Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2019

Kapan Sayyidina Muhammad SAW Menjadi Nabi?

Ada yang bilang bahwa Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi sejak awal sebelum usia 40 tahun, bahkan sebelum Adam tercipta. Itu tidak benar. Nabi Muhammad jelas baru menjadi Nabi setelah berusia 40 tahun, sebelum itu belum menjadi Nabi meskipun sudah ada berbagai kejadian luar biasa yang menunjukkan bahwa beliau spesial. Kejadian luar biasa tersebut istilahnya irhash, bukan mukjizat sebab istilah mukjizat hanya bagi mereka yang telah diangkat menjadi Nabi saja. Hadis yang menceritakan bahwa beliau diangkat sebagai Nabi tatkala berusia 40 tahun cukup banyak. Di antaranya adalah: عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ، قالَ: «بُعِثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وهُوَ ابْنُ أرْبَعِينَ سَنَةً "Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah diangkat menjadi Nabi tatkala berusia 40 tahun"  Sebenarnya dalil di atas sudah cukup, tapi sebagian orang betul-betul meyakini sebelum Itu Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi meskipun belum mendapat wahyu pertamanya. Mereka juga menguatkan pendapatnya dengan beberapa hadis. Untuk itu per

Islam dan Akulturasi Budaya

Lukman Hakim Saifudin Oleh : Lukman Hakim Saifudin Salah satu jalur penyebaran Islam di Indonesia adalah melalui perangkat budaya. Ajaran Islam yang ditanamkan melalui perangkat budaya ini, mau-tak mau, menyisakan warisan agama lama dan kepercayaan yang ada, yang tumbuh subur di masyarakat pada waktu itu, untuk dilestarikan kemudian dibersihkan dari anasir syirik. Pembersihan anasir syirik ini merupakan satu upaya untuk meneguhkan konsep monoteisme (tauhid) dalam ajaran Islam. Salah contoh, budaya wayang. Wayang adalah bagian dari ritual agama politeisme, namun kemudian diubah menjadi sarana dakwah dan pengenalan ajaran monoteisme. Ini suatu kreativitas yang luar biasa, sehingga masyarakat diislamkan melalui jalur ini. Mereka merasa aman dengan Islam, karena hadir tanpa mengancam tradisi, budaya, dan posisi mereka. Salah satu mazhab yang berkembang di Indonesia adalah mazhab yang saat mengambil konklusi fikihnya disesuaikan dengan konteks lokal. Salah satu co

Gus Mus : Islam Nusantara, Solusi Peradaban Dunia

Gus Mus Forum Muslim - Rais Am PBNU KH A Mutofa Bisri berpendapat, di Nusantara Islam dikembangkan dan dipelihara melalui jaringan para ulama Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) yang mendalam ilmunya sekaligus terlibat secara intens dalam kehidupan masyarakat di lingkungan masing-masing. Maka masyarakat muslim yang terbentuk adalah masyarakat muslim yang dekat dengan bimbingan para ulama sehingga peri hidupnya lebih mencerminkan ajaran Islam yang berintikan rahmat. "Islam Nusantara adalah solusi untuk peradaban," kata kiai penyair yang akrab disapa Gus Mus ini.  Lebih lanjut pengasuh Pondok Pesantren Leteh Rembang ini menerangkan,  Islam Nusantara yang telah memiliki wajah yang mencolok, sekaligus meneguhkan nilai-nilai harmoni sosial dan toleransi dalam kehidupan masyarakatnya.  Hal itu menurutnya, karena para ulama Aswaja memberikan bimbingan dengan ilmunya yang mendalam, dan kontekstual, serta mengedepankan kebersamaan dan persatuan masyarakat/bangsa secara

KH Tholchah Hasan: 3 Penyakit Umat Islam

Prof Dr KH Tholchah Hasan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr KH Tholchah Hasan menilai bahwa Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy'ari adalah pemimpin umat yang populis dan moderat.  Ketua Dewan Pembina Yayasan Universitas Islam Malang (Unisma) ini menambahkan, ada tiga penyakit yang menjangkiti umat Islam menurut KH Hasyim Asy'ari, yakni kebodohan, kemiskinan, dan perpecahan. "Dan untuk menghadapinya, Hadratussyaikh mencanangkan tiga bidang perjuangan, yaitu  pendidikan, kemandirian; dan persatuan bangsa dan anti penjajahan," katanya. Kiai Tholchah menyampaikan hal itu saat menjadi pembicara pada seminar nasional bertema "Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari, Pemikiran dan Metodologinya" yang diselenggarakan Unisma bekerja sama dengan atase Kementerian Agama Saudi Arabia, Sabtu (30/5), di Malang, Jawa Timur. "Bidang pendidikan, ia tunjukkan dengan eksistensi Pesantren Tebuireng, kemandi

