Tampilkan postingan dengan label keadilan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keadilan. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Oktober 2018

Keadilan Nabi, Eksekusi Putri Pembesar Yang Mencuri

Ilustrasi penegakan hukum
Forum Muslim - Suatu ketika, Urwah bin az-Zubair, salah seorang sahabat Nabi, bercerita kepada Az-Zuhri tentang kejadian yang ia saksikan sewaktu Nabi hidup. Ketika itu, katanya, Urwah melihat ada seorang wanita bernama Fatimah al-Makhzumiyyah, putri ketua suku Al-Makhzumi, pada hari Fathu Mekah yang kedapatan mencuri.

Maka, kaumnya meminta kepada Usamah bin Zaid yang terkenal dekat dengan Nabi, karena ayahnya, Zaid bin Haritsah, adalah anak angkat Nabi. Mereka menemui Usamah dan memintanya agar menolong putri kepala suku itu sehingga nantinya tidak akan dihukum oleh Nabi.

Maka, datanglah Usamah menemui Nabi dengan menceritakan maksud dan tujuan kedatangannya. Mendengar perkataan Usamah, berubahlah roman muka Nabi. Beliau berkata, ''Apakah engkau akan mempersoalkan ketentuan hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah?'' Usamah kemudian berkata, ''Maafkan aku ya Rasul Allah.''

Menjelang sore hari, Rasulullah SAW berdiri di depan para sahabatnya sambil berkhutbah dengan terlebih dahulu memuji Allah karena Dialah pemilik segala pujian: ''Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kalian semua adalah disebabkan oleh perbuatan mereka sendiri. Ketika salah seorang yang dianggap memiliki kedudukan dan jabatan yang tinggi mencuri, mereka melewatkannya atau tidak menghukumnya.

Namun, ketika ada seorang yang dianggap rendah, lemah dari segi materi, ataupun orang miskin yang tidak memiliki apa-apa, dan orang-orang biasa, mereka menghukumnya. Ketahuilah, demi Zat yang jiwa Muhammad berada di dalam kekuasaan-Nya, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, aku akan memotong tangannya.'' (HR Bukhari, No. 4.304).

Setelah itu, Nabi menyuruh untuk memotong tangan Fatimah al-Makhzumiyyah tersebut. Dan setelah pelaksanaan hukuman itu selesai, Nabi menyatakan bahwa tobatnya telah diterima oleh Allah. Dan, perempuan itu menjalani hidupnya secara normal, menikah, dan bekerja seperti biasa. Hingga suatu ketika ia datang kepada Aisyah untuk mengajukan suatu kebutuhan pada Nabi dan beliau menerimanya.

Sungguh pun keadilan itu sangatlah penting untuk ditegakkan dengan seadil-adilnya sebab itu sangat dirindukan oleh kebanyakan masyarakat lemah yang tengah tergadaikan ketentramannya di dalam negri yang kaya polisi dan penegak hukum ini.

Nabi ingin mengajarkan kepada umat manusia untuk tidak membeda-bedakan satu orang dengan yang lainnya dalam hukum. Semua orang sama, tidak ada yang kebal hukum. Karena, pembedaan dalam hukum merupakan sumber kehancuran umat-umat sebelum kita. Krisis ekonomi berkepanjangan, bangsa yang selalu dirundung persoalan, gejolak sosial yang hebat, merupakan imbas dari adanya hukum yang tidak adil.

Hukum adalah hukum, ia harus mengenai siapa pun yang terkait dengannya. Ini yang diharapkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan tujuan mencapai keadilan yang hakiki. [FM]

(Amrullah RZ)

Jumat, 12 Januari 2018

Amanat Dan Sikap Adil



إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا 


Artinya, "Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (memerintahkan kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia untuk menetapkannya dengan adil. Sungguh Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat," (Surat An-Nisa' ayat 58).HH

Beberapa kitab tafsir, yaitu Tafsir Ibnu Katsirdan Tafsir Al-Qurthubi, menjelaskan bahwa ayat ini turun pada peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Mekah). Setelah berhasil menguasai Kota Mekkah dengan aman dan damai, Nabi Muhammad SAW meminta kunci Ka'bah yang ketika itu dipegang oleh Utsman bin Talhah Al-Hajabi Al-Abdari dan Syaibah bin Utsman bin Abi Talhah. Utsman dan Syaibah adalah saudara sepupu dan menjabat sebagai juru kunci Ka'bah.

