Selasa, 11 Februari 2020

Pentingnya Berthariqat

Seandainya jalan kaum sufi bisa di tempuh dengan mengandalkan kefahaman ilmu saja tanpa bimbingan Guru Mursyid yang membimbing perjalanan Ruhani murid, maka tentu sekelas imam Al Ghozali (Hujjatul Islam) dan Syekh 'Izzuddin bin 'Abdissalam (Sulthonul Auliya') tidak perlu belajar adab pada Guru Mursyid.

Nyatanya, imam Al Ghozali menjalani suluk thoriqoh dibawah bimbingan syekh Abu Muhammad Al Bazighoni, sementara Syekh 'Izzuddin menjalani suluk thoriqoh dibawah bimbingan syekh Abul Hasan As Syadzili.

Sebelum masuk thoriqoh, beliau berdua sempat berkata;

 "Setiap orang yang menganggap ada jalan menuju ilmu ma'rifat selain jalan yg kami tempuh (hanya fikih/tekstual AlQur'an-Hadits) maka sungguh ia berbuat bohong pada Allah Swt".

Namun, setelah masuk thoriqoh, beliau berdua berkata

"Sungguh kami telah menyia-nyiakan umur kami dalam pengangguran dan terhalang dari Allah (hanya berkutat pada ilmu dhohir)".

*Syekh 'Izzuddin menambahkan :*

"Termasuk bukti bahwa kaum sufi konsisten mengamalkan syari'at, dan selain mereka hanya beramal secara tekstual, adalah karomah dan kejadian luar biasa yg tampak pada kaum sufi, dan hal itu tidak akan tampak pada kaum fuqoha' (pakar fikih) kecuali jika mereka menempuh jalan thoriqoh kaum sufi"

(Dari kitab Al Minan Al Kubro, Imam Abdul Wahab Sya'roni)


BERTEMU NABI, DUNIA KITA GENGGAM


Syaikh Sya'roni berkata: "Salah satu ajaran inti dalam tariqah adalah memperbanyak bacaan solawat kepada Nabi Muhammad SAW, sampai bisa bertemu beliau dalam keadaan sadar (bukan mimipi), menemani beliau seperti para Sahabat, dan bertanya langsung kepada beliau tentang ajaran, dan hadis-hadis yang dianggap doif, agar kita bisa dengan yakin mengamalkan ajaran Rasulullah.
 
Jika belum bisa bertemu Rasulullah, maka itu artinya kita bukan termasuk orang-orang yang sering atau tidak banyak bersolawat untuk kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Pada hakekatnya, Rasulullah adalah sosok syaikh sejati bagi kita. Baik melalui perantara para masyayikh toriqah atau tidak. 

Banyak sekali para waliyullah yang sudah bertemu langsung dengan Rasulullah dalam keadaan sadar (bukan mimpi). Di antaranya, ada  Sidi Ali Al-Khowas, Syaikh Muhammad Al-'adly, Syaikh Jalaluddin As-Suyuti, dan masih banyak juga waliyullah-waliyullah lainnya. 

Semoga kita segera menyusul bisa bertemu dengan kekasih kita, sayyidina Muhammad Shalallahu alaihi wasallam.

Jika sudah bisa bertemu beliau, dunia berada dalam genggaman kita. Bukan kita yg diperbudak dunia.

Amin ya Rabbal Al-Amin..

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ ۞ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ ۩

Manipulasi terhadap KH Hasyim Asy'ari

Tidak aneh lagi jika teman di seberang sana senang melakukan manipulasi terhadap karya-karya para ulama, tidak terkecuali Hadrotus Syaikh KH Hasyim Asy'ari, pendiri Jam'iyyah Nahdlatul Ulama. Nama Hadrotus Syaikh seringkali dicatut untuk menguatkan argumen orang-orang yang tidak suka dengan amaliyah kalangan santri, yang menurut mereka tidak sesuai dengan ajaran Islam. 

