Tampilkan postingan dengan label Cak Nun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cak Nun. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 April 2020

The Politics of Kissing Hands


Oleh: Emha Ainun Nadjib
 
Seorang pembaca harian ini dari Bogor, yang tulus hatinya dan tegak pikirannya, yang bersahaja hidupnya maupun sangat serius hajinya — sejak beberapa bulan yang lalu menuntut saya agar menuliskan lewat rubrik ini suatu masalah yang ia sodorkan kepada saya melalui surat. Masalah yang baginya amat sangat penting, dan alhamdulillah bagi saya juga amat sangat penting.

 

Lebih alhamdulillah lagi karena Rasulullah Muhammad saw, juga sangat concern terhadap soal ini, terbukti lewat banyaknya sabda beliau yang khusus mempermasalahkannya. Juga bagi Allah swt sendiri — sepengetahuan saya — soal ini juga termasuk tema primer dan prinsipil yang harus diurus oleh hamba-hambaNya secara murni dan konsekuen.

 

Mustahil kalau bagi Allah masalah ini tergolong sekunder. Hal mengenai siapa yang dihormati dan siapa yang menghormati, telah ia informasikan acuan dasar akhlaq atau moralitasnya. Allah tidak memerintahkan agar seorang bapak atau ibu merunduk di depan anak-anaknya, melainkan anak-anak yang dengan prinsip birrul walidain wajib menghormati bapak-ibu mereka.

 

Bukan karena iseng-iseng saja Allah menciptakan adegan di mana ia memerintahkan para malaikat agar bersujud kepada Adam. Episode ini tidak bisa diubah misalnya dengan meletakkan iblis sebagai aktor yang disembah sementara Adam mensujudinya. Menurut salah satu logika tafsir, begitu satu malaikat menolak menyembah Adam, turun derajat atau kualitas malaikat itu — dari "cahaya" menjadi "api". Ilmu bahasa Alquran kemudian juga berkembang mengacu pada kasus ini, di mana nur (cahaya) selalu dipakai untuk menggambarkan kemuliaan di akhirat, sementara nar (api, neraka) digunakan sebagai simbul dari kehinaan dan kesengsaraan.

 

Padahal nur dan nar berasal dari komposisi huruf dan rumpun kosakata yang sama.

 

Iblis ogah menyembah Adam karena alasan feodalisme dan alasan penolakan terhadap regenerasi. Alasan feodalnya, atau bahasa simbolisasi Qur'aniyahnya bernama takabur (gemedhe, sok lebih hebat), karena Iblis merasa dirinya terbuat dari material atau dzat yang lebih tinggi, halus, kualitatif, dan lebih mulia dibanding Adam yang hanya sedikit lebih tinggi dibanding keramik yang sama-sama terbuat dari tanah liat. Padahal Allah sudah menetapkan bahwa Adam itu ahsanu taqwin (sebaik-baik ciptaan), karena manusia dianugerahi "cakrawala" (kemungkinan), sementara malaikat atau iblis hanya memiliki "tembok statis" (kepastian) untuk baik atau kepastian untuk buruk. Manusia yang mengolah dirinya dalam kebenaran akan berkualitas mengungguli malaikat, sementara manusia yang memperosokkan diri dalam kesesatan akan berderajat lebih rendah dibanding iblis dan setan.

 

Sedangkan alasan "penolakan terhadap sunnah regenerasi" — maksudnya adalah ketidaksediaan iblis untuk menerima kepemimpinan manusia atas alam semesta. Bagi iblis manusia itu "anak kemarin sore" kok mau sok memimpin.

 

Emangnya dia sudah pernah ikut penataran P-4 atau memiliki sertifikat Pekan Kepemimpinan HMI atau PMII! Kok berani-beraninya menjadi khalifah! Apakah manusia sudah punya pengalaman dan jam kerja kepemimpinan, sehingga berani sombong mencalonkan diri atau tenang-tenang saja ketika diputuskan oleh Allah untuk menjadi pemimpin?

 

Demikianlah, karena hakekat eksistensi manusia adalah "pengembaraan ke cakrawala kemungkinan" — maka ia bisa tiba pada ruang, waktu dan posisi untuk berhak dihormati atau justru wajib menghormati.

 

Para nabi, rasul, dan auliya' sukses memposisikan diri untuk dihormati oleh para malaikat, ditemani oleh makhluk-mahkluk rohaniah itu ke manapun mereka pergi.

