Tampilkan postingan dengan label Sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sufi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 November 2019

Pengibar Bendera Rahmatan Lil ’Alamin

Jalaluddin Rumi - File iphincow

Oleh: Mohammad Nuh

Jalaluddin Rumi, penyair sufi yang lahir pada 1207 M (604 H) pernah berkisah tentang seorang muazin yang bersuara jelek, tidak nyaman didengar. Dia ingin sekali mengumandangkan azan. Teman-teman di sekitarnya menasihati agar dia tidak melantunkan azan. Mereka khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena mereka tinggal di tengah-tengah mayoritas bukan muslim. Namun, si muazin bersikeras melantunkan azan karena itu adalah perintah agama. Tidak ada yang bisa menghalangi orang untuk melakukan kewajiban agamanya. Akhirnya, lantunan suara azan yang memekakkan telinga pun terdengar ke mana-mana.

Dampak azan itu, seorang nonmuslim tiba-tiba hadir di tengah-tengah jamaah kecil tersebut sambil membawa jubah, lilin, dan manisan. Dia bertanya-tanya mencari si tukang azan. Seluruh jamaah terdiam sambil menyesali perbuatan si muazin. Dalam kecemasan yang memuncak, tiba-tiba saja satu kalimat terlontar dari lisan nonmuslim yang datang itu: ’’Tunjukkan kepadaku mana tukang azan yang telah membahagiakan hatiku itu!’’ Sembari bernapas lega, salah seorang jamaah menyahut, ’’Kebahagiaan apa yang engkau peroleh dari azan yang memekakkan telinga itu?’’

Si nonmuslim bercerita bahwa dia mempunyai anak gadis yang telah lama ingin menikah dengan seorang pemuda muslim. Untuk itu, dia telah mempelajari agama Islam sebagai bekal hidup bersama pemuda tersebut. Dia sangat ingin menyatakan masuk Islam. Tetapi, ketika mendengar suara azan itu, dia bertanya, ’’Suara apa itu, ayah? Aku tidak pernah mendengar suara sejelek itu!’’

Si nonmuslim menjawab bahwa itu adalah suara orang Islam memanggil orang beribadah. Sejak itu, si anak tidak tertarik lagi untuk masuk Islam. ’’Maka, aku sangat bahagia atas sikapnya. Selama ini, kami dibuat susah tidur oleh anak gadis kami itu. Sekarang kami tenang dan sangat senang. Tiada kebahagiaan yang lebih dari ini. Karena itu, tunjukkan kepadaku mana si tukang azan itu! Aku akan memberinya hadiah-hadiah ini dan kalau aku memiliki banyak harta, aku akan memberikannya sebagai hadiah,’’ kata si nonmuslim.

Lewat kisah parodi, Jalaluddin Rumi berpesan: Kita dapat menegakkan ajaran Islam seperti menyuarakan azan; bisa indah, bisa buruk. Kita dapat menampilkan Islam yang lembut dan merdu, bisa pula yang keras dan menakutkan. Dan cara kita mengamalkan ajaran Islam akan memengaruhi sikap orang lain terhadap Islam.

Dalam ruang publik dan peradaban yang semakin kompleks serta terbuka, sangat dimungkinkan terjadi benturan antar peradaban apabila etika interaksi dan penghargaan terhadap nilai kemanusiaan serta nilai-nilai lain yang melekat pada suatu kelompok diabaikan. Fenomena ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) yang sekarang sudah menjadi game changer geopolitik global dan gerakan Je Suis Charlie sebagai respons atas teror terhadap majalah Charlie Hebdo di Paris beberapa waktu lalu tidak lain adalah contoh nyata terjadinya benturan ekstremitas peradaban karena lemahnya etika interaksi dan penghargaan terhadap nilai kemanusiaan.

Konsep rahmatan lil ’alamin (RLA) (QS 21: 107) yang mengedepankan kerahmatan bagi semua bukanlah konsep lokalistik-utopis, melainkan konsep universal yang sudah terbukti dan teruji melalui Piagam Madinah sebagai bentuk operasionalnya. Saat Piagam Madinah dideklarasikan pada abad ke-7, umat Islam hanya 15 persen dari populasi penduduk Madinah yang mayoritas Yahudi dan Nasrani. Karena dalam Piagam Madinah hak dasar dan nilai kemanusiaan universal dijunjung tinggi serta lintas ikatan primordialisme, pihak mayoritas bisa menyetujui dan menerima.

Konsep RLA dilanjutkan Wali Songo saat menyebarkan Islam di tanah Jawa pada abad ke-14-an atau tujuh abad setelah zaman Rasulullah. Dialog antara Sunan Ampel, Sunan Kalijogo, dan Sunan Kudus saat membahas model komunikasi keagamaan serta penghormatan terhadap tradisi, adat istiadat, dan budaya menggambarkan betapa Wali Songo menghargai serta menjaganya sepanjang tidak bertentangan secara esensial dengan prinsip tauhid.

