Rabu, 16 Januari 2019

NU Dan Banomnya



NU selalu hadir merespons perkembangan jaman. Semua diorganisir dengan rapi jali sesuai kebutuhannya. 

Dari berbagai banom yang ada semua sudah lengkap. Dan dalam perkembangannya, sebaiknya segera dibentuk banom baru yang sudah cukup urgent bagi perjuangan NU dan aqidah aswaja an nahdliyyah.

Setidaknya ada 2 badan otonom yang sebaiknya segera dibentuk secara resmi, sebab embrionya sudah ada, yaitu,

1. Cyber NU
Pasukan dunia maya ini merupakan pasukan ajaib yang terbentuk secara spontan ketika para pembenci NU dan NKRI melakukan pemberitaan negatif di dunia maya.

Mereka hadir secara sporadis melawan sangat gencar dan terbukti ampuh sekali. Belakangan mulai disatukan, dirapatkan dalam satu barisan. Jika dijadikan banom tersendiri pastinya akan lebih asik lagi.

2. Jam'iyyah Ruqyah Aswaja (JRA) 
Maraknya ruqyah yang dilakukan oleh kaum takfiri dengan cara yang tidak sesuai aqidah aswaja, malah justru mempengaruhi pasien agar menjadi anti amaliyah aswaja direspons secara cerdik.

Didirikanlah JRA sehingga sangat membatasi ruang gerak mereka. Terbukti semakin efektif dan sudah mulai tersebar di Jawa dan sekitarnya. Jika disatukan dalam satu barisan Banom NU tentu akan menjadi semakin teratur rapi.

----000---

Ada juga komunitas di NU yang jumlahnya sangat banyak tersebar di seantero Nusantara bahkan mulai menyebar di seluruh dunia. Komunitas ini biasa disebut Sarkub (Sarjana Kuburan).

Nama ini sebenarnya hanya merespons kaum takfiri yang menggelari komunitas ini dengan berbagai julukan yang tidak sepantasnya..

Sekalipun sangat banyak jumlahnya dan merata di seantero Nusantara namun, sebaiknya komunitas ini tetap menjadi sebuah komunitas saja, biar semakin gayeng.  Tidak perlu dijadikan Banom tersendiri.

---0---

Ada juga kelompok kategori di NU yang jumlahnya sangat banyak, merata di seantero Nusantara dan memiliki singkatan populer namun tetap jangan dianggap Banom NU ya...

1. IJNU ( Ikatan Jomblo Nahdlatul Ulama)
2. IJANU (Ikatan Janda Nahdlatul Ulama)
3. IDUNU (Ikatan Duda Nahdlatul Ulama) 
4. ISTINU ( Ikatan Suami Takut Istri Nahdlatul Ulama)

Terimakasih 
Sumber : Shuniyya Ruhama

Saat Habib Munzir Menangis Penuh Rasa Malu Karena Seorang Biarawati

Habib Munzir
Forum Muslim - Di tengah perjalanan dakwah dari Sorong menuju Teminabuan Papua, Habib Munzir dan rombongan menyewa mobil 4×4 bak terbuka. Di tengah perjalanan rombongan ini diberhentikan oleh salah seorang Biarawati berusia di atas 50an tahun. Sepertinya ia ingin ikut menumpang mobil. Bang Asri (yang menyupir mobil) menanyakan kepada Habib Munzir, karena mobil ini sudah dicarter oleh Habib Munzir dan rombongan. "Habib, apakah ibu Biarawati ini boleh dinaikkan...?". Tanya Bang Asri kepada Habib Munzir.

Tanpa pikir panjang lagi Habib Munzir menjawab : "Boleh, tapi mau ditempatkan dimana...? Disini sudah tidak ada tempat".
"Taruh di bak belakang aja Bib, bersama barang-barang" kata Bang Asri.

"Hmmm...tapi saya merasa tidak tega jika Ibu itu harus duduk di belakang bersama barang-barang" jawab Habib Munzir.

"Dia sudah biasa seperti itu kok Bib" jawab Bang Asri.

Mendengar jawaban "sudah biasa" tersebut, Habib Munzir merasa kaget dan terkejut, beliau menceritakan, saya kaget dan merasa tercekik mendengarnya, "sudah biasa...?", "Dia sudah biasa seperti itu Bib", seorang Biarawati penyeru kepada Agama keyakinannya, ia ternyata sudah terbiasa untuk berjalan dan duduk di bak bagian belakang dari kampung ke kampung demi berjuang untuk menyebarkan keyakinannya.

Kata Habib Munzir lagi : "Maka tidak salah kalau seandainya Agama non muslim yang menjadi maju, karena para Da'i muslim hanya bersembunyi di kota-kota besar, tidak mau keluar seperti mereka. Maka jangan salahkan mereka jika muslimin semakin mundur, karena para Da'inya juga semakin mundur. Dan ketika sopir mengatakan ia sudah terbiasa, maka semakin sakit hati saya, bukan semakin tenang tapi semakin sakit saya mendengarnya."

Dan Ibu Biarawati tersebut pun naik di bak belakang mobil 4X4 yang dipakai, 1 tempat bersama barang-barang.

Perjalanan pun diteruskan, 1 jam perjalanan terasa rintik-rintik gerimis mulai turun. Melihat itu Habib Munzir menjadi gelisah, risau, tak tenang, ia terpikir kepada Ibu Biarawati yang sedang duduk di bak belakang.

Kata Habib Munzir : "Hati saya terasa tercekik, sungguh..! walaupun ia adalah seorang non muslim, tapi bagaimanapun ia adalah seorang wanita yang usianya cukup tua, duduk di bak terbuka di belakang dengan terpaan hujan, ia seorang pemuka dan guru agama non muslim, ia sangat tabah dalam berdakwah membela agamanya dengan semangat juang yang luar biasa, ia berjalan dari kampung ke kampung, terus mengajar dengan sukarela sepanjang hidupnya, mengabdi pada agamanya, sampai-sampai ia rela duduk di bak belakang mobil, dalam terpaan hujan dan panas, ia wanita, sudah cukup lanjut usia, demikian tabahnya Da'i non muslim ini, hati saya seperti tercabik-cabik, saya malu, malu sekali..."

Hujan pun turun semakin deras, Habib Munzir semakin gelisah. Beliau sudah tak tahan lagi, semakin risau dengan keadaan Ibu Biarawati tersebut.