 

Sementara banyak manusia lain, misalnya Gendheng Pamungkas, sengaja atau tak sengaja melakukan mengembaraan untuk memposisikan diri agar justru menghormati iblis. Bahkan kita semua ini sesungguhnya diam-diam memiliki dimensi-dimensi nilai empirik yang membuat kita layak menghormati iblis — berkat suksesnya rekruitmen dan mobilisasi mereka atas kita-kita yang hina ini.

 

Kaum ulama juga terdiri atas manusia-manusia biasa yang menempuh cakrawala. Mereka bisa tiba di suatu maqam tinggi, suatu istiqamah, suatu tempat berdiri nilai — yang membuat mereka dihormati oleh ummatnya, dihormati oleh umara, didatangi oleh pejabat gubernur, menteri, dan presiden. Namun bisa juga kaum ulama tiba pada suatu derajat yang tidak mengandung kualitas istiqamah apa-apa, tidak memiliki cahaya kemuliaan sebagai golongan yang 'alim — sehingga justru mereka dalam tatanan struktural keduniaan justru berderajat untuk selalu sowan kepada umara.

 

Lebih mengasyikkan lagi kerena sangat banyak ulama, keulamaan, dan kelembagaan ulama yang legitimasinya berasal dari umara. Derajat mereka sangat rendah, dan tak berkurang kerendahannya meskipun ditutup-tutupi dengan seribu retorika dunia modern mengenai partnership antara ulama-umara atau dengan dalih-dalih dan alibi-alibi apapun.

 

Ulama-ulama jenis ini keadaannya sangat mengenaskan hati. Mereka selalu mengikatkan tangannya pada borgol kekuasaan. Membungkukkan punggungnya di hadapan penguasa dunia, bahkan tidak berkeberatan sama sekali untuk mencium punggung tangan sang penguasa. Di zaman terang dahulu kala terdapat banyak cerita mengenai 'kesombongan' ulama yang tak mau dipanggil penguasa, karena derajat ulama bukanlah ditimbali atau didhawuhi oleh penguasa, melainkan dihormati dan dibutuhkan oleh penguasa. Di zaman bebendhu sekarang ini, banyak ulama bukan saja akan sangat senang kalau dipanggil menghadap ke istana penguasa, tapi bahkan selalu mencari jalan, lobi dan channel bagaimana bisa menghadap penguasa.

 

Sowan ulama kepada umara adalah sebuah mainstream bahasa kolaborasi terhadap kekuasaan. Sowan adalah pernyataan kesetiaan politik ulama kepada umara. Ulama yang membungkuk dan mencium tangan penguasa adalah simbolisasi dari tidak hidupnya etos zuhud di kalangan ulama.

 

Sowan mencerminkan ketergantungan kaum ulama kepada kekuasaan, keamanan politik praktis, dan mungkin juga jatah-jatah ekonomi — meskipun sekedar arisan naik haji atau dibikinkan satu unit gedung pesantren.

 

Yang paling salah dari episode-episode sejarah semacam ini adalah Anda-anda yang pusing kepala gara-gara tetap saja meyakini bahwa mereka adalah ulama. [FM]

 

Pernah dimuat di Keranjang Sampah Harian Umum Republika.

--

Sabtu, 27 Juli 2019

Li-Annaka Taísyu Abada

Cak Nun
Oleh: Emha Ainun Nadjib
 
Sejak saya mendengar kata “Juguran” dari lingkaran para Ksatria di arah yang terlintasi setiap kali saya berdiri Takbiratul-ihram menghadap Allah, hingga saat saya menulis ini, tidak pernah berubah pemandangan di angkasa batin saya — juga tidak pernah mau perduli apa makna asli budayanya di kampong halaman kosa-kata itu.

Yakni Rasulullah saw sedang terbang memanggul cahaya sebesar gunung, melintas-lintas dari planet ke planet di beribu-ribu galaksi. Gunung cahaya di punggung beliau itu memancar dan berpendar-pendar, sambil sebagian dari muatan-muatan yang bermacam-macam wujudnya, yang berasal dari kedalaman cahaya itu menabur-nabur seakan tak sengaja, menciprat, terlempar, berguguran, atau apapun namanya karena tidak ada kata yang bias menggambarkan peristiwa dhahiriyah maupun ruhiyahnya.