Ketika itu, sebagai juru kunci Utsman dan Syaibah belum memeluk Islam. Namun, setelah keluar dari Ka'bah, Nabi Muhammad langsung membaca ayat di atas (An-Nisa' ayat 58) dan mengembalikan kunci Ka'bah kepada Utsman bin Talhah.

Sebagian riwayat menyebutkan, ayat ini diturunkan khusus untuk Nabi Muhammad SAW dalam perkara kunci Ka'bah tersebut. Diceritakan bahwa Abbas bin Abdul Muthalib meminta kunci itu dari Utsman dan Syaibah. Merasa dirinya bukan bagian dari kaum Muslimin, awalnya Syaibah ragu menyerahkan kunci itu karena khawatir kunci itu tidak akan dikembalikan kepada mereka berdua. Namun akhirnya mereka mau menyerahkan kunci itu kepada Nabi Muhammad SAW.

Dengan kunci itu, Nabi Muhammad SAW  masuk ke dalam Ka'bah, melaksanakan shalat dua rakaat, dan menghancurkan berhala yang ada di dalamnya. Setelah selesai Nabi Muhammad keluar dari Ka'bah sambil membaca ayat di atas (An-Nisa' ayat 58). Beliau kemudian memanggil Utsman dan Syaibah, lantas berkata kepada keduanya sebagai berikut:


خذاها خالدة تالدة لا ينزعها منكم إلا ظالم 


Artinya, "Silakan ambil kunci ini. Pegang selamanya secara turun-temurun. Tidak akan ada yang boleh mengambil kunci ini dari kalian kecuali orang yang zalim."

Jadi, amanat sebagai juru kunci Ka'bah tetap dikembalikan kepada Utsman dan Syaibah meski keduanya belum memeluk Islam. Betapa indahnya ajaran Islam. Amanat harus diserahkan kepada orang yang berhak menerimanya meski orang tersebut bukan bagian dari golongan Muslimin. Karena kebijaksanaan dari Nabi Muhammad inilah, dikisahkan selanjutnya, Utsman memeluk Islam.

Soal ayat ini Sayyidina Umar ibn Khattab menegaskan, "Saya tidak pernah mendengar ayat tersebut (An-Nisa' ayat 58) kecuali pada saat Nabi Muhammad SAW membacakannya setelah keluar dari Ka'bah."

Meski demikian, pesan yang terkandung dalam ayat An-Nisa' ayat 58 ini berlaku secara umum, bahwa jabatan (amanat) harus diserahkan kepada orang yang berhak mengembannya, kapan dan di mana pun. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, segala jabatan harus diserahkan kepada mereka yang telah menempuh proses legal (demokrasi) dalam mendapatkan amanah. Jika jabatan itu adalah presiden, gubernur, dan lain-lain, maka wajib bagi rakyat untuk menyerahkan jabatan itu kepada siapa saja yang memenangkan kontestasi pemilihan umum (pemilu), kemudian mentaatinya.

Oleh sebab itu, ayat di atas diteruskan dengan ayat yang mengandung pesan kewajiban taat kepada pemimpin (ulil amri):


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ


Artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan kepada ulil amri (pemimpin) di antara kalian," (Surat An-Nisa' ayat 59).

Surah An-Nisa' ayat 58 tersebut mengandung pesan dua arah. Pertama, kewajiban rakyat terhadap pemimpin dengan menyerahkan jabatan kepemimpinan kepada orang yang berhak mengembannya. Kedua, kewajiban pemimpin terhadap rakyat dengan menunaikan segala janji dan apa yang memang menjadi hak rakyat.

Inilah makna amanat yang harus ditunaikan oleh siapapun dan bersifat wajib dalam ajaran Islam. Bahkan Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:


أد الأمانة إلى من ائتمنك، ولا تخن من خانك


Artinya, "Tunaikanlah amanat kepada orang yang mempercayakannya kepadamu, dan jangan khianati orang yang berkhianat kepadamu," (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Sikap Adil

Selain perintah menunaikan amanat Surat An-Nisa ayat 58 juga memerintahkan sikap adil dalam menetapkan keputusan hukum: "Apabila menetapkan hukum di antara manusia, supaya kalian menetapkan dengan adil."

Kapan dan di mana pun, ayat ini sangat relevan untuk dijadikan pegangan oleh mereka yang memiliki wewenang dalam menetapkan keputusan hukum. Dalam konteks berbangsa dan bernegara, seluruh elemen harus mendungkung terciptanya sikap adil dalam penyelenggaraan hukum, baik yang bersifat formal atau nonformal. Jika kita memiliki wewenang memberikan keputusan hukum terhadap orang yang tidak kita sukai, keputusan hukum tersebut tetap harus mengacu pada keadilan. Allah bahkan berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ


Artinya, "Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah sekalipun kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Hendaklah berlaku adil karena adil itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan," (Surat Al-Maidah ayat 8).

