Rabu, 19 Desember 2018

Anis Baswedan

Gubernur DKI jakarta Anis Baswedan

Catatan dari ILC: Bagaikan Ada ‘Hubungan Asmara’ antara Kubu Jokowi dan KPU

By Asyari Usman

Ada beberapa catatan dari acara ILC tvOne malam tadi (18/12/2018). Yang paling menarik adalah penampakan ‘benang merah’ yang menghubungkan kubu Jokowi dan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Yang dibicarakan malam tadi adalah soal kotak suara pemilu 2019 yang terbuat dari kardus.

Seperti biasa, posisi duduk narasumber (narsum) sengaja dikelompokkan di kiri dan di kanan meja panel. Malam tadi, yang dianggap sebagai pengkritik KPU didudukan di sebelah kanan meja panel (sebelah kiri layar TV), sedangkan para narsum lainnya didudukkan di bagian kiri panel (sebelah kanan layar TV).

Bukan pengelompokan kiri-kanan itu yang akan kita cermati. Tetapi isi komentar para narasumber dan ‘gesture’ yang mereka perlihatkan. Para narsum yang duduk di sebelah kiri layar TV adalah kelompok yang mengkritik kotak suara kardus (sebut saja pengkritik). Sedangkan para narsum yang duduk di sebelah kanan layar TV adalah kelompok yang membela kardus, sekaligus yang membela KPU (sebut saja pembela). 

Kelompok pengkritik kardus terdiri dari Chusnul Mariyah (mantan ketua KPU), Titi Anggraini (direktur eksekutif Perludem, LSM kepemiluan), Ferdinan Hutahaean (politisi Partai Demokrat), dan Djamal Aziz (caleg Gerindra). 

Kelompok pembela kardus adalah Ali Muchtar Ngabalin (jurubicara Istana), Arteria Dahlan (politisi PDIP), dan Akbar Faizal (politisi NasDem). 

Kalau kita sederhanakan perdebatan ILC tentang kotak suara kardus ini, sangat beralasan untuk menyebut kelompok pengkritik kardus mewakili pihak oposisi (capres 02) di dalam kontestasi pilpres sekarang ini. Sebaliknya, sangat beralasan juga untuk menyebut kelompok pembela kardus mewaikili pihak petahana (capres 01), yaitu kubu Jokowi.

Nah, setelah tayangan hampir selesai, ada semacam pengerucutan yang sangat menarik untuk dicatat. Pengerucutan yang sangat politis dan kental beraroma “hubungan baik” antara kubu Jokowi dan KPU. Apa indikasinya?

Perhatikan saja narasi, gaya bahasa, intonasi, dan piliha kata yang digunakan oleh para narasumber kubu Jokowi. Arteria Dahlan, misalnya, dengan narasi dan intonasi yang cukup otoritatif menggambarkan bahwa semua yang dilakukan KPU untuk pemilu (termasuk pilpres) 2019, sudah sangat baik. Pantas dihargai, wajar diacungkan jempol. KPU, menurut Arteria, telah bekerja keras. Bagi dia, kotak suara kardus tidak ada masalah baik secara legalitas maupun teknis.

Akbar Faizal juga memberikan dukungan penuh kepada KPU. Dia sepakat dengan Arteria tentang kinerja KPU yang dirasakannya tak perlu diragukan. Begitu juga Ali Muchtar Ngabalin. Jurubicara Istana yang terkenal ‘ngotot’ ini juga membela KPU.

Nah, apa yang bisa kita intisarikan dari pembelaan kubu Jokowi pada KPU?

Menurut hemat saya, para narasumber kubu Jokowi itu tampak-tampaknya datang ke acara ILC malam tadi dengan bekal dan misi yang sama, yaitu melindungi serangan terhadap KPU. Tidak ada sedikit pun kritik mereka terhadap cara kerja lembaga penyelenggara pemilu itu. Sangat kontras dengan kritik-kritik tajam yang disampaikan oleh kubu oposisi.

Pembelaan “full force” dari kubu Jokowi itu, menurut saya, mengisyaratkan adanya sesuatu yang istimewa antara mereka dengan KPU. Mirip dengan “hubungan asmara” antara dua sejoli yang tak terpisahkan lagi. Yang satu siap mati demi yang lainnya.

Bagaikan ada percintaan yang telah terbina lama antara keduanya. Atau, bisa juga bagaikan ada “percintaan paksa” antara kubu Jokowi sebagai pria yang punya segala-galanya dan si cewek cantik KPU yang bisa memberikan kebahagiaan lahir-batin.

Entahlah. Boleh jadi saya ini sudah sampai pada level cemburu melihat hubungan intim lima tahunan antara kedua sejoli itu. Wallahu a’lam.

Yang jelas, saya melihat dominasi si cowok petahana yang kaya-raya itu sangat kuat terhadap si cewek sexy KPU. Tak akan ada lagi pria lain yang mampu menerobos masuk ke halaman rumah si cewek. Dan tak bakalan ada yang bisa menasihati mereka.

Sebagaimana ‘nature’ kasmaran tegangan tinggi, tentulah kedua sejoli akan semakin sering memadu cinta. Siang atau malam, terang-terangan atau gelap-gelapan, di tempat terbuka maupun di tempat tertutup. Pengeluaran besar tak masalah, apalagi pengeluaran kecil.

Untuk sementara ini, kita lihat saja bagaimana nanti kelanjutan hubungan asmara mereka.

(Penulis adalah wartawan senior)

Serang Poligami, Grace Natalie dan PSI Frontal dengan Islam

PSI Menentang poligami

By Asyari Usman

Di Surabaya, pada 11 Desember 2018, ketua umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie, akhirnya menunjukkan dengan jelas misi dia pribadi dan partainya. Dia menyerang poligami. Dia mengatakan poligami adalah sumber ketidakadilan bagi perempuan. Dia berjanji akan memperjuangkan larangan berpoligami kalau PSI berhasil masuk ke parlemen, tahun depan.

Pernyataan Grace itu kemudian disambut oleh ketua Komnas Perempuan, Imam Nakha’i. Dia mengatakan, poligami bukan ajaran Islam.

Setelah itu, bermunculanlah reaksi-reaksi keras. Sekjen MUI Anwar Abbas mengatakan, pernyataan bahwa poligami bukan ajaran Islam sama sekali tidak berdasar dan menyesatkan. Beberapa tokoh lain ikut berkomentar. Ketua Umum PPP Muhammad Romahurmuziy memperingatkan agar PSI tidak menyerang keyakinan. Jurubicara TKN Jokowi-Ma’ruf (Ko-Ruf), Farhat Abbas, malah meminta agar PSI dikeluarkan dari koalisi Jokowi.

Sedikit tentang kesimpulan Grace bahwa poligami adalah sumber ketidakadilan bagi perempuan. Ada yang perlu dipertanyakan. Bagaimana cara kesimpulan ini dibuat? Dari mana ketua PSI bisa tahu poligami selalu tidak adil?

Menurut saya, Grace tidak bisa membuat kesimpulan yang simplistik dan cenderung memburukkan poligami. Dan juga memburukkan semua pernikahan poligami yang sah di dalam Islam. Kesimpulan itu kelihatannya lebih banyak dipegaruhi oleh perasaan Grace sebagai perempuan yang tak suka suaminya beristri lebih dari satu.

Menilai dengan perasaan, tentu boleh-boleh saja. Tetapi, semua rumah tangga poligami tidak bisa digeneralisasikan sebagai TKP ketidakadilan. Tidak saya pungkiri bahwa poligami bisa saja bermasalah. Namun, menjatuhkan vonis bahwa setiap poligami sama dengan ketidakadilan, sangatlah gegabah.

Karena itu, saya melihat tekad Grace untuk membuat UU yang melarang poligami bilamana PSI berhasil masuk ke DPR merupakan serangan terhadap syariat Islam. Dan saya melihat Grace dan PSI mempunyai misi yang jauh lebih besar dari sekadar mempersoalkan poligami. Menurut saya, dia berusaha untuk mengobrak-abrik Islam dengan berkamuflasekan ketidakadilan poligami. 

Nah, mengapa Grace Natalie menyerang poligami? Apakah langkah dia mengutak-atik poligami terjadi secara spontan?

Saya berpendapat bukan spontanitas. Kalau dilihat dari proses kelahiran PSI, tampaknya serangan Grace terhadap poligami dilakukan secara terencana. Menurut hemat saya, Grace dan rombongannya melahirkan PSI karena resah melihat umat Islam yang belakangan ini makin solid. 

Grace Natalie meributkan poligami dengan tujuan untuk, secara sistematis, menciptakan kebencian maluas terhadap hukum Allah yang membolehkan laki-laki beristri lebih dari satu. Tidak terlihat tujuan lain ketua PSI kecuali untuk menyebarkan dan menguatkan kebencian terhadap poligami. Terutama di kalangan umat Islam sendiri.

Setelah kebencian meluas terhadap poligami itu mengeras di kalangan umat Islam, akan terbukalah pintu bagi PSI, bagi Grace Natalie, untuk melancarkan misi besar mereka. Yaitu, mendegradasikan Islam dan umat Islam. Menurut hemat saya, sasaran akhir Grace adalah menciptakan kerisihan umat Islam sendiri terhadap keseluruhan sistem syariat Islam.

Mengapa Grace mengawali serangannya terhadap Islam dari poligami?

Karena ‘item’ inilah yang paling seksi. Yang sangat kontroversial. Yang paling cepat membelah umat Islam, khususnya kaum perempuan. Grace dan para ahli strategi anti-Islam yang mendukung misi PSI, sangat paham bahwa poligami selalu menjadi perdebatan panas. Mereka tahu umat Islam sangat sensitif dalam masalah ini.

Grace dan mesin anti-Islam yang berada di belakangnya tahu bahwa kelompok yang tak suka poligami di kalangan umat Islam selalu ‘menang’ dalam perdebatan tentang baik-buruknya poligami. Inilah yang mereka manfaatkan. Mereka, langsung atau tak langsung, akan mengelola suara yang menentang poligami itu. Mereka akan menancapkan kuat-kuat penentangan terhadap poligami. 

Setelah itu tercapai, menurut hemat saya, Grace Natalie berharap ‘final destination’ (tujuan akhir) dari misi PSI dan misi pribadinya akan terealisasikan sesuai target. Target itu adalah menjadikan umat Islam sendiri yang akan menggugat ajaran Islam. Menggugat al-Quran dan hadits. Ketua PSI ingin melihat orang Islam sendirilah yang akan menjelek-jelekkan ajaran Islam.

Dalam bayangan Grace Natalie, pada suatu waktu di masa depan, orang Islam akan mempersoalkan kewajiban sholat, puasa Ramadan, ibadah haji, dlsb. Akan bermunculan ‘ulama’, ‘ustad’, ‘muballigh’, ‘penceramah’ binaan PSI yang mempersoalkan syariat Islam yang mereka anggap ‘unfriendly’ (tak ramah) terhadap pluralisme.

Boleh jadi akan mereka deskripsikan bahwa memakai jilbab di ruang publik tidak mencerminan kebersamaan dan pesaudaraan. Dikampanyekanlah bahwa jilbab (hijab) adalah busana yang memecah-belah bangsa. Tak sesuai dengan sila persatuan di dalam Pancasila. Sampailah nanti tercapai target demonisasi busana muslimah sebagai bentuk pakaian yang anti-sosial. Busana eksklusif. Busana anti-kebinekaan.

Mungkin di tahun ke-10 atau ke-15 PSI berkiprah, apalagi setelah anggota parlemennya banyak dan kemudian menjadi bagian dari kekuasaan eksekutif, mulailah mereka menerbitkan legislasi yang melarang total pemakaian jilbab bagi para pegawai negara. Tak lama kemudian, akan menyusul peraturan yang melarang sholat di kantor-kantor pemerintah dan BUMN. Akibatnya, melaksanakan sholat semakin sulit.

Itu yang saya bayangkan tentang misi PSI. Misi Grace Natalie dan rombongannya. Dia merekrut sejumlah perempuan Muslim supaya terlihat misi yang ia rencanakan didukung oleh orang Islam juga. Supaya terkesan bahwa kampanye anti-poligami adalah kampanye yang dilancarkan oleh orang Islam sendiri.

Terus, bagaima kira-kira dampak kampanye anti-poligami PSI terhadap upaya kubu Ko-Ruf untuk meraup suara umat Islam di pilpres 2019?

Sejumlah petinggi di kubu Ko-Ruf melihat serangan PSI terhadap poligami akan memproyeksikan Jokowi sebagai anti-Islam. Padahal, Jokowi sendiri memang sedang mengalami kerepotan untuk menangkis tuduhan bahwa dia anti-Islam. Kubu Ko-ruf sangat khawatir sepak-terjang PSI akan merugikan elestabilitas capres 01.

Sebagai penutup, umat Islam tentu tidak perduli soal elektabilitas siapa pun. Karena memang tak penting. Yang sangat mendasar bagi umat adalah tujuan besar Grace Natalie, tujuan besar PSI, dibalik serangannya terhadap poligami. Menurut hemat saya, tujuan besar berjangka panjang itu ialah untuk melumpuhkan umat Islam.

Saya tidak tahu apakah Grace dan PSI sadar bahwa mereka sekarang telah membuat suasana frontal dengan umat Islam.  

(Penulis adalah wartawan senior)

Selasa, 18 Desember 2018

Dakwah Nahdliyyin di BUMN


Ust. Abdi Kurnia Djohan

Oleh : Ust. Abdi Kurnia Djohan

Saya mencoba menulis ini berdasarkan pengalaman saya ikut bersama-sama merumuskan renstra dakwah di LDNU, terutama yang terkait dengan penetrasi NU ke instansi-instansi pemerintahan dan BUMN. Ada kesan, seolah muballigh-muballigh NU tidak berminat untuk masuk ke lembaga-lembaga milik pemerintahan termasuk BUMN. Jika dikatakan "tidak berminat", saya bisa katakan itu tidak benar--saya tidak mengatakan bohong. Karena faktanya, hingga tulisan ini dibuat, entah berapa banyak muballigh NU yang berharap dapat menyampaikan kajian di Pertamina, PLN, Garuda Indonesia, PT Pelindo dan lain-lain. 

Jujur diakui bahwa menyampaikan kajian agama Islam di instansi-instansi BUMN selain mempunyai nilai strategis juga memberi arti tersendiri bagi seorang muballigh. 

Pembicaraan tentang bagaimana dakwah di BUMN telah menjadi perhatian LDNU sejak lama. Tapi hingga kini, upaya itu belum bisa terealisasi karena beberapa sebab:

1. Tidak adanya konsep dakwah yang ditawarkan LDNU PBNU tentang dakwah di BUMN yang mampu menjawab problematika internal di masing-masing BUMN;

2. Tidak seriusnya LDNU PBNU mengelola persoalan dakwah yang memang menguras energi yang sangat banyak. Sebagaimana telah diketahui bahwa kini semua elemen PBNU terkuras kepada perhelatan Pilpres di mana KH Ma'ruf Amin berada di pusaran kontestasi itu. Ketidakseriusan LDNU sebelum perhelatan Pilpres 2019 itu tiba, pada akhirnya makin melarutkan LDNU ke arah yang bukan menjadi khittoh utamanya;

3. LDNU tidak memperhatikan faktor lain yang masih terkait dengan pekerjaan dakwah yang akan dihadapi di BUMN, yaitu keberagaman jamaah dan tingkat pendidikan jamaah. Sebagian muballigh di LDNU mempunyai kecenderungan menyamakan jamaah di BUMN seperti jamaah di pedesaan yang tidak kritis dan manut kepada sendiko dawuh kyai. Mereka lupa bahwa kebanyakan jamaah di BUMN itu dulunya adalah mantan aktivis kerohanian Islam di kampusnya masing-masing. Dengan latar belakang itu, tentu mereka mempunyai sikap kritis yang berbeda dengan jamaah di pedesaan. Bagi sebagian jamaah BUMN, kemampuan membaca kitab kuning itu bisa dikritisi dengan kontekstualisasi masalah yang mereka hadapi di dunia kerja. Sehingga yang menjadi pertanyaan sebagian jamaah BUMN terhadap keberadaan muballigh NU adalah apakah mereka menjelaskan topik tentang air dua kullah di sini? Materi fikih seperti apa yang akan disampaikan? Materi tasawwuf yang bagaimana yang akan dijelaskan? Pertanyaan seperti ini muncul berdasarkan survey di sebuah masjid perkantoran tentang persepsi jamaah terhadap penyajian materi para ustadz asal NU. Survey itu berawal dari tidak diminatinya kajian tasawwuf yang disampaikan oleh seorang ustadz NU padahal kajiannya demikian mendalam. Tapi, meskipun demikian tetap saja kajian itu tetap dianggap tidak menarik, karena tidak prompt to terhadap persoalan yang dihadapi jamaah perkantoran. 

4. Selama ini LDNU melupakan kerja kombinasi dakwah. Dakwah di BUMN sebenarnya merupakan bagian dari alur perjalanan dakwah yang berhulu di kampus-kampus PTN. Ibarat orang menangkap ikan, bagaimana mungkin bisa mengetahui ke muara mana ikan berenang, sedangkan hulunya saja tidak diketahui. Masuknya muballigh HTI atau non HTI di BUMN, bukan karena mereka serakah atau kemaruk dakwah--maaf ini bukan semacam pembelaan. Tapi, karena massa HTI banyak yang bertebaran di BUMN. Mereka-mereka ini adalah orang-orang pilihan yang masuk BUMN sejak lulus kuliah di PTN. Dalam kondisi jumlah mereka banyak, wajar jika mereka mengundang para ustadz yang fikrohnya sudah mereka kenal sejak masa kuliah dulu. Jika LDNU ingin seperti itu, maka sudah seharusnya  LDNU menggarap dakwah di perguruan tinggi, dengan membentuk halaqoh-halaqoh ilmu yang diselenggarakan secara intensif. Sekarang bagaimana yang berlangsung? Saya tidak perlu bercerita banyak tentang hal ini, karena faktanya aktivis Aswaja di PTN, khususnya UI, dikenal "malas" dalam memperjuangkan eksistensi dirinya. Bukti yang bisa dilihat sampai hari ini adalah tidak adanya mahasiswa Nahdliyyin yang mampu menduduki jabatan BEM atau Badan Otonom Mahasiswa di Kampus. Jika jawabannya adalah karena posisi itu telah dihegemoni oleh kader-kader PKS, lalu kenapa tidak melakukan hal yang sama? 

Masih banyak analisis yang bisa disampaikan di sini. Yang ingin saya sampaikan adalah sebelum mengatakan "lawan berlaku curang", penting terlebih dahulu mengukur kemampuan diri sendiri. Tsun Zu di dalam strategi perangnya telah menjelaskan hal ini secara detail. Jangan sampai karena wajah buruk, akhirnya salon yang disalahkan...

Elu Tu Ye! Ya salon kalee ya salon kaleee...hehehehe (FM)

Playing God

Oleh : Ust. Ahmad Sarwat

Firaun itu beda dengan musuh-musuh para nabi yang lain. Firaun tidak menyekutukan Allah, juga tidak menyembah berhala-berhala sebagaimana arab jahiliyah.

Firaun lebih dari sekedar musyrik, sebab dia malah mengankgat dirinya sebagai tuhan dengan kata-katanya  : ana rabbukumul a'la. Akulah tuhanmu yang tertinggi.

Karakteristik Firaun inilah yang sekarang ini banyak ditiru secara buta oleh orang jahil yang merasa pintar agama. Dai tidak lagi menjadi wakil tuhan di muka bumi, tapi lebih dari sudah sampai ke derajat mengangkat diri jadi tuhan.

Dengan posisi sebagai 'tuhan', dia lantas merasa berhak menentukan sendiri ukuran kebenaran sesuai selera pribadinya. 

Dan lebih parah lagi, seenaknya lalu menjatuhkan hukuman kepada siapa saja yang tidak disukainya semau dia.

Padahal yang bisa melakukan hal seperti itu hanyalah tuhan yang sesungguhnya, bukan tuhan amatiran yang sosoknya cuma manusia biasa, tetapi dia merasa dirinya tuhan.

Bemain peran sebagai tuhan, padahal bukan.

Garis Keturunan Habaib Yang Tersambung Sampai Rasulullah

Oleh : Ust. Abdi Kurnia Djohan

Dalam video yang diedarkan beberapa tahun yang lalu, Yazid Abdul Qadir Jawwas menolak bahwa Rasulullah mempunyai keturunan hingga hari ini. Dengan tegas, ia menyatakan bohong jika ada orang yang diaku atau mengaku keturunan Rasulullah. Jelas yang dimaksud oleh beliau, adalah kalangan habaib. 

Dari beberapa catatan yang saya telusuri garis keturunan para habaib memang bersambung sampai kepada Rasulullah. Urutannya adalah sebagai berikut:

1. Rasulullah Muhammad sholla Allahu alaihi wa sallam menikah dengan Sayyidah Khadijah bintu Khuwailid Radhiyallahu anha, melahirkan:

2. Sayyidah Fathimah Azzahra yang menikah dengan Sayyidina Ali bin Abu Thalib, melahirkan, Sayyidina Hasan, Sayyidina Husain, Sayyidina Muhsin, Sayyidah Zainab, Sayyidah Ummu Kaltsum.

3. Yang hidup sampai dewasa adalah Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain.

4. Sayyidina Hasan wafat pada masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah dan mempunyai keturunan

5. Sayyidina Husain wafat pada masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah, meninggalkan keturunan Sayyidina Ali al-Ashghar (gelar Zainul Abidin), Sayyidah Sukainah, Sayyidah Nafisah dan Sayyidah Zainab.

6. Sayyidina Ali Zainal Abidin mempunyai anak Sayyidina Muhammad al-Baqir;

7. Sayyidina Muhammad al-Baqir mempunyai anak Sayyidina Ja'far al-Shadiq;

8. Sayyidina Ja'far mempunyai tiga anak laki-laki; Sayyidina Musa al-Kazim, Sayyidina Muhammad, dan Sayyidina Ali al-Uraidl. 

9. Sayyidina Ali al-Uraidl mempunyai tujuh orang anak, empat di antaranya laki-laki; Sayyidina Muhammad al-Naqib, Sayyidina Ahmad al-Sya'rani, Sayyidina al-Hasan, dan Sayyidina Ja'far al-Ashghar;

10. Sayyidina Muhammad mempunyai anak bernama Sayyidina Isa al-Rumi;

11. Sayyidina Isa al-Rumi mempunyai anak bernama Sayyidina Ahmad dan Sayyidina Muhammad;

12. Sayyidina Ahmad memutuskan hijrah dari Baghdad karena tekanan politik dari Bani Abbasiyyah yang memusuhi semua keturunan Ali bin Abu Thalib;

13. Beliau hijrah ke Yaman, setelah sebelumnya singgah di Hijaz untuk melaksanakan ibadah haji:

14. Dari Sayyidina Ahmad bin Isa ini lahir beberapa orang anak di antaranya Sayyidina Muhammad al-Bashri, dan Sayyidina Abdullah atau Sayyidina Ubaidillah. Sayyidinia Ubaidillah ini yang disebut sebagai pangkal Bani Alawiyyin, para habaib. 

15. Sayyidina Ubaidillah mempunyai keturunan bernama Sayyidina Alawi. Dari Sayyidina Alawi ini lahir Sayyidina Ali. Lalu Sayyidina Ali melahirkan putera bernama Sayyidina Muhammad bin Ali Shohibul Mirbath. Dari situ lahirlah keturunan-keturunan yang kemudian dikenal dengan marga Maula Dawilah (marga tertua), Assagaf, Syaikh Abu Bakar bin Salim, Aqil bin Salim (al-Atthas), al-Muhdhor, al-Haddad, al-Hiyed, al-Kaaf, Shihab, bin Sumaith (Smith), al-Hadar, Baraqbah, Baumar, Bassurah, al-Munawwar, al-Hinduwan, al-Syathiri, al-Aidid, bin Yahya, al-Muthahhar, al-Hamid, Bafaraj, Bajuhdab, Basyaiban, dan lain-lain. 

Dengan silsilah yang demikian jelas ini, apakah masih diragukan bahwa Rasulullah mempunyai keturunan? Jangan-jangan hanya kedengkian yang menutup hati untuk mengakuinya. Shollu 'alan Nabi....

Jangan Remehkan Negara Yang Produkifitasnya Merosot


Oleh : Hendrajit

Jangan remehkan negara yang produkifitasnya merosot sementara anggaran negara tersedot untuk membiayai pejabat pejabat birokrasi tingkat tinggi yang tidak produktif. Penglaman Turki Utsmani yang bermuara pada keruntuhan bukan karena kalah secara militer tapi karena penetrasi ekonomi asing melalui perdagangan. 


Kedatangan orang2 Eropa ke Turki sejak 1600 telah mengacaukan tatanan ekonomi yang dibentengi oleh komunitas yang berbasis tarekat tarekat sufi dan para ulama. Melalui komunitas berbasis persaudaraan tarekat ini hajat hidup orang banyak dilindungi dengan menerapkan monopoli produksi yang jadi kebutuhan masyarakat. Srhingga produsen dan konsumen tidak jadi obyek pasar bebas dan persaingan bebas ala kapitalisme. 


Negarapun kemudian melindungi tatanan ini dengan menetapkan harga yang tidak merugikan konsumen. Jadi adil. Negara melindungi rakyat yang jadi konsumen. Komunitas persaudaraan tarekat melindungi para anggotanya sebagai produsen sehingga tidak jadi korban persaingan bebas. 


Alhasil. Produsen termotivasi untuk berproduksi sedangkan masyarakat punya daya beli. 


Namun ketika pedagang datang ke Turki kemudian para pedagang Eropa itu memasuki sistem itu dan mengacak acaknya. Metodenya bukan dengan menyaingi komunitas akar rumput Turki itu. Tapi dengan membeli produk produk komunitas dengan harga yang menggiurkan. 


Masalahnya kemudian. Persaingan yang tercipta bukan antara produsen versus konsumen. Tapi antara konsumen dalam negri yang diproteksi negara versus konsumen eropa yang pedagang itu. Sialnya konsumen dalam negri kalah karena hanya bisa membeli barang dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Sementara para pedagang eropa punya emas banyak hasil menjarah benua Eropa menyusul temuan Columbus terhadap benua Amerika. 


Tragisnya. Persaingan kedua konsumen itu malah berakibat buruk bagi produsen. Sebab ketika permintaan meningkat si produsen tidaj menguasai akses kepemilikan bahan baku untuk meningkatkan produksi. 


Alhasil produksi anjlok. Ketika produksi anjlok dan kekhalifahan Turki melarang barang barang dari industri strategis  itu dijual ke asing demi memenuhi kebutuhan konsumen dalam negri.   Yang terjadi malah muncul perdagangan pasar gelap.


Ketika muncul perdagangan pasar gelap maka lahirlah kasta baru. Orang orang kaya baru yang terdiri dari para pedagang yang bermain di pasar gelap dan para pejabat negara pemakan suap. 


Akibatnya amat merusak dan jadi prakondisi menuju keruntuhan dinasti Utsmani. Sebab dari praktek baru itu lahirlah kepemilikan uang ilegal yang bukan berasal dari peningkatan produktifitas ekonomi. 


Inilah pengalaman pahit Turki yang harus jadi pelajaran kita. Sebab cerita tentang Turki tadi mengandung pesan betapa berbahayanya sistem ekonomi persaingan bebas ketika membunuh hasrat produsen berproduksi. Mematikan hasrat berswasembada. 


Sebab hasrat berproduksi dan berswasembada sejatinya bukan perkara ekonomi saja. Melainkan juga budaya. 


Di beberapa daerah yang masih berakar adat istiadat maupun budaya lokal. Hasrat berproduksi bukan sekadar demi keuntungan bisnis tapi juga ibadah dan ritual. 


Orang Bali di Karang Asem ketika membuat kain geringsing atau orang Lampung bikin kain Tapis secara ritual puasa atau doa khusus dulu karena hal itu ddipandang sebagai hajatan sehingga memohon ridho Tuhan yang maha kuasa. 


Betapa pentingnya mempersenyawakan ekonomi dan sosial-budaya.

Kesadaran Berfikir


Oleh :  Hendrajit


Mungkin tiap hari sadar atau tidak kita selalu berpikir atau memikirkan sesuatu. Tapi jarang kita sadari bahwa kadang tiba tiba kita memikirkan sesuatu karena sebetulnya terilhami oleh sesuatu. Inilah yang disebut kekuatan pikiran mendahului materi. 


Inilah salah satu Kajian Jonathan Black dalam bukunya Sejarah Dunia Yang Disembunyikan. Teman teman pasti pernah alami tiba tiba terlintas ingin pergi ke suatu tempat. Atau menemui seseorang. Atau mengerjakan sesuatu. Padahal sebelumnya nggak kepikiran sama sekali. 


Itu yang barusan kugambarkan memang hal keseharian yang dialami orang awam kebanyakan. 


Namun coba bayangkan jika ledakan spiritual yang kemudian bersemayam di hati dan kemudian memancar dalam pikiran orang seperti Napoleon. George Washington. Charles de Geulle. Mahatma Gandhi. Sukarno. Atau Nelson Mandela. Leonardo da Vinci hingga Bob Dylan. 


Yang kemudian terjadi adalah lahirnya gagasan gagasan besar bersejarah. Yang kemudian jadi karya cipta yang berkontribusi buat peradaban bangsanya masing masing. 


Fokuzawa Yukichi budayawan Jepang era restorasi Meiji menyebut  peran kecerdasan intelektual dalam memajukan peradaban. Namun diksi ini dipakai Yukuchi karena malu malu mengakui peran ledakan spiritual dan Pikiran Tuhan ketika mengilhami seseorang atau kelompok dan bahkan bangsa. 


Inilah alur berpikir Jonathan Black dalam bukunya bertajuk Sejarah Dunia Yang Disembunyikan. Yang mana kalau disimak di bab bab awal memang cukup berat. Namun intinya yang mau disampaikan Black sederhana. Orang pintar dan makan sekolahan kalau tidak mengakui hal ini. Berarti secara filosofis dangkal 


Ini yang sering saya sebut terbelenggu oleh pengetahuan umum. Maka itu kanjeng Rasul disebut Annabiyil Ummi. Sang nabi yang ummi. Orang yang terbebas dari belenggu pengetahuan umum.


Allahumma sholli wa salim ala Sayidina Muhammad Annabiyil ummi. Wa ala alihi wa sohbihi wa salim.

Praktek Kenisbian Waktu Shalat di Pesawat

Olah : Ust. Ahmad Sarwat

Desember 2018 maskapai milik bangsa Indonesia kembali membuka penerbangan jarak jauh Jakarta London. 


Rute Jakarta – London pp diberangkatan dari Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, melalui penerbangan GA 086 pada pukul 12.05 Local Time dan akan tiba di Bandara Internasional London Heathrow (LHR) pada pukul 20.00 Local Time.


Kita tahu perbedaan waktu antara Jakarta dan London kadang 6 jam tapi kadang 7 jam tergabtung bulan. Sebab di Inggris sana dikenal British Summer Time (BST). Perbedaan waktu Jakarta dan London pada Maret-Oktober adalah 6 jam dan dari Oktober- Maret, perbedaannya menjadi 7 jam.


Jadi ketika mendarat di London jam 8 malam itu sebenarnya di Jakarta sudah 3 dini hari sebentar lagi shubuh. Lama terbangnya lumayan bikin sumpek yaitu 15 jam non-stop.


Padahal terbang ke Jeddah atau Madinah untuk umrah yang 9-10 jam sudah bosan, kok ini malah 15 jam? 


Pulangnya penerbangan London – Jakarta pp diberangkatan dari Bandara Internasional London Heathrow (LHR) pada pukul 21.55 Local Time dan

 tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta pada pukul 19.10 Local Time.


Ini juga nisbi banget. Kesannya terbang sehari semalam. Terbang kemarin jam 10 malam, terus sampainya hari ini jam 7 malam. 


Kayak gitu pasti kita puyeng mikirin waktu shalatnya.

Fenomena Rakyat "Berpesta". The Unstoppable People Movement

Oleh : Iramawati Oemar

•••••••


Akhir tahun 2018 ditutup dengan fenomena "pesta" rakyat yang menghadirkan massa dalam jumlah besar bahkan super besar. Setidaknya ada 3 kejadian pesta rakyat yang terjadi di penghujung tahun ini : Reuni 212 di Monas, syukuran dan maian bersama warga Cianjur/Jawa Barat atas tertangkapnya Bupati mereka oleh KPK, dan yang terakhir adalah konvoi kemenangan The Jackmania merayakan "pecah"nya puasa gelar juara selama 17 tahun oleh Persija. Semuanya menghadirkan banyak sekali massa, tua-muda, laki-perempuan, menembus batas kelas sosial kaya-miskin.


Kebetulan kemarin pagi saya ke Jakarta, sejak masuk Jakarta di wilayah Slipi menuju Senayan, sudah mulai macet. Pun juga ketika menuju Cikini.

Tapi saya tak menyangka sama sekali bahwa akan sebanyak itu massa yang tumpah ruah merayakan kemenangan The Jackmania. Setelah melihat tayangan berita TV malam harinya, saya terheran-heran sekaligus terharu melihat betapa massa sebanyak itu bisa berkumpul, spontan, dengan cara mereka sendiri hadir ke Balaikota, berkonvoi, larut dalam suka cita bahkan euphoria. Tapi Alhamdulillah tidak ada kejadian buruk dari pesta kemenangan ini. Tak ada tawuran, tak ada bentrok massa, tak ada kerusakan fasilitas publik, dll.


Kemarin yang berkumpul adalah "sebagian" warga DKI Jakarta, tidak ada kedatangan warga dari luar DKI, sebab ini moment khusus merayakan kemenangan klub bola milik Jakarta.

Ya, hanya sebagian saja warga DKI yang jadi suporter setia Persija. Namun jumlahnya cukup bikin kita tercengang.

Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Bahkan ketika masa jaya-jayanya Jokowi dan Ahok sekalipun!


Kalau saja Ahok melihat dari tayangan berita di televisi, saya tak tahu bagaimana perasaannya, melihat Anies Baswedan yang baru genap 14 bulan menjabat sebagai Gubernur, bisa ikut larut bersama puluhan ribu the jackmaniaers, naik ke atas atap bus dan bersuka cita bersama rakyatnya, tanpa batas. Tidak perlu lagi teriakan mengelu-elukan, cukup melihat wajah-wajah sumringah, bangga dan bahagia berbaur bersama gubernurnya.

Saya terharu, inilah pengejawantahan tagline "maju kotanya, bahagia warganya".

Sesuatu yang belum pernah terjadi di era 2 tahun jokowi jadi gubernur DKI dan 2,5 tahun Ahok melanjutkannya.

Ketika caci maki dan bentakan-bentakan kasar tak lagi diperdengarkan dari balaikota, saat itulah sedikit semi sedikit semuanya berubah menjadi lebih baik!

Believe it or not : ALAM pun ijut bekerja, "restu" alam menyertai semua aktivitas di kota itu. Prostitusinya diberantas, janji-janji untuk kebaikan dan kesejahteraan warga mulai ditunaikan, kotanya mulai dibikin indah, dan saat itulah PRESTASI mulai tercipta.

