Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2009

Kapan Sayyidina Muhammad SAW Menjadi Nabi?

Ada yang bilang bahwa Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi sejak awal sebelum usia 40 tahun, bahkan sebelum Adam tercipta. Itu tidak benar. Nabi Muhammad jelas baru menjadi Nabi setelah berusia 40 tahun, sebelum itu belum menjadi Nabi meskipun sudah ada berbagai kejadian luar biasa yang menunjukkan bahwa beliau spesial. Kejadian luar biasa tersebut istilahnya irhash, bukan mukjizat sebab istilah mukjizat hanya bagi mereka yang telah diangkat menjadi Nabi saja. Hadis yang menceritakan bahwa beliau diangkat sebagai Nabi tatkala berusia 40 tahun cukup banyak. Di antaranya adalah: عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ، قالَ: «بُعِثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وهُوَ ابْنُ أرْبَعِينَ سَنَةً "Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah diangkat menjadi Nabi tatkala berusia 40 tahun"  Sebenarnya dalil di atas sudah cukup, tapi sebagian orang betul-betul meyakini sebelum Itu Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi meskipun belum mendapat wahyu pertamanya. Mereka juga menguatkan pendapatnya dengan beberapa hadis. Untuk itu per

Ibunda

Malam kembali tiba ada secercah harapan hasratku untuk kembali di rantau telah lama berjuang mengadu nasib membangun harapan di negeri orang. Malam ini sunyi tanpa bintang gemintang sedangkan kerinduanku begitu kokoh bertahta ku nyalakan lilin yang tinggal sebatang agar remang cahayanya menerangi bilik kamar yang kian hari rapuh ditelan usia. Dalam sujudku aku menangis mengeluh betapa lelahnya jiwa dan raga menikmati hidup yang penuh mimpi menghikmati suka duka yang penuh misteri pada biru lazuardi di sanalah mata memandang kaki menapak tanah-tanah kering berbatu menelusuri padang ilalang inilah hidup ! hidupku, ibunda ! Ibunda di malam yang gelap sunyi kembali aku terkenang betapa indahnya masa kanak-kanak dulu bermain kelereng mandi di kali di seberang rumah kau memanggilku berteriak cemas takut anak nakal ini hilang tenggelam di telan deras air kali yang dalam. Ibunda tentunya pohon mawar dan melati yang dulu kau tanam kini telah berbunga menebarkan ar

Ibunda

Malam kembali tiba ada secercah harapan hasratku untuk kembali di rantau telah lama berjuang mengadu nasib membangun harapan di negeri orang. Malam ini sunyi tanpa bintang gemintang sedangkan kerinduanku begitu kokoh bertahta ku nyalakan lilin yang tinggal sebatang agar remang cahayanya menerangi bilik kamar yang kian hari rapuh ditelan usia. Dalam sujudku aku menangis mengeluh betapa lelahnya jiwa dan raga menikmati hidup yang penuh mimpi menghikmati suka duka yang penuh misteri pada biru lazuardi di sanalah mata memandang kaki menapak tanah-tanah kering berbatu menelusuri padang ilalang inilah hidup ! hidupku, ibunda ! Ibunda di malam yang gelap sunyi kembali aku terkenang betapa indahnya masa kanak-kanak dulu bermain kelereng mandi di kali di seberang rumah kau memanggilku berteriak cemas takut anak nakal ini hilang tenggelam di telan deras air kali yang dalam. Ibunda tentunya pohon mawar dan melati yang dulu kau tanam kini telah berbunga menebarkan ar

Separuh Hati

Muhammad Saroji - File Pribadi         Dalam keremangan senja, Seorang anak duduk sendiri itulah aku. Di bawah matahari senja mestinya segera saja aku berkhalwat agar suara adzan yang kelak memanggilku untuk bersujud tiada hilang ditelan goresan waktu tapi belum juga aku berdiri beranjak dan berlari untuk bersunyi diri. Perjalanan masa lalu mengapa hanya setitik memberi makna hamparan bumi untuk bersujud ayat-ayat suci penerang hati sorban dan sajadah yang mewangi mengapa tak sedetikpun terlintas di hati dan sampai tengah malam ini mestinya segera saja aku bersuci dan membaca kalam Illahi dengan lidah yang fasih atau ku tundukan kepala ini merata di bumi. Duh Tuhanku dengan cara apa aku bersuci dengan siapa ilmu itu aku cari untuk siapakah ku persembahkan jiwa raga ini. Duh Tuhanku betapa aku ini malu kuasaMu meliputi bumi dan langit sekejap usiaku ada di tanganMu tapi mengapa hingga jazad ini rapuh tak k

Separuh Hati

        Dalam keremangan senja, Seorang anak duduk sendiri itulah aku. Di bawah matahari senja mestinya segera saja aku berkhalwat agar suara adzan yang kelak memanggilku untuk bersujud tiada hilang ditelan goresan waktu tapi belum juga aku berdiri beranjak dan berlari untuk bersunyi diri. Perjalanan masa lalu mengapa hanya setitik memberi makna hamparan bumi untuk bersujud ayat-ayat suci penerang hati sorban dan sajadah yang mewangi mengapa tak sedetikpun terlintas di hati dan sampai tengah malam ini mestinya segera saja aku bersuci dan membaca kalam Illahi dengan lidah yang fasih atau ku tundukan kepala ini merata di bumi. Duh Tuhanku dengan cara apa aku bersuci dengan siapa ilmu itu aku cari untuk siapakah ku persembahkan jiwa raga ini. Duh Tuhanku betapa aku ini malu kuasaMu meliputi bumi dan langit sekejap usiaku ada di tanganMu tapi mengapa hingga jazad ini rapuh tak ku temui hakikat diriku sendiri dengan sekali kehendak saja terjadilah apa yang Kau kehendaki tapi dengan apa aku

Pink

Senja delapan belas hari rembulan tertutup mendung di ufuk yang tinggi malam ini perkenankan aku berbaring di lantai dingin dingin sekali. Inilah hariku lembar cerita merenda kehidupan ingin benar aku mengadu sakit perih ini benar menyiksa tapi tanpamu buat apa ? Pink bias warna itu indah di lantai dingin ini cerita kita menjadi sejarah jeritan sukma terpenjara...

Pink

Senja delapan belas hari rembulan tertutup mendung di ufuk yang tinggi malam ini perkenankan aku berbaring di lantai dingin dingin sekali. Inilah hariku lembar cerita merenda kehidupan ingin benar aku mengadu sakit perih ini benar menyiksa tapi tanpamu buat apa ? Pink bias warna itu indah di lantai dingin ini cerita kita menjadi sejarah jeritan sukma terpenjara...

Assalaamu'alaikum Wr Wb

Apa kabar Indonesiaku [caption id="attachment_156" align="alignright" width="510" caption="Muhammad Saroji"] [/caption]  

Inul Jatuh Cinta !

Seorang anak manusia tersenyum di kepagian ini hari matahari cemerlang burung prenjak bernyanyi riang ini hari Inul jatuh cinta ! Siapa gerangan kekasihnya biarkan ! Inul katakan, hariku harinya tiada hari tanpa cinta ! Cinta oh cinta racuni Inul mabuk kepayang cinta oh cinta janji hidup di sorga. Biarkan saja Inul jatuh cinta seperti matahari mendatangi malam biarkan saja Inul bahagia seperti prenjak yang bernyanyi riang di pojok rumah.. Bekasi 17 Mei 2009

Cermin

Aku berkaca di depan cermin agar dapat ku nikmati wajahku yang ayu rupawan barangkali di wajahku ini tersembunyi keagungan agar dapat aku berbangga pada setiap orang dan cermin itu mengatakan dengan sungguh aku seperti yang ku sangkakan barangkali kemuliaan ! Sepuluh tahun telah berlalu cermin itu telah kusam dan retak-retak aku berkaca lagi di depan cermin itu ku hayati dalam-dalam aku terkejut bukan kepalang wajahku terpetak-petak ! Seperti rasa hatiku yang terkotak-kotak aku makin ngeri dan ketakutan di dalam cermin itu bibir tuaku tersenyum dengan senyuman yang tak lagi menawan. Ku sangka diri ini bahagia dengan keagungan dan kemuliaan yang dibangga-banggakan ku kira diri ini penuh keindahan dan keabadian ternyata jasad rapuh ditelan usia. Aku gelap mata cermin itu aku banting hancur berantakan hilang bayang wajahku musnah senyum nestapaku. Cermin saksi kejujuran tunjuki aku gambar sebenarnya mestinya bukan hanya kepadamu aku mengaca tiap orang lain adalah cermin alam semesta adala

Khalwat

Ada rinduku datang tiba-tiba oh kekasihku tapi kau tak mencintaiku lagi mungkinkah ada kau dan aku dalam seia sekata ? Ku reguk secawan air kehidupan asap dupa mengepul menyapa langit oh kekasihku mestinya ku sanjung dirimu sepanjang siang sepanjang malam tapi tanpa cintamu apa arti ? Ku reguk lagi seribu air kehidupan tenggorokan haus ini bagai disiram air hujan tapi tanpa kasihmu jiwa ini tetap gersang, bukan ? Oh kekasihku tiada lagi air kehidupan hanya cangkir kosong hampa tersisa terbias di dalamnya wajah duka nestapa. Ini rinduku masih ada tapi tiba-tiba menjadi dendam kebencian cinta itu apa, di mana kasih sayang, yang bercinta dan berkasih sayang kehilangan makna ! Malam telah berlalu azan subuh mengalun menggema Duh Tuhanku ternyata aku terjatuh pada sebuah prasangka di antara bias cakrawala fajar ternyata dalam siksaMu ku temui keagunganMu. Jakarta 29 Oktober 1995

Inul Jatuh Cinta !

