Jumat, 03 Juli 2020

Hati


Hati,
hatiku berdebar,
berbolak-balik,
kadang ragu dan bimbang,
kadang teguh dan yakin.

Hati,
hatiku perih mendengar suara tangis,
bahagia mendengar suara tawa,
kadang bergetar dan ketakutan,
kadang marah dan ingin diam.

Hati,
hatiku lemah dan kecil,
tapi memendam selaksa misteri,
tempat bersemayam berjuta giga memori.

Hati,
hatiku ingin bergetar agar tak mati,
ingin berujar agar jadi mengerti,
ingin berjuang agar mencapai jati diri,
ingin bertindak dengan hati-hati,
tapi hatiku entahlah berdinding sepi,
tak berdaya seakan kehilangan energi.

Hati,
hatiku mengapakah kau kini,
bagai tak ada cahaya mentari,
bagai kumpulan asa tinggal setitik,
tak ada bahagia,
resah pun jadi.

Hati,
tapi kau adalah hatiku,
sukma dan jiwaku,
getar tasbih dan kehidupanku.

Hati,
hatiku tak usahlah menangis
demi permainan kehidupan yang bukan hakiki,
tak usahlah melaknat nasib diri,
karena semua itu hanyalah cobaan,
tidak abadi.

Hati,
Tempalah hati dalam bara perjuangan,
berjalanlah tabah menapaki puncak tebing,
kata hati itu nyata,
suara hati itu petuah,
pertimbangan hati itu wasiat,
bahasa hati itu kejujuran,
hati-hati itu keselamatan dan kebijaksanaan.

Mutiara Retak


Seorang lelaki duduk di sebuah tikungan jalan,
gerimis kecil membasahi tubuh dan bajunya yang kumal,
matanya tajam menerawang ke ujung jalanan,
memandangi orang yang lalu lalang,
menatap sambil menanti seseorang yang berjanji akan datang.

Lelaki itu masih tetap setia duduk di tikungan jalan,
meski hujan turun semakin deras,
"biarlah menjadi basah dan kedinginan, karena kehadiranmu lebih berharga dari segalanya" , gumamnya.

Senjapun berganti menjadi malam,
ketika terdengar adzan maghrib berkumandang bersahutan,
malam yang dingin menjadi makin mencekam,
karena tak seorangpun yang datang,
"huh! Percuma....." gumamnya dengan sedikit desahan kesal.

Lelaki itu adalah aku,
bukan siapa-siapa,
hanya menunggumu menerima mutiara retak,
yang telah lama aku genggam.

Ku pikir buat apa mempersembahkan mutiara retak,
meski perhiasan hanyalah cemoohan.
Kupikir mengapa harus memuja kesetiaan,
karena hanyalah anganan membabi buta.
Ku pikir
hanyalah pantas ku buang saja mutiara retak ini
ke tong sampah ataupun comberan,
tanpa penyesalan,
tanpa kekecewaan....

Gagasan Diplomasi Gus Dur dengan Israel


Gagasan Diplomasi Gus Dur dengan Israel

Forum Muslim - Dari sejumlah upaya dan perjuangan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dalam mendamaikan Palestina dan Israel, dapat dikatakan bahwa jauh sebelum ia menjadi Presiden RI, Gus Dur sudah melakukan diplomasi dengan Israel secara langsung.


Perbedaannnya, ketika masih menjadi aktivis perdamaian dan Ketua Umum PBNU, Gus Dur melakukan upaya tersebut melalui jalur diplomasi kultural. Sedangkan ketika ia menjadi Presiden RI, diplomasi dilakukan secara Government to Government.


Pada tahun 1994, Gus Dur pernah diundang secara langsung oleh Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin untuk menyaksikan penandatanganan perjanjian damai antara Israel dan Yordania. Saat ini, Israel berencana mencaplok wilayah Tepi Barat yang sudah berdiri banyak permukiman Yahudi, terutama di Yerikho dan Lembah Yordania. Permukiman tersebut dinilai banyak pihak sebagai permukiman ilegal.