"Berhenti Bang Asri, berhenti..!" kata Habib Munzir seketika sambil memegang tangan Bang Asri. Lalu Bang Asri pun menghentikan mobil.

"Ada apa Bib...?" Tanya Bang Asri

"Saya mau pindah ke bak belakang menggantikan posisi Ibu itu, biar Ibu itu duduk di dalam sini menggantikan tempat duduk saya" jawab Habib Munzir.

Mendengar hal itu Bang Asri menjadi kaget dan tentu saja menolak. "Itu tidak mungkin Habib, tidak mcUungkin Habib turun dan pindah ke bak belakang..!, Habib sudah carter mobil saya...!!, lagi pula ini sedang hujan Habib...!!"

Habib Munzir menjawab : "Dia seorang wanita yang lebih tua dari saya, meskipun ia beda Agama, Rasulullah SAW sangat menghormati orang yang lebih tua..."

Habib Munzir tetap bersikeras memaksa, akhirnya mau tidak mau Bang Asri yang menyupir mobil pun pasrah menuruti.

Habib Munzir pindah ke bak belakang, beberapa rombongan yang lain pun ikut ingin ke belakang, tetapi Habib Munzir melarang mereka : "Yang lainnya tetap pada posisinya, cukup 1 orang yang menemani saya di bak belakang, sudah ada 1 orang penjaga barang kok di belakang"

Dan mereka pun sangat bersempit-sempit 4 orang di kursi belakang. Tapi ternyata Ibu itu tak mau pindah, ia tetap mau duduk di bak saja, ia seakan merasa tahu diri bahwa dirinya menumpang, ia merasa malu dan haru.

"Kalau Ibu tidak mau turun dan masuk ke dalam maka saya tidak akan mau naik ke mobil" jawab Habib Munzir.

Mau tidak mau akhirnya ibu itu pun masuk ke dalam mobil. Habib Munzir duduk di bak belakang di temani KH. Ahmad Baihaqi. Di saat itu hujan turun semakin deras membasahi tubuh Habib Munzir yang duduk di bak terbuka. Habib Munzir membuka Imamah (sorban) dan kacamatanya, ia hanya memakai peci putih. Dalam perjalan Habib Munzir menangis, bukan menangis karena keadaannya, tetapi menangis karena faktor Biarawati tadi.

Kata Habib Munzir : "Saya menangis, memikirkan, betapa kuat dan tabahnya Biarawati itu dan betapa malunya saya, karena saya dimanjakan di Jakarta, saya hanya sekedar turun dari mobil dan naik ke mimbar, sedangkan mereka, para Da'i non muslim di wilayah pedalaman, terus berdakwah, maka siapa yang akan terjun ke sana jika kita para Da'i muslim hanya duduk di kota-kota besar...?"

Dalam derasnya hujan itu mobil kembali berhenti. Bang Ipul (Saeful Zahri) turun dan meminta agar Habib Munzir masuk ke dalam menggantikan tempat duduknya, tapi Habib Munzir menolak : "Saya sudah duduk dan malas berdiri lagi, kalau mau ganti saja KH. Ahmad Baihaqi ke depan, tapi saya tidak mau pindah".

Maka demikian bergantian beberapa waktu terus 4 personil bergantian pindah ke belakang, namun Habib Munzir tetap tak ingin beranjak dari tempat duduknya, hanya yang lain saja bergantian.

Habib Munzir menceritakan : "Saya duduk di bak belakang untuk membalas rasa pilu saya akan semangat seorang wanita tua itu, yang penyeru kepada Agama non muslim, aku seorang penyeru ke jalan Allah SWT, aku malu, malu pada Allah... Patutnya aku berjalan kaki 200 Km, bukan duduk di bak terbuka yang masih bisa santai, apa yang harus saya jawab apabila Allah SWT menanyakan akan hal ini kepada saya di Yaumil Kiyamah..."

Masya Allah... Demikian indahnya akhlak Guruku dan Guru kalian... Semoga Allah SWT muliakan ruhnya bersama Para Sholihin, Para Shiddiqin dan Imam Ahlus Sholihin wa Shiddiqin... Datuknya Sayyidinaa Muhammad SAW... Aamiin Yaa Robbal Aalamiin...

(Keterangan Foto: Perjuangan Habib Munzir berdakwah di Papua - Irian Barat)

#SantriNUIndonesia
#DzyriyatunNabi
#AlHabibMundzir
Sumber : FB

Selasa, 15 Januari 2019

Kafil Yamin : Setelah Pidato Prabowo, Selamatkan Jokowi

Kafil Yamin
Forum Muslim - Pidato kebangsaan Prabowo Subianto di BCC tadi malam, 14 Januari; pidato tanpa teks yang merupakan personifikasi penyampainya; pidato yang membangunkan banyak orang, malah meningkatkan empati saya kepada petahana Joko Widodo.

Ini tak terhindarkan karena petandang pilpres 2019 memang hanya Prabowo dan Jokowi. Mau tak mau terbandingkan. Dan ketika terbandingkan ini, empati saya kepada Jokowi menguat dan membesar karena sosok sang petahana lebih terlihat sebagai pihak yang teraniaya -- bukan sebagai petandang yang siap tegap di medan persaingan. Saya kira saya tidak sedang melebih-lebihkan.

Pidato tanpa teks, dengan menyebut sejumlah tokoh dan peristiwa secara akurat, beserta lokasi dan tanggal, beberapa di antaranya bukan tokoh dan tempat terkenal, sungguh mewakili kekuatan daya ingat dan penguasaan pengetahuan. "He knows what he's saying."

Bahasa yang runut, mengalir, mewakili kekuatan logika dan imajinasi. Coba pelajari psikologi dan neurologi, kerapihan berbahasa itu ungkapan dari keajekkan dan ketertiban cara berpikir. Orang yang berpikirnya tak tertib, loncat-loncat, bahasanya juga kacau. Anu..eh..anu...Kita perlu anu..

Ketika Prabowo berpidato atau wawancara, entah dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia, orang mendengar ide, obsesi, visi, serta kekuatan narasi yang menyadarkan. Ketika Jokowi berpidato atau wawancara, bahkan sekedar menjawab pertanyaan wartawan, saya sering tak kuat lama-lama mendengarkannya. Kasihan melihatnya berjuang menemukan kata-kata yang tepat, menampilkan ekspresi wajah yang pantas, berusaha mengalihkan perhatian orang-orang di sekitarnya ke orang atau hal lain.