Perintah menjaga amanat dan sikap adil dalam Surat An-Nisa' ayat 58 berlaku secara umum dan bahkan berlaku pada setiap individu. Kitab Tafsir Al-Khawatir karya Syekh Mutawalli As-Sya'rawi menjelaskan bahwa sikap adil ini berlalu bagi setiap individu, bahkan dalam menentukan keputusan hukum untuk hal-hal yang bersifat remeh saja. Asy-Sya'rawi menukil sebuah kisah bahwa ada dua bocah yang meminta penilaian kepada Hasan bin Ali bin Abi Thalib tentang gambar yang mereka buat. Dua bocah itu meminta Hasan memberikan penilaian, gambar siapa yang lebih indah? Imam Ali bin Abu Thalib lantas berkata kepada Hasan, putranya, "Ingatlah, wahai Hasan. Penilaian (putusan) yang akan kautetapkan pasti akan Allah mintai pertanggungjawabannya."

Betapa pentingnya menegakkan keadilan dalam hidup ini. Keadilan adalah perintah dari Allah kepada seluruh umat manusia. Dalam Surat An-Nisa' ayat 58 jelas sekali bahwa perintah bersikap adil itu harus diberlakukan terhadap umat manusia, bukan hanya terhadap golongan atau kelompok tertentu, baik kelompok agama atau kelompok suku.

Dalam beberapa kitab hadits dikisahkan dari Aisyah tentang seorang perempuan Al-Makhzumiyah yang melakukan pencurian. Orang-orang Quraisy merasa bingung karena perempuan tersebut termasuk dari suku terhormat. Mereka lantas ingin matur kepada Nabi Muhammad untuk menyelesaikan perkara tersebut. Di antara mereka ada harapan bahwa kasus pencurian tersebut tidak perlu diproses secara hukum karena pelakunya termasuk orang terhormat. Ketika itu Utsamah bin Zaid yang diminta untuk matur kepada Rasulullah SAW. Mendengar penjelasan Utsamah, Nabi Muhammad langsung bersabda sebagai berikut:


أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ ثُمَّ قَامَ فخَطَبَ ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا


 Artinya, "'Apakah kau meminta syafaat (bantuan keringanan) dalam urusan penegakkan ketentuan (hukum) Allah?' Nabi Muhammad lantas berdiri dan bersabda, 'Sungguh kaum sebelum kalian itu rusak dan hancur karena mereka tidak adil (tidak konsisten) dalam menegakkan hukum Allah. Jika yang mencuri adalah orang terhormat, mereka tidak meneruskan proses hukumnya. Jika yang mencuri orang lemah (orang biasa), mereka tegakkan hukum kepadanya. Demi Allah, andai Fathimah binti Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya,'" (Muttafaq alihi).

Pesan dalam hadits ini sudah sangat jelas, bahwa Nabi Muhammad memerintahkan keadilan dalam hukum. Sebaliknya, Nabi Muhammad sangat membenci orang-orang yang mempermainkan hukum. Wallahu a'lam

Sumber : NU

Minggu, 16 Oktober 2016

Keadilan dan Kedustaan

Muhammad Saroji - File Pribadi
Ketika tiba senja yang temaram,
ketika tanah yang kering merindukan hujan,
ketika yang lapar merintih kesakitan,
masih adakah kejujuran untuk sebuah keadilan ?.


Selalu saja
orang-orang mencari kebenaran sendiri,
meski menipu itu di dada terasa sakit,
meski dusta itu di mata perih,
mata batin merintih
melihat pencuri dirajam mati,
mata hati menjadi perih
melihat sepak terjang orang mencari rizqi
menikam jantung sendiri,
jantung kebenaran
jantung kesucian
jantung keabadian
tempat sorga digantungkan.


Duhai malang benar nasib keadilan,
dipenggal tangan-tangan kotor berlumur darah,
bangkai keadilan terpuruk di bak sampah,
dibuang ke kali hanyut ke lautan,
ditelan ombak samudra
sirna…
Kelak siapa lagi kan dipenggal,
bumi tiada nafas tiada
kelak arwah keadilan menagih janji
hutang nyawa dibayar nyawa
hutang mati dibayar mati,
sadarlah wahai penguasa,
penguasa para santri para priyayi,
hingga mata kering tak menangis lagi,
sepasang merpati tak mengenal cinta lagi,
kelak kau kan mengerti
janji Allah itu pasti
dan kau tak dapat bersembunyi.