Seorang anak manusia tersenyum di kepagian ini hari matahari cemerlang burung prenjak bernyanyi riang ini hari Inul jatuh cinta ! Siapa gerangan kekasihnya biarkan ! Inul katakan, hariku harinya tiada hari tanpa cinta ! Cinta oh cinta racuni Inul mabuk kepayang cinta oh cinta janji hidup di sorga. Biarkan saja Inul jatuh cinta seperti matahari mendatangi malam biarkan saja Inul bahagia seperti prenjak yang bernyanyi riang di pojok rumah.. Bekasi 17 Mei 2009 @ Created By CentralSitus

Cermin

Aku berkaca di depan cermin agar dapat ku nikmati wajahku yang ayu rupawan barangkali di wajahku ini tersembunyi keagungan agar dapat aku berbangga pada setiap orang dan cermin itu mengatakan dengan sungguh aku seperti yang ku sangkakan barangkali kemuliaan ! Sepuluh tahun telah berlalu cermin itu telah kusam dan retak-retak aku berkaca lagi di depan cermin itu ku hayati dalam-dalam aku terkejut bukan kepalang wajahku terpetak-petak ! Seperti rasa hatiku yang terkotak-kotak aku makin ngeri dan ketakutan di dalam cermin itu bibir tuaku tersenyum dengan senyuman yang tak lagi menawan. Ku sangka diri ini bahagia dengan keagungan dan kemuliaan yang dibangga-banggakan ku kira diri ini penuh keindahan dan keabadian ternyata jasad rapuh ditelan usia. Aku gelap mata cermin itu aku banting hancur berantakan hilang bayang wajahku musnah senyum nestapaku. Cermin saksi kejujuran tunjuki aku gambar sebenarnya mestinya bukan hanya kepadamu aku mengaca tiap orang lain

Khalwat

Ada rinduku datang tiba-tiba oh kekasihku tapi kau tak mencintaiku lagi mungkinkah ada kau dan aku dalam seia sekata ? Ku reguk secawan air kehidupan asap dupa mengepul menyapa langit oh kekasihku mestinya ku sanjung dirimu sepanjang siang sepanjang malam tapi tanpa cintamu apa arti ? Ku reguk lagi seribu air kehidupan tenggorokan haus ini bagai disiram air hujan tapi tanpa kasihmu jiwa ini tetap gersang, bukan ? Oh kekasihku tiada lagi air kehidupan hanya cangkir kosong hampa tersisa terbias di dalamnya wajah duka nestapa. Ini rinduku masih ada tapi tiba-tiba menjadi dendam kebencian cinta itu apa, di mana kasih sayang, yang bercinta dan berkasih sayang kehilangan makna ! Malam telah berlalu azan subuh mengalun menggema Duh Tuhanku ternyata aku terjatuh pada sebuah prasangka di antara bias cakrawala fajar ternyata dalam siksaMu ku temui keagunganMu. Jakarta 29 Oktober 1995

Siapa Mengira

Siapa mengira nikmat kehidupan berubah menjadi bencana berharap perjalanan tanpa rintangan tidur diselimuti mimpi indah kanan kirh puji dan sanjungan. Ini kehidupan tak selamanya indah, nyata bukan ? Bahkan dengan anak istri tersayang ! Kasihan pemuja cinta amat menderita para pendosa amat hina dihina kekerdilan itu amat durhaka ! Biarkan langkah kaki mencari jalannya seperti burung-burung membelah angkasa indah dan alamiah celakalah burung dalam sangkar terbelenggu dan terjajah. Siapa sangka bayangan mata air itu ternyata hanya fatamorgana jiwa-jiwa gersang makin kehausan burung-burung tak lagi bersuara kembang kamboja luruh di tepi nisan di sana ada kematian menantikan kehidupan mengetuk pintunya. Jangan pernah lagi menyangka lidah ini kan bertutur selamanya karena di sana ada kematian tempat kehidupan bersaudara kembar dengannya kematian itu nyata seperti kehidupan ini nyata. Bekasi 15 Mei 2009

Siapa Mengira

Siapa mengira nikmat kehidupan berubah menjadi bencana berharap perjalanan tanpa rintangan tidur diselimuti mimpi indah kanan kirh puji dan sanjungan. Ini kehidupan tak selamanya indah, nyata bukan ? Bahkan dengan anak istri tersayang ! Kasihan pemuja cinta amat menderita para pendosa amat hina dihina kekerdilan itu amat durhaka ! Biarkan langkah kaki mencari jalannya seperti burung-burung membelah angkasa indah dan alamiah celakalah burung dalam sangkar terbelenggu dan terjajah. Siapa sangka bayangan mata air itu ternyata hanya fatamorgana jiwa-jiwa gersang makin kehausan burung-burung tak lagi bersuara kembang kamboja luruh di tepi nisan di sana ada kematian menantikan kehidupan mengetuk pintunya. Jangan pernah lagi menyangka lidah ini kan bertutur selamanya karena di sana ada kematian tempat kehidupan bersaudara kembar dengannya kematian itu nyata seperti kehidupan ini nyata. Bekasi 15 Mei 2009

Di Persimpangan Jalan

Di persimpangan jalan ini aku berdiri menunggu rantaumu kapan kan kembali negeriku negerimu terbentang jarak jauh sekali tapi hatiku hatimu masih merekat dekat sekali itulah cinta jarak dan waktu memisahkan tapi kasih dan sayang mempersatukan kerinduan dan pengharapan menjalin jiwa resah menjadi kenangan indah. Kapan cinta dan kasih dipertemukan kembali laksana matahari senja dijemput malam sunyi bersanding di pelaminan bersatu di peraduan mencurahkan kasih dan sayang dalam bejana-bejana cinta. Kapankah penantian ini mendapat jawab di persimpangan jalan ini menunggu penuh harap negeriku negerimu mengapa tak dipersatukan saja agar jasad rindu ini tak harus merasa dipisahkan. Di persimpangan jalan ini selalu ku pandangi wajah orang-orang lelah lusuh berlalu lalang di pojok rumah ini juga telah ku tanam kembang mawar dan melati berharap cintaku kan kembali pada saat kembang mawar dan melati telah bersemi berharap kelak kau suntingkan seperti keindahan di mala

Drama Politik Yang Mengharukan

                Kali ini apa yang tidak menjadi perhatian dari kasus Antasari hingga kasak kusuk koalisi kali ini siapa yang tidak miris ini partai-partai politik membela negeri atau diri sendiri hanya karena isu SBY melamar Budiono bangunan koalisi kocar kacir cemburu atau iri demi negeri atau diri sendiri melempar statemen jawa luar jawa parpol atau sipil islam atau nasionalis. Aku hanya rakyat hanya memandang dari jauh aku juga nyonteng karena aku bukan golput aku juga punya harapan-harapan karena cita-citaku banyak yang belum kesampaian tapi aku jadi malu partai dukunganku tidak menang tapi partaiku juga ingin menikmati kekuasaan karena itulah politik seni dan budaya menggapai kekuasaan. Tapi aku ngeri banyak tokoh partai main jual beli ada apa dengan partai ini hanya karena tidak mendapat jatah kursi ramai-ramai membuat koalisi ramai-ramai pula membacakan petisi agar aku dengar agar aku kenal agar aku mengerti Sebenarnya ini cerita memilukan dan bukan kisah memalukan tapi lidah nu

