Senin, 08 April 2019

Analisis Politik "LOGICAL FALLACY"

Mantan Presiden SBY



Oleh : Emir Sadikin

Beredar surat SBY, yang mempertanyakan ketidaklaziman kampanye 02 di Stadion Gelora Bubg Karno (GBK), hari ini. Oleh SBY, juga dianggap tidak _inklusif._ 

Saya tahu arahnya ke mana. Yakni adanya tahajjud bersama, subuh berjamaah dan lantunan sholawat.

Nah, dalam hal ini saya ingin membahas dua hal yakni : (1) Kenapa sampai terjadi ketidaklaziman kampanye. (2) Apa yang dimaksud dengan kampanye tidak lazim dan tidak _inklusif._

Kampanye ini dianggap SBY tidak lazim karena adanya tahajud, subuh berjamaah dan sholawat, dalam _run down_ acara. 

Dari pengalaman Gerakan 212, saya ingin mengatakan,  ketidaklaziman ini dimulai dari adanya pihak yang tidak ingin acara sukses.

Gerakan 212, diupayakan tidak sukses dengan misalnya, mencegah bus yang mengangkut peserta/ penumpang dari luar kota. _"Ada aksi ada reaksi"._ 

Alih-alih mencegah. Justru reaksi spontan yang muncul. Santri Ciamis memutuskan jalan kaki _long march_ Ciamis - Jakarta. Artinya kasus penghadangan bus, malah menjadi _stimulus_ bagi tidak terbendungnya lautan massa ke Monas.

Saya _haqqul yakin,_ andai tidak ada stimulus (pencegatan bus) santri Ciamis peserta 212, tidak akan melakukan itu dan sampai sebanyak itu.

Sekarang, kampanye 02 diusahakan tidak sukses juga. Diberikan alokasi waktu kampanye, yang tidak lazim, yakni berakhir pukul 10.00.
Lazimnya, izin diberikan pukul  08.00 sampai pukul 12.00, atau lebih panjang lagi. 

Jika waktu harus berakhir pukul 10.00,  tentu saja dimulainya mesti pukul 06.00. Semuanya butuh perencanaan dan persiapan. Jika dimulai pukul 06.00, tentu saja harus berangkat pukul 02.00 sampai pukul 04.00, dari rumah. 

Dengan demikian sudah ada peserta yang sampai di GBK pada pukul 03.00. Nah, antara pukul 03.00 sampai pukul 06.00, _peserta kampanye mau diapain? Mau disuguhi musik dangdut seperti lazimnya kampanye?_ Tidak mungkinkan?

Satu-satunya yang mungkin, ya tahajud, subuh berjamaah dan sholawat.

Jadi, kalau ini disebut tidak lazim, justru betmula karena ketidaklaziman izin yang diberikan. Coba andaikan izinnya yang lazim-lazim saja. Misal, antara pukul 08.00 sampai dengan pukul 12.00. Saya berani jamin, tidak akan ada tahajud dan subuh berjamaah dalam run down acara. Apalagi, tahajud dan subuh berjamaah, di GBK.

Kedua, adalah tentang definisi _inklusif._ Maksud SBY mengatakan "tidak inklusif", tentu saja adalah karena adanya tahajud, subuh berjamaah dan sholawat. 

Disebut tidak inklusif, karena memang non muslim tidak bisa berpartisipasi ikut tahajud, subuh dan sholawat. Seolah-olah "Panitia kurang peka", dengan perasaan non muslim.

Tapi, coba sekarang kita balik. Jika kampanye yang lazim dan inklusif itu, yang ada dangdut atau musiknya, maka kita juga perlu mempertanyakan. _Apakah benar, dangdut/musik itu inklusif?_

Dalam konteks ini, saya ingin mengatakan, bahwa dangdut itu juga tidak inklusif. Tidak semua pihak bisa berpartisipasi atau patut dalam berdangdut. Misalnya, para ulama, ustadz, ibu-ibu sepuh dan muslim/muslimah taat lainnya. Berarti dangdut tidak inklusifkan? Berarti panitia kampanye dangdut juga tidak peka terhadap perasaan orang lain yang tidak bisa ikut dangdut.

Point pokoknya, saya ingin mengatakan kepada SBY dan semua orang, _apa yang dimaksud dengan lazim dan inklusif itu._ Jangan katakan kampanye dangdut adalah lazim dan inklusif sedangkan sholat dan sholawat dianggap tidak lazim dan tidak inklusif. 

Ini sangat tidak fair, dan termasuk "logical fallacy"

Hukum Memakai Gelang Tasbih, Apakah Termasuk Tasyabuh Wanita?