Krisis Pengungsi Rohingya adalah Tragedi Kemanuasiaan Universal

Maman Imanulhaq Oleh:  Maman Imanulhaq Kelompok minoritas di suatu Negara/bangsa dimanapun itu selalu tak henti-hentinya menjadi korban diskriminasi dan kekerasan, baik fisik maupun psikis. Bahkan tak jarang justru penderitaan kaum minoritas ini dijadikan komoditas dan bahan eksploitasi bagi kekuatan-kekuatan mainstream. Kelompok-kelompok minoritas (yang dianggap berbeda)  tersebut selalu menjadi korban praktik tirani oleh kekuasaan hegemonik-totaliter di suatu bangsa. Sebagai bagian bangsa-bangsa yang beradab di muka bumi, kita wajib memberikan perlindungan kepada siapapun (komunitas apapun) tanpa memandang etnik, suku, ras, aliran, ideologi dan agamanya dari segala bentuk ancaman, intimidasi, diskriminasi dan praktik-praktik peng-eksklusian dari kelompok mayoritas yang sewenang-wenang. Sungguh sangat memprihatinkan kita melihat dengan mata telanjang ratusan pengungsi Rohingya yang terombang-ambing selama berbulan-bulan menjadi `manusia perahu` di lautan lepas. Sebagian

Islam, Kejumudan, dan Keindonesiaan

Ilustrasi Oleh: Abdul Waid PENULIS pernah ditanya oleh Irsyad Manji, intelektual muslimat asal Kanada, pada acara bedah bukunya Allah, Liberty and Love: the Courage to Reconcile Faith and Freedom (2011) di LKiS, Surowajan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, tahun 2012. Pertanyaannya," mengapa arsitektur masjid-masjid di Indonesia secara keseluruhan menyerupai arsitektur masjid di negara Arab Saudi dan sama sekali tidak mencerminkan budaya Indonesia seperti arsitektur bangunan Jawa, Bali, Sunda, atau Madura? Jangan memaksakan untuk selalu sama dalam segala hal dengan Arab karena bisa mengundang kekerasan. Terorisme adalah salah satunya". Penulis tidak bisa menjawab pertanyaan Irsyad Manji itu karena memang dalam banyak hal kita selalu mencontoh Arab. Jika ada satu ritual Islam yang mencoba menghilangkan simbol-simbol Arab dan pada saat yang sama menonjolkan simbol- simbol keindonesiaan (non-Arab), hal itu dianggap melanggar pakem. Bahkan, lebih

NU dan Edukasi Kelas Bawah

Logo Nahdlatul Ulama Oleh: Agus Wibowo Jika tidak ada aral melintang, Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) akan dihelat di Jombang, Jawa Timur, 1-5 Agustus 2015. Paling tidak, ada hal penting yang perlu dipertegas kembali dalam muktamar tersebut, yaitu komitmen edukasi pada masyarakat kelas bawah. Sejak didirikan oleh KH. Hasyim Asy'ari 89 lalu, NU telah menjadi bagian pencerah masyarakat khususnya melalui jalur pendidikan tradisional. Menurut Zuhairini (1997), ketika kita membaca  kiprah NU di bidang pendidikan, seperti halnya membaca sejarah tumbuh dan tegaknya pendidikan bagi bangsa ini. Itu karena cikal bakal pendidikan rakyat dirintis oleh pesantren milik para kyai NU. Pesantren, lanjut Zuhairini, merupakan cikal-bakal model pendidikan yang memberi kesempatan rakyat miskin  membuka tabir kebodohan menuju pencerahan. Didikan pesantren mula-mula, melahirkan banyak pejuang kemerdekaan, serta  para pemimpin bangsa dengan ketinggian budi dan karakter. Singkatny

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub : Aneh Wahabi Menggugat Soal Tawasul

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub Forum Muslim - Imam Besar Masjid Istiqlal yang juga Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyayangkan maraknya konflik antara Wahabi dan NU di kalangan masyarakat bawah. Ia menilai hal itu adalah sesuatu yang aneh karena sebenarnya baik NU maupun Wahabi sepakat akan kebolehan bertawasul. Hal demikian ini diungkapkan oleh Kiai Ali Mustafa Ya'qub ketika dirinya menjadi salah satu pembicara pada acara seminar nasional yang bertemakan: "Hadlratus Syaikh Hasyim Asy'ari, Pemikiran dan Metodologinya" yang diselenggarakan oleh Unisma bekerjasama dengan etase kementerian agama Saudi Arabia. Pada hari Sabtu, 30 Mei 2015. Menurutnya, baik NU maupun Wahabi sepakat akan kebolehan tawasul. Ia membuktikan hal itu dengan mengutip apa yang terdapat dalam kitab KH Hasyim Asy'ari yang menjelaskan tentang sudut pandang yang sama antara KH Hasyim dan Ibnu Taimiyah dalam masalah tawasul. "Aneh saya rasa jika ada eker-ekera

