Tampilkan postingan dengan label Ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 September 2019

KH Sahal Mahfudz, Ulama yang Peduli Kesehatan Ibu dan Anak

KH Sahal Mahfudz
Oleh: Khofifah Indar Parawansa

Inna lillahi wainna ilaihi rojun. Salah satu putra terbaik NU, KH Ahmad Sahal Mahfudz, wafat pada 24 Januari 2014. Kabar berpulangnya kiai kharismatik yang santun tersebut hingga kini masih menyisakan duka mendalam, terutama bagi nahdliyin.

Selain menjabat sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kiai Sahal juga rais aam Pengurus Besar NU sejak 1999. Pengasuh pondok pesantren Al- Hikam Maslakul Huda, Kajen, Pati, itu hingga ajal menjemput masih menjabat sebagai pemimpin tertinggi di NU itu. Selama menjabat sebagai rais aam, saya juga kerap datang ke Pati, Jawa Tengah, untuk melaporkan setiap program kerja Muslimat NU. Dari situlah, saya tahu banyak tentang pemikiran Kiai Sahal. Selama pertemuan itu, saya terlibat diskusi panjang hingga berjam-jam dengan Kiai Sahal.


Mungkin tak banyak yang tahu, Kiai Sahal mengawali pengabdiannya di Pengurus Besar NU melalui Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK NU). Sebuah lembaga di NU yang pada 1970-an cukup intens menggarap layanan kesehatan ibu dan anak, termasuk KB. Padahal, saat itu sangat banyak kiai NU yang mengharamkan Keluarga Berencana (KB). Dengan keikhlasan hatinya, Kiai Sahal keliling daerah se-Indonesia untuk mengajak dan mendorong masyarakat memperhatikan kesehatan ibu dan anak, termasuk soal program KB.


Kampanye itu memang lazimnya dilakukan aktivis LSM. Tetapi, peraih gelar Doctor Honoris Causa bidang fikih sosial dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN) Jakarta itu mantap masuk wilayah itu. Aktivitas itu dilakukan Kiai Sahal lantaran kepeduliannya yang sangat kuat terhadap kesehatan ibu dan anak (KIA), termasuk untuk mengurangi kematian ibu dan anak. Tugas mulia Kiai Sahal itu harus dilanjutkan generasi NU saat ini. Apalagi kini capaian MDG’s ternyata meleset jauh dari target. Ini bukan pekerjaan yang mudah.


Karena kuatnya komitmen Kiai Sahal dalam layanan kesehatan ibu dan anak, Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU (YKM NU) yang bergerak dalam bidang kesehatan mendirikan Rumah Sakit Islam (RSI) di Pati. Rumah sakit yang akrab disebut RSI Pati itu kini telah berkembang cukup membanggakan. Lokasi RSI Pati berada didepanmasukPesantren Al-Hikam Maslakul Huda yang dipimpin Kiai Sahal. Di situ juga berdiri Bank Perkreditan Rakyat (BPR) agar masyarakat sekitar pesantren tidak terjerat rentenir.


Semua tidak lepas dari kontribusi Kiai Sahal. Ada tiga kiai yang kerap didatangi Muslimat NU terkait program kerja yang sedang dijalankan yaitu Kiai Sahal Mahfudz, Kiai Dimyati Rois Kaliwungu Kendal, dan Kiai Muchith Muzadi. Saat bertemu tiga kiai tersebut, waktu yang dibutuhkan bisa mencapai 2-3 jam. Khusus kepada Kiai Sahal, saya sowan lebih sering atas nama ketua umum Muslimat NU. Kiai Sahal yang belakangan kurang sehat menerima kedatangan saya dengan senang hati.


Kiai Sahal sangat betah mendengarkan setiap uraian program Muslimat. Kiai Sahal bahkan biasanya sangat antusias mendengar cerita program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Mulai dari program life skill, koperasi Muslimat, program pembibitan dan penanaman pohon, program ekonomi pesisir, dan program-program lain. Ketika beberapa teman yang saya ajak sowan sudah tampak mulai jenuh, Kiai Sahal tetap sangat saja antusias mendengarkan.