Mungkin ada kata ‘prithil’ atau ‘gempil’dan sejumlah kata lagi yang bisa dipakai untuk menambah kelengkapan dan kedekatan terhadap yang saya saksikan. Memori dan saraf pemahaman di susunan akal saya tidak pernah mau mengubah pemahamannya atau taat kepada epistimologi orisinal budayanya dari mana kata itu berasal. Selalu saja kapan saya membaca atau mendengar kata “Juguran Syafaat” assosiasi saya adalah “Prithilan Syafaat”atau “Gempilan Syafaat”.

Dan sebagai warga Peradaban Maiyah saya tidak mau memperdebatkannya dengan akal saya sendiri, terlebih lagi dengan siapapun di luar diri saya. Pertama, karena “al-Haqq”, kebenaran, kasunyatan, tidak bertempat tinggal di kata. Kedua, “wa állama Adama al-asma-a kullaha” terutama bukanlah piwulang Allah kepada Khalifah Pertama tentang kosa-kata, melainkan idiomatik, terminologi, penunjukan-penunjukan suatu pusaran gejala dan peristiwa.

Adam adalah hibrida baru yang berkwalitas “ahsanu taqwim”. Bukan manusia “purba” yang perlu diajari ini batu itu angin, sebab kelak setiap kosa-kata lahir dari komunitas-komunitas manusia sebagai simpul bunyi yang berisi perjanjian untuk penyeragaman sebutan atas sesuatu hal. Allah tidak perlu mengajari langsung di tataran itu. Yang diajarkan Allah kepada Adam adalah piweling bahwa nanti anak cucu Adam akan menjumpai dan mengalami titik-titik koordinat peristiwa, lipatan, pusaran dan kisaran, silang saling silang, bahkan gumpalan maupun ketersembunyian kebenaran-kebenaran yang untuk itu Khalifah disangoni al-áql, mesin berpikir, mesin peneliti, mesin detailing tartiling, sebab setiap ia dan semua mereka harus terus menerus berperang melawan ketidak-mengertian dirinya sendiri, kebodohan dan kelalaian. Apalagi ummat manusia akan harus mengalami suatu zaman di mana orang yang tidak memenuhi syarat sebagai Khalifah-standard saja pun bisa oleh system kedunguan massal dijunjung dan dijumenengkan menjadi Panglima Khalifah.

Di tengah zaman yang sangat memilukan dan memalukan itu, Rasulullah saw menyelamatkan siapa saja yang mencintainya, dengan cara didistribusi taburan Syafaat-syafaat, bahkan secara setengah sengaja Gunung Cahaya yang dipanggul itu oleh beliau dibiarkan “jugur”, “lugur”, “prithil”, “gempil”, menimpa para kekasih menjadi rahmat Allah dalam kehidupan mereka.

Maka qabilah Juguran Syafaat, andaikanpun Maiyah tak pernah bersentuhan dengan mereka, tetap juga karena dinamika “suluk” mereka: juguran syafaat itu mereka peroleh dari lalulintas beterbangannya Rasulullah saw mendistribusikan limpahan-limpahan Gunung Cahaya.

Itu menyebabkan saya membiarkan diri “gedhe rumongso” mengaku-ngaku mereka sebagai anak saya, di dalam pesawat rohaniyah kegembiraan dan kebanggaan hidup saya dalam penugasan yang ini. Anak-anakku itu terampil dan prigel mengolah Bumi, untuk diakhiratkan. Anak-anakku itu canggih dan tekun mengelola materi dan materialitas tidak menjadi materialisme dan tanpa pernah menjadi materialistis.

Anak-anakku yang dilimpahi juguran syafaat oleh Kanjeng Nabi itu sangat memiliki kewaspadaan intelektual dan spiritual untuk tidak menjalani kehidupan ini dengan adrenalis keserakahan mencari laba-laba sebanyak-banyaknya karena beranggapan seolah-olah mereka akan hidup selama-lamanya. Kemudian mengakali dan mengeliminir kerakusannya itu dengan kerajinan ibadah yang dilokalisir dan dimanipulir sebagai satu-satunya tindakan yang bermakna akhirat.