Ilustrasi gelang tasbih




Pertanyaan:



Assalamu'alaikum wr. wb. Pak Kiai yang saya hormati. Saya mau bertanya apakah gelang seperti gelang karet dan gelang tasbih (kaokah: Jawa Barat)  yang dipakai laki-laki adalah tasabuh kepada wanita. Satu lagi batasan wajah apakah dagu dan kulit bagian bawah termasuk bagian dari wajah. Mohon penjelasanya.



Jawaban:





Wa'alaikum salam warahmatullah wabarakatuh. Saudara penanya yang kami hormati. Telah menjadi ketetapan Allah bahwa manusia yang mendiami bumi ini diciptaknyaan oleh-Nya secara beraneka ragam baik rupa, warna kulit maupun jenis kelaminnya. Oleh karena itu sudah sepatutnya manusia sebagai hamba menyadari serta mensyukuri keragaman yang telah digariskan oleh-Nya dengan cara saling menghargai, menghormati, menyayangi terhadap sesama dengan tidak meninggalkan dan menanggalkan kodrat kemanusiaan sesuai penciptaan masing-masing.



Manusia akan tetap di berada dalam kodrat penciptaannya manakala mereka mengerti dan memahami fungsi serta kegunaan masing-masing. Dalam hal ini perbedaan jenis kelamin antara pria dan wanita berikut fungsi serta kegunaannya tetap harus dikedepankan agar tidak terjadi penyalah gunaan nikmat yang begitu besar dari Allah swt. Oleh karena itulah syariat mengatur sedemikian rupa interaksi sesama manusia agar tidak terjadi penyalahgunaan fungsi dan kodrat kemanusiaan yang terkait dengan perbedaan jenis kelamin diantaranya dengan pelarangan tasyabuh (tindakan menyerupai) yang dilakukan oleh seorang pria maupun wanita.



Saudara penanya yang dimuliakan Allah. Dengan berpijak pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhori bersumber dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah melaknat para pria yang menyerupai wanita demikian juga sebaliknya. Para ulama kemudian menetapkan bahwa hukum tasyabuh yang dilakukan oleh seorang pria maupun wanita adalah haram. Adapun bunyi hadis tersebut adalah:


لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ



Artinya; Rasulullah melaknat para pria yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai kaum pria.



Permasalahan berikutnya adalah mengenai batasan seseorang dapat dinyatakan sebagai mutasyabihin atau mutasyabihat (para pria yang menyerupai wanita atau sebaliknya) sebagaimana pertanyaan yang anda kemukakan.



Dalam Fathul-Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani asy-Syafi'i ketika memberi penjelasan hadis di atas mengemukakan bahwa tindakan menyerupai yang dilakukan oleh para pria maupun para wanita terhadap lawan jenisnya dapat terjadi dalam hal pakaian, kostum, asesoris, gaya bicara, cara berjalan serta tindakan-tindakan maupun gerakan-gerakan yang menjadi ciri khas jenis kelamin tertentu. Beliau juga tidak menafikan adanya pakaian, kostum, serta asesoris yang dapat dipergunakan secara fleksibel, artinya baik para pria maupun para wanita sering memakainya. Jika memang demikian halnya, maka dalam hal ini tidak disebut dengan tindakan menyerupai (tasyabuh).



Contoh yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah pemakaian kemeja, kaos, celana panjang, gelang, kalung yang kesemuanya dapat dipergunakan oleh kedua-duanya (pria dan wanita). Dengan demikian, jawaban pertanyaan pertama dari anda adalah bahwa hal itu bukan termasuk tasyabuh, mengingat gelang karet atau tasbih tersebut memang tidak diperuntukkan secara khusus untuk kaum hawa dan tidak pula digunakan secara khusus oleh mereka.



Sementara jawaban untuk pertanyaan kedua saudara adalah bahwa dagu merupakan batas bawah untuk wajah ketika berwudhu, sementara kulit yang ada dibawahnya bukan termasuk batas wajah yang harus dialiri air wudhu, hal ini sebagaimana diterangkan dalam kitab-kitab fiqih seperti Fathul-Qarib dan lain-lain. Meskipun demikian, demi kehati-hatian dan kesempurnaan dalam beribadah, alangkah lebih baiknya apabila kulit yang ada dibawah dagu tersebut diikut sertakan dalam berwudhu. Wallahu a'lam.



Mudah-mudahan jawaban ini dapat diterima dan difahami dengan baik serta bermanfaat bagi kita semua. [FM]



Maftukhan

Tim Bahtsul Masail NU

Jangan Khawatir, Dokter

Prof. Moh Mahfud MD


Oleh: Moh Mahfud MD



Ketika 20 April 2015 yang lalu Mahkamah Konstitusi (MK) memutus bahwa dokter bisa diajukan ke pengadilan pidana tanpa harus menunggu pemeriksaan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), beberapa dokter mempersoalkan dan menyatakan kekhawatirannya.