Dalam setiap pertemuan, Kiai Sahal selalu dawuh (meminta) agar program-program tersebut terus dilanjutkan dan dikembangkan. Pada 2003, ketika hendak digelar pemilihan Dewan Perwakilan Daerah berdasarkan amendemen UUD 1945, saya mengajak rombongan PP Muslimat sowanKiai Sahal. Saat itu agenda utamanya memohon restu agar Ibu Nyai Nafisah Sahal diizinkan untuk dicalonkan sebagai anggota DPD mewakili Jawa Tengah.


Ternyata Kiai Sahal memberikan kesempatan kepada Ibu Nyai Nafisah yang saat itu menjabat sebagai ketua PW Muslimat Jawa Tengah untuk dicalonkan sebagai anggota DPD. Namun, Kiai Sahal memberi catatan. Jika melakukan kunjungan kerja, harus ada orang yang mendampinginya. Akhirnya Ibu Nyai Nafisah mendapatkan suara lebih dari 1.800.000. Perolehan suara itu yang tertinggi pada Pileg DPD 2004.


Selama memimpin NU, Kiai Sahal satu di antara sedikit kiai NU yang sangat tertib menyampaikan pidato dan ceramahnya dalam keadaan terkonsep dan terketik. Umumnya, kiai NU memang berpidato tanpa naskah. Tapi, tidak dengan Kiai Sahal. Beliau disiplin menyampaikan pikiran-pikiran genuinenya melalui naskah. Dengan demikian, di mana pun Kiai Sahal ceramah, panitia dapat menggandakan isi pidatonya. Masyarakat yang hadir pun dapat membaca naskah yang disampaikannya dan dibawa pulang.


Sebagai pemimpin NU, Kiai Sahal sangat menaruh perhatian terhadap masalah korupsi yang membuat bangsa Indonesia terpuruk. Menurutnya, moralitas para elite politik telah rusak karena korupsi yang terjadi di semua lini kehidupan berbangsa. Korupsi yang merupakan pelanggaran nilai-nilai agama, kata Kiai Sahal, tidak boleh dianggap sebagai kewajaran. Sebagai negarawan, konsep pemikiran Kiai Sahal sangat jelas. Keislaman dan keindonesiaan merupakan dua hal yang tak terpisahkan satu sama lain. Begitu pula ke-NU-an merupakan bagian tak terpisahkan dari keislaman dan keindonesiaan.


Jika Indonesia dalam bahaya, NU juga ikut terancam. Sebaliknya, apabila Indonesia aman dan tenteram, NU juga merasa aman dan tenteram. Sejak zaman perjuangan, kata Kiai Sahal, bersama elemen bangsa yang lain, NU turut aktif memperjuangkan kemerdekaan, bahkan ikut merumuskan Pancasila dan UUD 1945. Demikian pula saat peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru, NU juga tampil di depan.


Begitu pula, saat peralihan dari Orde Baru ke Era Reformasi, NU juga mengambil langkah-langkah penting yang ikut menentukan perjalanan bangsa. Dalam pandangan Kiai Sahal, reformasi yang dimulai dengan amendemen UUD 1945 itu telah terbukti membawa kemajuan yang berarti. Kehidupan bangsa semakin demokratis. Berbagai tindakan represi semakin berkurang. Kebebasan berorganisasi, menyalurkan aspirasi politik, mengembangkan pendidikan, dan dakwah, semakin dirasakan rakyat.


Tetapi, semua pihak tak boleh menutup mata terhadap kenyataan-kenyataan yang memprihatinkan sebagai akibat buruk dari reformasi. Ketika amendemen UUD 1945 dilakukan dengan tergesa-gesa dan kurang cermat akibatnya antara lain lahir aturan perundang- undangan yang merugikan rakyat, bangsa, dan negara. Kiai Sahal juga sempat mengingatkan negeri-negeri Islam di kawasan Arab yang sedang bergolak. Beberapa negara itu diguncang aksi demonstrasi, revolusi, pemberontakan, bahkan perpecahan.