Drama Politik Yang Mengharukan

Ilustrasi Kali ini apa yang tidak menjadi perhatian dari kasus Antasari hingga kasak kusuk koalisi kali ini siapa yang tidak miris ini partai-partai politik membela negeri atau diri sendiri hanya karena isu SBY melamar Budiono bangunan koalisi kocar kacir cemburu atau iri demi negeri atau diri sendiri melempar statemen jawa luar jawa parpol atau sipil islam atau nasionalis. Aku hanya rakyat hanya memandang dari jauh aku juga nyonteng karena aku bukan golput aku juga punya harapan-harapan karena cita-citaku banyak yang belum kesampaian tapi aku jadi malu partai dukunganku tidak menang tapi partaiku juga ingin menikmati kekuasaan karena itulah politik seni dan budaya menggapai kekuasaan. Tapi aku ngeri banyak tokoh partai main jual beli ada apa dengan partai ini hanya karena tidak mendapat jatah kursi ramai-ramai membuat koalisi ramai-ramai pula membacakan petisi agar aku dengar agar aku kenal agar aku mengerti

Di Persimpangan Jalan

Di persimpangan jalan ini aku berdiri menunggu rantaumu kapan kan kembali negeriku negerimu terbentang jarak jauh sekali tapi hatiku hatimu masih merekat dekat sekali itulah cinta jarak dan waktu memisahkan tapi kasih dan sayang mempersatukan kerinduan dan pengharapan menjalin jiwa resah menjadi kenangan indah. Kapan cinta dan kasih dipertemukan kembali laksana matahari senja dijemput malam sunyi bersanding di pelaminan bersatu di peraduan mencurahkan kasih dan sayang dalam bejana-bejana cinta. Kapankah penantian ini mendapat jawab di persimpangan jalan ini menunggu penuh harap negeriku negerimu mengapa tak dipersatukan saja agar jasad rindu ini tak harus merasa dipisahkan. Di persimpangan jalan ini selalu ku pandangi wajah orang-orang lelah lusuh berlalu lalang di pojok rumah ini juga telah ku tanam kembang mawar dan melati berharap cintaku kan kembali pada saat kembang mawar dan melati telah bersemi berharap kelak kau suntingkan seperti keindahan di mala

Halusinasi

Kamis wage malam jum'at kliwon ku tabur kembang dan ku bakar kemenyan di sisi makam bundaku yang telah rapuh dimakan rayap asap wangi dupa mengingatkanku pada kematian yang dalam hidupku paling aku takutkan. Kematian ? Begitu mengerikankah kematian ? Yang ditinggal menangis meratap-ratap sambil tak lupa mengingat-ingat seberapa besar kelak warisan yang didapat sang arwah sendiri entah celaka entah selamat tetangga sekampung turut memanjatkan doa padahal ditanggung sendiri seluruh amal perbuatan sewaktu hidup di dunia. Aku terjaga sebuah tangan lembut menjamah pundakku ternyata aku bermimpi yang membuatku tak bisa terlelap lagi. Ah, kematian... benarkah di dunia ini ada kematiam ? Ku layangkan pandangan ke langit, hanya kelam tak ada bintang gemintang ku sapa angin dingin yang menusuk tulang kebekuannya mengantarkan aku pada sebuah pintu tinggi dan kokoh tertutup rapat di bagaian mana aku mengetuknya atau akan ku ucapkan salam saja tapi sunyi tiada jawab

Halusinasi

Kamis wage malam jum'at kliwon ku tabur kembang dan ku bakar kemenyan di sisi makam bundaku yang telah rapuh dimakan rayap asap wangi dupa mengingatkanku pada kematian yang dalam hidupku paling aku takutkan. Kematian ? Begitu mengerikankah kematian ? Yang ditinggal menangis meratap-ratap sambil tak lupa mengingat-ingat seberapa besar kelak warisan yang didapat sang arwah sendiri entah celaka entah selamat tetangga sekampung turut memanjatkan doa padahal ditanggung sendiri seluruh amal perbuatan sewaktu hidup di dunia. Aku terjaga sebuah tangan lembut menjamah pundakku ternyata aku bermimpi yang membuatku tak bisa terlelap lagi. Ah, kematian... benarkah di dunia ini ada kematiam ? Ku layangkan pandangan ke langit, hanya kelam tak ada bintang gemintang ku sapa angin dingin yang menusuk tulang kebekuannya mengantarkan aku pada sebuah pintu tinggi dan kokoh tertutup rapat di bagaian mana aku mengetuknya atau akan ku ucapkan salam saja tapi sunyi tiada jawab

Bejana Cinta

Ku pandangi wajah orang-orang berlalu lalang menunggu senja tiba angin semilir mengabarkan resah adakah peraduan malam bagi jasad-jasad lelah rindu bertumpuk pada seribu hayalan dan impian tak menyadari usia tinggal setitik menjelang lapuk. Orang-orang itu adalah aku juga mengeja sisa kesempatan menekuni waktu detik demi detik menjawab pertanyaan hidup atau berpaling melarikan diri meninggalkan kenyataan pahit. Di penghujung malam dalam sujud hanya bisa pasrah dan berdoa semoga cucuran keringat tadi siang menjelma menjadi bejana-bejana cinta darinya mengalirkan kasih sayang menyuburkan kehidupan yang layu memekarkan kuncup kembang wangi dan indah. Ku pandangi lagi wajah orang-orang yang tertidur terlelap dibaluti impian wajah-wajah lelah yang tak pernah putus asa adalah wajahku juga karena aku berkaca pada cermin yang bercerita tentang guratan wajah yang semakin tua. Cerminku berbicara tak dusta matahariku terbit kembali memberi terang bejana cintaku

Bejana Cinta

Ku pandangi wajah orang-orang berlalu lalang menunggu senja tiba angin semilir mengabarkan resah adakah peraduan malam bagi jasad-jasad lelah rindu bertumpuk pada seribu hayalan dan impian tak menyadari usia tinggal setitik menjelang lapuk. Orang-orang itu adalah aku juga mengeja sisa kesempatan menekuni waktu detik demi detik menjawab pertanyaan hidup atau berpaling melarikan diri meninggalkan kenyataan pahit. Di penghujung malam dalam sujud hanya bisa pasrah dan berdoa semoga cucuran keringat tadi siang menjelma menjadi bejana-bejana cinta darinya mengalirkan kasih sayang menyuburkan kehidupan yang layu memekarkan kuncup kembang wangi dan indah. Ku pandangi lagi wajah orang-orang yang tertidur terlelap dibaluti impian wajah-wajah lelah yang tak pernah putus asa adalah wajahku juga karena aku berkaca pada cermin yang bercerita tentang guratan wajah yang semakin tua. Cerminku berbicara tak dusta matahariku terbit kembali memberi terang bejana cintaku

Hamba Bertanya

Senja itu puncak Gunung Putri diselimuti kabut tipis angin semilir bertiup dari timur cakrawala di langit barat semburatkan sinar merah jingga. Ku nantikan purnama yang keperakan malam ini ingin benar ku beri kesaksian tentang keindahan panorama tentang keagungan semesta alam tentang jiwa-jiwa pengembara tentang perasaan hati yang selalu gelisah. Duh Tuhanku tapi gerimis datang kilat menyambar alam bergoncang aku berlari ketakutan aku takut ini kutukan aku belum mau mati sia-sia ! Duh Tuhanku tapi jalanan basah oleh air hujan kaki tersandung batu aku jatuh bergulingan pelipisku berdarah sakit perih masih bisa ku tahan ! Duh Tuhanku kemarahan ? mengerikan ! mengapa malam ini mesti hujan tubuhku basah kuyup, menggigil kedinginan demam dan kesakitan. Tenyata malam ini tak seindah yang ku duga tenyata malam ini lebih indah dari yang ku bayangkan dalam ketakutan dan ketidakberdayaan Kau ingatkan aku agar tak congkak dan gegabah. Duh Tuhanku hamba jadi bertanya-tanya. Bogor 20 Oktober 1995

