Tampilkan postingan dengan label Eropa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eropa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Agustus 2020

Al Qur'an Dibakar, Kerusuhan Pecah Di Swedia

Kerusuhan di Swedia
Kerusuhan di Swedia

Forum Muslim - Kerusuhan pecah pada Jumat (28/8) di Kota Malmo, Swedia selatan. Sedikitnya 300 orang menggelar protes terhadap tindakan yang anti-Islam.

Sebelumnya pada hari itu, salinan Al-Quran dibakar di Kota Malmo oleh beberapa ekstremis sayap kanan.

Massa melemparkan berbagai benda ke arah petugas polisi dan membakari ban mobil, kata juru bicara kepolisian.

"Kami tidak bisa mengendalikan ini, tetapi kami berusaha secara aktif untuk mengambil kendali," katanya.

"Kami melihat adanya keterkaitan antara apa yang terjadi sekarang dan apa yang terjadi sebelumnya hari ini," lanjutnya.

Demonstrasi semakin panas di tempat yang sama tempat Al-Quran dibakar.

Surat kabar harian Aftonbladet melaporkan bahwa sejumlah aksi anti-Islam berlangsung di Malmo pada Jumat, termasuk saat tiga pria menendangi Al-Quran di antara mereka di lapangan terbuka.

Protes anti-Islam terjadi setelah Rasmus Paludan, pemimpin partai politik sayap kanan Denmark, Hard Line, ditolak izinnya untuk mengadakan pertemuan di Kota Malmo dan dihentikan di perbatasan Swedia, menurut surat kabar tersebut. (reuters/antara/jpnn)

Selasa, 14 Agustus 2018

Tiga Penyebab Munculnya Islamofobia di Eropa

Forum Muslim - Sepanjang sejarah dunia, ketidaknyamanan selalu muncul di antara manusia sebagai makhluk sosial, baik karena bahasa, agama, ataupun ras. Hal ini muncul di dunia Barat dengan bentuk islamofobia. Ada semacam sentimen negatif ketika melihat ataupun mendengar Islam. Penyebabnya muncul dari berbagai hal dan dari segala arah sehingga membentuk gelombang besar yang memengaruhi masyarakat di sana untuk benci terhadap Islam.
Hal ini diungkapkan oleh Pimpinan Bayt Ar-Rahmah li ad-Da'wa al-Islamiyah Rahmatan li al-'Alamin Holland C Taylor saat ditemui NU Online di hotel Grand Hyatt, Jakarta pada Senin (13/8).
Pertama, ketidaknyamanan masyarakat Eropa terhadap Islam itu muncul karena homogenitas mereka dan kesulitannya masyarakat imigran melakukan asimilasi dan integrasi, penyesuaian sifat asli mereka dengan sifat lingkungan di sekitar mereka tinggal. Karena itu, bangsa Eropa kurang bisa menerima kedatangan imigran yang beranak pinak dengan tanpa menghilangkan sifat mereka.
“Sebelum kedatangan grup-grup ini (imigran) dari negara masing-masing, kebanyakan negara Eropa itu homogen,” katanya.
Terlebih, mereka yang masuk ke Eropa lebih banyak yang berpendidikan rendah. Hal ini berbeda dengan Muslim yang masuk ke Amerika, yakni memiliki latar belakang pendidikan yang baik. Selain itu, menurut Duta Gerakan Pemuda Ansor untuk Amerika dan Eropa itu, Muslim di Amerika tidak tinggal di satu daerah tertentu saja yang mengelompok, tetapi menyebar.
“Di Eropa biasanya pendidikannya rendah, kerjanya agak ke bawah. Dan mereka semua dari satu etnik dan kumpul di satu lokasi. Mereka dianggap asing karena Eropa tidak punya budaya imigran,” ujar pimpinan LibForAll Foundation itu.
Ketidaknyamanan mereka semakin diperparah dengan kehadiran kaum ekstremis yang melakukan teror di mana-mana, seperti Al-Qaeda dan ISIS.  “Dengan kemunculan fenomena teror dari Al-Qaeda dan belakangan ini dari ISIS, wuh itu jauh lebih parah,” kata pria asal Amerika itu menyebut penyebab keduanya.
Lebih lanjut, Holland juga mengungkapkan bahwa terjadi benturan antara masyarakat keturunan imigran yang lahir dan tumbuh di negara Eropa dengan masyarakat asli Eropanya. “Mereka membantai sesama warga. Itu masalah besar. Mereka berbeda etnik dan agamanya, meskipun secara kewarganegaraan sama,” katanya.
Adanya gelombang migrasi ke Eropa tanpa ada persyaratan khusus dan kontrol membuat publik Eropa menjadi kaget dan prihatin. “Yang ketiga, imigrasi massal sampai ada jutaan orang masuk Eropa tanpa ada persyaratan dan kontrol,” katanya.
Pasalnya, hal tersebut menaikkan angka pemerkosaan di sana, sebagai salah satu contoh saja. Hal ini pernah Holland lihat sendiri ketika ia berkunjung ke Jerman. Ia melihat perempuan pribumi (orang asli Jerman) diperkosa. Hal demikian, menurutnya terjadi di mana-mana. Ia sampai menyebutnya diekspor ke Eropa.
“Sikap laki-laki di beberapa kawasan di Timur Tengah terhadap perempuan, kita di sini bisa menganggap kurang ajar,” katanya.
Karena itu, ia menerangkan bahwa Islamofobia tidak mulai dari nol. Hal ini akan lebih panjang kronologinya jika ditarik ke masa khilafah mengingat adanya ekspansi dengan menggunakan militer di belahan dunia Barat tersebut. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Sumber : NU

