Rabu, 08 April 2020

Nabi Sulaiman, Semut, dan Rezeki Cacing Buta


Forum Muslim - Pada suatu hari Nabi Sulaiman a.s. duduk di pinggir danau. Sejurus kemudian, ia melihat seekor semut membawa sebiji gandum. Nabi Sulaiman a.s. terus memperhatikan semut itu, yang tengah menuju ke tepi danau.


Tiba-tiba ada seekor katak yang keluar dari dalam air seraya membuka mulutnya. Entah bagaimana prosesnya, semut itu kemudian masuk ke dalam mulut katak. Kemudian, katak itu pun menyelam ke dasar danau dalam waktu yang cukup lama.


Sementara Nabi Sulaiman a.s. memikirkan peristiwa barusan, katak tersebut keluar dari dalam air dan membuka mulutnya. Lalu semut itu keluar, sementara sebiji gandum yang dibawanya sudah tidak ada lagi bersamanya.


Nabi Sulaiman a.s. memanggil semut itu dan menanyakan kepadanya tentang apa yang dilakukan barusan, "Wahai semut, apa yang kamu lakukan selama berada di mulut katak?"


"Wahai Nabiyullah, sesungguhnya di dalam danau ini terdapat sebuah batu yang cekung berongga, dan di dalam cekungan batu itu terdapat seekor cacing yang buta," jawab semut.


"Cacing tersebut tidak kuasa keluar dari cekungan batu itu untuk mencari penghidupannya. Dan sesungguhnya Allah telah mempercayakan kepadaku urusan rezekinya," lanjut semut.


"Oleh karena itu, aku membawakan rezekinya, dan Allah swt. telah menguasakan kepadaku sehingga katak ini membawaku kepadanya. Maka air ini tidaklah membahayakan bagiku. Sesampai di batu itu, katak ini meletakkan mulutnya di rongga batu itu, lalu aku pun dapat masuk ke dalamnya,"


"Kemudian setelah aku menyampaikan rezeki kepada cacing itu, aku keluar dari rongga batu kembali ke mulut katak ini. Lalu katak ini mengembalikan aku di tepi danau."


Nabi Sulaiman a.s. kemudian bertanya, "Apakah kamu mendengar suara tasbih cacing itu?"


"Ya, cacing itu mengucapkan: Yâ man lâ yansani fî jaufi hâdzihi bi rizqika, lâ tansâ 'ibâdakal mu'minîna bi rahmatik (Wahai Dzat Yang tidak melupakan aku di dalam danau yang dalam ini dengan rezeki-Mu, janganlah Engkau melupakan hamba-hamba-Mu yang beriman dengan rahmat-Mu)."


Demikianlah, Allah mengatur rezeki segenap makhluknya, termasuk manusia. Sebagaimana pesan al-Qur'an dalam surat Hûd ayat 6: Wa mâ min dâbbatin fil ardli illâ 'alaLlahi rizquhâ (Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya). [FM]


(disarikan dari Kisah 25 Rasul)

Zakat Harta Simpanan dan Penyalurannya


 

Pertanyaan:

 

Saya ingin mengeluarkan zakat maal dari uang simpanan saya yang insyaAllah sudah sampai nisab dan haulnya. Apakah boleh saya berikan dalam bentuk sembako kepada yang berhak menerimanya ataukah harus berwujud uang?

 

Seandainya boleh, manakah yang lebih afdhal diantara keduanya dan adakah dalilnya? Mohon pencerahannya pak Ustad supaya kami mantap hati dalam pengamalannya. Semoga pencerahannya bisa menjadi ilmu yang bermanfaat bagi saya dan menjadi simpanan pahala yang berlimpah bagi Pak Ustad. Terimakasih. Wassalamu'alakum Wr. Wb.

 

(Muhidin)

 

Jawaban:

 

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah Swt. Kami memberikan apresiasi yang luar biasa atas kesadaran Bapak dalam membayar zakat, yang tentunya itu lahir dari keimanan yang kuat.

 

Para ulama berbeda pendapat mengenai soal boleh atau tidaknya membayar zakat uang atau emas dengan harta atau benda lain yang senilainya (qimah), atau bukan dari jenisnya. Misalnya zakat disalurkan dalam bentuk sembako. Ada yang mengatakan tidak boleh, ada yang mengatakan boleh.