Hamba Bertanya

Senja itu puncak Gunung Putri diselimuti kabut tipis angin semilir bertiup dari timur cakrawala di langit barat semburatkan sinar merah jingga. Ku nantikan purnama yang keperakan malam ini ingin benar ku beri kesaksian tentang keindahan panorama tentang keagungan semesta alam tentang jiwa-jiwa pengembara tentang perasaan hati yang selalu gelisah. Duh Tuhanku tapi gerimis datang kilat menyambar alam bergoncang aku berlari ketakutan aku takut ini kutukan aku belum mau mati sia-sia ! Duh Tuhanku tapi jalanan basah oleh air hujan kaki tersandung batu aku jatuh bergulingan pelipisku berdarah sakit perih masih bisa ku tahan ! Duh Tuhanku kemarahan ? mengerikan ! mengapa malam ini mesti hujan tubuhku basah kuyup, menggigil kedinginan demam dan kesakitan. Tenyata malam ini tak seindah yang ku duga tenyata malam ini lebih indah dari yang ku bayangkan dalam ketakutan dan ketidakberdayaan Kau ingatkan aku agar tak congkak dan gegabah. Duh Tuhanku hamba jadi be

Gadis Di Balik Pintu

Siapakah gadis di balik pintu itu timbul tenggelam bersama perjalanan waktu gaun putih suci rambut sutra, indah terurai. Aku tahu itu adalah engkau yang kemarin pagi menyentuh jantung hatiku. Angin spoi-spoi kau memandang ke penjuru langit bola mataku menatap tak lalai pada kelincahanmu indah permai. Relung kalbuku mencari-cari sesuatu ada sepetik cinta yang tersisa adakah dia tahu perasaan hatiku lembar cinta ini telah lama beku. Gadir di balik pintu ku sangka engkau bidadari ternyata hanya mimpi yang membuai kau pergi dan tak pernah kembali pada kekasihmu yang kau miliki. Bøgør 10 Agüstüs 1995

Gadis Di Balik Pintu

Siapakah gadis di balik pintu itu timbul tenggelam bersama perjalanan waktu gaun putih suci rambut sutra, indah terurai. Aku tahu itu adalah engkau yang kemarin pagi menyentuh jantung hatiku. Angin spoi-spoi kau memandang ke penjuru langit bola mataku menatap tak lalai pada kelincahanmu indah permai. Relung kalbuku mencari-cari sesuatu ada sepetik cinta yang tersisa adakah dia tahu perasaan hatiku lembar cinta ini telah lama beku. Gadir di balik pintu ku sangka engkau bidadari ternyata hanya mimpi yang membuai kau pergi dan tak pernah kembali pada kekasihmu yang kau miliki. Bøgør 10 Agüstüs 1995

Cerita Cinta Sang Penyair

Sang Penyair bercerita dalam bayang-bayang setitik rindu menjadi kidung doa beralun tiap malam. Dalam kesendirian rindu jadi bayang-bayang kisah kasih mengisi jiwa seakan jiwa saling memiliki seakan dua jiwa bersatu abadi. Sang penyair bercerita dalam hayal mencari kekasih abadi tapi tak pernah sempurna. Sang penyair penuh harap penuh cita-cita sampai mati. Bogor 14 Juli 1995  

Mawar Dalam Gelap

    Setangkai mawar dalam gelap telah layu dan mati warna jingga yang dulu berseri kini telah pucat pasi aku rasakan aromanya tak lagi mewangi keindahan yang dulu ada pupus kini.     Andai saja ku dapati lagi mawar yang segar berseri tentu kan ku suntingkan untukmu ku hiaskan di rambut sutramu agar kau hayati keharumannya di kalbu tentu kau rasakan keindahannya seperti ku sanjung keanggunanmu di kalbuku.     Tapi aku takut tiap kali mawar aku petik tiap kali pula dia akan layu seperti kisah-kisah beku di hatimu.     Ku pandangi lagi mawar dalam gelas itu kelopaknya jatuh satu-satu keindahan luruh keharuman runtuh.     Mawar dalam gelas saksi bisu setangkup rindu mengiring cintamu yang telah berlalu mawar dalam gelas keindahan yang terbuang mati sia-sia.     Bogor 14 Juli 1995 Created By Muhammad 

Mawar Dalam Gelap

Bunga Mawar - File Pexels Setangkai mawar dalam gelap telah layu dan mati warna jingga yang dulu berseri kini telah pucat pasi aku rasakan aromanya tak lagi mewangi keindahan yang dulu ada pupus kini. Andai saja ku dapati lagi mawar yang segar berseri tentu kan ku suntingkan untukmu ku hiaskan di rambut sutramu agar kau hayati keharumannya di kalbu tentu kau rasakan keindahannya seperti ku sanjung keanggunanmu di kalbuku. Tapi aku takut tiap kali mawar aku petik tiap kali pula dia akan layu seperti kisah-kisah beku di hatimu. Ku pandangi lagi mawar dalam gelas itu kelopaknya jatuh satu-satu keindahan luruh keharuman runtuh. Mawar dalam gelas saksi bisu setangkup rindu mengiring cintamu yang telah berlalu mawar dalam gelas keindahan yang terbuang mati sia-sia. Bogor 14 Juli 1995 Created By Muhammad 

Mawar Dalam Gelas

Setangkai mawar dalam gelas telah layu dan mati warna jingga yang dulu berseri kini telah pucat pasi aku rasakan aromanya tak lagi mewangi keindahan yang dulu ada pupus kini. Andai saja ku dapati lagi mawar yang segar berseri tentu kan ku suntingkan untukmu ku hiaskan di rambut sutramu agar kau hayati keharumannya di kalbu tentu kau rasakan keindahannya seperti ku sanjung keanggunanmu di kalbuku. Tapi aku takut tiap kali mawar aku petik tiap kali pula dia akan layu seperti kisah-kisah beku di hatimu. Ku pandangi lagi mawar dalam gelas itu kelopaknya jatuh satu-satu keindahan luruh keharuman runtuh. Mawar dalam gelas saksi bisu setangkup rindu mengiring cintamu yang telah berlalu mawar dalam gelas keindahan yang terbuang mati sia-sia. Bogor 14 Juli 1995 Created By CentralSitus

Pandangan

Lewatmu jalan sederhana mula dipandang kasih pun ada ketika jiwa bersuara tiada kata tertulis selain puji sanjungan. Kita hanya saling pandang seakan diri paling kecewa seakan yang dipandang paling bahagia. Sebenarnya tiada beda antara aku dan kau sama-sama jiwa berjiwa dengan seribu problema. Sama antara aku dan kau pernah menangis dan tertawa pernah terpuji dan dihina. Di mana cinta suci di mana kebahagiaan sejati itu yang perlu kita hayati. Bogor 21 Juni 1995

Pandangan

Lewatmu jalan sederhana mula dipandang kasih pun ada ketika jiwa bersuara tiada kata tertulis selain puji sanjungan. Kita hanya saling pandang seakan diri paling kecewa seakan yang dipandang paling bahagia. Sebenarnya tiada beda antara aku dan kau sama-sama jiwa berjiwa dengan seribu problema. Sama antara aku dan kau pernah menangis dan tertawa pernah terpuji dan dihina. Di mana cinta suci di mana kebahagiaan sejati itu yang perlu kita hayati. Bogor 21 Juni 1995

Hamba Bertanya

Senja itu puncak Gunung Putri diselimuti kabut tipis angin semilir bertiup dari timur cakrawala di langit barat semburatkan sinar merah jingga. Ku nantikan purnama yang keperakan malam ini ingin benar ku beri kesaksian tentang keindahan panorama tentang keagungan semesta alam tentang jiwa-jiwa pengembara tentang perasaan hati yang selalu gelisah. Duh Tuhanku tapi gerimis datang kilat menyambar alam bergoncang aku berlari ketakutan aku takut ini kutukan aku belum mau mati sia-sia ! Duh Tuhanku tapi jalanan basah oleh air hujan kaki tersandung batu aku jatuh bergulingan pelipisku berdarah sakit perih masih bisa ku tahan ! Duh Tuhanku kemarahan ? mengerikan ! mengapa malam ini mesti hujan tubuhku basah kuyup, menggigil kedinginan demam dan kesakitan. Tenyata malam ini tak seindah yang ku duga tenyata malam ini lebih indah dari yang ku bayangkan dalam ketakutan dan ketidakberdayaan Kau ingatkan aku agar tak congkak dan gegabah. Duh Tuhanku hamba jadi bertanya-tanya begitu njlimetkah kehidu