Atas nama demokrasi, ada pihak yang melakukan intervensi maupun agresi, ataupun mengundang keterlibatan pihak luar negeri. Demokrasi, menurut Kiai Sahal, masih satu-satunya sistem yang paling logis untuk mengelola negara. Tetapi, demokrasi harus digunakan dengan nilai-nilai luhur. Bukan prosedural yang menegasikan substansi. Tidak boleh pula dimaknai secara salah sebagai kebebasan tanpa batas.


Demokrasi, bagi Kiai Sahal, adalah alat. Bukan tujuan. Negeri Islam dan umat muslim boleh dan baik menerapkan demokrasi. Namun, harus dengan nilai-nilai luhur yang mengedepankan akhlak. Bukan prosedural kenegaraan. Kini Kiai Sahal telah tiada. Bangsa Indonesia dan NU kehilangan pemimpin besarnya. Adalah tugas generasi muda NU meneruskan perjuangannya! Selamat jalan Kiai Sahal. [FM]


Sumber : KORAN SINDO, 28 Januari 2014


Jumat, 02 Agustus 2019

Mother Earth

Komarudin Hidayat

Oleh: Komaruddin Hidayat

Dalam bahasa Arab dan Inggris, bumi diposisikan dalam kategori perempuan. Begitupun dalam bahasa Indonesia sehingga dikenal istilah “ibu pertiwi”. Ini menunjukkan sikap sangat bijak, santun, serta dalam bahwa manusia memang sewajarnya dan seharusnya menghormati sosok ibu yang memiliki karakter mencintai, memberi, dan melayani (loving, giving, and caring). Ada sabda Rasulullah yang terkenal:

Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu. Ada lagi sabdanya yang lain bahwa keridaan Allah itu bergantung pada keridaan orang tua, terutama sang ibu. Kebenaran sabda Rasulullah itu banyak diyakini dan dibuktikan oleh masyarakat, bahkan juga tidak terbatas pada umat Islam. Bangsa dan masyarakat mana pun, apa pun agamanya, memiliki keyakinan dan tradisi menghormati ibu. Siapa yang mendapatkan kutukan dari ibu, hilanglah kehidupan surgawinya, baik di dunia maupun di akhirat.

Sekarang ini kita melihat dan merasakan sendiri, bagaimana sengsaranya kehidupan masyarakat ketika tidak pandaipandai menghargai mother earth. Mereka yang menyatakan diri sebagai masyarakat modern, berpendidikan tinggi, menguasai iptek, namun tidak jaminan memperoleh kehidupan surgawi, kehidupan yang aman sejahtera, ketika mendapatkan kemarahan dari bumi. Banjir di mana-mana. Hutan rusak. Pendeknya, ekologi alam telah dirusak oleh anak-anaknya sendiri.

Yang mengherankan, mereka yang paling merusak dan durhaka pada ibu pertiwi adalah mereka yang telah mendapatkan pendidikan tinggi dan secara ekonomi kaya-raya. Jangan sampai dilupakan, kekayaan apa pun yang dibanggakan oleh manusia semua diambil dari bumi. Semaju dan secanggih teknologi yang dikembangkan dan dibanggakan manusia, semua berasal dari bumi. Ketika orang berbangga dengan produk teknologi automotif, semua bahan bodi dan bahan bakarnya disediakan dan diambil dari kandungan bumi.

Begitupun rumah megah, makanan, dan pakaian mewah, semua dilayani oleh mother earth. Perhiasan emas sampai berlian itu bahkan semua karena kasih sayang bumi pada manusia. Karena itu, sangat tepat bumi lalu diberi predikat sebagai ibu pertiwi. Surga berada di bawah telapak kakinya. Siapa yang durhaka, tidak mau merawat dengan baikbaik akan dicap sebagai malin kundang, yang berubah jadi batu.

Yang jadi batu dan membatu adalah hati dan pikirannya, tak lagi memiliki hati nurani, akal sehatnya tak lagi berfungsi. Kekayaan dan fasilitas yang disediakan mother earth berubah jadi malapetaka. Jadi sumber rebutan, pertikaian, dan peperangan. Kehidupan surgawi lenyap, berubah jadi neraka. Perilaku alam itu selalu taat berislam pada Tuhannya. Begitu kata Alquran. Dia berserah diri mengikuti hukum-hukumnya yang telah diciptakan Tuhan.

