Tampilkan postingan dengan label Operasi Naga Hijau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Operasi Naga Hijau. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Mei 2020

Naga Hijau yang Mengepung Gus Dur

Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid. 


Forum Muslim -  Kisah kelam berupa pembantaian Guru Ngaji yang terjadi di beberapa kawasan di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat, menjadi catatan dalam historiografi pesantren. Kerusuhan awalnya, terjadi di basis massa NU di Situbondo dan Tasikmalaya. Menjelang transisi kekuasaan Soeharto, situasi politik memanas dan ekonomi tidak stabil. Pada waktu itu, presiden Soeharto sedang gencar mengokohkan kekuasaannya, dengan dukungan militer. Situasi memanas di ujung timur Pulau Jawa dan di kawasan selatan Jawa Barat. Pada 10 Oktober 1996, rakyat Situbondo bergerak karena tidak puas dengan Saleh yang hanya dituntut lima tahun penjara. Saleh dianggap menghina Islam, dan terlebih menyakiti hati dan menyinggung warga Situbondo. Akibatnya parah, 56 gedung terbakar (24 di antaranya gereja) dan beberapa korban meninggal. Sementara di Tasikmalaya Jawa Barat, kerusuhan meletus pada 26 Desember, yang berawal dari aksi pemukulan polisi terhadap KH. Mahmud Farid. Kiai Mahmud merupakan guru ngaji di sebuah pesantren. Dari kerusuhan ini, tercatat 70 bangunan rusak serta 107 kendaraan terbakar dan empat korban meninggal dunia (D&R, Edisi 970125). 

Mengapa ada istilah operasi Naga Hijau? 

Dalam catatan Hamid Basyaib (2000: 42), Gus Dur mengungkap, operasi-operasi yang dilancarkan untuk menyulut kerusuhan-kerusuhan tersebut, dinamakan operasi Naga Hijau. Dalam konteks politik Indonesia, hijau dapat bermakna TNI dan Islam. Bahkan, dalam konteks Operasi Naga Hijau, istilah ini merujuk pada pandangan pihak militer terhadap kelompok Islam yang dianggap 'ekstrem'. Karena ekstrem, maka perlu dikikis dengan operasi khusus. Inilah gagasan kontroversi yang dilontarkan Gus Dur, yang membuat heboh media nasional. Dari lontaran Gus Dur, bola isu bergulir cepat. Pihak militer merasa tersinggung. Bahkan, beberapa pimpinan organisasi Islam semisal ICMI, juga merasa tidak enak dengan isu spekulasi yang dilontarkan Gus Dur. Bahkan, di beberapa daerah, Gus Dur sempat menyebut dalang Operasi Naga Hijau dengan sebutan 'ES'. Kontan saja, media memuat  berita yang menyebut inisial ES dengan menebak-nebak tokoh yang tepat. Beberapa wartawan menyebut Edi Sudrajat, sedangkan yang lain menulis Eddy Sudjana. Ternyata, ini politik bahasa yang dimainkan Gus Dur untuk mengacaukan opini, dengan menghantam psikologi lawan politiknya. Gus Dur menggunakan media dan jaringan wartawan untuk melontarkan gagasan-gagasan yang membuat medan pertarungan bergeser, dari pembantaian fisik menuju perdebatan gagasan. Kemudian, Gus Dur memberikan klarifikasi yang tidak terduga. Bahwa, ES yang dianggap Gus Dur sebagai dalang Operasi Hijau bukanlah Edi Sudrajat, maupun Eggy Sujana, namun Eyang Soeharto. 

Jurus-jurus Gus Dur sengaja mengacaukan medan persilatan politik. Gus Dur dikepung Naga Hijau ketika berusaha mempertahankan independensi Nahdlatul Ulama. Pada Mukmatar Cipasung tahun 1994, Gus Dur seolah terjepit dalam kepungan politik Soeharto. Presiden Soeharto datang ke arena muktamar dengan pengawalan ketat militer. Sebagai 'lawan' penguasa Orde Baru, Gus Dur diintai oleh kaki tangan presiden, yang berusaha merebut NU dari kendali kiai. Dalam upacara pembukaan Muktamar, Gus Dur duduk di belakang, jauh dari panggung utama dan tempat duduk VIP. Padahal, Gus Dur menjadi Ketua Umum Tanfidziyah NU. Beberapa peserta muktamar juga dikawal langsung oleh aparat militer, yang mendapat tugas khusus untuk mengawasi pengurus-pengurus NU dari daerah, baik pada level cabang maupun provinsi. Tujuannya, agar para pengurus NU memilih Abu Hasan yang dijagokan Soeharto, daripada Gus Dur yang dianggap sebagai musuh pemerintah. I