 

Perselisihan pendapat ini lahir pada dasarnya karena perbedaan dalam melihat hakikat dari makna zakat itu sendiri. Kalangan yang tidak memperbolehkannya lebih cendrung memaknai zakat sebagai bentuk ibadah semata dan cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karenanya, harus mengikuti ketentuan yang sudah ditetapkan dalam nash.

 

Sedang kalangan yang memperbolehkan cenderung melihat zakat sebagai hak yang ditetapkan dalam harta orang-orang kaya untuk kalangan fakir-miskin. Dengan kata lain, zakat adalah hak material (haqqun maliyyun) yang diperuntukkan untuk menutupi kekurangan kalangan fakir-miskin. Karenanya, menurut mereka diperbolehkan membayar zakat dengan yang senilainya. Salah satu dalil mereka adalah apa yang dilakukan Mu'adz bin Jabal Ra kepada penduduk Yaman:

 

 وَقَالَ طَاوُسٌ: قَالَ مُعَاذٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِأَهْلِ اليَمَنِ ائْتُونِى بِعَرْضٍ ثِيَابٍ خَمِيصٍ أَوْ لَبِيسٍ فِى الصَّدَقَةِ ، مَكَانَ الشَّعِيرِ وَالذُّرَةِ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ ، وَخَيْرٌ لأَصْحَابِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ --رواه البخاري

 

"Thawus berkata, bahwa Mu'ad bin Jabal berkata kepada penduduk Yaman: Berikanlah kepadaku barang berupa pakaian- khamish (pakaian yang panjangnya sekitar lima dira')  atau baju lainnya sebagai ganti gandum dan jagung dalam zakat. Dan hal tersebut lebih mudah bagi kalian dan lebih baik bagi para shahabat Nabi saw di Madinah" (H.R. Bukhari)

 

Dalam pandangan mereka, dalil di atas menunjukkan bahwa Mu'adz menarik zakat sesuatu yang senilai dengannya, bukan dengan gandum dan jagung sesuai dengan ketetapan yang berlaku.

 

Hemat kami, kedua pandangan yang saling bertentangan yang lahir dari cara pandangan yang berbeda dalam melihat zakat tidak perlu dipertentangkan dengan tajam. Sebab, zakat pada dasarnya mengandung dua pengertian sekaligus. Yaitu disamping sebagai bentuk ibadah kepada Allah, zakat juga mengandung pengertian sebagai hak yang ditetapkan dalam harta orang-orang kaya untuk kalangan fakir-miskin.      

 

Karena itu, maka kedua pendapat di atas bisa digunakan sepanjang membawa kemaslahatan. Artinya, kita bisa memilih pendapat yang pertama jika memang hal itu dianggap yang paling membawa kemaslahatan bagi si penerima zakat. Sama halnya pilihan terhadap pendapat yang kedua. Jadi dalam perbedaan pendapat ini acuannya adalah kemaslahatan.

 

Penjelasan tersebut, jika ditarik ke dalam konteks pertanyaan di atas, maka zakatnya uang tetap diberikan berupa uang dengan mengacu kepada pendapat pertama dan didasarkan atas pertimbangan kemaslahatan. Namun boleh juga—dengan mengacu kepada pendapat kedua—zakatnya uang diganti, misalnya dengan sembako yang senilai, dengan catatan hal itu dipandang lebih membawa kemanfaatan dan kemaslahatan bagi orang-orang yang berhak menerima zakat.    

 

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan, semoga bisa menjadi bahan pertimbangan yang berarti. Dan semoga dengan berzakat, harta Bapak bisa menjadi bersih dan berkah. [FM]

 

Mahbub Ma'afi Ramdlan

Tim Bahtsul Masail NU

Bacaan Al-Fatihah Imam yang Aneh



Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Bagaimana hukum membaca surat Al-Faatihah pada shalat fardlu dengan bacaan yang tidak lazim sebagaimana para ulama Nahdliyin pada umumnya. Di daerah kami ada salah seseorang menjadi imam besar salah satu masjid agung dengan bacaan “ghoiril maghdluba” bukan “ghairil maghdlubi” sebagaimana yang dibaca Imam-imam shalat pada umumnya.