Walahu aslama man fissamawati wal ardhi. Air selalu mengalir ke tempat yang rendah, begitulah perilaku air mengikuti hukum Tuhan. Air hujan diturunkan untuk menyuburkan tanah. Begitulah hukum Tuhan. Matahari berputar pada porosnya. Itulah takdir Tuhan yang telah didekritkan. Jadi, semesta ini, menurut Alquran, berislam sesuai fitrahnya tanpa pernah membangkang.

Yang memiliki potensi dan sering membangkang terhadap hukum Tuhan adalah manusia karena manusia diberi akal pikiran dan kebebasan berkehendak. Manusia memiliki anugerah dan sekaligus ujian paling mahal yang tidak dimiliki makhluk lain yaitu kemerdekaan. Kemerdekaan inilah yang mestinya menjadi modal untuk meningkatkan darma bakti pada mother earth sebagai rasa syukur pada Tuhan. Namun, kemerdekaan dan kecerdasan inilah yang seringkali menjerumuskan manusia karena kerakusan dan kesombongannya.

Mereka lupa diri bahwa melawan mother earth tak mungkin menang. Manusia tak mungkin memenangkan dan mengubah hukum Tuhan yang telah menjelma menjadi hukum alam. Yang mestinya dilakukan adalah memahami hukum alam, lalu bersahabat dengan alam, dan lebih tinggi lagi adalah merawat dan mencintai alam, rumah kita. Ibu kita semua.

Hujan itu pada dasarnya anugerah alam agar tanah subur yaitu kualitas air yang telah dipisahkan dari zat garamnya lewat tangan matahari agar terjadi penguapan, lalu dibawa oleh angin ke daratan, lalu disimpan oleh hutan demi untuk melayani kebutuhan manusia. Jadi, betapa sombong, bodoh, dan rakusnya ketika masyarakat semakin merasa modern, merasa semakin maju pendidikannya, namun semakin tidak mau dan tidak mampu memahami dan bersahabat dengan alam yang amat sangat baik.

Yang selalu giving, loving, and caring. Memberi, mencintai, dan melayani manusia. Hutan kita rusak. Danau-danau sebagai waduk air kian menyempit untuk membangun rumah megah yang hanya menimbulkan kecemburuan sosial dan penyebab banjir. Sungai- sungai ibarat saluran pembuluh darah kita tutup dengan sampah-sampah sehingga terjadi kolesterol yang ujungnya stroke. Tubuh negara dan masyarakat jadi lumpuh. Banyak organ-organnya yang tidak berfungsi.

Hidup menjadi tidak produktif, bahkan menelan biaya mahal. Siapa lagi kalau bukan mother earth yang menyediakan sumber anggaran. Ironis. Setiap tahun kita semua berkeluh kesah, bertengkar, dan menderita akibat banjir, lalu lintas macet, perekonomian lumpuh, politisi sibuk bertengkar. Semua itu tak lebih sebagai tontonan akibat kebodohan, kesombongan, dan kerakusan kita. Sampai kapan drama memperolok-olok diri sendiri ini akan berakhir? []

Sumber : KORAN SINDO, 31 Januari 2014
Komaruddin Hidayat ; Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Selasa, 26 Desember 2017

Faktor Ibu Pada Pembentukan Karakter Manusia

Forum Muslim - Teori masa lalu menyebutkan karakteristik dan sifat2 bawaan seorang anak diwariskan dari ibu dan bapaknya dalam proporsi 50 : 50. Artinya, ayah dan ibu memberikan sumbangan yang sebanding dan setara dalam diri seorang anak. 

Belakangan ini, penelitian biologi molekuler terbaru menemukan bahwa seorang ibu mewariskan 75% unsur genetikanya kepada anak, sedangkan bapak hanya 25%. Oleh karena itu, sifat baik, kecerdasan, dan kesolehan seorang anak sangat ditentukan oleh sifat baik, kecerdasan dan kesolehan ibunya. 

Apa yang disabdakan Rasulullah, Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam, ternyata memiliki kesesuaian dengan fakta ini. 