Jadi ketika tanpa sengaja membandingkan kemampuan berkomunikasi, berargumentasi, berorasi keduanya, pertandingan sungguh tak seimbang. Ibarat tim sepakbola sebuah kabupaten di Indonesia melawan MU. Atau balapan Valentino Rossi melawan jago nge-track malam di Tanah Abang, atau pegulat Koni melawan Khabib Nurmagomedov, pasti yang timbul bukan persaingan atau pertandingan, melainkan penganiayaan.

Dan sebagai manusia saya selalu berpihak kepada orang yang teraniaya. 

Terlihat sekali, ketika Prabowo berpidato atau wawancara, ia sedang mengungkapkan dirinya, pikirannya, visinya. Ketika Jokowi berpidato atau wawancara, ia sedang mengucapkan sejumlah titipan pendapat, bahkan kata-kata dan istilah, dari orang-orang sekitarnya. Dia hampir selalu terlihat dalam tekanan. Makanya banyak anu...

Dan yang kelewatan itu orang yang menitipkan kata-kata yang sama kepadanya di setiap pertemuan internasional: "Ayem hepi tu bi emong yu oll. Ayem hepi tu bi hier. Plis invest in may kantri, thenkyu!"

Kurang ajar itu yang nitip omongan. Dari 'ayem hepi tu bi hier', ujug-ujug: 'Plis invest in may kantri. Thenkyu!'. Kan tak ada hubungannya? Lagi pula, masa di tiap pertemuan internasional password-nya sama?

Dan saya bersimpati kepadanya. Ingin membebaskannya dari tekanan-tekanan para begundal yang memanfaatkannya, dengan mencegahnya lanjut satu periode lagi. Mendzalimi orang itu sebentar aja durhaka, apalagi dua periode. Selamatkan Jokowi!

Sumber : Kafil Yamin

Selamat Datang Di Situs Forum Muslim

Selamat datang di situs Forum Muslim

Manifesto Politik Prabowo, Indonesia Kuat dan Berwibawa


By Asyari Usman
 
Kalau mau dibuat singkat, visi yang disampaikan oleh Prabowo Subianto (PS) malam tadi intinya adalah "Indonesia Kuat dan Berwibawa". Visi ini kemudian akan melahirkan "Indonesia Menang", selaras dengan judul 'manifesto politik' Pak PS itu. Beliau sampaikan dengan rapi dan runtun. Gaya bahasanya selalu simetris dengan 'body language'. Tidak ada 'missing link'. Tidak ada yang hilang. Membuat riuh suasan di Jakarta Convention Centre. 
 
Penjelasan yang jernih dan detail tentang visi itu, memberikan jaminan yang 'inclusive' dan komprehensif. Sebagai contoh, PS mengatakan jika rakyat nantinya memberikan mandat kepada Prabowo-Sandi, niscaya lapisan masyarakat yang paling bawah akan diutamakan. Prioritas paslonpres 02 akan diarahkan untuk kalangan 'fuqara' dan 'dhuafa'. Yaitu, golongan yang 'tak sanggup' dan 'lemah'.
 
Tetapi, PS juga menegaskan pentingnya peranan para pengusaha dan bisnis mereka. Tidak dipungkiri. Hanya saja, diantara lapisan 'fuqara' dan 'dhuafa' akan ada jaminan keadilan bagi para investor itu. PS menekankan bahwa para nelayan dan petani gurem perlu dibantu melalui kebijakan dan langkah-langkah yang pro-rakyat kecil. Tanpa merugikan dunia usaha.
 
Prabowo tidak hanya berbicara mengenai korelasi antara investasi ekonomi dan perbaikan nasib lapisan yang lemah, tetapi beliau juga menyentuh sisi 'religiousity' (keberagamaan) yang selama empat tahun ini dilecehkan oleh pemerintahan Jokowi. Padahal, secara historis, kemerdekaan Indonesia ini diperjuangkan dan dipertahankan oleh barisan pejuang yang menomorsatukan aspek theologis. 
 
Prabowo menyadari pelecehan terhadap relijiusitas itu. Dia berjanji akan mengembalikan posisi para ulama dan pimpinan agama-agama lain ke 'maqam' mereka. Dihormati dan dijadikan sebagai 'konsultan' pemerintah. Ulama akan diberi kebebasan berdakwah. Tidak akan dipersekusi. Tidak boleh dikriminalisasikan. Bahkan, pemerintah akan memeberikan ruang yang lebih nyaman untuk kegiatan relijiusitas itu di dalam koridor bersama yang beratapkan dan berdindingkan Pancasila dan UUD '45.
 
Sebagai presiden, Prabowo akan menjamin eksistensi dan hak-hak golongan minoritas. Sesuatu yang sejak pra-kemerdekaan pun tidak pernah menjadi masalah. Umat Islam sebagai golongan mayoritas tidak pernah mempersoalkan kehadiran para minoritas. Dan tidak pernah terlibat konflik horizontal dengan minoritas mana pun. Persoalan terjadi ketika 'penjahat-penjahat' politik bermunculan dengan agenda yang mengusik umat Islam. Tentu saja secara natural agenda itu mengganggu stabilitas kaum muslimin. Itulah yang berlangsung di masa lampau, dan itu pula yang berulang di era Jokowi.
 
Sebagai presiden, Prabowo Subianto akan memperbaiki benjal-benjol dalam hubungan antara-golongan itu. Dan umat Islam selalu siap menjadi mayoritas yang 'rahmatan lil alamin' –sebagaimana disebut sendiri oleh Prabowo di dalam visinya, malam tadi.
 
Tidak hanya itu, Prabowo juga bersumpah akan menjadikan media massa sebagai sumber kritik. Akan memberikan kebebasan kepada mereka sesuai rambu-rambu yang diisyaratkan oleh Pancasila dan aturan terulis yang disepakati sebagai UU Pers. Tidak ada lagi persekusi dan prosekusi terhadap para penyiar berita faktual dan para penulis yang beroposisi.
 
Banyak lagi aspek yang dicakup oleh visi pemerintahan Prabowo. Anda perlu berdiskusi berhari-hari untuk menggali kebaikan demi kebaikan, perbaikan demi perbaikan, kelogisan demi kelogisan, yang terkandung di dalamnya. Saya mengatakan, tidak ada lagi yang harus saya pertanyakan tentang visi Prabowo kecuali saya memang tidak ingin Indonesia menjadi kuat, berdaulat dan terhormat.
 