Kini saatnya pada abad ke-21 atau tujuh abad setelah era Wali Songo, kita melakukan reaktualisasi dan mobilisasi pemahaman kolektif tentang pentingnya konsep RLA yang pangejawantahannya mengedepankan pendekatan kultural. Dengan demikian, pembudayaan menjadi pilihan prosesnya dan tentu harus memahami serta mempertimbangkan karakteristik masyarakat digital saat ini.

NU yang lahir pada 31 Januari 1926 di Surabaya, dalam dinamika sosialnya, berpegang pada prinsip toleransi (tasamuh), seimbang (tawazun), tengah-tengah (tawassuth), dan tegak lurus (’itidal). Hal itu menggambarkan bahwa NU tidaklah berada pada posisi ekstremitas, melainkan dalam posisi moderat. Posisi tersebut merupakan terjemahan RLA, baik yang dicontohkan pada zaman Rasulullah maupun para Wali Songo.

Kini, NU yang sepuluh tahun mendatang memasuki satu abad, sekaligus menyiapkan satu abad kemerdekaan RI (2045), menghadapi persoalan dan tantangan yang luar biasa besar. Hal itu sekaligus menjadi peluang untuk membuktikan bahwa NU adalah pengibar sejati bendera RLA dan penyemai panji-panji pengibar RLA. Tantangan terbesar NU adalah melakukan transformasi sumber daya, aset, dan organisasi NU yang sungguh sangat besar agar mampu menjawab secara efektif berbagai persoalan serta tantangan ke depan. Tentu pesan Jalaluddin Rumi tentang muazin itu masih relevan dalam masyarakat digital dewasa ini. [FM]

Sumber : Jawa Pos, 30 Januari 2015
Mohammad Nuh, Dosen Jurusan Teknik Elektro ITS

Rabu, 30 Januari 2019

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub : Aneh Wahabi Menggugat Soal Tawasul

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub
Forum Muslim - Imam Besar Masjid Istiqlal yang juga Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyayangkan maraknya konflik antara Wahabi dan NU di kalangan masyarakat bawah. Ia menilai hal itu adalah sesuatu yang aneh karena sebenarnya baik NU maupun Wahabi sepakat akan kebolehan bertawasul.

Hal demikian ini diungkapkan oleh Kiai Ali Mustafa Ya'qub ketika dirinya menjadi salah satu pembicara pada acara seminar nasional yang bertemakan: "Hadlratus Syaikh Hasyim Asy'ari, Pemikiran dan Metodologinya" yang diselenggarakan oleh Unisma bekerjasama dengan etase kementerian agama Saudi Arabia. Pada hari Sabtu, 30 Mei 2015.

Menurutnya, baik NU maupun Wahabi sepakat akan kebolehan tawasul. Ia membuktikan hal itu dengan mengutip apa yang terdapat dalam kitab KH Hasyim Asy'ari yang menjelaskan tentang sudut pandang yang sama antara KH Hasyim dan Ibnu Taimiyah dalam masalah tawasul.

"Aneh saya rasa jika ada eker-ekeran antara NU dan Wahabi soal tawasul. Dalam salah satu kitabnya "At-Tambihat al-Wajibat" karya Mbah Hasyim dikatakan bahwasanya sama dengan Ibnu Taimiyah berpendapat tentang kebolehan Tawasul," katanya dihadapan sekitar 200-an mahasiswa.

"Saya heran, mengapa Wahabi yang ada di Indonesia ini mengugat NU yang bertawasul," tambahnya.

Selanjutnya, ia menegaskan bahwa konflik yang sering terjadi antara kaum Wahabi dan NU lebih didasari kesalahpahaman dan tiadanya saling pengertian. Dan juga karena pengaruh-pengaruh dari luar.

Dalam Kesempatan ini, Kiai Ali Mustafa Ya'qub menjadi salah satu dari 4 (empat) pembicara lainnya dalam seminar tersebut. Pembicara yang lain adalah KH M Tolchah Hasan, Mustasyar PBNU yang juga Ketua Dewan Pembina Yayasan Unisma, KH Syukran Makmun, Pengasuh Pesantren Darur Rohman Jakarta dan Syaikh Ibrahim Sulaiman An-Naghaimsyi mewakili Atase Keagamaan Saudi Arabia. (ahmad nur kholis/mukafi niam) (NU Online)

Sabtu, 03 Februari 2018

Syekh Ihsan al-Jampesi, Ulama Sufi Nusantara Yang Mendunia



Forum Muslim - Syaikh Ihsan Al Jampesi, Beliau terkenal sebagai seorang ulama yang pendiam dan tak suka publikasi. Salah satu ulama yang paling berpengaruh dalam penyebaran ajaran Islam di wilayah nusantara pada abad ke-19 (awal abad ke-20) adalah Syekh Ihsan Muhammad Dahlan al-Jampesi begitulah orang mengenalnya. Namun, namanya lebih dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Jampes (kini Al Ihsan Jampes) di Dusun Jampes, Desa Putih, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Namanya makin terkenal setelah kitab karangannya Siraj Al-Thalibin menjadi bidang ilmu yang dipelajari hingga perguruan tinggi, seperti Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Dan, dari karyanya ini pula, ia dikenal sebagai seorang ulama sufi yang sangat hebat.


