Tampilkan postingan dengan label Teroris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teroris. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 November 2017

Pengiriman Senjata Dari Amerika ke Teroris Di Suriah Terus Berlangsung

Ilustrasi Teroris ISIS
Forum Muslim  -- Sebuah temuan baru semakin mempermalukan Amerika, bahwa mereka telah mengirimkan senjata kepada para teroris di Suriah melalui Kroasia. Hal ini dilakukan setelah pemerintah Jerman melarang digunakannya pangkalan NATO di negaranya sebagai basis pengiriman senjata ke Suriah.


Seperti dilaporkan Indonesian Free Press, Jumat (3 November), serangkaian penyelidikan telah dilakukan oleh Bulgarian Investigating Reporting Network (BIRN), menemukan fakta tentang jaringan pengiriman senjata kepada para teroris Suriah oleh Amerika dan sekutu-sekutunya. Pulau Kerk di Kroasia, di antaranya, menjadi basis pengiriman senjata Amerika ke Suriah pada bulan September lalu. Ini sekaligus mengkonfirmasi bahwa dinas inteligen Amerika, CIA telah melanggar perintah Presiden Donald Trump bagi penghentian bantuan kepada para pemberontak Suriah.



NEO menyebut, pengiriman senjata melalui 'jalur alternatif' seperti di Kroasia maupun melalui Azerbaijan dilakukan setelah pemerintah Jerman melarang wilayahnya, yang menjadi basis beberapa pangkalan militer Amerika dan NATO, menjadi bagian dari jaringan pengiriman senjata ilegal, apalagi untuk para teroris.


Perhatian pemerintah Jerman berdasar pada dua prinsip. Pertama, sikap bersama Uni Eropa yang disepakati tahun 2008 dimana seluruh negara anggota Uni Eropa diwajibkan untuk memperhatikan delapan kriteria bagi pengiriman senjata melalui wilayahnya ke pihak ketiga. Kriteria-kriteria yang harus diperhatikan itu termasuk aspek HAM, perdamaian, keamanan dan stabilitas. Dari semua kriteria itu, pengiriman senjata ke Suriah tentu saja tidak memenuhi syarat.



Meski demikian, Uni Eropa juga bersikap 'munafik' ketika tahun 2013 mencabut embargo senjata ke Suriah akibat desakan Inggris dan Perancis. Saat itu kedua negara sekutu Amerika itu ingin agar para pemberontak bisa mendapatkan senjata yang dibutuhkan untuk menggulingkan pemerintahan Bashar al Assad.



Faktor kedua adalah Perjanjian Perdagangan Senjata PBB yang ditandatangani tahun 2014. Pada pasal 6 perjanjian itu disebutkan larangan bagi pengiriman senjata jika dicurigai senjata itu akan digunakan untuk menyerang warga sipil atau tindakan kejahatan perang lainnya.



Di antara negara-negara yang telah meratifikasi perjanjian ini adalah Australia, Bulgaria, Kroasia, Republik Cheko, Perancis dan Inggris. Semua negara itu diketahui telah melakukan pengiriman senjata ke Saudi dan Israel, negara-negara yang tidak memenuhi kriteria. Kelompok teroris dukungan Saudi, Jaysh Al-Islam, misalnya, melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap warga sipil, menggunakan senjata kimia terhadap sasaran sipil dan menggunakan warga sipil sebagai tameng hidup.



Namun meski berbagai larangan telah ada, pengiriman senjata kepada kelompok-kelompok teroris oleh Amerika dan Saudi tidak bisa dihentikan. Bahkan meski Presiden Donald Trump pada Juli lalu memerintahkan penghentian bantuan kepada para pemberontak Suriah. Pengiriman-pengiriman itu menimbulkan pertanyaan tentang efektifitas Donald Trump melakukan kontrol terhadap aparatnya, khususnya militer dan CIA.



NEO menyebutkan bahwa CIA dan Special Operations Command (militer) secara diam-diam terus melakukan pengiriman senjata dan dukungan lain kepada para teroris Suriah dan Irak. Selain BIRN, sejumlah pihak juga melaporkan adanya pengiriman senjata diam-diam  ke Suriah. Sebuah laporan mengungkapkan keterlibatan maskapai penerbangan Silk Airways, perusahaan penerbangan yang berbasis di Azerbaijan. Padahal sudah menjadi konvensi internasional untuk melarang penerbangan sipil digunakan sebagai penerbangan militer.