Kata mereka, dokter wajib menolong setiap orang sakit dan dalam memberi pertolongan itu bisa saja terjadi akibat yang tidak diinginkan, yaitu gagal menolong. Misalnya, ada pasien yang meninggal atau lumpuh seumur hidup. Putusan MK itu, menurut mereka, bisa menghadapkan dokter pada situasi dilematis. Pada satu sisi dokter harus melakukan tindakan sebisanya secara cepat, tapi pada sisi lain dokter takut dihukum karena gagal menolong.


Dokter bercuit panjang ke akun Twitter saya, menyatakan kekhawatiran dan menanyakan duduk soalnya? Mengapa dokter bisa langsung diadili karena melaksanakan tugasnya? Bukankah lebih tepat diperiksa dulu oleh MKDKI agar bisa diketahui benar atau tidaknya sang dokter melakukan pelanggaran dan bersalah? Bagaimana jika hakim yang bukan dokter salah memahami dan menilai?


Apakah profesi lain bisa dipidanakan tanpa pemeriksaan dan keputusan lebih dulu dari dewan kehormatan profesinya? Apakah hakim atau penegak hukumnya lainnya bisa diadili juga karena kesalahannya dalam menangani perkara? Tanggal 26 April 2015 lalu saya bertemu dengan Dokter Yadi, ahli bedah kanker payudara, di Hotel Pullman, Surabaya yang sedang menghadiri kongres organisasi profesinya.


Dokter muda ini pun mengemukakan kegundahannya. "Bayangkan Prof, orang seperti saya ini setiap hari menangani sekitar 50 pasien. Saya pasti selalu berhati-hati, tetapi karena lelah bisa saja terjadi sesuatu pada pasien tanpa disengaja. Apakah kami ini harus diadili?" tanyanya.


Kepada Dokter Pukovisa dan Dokter Yadi itu dijelaskan hal yang sama. Proses hukum, termasuk peradilan pidana, merupakan proses yang terpisah dari proses "peradilan" etika atau profesi. Keduanya bisa berjalan sendiri-sendiri, yang satu boleh lebih cepat atau lebih belakangan daripada yang lain. Bisa juga dilakukan secara bersamaan (simultan) tetapi tetap tidak berkaitan.


Sanksinya pun, jika terbukti bersalah, adalah berbeda. Sanksi pada peradilan pidana adalah sanksi pidana seperti pemenjaraan, denda dan/atau pencabutan hak-hak tertentu. Sedangkan pada peradilan profesi jika terbukti seorang dokter melakukan pelanggaran atas etika profesinya adalah teguran, skors, larangan berpraktik, dan sebagainya.


Berjalannya dua proses, peradilan pidana dan pemeriksaan oleh dewan etik atau kehormatan, berlaku untuk semua prosesi. Ada pegawai negeri sipil (PNS) yang dijatuhi sanksi oleh Majelis Pertimbangan Pegawai bersamaan dengan pengajuannya ke pengadilan pidana.


Ada wartawan yang dipecat dari profesinya sekaligus diadili. Ada juga yang hanya dipecat oleh dewan kehormatan, tapi tidak diadili secara pidana. Tak perlulah ditanya, bagi penegak hukum berlaku hal yang sama. Ada hakim MK yang sudah dijadikan Tersangka pidana korupsi oleh KPK tetapi pada saat yang sama proses pemeriksaan etika profesinya berjalan di Majelis Kehormatan.


Yang bersangkutan diberhentikan berdasar keputusan Majelis Kehormatan sebelum pengadilan pidana menjatuhkan vonis. Tapi ada juga yang dijatuhi sanksi profesi setelah ada putusan pidana dengan putusan yang sudah berkekuatan hukum tetap (inkracht) Lihat juga kasus pegawai Ditjen Pajak Gayus Tambunan yang spektakuler itu.



Selain Gayus sendiri yang dihukum pidana dan dipecat sebagai PNS para penegak hukum, yaitu Hakim Ibarim, Jaksa Cirus Sinaga, dua polisi, dan seorang pengacara yang pernah memainkan kasus Gayus, semua dijatuhi hukuman pidana dan dipecat dari profesinya. Jadi, peradilan pidana dan "peradilan profesi" itu berjalan sendiri-sendiri, terpisah, meski kadang kala materi pemeriksaannya berhimpitan, bahkan sama.


Kedua jalur itu juga tak saling membatalkan sehingga kalau tidak bersalah secara pidana bukan berati secara otomatis tidak bersalah secara profesi dan sebaliknya. Koreksi sanksi karena ada bukti baru dan penilaian lain juga harus melalui prosedurnya sendiri-sendiri.


Pemisahan jalur dan prosedur peradilan antara hukum dan profesi ini penting agar setiap ada kesalahan segera bisa ditangani. Tak boleh ada pekerja profesi menolak diadili di pengadilan pidana dengan alasan belum diperiksa oleh dewan kehormatan profesinya; sebaliknya tak boleh ada juga pelaku profesi yang menolak diadili dan dijatuhi sanksi oleh dewan etik profesinya dengan alasan proses pidananya masih berlangsung. 