Semasa hidupnya, Kiai dari Dusun Jampes ini tidak hanya dikenal sebagai ulama sufi. Tetapi, ia juga dikenal sebagai seorang yang ahli dalam bidang ilmu-ilmu falak, fikih, hadis, dan beberapa bidang ilmu agama lainnya. Karena itu, karya-karya tulisannya tak sebatas pada bidang ilmu tasawuf dan akhlak semata, tetapi hingga pada persoalan fikih.



Dilahirkan sekitar tahun 1901, Syekh Ihsan al-Jampesi adalah putra dari seorang ulama yang sejak kecil tinggal di lingkungan pesantren. Ayahnya KH Dahlan bin Saleh dan ibunya Istianah adalah pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Jampes. Kakeknya adalah Kiai Saleh, seorang ulama asal Bogor, Jawa Barat, yang masa muda hingga akhir hayatnya dihabiskan untuk menimba ilmu dan memimpin pesantren di Jatim.



Kiai Saleh sendiri, da lam catatan sejarahnya, masih keturunan dari seorang sultan di daerah Kuningan (Jabar) yang berjalur keturunan dari Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon, salah seorang dari sembilan wali penyebar agama Islam di Tanah Air.



Sedangkan, ibunya adalah anak dari seorang kiai Mesir, tokoh ulama di Pacitan yang masih keturunan Panembahan Senapati yang berjuluk Sultan Agung, pendiri Kerajaan Mataram pada akhir abad ke-16.



Keturunan Syekh Ihsan al-Jampesi mengenal sosok ulama yang suka menggeluti dunia tasawuf itu sebagai orang pendiam. Meski memiliki karya kitab yang berbobot, namun ia tak suka publikasi. Hal tersebut diungkap KH Abdul Latief, pengasuh Ponpes Jampes sekaligus cucu dari Syekh Ihsan al-Jampesi.



Membaca dan menulis



Semenjak muda, Syekh Ihsan al-Jampesi terkenal suka membaca. Ia memiliki motto (semboyan hidup), 'Tiada Hari tanpa Membaca'. Buku-buku yang dibaca beraneka ragam, mulai dari ilmu agama hingga yang lainnya, dari yang berbahasa Arab hingga bahasa Indonesia.



Seiring kesukaannya menyantap aneka bacaan, tumbuh pula hobi menulis dalam dirinya. Di waktu senggang, jika tidak dimanfaatkan untuk membaca, diisi dengan menulis atau mengarang. Naskah yang ia tulis adalah naskah-naskah yang berisi ilmu-ilmu agama atau yang bersangkutan dengan kedudukannya sebagai pengasuh pondok pesantren.



Pada tahun 1930, Syekh Ihsan al-Jampesi menulis sebuah kitab di bidang ilmu falak (astronomi) yang berjudul Tashrih Al-Ibarat, penjabaran dari kitab Natijat Al-Miqat karangan KH Ahmad Dahlan, Semarang. Selanjutnya, pada 1932, ulama yang di kala masih remaja menyukai pula ilmu pedalangan ini juga berhasil mengarang sebuah kitab tasawuf berjudul Siraj Al-Thalibin. Kitab Siraj Al-Thalibin ini di kemudian hari mengharumkan nama Ponpes Jampes dan juga bangsa Indonesia.



Tahun 1944, beliau mengarang sebuah kitab yang diberi judul Manahij Al-Amdad, penjabaran dari kitab Irsyad Al-Ibad Ilaa Sabili al-Rasyad karya Syekh Zainuddin Al-Malibari (982 H), ulama asal Malabar, India. Kitab setebal 1036 halaman itu sayangnya hingga sekarang belum sempat diterbitkan secara resmi.



Selain Manahij Al-Amdad, masih ada lagi karya-karya pengasuh Ponpes Jampes ini. Di antaranya adalah kitab Irsyad Al-Ikhwan Fi Syurbati Al-Qahwati wa Al-Dukhan, sebuah kitab yang khusus membicarakan minum kopi dan merokok dari segi hukum Islam.



Kitab yang berjudul Irsyad al-Ikhwan fi Syurbati al-Qahwati wa al-Dukhan (kitab yang membahas kopi dan rokok) (Sumber : Aswaja)