mam Aziz, mengisahkan dalam buku Belajar dari Kiai Sahal (hal.100-101), betapa Gus Dur dan Kiai Sahal sangat dekat dalam pemikiran, namun sering berseberangan dalam prinsip memahami fenomena. Gus Dur memainkan jurus cepat yang membuat musuh bingung untuk mengejar maupun menghindar. Tidak jarang, Gus Dur juga menggunakan jurus mabuk, yang membuat bingung musuh-musuhnya. Sementara, Kiai Sahal lebih hati-hati dalam bersikap dan menentukan pilihan politiknya. 

Mengenai Naga Hijau, Djohan Efendi memberikan kesaksian tentang kerusuhan yang terjadi di Situbondo. Pada waktu kerusuhan meletus, Djohan Efendi terjun langsung ke lokasi untuk memahami apa yang terjadi. Djohan tidak percaya dengan laporan media maupun kasak-kusuk yang ada di lingkaran pekerja informasi maupun elite politik. Djohan memilih menyerap informasi langsung ke masyarakat. Ketika mengunjungi Situbondo, Djohan mendatangi Romo Beny yang menemani warganya ketika kerusuhan meletus. Djohan juga mengunjungi Gereja Romo Beny yang hanya tinggal atap, terbakar ketika terjadi kerusuhan. Dalam temuan Djohan Efendy, apa yang terjadi di Situbondo bukan dilakukan oleh warga, namun dari pihak luar (Sang Pelintas Batas, hal. 162). 

Majalah D&R edisi No. 017, 12 Desember 1998, juga mencatat keterlibatan empat oknum anggota ABRI. Sayangnya pihak ABRI membantah keterlibatan empat oknum tersebut. Melalui siaran pers pada 10 Oktober 1998 bantahan itu dilakukan. Padahal Kepala Direktorat Reserse Polda Jawa Timur telah memberi keterangan kepada pers pada 9 Oktober 1998 tentang penangkapan empat oknum ABRI. Intinya, Operasi Naga Hijau menjadi memori buruk bagi warga pesantren dan Nahdlatul Ulama. Munculnya Ninja-ninja yang membantai guru ngaji, merupakan peristiwa kelam yang dikenang oleh sebagian besar warga nahdliyyin. Istilah Naga Hijau sampai saat ini, masih sangat sensitif, karena terkait dengan pembantaian besar-besaran. 

Di tengah situasi demikian, kita teringat Gus Dur, bagaimana memainkan isu politik dan kekerasan dengan cara-cara strategis untuk menyelesaikan masalah, bukan memperkeruh suasana. [FM] 

Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sumber: Ahmad Gaus AF. Sang Pelintas Batas,  Johan Effendi. Jakarta: ICRP & Kompas. 2009 Hamis Basyaib, Gitu Ajak Kok Repot, Ger-Geran Gaya Gus Dur, 2000. Henk Schulte Nordholt, Indonesia in Search of Transition. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2002. Kees van Dijk, Country in Despair, Indonesia Between 1997 and 2000. Leiden: KITLV. 2001.

Sumber: NU Online

Pembantaian Dukun Santet, Operasi Naga Hijau & Teror kepada NU

Ilustrasi Operasi Naga Hijau

Forum Muslim - Suatu Subuh di bulan September 1998, Untung Hadi dikagetkan oleh kabar kematian bapaknya.