Peraturan itu berlaku di mana-mana. Ketakutan para dokter untuk dipidanakan sering diajukan dengan pernyataan kekhawatiran bahwa mereka tidak bersalah melainkan hanya gagal menolong. Kepada Dokter Yadi dan Dokter Pukovisa, saya katakan dengan serius agar tidak takut kalau memang tak bersalah. 

Pengadilan pidana hanya akan menjatuhkan hukuman kepada terdakwa yang terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan. Salah satu dalil pokok yang selalu dipedomani dalam hukum peradilan pidana adalah "tidak ada hukuman tanpa kesalahan". Seumpama salah pun hukum masih membedakan kesalahan atas kesengajaan dan kelalaian yang hukumannya juga berbeda.


Jadi selama berhati-hati dan tidak sengaja berbuat salah, para dokter tak perlu takut untuk terus mengabdi bagi kemanusiaan. Dedikasikan bakti Anda pada negara, bangsa, dan rakyat Indonesia. Indonesia berbangga memiliki putra-putri seperti Anda. [FM]



Sumber : Koran SINDO, 2 Mei 2015
Moh Mahfud MD, Guru Besar Hukum Konstitusi

HUKUM Mengabaikan Hasil Sholat Istikharah

Ilustrasi sholat istiharoh



Ini seperti orang yang sedang sakit, berkonsultasi kepada dokter tentang penyakitnya, kemudian setelah diberi petunjuk dan arahan dari dokter malah mengabaikannya. Terhadap orang ini patut dipertanyakan mengapa ia mengabaikan nasihat dokernya?



Secara bahasa makna istikharah adalah meminta pilihan (thalabul khiyarah). Jadi shalat istikharah adalah shalat yang tujuannya meminta pilihan dari Allah swt karena adanya dua atau tiga hal yang harus dipilih salah satu. Sedangkan manusia tidak mampu memilih sesuatu yang paling tepat.  



Meminta pilihan kepada Allah swt adalah tindakan yang paling tepat. Hal ini bisa dianalogikan bahwa manusia dalam kehidupan sehari-hari sering meminta pendapat orang lain yang dianggap memiliki wawasan lebih luas dan lebih pandai dalam menghadapi masalah-masalah yang pelik. Biasanya, semakin pandai seseorang semakin baik pula pertimbangan yang diberikan. Apalagi jika orang itu jujur, objektif dan ikhlas, sehingga apa yang disarankan benar-benar mencerminkan solusi alternatif terbaik.



Sementara itu Allah swt yang bersifat kamal dan bersih dari segaa kekurangan merupakan pihak paling tepat untuk dimintai petunjuk. Hal ini tidak berarti musyawarah dan diskusi sesama manusia tidak perlu. Akan tetapi hendaknya dilakukan sebagai bahan pertimbangan belaka.



Oleh karena itu, hendaknya seseorang menggabungkan ikhtiyar lahir dan bathin. Artinya berusaha semaksimal mungkin sesuai potensi dan kemampuan sekaligus juga memohon bimbingan dari Allah swt. diantaranya dengan jalan istikharah.



Dengan demikian sangat aneh jika seseorang melakukan istikharah kemudian tidak  melaksanakan hasilnya dalam tindakan nyata. Ini seperti orang yang sedang sakit, berkonsultasi dengandokter tentang penyakitnya, kemudian setelah diberi petunjuk dan arahan dari dokter malah mengabaikannya. Terhadap orang ini patut dipertanyakan mengapa ia mengabaikan nasihat dokernya?



Dalam hal ini ada tiga kemungkinan. Pertama, ia kurang mempercayai kebenaran nasehat dokter. Kedua, ia lebih mempercayai pikiran sendiri. Ketiga, lebih mengutamakan dorongan hawa nafsunya. Demikian tamsil ini dapat diterapkan pula pada kasus seseorang yang mengabaikan hasil istikharahnya.



Imam ibn Jama'ah dalam kitab Futuhat Rabbaniyyah syarah Al-Adzkar an-Nawawiyah memberikan beberapa tip 1) agar sebelum beristikharah seseorang hendaknya bersikap senetral mungkin terhadap al-ternatif-alternatif yang ada. 2) memantapkan hati dengan kepasrahan total kepada kehendak Allah. Sehingga mereka yang mengabaikan hasil istikharah dalam hal ini dianggap sebagai seseorang yang kurang pasrah kepada Allah.



Sikap seperti ini sangat bertentangan dengan sikap taslim (pasrah) dan tawakkal kepada Allah swt. apalagi jika pengabaian itu didasari alasan akal dan kehendak nafsu. Mengingat nasfu selalu akan menuju kepada kekejian (ammaratun bissu'). Begitu pula jika pengabaian itu hanya karena pertimbangan akal. Sungguh tidak layak karena tidak semua barang bisa ditimbang dengan akal. Dan akal biasanya lebih berpedoman pada kenyataan dhohir.