Di sisi lain, bocoran informasi yang dirilis Edward Snowden baru-baru ini juga menimbulkan pertanyaan tentang peran Saudi Arabia dan beberapa negara lainnya dalam pengiriman senjata kepada para teroris Suriah. Menurut Snowden, Saudi aktif mempersenjatai para teroris Suriah sejak Maret 2013. Pemerintah Amerika (maksudnya bukan militer maupun inteligen) telah mengetahui hal itu, namun tidak melakukan pencegahan karena baik Amerika maupun Saudi memiliki aspirasi yang sama dengan Israel, yaitu penggulingan regim Bashar al Assad.



Menurut NEO, media-media utama internasional turut bertanggungjawab atas pengiriman-pengiriman senjata kepada para teroris di Suriah dengan sikap diamnya, juga dengan laporan yang tidak berimbang. NEO membandingkan perbedaan sifat laporan-laporan media tentang operasi pembebasan Aleppo yang dilakukan Suriah, Iran dan Rusia, dengan pembebasan Raqqa yang dilakukan Amerika dan sekutu-sekutunya.



Dalam kasus pertama, Suriah dan kawan-kawan berusaha sekuat tenaga untuk menghindari korban sipil, termasuk dengan membiarkan pemberontak dipindahkan ke wilayah lain tanpa pertumpahan darah. Namun, media-media justru menuduh Suriah dan Rusia melakukan pembantaian terhadap warga sipil. Sebaliknya, ketika Amerika membombardir habis-habisan kota Raqqa dengan korban sipil diperkirakan mencapai ribuan orang, media massa justru diam membisu.(MS)

Selasa, 11 Juli 2017

Jaga Diri dan Keluarga Anda Dari Ancaman Radikalisme ISIS

Teroris ISIS - File hk.on.cc
Forum Muslim - Kelompok radikal ISIS hingga saat ini masih terus eksis dan berusaha menggandakan kuantitasnya dengan mendoktrin hingga merusak pikiran akan-anak untuk kemudian dijadikan generasi perusak seperti mereka dan pendahulunya.
Sebuah potongan video yang sudah lama viral di media sosial menunjukkan bagaimana ISIS memberikan pelatihan militer menggunakan alat senjata berat yang tidak layak pada usianya. ISIS terus bergerak untuk mempersiapkan generasi pelanjut teoris masa depan.
Sebagaiman diketahui, ISIS memang kerap melakukan propaganda melalui jaringan internet dengan memposting foto dan video aktivitas militer mereka, dan proses pendidikan doktrinasi kepada pengikutnya dan simpatisannya di seluruh dunia yang bisa sangat bebas mengaksesnya.
Bahkan yang terbaru, kasus penusukan kepada personil kepolisian di masjid Falatehan diakui oleh pelakunya bukan merupakan jaringan dari kelompok teroris itu akan tetapi mendapatkan inspirasi dari dokumentasi yang ada di internet yang dipublikasikan oleh kelompok Islam radikal itu.
Video berikut menunjukkan bagaimana anak-anak diajarkan untuk membunuh dan dipersiapkan untuk menjadi generasi pelanjut teroris di masa depan. Kita semua harus mewaspadai dan menghalau perkembangan ISIS dan sejumlah kelompok radikal keagamaan dan membantu dunia hidup dalam keadaan damai. (SD)

Jumat, 07 Juli 2017

Pembunuhan Tetaplah Pembunuhan

Evakuasi polisi korban pemboman di pos polisi kawasan sarinah
Oleh : Gus Rijal Mumazziq Z
Ada Bom di Mapolres Solo? Ini pasti konspirasi densus!
Ada bom di Jl. Thamrin? Rekayasa polisi!
Ada bom di Gereja Samarinda? Rekayasa polisi!
Ada bom di Gereja Medan? Ini rekayasa polisi!
Ada bom panci yang gagal meledak? Pengalihan Isu!
Ada penusukan aparat kepolisian di Bandung? Rekayasa!
Ada penusukan dan pembunuhan di Mapolda Sumatera Utara? Ini hanya rekayasa polisi!
Dan semalam, ada anggota brimob ditusuk saat berada di masjid? Ini rekayasa!
Ayolah kawan. Ini soal nyawa. Pembunuhan. Hentikan celoteh dan imajinasi konspiratifmu. Pembunuhan tetaplah pembunuhan. Kelak, kalau ayah-ibumu disembelih, engkau takkan peduli motif pelaku. Pembunuhan tetap pembunuhan. Titik.
Total 42 polisi gugur akibat tindakan Lone Wolf yang berbaiat kepada ISIS. Kemampuan mereka menurun, tak lagi leluasa membuat bom karena rekrutmennya masih baru. Tapi mereka masih berbahaya. Kini, di berbagai wilayah di dunia mereka melakukan teror dengan pisau dan menabrakkan minivan maupun truk ke arah kerumunan massa.
Logika macam apa yang terus menerus menyatakan ini rekayasa polisi. Konspirasi ini itu, dan sebagainya. Ayolah. Buka mata. Pelaku ini juga saudara kita. Muslim juga. Kalau dibiarkan semakin berbahaya. Mereka terus berkembang karena diam-diam ada yang bersimpati dengan aksi mereka sekaligus memberikan clue bahwa ini "hanyalah" pengalihan isu, rekayasa, konspirasi dst. Mereka semakin massif melakukan rekrutmen karena diam-diam kita tidak berteriak lantang saat Islam dibajak dan dibusukkan. Kita masih ngomong kejayaan masa lalu sembari ngobrolin konspirasi ini-itu, tapi di sisi lain, memberikan peluang bagi para bajingan memprovokasi pembunuhan atas nama "jihad".
Apa yang saya maksud dengan sulit menerima kenyataan? Lihatlah, ayo kita lihat baik-baik, dalam setiap aksi pengeboman di tanah air selalu ada teori konspirasi bahwa bom ini itu adalah "konspirasi", "ulah intelijen", & "pengalihan isu", dan entah teori apa lagi. Padahal kita tahu Bom Kedubes Filipina, Bom Bali 1 & 2, Bom Marriot, Bom Ritz Carlton, Bom Bunuh Diri di Polresta Cirebon, Bom Thamrin, Bom Polres Solo, dan berbagai pengeboman lainnya pelakunya ya saudara-saudara kita yang mengidap penyakit jiwa.
Konspirasi? Hahaha, lha wong terorisnya bikin video pengakuan sebelum bertindak kok, sebagian bikin surat pernyataan dan wasiat. Mereka bangga dengan "jihad"nya. Terorisnya bawa paspor dan KTP, kok bisa? Ya iyyalah. ini era digital. Setiap aksi pengeboman dan teror pelaku sengaja membawa identitas dirinya untuk menunjukkan eksistensinya sebagai  "mujahid". Bahkan, seringkali ada kawannya yang sengaja merekam aksinya lalu menguploadnya di web yang dikelola ISIS. Kalau anda mampir di webnya ISIS maupun blog yang dikelola simpatisannya, niscaya bakal menemukan banyak video aksi bom bunuh diri maupun video testimoni "kesyahidan" dan video wasiat sebelum mereka melakukan aksinya.
Ayolah, akuilah, ada sebagian saudara-saudara seiman kita yang sinting dan melakukan pembusukan ayat al-Qur'an melalui tindakan bar-barnya. Sebagian malah bangga dengan aksinya. Tak percaya? Lihatlah berbagai statemen sebelum maupun sesudah aksinya. Tak perlu lagi menutupi borok ini, tak usah lagi menyebarkan kabar bohong untuk mengarang cerita konspirasi. Tak perlu menuduh ini itu, konspirasi ini itu toh korban-korban yang berjatuhan mayoritas orang Islam juga. Paham kan sayang? Pelaku muslim, dan mayoritas korbannya juga muslim. Di Indonesia, Timur Tengah, Pakistan, Afganistan, Libya, Sudan dan Somalia, jumlah kaum muslimin yang terbunuh dan terusir dari kampung halamannya bukan diakibatkan oleh epidemi, melainkan oleh sesama umat Islam sendiri. Mau protes atas statemen saya? Silahkan!
Saat ini umat Islam butuh MUHASABAH, bukan MUBAHALAH!
Wallahul Musta'an