"Paman, kakek meninggal," kata keponakannya.
Tanpa sempat berganti pakaian, ia langsung menuju ke rumah bapaknya yang bernama Hasim dan mendapatinya telah tergeletak bersimbah darah. Hasim adalah seorang petani dan juga bertugas sebagai takmir masjid.  
Untung Hadi menjelaskan, selain membunuh ayahnya para pelaku juga merusak rumah korban. Dan ketika suasana menjadi ruwet, tiba-tiba pondok yang berada di kebun pun dibakar. Dalam suasana genting itu ia tak mendapati aparat desa seorang pun.
"Mungkin sudah direncanakan," katanya.
Peristiwa itu terjadi di Desa Pondoknongko, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, Jawa Timur.
Masih di kecamatan yang sama, di waktu berbeda, Abdullah menjadi saksi peristiwa pembantaian saudaranya. Di Desa Sukojati, Arifin (kakaknya) beserta istri dan anaknya dibantai sekelompok warga.
"Mereka dijemput massa. Massa itu bukan orang jauh, warga sini saja. Saya juga tahu meninggalnya. Istrinya diseret, di depan warung ini dari selatan. Kakak saya, Arifin, dituduh punya ilmu santet," ujarnya.
Menurut keterangan Abdullah, massa yang beringas menggunakan kayu, batu, dan pisau. Setelah kepalanya dihantam batu, istri Arifin kemudian diseret.
"[kulitnya] mengelupas seperti serpihan pinang," tambah Abdullah.
Ia ikut memandikan ketiga korban pembantaian itu. Jenazah kemudian dimakamkan setelah Asar dengan posisi berjajar.
"Kang Arifin di utara, istrinya di tengah, Misdi (anaknya) di selatan," ujarnya.
Sementara Ainnurohim—korban penyerangan beberapa orang yang tampil dengan pakaian ala ninja, menceritakan bahwa pada suat malam ia melihat sesosok bayangan. Awalnya ia belum yakin terhadap bayangan itu, apakah manusia atau karena penglihatannya terganggu.
Namun setelah dilihat secara saksama, bayangan itu ternyata betul manusia. Ainnurohim lalu mendekatinya, dan tiba-tiba bayangan itu sudah membacoknya. Ia mencoba melawan karena kebetulan sedang membawa senjata sepulang siskamling, dan terjadilah perkelahian.
"Ndak tahu waktu itu dari sebelah kiri saya juga ada, tahu-tahu udah mbacok saya. Di sebelah lagi mbacok sebelah kanan saya. Setelah itu saya gak inget lagi," Kenang Ainurrohim
Tiga kejadian tersebut adalah contoh kecil dari ratusan kasus serupa yang terjadi di Banyuwangi dan beberapa daerah lain pada 1998. Secara nasional peristiwa ini kemudian dikenal dengan sebutan "Dukun Santet" dan "Ninja". Resonansi pemberitaan semakin meluas dan sampai ke luar negeri.
Jason Brown yang melakukan penelitian tentang topik ini, mula-mula mendengar peristiwa ini malah dari beberapa media luar seperti The Sydney Morning Herald edisi Sabtu, 7 November 1998 dengan tajuk berita "Indonesia's New Wave of Terror". Ia juga membaca dua laporan BBC News Online edisi 13 dan 24 Oktober 1998, dengan judul berita "Macabre Murders Sweep Java" dan "Indonesia's Ninja War". Penelitian Jason kemudian terbit menjadi Perdukunan, Paranormal, dan Peristiwa Pembantaian (Teror Maut di Banyuwangi, 1998).