Kisah diundangnya Gus Dur oleh Yitzhak Rabin itu ditulis oleh Djohan Effendi dalam Damai Bersama Gus Dur (2010). Djohan Effendi (Menteri Sekretaris Negara era Gus Dur) menceritakan bagaimana Gus Dur menangkap hasrat damai dari orang-orang Israel, tidak peduli latar belakangnya. Saat itu Gus Dur bertemu dengan orang Yahudi, Arab, Muslim, Kristen, dan ia merasakan hal yang sama akan keinginan damai.

Gus Dur bukan tidak tahu bagaimana penderitaan rakyat Palestina. Ia paham benar konflik yang terjadi di sana. Justru karena itu, pada saat ia menjadi presiden, Gus Dur mewacanakan membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Gagasan Gus Dur sederhana, Indonesia tidak mungkin bisa berperan dalam perdamaian Palestina dan Israel jika tidak menjalin hubungan diplomatik dengan keduanya.


Selain itu, Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Gus Dur punya kepentingan taktis. Dalam Damai Bersama Gus Dur (halaman 88), ada dua alasan yang diutarakan Gus Dur mengapa ia ingin menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.


Pertama, Gus Dur ingin memastikan kapitalis George Soros, yang keturunan Yahudi, tidak mengacaukan pasar modal. Kedua, ingin meningkatkan posisi tawar Indonesia di Timur Tengah, sebab selama itu Timur Tengah tidak pernah membantu Indonesia menghadapi krisis. Daya dan posisi tawar Indonesia saat ini semakin kuat di tengah bangsa-bangsa Arab. Mereka kerap meminta bantuan kepada Indonesia untuk menghadapi konflik-konflik yang ada.


Sejarah mencatat, Palestina merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia saat pertama kali diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 saat umat Islam di seluruh dunia sedang menjalankan puasa Ramadhan.


Upaya bangsa Indonesia untuk mendapatkan dukungan negara-negara di dunia bukan tanpa upaya, karena para pendiri bangsa, terutama para kiai dari kalangan pesantren mengenal dan berhubungan baik negara-negara di Timur Tengah sebagai sesama negara mayoritas Muslim kala itu.


Memahami akar sejarah tersebut, bangsa Indonesia juga terus berusaha keras untuk membantu kemerdekaan rakyat Palestina yang hingga kini masih jauh panggang dari api. Diplomasi tiada henti dilakukan oleh pemerintah RI untuk menghentikan kebrutalan Israel yang di-backup penuh oleh Amerika Serikat dalam menduduki wilayah Palestina sebab setiap hari menimbulkan banyak korban.

Eskalasi konflik bersenjata tersebut semakin meningkat ketika Amerika Serikat yang kini sedang dipimpin oleh Donald Trump memindahkan kantor Kedutaan Besarnya ke Yerussalem pada 2018 lalu. Itu artinya, Israel secara tidak langsung telah menguasai Al-Quds. Padahal, kota suci tersebut merupakan kediaman dari tiga bangsa, Islam, Nasrani, dan Yahudi itu sendiri. Artinya, Israel seharusnya tak saling mengkoloni, melainkan harus hidup berdampingan sebagai bangsa-bangsa lainnya.


Tercatat, saat itu pemindahan kedutaan besar AS ke Yerussalem memunculkan protes dari rakyat Palestina di perbatasan jalur Gaza dan wilayah lain. Namun, protes tersebut ditanggapi dengan peluru Israel sehingga sekitar 58 rakyat sipil gugur.


Bangsa Palestina, bukan hanya yang beragama Islam, tetapi juga yang beragama Nasrani dan Yahudi, kini sebagian besar wilayahnya diduduki oleh Israel. Dari konflik yang terjadi sejak 1930 silam, sudah tidak terhitung lagi jumlah korban yang bergelimpangan sia-sia.


Medan konflik Palestina-Israel meluas ke sejumlah negara termasuk Indonesia. Namun, konflik yang muncul justru dianggap sebagai konflik agama sehingga memunculkan sentimen kaum beragama di dalam negeri. Bahkan kini dijadikan komoditas politik untuk menarik simpati sejumlah golongan dalam rangka meraih kekuasaan. (Baca Makarim Wibisono, Diplomasi untuk Palestina: Catatan Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa, LP3ES, 2017)

Makarim merupakan salah seorang diplomat senior yang ditunjuk menjadi pelapor khusus untuk PBB dalam upaya mendapatkan informasi valid mengenai konflik Palestina-Israel. Informasi-informasi dari pelapor khusus tersebut dijadikan pertimbangan-pertimbangan dalam memutuskan kebijakan dua negara serumpun itu.