Alhamdulillah, inilah manifesto politik (saya merasa lebih pas menyebut pidato malam tadi itu sebagai 'maifesto politik' ketimbang 'visi') yang akan membentuk Indonesia yang kuat dan berwibawa. Yang akan membentuk Indonesia dalam keseimbangan. Keseimbangan antara kemewahan dan kefaqiran Keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan penguatan relijiusitas. Keseimbangan antara eksploitas sumberdaya alam dan penyelamatan lingkungan. Keseimbangan antara pemerintahan yang kuat dan superioritas pengawasan.
 
Hari ini, rakyat Indonesia tidak lagi ragu tentang kapabilitas dan kapasitas Prabowo-Sandi. Tidak pula ragu tentang arah pemerintahan yang bakal mereka pimpin. Prabowo tidak anti-investasi asing, tidak juga anti-eksploitas kekayaan alam sepanjang itu dilakukan di atas kesepakatan bersama yang bersandar pada logika sehat.
 
Di atas semua itu, Prabowo-Sandi tidak akan menjadikan polarisasi sosial-politik yang marak selama pemerintahan Jokowi ini sebagai ramuan dalam mengelola pemerinatahan. Sebaliknya, Presiden Prabowo akan melakukan 'healing process' (proses pengobatan) agar perseteruan yang sengit antara kubu Prabowo dan kubu Jokowi, tidak berlanjut. Sehingga, segenap komponen bangsa Indonesia akan bisa berperan dalam kebersamaan demi koeksistensi yang damai.
 
Sudah barang tentu akan ada residu hukum yang harus diurai secara prosporsional dan berkeadilan. Ini perlu dilakukan agar kepresidenan Prabowo sekaligus menjadi 'watershed' (pembatas) dan pondasi untuk membangun suasana sosial-politik yang 'sustainable' tanpa noda saling nista, saling caci, dan saling benci.
 
Mari sama-sama kita antarkan Prabowo-Sandi ke Istana Negara lewat pilpres 17 April 2019 untuk mewujudkan Kemenangan Indonesia. Wallahu a'lam.
 
(Penulis adalah wartawan senior)

Sabtu, 12 Januari 2019

Antara Syariat Syekh Siti Jenar & Wali Lainnya

Ilustrasi Dzikir File Senyuman
Oleh: Muhamad Kurtubi

MENUJU Tuhan rupanya menjadi hal yang terus menerus diupayakan para hamba pencinta. Dalam ajaran agama, banyak cara dan jalan yang ditempuh oleh para ulama (rohaniwan) mengajarkan pada kita. Salah satu contoh di dalam ajaran Islam mengenal istilah adalah gerakan batin (hake­kat).

Semisal yang dica­nangkan oleh Al Hallaj dan diterus­kan oleh Syekh Siti Jenar di Indonesia. Wali ini tidak dimasukan dalam ling­kungan atau anggota Wali Sanga. Mungkin kare­na sistem dan metodanya tidak sama. Tetapi gene­rasinya terus berkem­bang hingga kini. Tidak mengetahui di mana shalatnya.

Di samping itu ada banyak jenis gerakan selain Syekh Siti Jenar yang dica­nang­kan oleh para Wali (songo). Dianta­ranya adalah thareqat. Pertanyaanya, apa­kah gerakan tarekat yang dicanang­kan para wali itu masuk dalam kategori syareat atau gerakan hakekat?

Islam lahir didahului oleh hakekat baru kemudian syareat. Buktinya Nabi saw lama bertahannuts (bermalam) di gua Hira. Beliau menghabiskan malam-malam­nya di sana untuk beribadah dengan mengabdikan diri kepada Allah swt. Beberapa malam kemu­dian, turun­lah wahyu pertama. Di sinilah syareat mulai dibentuk untuk umatnya.

Namun pada giliran periode berikutnya, muncul gerakan yang mirip hakekat yang diajarkan oleh Al Hallaj yang cukup bertentangan dengan syareat pada umum­nya. Beratus tahun kemu­dian hadir pula di Indonesia. Pelopor­nya adalah Syekh Siti Jenar.

Gerakan ini cukup berhasil membawa para pengi­kutnya untuk terus mengupayakan gerak­an ini berkembang. Entah bagai­ma­na, akhirnya syareat yang biasanya dianut oleh masyarakat umum tiba-tiba tidak lagi menjadi fokus utama dalam beri­badah kepada Allah. Yang hadir dan ramai di anut oleh masyarakat adalah sejenis hakekat. Di antara yang kerap dibicarakan orang adalah ung­kapan “eling”. Atau “manungaling kaula Gusti”. Semacam penyadaran akan penya­tuan antara hamba dengan Tuhannya.

Konon ajaran itu masuk dalam kategori hakekat. Adapun syareat­nya tidak seperti para penganut Islam biasanya. Atau barang­kali tidak ada syareat sama sekali. Sean­dainya pun ada syareat, maka dipastikan sangat berbeda dengan para pemegang rukun Islam pada umumnya.

Ajaran Syekh Siti Jenar, salah satunya, menurut salah satu pembimbing tarekat, adalah gera­kan shalat di atas daun. Generasinya hingga kinipun ma­sih mem­praktek­kannya. Selembar daun di­po­tong dan digelar sebagai sajadahnya lalu melak­sanakan shalat di atas daun itu di per­muka­an air.

Atau suatu ketika selembar daun pisang menempel di dahannya, maka di situlah mengerjakan shalatnya. Jadi begi­tulah seseorang yang (khusus) mendalami ilmu syareat Syeh Siti Jenar.

Karenanya, tidak musta­hil seseorang itu mempelajari bagai­mana bisa terbang dan meng­hilang. Itulah yang diajar­kannya. Itulah karomahnya. Itulah yang saya dengar dari guru. Masalah benar tidaknya saya belum tahu.

Bagaimana dengan Gerakan para Wali Lainya?

Menurut Abdullah As Sya’roni bukan itu yang istimewa. Karomah dipandang oleh As Sya’roni adalah al Istiqomah, meski­pun kecil kelihatannya. Sehingga timbul ungkapan “khoirun min alfi karomah” istiqomah itu lebih baik daripada seribu karomah. Karenanya, tidak perlu terta­rik dan tidak perlu mempelajari hal-hal seperti itu.