Senin, 22 Januari 2018

Swedia Persiapkan Perang Sipil

Forum Muslim -- Seperti sudah ditulis dalam postingan sebelumnya, akibat liberalisme yang diusung para pengikut dajjal ke Swedia, negara yang adil makmur sejahtera ini mengalami dekadensi sosial hebat. Ketika kriminalitas begitu mengkhawatirkan aparat negara dan pemerintah justru mempersekusi warga dan gereja sibuk berdiskusi tentang jenis kelamin Tuhan dan kemudian menghancurkan keyakinan yang telah bertahan ribuan tahun dan menjadi dasar keyakinan warga Swedia.

Dikutip dari IFP pada 18 Januari lalu, pemerintah tengah mempertimbangkan untuk menerapkan kondisi darurat militer untuk mengatasi kriminalitas di sejumlah wilayah. Ini setelah sejak tahun lalu para politisi menyerukan hal yang sama.

"Untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II, Swedia kini tengah mempersiapkan untuk mendistribusikan brosur tentang petunjuk menghadapi situasi perang kepada 4,7 juta rumah tangga," tulis laporan itu.
Dalam brosur itu disebutkan beberapa cara untuk bertahan hidup dalam situasi perang, seperti bagaimana mendapatkan air, makanan dan pemanas suhu. Petunjuk juga meliputi bagaimana menghadapi serangan siber, terorisme dan perubahan cuaca.
"Seluruh anggota masyarakat harus siap untuk menghadapi konflik, tidak hanya militer. Kita tidak pernah menggunakan kata-kata seperti 'pertahanan total' atau 'status siaga' selama 25-30 tahun atau bahkan lebih. Maka pengetahuan di antara warga negara sangat rendah," kata Christina Andersson, kepala proyek badan penanggulangan bencana nasional.
Judul brosur tersebut, menurut laporan itu adalah "Jika Krisis Perang Tiba", akan diterbitkan pemerintah pada akhir musim semi mendatang. Menurut Zero Hedge pemilihan waktu itu adalah untuk menutup-nutupi motif sebenarnya dari kebijakan pemerintah ini, yaitu dengan memberi kesan seolah-olah masalah yang dihadapi adalah ancaman invasi Rusia. Meski demikian, ancaman sebenarnya bagi Swedia tidak bisa lagi ditutup-tutupi, yaitu krisis sosial akibat arus imigran ilegal.
Pada hari Rabu (17 Januari) Perdana Menteri Stefan Lofven mengatakan bahwa pemerintah akan melakukan apapun, termasuk mengirim tentara untuk menghentikan gelombang kriminalitas di sejumlah wilayah di Swedia.

"Ini bukan langkah pertama saya untuk mengerahkan militer, namun saya siap untuk melakukan tindakan apapun untuk memastikan bahwa kejahatan-kejahatan terorganisir yang serius bisa ditumpas," kata Lofven setelah pembahasan masalah itu di parlemen.
"Tahun lalu terjadi 300 kali insiden penembakan, 40 orang tewas dibunuh. Tahun baru dimulai dengan aksi-aksi kriminal. Kami melihat para penjahat yang tidak menghormati nilai-nilai kemanusiaan, ini perkembangan yang menyakitkan dimana saya bertekad untuk menghentikannya," tambah perdana menteri.

Bahkan pemimpin partai Demokrat yang 'welcome' dengan imigran asing, Jimmie Akesson, menyatakan perang terhadap kelompok-kelompok kriminal dan menyarankan pemerintah untuk menggelar militer ke wilayah-wilayah 'larangan keluar rumah'.
"Orang-orang ditembak mati di restoran-restoran pizza, orang-orang dibunuh dengan granat yang ditemukan di jalan-jalan," kata Akesson dalam pembahasan di parlemen itu.