Hamba Bertanya

Senja itu puncak Gunung Putri diselimuti kabut tipis angin semilir bertiup dari timur cakrawala di langit barat semburatkan sinar merah jingga. Ku nantikan purnama yang keperakan malam ini ingin benar ku beri kesaksian tentang keindahan panorama tentang keagungan semesta alam tentang jiwa-jiwa pengembara tentang perasaan hati yang selalu gelisah. Duh Tuhanku tapi gerimis datang kilat menyambar alam bergoncang aku berlari ketakutan aku takut ini kutukan aku belum mau mati sia-sia ! Duh Tuhanku tapi jalanan basah oleh air hujan kaki tersandung batu aku jatuh bergulingan pelipisku berdarah sakit perih masih bisa ku tahan ! Duh Tuhanku kemarahan ? mengerikan ! mengapa malam ini mesti hujan tubuhku basah kuyup, menggigil kedinginan demam dan kesakitan. Tenyata malam ini tak seindah yang ku duga tenyata malam ini lebih indah dari yang ku bayangkan dalam ketakutan dan ketidakberdayaan Kau ingatkan aku agar tak congkak dan gegabah. Duh Tuhanku hamba jadi be

Gadis Di Balik Pintu

Siapakah gadis di balik pintu itu timbul tenggelam bersama perjalanan waktu gaun putih suci rambut sutra, indah terurai. Aku tahu itu adalah engkau yang kemarin pagi menyentuh jantung hatiku. Angin spoi-spoi kau memandang ke penjuru langit bola mataku menatap tak lalai pada kelincahanmu indah permai. Relung kalbuku mencari-cari sesuatu ada sepetik cinta yang tersisa adakah dia tahu perasaan hatiku lembar cinta ini telah lama beku. Gadir di balik pintu ku sangka engkau bidadari ternyata hanya mimpi yang membuai kau pergi dan tak pernah kembali pada kekasihmu yang kau miliki. Bøgør 10 Agüstüs 1995

Cerita Cinta Sang Penyair

Sang Penyair bercerita dalam bayang-bayang setitik rindu menjadi kidung doa beralun tiap malam. Dalam kesendirian rindu jadi bayang-bayang kisah kasih mengisi jiwa seakan jiwa saling memiliki seakan dua jiwa bersatu abadi. Sang penyair bercerita dalam hayal mencari kekasih abadi tapi tak pernah sempurna. Sang penyair penuh harap penuh cita-cita sampai mati. Bogor 14 Juli 1995

Mawar Dalam Gelas

Ilustrasi Bunga Mawar Setangkai mawar dalam gelas telah layu dan mati, warna jingga yang dulu berseri kini telah pucat pasi, aku rasakan aromanya tak lagi mewangi, keindahan yang dulu ada pupus kini. Andai saja ku dapati lagi mawar yang segar berseri, tentu kan ku suntingkan untukmu, ku hiaskan di rambut sutramu, agar kau hayati keharumannya di kalbu, tentu kau rasakan keindahannya, seperti ku sanjung keanggunanmu, di kalbuku. Tapi aku takut, tiap kali mawar aku petik, tiap kali pula dia akan layu, seperti kisah-kisah beku di hatimu. Ku pandangi lagi mawar dalam gelas itu, kelopaknya jatuh satu-satu, keindahan luruh, keharuman runtuh. Mawar dalam gelas, saksi bisu setangkup rindu, mengiring cintamu yang telah berlalu, mawar dalam gelas, keindahan yang terbuang, mati sia-sia. Bogor - 14 Juli 1995

Mawar Dalam Gelas

Setangkai mawar dalam gelas telah layu dan mati warna jingga yang dulu berseri kini telah pucat pasi aku rasakan aromanya tak lagi mewangi keindahan yang dulu ada pupus kini. Andai saja ku dapati lagi mawar yang segar berseri tentu kan ku suntingkan untukmu ku hiaskan di rambut sutramu agar kau hayati keharumannya di kalbu tentu kau rasakan keindahannya seperti ku sanjung keanggunanmu di kalbuku. Tapi aku takut tiap kali mawar aku petik tiap kali pula dia akan layu seperti kisah-kisah beku di hatimu. Ku pandangi lagi mawar dalam gelas itu kelopaknya jatuh satu-satu keindahan luruh keharuman runtuh. Mawar dalam gelas saksi bisu setangkup rindu mengiring cintamu yang telah berlalu mawar dalam gelas keindahan yang terbuang mati sia-sia. Bogor 14 Juli 1995

Pandangan

Muhammad Saroji - File Pribadi Lewatmu jalan sederhana, mula dipandang kasih pun ada, ketika jiwa bersuara, tiada kata tertulis selain puji sanjungan. Kita hanya saling pandang, seakan diri paling kecewa, seakan yang dipandang paling bahagia. Sebenarnya, tiada beda antara aku dan kau, sama-sama jiwa berjiwa, dengan seribu problema. Sama antara aku dan kau, pernah menangis dan tertawa, pernah terpuji dan dihina.. Di mana cinta suci, di mana kebahagiaan sejati, itu yang perlu kita hayati. Bogor 21 Juni 1995

Sendiri

Ku rasakan hari ini menjadi sunyi saat kau pergi padahal sebelum kau ada jiwa ini tak pernah merasa sendiri. Sebuah pertemuan bersatunya jiwa-jiwa menyulam resah menjadi riang mengukir kata-kata menjadi kenangan. Mengapa mesti resah jiwaku malam ini di hari yang lalu kau jadi tempat pelipur lara bertutur kata dengan rangkaian kata mutiara. Mengapa di saat kembali hati ini sendiri seakan telah hilang cinta yang suci. Bogor 23 Juni 1995

Sendiri

Ku rasakan hari ini menjadi sunyi saat kau pergi padahal sebelum kau ada jiwa ini tak pernah merasa sendiri. Sebuah pertemuan bersatunya jiwa-jiwa menyulam resah menjadi riang mengukir kata-kata menjadi kenangan. Mengapa mesti resah jiwaku malam ini di hari yang lalu kau jadi tempat pelipur lara bertutur kata dengan rangkaian kata mutiara. Mengapa di saat kembali hati ini sendiri seakan telah hilang cinta yang suci. Bogor 23 Juni 1995

Pahlawanku

Diserbu kau menerjang dan berlari menantang beribu peluru dengan kerikil batu. Pahlawanku gagah perkasa semangatmu membara membelah angkasa luka di sekujur tubuh tak peduli amarah mendidih menerkam penjajah pertiwi. Dor....! dor...! Kau tetap berlari menyambut musuh yang tegap berdiri bagai kuda jalang kau menyepak menerjang bagai pertapa tua kau sakti mandra guna. Dor...! Dor... ! Sebutir peluru memecah tulangmu menghamburkan darah dan bening sumsum-mu tapi semua musuh diam termangu mau makin tegar bahkan beringas sebilah belati atas nama Palestina sebilah belati bernafaskan kalam Illahi membabat dan menerjang berani darah-darah musuh berhamburan kau pekikkan kata-kata Allaahu Akbar ! Merdeka Palestina ! Ke penjuru dunia keras menggema kau pun gugur di bumi persada maut menjemput duhai Syuhada... Tapi jiwa dan semangatmu bagai bunga harum mewangi menaburi bangsa kau korbankan jiwa dan raga demi bumi Palestina ini merdeka. Selamat jalan pahlawanku segenap nisanmu dikenang tinta emas s

Pahlawanku

Diserbu kau menerjang dan berlari menantang beribu peluru dengan kerikil batu. Pahlawanku gagah perkasa semangatmu membara membelah angkasa luka di sekujur tubuh tak peduli amarah mendidih menerkam penjajah pertiwi. Dor....! dor...! Kau tetap berlari menyambut musuh yang tegap berdiri bagai kuda jalang kau menyepak menerjang bagai pertapa tua kau sakti mandra guna. Dor...! Dor... ! Sebutir peluru memecah tulangmu menghamburkan darah dan bening sumsum-mu tapi semua musuh diam termangu mau makin tegar bahkan beringas sebilah belati atas nama Palestina sebilah belati bernafaskan kalam Illahi membabat dan menerjang berani darah-darah musuh berhamburan kau pekikkan kata-kata Allaahu Akbar ! Merdeka Palestina ! Ke penjuru dunia keras menggema kau pun gugur di bumi persada maut menjemput duhai Syuhada... Tapi jiwa dan semangatmu bagai bunga harum mewangi menaburi bangsa kau korbankan jiwa dan raga demi bumi Palestina ini merdeka. Selamat jalan pahlawanku segenap nisanmu dikenang tinta emas s