---

Jakarta, 11 November 2009 23:52
By Muhammad Saroji
© Copyright - All Rights Reserved

Jumat, 14 Oktober 2016

Menanti Keadilan

 

 

 

Seperti menunggu hujan di tengah padang pasir, begitulah kira-kira
penantian akan datangnya keadilan di negeri ini. Meski ada keadilan
itu, namun hanya sedikit, selebihnya entah bersembunyi di mana, di
kolong jembatankah, di comberankah, atau di tengah-tengah bisul
bernanah.

Sepertinya keadilan seperti makhluk yang menjijikkan, beramai-ramai
orang mencampakkan, hingga keadilan teraniaya, tertindas dan diperkosa.

Bila keadilan dapat berbicara, kemanakah dia akan mengadukan nasibnya,
kepada rakyat jelata yang tak berdaya ? Atau kepada Tuhan yang Maha
Adil dan Bijaksana ?

Ya !
Karena keadilan milik Tuhan,
biarlah Dia yang menghakiminya.

Senin, 05 September 2016

Debu-Debu Jalanan

Kukorbankan

seribu keinginan yang terpendam,

kucampak ke tong sampah…





Kukorbankan

seribu impian karena kau bilang: kau egois !

Ya

kukorbankan, kulapangkan agar jalanmu lurus

tak berkerikil tak bergelombang

karena aku

tak lebih hanya debu-debu jalanan !

Ya,

katamu ini demi cinta !

ini demi kasih dan sayang !

Katamu inilah saatnya berkorban

agar cinta tak dikorbankan !

Ya,

demi cinta

seribu impian itu kucampak ke tong sampah,

bercampur bangkai berserakan,

kembali menjadi impian

berkalang tanah..



---

17 Juni 2010 00:14

By Muhammad Saroji

- Majalah Sastra - Majalahsastra.com

© Copyright - All rights reserved

Keadilan Dan Kedustaan

Ketika tiba senja yang temaram,

ketika tanah yang kering merindukan hujan,

ketika yang lapar merintih kesakitan,

masih adakah kejujuran untuk sebuah keadilan ?.





Selalu saja

orang-orang mencari kebenaran sendiri

meski menipu itu di dada sakit

meski dusta itu di mata perih

mata batin merintih

melihat pencuri dirajam mati

mata hati menjadi mati

melihat sepak terjang orang mencari rizqi

menikam jantung sendiri

jantung kebenaran

jantung kesucian

jantung keabadian

tempat sorga digantungkan.





Duhai malang benar nasib keadilan

dipenggal tangan-tangan kotor berlumur darah

kelak bangkai keadilan terpuruk di bak sampah

dibuang ke kali hanyut ke lautan

ditelan ombak samudra

sirna...



Kelak siapa lagi kan dipenggal

bumi tiada nafas tiada

kelah arwah keadilan menagih janji

hutang nyawa dibayar nyawa

butang mati dibayar mati



sadarlah wahai penguasa

penguasa para santri para priyayi

hingga mata kering tak menangis lagi

sepasang merpati tak mengenal cinta lagi

kelak kau kan mengerti

janji Allah itu pasti

dan kau tak dapat bersembunyi.







---

12 November 2009 00.52

By Muhammad Saroji

- Majalah Sastra - Majalahsastra.com

© Copyright - All rights reserved

Senin, 23 Maret 2015

Puisi Untuk Nina


Muhammad Saroji - File Pribadi


Nina, 

bobok-lah sayang
jangan sedih jangan bimbang,
bilang bapakmu jangan ada lagi perang,
karena telah berlalu nagasaki dan heroshima,
telah cukup korban dan pembantaian.


Jangan menangis, Ninaku sayang,
ini negeri bukan alang kepalang,
bukan pemerkosaan dan penjajahan,
bilang bapakmu jangan berkacak pinggang,
apalagi memandang sesama dengan sebelah mata,
ini negeri bukan kehausan darah,
bukan gumpalan lumpur bernoda,
anak kambing pun bebas berjalan merdeka,
ini negeri kehausan akan cinta,
kelaparan akan kasih dan sayang
mendamba keadilan.


Bilang bapakmu, Ninaku sayang,
ini negeri bukan pemerkosaan dan penjajahan,
ini negeri mendamba keadilan, cinta dan kasih sayang

--


© Copyright - All Rights Reserved