Krisis Perkosaan di Swedia

Pada 18 Februari 2017 lalu Presiden Amerika Donald Trump membuat pernyataan mengejutkan tentang banyaknya kasus perkosaan Swedia sebagai dampak masuknya imigran gelap ke negara itu. 

"Kita harus menjaga negara kita tetap aman. Apakah kalian melihat apa yang tengah terjadi di Jerman? Apakah kalian tahu apa yang terjadi di Swedia semalam? Swedia? Siapa yang percaya? Swedia? Mereka kini menanggung persoalan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya."
Hanya berselang dua hari, politisi Inggris Nigel Farage mengklaim bahwa kota Malmö di Swedia merupakan 'ibukota perkosaan di Eropa bahkan mungkin di dunia'.

"Secara rata-rata Swedia telah menampung pengungsi muda laki-laki lebih banyak dibanding negara-negara Eropa lainnya, dan akibatnya terjadi peningkatan drastis kejahatan seksual di Swedia, sedemikian supa sehingga Malmö kini telah menjadi ibukota perkosaan di Eropa atau bahkan dunia, dan media-media massa Swedia menutup mata hal ini.(FM)

Senin, 25 Desember 2017

Jangan Biarkan George Soros Tertawa


Forum Muslim  -- Orang-orang yahudi di seluruh dunia tengah dilanda kemarahan pada rakyat Hungaria, khususnya perdana menterinya, Victor Orban. Setelah berbulan-bulan memimpin kampanye anti-imigrasi dan anti George Soros-Uni Eropa, kini ia bergerak lebih jauh lagi. Ia memasang poster-poster yang berisi pesan sangat spesifik, dan itu dianggap anti-semit.

"Jangan biarkan (George) Soros Tertawa meski untuk terakhir kalinya", demikian bunyi poster tersebut. George Soros adalah 'tetua' bagi orang-orang yahudi di seluruh dunia, dan itu berarti anti-semit.

Organisasi orang-orang yahudi terbersar di Hungaria mengecam kampanye itu dan menyebutnya sebagai 'pesan-pesan beracun yang menyakiti seluruh bangsa Hungaria'. Dubes Israel di Budapest mengecamnya dengan menyebutnya sebagai 'membuka kenangan pahit dan menanamkan benih kebencian serta ketakutan'. Sedangkan George Soros sendiri menyebutnya sebagai 'aksi anti-semit yang nyata'.


Menurut pengamat sosial-politik Irish Savant dalam satu artikelnya di situs The Truthseeker, 19 Desember lalu, seluruh rakyat Hungaria masih merasakan pengalaman pahit berhubungan dengan orang-orang yahudi. Meski minoritas, mereka sangat berkuasa, dan bahkan dua kali Hungaria dipimpin oleh regim yahudi sejak abad 20 hingga pergantian millenium.

Yang pertama adalah regim Bela Kun yang hanya bertahan selama beberapa bulan, namun cukup untuk membuat kehancuran bagi bangsa Hungaria. Setelah memprovokasi negara-negara tetangganya untuk berperang, Menteri Kebudayaan Georg Lukacs melakukana kampanye de-Kristenisasi besar-besaran. Ia mengajarkan pendidikan seks secara vulgar di taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Guru-guru seks diorganisir untuk mengajarkan free seks sembari mencampakkan nilai-nilai moral agama. Ini semua dilakukan bersamaan dengan persekusi secara massif pada orang-orang tua, pendeta dan tokoh-tokoh nasionalis yang menentangnya.

"Anda tidak harus menjadi paranoid untuk mengetahui bahwa yang sama terjadi di semua negara Kristen-kulit putih selama 50 tahun terakhir," tulis Irish Savant.

Regim Bela Kun berakhir bulan Agustus 1919 setelah setelah digulingkan oleh pasukan Rumania dengan dibantu kalangan nasionalis-religius. Namun paska Perang Dunia II Uni Sovyet yang baru menang perang dan menduduki Hungaria, mengangkat regim boneka komunis yang tidak kalah 'brengsek' dibanding Bela Kun. Puncaknya adalah ketika orang-orang komunis-yahudi itu mengusir ribuan warga Hungaria, mulai dari petani hingga kalangan inteleknya, dari rumahnya sendiri untuk ditempati kader-kader komunis dari Rusia dan negara-negara komunis lain. Rakyat pun memberontak pada tahun 1956 dan memaksa Uni Sovyet mengirim 150.000 tentara dan 2.500 tank untuk menumpas pemberontakan.

