Tampilkan postingan dengan label Uyghur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uyghur. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Desember 2018

Anda Katakan Penyiksaan Uighur itu Hoax, Anda Ikut Biadab Juga

Etnis Uyghur

By Asyari Usman

Sangat tak masuk akal kalau di era yang serba mudah akses informasi, dan cepat, masih ada orang yang mengatakan penyiksaan terhadap warga muslim Uighur oleh penguasa RRC adalah berita hoax. Begitulah yang dikatakan oleh Inas Nashrullah Zubir (INZ) dalam status akun Facebook "Inas N Zubir", 24/12/2018.

INZ mengatakan hoax Uighur itu sengaja diciptakan oleh kubu Prabowo untuk mengesankan bahwa Jokowi tidak perduli dengan penderitaan warga Uighur di Provinsi Xinjiang.

Alasan INZ mengatakan itu hoax adalah bantahan oleh Wakil Ketua China Islamic Assosiation, Abdullah Amin Jin Rubin. Abdullah Rubin (AR) membantah kabar penyiksaan itu ketika dia menerima kunjungan Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nasir pada September 2018. Kehidupan kaum muslimim di RRC, menurut, Abdullah Rubin, aman-aman saja.Tidak ada masalah. 

Bagi INZ, penjelasan AR itu tidak perlu diragukan. Nah, dari sinilah nalar INZ mulai rusak. Atau, nalarnya sengaja dia rusak demi menyerang Prabowo. Sangat mengherankan kalau INZ tidak paham bahwa Abdullah Rubin berkumim di Beijing. Dan dia setiap hari berada di bawah cengkeraman rezim diktator komunis. Manalah mungkin AR akan mengatakan bahwa pemerintah RRC melakukan kekejaman terhadap warga Uighur?

Jangankah di bawah rezim brutal Xi Jinping, di bawah penguasa Indonesia yang "demokratis' saja banyak orang yang takut mengungkapkan kebenaran. Agak lucu juga cara berpikir Inas Zubir. Pastilah Abdullah Rubin tak berani menyebutkan kebiadaban rezim RRC terhadap umat Islam Uighur.

Bukankah Inas Zubir bisa dengan mudah mencari informasi yang begitu banyak di media internasional. Media-media yang berkredibilitas dan berintegritas tinggi.

Kekejaman pemerintah RRC itu menjadi berita besar di mana-mana. Menjadi keprihatinan banyak negara, terutama Amerika Serikat dan Eropa. Juga mendapat reaksi keras dari masyarakat di seantero dunia. Warga Jepang turun ke jalan-jalan untuk menunjukkan solidaritas mereka kepada warga Uighur.

Silakan INZ baca artikel yang dimuat suratkabar konservatif yang paling dihoramti di Inggris, The Daily Telegraph, tentang pengakuan seroang wanita Uighur yang disiksa secara keji oleh penguasa RRC. Judul laporan di koran ini sangat menyesakkan: "Saya minta mereka agar membunuh saya". Begitulah saking sadisnya siksaan itu. Ini link laporan tsb: https://www.telegraph.co.uk/news/2018/11/28/begged-kill-uighur-woman-describes-torture-us-politicians/.   

Kemudian, ada berita tentang reaksi Amerika terhadap pelanggaran HAM oleh RRC terhadap warga Uighur. Dimuat oleh harian The Guardian, juga koran yang disegani di Inggris: https://www.theguardian.com/world/2018/sep/12/us-considers-sanctions-on-china-over-treatment-of-uighurs.

Pak Inas Zubir perlu juga membaca laporan yang di muat suratkabar yang paling disegani di Amerika Serikat, yaitu The New York Times. Tentang program indoktinasi yang dilakukan oleh Presiden Xi Jinping untuk melemahkan identitas keislaman warga Uighur: https://www.nytimes.com/2018/12/16/world/asia/xinjiang-china-forced-labor-camps-uighurs.html?rref=collection%2Ftimestopic%2FUighurs%20(Chinese%20Ethnic%20Group)&action=click&contentCollection=timestopics&region=stream&module=stream_unit&version=latest&contentPlacement=1&pgtype=collection


Masihkah Anda berani mengatakan bahwa berita tentang penyiksaan warga Uighur itu hoax yang betujuan untuk menutupi kelemahan Prabowo? Bagi saya, orang yang sengaja menyembunyikan kebiadaban rezim komunis RRC terhadap warg Uighur juga pantas disebut biadab.

Banyak lagi berita, laporan detail dan artikel yang dimuat oleh koran-koran terkemuka di dunia mengenai penyiksaan warga muslim Uihgur. Tetapi, terlalu panjang nanti kalau saya cantumkan satu per sati di sini. Ini sekadar memberitahu INZ saja supaya beliau tidak lagi "asal sebut" tentang penyiksaan warga Uighur. Supaya dia tidak lagi tega melukai perasaan kaum muslimin Xinjing. Dan supaya INZ tidak lagi termakan propaganda RRC bahwa mereka tidak menyiksa warga Uighur.

Sulit memahami sikap Inas Zubir yang cenderung terlihat kurang informasi. Atau malah dia memang orang yang aslinya tidak memiliki modal yang mamadai untuk menjadi politisi. Herannya, INZ duduk sebagai ketua fraksi Hanura di DPR-RI.   