Dengan demikian tindakan mengabaikan hasil istikharah yang telah diyakini benar-benar dari Allah tanpa ada keraguan adalah tindakan tidak tepat dan tidak terpuji bagi seorang mukmin. Jika hal itu dilakukan berulang kali akan membahayakan bangunan keimanan seseorang.



Jika masih tersisa keraguan dari hasil istikharah, apakah itu pilihan Allah, sebaiknya istikharah diulangi lagi hingga dua atau tiga kali. [FM]



Disarikan dari KH. MA. Sahal Mahfudz, Dialog Problematika Umat

Hukum Tahajud Sebelum Tidur

Ilustrasi sholat tahajud




Pertanyaan:



Assalamualaikum warohmatullaahi wabarokaatuh. Saya ingin bertanya, apakah boleh begadang karena penyakit insomnia? dan apa hukumnya shalat tahajjud tanpa tidur terebih dahulu? Terimakasih, wassalamualaikum warohmatullahi wabarokaatuh.



(Muhammad Izzat)



Jawaban:



وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته



Saudara Muhammad Izzat yang dimuliakan Allah SWT, pertama-tama yang perlu dipahami bahwa tidak tidur karena insomnia tidak bisa diberi label hukum apa-apa karena hal itu adalah penyakit. Yang bisa dijatuhi hukum adalah perbuatan yang dilakukan dengan sadar dalam keadaan insomnia itu sendiri. Adapun begadang atau dalam bahasa pesantrennya biasa disebut melek tanpa adanya gangguan kejiwaan(insomnia) itu boleh dan baik asalkan diisi dengan hal-hal yang positif.



Bahkan, dalam tradisi pesantren, melek ini menjadi semacam laku semi wajib bagi santri untuk mendapatkan cita-cita luhur seperti ingin mendapatkan ilmu yang banyak dan barakah. Tiap malam para santri yang memiliki keinginan kuat begadang dan melakukan ibadah-ibadah seperti belajar (muroja'ah), shalat malam, membaca dzikir khusus dan lain sebagainya.



Permasalahannya kemudian, terkait ibadah shalat sunnah yang dilakukan di malam hari ketika begadang, apakah shalat tahajjud termasuk di dalamnya? Perlu diketahui bahwa Tahajjud adalah shalat sunnah yang dilakukan di malam hari setelah bangun tidur walaupun tidurnya hanya sebentar. Jadi, jika kita tidak tidur sama sekali di waktu malam maka shalat sunnah yang dilakukan tidak dinamakan shalat tahajjud. Begitu menurut pendapat yang mu'tamad.  Imam Romli dalam karyanya Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj menyebutkan :



ويسن (التهجد) بالإجماع لقوله تعالى {ومن الليل فتهجد به نافلة لك} [الإسراء: 79] ولمواظبته - صلى الله عليه وسلم - وهو التنفل ليلا بعد نوم



Artinya : Shalat Tahajjud disunnahkan dengan kesepakatan ulama berdasarkan firman Allah Taala (dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu(QS. Al-Isra' ; 79)) dan juga berdasarkan ketekunan nabi Muhammad SAW dalam melaksanakannya. Shalat Tahajjud adalah shalat sunnah di malam hari setelah tidur.(Syihabuddin Al-Ramli, Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj, Beirut-Dar al fikr, 1404 H., hal. 131 juz 2.)   



Dengan nada yang sama Syekh Sulaiman Ibn Muhamad ibn Umar Al-Bujairomi  menyebutkan :



وتهجد- أي: تنفل بليل بعد نوم

قوله: بعد نوم- ولو يسيرا، ولو كان النوم قبل فعل العشاء، لكن لا بد أن يكون التهجد بعد فعل العشاء، حتى يسمى بذلك وهذا هو المعتمد



Artinya : Dan sunnah melaksanakan shalat tahajjud, yaitu shalat sunnah setelah tidur.

Penjelasan dari frasa (setelah tidur) : walaupun tidur sebentar dan tidurnya dilakukan sebelum shalat Isya, tapi shalat tahajjud tetap dilakukan setelah shalat Isya. Oleh sebab itulah shalat ini disebut shalat Tahajjud(tahajjud : tidur di waktu malam) dan inilah pendapat yang Mu'tamad/kuat.(Sulaiman Ibn Muhamad ibn Umar Al-Bujairomi, Hasyiyatul Bujairomi ala Syarhil Minhaj, Mathba'ah Al-Halabi, 1369 H., hal. 286 Juz 1)



Saudara Muhammad Izzat yang kami hormati, dari penjelasan di atas sudah jelas bahwa shalat tahajjud harus dilakukan setelah tidur. Oleh karena itu, jika ingin melaksanakan shalat tahajjud tidurlah terlebih dahulu walau hanya sebentar. Tapi, jika memang tidak bisa tidur masih ada shalat sunnah lain yang bisa dikerjakan seperti shalat tasbih, shalat hajat, shalat witir dan lain sebagainya. Intinya, isilah malam-malam itu dengan ibadah kepada Allah SWT.



Demikian jawaban dari kami, mudah-mudahan jawaban ini memberikan pencerahan bagi kita semua. Semoga semua amal ibadah kita, baik yang wajib ataupun yang sunnah, diterima oleh Allah SWT. Aaaamiiin….



والله الموفق إلى أقوم الطريق

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته



Ihya' Ulumuddin

Tim Bahtsul Masail NU

Sabtu, 06 April 2019

Hukum Kejahatan Plagiat

Ilustrasi Plagiat
Forum Muslim - Secara hakiki segala yang diam dan bergerak di muka bumi baik daratan maupun lautan memang milik Allah. Kalau secara hakiki ini diterapkan dalam keseharian, kehidupan mendadak chaos karena siapa saja merasa khalifatullah. Namun, secara majazi hak milik Allah bisa diidhofahkan kepada siapa saja agar kehidupan jadi terang dan terus berjalan.


Allah sendiri mengakui adanya antara lain hak milik (haqqul milk) dan hak guna (haqqul intifa') hamba-Nya. Dengan hak milik dan hak guna ini, segala makhluq bisa bergerak secara fungsional, tidak bebas semaunya. Lalu bagaimana dengan plagiat menurut fiqih?


Kamus besar bahasa Indonesia menyebutkan plagiat sebagai "Pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri, msl menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri; jiplakan."


Lembaga Fatwa Mesir, Darul Ifta Al-Mishriyyah melansir keterangan berikut melalui websitenya yang diakses pada Kamis, 5 Maret 2015.http://www.dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx?ID=426


حقوق التأليف والاختراع أو الابتكار مصونة شرعا، ولأصحابها حق التصرف فيها، ولا يجوز الاعتداء عليها والله أعلم. وبناء على ذلك: فإن انتحال الحقوق الفكرية والعلامات التجارية المسجلة لأصحابها بطريقة يفهم بها المنتحل الناس أنها العلامة الأصلية هو أمر محرم شرعا يدخل في باب الكذب والغش والتدليس، وفيه تضييع لحقوق الناس وأكل لأموالهم بالباطل


Hak karya tulis dan karya-karya kreatif, dilindungi secara syara'. Pemiliknya memunyai hak pendayagunaan karya-karya tersebut. Siapapun tidak boleh berlaku zalim terhadap hak mereka. Berdasarkan pendapat ini, kejahatan plagiasi terhadap hak intelektual dan hak merk dagang yang terregistrasi dengan cara mengakui karya tersebut di hadapan publik, merupakan tindakan yang diharamkan syara'. Kasus ini masuk dalam larangan dusta, pemalsuan, penggelapan. Pada kasus ini, terdapat praktik penelantaran terhadap hak orang lain; dan praktik memakan harta orang lain dengan cara batil.


Melihat dari keterangan di atas, sudah semestinya setiap orang mengapresiasi karya orang lain dan menghargainya dengan tidak melakukan plagiasi. Setidaknya kalau tidak bisa izin, menyebutkan sumber lengkap dengan nama pembuatnya kalau mau mengutip semisal karya apa saja mulai dari seni rupa, seni tari, seni musik, sastra, karya jurnalistik, atau temuan budaya lokal lainnya. Wallahu A'lam.



Sumber: NU Online

Menahan Kentut Apakah Membatalkan Shalat?

Ilustrasi menahan kentut


Pertanyaan:



Assalamu'alaikum. Pak ustadz saya ada dua pertanyaan. 1. Ketika kita sedang shalat tidak lama kemudian kita merasa akan ada angin yg keluar dari dubur tapi kita mencoba menahannya apa batal shalat kita?  2. Ketika kita sedang shalat dan di dalam shalat ada hal yang membuat kita batal apakah kita harus langsung keluar barisan apa gimana ? Wassalam.



Andri Novarinto



Jawaban:



Wa'alaikum salam wr. Wb.



Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Ada dua pertanyaan yang diajukan kepada kami. Dan kami akan mencoba menjawa pertanyaan yang pertama terlebih dahulu. Sementara untuk pertanyaan kedua sudah pernah kami bahas di rubrik Bahtsul Masail ini.



Memang sering kali kali ketika di tengah-tengah shalat tiba-tiba kepengin kentut. Karena di tengah-tengah shalat, maka kita pun biasanya berusaha sekuat mungkin untuk menahan kentut tersebut agar jangan sampai keluar.  



Sepanjang pengetahuan kami, persoalan menahan kentut di tengah shalat tidak pernah dibicarakan secara langsung dalam hadits Rasulullah saw, tetapi yang kami temukan adalah hadits yang terkait menahan keinginan untuk makan ketika makanan telah disuguhkan dan menahan kencing atau buang air besar ketika dalam shalat.



 لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ طَعَامٍ وَلَا وَهُوَ يُدَافِعُهُ الْاَخْبَثَانِ



"Tidak ada shalat di hadapan makanan, begitu juga tidak ada shalat sedang ia menahan air kencing dan air besar (al-akhbatsani)". (H.R. Muslim)



Yang dimaksud dengan "tidak ada shalat" adalah tidak sempurna shalatnya (seseorang). Sedang maksud "di hadapan makanan" adalah ketika makanan dihidangkan dan ia ingin memakannya. Begitu juga ketika menahan air kencing dan buang air besar.



Hadits di atas, menurut Imam Muhyiddin Syaraf an-Nawawi mengandung hukum makruh shalat bagi seseorang ketika makanan telah dihidangkan dan ia ingin memakannya, dan bagi orang yang menahan kencing dan buang air besar. Makruh artinya boleh dikerjakan tetapi lebih baik ditinggalkan. Kenapa menjalankan shalat dalam kondisi seperti itu dihukumi makruh? Karena dapat mengganggu pikiran dan menghilangkan kesempurnaan kekhusu'annya.



Jadi, yang menjadi illah al-hukm atau alasan hukum kemakruhannya adalah hilangnya kekhusu'an. Sehingga dari sini dapat dipahami bahwa sesuatu yang menimbulkan hilangnya kemakruhan seperti kasus di atas dapat dihukumi sama. Sebagaimana dikemukakan oleh Imam Muhyiddin Syaraf an-Nawawi. Lebih lanjut menurut beliau kemakruhan tersebut menurut pandangan dari kalangan madzhab syafii dan selainnya, dengan catatan  selagi waktu shalat itu masih longgar.



وَفِي رِوَايَةٍ لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ طَعَامٍ وَلَا وَهُوَ يُدَافِعُهُ الْاَخْبَثَانِ فِي هَذِهِ الْأَحَادِيثِ كَرَاهَةُ الصَّلَاةِ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ الَّذِي يُرِيدُ أَكْلُهُ لِمَا فِيهِ مِنَ اشْتِغَالِ الْقَلْبِ بِهِ وِذِهَابِ كَمَالِ الْخُشُوعِ وَكَرَاهَتِهَا مَعَ مُدَافَعَةِ الْأَخْبَثَيْنِ وَهُمَا الْبَوْلِ وَالْغَائِطِ وَيُلْحَقُ بِهَذَا مَا كَانَ فِي مَعْنَاهُ مِمَّا يُشْغِلُ الْقَلْبَ وَيُذْهِبُ كَمَالَ الْخُشُوعِ وَهَذِهِ الْكَرَاهَةُ عِنْدَ جُمْهُورِ أَصْحَابِنَا وَغَيْرُهُمْ إِذَا صَلَّى كَذَلِكَ وَفِي الْوَقْتِ سَعَةٌ



"Dalam sebuah riwayat dikatakan: 'Tidak ada shalat di hadapan makanann, begitu juga tidak shalat sedang ia menahan air kencing dan air besar'. Dalam hadits-hadits ini mengandung kemakruhan shalat ketika makanan dihidangkan dimana orang yang sedang shalat itu ingin memakannya. Hal ini dikarenakan akan membuat hatinya kacau dan hilangnya kesempurnaan kekhusu'an. Kemakruhan ini juga ketika menahan kencing dan buang air besar. Dan di-ilhaq-kan dengan hal tersebut adalah hal sama yang mengganggu hati dan menghilangkan kesempurnaan kekhusu'an. Hukum kemakruhan ini menurut mayoritas ulama dari kalangan kami (madzhab syafii) dan lainnya. Demikian itu ketika waktu shalatnya masih longgar". (Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Muslim bin al-Hajjaj, Bairut-Dar Ihya` at-Turats al-'Arabi, cet ke-2, 1393 H, juz, 5, h. 46)



Berpijak dari keteranngan ini maka ketika ada seseorang yang menahan kentut ketika menjalankan shalat maka shalatnya menjadi makruh sepanjang waktunya masih longgar. Yaitu, apa bila ia membatalkan shalat dan masih ada sisa waktu untuk menjalankan shalat yang telah dibatalkan. Sebab, menahan kentut dalam shalat juga termasuk hal yang bisa merusak atau menghilangkan kekhusu'an.



Karenanya, ketika orang tersebut melakukan shalat dalam keadaan seperti itu maka ia melakukan hal yang dimakruhkan. Sedang menurut madzhab syafii dan mayoritas ulama shalatnya tetap sah, namun disunnahkan untuk mengulanginya. Sedangkan menurut madzhab zhahiri shalatnya batal sebagaimana dikemukan oleh Qadli Iyadl.