Di antara karya beliau, yang dicatut adalah karya yang berjudul al-Tanbihat li man yashna'ul maulida bil munkarat (Teguran kepada orang yang mengadakan Maulid dengan Kemungkaran). Dengan menggunakan judul itu, orang-orang seberang langsung membuat simpulan bahwa Hadrotus Syaikh menganggap bahwa mauldid merupakan perbuatan munkar. Padahal, maksud dari judul tidaklah begitu. 

Tidak cukup dengan memanipulasi judul, orang-orang itu kemudian menampilkan narasi dari Hadrotus Syaikh, yang dijadikan sebagai argumentasi. Narasi itu adalah:

 قد رأيت في ليلة الإثنين الخامس والعشرين من شهر ربيع الأول من شهور السنة الخامسة  الخامسين بعد الالف والثلاثمائة من الهجرة أناسا من كلبة العلم في بعض المعاهد الدينية يعملون الاجتماع باسم المولد. 

Pada malam senin, tanggal 25 Rabiul Awwal yaitu pada tahun 1355 H, saya melihat sekelompok pelajar pesantren mengadakan kumpulan yang disebut sebagai kumpulan maulid. 
 
وأحضروا لذلك الات الملاهي ثم قرأوا يسيرا من القران والاخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الايات وما بعده من سيره المباركات

Di dalam acara itu mereka menampilkan alat-alat musik. Mereka juga membaca sedikit dari ayat al-Qur’an dan riwayat-riwayat tentang permulaan dakwah Nabi, serta peristiwa yang terjadi pada saat kelahiran beliau, seperti tanda-tanda keistimewaan dan sejarah perjalanan hidup beliau yang penuh dengan keberkahan.  

ثم شرعوا في المنكرات مثل التضارب والتدافع المسمى عندهم بفنجاأن و بوكسن وضرب الدفوف. 

Setelah itu mereka melakukan perbuatan-perbuatan munkar, seperti pencak silat dan tinju

كل ذلك بحضور نسوة اجنبيات قريبات منهم مشرفات عليهم والموسيقي وستريك واللعب بما يشبه القمار واجتماع الرجال والنساء مختلطات ومشرفات والرقص والاستغراق في اللهو والضحك وارتفاع الأصوات والصياح في المسجد وحواليه فنهيتهم وأنكرتهم عن تلك المنكرات فتفرقوا وانصرفوا

Semua itu dilakukan dengan menampilkan sekelompok perempuan yang bukan mahram dan juga musik. Selain itu, turut ditampilkan juga permainan cetrik yaitu sejenis perjudian. Laki-laki dan perempuan bercampur saling bertatapan, mereka larut dalam kesenangan melalui tarian, tawa, dan teriakan-teriakan di dalam masjid dan sekitarnya. Melihat itu, saya langsung melarang dan mengingkari apa yang mereka lakukan. Mereka pun bubar dari tempat maulid itu. 

Jika  narasi Hadrotus Syaikh itu hanya dibaca sampai sini, gambaran yang ditangkap pembaca adalah bahwa isi dari peringatan  maulid adalah kemungkaran sebagaimana ditulis. 

Persepsi itu akan berubah jika uraian Hadrotus Syaikh dibaca lanjutannya, sebagai berikut:

ولما كان الأمر كما وصفت وخشيت ان تسري هذه الفعلة المخزية الى امكنة كثيرة ويزيد العوام من أهلها أنواعا من المعاصي وربما تؤدي بهم الى الى ان يمرقوا من دين الإسلام وضعت هذه التنبيهات نصحا للدين وارشادا للمسلمين 

Sebagaimana yang telah saya deskripsikan tadi, saya mempunyai kekhawatiran jika perbuatan tercela ini akan menyebar ke banyak tempat. Dan karena ketidaktahuannya, banyak masyarakat awam yang bertambah melakukan kemaksiatan. Bahkan bisa jadi, itu akan menyebabkan mereka keluar dari ajaran Islam, maka saya tulis peringatan ini, sebagai bentuk nasihat di dalam ajaran agama, dan bimbingan bagi seluruh umat Islam. 