Inilah yang disebut gerakan tarekat yang dipelo­pori oleh para aulia. Karenanya pernah ada seorang ulama besar mem­buat geger orang-orang, di mana shalat­nya tidak pernah diketahui. Namun tiba-tiba saja ulama itu ada di sana. Wallahu a’lam kita tidak tahu, na­mun itulah gerakan mereka. Jadi sangat antik mereka punya gerakan.

Karena itu wali Songo tidak mau keting­galan punya gerakan juga. Thareqah namanya. Jadi tarekat yang diajarkan para wali itu sangat jelas dan terlihat apa adanya. Para pengikut tarekat saat berkumpul ramai-ramai kemudian me­la­kukan dzikir tarekat bersama-sama. Ramai-ramai di talqin atau di baiat oleh musyidnya, oleh muqoddam atau khali­fah, terserah istilahnya apa, itu sema­ta-mata untuk melestarikan gerak­an wali songo.

Itulah alasannya mengapa para pengikut tarekat berkumpul. Sementara para peng­ikut syekh Siti Jenar pun gigih membikin generasi penerusnya dengan gerakan-gerak­an yang dianggap kontro­ver­­sial. Sementera grupnya Wali Songo ternyata kelihatannya lebih berhasil dalam gerakannya. Sehingga berkem­banglahtarekat di seluruh dunia de­ngan berbagai versi dan silsilahnya hingga kini.

Salah satu inti gerakan tarekat yang dikedepankan oleh para Wali Songo adalah hal yang jelas bentuk sya­reat­­nya. Buktinya adalah orang-orang tarekat dzikir­knya jelas, bagai­mana uca­pan­nya, dimana tempat berdzikir­nya, apa yang diucapkan, siapa gurunya dan ke­pada siapa silsilahnya begitu jelas hing­ga wusul kepada Rasulullah saw. Tanpa ada yang disem­bunyikan sama se­­­ka­­li.

Tentang ajaran hakikat pada tarekat yang diajarkan para wali hanya mengajar­kan khofi selebihnya dzikir, sholawat dan membaca Al qur’an kepa­da para pengamal tarekat. Khofi sendiri merupakan hal rahasia yang tidak bisa diajarkan melainkan dengan talqin kepada mursyidnya, muqoddam atau khalifahnya.

Namun ajaran “hakekat” yang dikedepankan oleh tarekat tidak untuk menciptakan sebuah kelebhan (karomah). Semata-mata hanya untuk bagaimana mampu ber­komunikasi kepada Allah dalam segala tingkat kea­da­an dan situasi. Jika pun ada kelebihan yang ditimbulkan, hal itu semata-mata karena maziah saja dan tidak ditam­pakkan.

Bahkan jika seorang pengikut tarekat memiliki karomah, ia sendiri menganggapnya sebagai beban yang berat sekali dipikul­nya. Pendek­nya, menjadi pengamal ta­re­­kat adalah individu yang siap menjadi orang yang biasa-biasa saja.

Tak Perlu Diadu

Bukan berarti gerakan Wali Songo lebih baik dari gerakan Syekh Siti Jenar atau seba­liknya. Hal itu tidak perlu diadu dan dibuat komparasi (perban­dingan). Kare­na hal ini tidak perlu diadu antara kelebihan dan kekurangannya. Sebab dalam salah satu ajaran tarekat menye­but­kan bahwa tidak perlu mengo­reksi ilmu orang lain. Nafsi-nafsi saja. Memperbaiki dan menambah kekurangan diri.

Akhirnya, seringkali para guru meng­ajar­kan kepada para pengikutnya: marilah bersama-sama untuk saling tertarik guna mendalami ilmu bersama Allah SWT. Ilmu ini berada dalam hati, bukan di dalam pikiran. Sebab ilmu tarekat tidak­lah mengajarkan sese­orang ahli suatu bidang, melainkan bagai­mana memanaj hati. Jika hati tenang maka akan meno­long segala urusan keduniaan dan kea­khiratan. Bukankah Allah men­jan­jikan: “Ingatlah, hanya dengan meng­ingati Allah-lah hati menjadi tenteram.. (Ar Ra’ad: 28)

Kesimpulan:
-       Tarekat merupakan sebuah bentuk gerakan keimanan yang bertujuan untuk memperbiki akhlak melalui upaya pembersihan diri (batin) de­ngan terus menerus mengingat Allah.
-       Ada yang berorientasi hanya pada inti hakekat saja (batin) tanpa dengan sya­reat pada umumnya. Diwakilii oleh gerakan Al Hallaj dan generasi beri­kut­nya adalah Syekh Siti Jenar.
-       Ada pula yang mementingkan syareat dan hakekat sekaligus. Namun lebih condong ke pelaksanaan syareat se­perti biasanya. Sementara hakekat hanya dalam bentuk dzikir khofi saja. Ini yang kebanyakan diwakili oleh gerakan tarekat Wali Songo dengan berbagai jenisnya yang mu’tabarah.
-       Pada akhirnya, gerakan Wali Sanga ini lebih banyak diterima oleh masya­rakat.
-       Tidak perlu membandingkan dua jenis gerakan ini, mana yang lebih unggul. Masing-masing menjalankan keya­kinan­nya.

Wallhu a’lam.

Muhamad Kurtubi,
Santri Pondok Pesantren Buntet – Cirebon, lulusan MANU 2008

Waktu dan Masalah Kedaulatan

Ahmad Syafii Maarif
Oleh: Ahmad Syafii Maarif

MENGAPA kemunculan seorang Tri Rismaharini (Wali Kota Surabaya) atau seorang Joko Widodo (mantan Wali Kota Solo, sekarang Gubernur DKI Jakarta) demikian fenomenal dan memikat perhatian publik secara luas?

Jawabannya sederhana tanpa memerlukan banyak teori: karena keduanya dinilai memberikan contoh sebagai pemimpin yang prorakyat dan menjalankan tugas dengan bahasa hati. Setidak-tidaknya demikianlah kesan publik terhadap keduanya sampai hari ini.