Santet di Banyuwangi
Menanggapi ratusan peristiwa kasus pembunuhan "Dukun Santet" oleh "Ninja", Afton Ilman Huda (tokoh NU Jember) menyebutkan bahwa hal ini mungkin berkaitan dengan psiko-culture di masyarakat setempat. Menurutnya, di daerah Tapal Kuda memang ada pemahaman tentang santet, meski persepsinya berbeda-beda. Beliau mencontohkan santet dalam konteks percintaan.
"Ada orang seneng dengan perempuan. Bagaimana caranya perempuan itu seneng. Begitu-begitu itu biasanya upayanya ke dukun-dukun. Untuk meng-counter yang seperti itu datang ke kiai-kiai. Perilaku kiai yang semula menolong santet, ini kemudian menjadi terancam dengan isu ini," ujar Afton.
Ihwal santet yang dekat dengan kehidupan masyarakat daerah Tapalkuda, khususnya Banyuwangi yang mayoritas warganya beretnis Osing/Using, Hasan Ali—penggiat budaya Banyuwangi, seperti dikutip Sukidin dalam disertasinya di Universitas Airlangga tahun 2005 menjelaskan bahwa santet bagi masyarakat Banyuwangi adalah realitas. Ada dan keberadaannya sangat diyakini (Pembunuhan Dukun Santet di Banyuwangi: Studi Kekerasan Kolektif dalam Perspektif Konstruktivistik, hlm. 333).
"Mayoritas mereka mempercayai dan sudah menjadi bagian yang menyatu dalam keseharian masyarakat Using. Santet telah menjadi kosa kata harian masyarakat Using. Bagaimana tidak, segala hal yang terkait dengan kehidupan sehari-hari yang dianggap penting, selalu saja kebanyakan masyarakat using akan mendatangi orang pintar hanya sekadar untuk berkonsultasi," terangnya.  
Hasan Ali menambahkan bahwa masyarakat Using akan mendatangi dukun untuk selametan pindahan rumah, dan di hampir setiap aktivitas sehari-hari seperti membangun rumah, menyongsong panen, hajaran khitan, pernikahan, dll.
Sistem sosial yang terbangun seperti itulah yang menjadi bahan bakar yang menyulut berbagai pembantaian. Masyarakat Banyuwangi menyerang sesuatu yang telah hidup dalam kesehariannya.
Siapa Dalang di Balik Layar?
Secara nasional peristiwa di Banyuwangi dan sekitarnya ini sempat mencuatkan kecurigaan kepada beberapa pihak. Tahun 2003 ketika terjadi penganiayaan terhadap KH. Ahmad Asmuni Ishaq hingga wafat di Desa Kaliboto Lor, Kecamatan Jatiroto, Lumajang, yang dilakukan komplotan ala ninja, Gus Dur mengaitkannya sebagai modus operandi yang sama dengan peristiwa di Banyuwangi tahun 1998.
"Tujuannya, menggagalkan Pemilu 2004," kata Gus Dur.
Sementara temuan Jason Brown menjelaskan bahwa peristiwa berdarah Banyuwangi 1998 sebenarnya adalah kejadian yang berulang yang bisa disebut biasa, karena terkait dengan keadaan sosial masyarakat Using yang akrab dengan budaya dukun santet dalam keseharian.
Anggapan ini didukung catatan Saiful Rahim dalam Merah Darah Santet di Banyuwangi yang mengabarkan bahwa peristiwa pembantaian terhadap dukun santet di Banyuwangi pernah terjadi tujuh (1991) dan dua tahun sebelumnya (1996).
"Pada tahun 1996 pun terjadi aksi pembantaian terhadap dukun santet (sihir). Peristiwa yang terjadi pertengahan 1996 itu meminta korban sekitar 30-an orang yang diduga dukun santet. Karena itu, ketika pertama kali terjadi pembantaian atas beberapa orang yang diperkenalkan sebagai sukun santet tidak diambil pusing oleh orang Bannyuwangi," tulis Saiful Rahman (hlm. 6).
Untuk mengantisipasi kejadian serupa terulang —berdasarkan laporan Jason Brown dalam Perdukunan, Paranormal, dan Peristiwa Pembantaian (Teror Maut di Banyuwangi, 1998, hlm. 51), tanggal 6 Februari 1998 Bupati Banyuwangi, Purnomo Sidik, mengeluarkan instruksi kepada seluruh Camat agar mendata paranormal, dukun pengobatan tradisional, dan tukang sihir agar memudahkan penanganan jika terjadi kasus serupa.
Namun rupanya daftar yang dibuat oleh para Kepala Desa atas instruksi Camat sebagai perintah Bupati tersebut kemudian bocor dan berubah menjadi daftar target pembunuhan. 
Dalam skala yang lebih besar, peristiwa Banyuwangi 1998, serupa dengan peristiwa di Tasikmalaya dan Situbondo menjelang Pemilu 1997, atau yang lebih dikenal dengan sebutan "Operasi Naga Hijau".              
Zed Abidien dan Abdul Manan dalam Majalah D&R (Detektif & Romantika) edisi 970125-023, hlm. 14, Rubrik Peristiwa & Analisa, menulis bahwa Operasi Naga Hijau mula-mula menjadi berita saat KH. Hasyim Muzadi (Ketua PWNU Jatim waktu itu) menyebutkan dengan jelas informasi tersebut kepada wartawan Kantor Berita Antara.
"Kami telah menemukan lima pancingan yang disebut Operasi Naga Hijau yang berusaha mengaduk-aduk warga NU di Jatim," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa semua sasaran pancingan-pancingan tersebut adalah warga NU dengan tujuan merusak bangsa Indonesia.
Dalam tulisan bertajuk Naga Hijau: Antara Ada dan Tiada, kedua jurnalis  D&R tersebut mengutip seorang sumber NU Jatim lain yang menyatakan bahwa tujuan operasi ini adalah memecah-belah warga NU agar tidak solid mendukung organisasi politik tertentu.  