يؤخذ من كلام العلماء الاتي ذكره ان المولد الذي يستحبه الائمة هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القران ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في حمله ومولده من الإرهاصات وما بعده من سيره المباركات ثم يوضع له طعام يأكلونه وينصرفونه وان زادوا على ذلك ضرب الدفوف مع مراعاة الادب, فلا بأس بذلك

Berikut adalah pendapat para ulama mengenai maulid: bahwa peringatan maulid Nabi yang disukai para ulama adalah berkumpulnya orang-orang , dibacakan di situ beberapa ayat al-Qur’an, serta riwayat-riwayat yang berkaitan dengan kehidupan Nabi, seperti peristiwa pada saat kehamilan Ibunya, kelahirannya, dan kejadian-kejadian luar biasa yang terjadi pada saat Nabi dilahirkan. Dibacakan pula sejarah kehidupan beliau, yang penuh dengan keberkahan. Setelah itu diletakkan hidangan untuk hadirin sebelum mereka pulang. Kalaupun ditambahkan di dalam peringatan itu, memukul rebana, sambil menjaga adab, tidak mengapa itu dilakukan.

Dari uraian ini dapat dipahami bahwa Syaikh KIai Hasyim Asy'ari tidak anti maulid.

Senin, 10 Februari 2020

Bersatunya Umat Islam


By. Ahmad Sarwat, Lc.MA

Wujud perrsatuan umat Islam itu tidak harus seluruh umat Islam sedunia ini bernaung di bawah satu negara dan satu khalifah. Bahkan di masa Ali bin Abi Thalib yang nota bene masih dalam radius khilafah rasyidah, juga sudah ada semacam dualisme pemerintahan. 

Dan hal semacam itu terus berlanjut sepanjang sejarah umat Islam. Dalam kenyataannya, sepanjang masa tiga kekhalifahan besar Bani Umayah, Bani Abasiyah dan Bani Ustaminyah pun, umat Islam tidak pernah bersatu secara bulat di bawah satu khilafah.

Silahkan baca fakta sejarah, bajwa di saat berdiri khilafah Bani Abbasiyah yang berpusat di Baghdad, pada kurun yang kurang lebih sama, di Spanyol juga berdiri khilafah Bani Umayah jilid 2.

Selain itu kita juga mengenal banyak sekali daulah dengan ukuran lebih kecil, seperi Bani Fatimiyah di Mesir lalu diteruskan dengan Bani Ayyubiyah, Daulah Murobthin, Daulah Mughal di India. Termasuk juga kesultanan Islam di nusantara yang ada banyak itu merupakan fakta yang tidak bisa dipungkiri. 

Kerajaan Saudi Arabia berdiri tahun 1932, sebenarnya merupakan wilah Turki Utsmani yang memisahkan diri dan berdaulat sendiri.

Apakah adanya ta'addudiyah (kemajemukan) pusat-pusat pemerintahan dan kekuasaan Islam sepanjang sejarah mau kita nafikan begitu saja? Atau mau kita anggap sebagai sebuah kezaliman dan kedurhakaan? 

Tentu tidak semudah itu kita menilai. Karena kita malah akan meruntuhkan sejarah kejayaan umat Islam itu sendiri. Tidak mungkin kita hanya mengakui masa khulafaurrasyidin yang hanya 30 tahun, sambil menafikan sejarah umat Islam berikutnya yang 1370 tahun sisanya.

Sebagai sebuah ijtihad, oke saja lah kalau bercita-cita menyatukan umat Islam sedunia. Tapi kalau main paksa sambil tuduh sana tuduh sini, apalagi sambil mencibir pendapat yang berbeda, itu saja sudah menunjukkan bahwa ide menyatukan umat Islam sudah diinjak-injaknya sendiri.

Tantangan Kembali Kepada Al-Quran


By Ahmad Sarwat, Lc.MA

Tidak semudah mengucapkannya, kembali kepada Al-Quran itu bukan perkara sederhana. Kalau sekedar klaim memang mudah kelihatannya. Namun begitu dijalankan, ternyata banyak sekali tantangannya.

Ada banyak sekali kendalanya. Tidak sembarang orang bisa melakukannya dengan benar. Hanya para ekspert dan ahlinya saja yang mendapatkan ijin melalukannya. 