Tidak. Anak-anakku Juguran Syafaat mengolah bumi, bekerja keras, mengendalikan materi, untuk justru diakhiratkan, ditemukan makna keabadiannya, ditarikati akurasi keakhiratannya. Anak-anakku Juguran Syafaat menggenggam batu, kayu, logam, lembaran-lembaran dan cairan-cairan, tidak untuk mendirikan Monumen Bumi, melainkan dirohanikan menjadi Kesejatian Sorga. Sebab mereka bukan sekedar “ka-annaka taísyu abadan”, seakan-akan hidup selama-lamanya, melainkan “li-annaka taísyu abadan” — karena memang engkau hidup hingga abadi, karena ujung perjalananmu adalah menyatu dengan dan kepada Allah, bahkan meniada “menjadi” Allah, karena engkau dan kita semua tidaklah sesungguh-sungguhnya ada. Dan Allah itu abadi. Siapakah selain Allah yang pasti abadi? []

Mbah Nun
11 April 2015

Yogyakarta.

Sabtu, 05 Januari 2019

Cak Nun : Masuk Surga Itu Nggak.Penting

Ilustrasi
Bagus nih uraian Cak Nun soal sedekah..

"MASUK SURGA ITU NGGAK PENTING..!"
[Think Different ala Cak Nun]

INGAT:  Tulisan ini khusus untuk para GENTHO (begundal), mereka yang sedang berproses mencari kebenaran Tuhan. Yang mengaku Alim atau ahli ibadah atau Ustad minggir dulu, nanti dulu, jangan Komen.

Jangan berharap ada dalil-dalil dari Syekh Zulkifli Jabal Syueb Sanusi (embuh sopo kui? - Gak tau siapa Itu ?). Monggo.

BEBERAPA tahun belakangan marak 'SEDEKAH AJAIB' yang sering digiatkan oleh itu, Si Ustad 'nganu'. Cak Nun hanya mengingatkan, "SEDEKAH itu dalam rangka BERSYUKUR, berbagi rejeki & kebahagiaan, BUKAN dalam rangka MENCARI REJEKI. Ingat itu! Kalau Anda mengharapkan kembalian berlipat-lipat dari sedekah, itu bukan sedekah, tapi dagang! Paham?"

Beliau tidak mengecam juga, lha wong taraf imannya masih segitu kok. Kalau sedekahkan uang, sepeda motor, mobil, rumah, helikopter atau apa pun, ya wis, kasihkan saja, titik! Setelah itu Jangan Berharap Apa-apa. Walau kita yakin akan dibalas dengan berlipat ganda, tapi ketidaktepatan dalam niat menjadikan sedekah bukan lagi sedekah, melainkan sekedar jual beli. Sedekahnya sudah bagus, tapi janji Tuhan jangan pernah dijanjikan oleh manusia, nggak boleh!

Banyak orang beribadah yang masih salah niat gara-gara manut omongan si motivator sedekah. Naik haji/umroh biar dagangannya lebih laris. Sholat Duha biar diterima jadi PNS, biar duit banyak, biar jadi milyarder biar dihormati orang. Ibadah itu dalam rangka bersyukur, titik! Menangislah pada Tuhan tapi bukan berarti jadi cengeng. Nabi dalam sholatnya menangis, tapi sebenarnya itu adalah menangisi. Beda antara menangis dan menangisi. Kalau menangis itu kecenderungan untuk dirinya sendiri, tapi kalau menangisi itu untuk selain dirinya : orangtua, anak, istri, kakek, nenek, saudara, sahabat dan seterusnya.

Ada seorang pedagang miskin yang dagangannya nggak laku, dia sabar dan ikhlas : "kalau memang saya pantasnya miskin, dagangan saya nggak laku, saya ikhlas, manut ae, yang penting Tuhan ridho sama saya." Malah keikhlasan seperti ini yang langsung dijawab oleh Tuhan dengan rejeki berlimpah yang tak disangka-sangka datangnya.

Tapi kalau kita yang ditimpa sial, dagangan nggak laku, biasanya langsung mewek : "Ya Tuhan kenapa saya kok mlarat, miskin, dagangan gak laku, gak bisa beli montor, gak bisa beli mobil, aku salah apa sih..!???" Waaahh..., malaikat langsung gregeten, nampar mukamu : "Oalaaaaah.., cengeng byanget kamu ya...!!!"

Iman seseorang memang tidak bisa distandarisasi. Tiap orang mempunyai kapasitas iman yang berbeda.
Makanya kalau jadi imam harus paham makmumnya. Makmumnya koboi tapi bacaan imamnya panjang-panjang disamakan dengan anak pesantren. Akhire makmumnya di belakang nggerundel, gak ihklas.

