyanyikan penderitaan orang mengemis meratap meminta ini kehidupan untuk apa menjelajahi lautan menelusuri hutan belantara mencari sesuap nasi dari hari ke hari silih berganti menyusun cerita menjadi lembar kenangan tak kenal lelah...! Ya memang harus tak kenal lelah kecuali jika ajal menjelang... Dijemput kematian, tidur yang panjang...   2 November 2009 17.36

Elang

Selalu saja kau melambung berkata-kata tinggi dan sukar dicari bagai elang mencari mangsa di bumi. Jangan jangan kau kira aku mati bahkan dada ini terasa perih betapa susahnya mengeja keinginan betapa susahnya mencagai pengertian. Kekasihku biarkan elang terbang tinggi di langit toh kaki kita yang menapak disini masih bisa melangkah menelusuri lembaran-lembaran sejarah tentang kisah orang yang saling mencintai mengasihi di antara rindu dan benci hingga lahirlah kita sampai mati   8 November 2009 22.41

Kebahagiaan

Pagi itu cerah sekali ketika aku baru turun dari musholla sehabis melaksanakan sholat subuh. Embun-embun di pucuk daun menetes di pangkuan bumi yang lembab, mengiringi semburat kemerahan mentari pagi. Kudengar kicauan burung prenjak, burung kesukaan anakku yang kini kian tumbuh dewasa. Selama ini semoga aku tak pernah menyesal membiarkan anak-anakku bermain membiarkan mereka mengekspresikan kebahagiaan sebagai anak ndeso yang jauh dari kemegahan kota metropolitan, jauh dari cumbu rayu perang, jauh dari politik adu domba para politisi. Aku biarkan mereka bermain bersama teman-teman mencari jangkrik, memancing dan mandi di kali, di iringi suara burung-burung, desir angin gunung yang semilir, ku biarkan mereka mengeja bahasa alam, alam yang masih perawan, bersama kupu-kupu mengarungi keindahan semesta. Anakku, bernyanyilah di negeri yang jauh dari perang tentang damai dan kehidupan jangan biarkan prenjak terbang sendirian karena kehilangan kekasih tersayang. Janganlah kau menjadi pdmbunuh

Ibunda

Matahari yang kemerahan di langit barat pucat pasi disapu awan kelabu akan hujankah malam mendatang ataukah hanya mendung yang berkepanjangan menemani jiwa-jiwa terlena jiwa-jiwa pendurhaka..! Maafkan Bunda sampai saat ini kebaktianku hanya tuba belaka meracuni samudra embun yang kau curahkan hingga usiamu ditelan senja hingga kulit dan daging kering kerontang di saat lisanmu yang fasih berseru Astaghfirullah Astaghfirullah di antara buah hatimu masih ada yang menusuk jantungmu bergelimang kemaksiatan berlumur noda dan tak pernah menyesal tak pernah menyesal sedikitpun. Kapan Kau kan bahagia di saat buah hatimu menggelengkan kepala untuk sebuah keharuman doa... Ibunda maafkan... 19 November 2009 22.28

Meniti Hari

  <Kekasihku biarkan Cinta itu mengajak bicara dari hati ke hati menceritakan warna-warna di antara hitam dan putih cinta itu membagi kisah dalam suka dan duka ketika memandang purnama cinta itu terang berbinar-binar dan ketika memandang mendung yang tebal berharap akan turun hujan mencurahkan kehidupan.</b> Itulah cinta kita memaknai dalam keindahan karena cinta itu berbicara dalam pesona menceritakan bahwa hidup itu romantika membagi kisah bahwa kita lahir dan hidup dari cinta yang penuh keindahan

Kakek Dan Fatimah

Ingatlah ketika Fatimah bertanya kepada kakeknya, dimanakah kedamaian dilahirkan ? Patutkan Fatimah mendamba kedamaian seperti Fatimah bahagia dalam dekapan bundanya ? Aku dulu seperti Fatimah mencari pilar-pilar hati yang hampir retak tempat bersemayam kesejukan dan seberkas cahaya adakah hidup ini seperti Fatamorgana menorehkan sejarah tanpa peduli kakek tiada dikenang cucunya ? Berbagai kisah telah diceritakan tak jua aku paham apa arti kehidupan aku tak pandai mencari apalagi menghayati apa arti bendera dikibarkan yang bila tercampakkan orang ramai mengobarkan api peperangan dimanakah itu cinta ketika sang bapak meninggalkan anaknya menuju medan laga dan gugur menjadi pahlawan apakah hidup hanya untuk sebuah kebanggaan ? aku bertanya seperti Fatimah dan ketika itu kakek diam saja. Mungkinkah hati itu sebening kaca dan ketika hendak mencapainya dia seluas samudra berbagai warna dibiaskan hingga orang dapat membaca dia berwarna biru atau dia sedang dirundung kelabu. Tidak kakekku Eng