Sedangkan buat kita yang awam, bukan ekspert dan tidak terdidik dengan benar, diperingatkan dengan keras untuk tidak  melakukannya, kecuali di bawah bimbingan dan pengawasan ahli.

Kembali kepada Al-Quran itu mirip dengan menerbangkan pesawat. Tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang. Tidak mentang- mentang dia orang kaya tajir melintir dan punya duit segudang buat beli selusin pesawat, kemudian merasa boleh seenaknya menyupiri pesawat.

Israel


By Ahmad Sarwat, Lc.MA

Al-Quran banyak sekali bicara tentang Bani Israil, bahkan ikut juga menjadi nama salah satu surat, yaitu urutan ke-17, Surat Bani Israil. Memang nama lainnya disebut Surat Al-Isra', karena ayat pertamanya bercerita tentang isra'-nya Nabi Muhammad SAW

Siapakah sebenarnya Israil itu sampai namanya jadi nama surat dalam Al-Quran. 

Israil sebenarnya nama seorang nabi, yaitu Nabi Ya'qub alaihissalam. Beliau putera dari Nabi Ishaq dan Nabi Ishaq adalah putera kedua dari Nabi Ibrahim alaihimussalam. 

Israil punya 12 anak, salah satunya Nabi Yusuf alaihissalam, dimana surat ke-12 juga dinamakan Surat Yusuf.

Jadi sebenarnya Israil ini seorang nabi, anak nabi dan cucu nabi, bahkan ayah dari seorang nabi. 

Nanti keturunan Nabi Yusuf pun ada juga yang jadi nabi, seperti Nabi Musa alaihissalam. 

Yang menarik, sekarang mereka para keturunan Bani Israil sepakat mendirikan sebuah negara tersendiri yang mereka beri nama dengan nama kakek moyang mereka, Israel. 

Ceritanya panjang hingga perang berdarah-darah selama puluhan tahun, karena rebutan lahan di tanah yang memang sejak dulu pun sudah jadi rebutan hampir semua agama. Harus diakui bahwa Israel akhirnya berhasil menahan semua serangan dari bangsa Arab dan mendudukkan hampir semuanya di meja perundingan.

Hari ini nyaris seluruh musuh Israel sudah mengakui keberadaan mereka, termasuk mantan musuh besarnya yaitu Mesir. Lewat perjanjian Camp David di tahun 1978, perang Arab Israel selama 30 tahun pun berakhir. Cairo dan Tel Aviv saling membuka Kedutaan Besar masing-masing di ibukota bekas lawan perangnya.

Kalau pun sekarang masih ada konflik bersenjata, tidak secara official perang antar dua negara. Yang bermain adalah milisi-milisi tertentu yang disponsori secara diam-diam dan terselubung oleh pihak tertentu dari berbagai penjuru dunia. Kalau pun ada negara yang anti Israel, sebatas main ancam saja, tidak secara fisik menembakkan nuklir atau mengirim pasukan. 

Yang menarik, ternyata kita Indonesia sampai hari ini masih konsisten secara officially tidak mengakui Israel sebagai sebuah negara. Selain kita ada Malaysia, Brunai Darussalam, Iran, dan Arab Saudi. Palestina tentu ikut juga. Semua memang negara berpenduduk mayoritas muslim.

Yang aneh menurut saya kok ada juga Venezuela dan Bolivia, yang ternyata mereka ikut-ikutan tidak mengakui Israel. Saya tidak tahu motivnya apa. 

Selain 5 negara muslim di atas, hampir semua negara Arab atau berpenduduk mayoritas muslim justru punya hubungan diplomatik dengan Israel, termasuk Mesir, Suriah, Irak, Yaman, Qatar, Emirat, Kuwait, Turki, Libanon, Jordan, Oman, Libya, Tunis, Aljazair, Maroko, India, Pakistan, Bangladesh, dan lainnya.

Yang lucu kita orang Indonesia, meski tidak punya hubungan diplomatik, namun arus wisatawan kita kesana terus mengalir sepanjang tahun. Masuknya tidak lewat Mesir atau jalur Gaza, tapi lewat border di Jordan.