Sepengetahuan kami bacaan “ghoril maghdluba” hanya diperbolehkan di luar shalat menurut qaidah ilmu nahwu-shorof. Bagaimanakah hukum shalat dengan bacaan tersebut di atas? Apakah makmum wajib melakukan i'adah setelah mengetahui akan bacaan tersebut di atas ? Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

(Fakhri Herdiansyah)

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Bapak Fakhri Herdiansyah yang kami hormati. Al-Fatihah adalah surat yang menjadi rukun dalam shalat dan selalu ada di setiap rakaat. Bacaan Al-Fatihah di dalam shalat haruslah sesuai dengan kaidah tajwid. Haruslah jelas panjang, pendek, syiddah dan lain-lain.

 

Dalam bacaan Al-Fatihah tidak boleh ada perubahan kata yang bisa merubah makna seperti An’amta dirubah menjadi An’amtu. Adapun perubahan kata yang tidak berpengaruh pada perubahan makna maka sebagian ulama memperbolehkan. Ini dapat kita lihat dalam kitab I’anatuth Tholibin hal. 140 sebagai berikut:

 

)قولهيغير المعنى) المراد به نقل الكلمة من معنى إلى معنى آخر، كضم تاء أنعمت أو كسرها، أو نقلها إلى ما ليس له معنى كالدين بالدال بدل الذال

 وخرج به ما لا يغير كالعالمون بدل العالمين، والحمد لله بضم الهاء، ونعبد بفتح الدال وكسر الباء والنون، وكالصراط بضم الصاد، فلا تبطل الصلاة بذلك مع القدرة والعلم والتعمد 

 

Artinya: (Yang mengubah makna) maksudnya adalah mengubah kata yang menyebabkan perubahan dari makna yang satu ke makna yang lain, seperti membaca dhommah atau kasroh pada ta’ yang terdapat pada kata "an’amta", atau mengganti kata dengan kata yang tidak memiliki makna seperti "alladiina" menggunakan dal sebagai ganti dari dzal.

 

 Adapun perubahan yang tidak berpengaruh pada perubahan makna seperti “‘Aalamuun” sebagai ganti dari “‘Aalamiin”, Alhamdulillaahu dengan dhommah pada ha lafadh jalalah, dan “na’budu” menjadi “ni’bida” dengan “dal” fathah serta kasroh pada “nun” dan “ba’”, “Ash-shirooth” menjadi “Ash-shurooth” dengan dhommah pada “shod”, maka hal yang demikiaan tidak membatalkan sholat walaupun musholli (orang yang shalat)  sebenarnya mampu, tahu dan hal itu disengaja.

 

Dengan demikian, bacaan sebagaimana yang disebutkan dalam pertanyaan di atas tidak menyebabkan sholat itu batal. Kemudian, shalat makmum tentunya tidak batal dan tidak perlu i’adah(mengulang shalat).

Namun demikian, kami tetap menyarankan kepada imam terutama jika memimpin jamaah yang diikuti banyak orang dari berbagai tempat agar membaca surat Al-Fatihah atau ayat-ayat yang dibaca setelahnya dengan bacaan atau dengan cara membaca yang umum, agar tidak membingungkan para makmum atau menjadi pertanyaan di kalangan masyarakat.

 

Demikian jawaban kami, semoga memberi pencerahan bagi kita semua. Aamiin…

 

والله أعلم بالصواب والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

Ihya’ Ulumuddin  

Tim Bahtsul Masail NU


Bacaan Al-Fatihah Imam yang Anehfiq



Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Bagaimana hukum membaca surat Al-Faatihah pada shalat fardlu dengan bacaan yang tidak lazim sebagaimana para ulama Nahdliyin pada umumnya. Di daerah kami ada salah seseorang menjadi imam besar salah satu masjid agung dengan bacaan “ghoiril maghdluba” bukan “ghairil maghdlubi” sebagaimana yang dibaca Imam-imam shalat pada umumnya.

Sepengetahuan kami bacaan “ghoril maghdluba” hanya diperbolehkan di luar shalat menurut qaidah ilmu nahwu-shorof. Bagaimanakah hukum shalat dengan bacaan tersebut di atas? Apakah makmum wajib melakukan i'adah setelah mengetahui akan bacaan tersebut di atas ? Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

 

(Fakhri Herdiansyah)

 

Jawaban:

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Bapak Fakhri Herdiansyah yang kami hormati. Al-Fatihah adalah surat yang menjadi rukun dalam shalat dan selalu ada di setiap rakaat. Bacaan Al-Fatihah di dalam shalat haruslah sesuai dengan kaidah tajwid. Haruslah jelas panjang, pendek, syiddah dan lain-lain.