Cak Nun mengingatkan, usahakan berbuat baik jangan sampai orang tahu. Kalau bisa jangan sampai orang tahu kalau kita sholat. Lebih ekstrim lagi, jangan sampai Tuhan tahu kalau kita sholat (walau itu nggak mungkin). Pokoknya lakukan saja apa yang diperintahkan dan jauhi yang dilarang-Nya, titik! Itu adalah sebuah bentuk keikhlasan, tanpa pamrih yang luar biasa. Sudah suwung, sudah nggak perduli dengan iming-iming imbalan pahala, yang penting Tuhan ridho, nggak marah pd kita.

Motong rambut atau kuku nggak harus nunggu hari Jum'at. Lha wong paling pingin ML aja kok ya harus nunggu malam Jum'at, Ni gimana sih? Itulah kita, tarafnya masih kemaruk (serakah) pahala. Nggak ada pahala, nggak ibadah. Ini jangan diartikan meremehkan Sunnah Rosul. Pikir sendiri!

"Surga itu nggak penting..!" kata Cak Nun suatu kali. Tuhan memberi bias yang bernama surga dan neraka. Tapi kebanyakan manusia hanya kepincut pada surga. Akhirnya mereka beribadah tidak fokus kepada Tuhan. Kebanyakan kita beribadah karena ingin surga dan takut pada neraka. Kelak kalau kita berada di surga, bakalan dicueki oleh Tuhan. Karena dulu sewaktu di dunia cuma mencari surga, nggak pernah mencari Tuhan. Kalau kita mencari surga belum tentu mendapatkan Tuhan. Tapi kalau kita mencari Tuhan otomatis mendapatkan surga. Kalau nggak dikasih surga, terus kita kost dimana???

"Cukup sudah, jangan nambah file di kepalamu tentang surga dan neraka. Fokuskan dirimu hanya pada Tuhan. Karena sebenarnya orang yang berada di surga adalah orang yang mencari Tuhan. Dzat yang sangat layak dicintai di atas segala makhluk dan alam semesta..." kata Cak Nun


Sumber : Facebook

Sabtu, 13 Oktober 2018

Cak Nun: Membela Negara Atas Dasar Cinta Itu Lebih Mulia

Cak Nun
Forum Muslim - Budayawan Emha Ainun Najib atau yang yang dikenal Cak Nun menjelaskan posisi warga negara dalam membela negara yang selama ini dianggap sebagai suatu kewajiban. Ia mencoba menggiring orang-orang untuk memahami dasar dalam membela negara Indonesia.


"Membela Indonesia apa hukumnya?" tanya Cak Nun mengajak ratusan orang untuk berpikir dalam diskusi umum yang bertajuk "Medar Kadaulatan, Menemukan Kemerdekaan Sejati Manusia", Jum'at (21/8) sore, di Penerbit Mizan, kota Bandung.

Cak Nun menerangkan kewajiban dalam Islam dikenal fardhu 'ain dan fardhu kifayahFardhu 'ain merupakan kewajiban yang dibebankan setiap orang, sedang fardhu kifayah merupakan kewajiban  bersama, asalkan ada yang mewakili semuanya bebas dari dosa. 

"Contoh mengurusi jenazah hukumnya fardhu kifayah. Apabila ada jenazah lalu tidak ada seorang pun mengurusi jenazah tersebut maka semua orang berdosa. Tapi kalau ada tiga orang yang mau mengurusi memandikan, menshalatkan hingga menguburkan maka umat manusia bebas dari dosa," tambah Budayawan kelahiran Jombang itu sambil memberikan contoh.

"Kalau masalah jenazah itu tidak ada yang dibayar untuk mengurusi, tapi kalau negara kan sudah diurusi oleh para pejabat-pejabat negara seperti presiden dan menteri-menterinya. Sebagaimana  Indonesia terdapat undang-undang menentukan pembentukan organisasi pemerintahan yang difasilitasi mahal-mahal untuk mengurusi negara. Jadi mereka yang wajib, kita tidak wajib sama sekali. Kita  sudah bebas kewajiban dong? Kita yang bayar kok kita yang berkewajiban?" sambungnya dengan pertanyaan yang membuat peserta diskusi nampak semakin bingung.

Lebih lanjut Cak Nun mengarahkan jika warga negara mau untuk membela negaranya dinamakan shodaqah. "Shodaqoh itu karena cinta kita kepada negara. Shodaqoh tidak diwajibkan tapi ikhlas melakukan. Jadi membela negara atas dasar cinta dan shodaqoh itu lebih mulia,” tutur penulis buku Slilit Sang Kiai itu. 