Tidak pakai passport tapi pakai pass masuk khusus. Banyak travel yang menawarkan umroh plus Aqsha yang berada di dalam daerah yang diklaim sebagai Israel. 

Lalu banyak orang berdebat tentang boleh tidaknya secara hukum, karena menurut sebagian kalangan dianggap seperti mengakui Israel. Namun ada hadits Nabi SAW yang amat mengajurkan kita ziarah ke tiga masjid, salah satunya Masjid Al-Aqsha.

Hadits Itu Tempat Orang Tersesat


Oleh : Ust. Ahmad Sarwat LC

Lengkapnya begini :

الحديث مضلة إلا للفقهاء

Hadits itu madhallah yaitu tempat orang tersesat, nyasar, keliru, dan salah jalan. 

Kok bisa?

Bisa, karena hanya para fuqaha saja yang bisa mengumpulkan ribuan hadits dari berbagai sanadnya. Para fuqaha juga yang bisa menyeleksi mana yang maqbul dan mana yang tidak. 

Lalu para fuqaha pula yang bisa menentukan mana yang 'aam dan mana yang khash, mana yang bermakna haqiqi dan mana yang majazi, mana yang nasikh dan mana yang mansukh. 

Dan hanya fuqaha saja yang bisa menetapkan 'illat hukum yang terkandung dalam sebuah hadits. 

Kalau levelnya baru sekedar ahli hadits, peranannya baru sebatas menyeleksi mana uang shahih dan mana yang tidak. Namun para ahli hadits belum dilengkapi kemampuan dalam melalukan istinbath hukum. 

Core bisnis ahli hadits sebatas pada validitas suatu hadits. Tapi tidak sampai kepada kesimpulan hukumnya. Pekerjaan semacam itu di luar wewenang seorang ahli hadits.

Kesimpulan hukum itu didapat lewat proses istinbath, tidak sah dan terlarang dilakukan oleh sembarang orang, termasuk bila kapasitasnya baru sekedar ahli hadits. 

Dibutuhkan level yang lebih tinggi dari sekedar ahli hadits, yaitu level fuqaha. 

Ahli hadits itu apoteker, fuqaha itu dokter. Yang boleh mengobati pasien itu dokter, apoteker membantu kerja dokter dalam satu bidang, yaitu obat-obatan.

Apoteker tidak boleh buka praktek pengobatan, apalagi nyuntik orang. Dan kalau sampai ada apoteker membedah cesar perut ibu hamil, dia langsung masuk penjara.

Apoteker yang udah pikun, dia bukan hanya merasa jadi dokter, tapi merasa jadi kepala rumah sakit, bahkan merasa diri seorang menteri kesehatan. 

Maklum namanya juga pikun.

Syar'u Man Qablana dalam Al-Quran

By. Ahmad Sarwat, Lc.MA

Dalam Al-Quran banyak sekali termuat kisah umat sebelum kita. Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik.

Namun jangan lupa bahwa syariat mereka tidak selalu sama dengan syariat yang turun kepada kita. Ilmunya ada dalam ushul fiqih, yang disebut : syar'u man qablana.

1. Sujud Kepada Manusia

Misalnya dikisahkan dalam Al-Quran bagaimana malaikat sujud kepada Adam, atau ayah ibu dan saudara-saudara nabi Yusuf sujud kepadanya. Kita tahu sujudnya mereka bukan sujud ubudiyah, tapi sujud penghormatan. 

Namun dalam syariat kita tetap saja sujud kepada selain Allah itu dilarang, meskipun sekedar untuk penghormatan. 

2. Bikin Patung

Nabi Sulaiman memerintahkan untuk bikin patung-patung (tamatsil). Pastinya tidak untuk disembah. Hal semacam itu disebutkan dalam Al-Quran.

Namun dalam syariat kita, kebanyakan para ulama sepakat mengharamkan patung 3 dimensi berupa makhluk hidup seperti manusia dan hewan. Sedangkan gambar di atas bidang datar mereka beda pendapat akan larangannya.