Fatamorgana

    Senja berkelana jauh matahari bersauh di balik hamparan cakrawala ku intip bayangmu bidadari, di masa lalu tak ada yang dapat ku terka selain kenangan kelabu.   Kau adalah bayangan fatamorgana melolong jerit penyesalan tak berguna kau adalah sejarah masa lalu dimana aku tak lagi merasakan nikmatnya cinta.   Ini adalah senja yang kelabu lisanku terpasung kelu hati telah membatu senyum manis telah membeku tapi aku tak akan peduli !   Oh inilah penyesalan terakhir di saat cakrawala menjadi gelap ku nyalakan lilin putih yang tinggal satu bilik kamar sunyi tempat terpaku diri. Inilah saatnya ku raih keyakinanku kembali pada saat belum juga ku temui diriku sendiri meski cahaya lilin tiada lagi seperti hilangnya dirimu dari bandara hati.   Oh malam begitu sunyi terlalu suci untuk ku nodai oh cintaku suci lahirlah kembali agar dapat ku rengkuhi oh tirai malam yang dingin singkapkan jalang hati ini agar hilang bersama angin aku rindu keramahan aku rindu kedamaian...   Jakarta 4 Januari 1995

Fatamorgana

    Senja berkelana jauh matahari bersauh di balik hamparan cakrawala ku intip bayangmu bidadari, di masa lalu tak ada yang dapat ku terka selain kenangan kelabu.   Kau adalah bayangan fatamorgana melolong jerit penyesalan tak berguna kau adalah sejarah masa lalu dimana aku tak lagi merasakan nikmatnya cinta.   Ini adalah senja yang kelabu lisanku terpasung kelu hati telah membatu senyum manis telah membeku tapi aku tak akan peduli !   Oh inilah penyesalan terakhir di saat cakrawala menjadi gelap ku nyalakan lilin putih yang tinggal satu bilik kamar sunyi tempat terpaku diri. Inilah saatnya ku raih keyakinanku kembali pada saat belum juga ku temui diriku sendiri meski cahaya lilin tiada lagi seperti hilangnya dirimu dari bandara hati.   Oh malam begitu sunyi terlalu suci untuk ku nodai oh cintaku suci lahirlah kembali agar dapat ku rengkuhi oh tirai malam yang dingin singkapkan jalang hati ini agar hilang bersama angin aku rindu keramahan aku rindu kedamaian...   Jakarta 4 Januari 1995

Janin-Janin Perawan

Di sudut keremangan ini zaman tak lagi perawan keangkuhan dan kerakusan manusia memperkosa bumiku siang malam bumiku menangis bumiku menjerit kaki-kaki berlumpur dosa merayapi kepiluannya menaburi kegersangannya dengan curahan dosa dan malapetaka. Bumiku merana hamparan suburnya menjadi comberan tempat pendosa melempar janin-janin perawan malamnya berpesta pora memperturutkan birahi penuh aib birahi zina !!

Kemarahan

Kemarahan bagai bara api membakar kasih sayang menjadi sirna dunia yang lapang menjadi sempit cantik rupawan menjadi tampak bengis. Kemarahan mengapa diagungkan mahligai indah menjadi binasa jangankan indah bertutur kata seluruh cerita kehidupan akan tergambar berwarna hitam. Siapa menjadi korban kemarahan lebih baik diam dengan tenang dan basuhilah dengan air kesucian.

Kemarahan

Kemarahan bagai bara api membakar kasih sayang menjadi sirna dunia yang lapang menjadi sempit cantik rupawan menjadi tampak bengis. Kemarahan mengapa diagungkan mahligai indah menjadi binasa jangankan indah bertutur kata seluruh cerita kehidupan akan tergambar berwarna hitam. Siapa menjadi korban kemarahan lebih baik diam dengan tenang dan basuhilah dengan air kesucian.

Sendiri

Ku rasakan hari ini menjadi sunyi saat kau pergi padahal sebelum kau ada jiwa ini tak pernah merasa sendiri. Sebuah pertemuan bersatunya jiwa-jiwa menyulam resah menjadi riang mengukir kata-kata menjadi kenangan. Mengapa mesti resah jiwaku malam ini di hari yang lalu kau jadi tempat pelipur lara bertutur kata dengan rangkaian kata mutiara. Mengapa di saat kembali hati ini sendiri seakan telah hilang cinta yang suci. Bogor 23 Juni 1995

Allah Menguji Kita

Kalau kita mengaku beriman kepadaNya, maka kita pasti mendapat ujian untuk menguji pengakuan keimanan kita kepadaNya. Bersyukurlah orang yang mendapat ujian karena pada hakikatnya Allah sayang kepada kita.

Pahlawanku

Diserbu kau menerjang dan berlari menantang beribu peluru dengan kerikil batu. Pahlawanku gagah perkasa semangatmu membara membelah angkasa luka di sekujur tubuh tak peduli amarah mendidih menerkam penjajah pertiwi. Dor....! dor...! Kau tetap berlari menyambut musuh yang tegap berdiri bagai kuda jalang kau menyepak menerjang bagai pertapa tua kau sakti mandra guna. Dor...! Dor... ! Sebutir peluru memecah tulangmu menghamburkan darah dan bening sumsum-mu tapi semua musuh diam termangu mau makin tegar bahkan beringas sebilah belati atas nama Palestina sebilah belati bernafaskan kalam Illahi membabat dan menerjang berani darah-darah musuh berhamburan kau pekikkan kata-kata Allaahu Akbar ! Merdeka Palestina ! Ke penjuru dunia keras menggema kau pun gugur di bumi persada maut menjemput duhai Syuhada... Tapi jiwa dan semangatmu bagai bunga harum mewangi menaburi bangsa kau korbankan jiwa dan raga demi bumi Palestina ini merdeka. Selamat jalan pahlawanku segena

Fatamorgana

Senja berkelana jauh matahari bersauh di balik hamparan cakrawala ku intip bayangmu bidadari, di masa lalu tak ada yang dapat ku terka selain kenangan kelabu. Kau adalah bayangan fatamorgana melolong jerit penyesalan tak berguna kau adalah sejarah masa lalu dimana aku tak lagi merasakan nikmatnya cinta. Ini adalah senja yang kelabu lisanku terpasung kelu hati telah membatu senyum manis telah membeku tapi aku tak akan peduli ! Oh inilah penyesalan terakhir di saat cakrawala menjadi gelap ku nyalakan lilin putih yang tinggal satu bilik kamar sunyi tempat terpaku diri. Inilah saatnya ku raih keyakinanku kembali pada saat belum juga ku temui diriku sendiri meski cahaya lilin tiada lagi seperti hilangnya dirimu dari bandara hati. Oh malam begitu sunyi terlalu suci untuk ku nodai oh cintaku suci lahirlah kembali agar dapat ku rengkuhi oh tirai malam yang dingin singkapkan jalang hati ini agar hilang bersama angin aku rindu keramahan aku rindu kedamaian... Jaka

Janin-Janin Perawan

Di sudut keremangan ini zaman tak lagi perawan keangkuhan dan kerakusan manusia memperkosa bumiku siang malam bumiku menangis bumiku menjerit kaki-kaki berlumpur dosa merayapi kepiluannya menaburi kegersangannya dengan curahan dosa dan malapetaka. Bumiku merana hamparan suburnya menjadi comberan tempat pendosa melempar janin-janin perawan malamnya berpesta pora memperturutkan birahi penuh aib birahi zina !!

Kemarahan

Kemarahan bagai bara api membakar kasih sayang menjadi sirna dunia yang lapang menjadi sempit cantik rupawan menjadi tampak bengis. Kemarahan mengapa diagungkan mahligai indah menjadi binasa jangankan indah bertutur kata seluruh cerita kehidupan akan tergambar berwarna hitam. Siapa menjadi korban kemarahan lebih baik diam dengan tenang dan basuhilah dengan air kesucian.