 

Dalam bacaan Al-Fatihah tidak boleh ada perubahan kata yang bisa merubah makna seperti An’amta dirubah menjadi An’amtu. Adapun perubahan kata yang tidak berpengaruh pada perubahan makna maka sebagian ulama memperbolehkan. Ini dapat kita lihat dalam kitab I’anatuth Tholibin hal. 140 sebagai berikut:

 

)قولهيغير المعنى) المراد به نقل الكلمة من معنى إلى معنى آخر، كضم تاء أنعمت أو كسرها، أو نقلها إلى ما ليس له معنى كالدين بالدال بدل الذال

 وخرج به ما لا يغير كالعالمون بدل العالمين، والحمد لله بضم الهاء، ونعبد بفتح الدال وكسر الباء والنون، وكالصراط بضم الصاد، فلا تبطل الصلاة بذلك مع القدرة والعلم والتعمد 

 

Artinya: (Yang mengubah makna) maksudnya adalah mengubah kata yang menyebabkan perubahan dari makna yang satu ke makna yang lain, seperti membaca dhommah atau kasroh pada ta’ yang terdapat pada kata "an’amta", atau mengganti kata dengan kata yang tidak memiliki makna seperti "alladiina" menggunakan dal sebagai ganti dari dzal.

 

 Adapun perubahan yang tidak berpengaruh pada perubahan makna seperti “‘Aalamuun” sebagai ganti dari “‘Aalamiin”, Alhamdulillaahu dengan dhommah pada ha lafadh jalalah, dan “na’budu” menjadi “ni’bida” dengan “dal” fathah serta kasroh pada “nun” dan “ba’”, “Ash-shirooth” menjadi “Ash-shurooth” dengan dhommah pada “shod”, maka hal yang demikiaan tidak membatalkan sholat walaupun musholli (orang yang shalat)  sebenarnya mampu, tahu dan hal itu disengaja.

 

Dengan demikian, bacaan sebagaimana yang disebutkan dalam pertanyaan di atas tidak menyebabkan sholat itu batal. Kemudian, shalat makmum tentunya tidak batal dan tidak perlu i’adah(mengulang shalat).

Namun demikian, kami tetap menyarankan kepada imam terutama jika memimpin jamaah yang diikuti banyak orang dari berbagai tempat agar membaca surat Al-Fatihah atau ayat-ayat yang dibaca setelahnya dengan bacaan atau dengan cara membaca yang umum, agar tidak membingungkan para makmum atau menjadi pertanyaan di kalangan masyarakat.

 

Demikian jawaban kami, semoga memberi pencerahan bagi kita semua. Aamiin…

 

والله أعلم بالصواب والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

Ihya’ Ulumuddin  

Tim Bahtsul Masail NU


Satu Pagi di Depan Ka'bah


Oleh: Azyumardi Azra


Setiap kali kembali ke Masjid al-Haram dan lingkungannya selang  hanya beberapa tahun, ketika itu pula jamaah haji atau umrah bisa menyaksikan dan sekaligus merasakan banyak perubahan. Renovasi atau pembangunan kembali Masjid al-Haram seolah tidak pernah berhenti bertahun-tahun sepanjang ingatan.


Penulis Resonansi ini juga merasakan hal yang sama ketika satu pagi Jumat, Sayyid al-Ayyam (2 Januari 2015) melakukan ibadah umrah. Jama'ah pagi itu tidak terlalu ramai  di jalanan dan pelataran luar masjid. Tetapi seperti biasanya, jama'ah yang sedang tawaf tetap berjubel. Begitu juga jama'ah yang mengerjakan sa'i—memadati koridor antara Shafa dan Marwa.


Semua ritual ibadah umrah berlangsung di tengah konstruksi besar-besaran. Begitu jamaah memasuki Masjid dari arah Pintu Raja Fahd atau pintu mana saja, terlihat dua tingkatan jalan layang beton, semacam flyover untuk bertawaf, tidak jauh di atas lingkaran luar Ka'bah. Kelihatan sangat mengganggu keindahan dan kesyahduan bertawaf. Belakangan saya mendapat informasi, 'jalan layang' di atas Ka'bah itu hanya sementara, yang bakal dibongkar ketika pembangunan selesai—sesuai rencana—pada 2020.


Soal fly over itu hanya bagian kecil dari perubahan jauh lebih besar baik terkait Masjid al-Haram maupun lingkungan di luar masjid. Dapat dikatakan, Masjid al-Haram mengalami pembangunan kembali agar lebih besar dan konon lebih indah (make over). Penulis Resonansi ini hampir tidak lagi mengenali lanskap masjid seperti 2009 ketika menjalankan umrah Ramadhan.