3. Memelihara Jin

Kisah Nabi Sulaiman memelihara jin yang siap disuruh-suruh itu ada dalam Al-Quran. Namun bolehkah kita umat Muhammad memelihara jin berkolaborasi? 

Kebanyakan ulama melarangnya. Meski ada satu dua yang membolehkan.

4. Dosa Langsung Diazab

Kisah umat terdahulu dalam Al-Quran rata-rata tidak ada yang happy ending. Kebanyakan kisah mereka di dalam Al-Quran langsung disiksa dan diazab denga beragam teknik.

Ada yang dibenamkan dalam banjir bandang,  ditenggelamkan di laut merah, dijebloskan ke dalam bumi, ditiupkan angin ribut,  digoyang gempa, dikejutkan suara suara memekakkan telinga, dan lainnya.

Malah ada yang dikutuk jadi monyet selama beberapa hari sebelum akhirnya dimatikan. Pokoknya semua horor. Dan hukuman itu dibayar kontan.

Berbeda dengan perlakuan Allah kepada kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Meski orang senegara kafir semua, bahkan pada jadi atheis sekali pun, ternyata hukuman buat mereka tidak langsung dibayar kontan. Ada semacam penangguhan dari Allah.

Seandainya hukuman model umat terdahulu masih berlaku saat ini, maka peta demografi dunia berubah. Bencana alam kiriman Allah hanya akan melanda negeri yang bukan muslim saja. Negeri Islam dijamin aman-aman saja. 

Bencana yang mematikan manusia hanya sebatas Benua Eropa, Australia, Amerika, sebagian Asia dan Afrika.

Dan negeri yang mayoritas muslim seperti Indonesia, Pakistan, Turki, dan negara-negara Arab pastinya steril dari bencana. 

Bayangkan akan terjadi migrasi besar-besaran dari sejumlah negara kafir ke negara-negara Islam. Dan akan ada antrian panjaaaaang untuk masuk Islam. Halaman masjid dipenuhi calon muallaf yang waiting list berbulan-bulan. 

Tapi . . .

Syariat kita tidak sama dengan syariat umat terdahulu. Tidak mentang-mentang suatu negeri banyak orang kafirnya, lantas diturunkan azab. Sebaliknya, tidak mentang-mentang suatu negeri banyak muslimnya, dijamin aman dari bencana.

Wajib Membakar Rumah Orang?


By. Ahmad Sarwat, Lc.MA

Saya yakin sekali pasti Anda pernah baca hadits tentang Nabi SAW mau bakar rumah orang yang tidak shalat berjamaah berikut ini.

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

Demi dzat yang jiwaku ada ditanganNya, sungguh aku bertekad meminta dikumpulkan kayu bakar lalu dikeringkan (agar mudah dijadikan kayu bakar). Kemudian aku perintahkan shalat, lalu ada yang beradzan. Kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami shalat dan aku tidak berjamaah untuk menemui orang-orang (lelaki yang tidak berjama’ah) lalu aku bakar rumah-rumah mereka (HR. Bulhari)

Dari hadits yang shahih si atas itu, kalau ada yang bakar rumah orang lain hari ini, alasannya karena penghuni rumah tidak shalat jamaah ke masjid, kira-kira hukumnya apa? 

Boleh dibakar? Wajib dibakar? Sebaiknya dibakar? Atau haram dibakar?

Jawabnya : haram bakar rumah orang, biar penghuninya bukan sekedar tidak jamaah ke masjid, bahkan  tidak pernah shalat lima waktu. Hukumnya haram bakar rumah mereka.

Kok haram? Bukankah Nabi SAW sendiri mau membakarnya? Bukankah haditsnya Shahih Bukhari?

Bagaimana menjawab pertanyaan macam ini? Gampang, saya tanya balik dan mohon dijawab : Sudah ada berapa rumah yang hangus dibakar oleh Nabi SAW gara-gara penghuninya tidak jamaah ke masjid? 

100 rumah? 200 rumah? 300 rumah?

Jawabnya NOL BESAR alias tak satu pun rumah yang dibakar oleh Nabi SAW.