Namun, informasi dan data lengkap yang fakta-fakta di lapangan yang didapatkan oleh Makarim Wibisono seolah hanya menjadi pelengkap report. Sebab hingga kini, PBB tidak berkutik menyelesaikan konflik yang telah merenggut banyak nyawa tersebut.


Setiap upaya pendudukan selalu memunculkan tragedi dan banyak korban dari kalangan sipil. Upaya pendudukan inilah yang dilakukan oleh pihak Israel sehingga mendapat perlawanan dari rakyat Palestina. Sehingga keliru jika seseorang atau kelompok mempunyai pretensi bahwa konflik Palestina-Israel adalah konflik Islam dan Yahudi.


Sebab bangsa dan negara Palestina tidak hanya terdiri dari umat Islam, tetapi juga umat Nasrani dan Yahudi. Bahkan, beberapa kali terjadi eskalasi konflik, tidak sedikit umat Yahudi di seluruh dunia mengecam kebrutalan Pemerintah dan militer Israel. (FM/NU Online)

Kamis, 02 Juli 2020

Nyanyian Bebatuan


Alunan suara berhembus menyeruak kesunyian,
di penghujung sepi langkah lelah tetap tegar berdiri,
gelombang laut membiaskan cahaya purnama,
tempat bayang-bayang kelepak burung camar kembali ke sarangnya.

Alunan suara berhembus semakin deras menyeruak kesunyian,
malam semakin dingin meninggalkan sepenggal kisah,
tentang kau dan aku yang telah sepakat untuk berpisah.


Pergilah wahai belahan jiwa,
karena tak lagi kerinduan datang untuk diagungkan.
Pergilah mata hati cinta bersama kesucian malam,
mengiring nyanyian pasir menyeruak lautan.


Wahai permata hati yang telah lama retak,
wahai kenangan jiwa yang akhirnya sia-sia,
wahai nyanyian pilu yang tak berair mata,
wahai mawar sekuntum yang indah di taman,
pada saat gelombang laut tetap berkejaran,
dan kelepak burung camar makin lelah mencari pijakan,
pergilah dengan segenggam doaku,
segenggam asaku,
pergilah,
untuk tak berpaling lagi

Ruang Hati


Ruang hati telah Engkau beri,
tempat bersemayam cinta yang suci.
Ruang hati telah menjadi saksi,
tempat aku berjanji bahwa Engkaulah Illahi Robbi.
Ruang hati telah diamanati,
agar aku mengenalMu tanpa berpaling pada yang lain.
Ruang hati,
tempat aku berdzikir, memuji dan bertasbih.

Ya Illahi,
tapi ruang hatiku kotor penuh daki,
lemah penuh dengki,
digenggam alpa
dibelenggu derita.

Ya Illahi,
tapi ruang hatiku perih menatap yang lain,
cemburu bila tak berpaling,
sungguh hina bertahta amarah,
sungguh kalap tak dipuja-puja.

Ya Illahi,
pantaskah ruang hatiku menjadi suci,
bila masih tersisa pengharapan meski sedikit,
pantaskah aku tunduk merebahkan diri,
di antara genggaman TanganMu yang Maha Suci.

Ya Illahi,
ruang hati telah Engkau beri,
agar aku mengenalmu dengan kemurnian sanubari,
tapi aku selalu khilaf,
tapi aku tak pernah lelah memohon maaf.

Ya Illahi,
ruang hati yang Engkau beri,
adalah amanat suci yang tidak boleh di khianati,
di hadapanMu hamba bersembah sujud,
dalam genggaman takdirMu hamba berserah diri.

Ngaji Bareng Gus Baha' di Instagram

Pemandangan Sawah Di Kampung Petarukan

Pemandangan Sawah Di Depan Rumah

Kaligrafi Nabi Muhammad SAW

Rumah Limasan