Seperti ditulis Irish Savant, pada bulan Februari 1957 seorang psikolog dari Cornell University, Dr. Richard M. Stephenson mewawancarai Erika Szalay, gadis muda Hungaria yang melarikan diri ke Amerika setelah pemberontakan. Kepada psikolog yang meneliti akar semangat anti-semitisme di masyarakat Hungaria itu, gadis cantik itu mengatakan:

"Semua pekerjaan penting dikuasai oleh orang-orang yahudi. Saya heran mengapa orang-orang Katholik dan Lutheran tidak bisa mendapatkan pekerjaan-pekerjaan itu. Ada banyak orang-orang yahudi di 'Pápa' (istilah untuk perusahaan-perusahaan yang semuanya dimiliki negara), namun tidak satupun dari mereka yang menjadi buruh dan istri-istri mereka pun tidak bekerja. Para pemimpin di perusahaan-perusahaan ini semuanya bernama Cohen dan Schwarz (nama-nama keluarga yahudi)."(Sumber : IFP)

Minggu, 24 Desember 2017

Neraka di Swedia karena Liberalisme



Forum Muslim -- Baru beberapa waktu yang lalu Swedia dinyatakan sebagai negara paling nyaman untuk ditinggali di dunia oleh PBB. Namun, kini situasinya sudah berkebalikan dan sulit untuk dikatakan. Faktanya adalah, sejumlah wilayah di pinggiran Stockholm seperti Hallunda-Norsborg, Tensta, Rinkeby dan Husby telah dikenal sebagai wilayah larangan untuk dikunjungi. Hal yang sama terjadi di beberapa kota besar lainnya. Dan, alih-alih memulihkan keamanan, polisi hanya bisa menyarankan warga untuk tidak keluar rumah dan berjalan sendirian.

Dan situasi semakin memburuk, karena penegakan hukum sepertinya tumpul ketika berkaitan dengan kasus-kasus kejahatan yang dilakukan para imigran gelap.


Seperti dilaporkan wartawan senior Paul Joseph Watson di Propagandamatrix, 19 Desember, lima orang imigran yang diketahui terlibat dalam pemerkosaan massal terhadap seorang wanita Swedia, bebas dari hukuman. Kelimanya dibebaskan Pengadilan Distrik Södertörn, Selasa (19 Desember), setelah hakim menyebut perkosaan itu adalah tindakan 'suka sama suka'.

Kondisi ini sangat bertolak belakang dari fakta yang terjadi dan membuat pengacara korban, Elisabeth Massi Fritz, marah dan menyebutnya sebagai 'memalukan sistem hukum Swedia'.

"Tidak boleh ada pelaku yang bebas dari hukuman atas kasus perkosaan massal seperti ini. Ini adalah kasus perkosaan paling keji yang pernah saya ketahui sebagai pengacara yang bekerja selama 26 tahun," kata Fritz seraya menyatakan tekadnya untuk tidak menyerah dan mengajukan banding.

Tragedi pemerkosaan itu terjadi di wilayah Fittja di pinggiran kota Stockholm, pertengahan tahun ini. Pelaku berjumlah 20 orang, namun hanya lima orang yang teridentifikasi dan diajukan ke pengadilan.

Menurut korban yang berumur 30 tahun, para imigran itu 'saling berdiskusi untuk menentukan siapa yang terlebih dahulu memperkosa', sebelum melakukan aksi kejinya di atas tangga.

"Yang lain berdiri menunggu giliran," kata wanita itu.

Para imigran itu membenturkan kepalanya ke tangga besi hingga terluka dan mengancamnya dengan pisau. Seluruh adegan terekam oleh kamera CCTV, namun hanya lima orang yang teridentifikasi.

Sementara itu Daily Mail melaporkan, 20 Desember, ratusan warga melakukan aksi protes di kota Malmo setelah terjadinya kasus-kasus perkosaan massal terhadap wanita-wanita lokal oleh para imigran di kota tersebut. Sementara pemerintah dan polisi dianggap tidak melakukan tindakan yang cukup.

"Tiga kasus perkosaan massal terjadi dalam sebulan di Malmo, Swedia dan polisi hanya menyarankan warga untuk tidak berjalan sendirian atau tinggal di rumah saja," tulis laporan itu.

Kasus terakhir di Malmo dialami oleh remaja 17 tahun, ketika ia diperkosa oleh sejumlah orang di taman bermain, Sabtu (16 Desember). Sehari kemudian polisi mengeluarkan peringatan kepada para wanita lokal untuk tidak keluar rumah sendirian.