"Dan masalahnya sekarang anda mau shodaqoh apa tidak? Kamu berjuang akan diberi kemenangan oleh Allah asalkan berlandaskan membela dan mencintai orang kecil dan orang lemah (mustdh'af). Atas dasar cintamu kepada rakyat kecil itu luas biasa tinggi derajatmu," tegas Cak Nun. (M. Zidni Nafi’/Mukafi Niam) 


Jumat, 29 September 2017

Tongkat Perppu dan Tongkat Nabi Musa


Oleh: EMHA AINUN NADJIB 

Forum Muslim -- Pada hari muncul wacana dari Pemerintah untuk membubarkan HTI dll, malam itu bersama KiaiKanjeng dan lebih 10 ribu massa kami "maiyahan" di halaman Polres Malang Raya. Didokumentasi dengan baik oleh pihak Polres saya menjelaskan "peta pengetahuan dan ilmu" tentang Khilafah. Sikap dasar Maiyah adalah pengambilan jarak yang terukur untuk tidak mencintai secara membabi-buta atau membenci dengan mata gelap dan amarah.

Pada hari lain sesudahnya berturut-turut di Yogya saya menerima tamu dari DPP HTI, kemudian Kapolda DIY, sesudah itu rombongan para perwira tinggi dari Mabes Polri. Tema pertemuan itu meskipun lebaran variabelnya berbeda, tetapi fokusnya tetap seputar Khilafah. Pengetahuan saya sangat terbatas, sehingga apa yang saya kemukakan kepada HTI maupun Polri sama saja. Policy penciptaan Tuhan atas manusia yang dimandati Khilafah, epistemologinya, koordinatnya dalam seluruh bangunan Syariat Allah, mosaik tafsir-tafsirnya, dialektika sejarahnya dengan berjenis-jenis otoritas pada kumpulan manusia, termasuk tidak adanya regulasi penggunaan kata yang terbiaskan di antara substansi, filosofi, branding, jargon politik, icon eksistensi, merk dagang dan pasar – yang di dalam Islam disebut fenomena "aurat".


Belum ada diskusi publik antara berbagai kalangan, termasuk pada Kaum Muslimin sendiri, misalnya apakah mungkin bikin Warung Tempe Penyet "Islam Sunni", Kesebelasan "Ahlus Sunnah wal Jamaah", Geng Motor "Jihad fi Sabilillah", Bengkel Mobil "25 Rasul", produksi Air "Nokafir", atau Jagal Sapi "Izroil". Tapi memang ada Band Group "Wali", Bank "Syariah" dan "Muamalat", Sekolah Dasar Islam, atau Islamic Fashion. Meskipun saya tidak khawatir akan muncul "Coca Cola Rasulullah saw", Paguyuban "Obama Atina Fiddunya Hasanah", atau Kelompok Pendatang Haram "Visa Bilillah"; tetapi saya merindukan ada Sekolah "Daun Hijau", Universitas "Pohon Pisang" atau merk rokok "Hisab Akherat".

Belum ada diskusi strategis yang menganalisis kalau ada T-Shirt bertuliskan "Islam My Right, My Choice, My Life", apakah pemakainya sedang meyakinkan dirinya sendiri yang belum yakin dengan Islamnya. Ataukah ia unjuk gigi kepada orang lain. Ataukah ia bagian dari "aurat", sesuatu yang terindah dan sakral sehingga justru sebaiknya ditutupi, sebagaimana bagian kelamin dan payudara. Sampai pada getolnya HTI dengan kata "Khilafah" sampai menyebar jadi kesan umum bahwa HTI adalah Khilafah, Khilafah adalah HTI, yang bukan HTI bukan Khilafah. Padahal NU, Muhammadiyah, semua ummat manusia adalah Khalifatullah di Bumi.

HTI memerlukan satu dua era untuk pengguliran diskusi publik tentang Khilafah, yang diwacanakan dengan komprehensi ilmu selengkap-lengkapnya, dan menghindari keterperosokan untuk menjadi jargon politik, bendera ideologi atau wajah identitas yang bersifat "padat", yang membuat semua yang di sekitarnya merasa terancam. Saya sempat kemukakan kepada teman-teman HTI: "Bagaimana mungkin Anda menawarkan Khilafah tanpa kesabaran berproses menjelaskan kepada semua pihak bahwa Khilafah bukanlah ancaman, melainkan tawaran solusi bagi problem ummat manusia. Kalau kita masukkan makanan ke mulut orang, tanpa terlebih dulu mempersiapkan pemahaman tentang makanan itu, pasti akan dimuntahkannya. Dan kalau yang Anda cekoki itu Penguasa, maka batang leher Anda akan dicengkeram oleh tangan kekuasaannya".