Adapun ke depan, sekiranya keduanya diberi posisi yang lebih tinggi, apakah idealisme mereka masih bisa bertahan, kita tidak tahu. Godaan terhadap orang yang berkuasa pasti muncul dari segala penjuru, di semua lini, termasuk dari lingkungan pengusaha hitam, jika tidak waspada. Kewaspadaan ini harus disiapkan sejak dini dengan bersenjatakan mata rajawali, bukan mata kelelawar yang redup pada siang hari. Tidak banyak elite Indonesia yang kebal terhadap godaan benda dan kekuasaan.

Terpaku dan terpukaunya mata publik terhadap kedua tokoh itu tidaklah terlalu mengherankan. Bukankah ratusan pejabat publik yang lain di seluruh Nusantara lebih banyak disibukkan dengan urusan politik kekuasaan, di samping memikirkan bagaimana cara melunasi utang dana kampanye yang bisa menelan miliaran rupiah? Termasuk janji-janji mereka kepada cukong yang mahir ”berjudi” dalam mendukung politisi yang sedang bersaing, demi melebarkan sayap bisnis mereka, jika pihak yang didukung memenangi persaingan.

Semua ini bukan lagi rahasia, tetapi sudah menjadi pengetahuan orang banyak. Tri dan Jokowi dinilai relatif bersih sekalipun pasti juga telah mengeluarkan dana untuk jadi pemenang. Saya katakan relatif karena keduanya tidak mungkin bebas 100 persen dari dunia percukongan.

Dalam pusaran politik

Apa yang disebut politik uang adalah riil. Dalam suasana perlombaan terhadap kekuasaan yang sedang berjalan sekarang, kesetiaan pada idealisme sudah lama menguap ke langit tinggi. Maka, jika tuan dan puan sudah bosan dengan politik, itu masuk akal. Akan tetapi, larut dalam kebosanan sangat berbahaya karena bisa melumpuhkan perjalanan bangsa yang sebenarnya ingin menegakkan sistem demokrasi yang sehat dan kuat.

Manusia, di mana pun di muka bumi, tidak mungkin terhindar dari pusaran politik. Tugas kita sebagai rakyat adalah berupaya dalam batas kemampuan kita masing-masing agar politik itu dijadikan kendaraan untuk kepentingan orang banyak, bukan untuk mengorbankan mereka.

Politik yang mengorbankan rakyat banyak adalah jenis politik kumuh dan biadab. Sebaliknya, politik yang bersih dan beradab pasti bertujuan mulia membela kepentingan yang lebih besar, jauh melampaui parameter hitung-hitungan untung-rugi jangka pendek. Indonesia merdeka benar-benar memerlukan terciptanya politik yang beradab ini dalam tempo yang dekat. Sebab, jika berlama-lama terseret dalam kebiadaban berkepanjangan, waktu pasti akan menjadi ancaman serius terhadap nasib kita semua.

Kita sungguh sedang berlomba dengan waktu dan waktu itu bisa sangat kejam. Kata peribahasa Arab: ”Waktu itu ibarat pedang; jika tidak pandai menggunakannya, leher tuan dan puan akan dipancungnya”.Terlambat berarti merelakan proses pembusukan politik yang sedang berjalan ini semakin membusuk serta bisa menggiring bangsa dan negara menggali kuburan masa depannya.

Situasi menjelang Pemilu 2014, dalam perspektif kedaulatan bangsa dan negara, sungguh mencemaskan. Apa yang disampaikan Bung Karno dalam pidato ”Nawaksara” pada saat kekuasaannya sedang berada di ujung tanduk pada 22 Juni 1966 patut dicermati: ”Berdaulat dan bebas dalam politik, berkepribadian dalam kebudayaan, dan berdikari dalam ekonomi.” Semua ranah itu kini berada di tikungan sejarah dan di bawah ancaman, asing atau agen domestiknya, sehingga bangsa dan negara ini nyaris kehilangan kedaulatan, kepribadian, dan kemandirian dalam makna yang sejati.

Berdaulat penuh

Kemerdekaan bangsa tanpa kedaulatan adalah kemerdekaan palsu yang hanya bisa dinikmati mereka yang mengidap mentalitas terjajah. Di luar tampaknya merdeka, tetapi jiwanya telah dicuci pihak asing agar perasaan kemerdekaannya tumpul tak berdaya. Proklamasi kemerdekaan Indonesia bertujuan membebaskan bangsa dan negara ini dari suasana batin manusia budak dan manusia terjajah itu.

Apakah sistem demokrasi kita bisa digerakkan ke arah tujuan yang ”berdaulat penuh” itu? Jika mau, pasti bisa. Syaratnya: ucapkan ”selamat tinggal pada mentalitas budak dan mentalitas terjajah”.

Dengan pemenuhan syarat ini, waktu insya Allah akan berpihak kepada bangsa dan negara tercinta ini bersamaan dengan pulihnya kedaulatan penuh. [FM]

KOMPAS, 04 Februari 2014
Ahmad Syafii Maarif ; Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah

Pendidikan Politik

Komarudin Hidayat - File Media Indonesia

Oleh: Komaruddin Hidayat

Satu dasawarsa terakhir ini rakyat Indonesia mendapatkan pendidikan politik yang amat berharga bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Politik sebagai ilmu dan aktivitas akan selalu hidup dalam masyarakat dan negara mana pun di dunia. Kebutuhan masyarakat pada politik tak ubahnya kebutuhan masyarakat pada sandang, papan, kesehatan, dan keamanan. Pada dasarnya politik sebagai ilmu maupun aktivitas ingin memberikan bantuan dan janji-janji bagaimana memenuhi kebutuhan tersebut secara merata, tertib, dan berlangsung damai.

Kata “politik” itu sendiri sudah memiliki konotasi untuk menciptakan kehidupan yang tertib dan berkeadaban yang dibebankan terutama kepada polisi sebagai instrumen negara untuk mengatur warganya. Jadi, agenda pokok politik adalah menciptakan ketertiban, keamanan, dan kesejahteraan hidup warganya. Secara teoretis sekarang ini Indonesia memiliki ribuan universitas dan fakultas yang berkaitan langsung dengan pembelajaran bagaimana menyelenggarakan kehidupan bernegara dengan baik seperti ilmu politik, ilmu hukum, kebijakan publik.

Meski semakin banyak sarjana ahli ilmu politik dan hukum, masyarakat sering kali heran dan bertanya-tanya, mengapa kondisi politik semrawut dan agenda penegakan hukum semakin merosot? Pertanyaan dan gugatan senada juga dialamatkan kepada para sarjana tata kota dan ahli pengairan. Mengapa perkembangan kota-kota besar tidak tertata rapi, bahkan semakin kacau? Demikianlah seterusnya.