Kisah Ulama 15 Tahun Pura-pura Tuli

Ilustrasi Hatim Al-Asham merupakan salah seorang ulama besar yang wafat di Baghdad, Irak tahun 852 M atau 237 H. Terdapat sebuah kisah penuh hikmah yang mendasari kata 'al-asham', berarti tuli, yang menjadi julukannya, sebagaimana diriwayatkan Imam Ghazali dalam kitab Nashaihul Ibad. Sejatinya Hatim tidak-lah tuli, hingga pada suatu hari, seorang wanita datang ke tempat Hatim untuk menanyakan sesuatu. Tak dinyana, ketika melontarkan pertanyaannya di hadapan Hatim, belum selesai ia bertanya, wanita tadi tak kuasa untuk menahan kentutnya. Bunyinya terdengar jelas, hingga membuat ia salah tingkah dan terdiam. Di tengah kegalauan wanita itu, tiba-tiba Hatim berkata dengan suara keras. "Tolong bicara yang keras! Saya tuli," Namun, yang bertanya justru bingung. Dalam kebingungannya, ia kembali dikagetkan dengan suara keras Hatim. "Hai, keraskanlah suaramu, karena aku tidak mendengar apa yang kamu bicarakan," teriak Hatim. Wanita tadi ke

Gus Mus: Kalau Tidak Bisa Berbicara Baik, Diam Saja

KH A Musthofa Bisri  Rais Aam PBNU KH A Musthofa Bisri yang biasa disapa Gus Mus menyebutkan bahwa Islam memberikan harga yang tinggi pada perkataan yang baik. Islam menekankan pentingnya perkataan baik itu. Bahkan, Rasulullah SAW menilai kadar keimanan seseorang kepada Allah dan hari Kiamat dilihat dari baik atau tidaknya perkataan yang bersangkutan. Melalui akun twitternya, Gus Mus terlebih dahulu menyapa para twips dengan salam dan selamat pagi. "Semoga Allah merahmati dan memberi taufiq-hidayah-Nya kepada kita semua," kata Gus Mus pada Jum'at (5/6) pagi. Bagi Gus Mus, keimanan kepada Allah SWT dan hari Kiamat merupakan sesuatu yang abstrak. Namun begitu, bukti dan jejak keimanan itu bisa diketahui secara konkret melalui perilaku sehari-hari. Ini ditandai antara lain dengan menjaga perkataan yang baik agar tidak menyakiti, merugikan orang lain, atau menimbulkan kekisruhan. Gus Mus tidak segan-segan mengutip sebuah hadits sahih dari Rasulullah SAW ter

Islam Indonesia, Islamnya Dunia

Ilustrasi Oleh : Husein Ja'far Al Hadar Dakwah Islam adalah kerja kebudayaan. Sebab, kebudayaan adalah fondasi utama bangsa. Apa yang tertanam dalam kebudayaan bukan hanya kokoh dan akan lintas zaman, namun juga menjadi identitas sekaligus pandangan hidup kebangsaan. Dengan demikian, dakwah sebagai kerja kebudayaan itu membuat Islam menjadi roh bagi seluruh sendi kehidupan: dari budaya, sosial, ekonomi, bahkan hingga politik. Strategisnya lagi karena itu berjalan tanpa harus membuat negeri ini kehilangan identitas primordialnya dan kearifan lokalnya, atau pula harus menjadikannya sebagai negara Islam. Dalam konteks itu, mengislamkan Indonesia berarti mengindonesiakan Islam (terlebih dulu). Keduanya integral, tak bisa dipisahkan. Sebab, itulah memang teladan dakwah ala Nabi Muhammad. Khalil Abdul Karim dalam Syari'ah: Sejarah Perkelahian Pemaknaan (LKiS, 2003) memaparkan tentang itu, bahwa tak sedikit syariat Islam merupakan hasil akulturasi dengan budaya

Runtuhnya Kerajaan Islam Di Andalusia

Ilustrasi Andalusia Forum Muslim -  Islam masuk ke Andalusia pada tahun 711, dan resmi keluar pada tahun 1492. Pada masa itu ada 3 kerajaan Islam besar di dunia, Ottoman di Asia Kecil, Mamalik di Mesir dan Safavit di Persia. Banyak yang bertanya-tanya, kemanakah dinasti-dinasti besar itu pada saat saudaranya di Grenada disembelih oleh Mahkamah Inkuisisi dan diusir serta dipaksa memeluk Kristen oleh Eropa? Bukankah mereka bisa membantu, sehingga kerajaan Islam di Andalusia tidak tinggal sejarah? Sebagaimana dimaklumi bahwa runtuhnya Kerajaan Islam di Andalusia akibat perpecahan yang terjadi antara mereka, sebuah kerajaan besar terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil, dan yang lebih parah lagi setelah menjadi kerajaan kecil, mereka saling berperang, sampai sebagian mereka bekerjasama dengan Raja-raja Eropa untuk memerangi saudaranya. Disinilah kisah menyedihkan itu mulai, kisah dimana matahari Islam tenggelam dan hilang dari langit Andalusia.  Pada saat umat Islam salin