Lebih jauh, di mana-mana terdapat dinding tinggi menutupi bagian masjid yang sedang dikerjakan. Tak kurang, suara bising datang dari pekerjaan konstruksi yang tengah dikerjakan juga muncul dari mana-mana.


Di bagian luar masjid, secara mencolok terdapat sejumlah gedung baru yang menyatu menjadi semacam konglomerasi bangunan di tempat yang dulu adalah benteng 'Ajyad', kini diberi nama 'Abraj al-Bayt'. Konglomerasi gedung jangkung ini terdiri dari mall sampai tingkat 5; seterusnya hotel mewah semacam Fairmont Hotel and Resort berbintang lima; apartemen (tepatnya kondominium) dan istana—terlihat sangat glamour.


Di puncak konglomerasi gedung ini bertengger Menara Jam Makkah (Mecca Clock Tower), yang sering disebut bahkan oleh banyak warga Hijaz sebagai 'Mecca Big Ben', seperti 'London Big Ben' yang jauh lebih tua (selesai 1858). Asosiasi ini sulit terelakkan. Menara Jam Makkah setinggi 601 meter merupakan tower tertinggi kedua di dunia pada 2012, mengalahkan ketinggian gedung 101 Taipei. Kini Menara Jam Makkah menduduki tempat ketiga tertinggi di dunia setelah Burj al-Arab Dubai dan Shanghai Tower. Sebagai menara jam, Menara Jam Makkah adalah yang tertinggi di dunia.


Dana yang dihabiskan untuk membangun kompleks Menara Jam Makkah ini tidak sedikit. Menurut Kementerian Wakaf Saudi dan berbagai sumber lain, dana yang dihabiskan sekitar 15 milyar dolar AS. Sedangkan biaya pembangunan kembali Masjid al-Haram sampai selesai lima tahun ke depan diproyeksikan mencapai 60 miliar dolar.


Dari satu segi, pengembangan atau bahkan pembangunan kembali Masjid al-Haram bisa dipahami karena meningkatnya jumlah jamaah haji mencapai sekitar lebih tiga juta jamaah. Menurut Kementerian Haji Arab Saudi mencapai 3,65 juta pada musim haji 2012, kemudian merosot sekitar satu juta orang pada 2013 dan 2014 karena pengurangan kuota akibat pembangunan tersebut.


Pengurangan kuota jamaah haji mengakibatkan peningkatan jumlah jamaah umrah. Sejak 2013 jumlah jamaah umrah mencapai lebih dari enam juta orang. Jumlah ini terus meningkat tajam pada 2014 khususnya pada bulan Ramadhan yang diyakini banyak jamaah umrah sebagai sama pahalanya dengan ibadah haji.


Tetapi pembangunan kembali Masjid al-Haram dan lingkungannya dengan alasan masuk akal itu juga mengundang banyak kontroversi dan oposisi. Salah satu alasan pokok, proyek ini mengakibatkan kian lenyapnya situs-situs historis, semacam 'benteng Ajyad' yang dibangun Dinasti Usmani, atau tiang-tiang Masjid al-Haram yang telah berusia berabad-abad.


Menurut The Islamic Heritage Research Foundation, lembaga asal Teluk Persia [atau Teluk Arab] yang berpusat di Washington DC, dalam 20 tahun terakhir, perluasan atau pembangunan kembali Masjid al-Haram melenyapkan sekitar 95 persen bangunan dan lingkungan aslinya. Seorang perempuan Saudi asal Hijaz dalam percakapan dengan penulis Resonansi ini menyatakan kejengkelan karena alasan sama. Bagi dia, proyek tersebut tidak lain merupakan penghancuran.


Selain itu, kritik juga tertuju pada 'Abraj al-Bayt' yang menjanjikan fasilitas serba mewah yang bukan tidak hedonistik semacam kamar suite hotel bertarif sekitar 7.000 dolar semalam atau fasilitas spa. Bentuk kemewahan yang ada di tempat lain, kini juga dapat dinikmati di 'Abraj al-Bayt', yang bukan tidak bisa mengingatkan orang dengan dunia gemerlap Las Vegas.