Motif dan Modus

Tokoh intelektual peristiwa "Dukun Santet" dan "Ninja" di Banyuwangi secara hukum belum menemui titik terang. Kejadian ini masih tertutupi selimut kabut. Namun di luar cara berpikir umum yang selalu menghadirkan imajinasi dalang di hampir setiap kejadian yang bergaung secara nasional, Sukidin menawarkan pendekatan lain.
Dalam disertasi yang dipertahankan di Universitas Airlangga, Sukidin menyebut setidaknya ada empat hal yang bisa dipakai untuk mengurai benang kusut yang terjadi di Banyuwangi, yaitu (1) motif dendam sosial, (2) motif iri hati dan fitnah, (3) modus massa terorganisir, dan (4) modus pembunuhan massa spontan. Poin-poin ini didapat setelah Sukidin menggali informasi dari sebagian besar pelaku pembunuhan. (hlm. 208)
Dalam disertasi berjudul Pembunuhan Dukun Santet di Banyuwangi: Studi Kekerasan Kolektif dalam Perspektif KonstruktivistikSukidin menjelaskan bahwa masyarakat Using pada banyak hal terkesan sangat hati-hati dalam menyikapi peristiwa pembunuhan pada dukun santet. Jika pernah terjadi pembunuhan secara terbuka, hal itu jarang terjadi pada masyarakat Using. Kalau ada kasus warga Using yang terbunuh secara tidak wajar, maka kasus tersebut akan dianggap sebagai akibat dari korban ilmu santet.
"Pembunuhan terhadap korban yang bermotifkan dendam yang dirasakan oleh masyarakat ini selalu terjadi pada orang yang diduga sebagai dukun santet. Terlepas apakah korban pembunuhan tersebut menemui kematian atau masih hidup, yang jelas motif ini hampir semuanya terjadi pada dukun santet," tulisnya.

(Sumber : tirto.id - irf/zen/FM)

Melumpuhkan NU Dengan Operasi Naga Hijau

Buku Sejarah Tambak beras dipegang dan dibaca KH.  Ma'ruf Amin


Oleh : Kiai Ainur Rofiq 

Tulisan di bawah ini saya ambil dari karya KH.  Abdul Mun'im.  Saat Orde Baru berkuasa,  NU berhadapan dengan penguasa. Absurdnya,  ormas Islam  lain yang sering menyuarakan ukhuwah Islam justeru  bungkam seribu bahasa saat NU direpresi.  Lebih naif lagi,  Orde Baru saat membungkam dan hendak menghabisi NU dibantu oleh beberapa kelompok Islam militan atau radikal. Berikut kisahnya. 

Saat KH Abdurrahman Wahid memegang tampuk pimpinan NU,  ternyata kepengurusannya tidak diakui pemerintah Orde Baru.  Maka untuk mengacaukan kepemimpinan Gus Dur,  diciptakan konflik dengan mendorong berdirinya NU tandingan yang dipimpin Abu Hasan. 

Para ulama NU dituduh memfitnah, lalu satu persatu ulama NU diperiksa di Polda Jakarta Raya, Hal itu semata untuk meruntuhkan mental para ulama. Tetapi soliditas waga NU semakin kuat. Para pimpinan NU terutama Abdurrahman Wahid yang saat itu juga sebagai ketua Forum Demokrasi dilarang bicara di mana-mana, juga dijegal dengan berbagai cara. 

Ketika cara halus tidak bisa dipakai,  maka cara yang lebih keras dilakukan, yaitu dengan melakukan tindakan militer. Basis NU di daerah tapal kuda khususnya Banyuwangi mulai dijadikan target operasi. 