Ketika seorang sahabat bertanya kepada Baginda Nabi, mana yang harus diprioritaskan seorang anak, apakah ibunya atau ayahnya, beliau pun menjawab, "Ibumu, ibumu, ibumu...lalu Ayah mu". Proporsinya tiga berbanding satu ( 3 : 1 )

Mari kita lihat lebih jauh. Di dalam sel-sel manusia terdapat sebuah organel yang memiliki fungsi sangat strategis, namanya mitokondria. 

Organel berbentuk bulat lonjong ini berongga, selaputnya terdiri atas dua lapis membran. Membran dalam bertonjolan ke dalam rongga (matriks) dan mengandung banyak enzim pernapasan. 

Tugas utama mitokondria adalah memproduksi bahan kimia tubuh bernama ATP (adenosin triphosphat). Energi yang dihasilkan dari reaksi ATP inilah yang kemudian menjadi sumber energi bagi manusia.

Mitokondria bersifat semiotonom krn 40% kebutuhan protein dan enzim dihasilkan sendiri oleh gennya. 

Mitokondria adalah salah satu bagian sel yang memiliki DNA sendiri, selebihnya dihasilkan gen di inti sel. 

Sekali lagi, dan ini sangat menarik, mitokondria hanya diwariskan oleh ibu, tidak oleh bapak. Mengapa? Krn mitokondria berasal dr sel telur bukan dari sel sperma. Itulah sebabnya, investasi seorang ibu dalam diri anak mencapai 75%. 

Kita dapat berkata, inilah "organel cinta" seorang ibu yang menghubungkan kita dengan Allah dan kesemestaan. 

Tanpa kehadiran mitokondria, hidup menjadi hampa, tidak ada energi yang mampu menggelorakan semangat. 

Tanpa mitokondria, kita tdk dpt melihat, mendengar, hingga akhirnya tdk bs membaca, mencerna dan merasa.

Oleh karena itu, kita jangan heran jika kontak batin antara ibu dan anaknya sangat kuat dan intens. Jarak sejauh apapun tidak bisa menghalangi sensitivitas hati seorang ibu. 

Hal ini memperlihatkan adanya energi cinta yang menembus dimensi. Teori superstring yang kita ambil dr ilmu fisika bs sedikit memperjelas hal ini. Para ilmuwan di MIT, yang tergabung dalam kelompok 18, menemukan sebuah supersimetri, yaitu sebuah persamaan matematika yang menciptakan ruang di alam semesta tt terdiri atas 57 bentuk dalam 248 dimensi. Konsep supersimetri menyebutkan, andai dunia ini dibagi2 menjadi bentuk apapun, sebenarnya hanya ada satu titik yang melingkupinya. 

Artinya, ilmu pengetahuan menemukan bahwa jarak itu tdk bs membatasi jiwa dan ruh yang bersemayam dalam satu titik yang sama.

Jika kita menggunakan konsep ini, dimana pun berada, hati seorang ibu selalu berada di titik yang sama. 

Itulah sebabnya, apa yang dirasakan anak dan apa yang dirasakan ibu, bioelektriknya berada pada titik yang sama. 

Mitokondrianya berada dalam posisi yang sama sehingga titik pertemuannya pun sama. Dengan kata lain, perasaan seorang ibu kepada anaknya bagaikan perasaan dia terhadap dirinya sendiri.

Allahu akbar!

(Diterjemahkan dari The Secret of Mother - dari berbagai sumber)

Jumat, 27 Februari 2009

Potret

Sejak kecil
dan senantiasa
bertahun aku dalam kesendirian.

Ibu
potretmu itu sejuk dan teduh
tapi bisu tanpa suaramu
selalu aku tanyakan
kapan aku kan berjumpa denganmu.

Senantiasa
bertahun aku dalam kesendirian
tanpa hidupmu
sedangkan bayangmu hadir dalam kebisuanku.

Tanpa hidupmu
kau hantarkan aku menjadi bagian dari hidup
di dunia yang penuh pergolakan semu.

Ibu
tanpa hidupmu
selalu kupendam kerinduan yang dalam
padamu.

Pemalang 16 agustus 1989