Kita tidak pernah baca hadits yang menceritakan bahwa tokoh munafiqin Madinah macam Ubay bin Salul ngungsi ke masjid gara-gara rumahnya kebakaran. Soalnya orang munafik itu kan cirinya males kalau disuruh shalat. Lalu rumahnya dibakar deh sama Nabi SAW. Lalu dia sekeluarga ngungsi ke masjid. 

Hehehe, tidak ada kisah kayak gitu. Terlalu imaginer. Tak satu pun rumah di Madinah yang dibakar oleh Nabi SAW. Jangan keliru memahami hadits. Bisa kesasar dan salah jalan nanti. 

Bahwa Nabi SAW bicara mau bakar rumah, itu memang gaya bahasa khas orang Arab. Jangan salah paham, fokus. Kan Beliau SAW juga pernah mau wajibkan siwak kepada umatnya setiap kali shalat. Tapi tidak jadi kan? Karena memberatkan.

Malah Nabi SAW larang kita lewat depan orang shalat, mendingan nunggu orang itu selesai shalat meski nunggunya sampai 40 tahun. 

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ مِنَ الإِْثْمِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

Andaikan seseorang yang lewat di depan orang yang shalat itu mengetahui dosanya perbuatan itu, niscaya diam berdiri selama 40 tahun itu lebih baik baginya dari pada lewat. (HR. Al Bukhari Muslim)

Hehe shalat apa kok sampai kudu ditungguin 40 tahun lamanya? Lha emangnya dia gak shalat 5 waktu?

Yang satu tema dengan hadits itu malah lebih parah. Kalau yang mau lewat tetap nekat juga, Nabi SAW malah suruh kita bunuh atau memeranginya

فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ

Kalau ada seseorang yang mencoba lewat di depannya, maka cegahlah. Jika ia enggan dicegah maka perangilah dia, karena sesungguhnya ia adalah setan” (HR. Al Bukhari Muslim)

Orang lugu bisa saja keliru. Gara-gara kebelet ingin jalankan hadits itu, maka tiap mau ke masjid selalu bawa golok. Ya, cuma jaga-jaga aja. Siapa tahu pas lagi shalat ada orang yang nekat mau melewati, kan tinggal bacok doang. Gak usah repot cari golok maksudnya.

Kasihan banget tuh orang yang jadi korbannya. Bener sih rumahnya selamet gak dibakar. Kan dia jamaah ke masjid. Eh, pas mau pulang, lehernya kena bacok gara-gara melewati orang shalat. 

Gile lu Ndro

Bai'at Ulang


Dalam tradisi kelompok pergerakan, khususnya yang rada underground, kita sering menemukan bai'at kepada pemimpin.

Buat kelompok ISIS, Al-Qaidah, Taliban dan sejenisnya, bai;at tentu bukan masalah yang asing.

Namun berbeda dengan bai'at aslinya di masa kenabian, bai'at yang dikembangkan di kelompok-kelompok itu seringkali diprlintir jadi semacam syahadat ulang. Maksudnya, kalau belum berbai'at sama pimpinan, maka dianggap bukan muslim. 

Maka kalua dalam aksinya mereka kok bias dengan mudah membunuh sesama muslim, sebenarnya dalam pandangan mereka, semua yang tidak berbai'at kepada imam mereka statusnya bukan muslim, alias kafir.

Bedanya tinggal masalah kafirnya kafir harbi atau kafir zimmi. Kafir harbi dalam pandangan mereka itu tantara, polisi dan juga apparat negara. Sedangkan kafir zimmi itu ya kita-kita ini, yang  tidak berbaiat kepada imam mereka. 

Pada dasarnya kita tidak jadi target sasaran pembunuhan, tapi kalua terpaksa harus terkena ledakan bom atau peluru nyasar, ya itu resiko. Dianggap sebagai collateral damage. Tetapi tetap -saja kita ini kafir-kafir juga di mata mereka.

Maka kalau ada yang sadar dan tobat kembali ke jalan yang benar, ritualnya mereka kudu bayar kaffarat dulu dan berbai'at ulang kepada pemimpin negara NKRI yang sah. Tanpa bai'at ulang, dalam pandangan mereka kita masih tetap kafir.