Keluhan serupa tentu saja bisa disampaikan kepada sarjana-sarjana dan profesor ahli dalam bidang ilmu lainnya, mengapa terdapat jarak yang menganga antara teori ilmiah yang dipelajari di kampus dan realitas sosial-politik yang tengah berlangsung dalam tubuh pemerintah dan masyarakat? Sekarang ini terdapat perkembangan dan kesempatan sangat menarik bagi mereka yang peduli serta ingin belajar politik, yaitu berlangsung pembelajaran politik yang tidak dibatasi di ruang kelas universitas saja, melainkan berlangsung di ruang kehidupan secara kasatmata, terutama melalui medium televisi (TV), radio, dan surat kabar. Bahkan juga bersentuhan langsung dengan para aktivis politik.

Sejak dari proses pembentukan partai politik, kampanye mengenalkan visi, misi, program, dan tokoh-tokohnya, semua itu merupakan pembelajaran politik yang amat berharga bagi rakyat. Dalam hal ini, peran televisi sangat fenomenal. Rakyat semakin akrab dengan wajah politisi nasional, dari partai politik (parpol) mana, bagaimana gaya bicaranya serta etikanya waktu berdebat dan berbagai aspek lain.

Begitu pun siapa-siapa saja para pengamat sosial-politik, rakyat semakin mengenal. Meskipun ongkos sosial dan material sangat mahal, selama satu dasawarsa terakhir ini bangsa Indonesia tengah menjalani sebuah proses pembelajaran dan metamorfosis menuju kedewasaan dan kecerdasan berpolitik untuk mewujudkan tata pemerintahan yang efektif, bersih, dan berwibawa. Dibandingkan dengan apa yang dialami beberapa negara di Timur Tengah, hiruk-pikuk demokratisasi dan reformasi di Indonesia tidak sampai menimbulkan perang saudara berdarah-darah seperti yang terjadi di Irak, Libya, Mesir, dan Suriah.

Sekarang ini tingkat kekecewaan terhadap proses politik dan penegakan hukum di Indonesia sudah kian merata dari Aceh sampai Papua. Begitu pun kepercayaan terhadap parpol kian tipis. Dari sisi pembelajaran politik, ini mengandung sisi positif. Artinya rakyat kian melek dan cerdas politik. Jika rakyat diposisikan sebagai mahasiswa, para ilmuwan politik dan elite parpol sebagai dosennya yang mesti menjelaskan, mengapa praktik politik di Indonesia mengalami pembusukan, lalu kapan model yang baik dan ideal menurut textbookyang baku?

Jadi, kalau satu dasawarsa terakhir ini merupakan bab yang menyajikan contoh politik amburadul, kapan rakyat diajak memasuki bab baru tentang politik yang rasional, etis, dan sehat? Yang juga ikut bertanggung jawab menyusun dan menyajikan kurikulum dan materi pembelajaran politik bagi rakyat adalah pemilik studio TV. Mereka telah berjasa menyajikan ruang kelas terbuka bagi publik tentang ragam teori dan praktik politik di Tanah Air. Pengelola TV mesti ikut mencerdaskan rakyat dan menjaga etika penyiaran. Ada beberapa TV yang lebih mementingkan bisnis dan kepentingan kelompoknya dengan mengabaikan tugas edukasi.

Kalau ini berkepanjangan, rakyat kita tidak akan naik kelas dalam belajar berpolitik. Mereka malah dibodohi dosen-dosen tidak bertanggung jawab yang agendanya sekadar mengejar keuntungan materi. Sangat dangkal dan banal. Yang menyedihkan, tetapi masih sulit diperbaiki, adalah proses dan kualitas rekrutmen wakil rakyat untuk duduk di lembaga perwakilan, baik di daerah maupun pusat.

Mereka berlabel wakil rakyat, tetapi rakyat tidak merasa diwakili, bahkan menganggap rendah wakilnya. Ini pembelajaran dan praktik politik yang tidak bagus. Kapan bab ini mesti tutup buku? [FM]

KORAN SINDO, 07 Februari 2014
Komaruddin Hidayat ; Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Mukjizat Salat Lima Waktu

Iluatrrasi Sholat - File Wajib Baca
Oleh: M. Masyhuri Mochtar

“Amal yang pertama kali akan diperhitungkan mengenai diri seorang hamba kelak pada hari Kiamat ialah salat; Jika salatnya baik, maka baik pulalah seluruh amalnya, dan jika salatnya rusak, maka rusak pulalah seluruh amalnya.”

(HR. Tirmidzi dan Ibn Majah)

Dari Hadis ini, agaknya salat merupakan ‘suplemen’ atas keseluruhan ajaran dan tujuan agama, yang di dalamnya termuat ekstrak atau sari pati semua bahan ajaran dan tujuan keagamaan, sehingga salat oleh Allah dijadikan barometer untuk ibadah lainnya. Buktinya, salat dijadikan tolok ukur baik dan tidaknya bermacam-macam kebajikan dan bentuk kegiatan yang telah ditetapkan oleh Allah; jika salatnya baik, maka baik pulalah segala amalnya, dan jika salatnya rusak, maka rusak pulalah segala amalnya. Di satu sisi salat juga menuntut pelakukanya untuk meninggalkan perbuatan keji dan mungkar. Allah menjelaskan dalam al-Qur’an, “Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS al-Ankabut [29]: 45).

Diberlakukannya kewajiban salat lima waktu mungkin masih menyisakan pertanyaan, apa hikmah yang terkandung di dalamnya? Mengapa lima waktu harus kerjakan dengan cara dicicil, tidak sekaligus dalam satu waktu? Pertanyaan itu tentunya harus dijawab meskipun dengan jawaban yang bersifat rabaan, karena menyangkut hikmah. Namun, baiklah di sini penulis akan memberikan sedikit gambaran mengenai mengapa umat Islam diwajibkan salat lima waktu?