Pertama yang dilakukan adalah dengan dalih memberantas dukun santet. Ternyata yang disebut dukun santet adalah para kiai, yang memang semua kiai memiliki kemampuan tradisional sebagai tabib. Para kiai NU itu dibantai satu-persatu oleh keompok tak dikenal, tetapi ada juga yang dilakukan oleh masyarakat setempat setelah diprovokasi oleh pihak luar. Ratusan kiai menjadi korban operasi ini. Banyak kiai mendapatkan teror dan ancaman. 

Operasi yang semula di Banyuwangi itu mulai menyebar ke daerah Jawa Timur yang lain akhirnya merebak ke seluruh Jawa. Anehnya yang dijadikan sasaran hanya para ulama NU, ulama dari ormas lslam lain tidak ada yang menjadi korban. 

Karena aparat keamanan tidak bisa membantu, masyarakat NU dalam mengatasi operasi ninja itu, maka banser dan masyarakat dengan dibimbing oleh para kiai sendiri melakukan penjagaan. Dalam penjagaan itu berhasil menangkap beberapa pelakunya yang berpakaian ninja. Anehnya setelah tertangkap mereka menjadi orang gila yang tidak bisa diajak berkomunikasi. Saat itu muncul orang gila di berbagai tempat. 

Melihat kenyataan itu, KH Hasyim Muzadi Ketua NU Wilayah Jawa Timur marah sambil meledek pada pemerintah, bahwa tidak mungkin ada organisasi orang gila atau koperasi orang gila, kok tiba-tiba muncul orang gila di mana-mana, padahal jumlah orang gila di daerah ini sangat terbatas, dan sebagian besar dirawat di rumah sakit jiwa. 

Tentu ini ulah orang waras yang terorganisir secara rapi untuk membuat kerusuhan dan pembantaian. Demikian protes Hasyim Muzadi. Operasi ninja ini sangat merepotkan NU, karena para ninja itu memiliki kemampuan tempur yang sangat tinggi, bisa menculik kiai yang sudah dijaga dengan ketat, sehingga merepotkan para pendekar pesantren. Tetapi dengan ketinggian ilmu kanuragan kaum santri, serta kekompakan mereka gerakan kelompok ninja sedikit banyak bisa ditanggulangi. 

Sayang, saat NU menghadapi penindasan dan pembantaian luar biasa itu, tidak ada ormas Islam lain yang membantu. Ukhuwah Islamiyah yang dibangun NU selama ini tidak mereka terapkan. Demikian juga kalangan minoritas yang selama ini dibela oleh NU khususnya Gus Dur dengan segala risiko, tetapi kelompok minoritas tidak memberikan bantuannya saat mengenaskan seperti itu. Kelihatan kelompok lain hanya minta perlindungan dan bantuan NU, tetapi mereka tetap enggan membantu NU. Ini sangat ironis, namun demikian NU tidak pernah surut membantu siapapun. 

Setelah suasana agak reda,  berbagai kelompok termasuk lembaga swadaya masyarakat melakukan investigasi dan membentuk tim pencari fakta, maka ditemukan banyak keanehan dan kejanggalan dalam operasi para ninja itu, dimana menunjukkan adanya keterlibatan kelompok Orde Baru bahkan beberapa kelompok Islam militan dalam operasi tersebut. 

KH. Abdurrahman Wahid kemudian membeberkan bahwa kesemuanya gerakan militer tersebut adalah operasi naga hijau yang sengaja dilakukan oleh rezim Orde Baru untuk menghancurkan kekuatan NU. Dalam operasi itu 400 orang pimpinan dan warga NU tewas dibantai, selama masa pembantaian itu NU tidak pernah mendapat bantuan apalagi perlindungan dari aparat keamanan TNI dan Polri. NU dengan Banser dan Pagar Nusa serta pasukan santri menghadapi sendiri. Dengan kesigapan itu operasi militer ninja yang disebar ke seluruh Jawa itu bisa ditanggulangi oleh NU sendiri. 

Sementara umat Islam yang lain tenang-tenang tidak diserang dan juga tidak berusaha membantu NU. Tetapi NU sudah kuat sehingga tanpa bantuan sudah mampu mengatasi persoalan sendiri. (FM)