Wahai

                  Wahai indah nian dikau bagai pucuk-pucuk pinus di pojok bukit di pojok kampung yang bergoyang ditiup angin. Wahai andai saja ku kenal engkau ku jabat engkau ku sapa engkau ku buka hati beku engkau. Aku Sang Pengelana datang bersama angin bertiup dari pesisir laut. Wahai indah nian kau tapi kau diam bagai batu tapi indah bagai burung-burung. Mesti ku ucapkan salam ? Atau ku mantrakan rayuan ? Wahai ternyata kau hanya angin yang berhembus di antara tumpukan batu yang kau sapa Wahai sekiranya engkau angin tiuplah kapalku agar layar terkembang meninggalkan bandara, menjauh mengarungi lautan biru menuju kampung halamanku. Wahai semoga kau mengerti betapa lelahnya jiwa raga ini... Bogor 19 Juni 1995

Wahai

                  Wahai indah nian dikau bagai pucuk-pucuk pinus di pojok bukit di pojok kampung yang bergoyang ditiup angin. Wahai andai saja ku kenal engkau ku jabat engkau ku sapa engkau ku buka hati beku engkau. Aku Sang Pengelana datang bersama angin bertiup dari pesisir laut. Wahai indah nian kau tapi kau diam bagai batu tapi indah bagai burung-burung. Mesti ku ucapkan salam ? Atau ku mantrakan rayuan ? Wahai ternyata kau hanya angin yang berhembus di antara tumpukan batu yang kau sapa Wahai sekiranya engkau angin tiuplah kapalku agar layar terkembang meninggalkan bandara, menjauh mengarungi lautan biru menuju kampung halamanku. Wahai semoga kau mengerti betapa lelahnya jiwa raga ini... Bogor 19 Juni 1995

ALLAH MENGUJI KITA

Kalau kita mengaku beriman kepadaNya, maka kita pasti mendapat ujian untuk menguji pengakuan keimanan kita kepadaNya. Bersyukurlah orang yang mendapat ujian karena pada hakikatnya Allah sayang kepada kita.

Malam

Wahai malam yang dingin sebelum terlanjur diriku menjadi beku karena bersatu denganmu tidakkah kau hendak buka tabir rahasiamu agar hati gersang ini mengerti hakikatmu karena dalam keresahan ini jasad rapuh masih takut dijemput maut. Aku mengerti mati adalah saudara kandung hidupku sendiri tapi aku ngeri jangan-jangan matiku adalah siksa abadi. Wahai malam yang dingin kau tetap diam dan makin dingin bagai monster yang bergigi taring menikam sumsum dan jantung hatiku hingga aku tak sadarkan diri terbuai dalam mimpi tapi hati ini masih merasa tapi tak kurasakan lagi dingin anginmu tak kusadari desah nafas terakhirku hati seperti melihat puing-puing hancur memandang langit yang tinggi. Ya dalam sunyimu ketika mataku tak lagi melihat indahnya warna-warna dalam ketidakberdayaanku dan dalam matiku ternyata aku tetap ada aku tetap ada itulah jiwaku Bogor 19 Juni 1995

Malam

Wahai malam yang dingin sebelum terlanjur diriku menjadi beku karena bersatu denganmu tidakkah kau hendak buka tabir rahasiamu agar hati gersang ini mengerti hakikatmu karena dalam keresahan ini jasad rapuh masih takut dijemput maut. Aku mengerti mati adalah saudara kandung hidupku sendiri tapi aku ngeri jangan-jangan matiku adalah siksa abadi. Wahai malam yang dingin kau tetap diam dan makin dingin bagai monster yang bergigi taring menikam sumsum dan jantung hatiku hingga aku tak sadarkan diri terbuai dalam mimpi tapi hati ini masih merasa tapi tak kurasakan lagi dingin anginmu tak kusadari desah nafas terakhirku hati seperti melihat puing-puing hancur memandang langit yang tinggi. Ya dalam sunyimu ketika mataku tak lagi melihat indahnya warna-warna dalam ketidakberdayaanku dan dalam matiku ternyata aku tetap ada aku tetap ada itulah jiwaku Bogor 19 Juni 1995

Kedamaian

Malam begitu sunyi jam dinding berdentang dua belas kali sepotong cinta telah terbuang tadi siang aku sendiri lagi. Tak perlu lagi kutaburi dupa-dupa agar harumnya membagi duka karena kau tak pernah mengerti selama ini tak pernah kunikmati kedamaian. Kedamaian ? Kau kira seperti terlelap tidur di ranjang ? Atau jazad rapuh yang terkubur ? Oh jiwa nestapaku semoga esok matahari bersinar dan jiwaku mendapat kedamaian. Aku makin gelisah asap rokokmu mengepul merayapi dinding malam mengingatkanku kau menghinaku tadi siang... Gunung Putri-Bogor 28 Juni 1995 Created by Muhammad Saroji

Trauma

Hari menjelang senja lentera padam ini aku bawa berlari mencari setitik api. Menelusuri kabut berembun matahari jingga membiaskan pelangi aku teringat malam kemarin aku dalam kegelapan mengapa gelap malam nanti mesti kutakutkan ? Aku takut mimpi buruk lagi sedangkan burung-burung hantu selalu menyanyikan lagu-lagu misteri. Duh Gusti sampai kapan resah ini berakhir belum lagi ku sanjung DiriMu setinggi langit aku termenung sendiri menjalani trauma hidup berkali-kali. Gunung Putri-Bogor 21 Juni 1995 Created by CentralSitus

Trauma

Hari menjelang senja lentera padam ini aku bawa berlari mencari setitik api. Menelusuri kabut berembun matahari jingga membiaskan pelangi aku teringat malam kemarin aku dalam kegelapan mengapa gelap malam nanti mesti kutakutkan ? Aku takut mimpi buruk lagi sedangkan burung-burung hantu selalu menyanyikan lagu-lagu misteri. Duh Gusti sampai kapan resah ini berakhir belum lagi ku sanjung DiriMu setinggi langit aku termenung sendiri menjalani trauma hidup berkali-kali. Gunung Putri-Bogor 21 Juni 1995

Desah Nafas Kecewa

Kau hanya memandang diriku dari jauh tanpa kata-kata. Biar agar kau tak dengar desah nafas kecewaku. Dalam perjalanan waktu orang-orang silih berganti tak terasa beribu lelaki telah kau dekapi. Menyakitkan mimpi buruk paling menakutkan ! Di persimpangan jalan itu tak lagi kau tatap wajahku pergi dan menjauh. Biar agar kau tak dengar desah nafas terakhirku... Jakarta 3 Desember 1994 Created by CentralSitus

Desah Nafas Kecewa

Kau hanya memandang diriku dari jauh tanpa kata-kata. Biar agar kau tak dengar desah nafas kecewaku. Dalam perjalanan waktu orang-orang silih berganti tak terasa beribu lelaki telah kau dekapi. Menyakitkan mimpi buruk paling menakutkan ! Di persimpangan jalan itu tak lagi kau tatap wajahku pergi dan menjauh. Biar agar kau tak dengar desah nafas terakhirku... Jakarta 3 Desember 1994 Created by CentralSitus

Pertentangan

Tak ada yang tidak menjadi misteri kau dan aku selalu menjadi misteri tak pernah ada yang tahu kau dan aku dalam pertentangan. Sesungguhnya kita merdeka tapi berulang kali kita terjajah berulang kali kau katakan jiwamu resah tapi tak pernah ada yang tahu aku lapar padahal alam ini hijau raya merasa kedinginan padahal tak ada hujan haus dan lelah berkepanjangan merasa mati padahal nafas masih terengah-engah. Dalam kegalauan ini tidak sepatah kata ku ucapkan ingin ku terbang, betapa dunia ini sempit denganmu bertambah hari kian membagi jarak dari jiwa ke jiwa kau dan aku bimbang mencari kedamaian. Jakarta 2 November 1994

Pertentangan

Tak ada yang tidak menjadi misteri kau dan aku selalu menjadi misteri tak pernah ada yang tahu kau dan aku dalam pertentangan. Sesungguhnya kita merdeka tapi berulang kali kita terjajah berulang kali kau katakan jiwamu resah tapi tak pernah ada yang tahu aku lapar padahal alam ini hijau raya merasa kedinginan padahal tak ada hujan haus dan lelah berkepanjangan merasa mati padahal nafas masih terengah-engah. Dalam kegalauan ini tidak sepatah kata ku ucapkan ingin ku terbang, betapa dunia ini sempit denganmu bertambah hari kian membagi jarak dari jiwa ke jiwa kau dan aku bimbang mencari kedamaian. Jakarta 2 November 1994

Wanita-Wanita Di Lorong Malam

Wanita-wanita tanpa suara diam terpaku merenungi malam bau parfum menebar di ruangan aroma suci bagai di dalam sorga. Padahal mereka dalam kegalauan hati berontak menangis meratap-ratap menyapa tiada kata kepada siapa berbagi rasa mengapa begitu hina nasib menjadi kupu-kupu malam. Entah karena kesengajaan tangan menggapai-gapai seperti buta mata bagai cacing-cacing lemah merayapi malam kemudian lelaki-lelaki jalang menjamah dirinya merengkuh dengan selembar rupiah melempar ke lembah hitam. Hati telah terlanjur terluka perjalanan hidup terlanjur bernama nestapa orang-orang suci tak sudi memandang jerit kepiluan mengalun di langit hampa. Tapi mengapa menjadi putus asa dan mereka tak mencoba mengerti bahwa Tuhan Maha Pengampun dan Maha Pengasih ? Jakarta 19 Oktober 1994