Kepada teman-teman Polri saya mohon "jangan membenci HTI, karena mereka menginginkan kehidupan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia. Mestinya Anda panggil mereka untuk dialog, simposium 3-5 sesi supaya matang. Kalau langsung Anda berangus, nanti ada cipratannya, akan membengkak, serbuk-serbuknya akan malah melebar ke organ-organ lain. Mohon Anda juga jangan anti-Khilafah, kita jangan cari masalah dengan Allah, sebab Khilafah itu gagasan paling dasar dari qadla dan qadar-Nya. Kita punya keluarga dan anak cucu, mari hindarkan konflik laten dengan Tuhan".

Pandangan saya tentang Khilafah berbeda dengan HTI. Bagi HTI Khilafah itu "barang jadi" semacam makanan yang sudah matang dan sedang dinegosiasikan untuk diprasmanankan di atas meja Al-Maidah (hidangan). Sementara bagi saya Khilafah itu benih atau biji. Ia akan berjodoh dengan kondisi tanah yang berbeda-beda, cuaca dan sifat-sifat alam yang berbeda. Benih Khilafah akan menjadi tanaman yang tidak sama di medan kebudayaan dan peta antropologis-sosiologi yang berbeda. Kesuburan dan jenis kimiawi tanah yang berbeda akan menumbuhkan Khilafah yang juga tidak sama. Termasuk kadar tumbuhnya: bisa 30%, 50%, 80%. Saya bersyukur andaikan kadar Khilafah hanya 10%. Saya belum seorang yang lulus di hadapan Allah sebagai Muslim. Maka saya selalu mendoakan semua manusia dengan segala kelemahan dan kekurangannya, mungkin keterpelesetan dan kesesatannya, kelak tetap memperoleh kedermawanan hati Allah untuk diampuni.

Biji Khilafah bisa tumbuh menjadi pohon Kesultanan, Kekhalifahan, Kerajaan, Republik, Federasi, Perdikan, Padepokan, atau Komunitas saja, "small is beautiful" saja. Allah menganjurkan "Masuklah ke dalam Silmi setotal-totalnya" (kaffah). Dan Allah bermurah hati tidak menyatakan "Masuklah ke dalam Islam kaffah". Kelihatannya itu terkait dengan kemurahan hati Tuhan tentang batas kemampuan manusia. Allah tidak membebani manusia hal-hal yang melebihi kuasanya. Dunia bukan Sorga. Dunia bukan kampung halaman, melainkan hanya tempat transit beberapa lama. Tidak harus ada bangunan permanen di tempat transit. Kalau bangunan Peradaban di Bumi bukan sistem besar Khilafah Islam, melainkan hanya sejauh ikhtiar-ikhtiar Silmi, yang nanti dihitung oleh Allah adalah usaha per-individu untuk menjadi Khalifah-Nya.

Kalau orang masih mau mandi, makan minum dan buang air besar maupun kecil, masih tak keberatan untuk berpakaian, membangun rumah dengan taat gravitasi, memasak air sampai mendidih, tidak keberatan untuk tidur berselang-seling dengan kerja keras menghidupi keluarga – itu sudah Khilafah, di mana manusia mematuhi asas kebersihan, kesehatan dan kemashlahatan. Kalau hukum ditegakkan, ketertiban sosial dirawat bersama, Pemerintah bertanggung jawab kepada rakyatnya, secara substansial itu sudah Khilafah.

Khalifah adalah orang yang berjalan di belakang membuntuti yang di depannya. Yang di depannya itu adalah kemauan Tuhan yang mengkonsep seluruh kehidupan ini seluruhnya. Maka Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Sila Pertama. Karena Boss Nasional dan Global kita adalah Tuhan. Sebab semua kekayaan Tanah Air ini milik-Nya, kalau mau menggali isi tambang, mau mengenyam hasil sawah dan perkebunan, rakyat dan Pemerintah Indonesia bilang permisi dulu kepada Tuhan, kemudian bilang terima kasih sesudah menikmatinya. Cara berpikir Negara Pancasila adalah menyadari posisi Tuhan sebagai The Only Owner, Kepala Komisaris, dan inspirator utama Dirut serta para Manager. Itulah Khilafah.

