Tampilkan postingan dengan label Luruh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Luruh. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 September 2016

Catatan Kecil Sang Narapidana : Luruh

 


Di ujung kemarau,
saat dedaunan tak lagi luruh,
kekeringan menepiskan debu,
menghapuskan jejak langkahmu,
aku diam sejenak,
melupakan tawa dan perih,
berdoa,
meninggalkan petaka karma
dari jiwa sebatang kara ini.

Burung camar mengarungi samudera,
makin menjauh seperti jauhnya hatimu dari hatiku,
mungkin aku masih menunggumu di sini,
di bandara ini,
tapi bukan untuk cinta kita,
bukan.

Berhentilah mengutuk,
karena langit telah penuh dengan keluhan kesahmu,
berhentilah merajuk,
tangismu tak lebih indah dari senyuman kecut.

Gersang,
kau tau bukan apa itu gersang?
Serupa hamparan pasir tanpa padang ilalang,
tanpa gubug tempat berteduh dan seteguk air.

Aku tau kau laksana titik embun di pucuk daun,
bening dan suci di hutan yang rimbun,
berhentilah mengutuk,
karena langit telah penuh dengan keluhan kesahmu,
berhentilah merajuk,
tangismu tak lebih indah dari senyuman kecut,
berhentilah menanyakan siapa diri ini,
karena diriku tak pernah menjadi sejarah dan prasasti.

Kamis, 21 Mei 2015

Luruh


Untukmu aku hidup,
sepanjang hari dengan bibir dan hati terkunci.
Untukmu aku berdiri, sepanjang hari dengan air mata yang tertahan,
Tapi dalam hatiku,
api cinta selalu membakar untukmu.



Kehidupan telah membawaku ke dalam masa lalu,
dikelilingi oleh kenangan yang tak berujung.
Aku mencari sebuah jawaban,
aku tak pantas untukmu.
Atau memang kau tak pantas untukku.


Begitu banyak cobaan yang menumpuk,
kedamaian yang kurindukan,
cinta dan kasih sayang yang ku dambakan.


Bagaimana dapat ku gambarkan kekejaman dunia ini,
Aku diperintahkan bahwa aku harus hidup,
tapi tanpamu
diperintahkan bahwa aku harus tegak berdiri,
tanpa cintamu.


Ku buka lembar demi lembar,
kisah perjalanan cinta penuh alpa,
ada keinginan yang tertutup,
kata-kata yang telah terucap,
juga janji yang telah ditetapkan.

Luruh,
keperkasaanku runtuh bagaikan guguran daun,
matahari tak mampu menghangatkan jiwaku,
pun malam yang dingin tak mampu menggugah mimpiku.


Sungguh aku ingin berlari menuju bibir tebing,
meninggalkan kekacauan ini,
rasanya tak percaya,
kau melemahkan hati ini,
untukmu aku hidup,
sepanjang hari dengan bibir dan hati terkunci,
untukmu aku berdiri, setulus hati dengan air mata yang tertahan,
tapi dalam jiwaku,
api cinta selalu membakar untukmu,
untukmu.

--

Catatan :
File Galeri : http://majalahsastra.com
Tulisan : Saroji
Kamera : Nokia 206
Kategori tulisan : Fiksi
Tempat : Karawang
Waktu : 12:37 / 21 Mei 2015
© Copyright - All Rights Reserved

Kamis, 30 April 2015

Luruh

Tahu diri siapa diri ini
yang tak sebaik bumi pertiwi,
yang tak secantik dewi peri,
yang tak seindah dalam mimpi,
yang tak pantas kau cintai,
yang dari dulu hingga kini,
tak pernah diri, diajak tuk pergi.


Tahu diri siapa diri ini,
bukan telaga tempat bermuara cinta sejati,
bukan dermaga tempat berlabuhnya hati nurani,
pun bukan lautan cinta yang kau arungi.


Tahu diri siapa diri ini,
tak ada lagi sisi tuk memperbaiki,
tak ada lagi tempat sekedar berbagi,
karena tak ada lagi ruang di hati,
pun aku bukan orang yang kau kehendaki


Tahu diri siapa diri ini,
pelan tapi pasti,
sekeping hati telah kau bawa pergi,
cinta terkubur lalu mati,
kini ku sendiri.

--


© Copyright - All Rights Reserved