Barangkali, ada benarnya juga perkiraan para pengamat politik dan beberapa lembaga survai bahwa Partai Hanura bakalan lenyap pada pileg 2019 nanti. Kenapa? Karena para kadernya tidak memiliki kapabilitas yang memadai semisal INZ.

(Penulis adalah wartawan senior)

Mendiamkan Penyiksaan Uighur, Jokowi Lecehkan Umat Islam Indonesia

Etnis Uyghur


Presiden RRC Xi Jinping sungguh-sungguh brutal luar biasa. Sangat biadab. Dia siksa kaum muslimin Uighur di Provinsi Xinjiang tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun. Badan mereka disetrika. Para petugas penyiksa mematikan rokok mereka di badan para korban. Mereka dipaksa melepaskan agama Islam. 

Sebagian objek siksaan dimasukkan ke dalam drum yang berisi air. Direndam sampai kelujutan. Ada yang diinjak-injak. Dipukuli sampai pingsan berlumuran darah.

Begitulah laporan-laporan yang dikirim keluar dari Xinjing secara sangat rahasia oleh sejumlah warga Uighur yang memiliki alat komunikasi berinternet. Mereka ini sangat berani ambil risiko demi menyebarkan informasi tentang kekajaman pemerintah RRC.

Pemerintah China memaksa sekitar sejuta umat Islam Uighur masuk ke kamp re-edukasi (pendidikan kembali). Di kamp konsentrasi ini, mereka dipaksa menggunakan bahasa Mandarin. Mereka dipaksa juga memakan makanan yang tak halal seperti daging babi, dlsb.

Tidak ada alasan lain untuk penyiksaan itu kecuali karena warga Uighur menganut agama Islam. Presiden Xi Jinping memaksa kaum muslimin agar menjadi komunis atau atheis. Tetapi di tengah paksaan yang diikuti penyiksaan itu, mereka tetap teguh pada keimanan dan aqidah mereka. Itulah yang menyebabkan mereka disiksa. Penguasa China menganggap kaum muslimin sebagai orang yang mengalami gangguan mental.

Situasi yang terjadi di Uighur tidak banyak dilaporkan oleh media resmi. Penguasa diktator China tidak membolehkan media asing masuk ke wilayah Xinjiang. Foto-foto dan berbagai video tentang penyiksaan di sana 'diseludupkan' ke luar dengan cara yang menantang maut. Jika mereka ketahuan mengirimkan bukti penyiksaan, bisa dipastikan akan selesai hidup mereka.

Sangat kejam. Sangat brutal, dan sangat biadab.   

Anehnya, tidak ada sepatah kata pun yang diucapkan pemerintah Indonesia tentang kebiadaban pemerintah RRC. Kekejaman dan kebrutalan Presiden Xi Jinping menyiksa warga muslim Uighur dibiarkan begitu saja oleh Presiden Jokowi. 

Jokowi pribadi mungkin berhutang budi kepada Presiden RRC. Bisa dipahami. Kita tahulah bahwa Xi Jinping memberikan pinjaman dan investasi yang besar kepada Indonesia. Tapi, sebesar-besarnya hutang budi kepada China, tidaklah pantas diam seribu bahasa menyaksikan kebrutalan pemerintah Beijing itu. Warga Uighur hanya ingin hidup normal seperti orang lain yang memiliki keyakinan kepada Tuhan. Mereka itu tidak bersenjata. Tidak mungkin melakukan perlawanan.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, sepantasnyalah pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Jokowi, melancarkan protes keras. Seharusnya Jokowi melupakan dulu soal investasi RRC di Indonesia. Lagi pula, investasi mereka itu lebih banyak dinikmati oleh mereka juga. Mereka buat pabrik, mereka bangun sendiri, mereka kerjakan sendiri dengan buruh mereka, kemudian mereka bawa sendiri hasilnya ke RRC.

Kebijakan brutal Xi Jinping tidak boleh dibiarkan begitu saja. Dia tidak akan pernah memberikan ruang bagi kebebasan beragama. Pak Jokowi harus berani mendamprat presiden yang tak punya nurani itu. Xi Jinping tak akan berhenti menyiksa warga muslim Uighur.

Pak Jokowi, we are all watching you. Kami semua memperhatikan langkah Anda. Sebagai penguasa tertinggi di negeri ini, Anda berkewajiban mewakili kaum muslimin Indonesia melihat penindasan yang dilakukan oleh Presiden Xi Jinping.

Kalau Anda tetap diam, tidak melayangkan protes keras kepada RRC, itu sama artinya dengan melecehkan umat Islam Indonesia. Itu maknanya Anda tidak menggubris kesedihan dan kepedihan kaum muslimin di sini. Cukuplah "garis diam" yang ditunjukkan oleh para diplomat Indonesia ketika membahas soal pelanggaran HAM internasional. 

Sikap sejumlah negara Islam lain yang tidak memberikan respon terhadap kekejaman Xi Jinping, tidak bisa dijadikan teladan. Diam dalam menghadapi kebrutalan China bukanlah opsi. Sebaliknya, Indonesia justru pantas tampil sebagai contoh dengan menunjukkan sikap tegas terhadap RRC.

(Penulis adalah wartawan senior)