It's what called SUNNATULLAH, hukum alam.

Ketika semua dikerjakan dengan baik dan bersahabat bersama rakyatnya, maka semuanya pun menjadi ikut baik.

Dan rakyatnya pun menunjukkan rasa terima kasih mereka dalam luapan kegembiraan.

Yang kemarin berkumpul di Balaikota dan berkonvoi bersama, itu BUKAN RELAWAN Anies lho! Itu warga DKI, entah mereka memilih Anies - Sandi atau tidak pada 2017 lalu, taoi mereka warga DKI.

Goodbener Pak Anies Baswedan.


*** *** ***


Fenomena "pesta" rakyat ini sesungguhnya dimulai sejak awal bulan, 1 Desember 2018, ketika warga dari berbagai daerah mulai membanjiri Jakarta. Malam minggu pekan pertama bulan Desember ini, suasana Jakarta luar biasa ramai dan macet dimana-mana. Sejak malam, ribuan orang mulai menginap di Monas. Stasiun Gondangdia tak pernah sepi, penumpang turun dari kereta terus membanjir.

Dan puncaknya pada 2 Desember, diperkirakan 11 juta lebih massa berkumpul di Monas dan sekitarnya, berdesak-desakan, tak ada ruang kosong.

Mereka "berpesta", dimana-mana posko didirikan, makanan dan minuman gratis dibagi-bagikan kepada semua yang datang. Para pedagang makanan dan minuman kaki lima pun diserbu pembeli, bahkan dagangannya ludes diborong pembeli untuk selanjutnya dibagikan gratis kepada yang hadir.


Tak ada alasan khusus yang bisa menjelaskan alasan kenapa jutaan orang itu rela datang dari berbagai daerah. Sebuah stasiun TV swasta bahkan mewawancarai pasutri muda yang baru datang dari Jawa Tengah. Pasutri yang kemungkinan bary berumur awal 30an itu membawa serta anak mereka yang masih batita, bahkan bisa jadi usianya baru 1 tahunan. Mereka datang dini hari tiba di Jakarta dan akan langsung pulang sore harinya. Niatnya datang ke Jakarta khusus untuk ikut Reuni 212. Melihat wajah mereka yang sumringah, ceria sambil membopong bayinya, sama sekali tak tampak kekhawatiran. Mereka datang seperti layaknya akan menghadiri pesta saja.


Dan memang demikianlah yang terjadi. Ibarat pesta saja, makanan dan minuman berlimpah. Tak terdengar ada copet berkeliaran, tak ada orang terinjak-injak, tak ada gesekan antar massa yang jamak terjadi pada pentas goyang dangdut ketika saling senggol saja bisa berujung tawuran massal. Reuni 212 berlangsung aman, damai, tentram, tertib.


Apa alasannya jutaan orang berkumpul? 

Kalau Aksi 212 tahun 2016 mungkin orang bisa paham, karena ada kasus Ahok yang menistakan surat Al Maidah ayat 51.

Tapi kalau sekarang, 2018, apa pemicunya?!

Tak ada kejadian khusus yang bisa dirujuk. Tapi pasti ada "sesuatu" yang tak terkatakan yang membuat jutaan orang dari berbagai daerah, yang kaya raya maupun yang pas-pasan, datang ke Monas untuk berdoa bersama, atau sekedar mendengarkan tausiyah ulama.


Melihat bahwa yang datang adalah yang kontra penguasanya, maka silakan saja penguasa dan para pendukungnya melakukan denial, bahwa semuanya baik-baik saja, untuk apa orang datang ke Monas merayakan Reuni 212?!

Tapi kenyataannya, ada "KERESAHAN" masyarakat yang mungkin tak terkatakan secara verbal, tapi diekspresikan dalam bentuk "pembangkangan" yang "soft", membangkang dari larangan pemerintah dan aparat keamanan agar tak datang ke Monas.

Artinya : ada sesuatu yang harusnya membuat penguasa mau INTROSPEKSI, sebab tak ada satupun kekuatan figur, ormas, parpol, atau apapun yang bisa memaksa belasan juta orang datang secara swadaya begitu.


Saya punya dugaan, feeling, bahwa fenomena gerakan massa yang massive ini masih akan terjadi lagi entah di daerah mana dan entah apa pemicunya.

Yang jelas, tak ada kekuatan yang bisa merekayasa mendatangkan massa dalam jumlah besar dan ikhlas membiayai dirinya sendiri bahkan menyumbangkan makanan dan minuman.

Sebaliknya, juga tak ada yang mampu mencegah apalagi membendung jika massa rakyat sudah punya keinginan untuk bergerak dan berkumpul bersama, apapun alasannya.

Di Paris saja, aparat pemerintahnya kewalahan kok menghadapi gerakan rompi kuning di Paris dan beberapa kota lainnya.


So..., di Indonesia, kita menutup tahun 2018 dan menyambut tahun politik 2019 dengan fenomena GERAKAN MASSA RAKYAT, sesuatu yang SPONTAN dan UNSTOPPABLE!

Kata teori Demokrasi : "VOX POPULI, VOX DEI!"