Kepada HTI maupun Polri sudah saya ungkapkan lebih banyak dan luas lagi. Khilafah itu ilmu dan hidayah utama dari Tuhan. Kita bersabar memahaminya, menyusun bagan dan formulanya. Yang utama bukan apa aplikasinya, melainkan efektif atau tidak untuk membangun kemashlahatan bersama, rahmatan lil'alamin dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kita pastikan tidak "merusak bumi dan menumpahkan darah" (definisi dari Allah swt), saling melindungi harta, martabat dan nyawa satu sama lain (kriteria dari Rasul Muhammad saw).

Saya merasa tak banyak gunanya, tapi saya nekad ungkapkan tentang Enam Tahap Evolusi di mana Globalisme saat ini berada pada Evolusi Empat. Spektrum filosofi dan pemikiran manusia memangkas diri dan mandeg sejak awal Masehi. Manusia diredusir hanya pada ilmu dan teknologi. Bluluk, Cengkir, Degan dan Kelapa di-empat-kan, padahal ia satu yang berevolusi. Dunia sekarang bertengkar, saling dengki dan membenci antara Peradaban Bluluk, Peradaban Cengkir dan Peradaban Degan, yang bersama-sama memusuhi Peradaban Kelapa. Para pelaku Wacana Kelapa juga kebanyakan masih berpikir secara Degan, berlaku secara Cengkir, bahkan jumud dalam semangat Bluluk.

Banyak lagi spektrum nilai yang saya nekad kemukakan. Khusus kepada teman-teman Polri saya mohon agar "jangan terlalu garang dan melotot kepada rakyat". Saya kutip An-Nas yang berisi anjuran Tuhan tentang pengelolaan sosial. Default tugas mereka adalah kasih sayang dan pengayoman (Rububiyah, "qul a'udzu bi Rabbinnas"). Kalau tidak sangat terpaksa jangan sampai pakai "Malikinnas" (Mulukiyah, kekuasaan), apalagi "Ilahinnas" (kekuatan politik dan militeristik) di mana aspirasi rakyat yang tidak sejalan dengan kemauan penguasa dibanting, dihajar dengan Tongkat Perppu, dipaksa "ndlosor", menyembah Penguasa. Kapan-kapan Indonesia perlu punya Pemimpin yang "Rububiyah".

Termasuk teminologi tentang Radikal, Fundamental, Liberal, Moderat: afala ta'qilun, tidak engkau olahkah dengan akalmu, kenapa engkau telan begitu saja? Apalagi salah tuding tentang yang mana yang radikal. Tetapi kemudian saya menyadari bahwa seluruh proses Indonesia ini tidak memerlukan apapun dari saya. Kalimat-kalimat kasih sayang saya "blowing in the wind", kata Bob Dylan, "tertiup di angin lalu", kata Kang Iwan Abdurahman, atau "bertanyalah kepada rumput yang bergoyang", kata adik kesayangan saya Ebiet G. Ade.

Tetapi Indonesia sungguh perlu banyak-banyak berpikir ulang. Masalah tidak cukup diselesaikan dengan kekuasaan. Waktu terus bergulir dan seribu kemungkinan terus berproses. Apalagi banyak "talbis" dan "syayathinil-insi". Tidak semua hal bisa di-cover oleh kekuasaan. Bhinneka Tunggal Ika adalah tak berhenti belajar mencintai dan saling menerima. Cinta plus Ilmu = Kebijaksanaan. Cinta minus Ilmu = Membabi-buta. Cinta plus Kepentingan = Kalap dan Penyanderaan. Kebencian plus Kepentingan = Otoritarianisme alias Firaunisme. Dan masa depan Firaun adalah kehancuran. Di ujung turnamen nanti Tongkat Perppu Firaun akan ditelan oleh Tongkat Musa.

Bangsa Indonesia ini Subjek Besar di muka bumi. Ia punya sejarah panjang tentang kebijaksanaan hidup dan peradaban karakter manusia. Bangsa Indonesia ini Garuda, bukan bebek dan ayam sembelihan. Indonesia adalah Ibu Pertiwi, bukan perempuan pelacur. Indonesia adalah Hamengku-Bumi, pemangku dunia, bukan ekor globalisasi. Barat di-ruwat, Arab di-garap, kata penduduk Gunung Merapi. Indonesia adalah dirinya sendiri.***


Keterangan:
Dicopas dari situs www.caknun.com, 21 Juli 20017
Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) melakukan dekonstruksi pemahaman nilai, pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi masalah masyarakat.