Senin, 05 September 2016

Cinta Ini, Seberapa Pantas

Di kamar tidur ini aku terbaring lesu, melepas lelah karena kerja

seharian, sambil menatap poster wanita cantik yang terpajang di

dinding. Agaknya wanita dalam poster itu adalah seorang model yang

sangat cantik namun aku lupa entah siapa namanya. Aku membayangkan

andai istriku seperti dia, mungkin hatiku sungguh bahagia.





Tapi aku tak ingin membiarkan angan-angan ini mengganggu fikiranku. Ku

buang angan-angan itu menjauh, karena menuruti keinginan hawa nafsu

adalah bagaikan menenggak air laut, makin diminum akan terasa semakin

haus. Bukankah selama ini istriku adalah belahan jiwaku yang paling

setia? Bukankah dari rahimnya telah keluar anak-anak yang menjadi

permata di jiwa ? Bukankah dari air matanya telah menitikkan

harapan-harapan yang mulia ? Bukankah dari kasih sayangnya telah

terpancar mahligai-mahligai kebahagiaan ?

Itulah kesetiaan cinta sejati seorang istri, yang selalu sabar

menunggu suami kan kembali.





Di kamar ini, kupandangi lagi poster wanita cantik yang terpajang di

dinding. Aku gelisah, tak merindukannya, tapi dia ada di arah

kiblatku, tempat aku duduk bersujud dan bertafakur.





Tuhanku,

tak sebanding hayalan-hayalan itu dengan kesetiaan istriku.

Bukankah tak pantas sebuah pengkhianatan ? Bukankah amat hina kedurhakaan ?





Tuhanku,

dalam kelelahan ini, jadikan cinta ini suci. Dalam kerinduan ini,

jadikan luka ini bukan perih. KaruniaMu, terbait di dinding kalbu.

CintaMu, lebih agung dari yang ku mau, seberapa pantas aku membalas

cintaMU…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini