Tampilkan postingan dengan label Aku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Maret 2018

Aku Bukan Siapa - Siapa

Muhammad Saroji - Dokumen Pribadi
Tidak ada tempat bagiku (yang selalu berkeluh kesah) di hatimu,
tidak ada tempat bagiku (yang menanggung rindu tanpa makna) di jiwamu,
tidak ada tempat bagiku wahai perempuanku,
tidak ada tempat bagiku wahai pujaanku.


Tempatku adalah penyesalan, kehilangan dan derai air mata,
tempatku adalah cinta tanpa makna.
Tempatku adalah kesunyian, sujud dan tafakur,
tempatku adalah diam atau mengalir tenang,
tempatku bukan milik siapa-siapa,
ku genggam tempatku,
sampai akhir hayat nanti,
di ujung kematian.

@Copyright

Rabu, 28 Februari 2018

Apa Salahku Padamu

Muhammad Saroji Muda - File Pribadi

Apa salahku padamu,
hingga kau membenciku dengan kebencian tak berujung, 
tak pernah ku nodai kesucianmu,
bahkan kesucianmu telah kau berikan dengan tulus kepada orang yang telah menabur benih~benih suci di rahim~mu.


Apa salahku padamu,
tak pernah aku mengoreskan luka di tubuhmu,
bahkan tak pernah meminta janji dan kesetiaan darimu,
tidak ada sumpah sehidup semati.


Ah, cinta kita cinta monyet,
cinta anak kecil yang sanggup memberi kesenangan karena belas kasih ibu dan bapak.


Lalu apa salahku padamu?
ketololanku membuka jalan bagi orang lain bersemayam dalam hidupmu,
menaburkan benih~benih suci di rahim~mu,
menjadi anak~anak manis yang riang,
yang dirimu rela berkorban jiwa dan raga demi kebahagiaannya,
demi kesuciannya,
lalu apa salahku padamu?

@Copyright

Senin, 23 Oktober 2017

Kau dan Aku Usai Sudah


Muhammad Saroji - File Pribadi

Kau dan aku itu usai sudah,
ada batas yang tegas seperti tembok yang memisahkan dua kamar.
Kau dan aku tak patut bermain mata,
bagiku masa lalu kita adalah sampah,
yang harus dicampakkan.

Kau dan aku itu usai sudah,
setelah kita sama-sama tau di depan kita ada lonceng kematian.

@All Rights Reserved

Senin, 17 Oktober 2016

Aku Masih Ingat

Muhammad saroji - File Pribadi

Aku masih ingat ketika dulu melihatmu,
kau agung dan kau perkasa,
memandang matamu bagai menatap matahari,
tapi sinar matamu bagai cahaya bulan.


Berjuta orang memuja-muja,
beratus negara membungkukkan kepala,
wahyu itu wahyu nusantara,
kau memimpin negeri kaya bagaikan raja.


Bagiku kau bagaikan malaikat,
kulitmu tak tersentuh kecuali oleh golongan ningrat,
pakaian kebesaranmu harum semerbak
meski kau berorasi tentang kemelaratan dan kebodohan,
aku risih merindukanmu
untuk duduk sederajat dan sebangku denganku,
aku malu begitu malu
kau puncak segala kekuasan,
aku puncak segala ketidakberdayaan.


Matahari selalu terbenam di sebelah barat,
tempat ka'bah dimana aku berkiblat,
amanat kekuasaan kau genggam hingga senja,
dimana malam gelap sebentar lagi kan menjelang,
Tapi ternyata kau tidur terlena,
sejarah emas dulu kau ukirkan
kini berbalut sampul darah dan air mata,
beribu orang dulu kau perjuangkan,
beribu orang kini menghujat.


Tapi aku tetap risih merindukanmu,
bangku dan kursimu jauh berbeda,
dan aku malu sungguh malu,
kau puncak segala kekuasaan,
dan hukum tak berani menjamah,
itu satu suara dulu aku titipkan,
sekedar menunjukkan aku warga negara yang taat,
itu satu juta harapan aku impikan,
ternyata keadilan dan kemakmuran hanya hayalan belaka.


Kau laksana raja,
engkaulah seorang panglima,
tapi aku tidak tahu menyebutmu apa
karena dari ujung kaki hingga ujung kepala
penuh dengan gelar tanda jasa,
beribu gelar kau sandang,
beribu penghargaan kau genggam,
ini negeri milik siapa,
kau bilang, ini negeriku,
rakyat bilang ini negeri kami,
Nelson Mandela bilang itu negerimu.


Aku tidak punya negeri,
karena aku tidak dapat membagi,
aku masih ingat kyaiku saat mengaji,
segala puji milik Allah
yang memiliki dan mengatur seluruh alam semesta,
kekuasaanmu hanyalah titipan,
bahkan menjadi cobaan…


Tapi aku masih ingat
kau bertindak luar biasa,
menggenggam negeri ini dengan tangan perkasa,
dengan pengorbanan darah dan nyawa,
tapi semoga kau ingat,
bahwa semua itu kelak di pertanggungjawabkan
di hadapan negeri sendiri dan di hadapan AIIAH SWT

--

Ditulis di Pemalang 12 Desember 1998.
Diterbitkan pertama kali pada tanggal
29 Oktober 2009 13:02
By Muhammad Saroji
© Copyright - All rights reserved

Sabtu, 03 September 2016

Aku

Aku,

berdiri memandang,

menelusuri perjalanan ini,

hendak beranjak aku katakan : tidak

hendak berpaling aku katakan : tidak

hendak berhenti aku katakan : tidak.