Terdampar

Di kota tuamu ini aku terdampar dalam kesendirian dari menahan haus hingga dinginnya malam kemana jasad rapuh ini mencari perlindungan dari dingin yang menusuk dan mimpi malam yang mencekam ataukan ku mengadu pada pohon randu tempatku bersandar hanya ada nyanyi jangkrik bersahutan ketika mataku menatap liar aku makin takut menjalani hari begitu mdngerikan. Dari jauh kembang akasia menghampar kekuningan ditimpa sinar purnama putih keperakan daun-daun kering berguguran melayang dihembus angin perlahan di bumi berserakan. Inilah bulan juli mengharukan bukan haru bahagia, bukan ketika sungai-sungai dilanda kekeringan seperti keringnya air mata pengelana inilah kota tua tempatku terdampar gersang dan kerontang merintih kepucatan. Wahai para jiwa berjiwa retak dindingmu diterjang bala cobaan wahai RAJA para raja tunjukkan kuasaMu tunjukkan jalan terangMu karuniakan tongkat dan lenteraMu penuntun sesat langkah kakiku. Dari hari ke hari ku rasakan jasad ini mendekati mati belum lagi balas budi

Padamu Tuhan

Senja ​ ​ ini tidak ada mendung, angin berdebu keras menderu, daun-daun kering berserakan ke bumi, meninggalkan ranting-ranting layu dan mati. Oh bumiku, jiwaku, segenap langkah kaki gersang dan perih, ku berlindung di bawah terik sinar matahari, malam hari dingin dan amat sunyi, mimpi mencekam menghantui hati. Oh bumiku, jiwaku menangis perih meratapi nasib bilakah haus terobati, bilakah lapar terpenuhi, bilakah kedamaian melingkupi, bilakah bahagiamerengkuhi. KepadaMu Tuhan andai ku lihat Engkau, kan ku ciumTangan dan KakiMu, ku ikuti kemana Engkau pergi, ku turuti segala yang Engkau Kehendaki, tapi aku hilang diri, tak ingat betapa Engkau Maha Kasih, aku lupa diri, janji apa yang telah aku ingkari, burung-burung elang melang lang langit membuatku meratap ngeri, apakah aku telah benar-benar mati. Tuhanku senja ini tidak ada mendung tapi keresahan bergulung-gulung bagaikan awan yang kelabu, aku teringat Kau Maha Kasih, terima kasih Tuhanku, dalam siksaMu, masih Kau beri aku kesempatan

Cinta Tak Selamanya Indah

Cintaku, kubaktikan kasih sayangku demi kebahagiaanmu, mengalirkan keindahan sebening embun, dingin menetes di relung kalbumu. Cintaku, di bukit kecil ini aku mengabdi, menyeruak telaga kasih melupakan perih. Sungguh! Ingin beranjak dari perih dan kekacauan ini, kegalauan kegersangan air mata, sejenak membuatku mabuk, jalang dan binal, telah serakah-kah birahi cintaini ? Cintaku, sungguh! tak selamanya cinta itu indah bukan? Tapi kau sayangku, tapi kau deritaku, tapi kau harapanku, tapi kau kecewaku, tapi kau cintaku, tapi kau jeritanku…!! Kering dedaunan luruh di bumi, meninggalkan sepasang prenjak kecil dalam jeritan nelangsa, mega di angkasa berlalu pergi, bercerai bengawan dari derunya air, air kehidupan sepasang mata, mata cinta yang tak selamanya indah.

Munajat

Ya Allah, memujaMu dalam hening, dalam kelemahan dan kefakiran ini, mengharap kasihMu menitik bagai embun, suci dan abadi. Ya Allah, titahMu adalah pasti, lisanku kelu hendak menapaki, firmanMu semoga menghujam di hati, mengobati rindu, penawar kegersangan, pelita di kegelapan. Ya Allah Selama ini aku lupa, mensyukuriMu seakan terpaksa, memujimu mengharap harga, di mataku hanyalah pahala, bidadari dan surga. Ya Allah, telah terjerumus aku dalam keriaan dan ketidakikhlasan, padahal telah sempurna nikmatMu membaluti kelemahanku, kini Kau tunjuki aku bahwa aku bukan siapa-siapa, aku tak berarti apa-apa. Ya Allah, maafkan… --- 10 Juli 2010 15:21 By Muhammad Saroji - Majalah Sastra - Majalahsastra.com © Copyright - All rights reserved

Doa Suci

Muhammad Saroji - File Pribadi Kesucian,  Seharum kembang mawar dan melati, kembang bidadari di pelaminan pengantin, lisan fasih berjanji suci, hati berpadu dalam biduk abadi. Sepoi Angin Rindu Oleh Jejaka Impian, mengalun merdu menjadi tembang kesetiaan, dua hati terpenjara dalam syahdu, bilakah bersatu dalam tali pernikahan yang Abadi. Seharum mawar dan melati, doa mengalun menembus batas langit, sepasang merpati putih terbang tinggi, menjemput impian yang tinggal sedetik, sedetik lagi.... Mekarlah bunga sekuntum, tumbuhlah benih suci, hamparkanlah perjalanan agung, berjanjilah setia hati. (puisi ini diciptakan pada tanggal 13 Juli 2010 23:56 di Cimone - Tangerang untuk Sahabatku Dinya Andarti di Tangerang yang akan melangsungkan prosesi pernikahan, semoga lancar, berkah dan menjadi keluarga yang sakinah penuh limpahan kasih sayang) --- Cimone - Tangerang, 13 Juli 2010 23:56 By Muhammad Saroji © Copyright - All rights reserved