وَإِذَا صَلَّى عَلَى حَالِهِ وَفِي الْوَقْتِ سَعَةٌ فَقَدْ ارْتَكَبَ الْمَكْرُوهَ وَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ عِنْدَنَا وَعِنْدَ الْجُمْهُورِ لَكِنْ يُسْتَحَبُّ اِعَادَتُهَا وَلَا يَجِبُ وَنَقَلَ الْقَاضِي عِيَاضٌ عَنْ أَهْلِ الظَّاهِرِ أَنَّهَا بَاطِلَةٌ



"Dan ketika ia melakukan shalat dalam kondisi seperti itu dan waktunya masih longgar maka sesungguhnya ia telah melakukan perkara yang dimakruhkan, sedang shalatnya menurut kami dan mayoritas ulama adalah sah akan tetapi sunnah baginya untuk mengulangi shalatnya. Sedangkan Qadli Iyadl menukil pendapat dari kalangan zhahiriyah bahwa shalatnya adalah batal". (Muhyiddin Syaraf an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Muslim bin al-Hajjaj, Bairut-Dar Ihya` at-Turats al-'Arabi, cet ke-2, 1393 H, juz, 5, h. 46)



Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan, semoga bermanfaat. Dan saran kami, sepanjang waktu shalat masih longgar, maka sebaiknya jangan melakukan shalat dalam kondisi lapar sedang makanan sudah hidangkan, menahan kening, buang air besar, atau kentut karena akan menghilangkan kekhusu'an dalam shalat. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq, Wassalamu'alaikum Wr. Wb. [NU Online]



Mahbub Ma'afi Ramdlan

Tim Bahtsul Masail NU

Ulama Yaman: Saya Sangat Bersyukur di Indonesia Ada NU

DR (HC) Syekh Al-Habib Abu Bakar Al-Adni
Forum Muslim - Ulama asal Yaman DR (HC) Syekh Al-Habib Abu Bakar Al-Adni memuji model perjuangan Islam di Indonesia dan utamanya dalam mendidik kedewasaan masyarakat dalam pemahaman agama. Menurutnya, Islam di Indonesia secara umum sudah berada di jalur yang benar.

Ia juga memuji strategi dakwah organisasi semacam Nahdlatul Ulama dalam memperjuangkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia. Baginya, Islam sebagaimana yang berkembang di Indonesia inilah yang sebenarnya dibutuhkan di berbagai belahan dunia ini.

"Saya telah mendengar adanya organisasi Nahdlatul Ulama ini, karena gaungnya telah terdengar ke seantero dunia ini. Dan saya sangat bersyukur bahwa di Indonesia ini ada organisasi semacam NU ini yang senantiasa berkomitmen untuk berjihad mendakwahkan Islam yang moderat," katanya.

Abu Bakar Al-Adni menyampaikan hal itu pada acara Kuliah Tamu yang diselenggarakan Pascasarjana Pendidikan Islam dan Hukum Islam Universitas Islam Malang (Unisma) pada Rabu (13/5).

Dalam pandangannya, posisi NU yang merdeka dari pengaruh pemerintah sangat strategis. Karena hal itu akan membuatnya lebih mampu dalam mengawal kinerja pemerintah dan mengayomi masyarakat.

Mandiri Pendidikan

Lebih jauh ia juga memuji realitas pendidikan Islam di Indonesia yang mana masyarakat diperkenankan untuk berperan dalam penyelenggaraan pendidikan. Ia mengaku kagum bahwa kenyataan di Indonesia NU telah menyelenggarakan dunia pendidikan yang dikelolanya sendiri. Hal ini, menurutnya, adalah nilai lebih Islam Indonesia dibandingkan dengan Timur tengah.

"Di Timur Tengah tidak ada pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh swasta seperti di Indonesia ini. Semuanya diselenggarakan pemerintah. Sehingga setiap tindakan dan pergerakannya diawasi dan dipengaruhi oleh pemerintah. Dalam hal ini adalah nilai lebih Indonesia daripada timur tengah." Katanya di hadapan sekitar 50 peserta kuliah tamu ini.

Abu Bakar Al-Adni menilai, campur tangan bernuansa kepentingan politik pemerintah dalam urusan penddikan berbahaya karena menghilangkan kemerdekaan dalam hal keilmuan. "Seperti mereduksi makna jihad dan sebagainya. Munculnya gerakan-gerakan Islam ekstrem di Timur Tengah di satu sisi, dan Islam liberal di sisi lain adalah dampak dari hal ini," urainya.

"Demikian juga berbagai pergolakan di berbagai negara di Timur Tengah termasuk negara kami Yaman juga adalah termasuk dampak dari campur tangan pemerintah dalam dunia pendidikan." tambahnya. (Ahmad Nur Kholis/Mahbib)