Burung camar hinggap di dahan pinus,

meratapi bengawan yang telah lama kering,

aku berkata inikah kegersangan musim,

kembang sekuntum tak mekar lagi ?





Aku,

memandang dan berdiri,

pada puncak batu menunggu tepi malam ini,

pada tebing-tebing sunyi melantunkan spoi angin dingin,

aku berkhalwat

aku tak mengerti

aku bermunajat

aku menanti akhir perjalanan ini.





---

25 Juli 2010 00:43

By Muhammad Saroji

- Majalah Sastra - Majalahsastra.com

© Copyright - All rights reserved

Senin, 11 Mei 2009

Kedamaian

Malam begitu sunyi
jam dinding berdentang dua belas kali
sepotong cinta telah terbuang tadi siang
aku sendiri lagi.

Tak perlu lagi kutaburi dupa-dupa
agar harumnya membagi duka
karena kau tak pernah mengerti
selama ini tak pernah kunikmati kedamaian.

Kedamaian ?
Kau kira seperti terlelap tidur di ranjang ?
Atau jazad rapuh yang terkubur ?


Oh jiwa nestapaku
semoga esok matahari bersinar
dan jiwaku mendapat kedamaian.

Aku makin gelisah
asap rokokmu
mengepul merayapi dinding malam
mengingatkanku kau menghinaku
tadi siang...

Gunung Putri-Bogor
28 Juni 1995
Created by CentralSitus

Trauma

Hari menjelang senja
lentera padam ini aku bawa berlari
mencari setitik api.

Menelusuri kabut berembun
matahari jingga membiaskan pelangi
aku teringat
malam kemarin aku dalam kegelapan
mengapa gelap malam nanti
mesti kutakutkan ?

Aku takut mimpi buruk lagi
sedangkan burung-burung hantu
selalu menyanyikan lagu-lagu misteri.

Duh Gusti
sampai kapan resah ini berakhir
belum lagi ku sanjung DiriMu setinggi langit
aku termenung sendiri
menjalani trauma hidup berkali-kali.


Gunung Putri-Bogor
21 Juni 1995
Created by CentralSitus

Minggu, 26 April 2009

Sunyi

Rembulan adalah penjelmaan sunyiku
yang terlukis menjadi kata-kata


Matahari adalah gelora jiwaku
yang mengalir bersama desah nafas kecewaku


Bintang-bintang adalah harapanku
yang aku kepal menjadi bara api
aku terkapar
menggelepar
tak setitik embun membekukan jiwaku.


Aku akan tertawa
menghikmati segala sunyiku
tak hendak agar engkau tahu
perjuanganku itu percuma
untuk mencapai cinta kasihmu
dan rembulan adalah penjelmaan sunyiku
di saat engkau tiada lagi bersamaku.


Jakarta
11 Juli 1992

Sabtu, 25 April 2009

Tuhanku

Hidupku adalah perjalanan
laksana menuju sebuah cakrawala
mestinya jiwaku melangkah
hingga jauh menembus langiu
dan warna hatiku
adalah sebuah kerinduan yang dalam
dan mestinya aku bertekad hati
selain Engkau
adalah cintaku tak mungkin.

Dengarkanlah kerinduan-kerinduan ini
yang menjadi desah kecewa dan tangis setiap hari
hati ini adalah bunga-bunga cinta
ada getarnya
ada geloranya
mestinya bukan suara lagu
tapi tasbih yang mengalun abadi
yang menelusuri darah, daging, dan relung sukma
alunnya biar abadi
tak lekang karena suka dan duka.

Aku berjalan mencapaiMU
inilah baktiku
tiada rasa jemu
inilah cintaku
sekedar yang aku tanam dan aku sirami
tiada mengelu keluh
inilah pujanku
sebatas kefasihan lisanku
tiada aku kelu
Tuhanku....


Jakarta
30 April 1992

Jumat, 27 Februari 2009

Potret

Sejak kecil
dan senantiasa
bertahun aku dalam kesendirian.

Ibu
potretmu itu sejuk dan teduh
tapi bisu tanpa suaramu
selalu aku tanyakan
kapan aku kan berjumpa denganmu.

Senantiasa
bertahun aku dalam kesendirian
tanpa hidupmu
sedangkan bayangmu hadir dalam kebisuanku.

Tanpa hidupmu
kau hantarkan aku menjadi bagian dari hidup
di dunia yang penuh pergolakan semu.

Ibu
tanpa hidupmu
selalu kupendam kerinduan yang dalam
padamu.

Pemalang 16 agustus 1989