Wanita-Wanita Di Lorong Malam

Wanita-wanita tanpa suara diam terpaku merenungi malam bau parfum menebar di ruangan aroma suci bagai di dalam sorga. Padahal mereka dalam kegalauan hati berontak menangis meratap-ratap menyapa tiada kata kepada siapa berbagi rasa mengapa begitu hina nasib menjadi kupu-kupu malam. Entah karena kesengajaan tangan menggapai-gapai seperti buta mata bagai cacing-cacing lemah merayapi malam kemudian lelaki-lelaki jalang menjamah dirinya merengkuh dengan selembar rupiah melempar ke lembah hitam. Hati telah terlanjur terluka perjalanan hidup terlanjur bernama nestapa orang-orang suci tak sudi memandang jerit kepiluan mengalun di langit hampa. Tapi mengapa menjadi putus asa dan mereka tak mencoba mengerti bahwa Tuhan Maha Pengampun dan Maha Pengasih ? Jakarta 19 Oktober 1994

Kedamaian

Malam begitu sunyi jam dinding berdentang dua belas kali sepotong cinta telah terbuang tadi siang aku sendiri lagi. Tak perlu lagi kutaburi dupa-dupa agar harumnya membagi duka karena kau tak pernah mengerti selama ini tak pernah kunikmati kedamaian. Kedamaian ? Kau kira seperti terlelap tidur di ranjang ? Atau jazad rapuh yang terkubur ? Oh jiwa nestapaku semoga esok matahari bersinar dan jiwaku mendapat kedamaian. Aku makin gelisah asap rokokmu mengepul merayapi dinding malam mengingatkanku kau menghinaku tadi siang... Gunung Putri-Bogor 28 Juni 1995

Trauma

Hari menjelang senja lentera padam ini aku bawa berlari mencari setitik api. Menelusuri kabut berembun matahari jingga membiaskan pelangi aku teringat malam kemarin aku dalam kegelapan mengapa gelap malam nanti mesti kutakutkan ? Aku takut mimpi buruk lagi sedangkan burung-burung hantu selalu menyanyikan lagu-lagu misteri. Duh Gusti sampai kapan resah ini berakhir belum lagi ku sanjung DiriMu setinggi langit aku termenung sendiri menjalani trauma hidup berkali-kali. Gunung Putri-Bogor 21 Juni 1995

Desah Nafas Kecewa

Kau hanya memandang diriku dari jauh tanpa kata-kata. Biar agar kau tak dengar desah nafas kecewaku. Dalam perjalanan waktu orang-orang silih berganti tak terasa beribu lelaki telah kau dekapi. Menyakitkan mimpi buruk paling menakutkan ! Di persimpangan jalan itu tak lagi kau tatap wajahku pergi dan menjauh. Biar agar kau tak dengar desah nafas terakhirku... Jakarta 3 Desember 1994

Pertentangan

Tak ada yang tidak menjadi misteri kau dan aku selalu menjadi misteri tak pernah ada yang tahu kau dan aku dalam pertentangan. Sesungguhnya kita merdeka tapi berulang kali kita terjajah berulang kali kau katakan jiwamu resah tapi tak pernah ada yang tahu aku lapar padahal alam ini hijau raya merasa kedinginan padahal tak ada hujan haus dan lelah berkepanjangan merasa mati padahal nafas masih terengah-engah. Dalam kegalauan ini tidak sepatah kata ku ucapkan ingin ku terbang, betapa dunia ini sempit denganmu bertambah hari kian membagi jarak dari jiwa ke jiwa kau dan aku bimbang mencari kedamaian. Jakarta 2 November 1994

Wanita-Wanita Di Lorong Malam

Wanita-wanita tanpa suara diam terpaku merenungi malam bau parfum menebar di ruangan aroma suci bagai di dalam sorga. Padahal mereka dalam kegalauan hati berontak menangis meratap-ratap menyapa tiada kata kepada siapa berbagi rasa mengapa begitu hina nasib menjadi kupu-kupu malam. Entah karena kesengajaan tangan menggapai-gapai seperti buta mata bagai cacing-cacing lemah merayapi malam kemudian lelaki-lelaki jalang menjamah dirinya merengkuh dengan selembar rupiah melempar ke lembah hitam. Hati telah terlanjur terluka perjalanan hidup terlanjur bernama nestapa orang-orang suci tak sudi memandang jerit kepiluan mengalun di langit hampa. Tapi mengapa menjadi putus asa dan mereka tak mencoba mengerti bahwa Tuhan Maha Pengampun dan Maha Pengasih ? Jakarta 19 Oktober 1994

Dia

DIA Dia bernyanyi tentang kelaparan dia berpuisi tentang kemiskinan dia berpantun tentang kebobrokan moral dia bersyair tentang ketimpangan sosial dia bercerita tentang penderitaan tentang kesengsaraan tentang peperangan tentang perubahan besar. Tapi yang lapar tetap lapar mengais makanan di sepanjang tepian jalan yang miskin tetap sengsara yang menderita tetap nestapa salah siapa dosa siapa. Dia kadang adalah diriku sendiri ...!! Jakarta 19 Oktober 1994

Dia

DIA Dia bernyanyi tentang kelaparan dia berpuisi tentang kemiskinan dia berpantun tentang kebobrokan moral dia bersyair tentang ketimpangan sosial dia bercerita tentang penderitaan tentang kesengsaraan tentang peperangan tentang perubahan besar. Tapi yang lapar tetap lapar mengais makanan di sepanjang tepian jalan yang miskin tetap sengsara yang menderita tetap nestapa salah siapa dosa siapa. Dia kadang adalah diriku sendiri ...!! Jakarta 19 Oktober 1994

Romadlon

ROMADHON Di suatu malam yang suci ku terjaga dari tidurku yang sepi Kau ketuk pintu hatiku yang hina ini lisan hambaMu yang arif sirami dadaku dengan lantunan ayat-ayat suci Di seluruh penjuru langit ku lihat cahaya bintang yang cemerlang mata jiwaku masih lelah merana lapar dan dahaga setelah jauh berkelana Aku takut Kau curahkan air bah dengan kilat petir merenggut sukmaku berdebu sebelua aku sempat tunduk bersujud di hadapanMu yang Maha Agung Segera aku basuh mukaku dengan air wudhu mumpung malam masih terang gemilang di bawah sinar purnama keperakan menyesali diri selalu melupakanMu yang mempertemukan aku bersama romadhon. Alaahu Akbar Allahu Akbar ! Engkaulah yang Maha Pengasih pertemukan aku bersama romadhon Engkaulah yang Maha Penyayang beri aku waktu bertasbih dan mensucikan diri Engkaulah yang Maha Suci selamanya aku tak dapat berpaling. Pemalang 17 September 1994          

Bandara Hati

Menelusuri tepian pantai dari satu muara ke lain muara menikmati nyanyian burung belibis yang terbang rendah di antara pucuk-pucuk gelombang. Dalam perjalanan ini apa yang ku cari asmara kasih telah patah hati nyanyian kerinduan telah terpisah dari badan jasad ini memuja cinta cinta terlarang ! Di mana bandara hati tempat ku hamparkan selembar sajadah dalam balutan lumpur ini aku juga tahu ini dosa dosa anak manusia yang durhaka tak mungkin bukan aku berkubang selamanya ? Mumpung masih ada sisa usia ! Di manakah bandara hati tempat aku tidur terlelap sejenak melepas keinginan hidup yang melelahkan. Tuhan, dalam siksaMu ku hikmati keagungan Mu

Bandara Hati

Menelusuri tepian pantai dari satu muara ke lain muara menikmati nyanyian burung belibis yang terbang rendah di antara pucuk-pucuk gelombang. Dalam perjalanan ini apa yang ku cari asmara kasih telah patah hati nyanyian kerinduan telah terpisah dari badan jasad ini memuja cinta cinta terlarang ! Di mana bandara hati tempat ku hamparkan selembar sajadah dalam balutan lumpur ini aku juga tahu ini dosa dosa anak manusia yang durhaka tak mungkin bukan aku berkubang selamanya ? Mumpung masih ada sisa usia ! Di manakah bandara hati tempat aku tidur terlelap sejenak melepas keinginan hidup yang melelahkan. Tuhan, dalam siksaMu ku hikmati keagungan Mu