Sebelumnya, kita coba untuk mengingat kembali tujuan dari salat, yang merupakan tindakan intraktif antara hamba dan Tuhannya, sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah bahwa salat sebagai mi‘râjul Mu’minîn. Di satu sisi, sebagai seorang hamba tentunya manusia dituntut untuk selalu mengingat Allah setiap waktu. Maka di sini Allah menfasilitasi hamba-Nya untuk menghadap setiap waktu-waktu yang telah ditentukan. Sebab, dengan melaksanakan salat lima waktu sehari semalam, seorang hamba akan selalu ingat kepada Tuhannya setiap saat, sehingga hubungan itu terus terjalin. Jika salat lima waktu hanya dikerjakan satu kali dengan diropel, tentunya lebih banyak nganggurnya daripada mengingat Allah, sehingga kontinuitas pengaruh ibadah berupa pertemuan dengan Allah tidak tercapai.

Asy-Sya’rani dalam Mîzânul-Kubrâ-nya menyatakan, justru dijadikannya salat lima waktu secara berulang-ulang setiap hari adalah salah satu nikmat yang diberikan oleh Allah. Setiap kali seseorang melakukan wudhu, maka ia akan mengingat dosa-dosa yang telah diperbuatnya hari itu, kemudian bersimpuh di hadapan Allah untuk memperoleh ampunan-Nya. Di sisi lain, saat wudhu, secara khusus seseorang dapat memohon ampunan dari-Nya dari dosa-dosa yang telah diperbuat melalui doa-doa yang diajarkan. Kemudian dilanjutkan dengan salat secara intens dan berharap ampunan-Nya, maka dosa-dosanya akan rontok satu persatu setelah mendapat ampunan dari Allah. Mungkin kenyataan seperti ini kelihatannya konyol, namun orang-orang yang diberi kemampuan lebih oleh Allah (al-Kasyfu) pasti akan melihat rontoknya dosa-dosa seorang hamba yang melakukan ibadah. Dan, merupakan nikmat dan rahmat dari Allah agar manusia tidak selalu menumpuk-menumpuk dosa.

Imam Bujairami mengakui bahwa ketentuan lima waktu dalam sehari semalam sifatnya ta‘abbudiy (peribadatan) yang tidak perlu dicari alasan rasionalitasnya, karena ini bukan bidang nalar. Namun, menurut sebagian ulama hikmah, di balik ketentuan lima waktu ini ada kaitannya dengan siklus kehidupan manusia. Sebab, kelahiran manusia yang diawali oleh kesempurnaan penciptaan Allah sewaktu di dalam perut ibunya, seperti halnya watu matahari terbit, yang diawali oleh fajar shadiq (waktu salat Subuh). Masa pertumbuhannya diibaratkan matahari yang meninggi, dan dewasanya ibarat waktu istiwak (awal waktu salat Zhuhur). Sedangkan ketika berumur 30-50, diibaratkan matahari yang condong ke ufuk barat (akhir waktu salat Zhuhur). Dilanjutkan masa tuanya yang diibaratkan matahari yang hampir terbenam (waktu salat Ashar). Matinya ibarat matahari yang terbenam (waktu salat Maghrib), dan hancurnya tubuh manusia seperti hilangnya mega merah di ufuk barat (waktu untuk salat Isya’).

Lebih dari itu, jika dikaji lebih lanjut, justru dengan disyariatkan lima waktu melalui tahapan yang telah ditentukan, manusia bisa menjalankan aktivitas kerja dengan efektif, sehingga seseorang bisa mengatur waktu sesuai dengan aturan menegemen Ilahi, sesuai dengan peredaran matahari. Pada akhinya, selain memperoleh kebaikan dunia juga dapat meraih kebahagiaan akhirat, dengan menunaikan ibadah secara sempurna. Apalagi salat adalah aktifitas fisik yang paling besar yang dapat membangkitkan spirit serta mengembalikan stamina tubuh yang kurang tenaga. Di saat tubuh lelah akibat bekerja keras, salat berfungsi sebagai suplemen tubuh. Di samping itu, salat yang diharuskan tepat waktu mengajarkan manusia untuk hidup dengan budaya on time (tepat waktu). Menyelaraskan diri dengan gerakan-gerakan planet, perubahan-perubahan musim dari beberapa variasi geografis, harmonis dengan siklus alam.

Kemudian, dari sisi jumlah rakaat, kalau kita hitung dalam sehari semalam umat Islam mengerjakan kewajiban salat sebanyak 17 rakaat. Apakah hikmah di balik 17 rakaat? Sama halnya dengan salat lima waktu yang ditentukan waktunya, Imam Bujairami mengatakan jumlah ini bersifat ta‘abbudiy. Namun sebagian ulama ada yang menafsirinya dengan mengaitkan angka 17 itu dengan kehidupan keseharian manusia. Sebab, biasanya dalam sehari semalam manusia berada dalam keadaan terjaga selama 17 jam; 12 jam di siang hari, 3 jam di permulaan malam, dan 2 jam di akhir malam. Di saat terjaganya, bisa jadi manusia melakukan tindakan dosa yang dilarang oleh agama, sehingga Allah memberikan fasilitas kepada manusia untuk menghapus dosa tersebut dengan diwajibkannya salat lima waktu yang berjumlah 17 rakaat. Dengan demikian, setiap satu rakaat dalam salat memiliki fungsi menghapus dosa dalam satu jamnya. Hal tersebut selaras dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah:

Sesungguhnya seorang hamba di kala berdiri mengerjakan salat, akan didatangkan dosa-dosanya, lalu diletakkan dosa-dosa itu di atas kepalanya atau di atas pundaknya. Bila ia rukuk atau sujud, maka dosa-dosa itu berguguran darinya. (HR. Ibnu Hibban).

Rasulullah swt juga menjelaskan dalam Hadis yang lain:

Salat lima waktu, begitu pula salat Jumat hingga Jumat berikutnya, adalah pelebur dosa antara satu salat dengan yang lain, selama tidak dilakukan dosa besar. Puasa Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya adalah pelebur dosa antara keduanya apabila dosa besar dijauhi. (HR. Muslim).

Pada akhirnya, salat dengan lima kali dalam sehari semalam, mengajarkan kepada manusia untuk dapat membersihkan diri dengan mengerjakan syarat yang harus dipenuhi sebelum salat, yaitu bersuci. Di samping itu, salat lima waktu mengajarkan kontinuitas pada pelakunya, baik dalam segi peribadatan maupun pekerjaan. [FM]

Sumber : Buletin Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan – Jawa Timur.

Galeri Bunga Adenium

Galeri Bunga Adenium, Kamboja Jepang atau Mawar Padang Pasir