Mata Hati Cinta

Sembilan kali musim hujan keteguhanmu menyirami cintaku sembilan kali musim kemarau rindumu bersemi hanya untukku lama sekali menatahkan bait rindu lama sekali menunggu lama sekali mengharapkan lama sekali tiada jawaban lama sekali tetap setia. Bahasamu adalah kalbu, diam dan cemburu ceritamu adalah pandangan, kasih sayang dan air mata kerinduanmu adalah lamunan, pujian dan untaian kembang. Sembilan kali musim hujan sembilan kali musim kemarau tapi jawabku hanya diam membisu diam dingin bagai karang batu bersandarkah aku pada yang lain ? Ya ! Berpalingkah aku pada yang lain ? Ya ! Tapi kalbu ini tak pernah berpaling tak pernah berkeping-keping. Kekasihku, cintamu memang abadi tapi aku tak dapat meridhoi hatimu memang suci tapi aku tak terkendali kau bagai Mahadewi bagai Bintang Maharani bagai Bulan Purnama, kembang melati. Kekasihku, kau memang suci menangisi hati berpaling ini tapi kau tak kan pernah mengerti kisah ini terbawa mati karena sesungguhnya aku tak berpaling tak per

Badan di Perjalanan

20 Juli 2010 23:24 Aku memandangi kemegahan kota yang basah diguyur air hujan, aku memandangi wajah-wajah tua yang hampir menyerah dihimpit kerasnya zaman, aku memandangi keresahan yang lelah ditaburi bintang-bintang, benarkah sanjungan itu kemuliaan? benarkah telah sirna lentera itu dari malam? Ku dengarkan sayup suara adzan di kesunyian, duh para pengelana bilakah menghentikan langkahnya, bersembah sujud mensyukuri karunia di badan, badan ini berapa lama di perjalanan, meniti hari sepanjang siang dan malam menjemput impian, bilakah tasbih dan tahmid fasih di lisan menyentuh kalbu di ambang kegersangan. Ini kisah bukanlah seperti kembang yang harum mewangi, kemudian layu dibuang di comberan, ini kisah badan di perjalanan, meniti hari sepanjang siang dan malam, menyibak tirai usia di kegelapan, menghitung entah tinggal berapa sisa usia, menghitung apakah amal ini seperti tulang berserakan dari sisa anjing liar yang ditinggalkan, ataukah seperti mutiara yang cemerlang bercahaya, T

Hingar Bingar di Kesunyian

Malam ini, seharusnya aku beristirahat, tidur pulas, menjemput impian, besok bangun pagi-pagi dengan badan yang segar. Tapi malam ini yang seharusnya sunyi, duh…amat hingar bingar dengan suara celotehan orang-orang di pojok gang, Mp3 di tetangga sebelah, deru suara mobil di ujung gang yang nampaknya selalu dirundung kemacetan, dan deru suara hatiku yang selalu mengajakku berbicara, melamun, menerawang cakrawala, semua bersatu menjadi gambar kegamangan, seakan memberi jawaban bahwa keadaan hari ini tidak selalu sesuai dengan yang aku pinta. Deru keramaian dan suara-suara kegamangan, biarlah malam ini kunikmati dengan tenang, biarkan orang bercanda tawa menceritakan kelucuan perjalanan hidupnya. Biarkan semua berjalan, pelan-pelan, seperti sepasang kekasih menikmati kebahagiaan dengan tenang, aku juga bahagia bisa menikmati kegamangan, menikmati keramaian, kepedihan dan kesenangan. Betapa semua itu menjadi berharga ketika yang aku harapkan tiba-tiba menghilang, berganti menjadi yang

Aku

Aku, berdiri memandang, menelusuri perjalanan ini, hendak beranjak aku katakan : tidak hendak berpaling aku katakan : tidak hendak berhenti aku katakan : tidak. Burung camar hinggap di dahan pinus, meratapi bengawan yang telah lama kering, aku berkata inikah kegersangan musim, kembang sekuntum tak mekar lagi ? Aku, memandang dan berdiri, pada puncak batu menunggu tepi malam ini, pada tebing-tebing sunyi melantunkan spoi angin dingin, aku berkhalwat aku tak mengerti aku bermunajat aku menanti akhir perjalanan ini. --- 25 Juli 2010 00:43 By Muhammad Saroji - Majalah Sastra - Majalahsastra.com © Copyright - All rights reserved