Warga marah dengan respon polisi yang dianggap tidak patut dengan kasus tersebut, karena tugas polisilah menjaga keamanan warga.

Sebelumnya, pada 4 November seorang wanita muda di Sevegang, Malmo, juga mengalami nasib serupa, diperkosa oleh sekelompok imigran gelap. Seminggu kemudian, seorang wanita lainnya juga diperkosa beramai-ramai di kawasan, di pusat kota Malmo.

"Sebagai dampak langsung dari krisis pengungsi (imigran gelap) di Eropa, kerusakan-kerusakan sosial baru yang tidak menyenangkan kini mulai muncul. Secara khusus, masalah serius yang tampak adalah bahwa para pejabat cenderung menyalahkan korban dalam berbagai kasus perkosaan yang terjadi di Eropa akibat membanjirnya pengungsi. Sebagai contoh, walikota Cologne (Jerman) baru saja mengundang kecaman setelah menyarankan para wanita Jerman untuk menghindari serangan dengan menjaga jarak sedepa. Kemudian kasus lain yang terkenal ketika polisi menahan gadis Denmark berumur 17 tahun karena telah menyemprotkan merica ke muka penyerangnya," tulis Tyler Durden di situs Zero Hedge, lebih dari setahun lalu, tepatnya 13 Maret 2016.

Berbeda dengan negara-negara Eropa Timur yang mayoritas warganya beragama Katholik atau Kristen Orthodoks yang relatif masih menghormati para tokoh agama dan menjaga nilai-nilai agama, negara-negara Eropa Barat dan Skandinavia yang mayoritas warganya beragama Kristen Protestan, jauh lebih liberal dan permisif terhadap arus imigrasi ilegal dari Afrika dan Timur Tengah. Dampaknya adalah kerusakan sosial dengan cepat terjadi di negara-negara yang sebelumnya dikenal aman dan damai itu. Dan ketika hal itu terjadi, tidak ada perlawanan dari warga untuk mengembalikan nilai-nilai sosial. Dalam banyak kasus, warga bahkan justru mengalami persekusi oleh para aktifis, media massa dan aparat hukum dengan berbagai tuduhan seperti intoleran.

Di negara-negara Eropa timur, arus imigrasi dianggap sebagai ancaman integritas bangsa. Banyak bahkan yang melihatnya sebagai konspirasi global untuk menghancurkan identitas negara-negara Eropa. Perdana Menteri Hongaria, Victor Orban dalam banyak kesempatan bahkan menyebutnya sebagai konspirasi jahat George Soros bersama para pejabat Uni Eropa.


Gereja Swedia Larang Penggunaan Kata 'Lord' dan 'He'

Dan inilah bentuk liberalisme yang kebablasan di Swedia yang harus dibayar mahal rakyat Swedia. Seperti dilaporkan The Telegraph, 24 November lalu, Gereja Swedia kini melarang penggunaan kata-kata yang dianggap 'bias jender' seperti 'Lord', 'Father' dan 'He'. Gereja menyarankan para pendeta untuk hanya menggunakan kata 'God' atau 'Tuhan' yang tidak menunjukkan gender tertentu yaitu pria.

Keputusan itu diambil setelah melalui pembahasan selama seminggu lebih oleh Gereja Swedia, demikian lapor The Telegraph.

Sebelumnya, secara tradisi para pendeta menyebut 'Father, Son and Holy Ghost' untuk menyebut Tuhan Trinitas.

"Kita berbicara tentang Jesus Christ, namun di beberapa tempat kita telah mengubah kata 'God' daripada 'He'," kata Jubir Gereja Swedia Sofija Pedersen Videke kepada The Telegraph.

"Kita memiliki beberapa pilihan doa yang lebih netral-gender daripada yang lainnya," tambahnya.

Gereja Swedia saat ini dipimpin oleh pendeta wanita Archbishop Antje Jackelen, yang terpilih sebagai wanita pertama pemimpin gereja tertinggi Swedia pada tahun 2013.

Archbishop Jackelen membela keputusan tersebut dengan mengatakan kepada media setempat TT News: "Secara theologi, sebagai contoh, kita mengetahui bahwa Tuhan berada di atas ketentuan gender, Tuhan bukanlah manusia."

Namun hal itu tetap menjadi bahan kritikan sejumlah pendeta dan ahli agama. Christer Pahlmblad, profesor theologi di Lund University, mengatakan kepada koran Denmark Kristeligt Dagblad bahwa keputusan itu telah 'melecehkan doktrin trinitas dan 'community' dengan gereja-gereja Kristen lainnya.
(Sumber : IFP)