Di tengah kemewahan itu, terdapat masih banyak jamaah haji atau umrah yang menggelandang di pinggir jalan. Mereka pergi haji atau umrah lebih didorong keimanan-keislaman tanpa mempertimbangkan kesengsaraan yang mereka alami karena keterbatasan dana. Satu pagi yang kontras di depan Ka'bah yang terus berlanjut di hari-hari esok. [FM]

 

Sumber : Republika, 15 January 2015

Azyumardi Azra, Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Menjejak Perjuangan Khalid ibn Walid


Oleh: Moh. Mahfud MD

 

Kamis (22/1/2015) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) menyelenggarakan silaturahmi nasional tokoh-tokoh KAHMI lintas politik dan profesi.


Hadir Wapres Jusuf Kalla, Ketua Wanbin Golkar Akbar Tanjung, beberapa ketua lembaga negara, beberapa menteri, dan anggota DPR dan DPD dari KAHMI. Berikut petikan Pidato Pembukaan Ketua Majelis Nasional KAHMI Prof Dr Moh Mahfud MD. Pertemuan silaturahmi ini dilatarbelakangi oleh keinginan untuk membangun sinergi langkah warga KAHMI ke dalam satu tujuan meski dalam pilihan- pilihan dan perahu politik serta profesi yang berbeda.


Silaturahmi kaukus KAHMI ini penting untuk menegaskan bahwa "idealisme" HMI sebagai pencetak insan cita harus terus dibangun secara bersama, tak peduli apa pun perahu politik atau kendaraan organisasi yang dipakai masing- masing. Tentang ini saya ingin mengambil iktibar (pengibaratan) dari sikap panglima perang Khalid ibn Walid ketika tiba-tiba harus berhenti sebagai panglima perang dan menjadi serdadu biasa.


Khalid ibn Walid adalah seorang sahabat nabi yang menjadi panglima yang selalu menang dalam peperangan seperti Perang Muktah, Perang Yarmuk, dan sebagainya. Sepanjang kariernya sebagai panglima tak sekalipun pasukan Khalid ibn Walid kalah. Karena keperkasaannya dalam memimpin perang, Khalid ibn Walid oleh Rasulullah dijuluki sebagai Pedang Allah (Saifullah).


Tetapi, sungguh dramatis, ketika Khalid berada pada puncak prestasinya yang penuh sinar gemilang, saat ekspansi Islam ke Yaman dan bagi tentara Islam kemenangan sudah tinggal selangkah lagi, Khalifah Umar ibn Khaththab tiba-tiba memberhentikan Khalid dari jabatannya sebagai panglima perang. Umar sendiri sebenarnya pengagum Khalid ibn Walid sehingga dia pernah mengatakan bahwa takkan pernah ada seorang ibu yang bisa melahirkan anak seperkasa Khalid.


"Khalid tak pernah tidur dan membuat orang tidak bisa tidur untuk selalu berjuang," kata Umar. Tetapi, Umar khawatir terjadi kultus terhadap Khalid ibn Walid karena setiap orang meyakini Khalid pasti akan menang dalam setiap perang yang dipanglimainya. Maka itu, Umar pun memutuskan untuk memberhentikan Khalid ibn Walid. Kaum muslimin kecewa dan mempertanyakan sikap Umar terhadap Khalid itu.


Tetapi, Khalid ibn Walid, sang Pedang Allah, berkata dengan tegar, "Saya berperang bukan untuk Umar. Saya berperang untuk Allah. Sebab itu, jadi panglima atau jadi serdadu biasa saya akan tetap berjuang di jalan Allah." Khalid pun terus berperang, membawa panji-panji Islam, meratakan pemahaman dan perasaan bagi umat manusia bahwa Islam adalah agama yang lurus, penyebar rahmat bagi seluruh alam.


Iktibar yang dapat kita ambil dari episode Khalid ibn Walid itu adalah pada posisi apa pun kita berada hendaklah tetap berpijak pada nilai dasar perjuangan. Kalaulah ada di antara kita yang merasa gagal karena kemenangan atau karena kekalahan seseorang dalam kontes politik misalnya dalam pileg dan pilpres kemarin, kita harus tetap berkata de-ngan gagah, "Saya berjuang bukan untuk Jokowi" atau yang lain bisa mengatakan, "Saya berjuang bukan untuk Prabowo", tapi berjuang untuk Indonesia.


Berjuang untuk Indonesia artinya mendukung pemimpin yang telah dipilih oleh rakyat Indonesia. Siapa pun yang menang atau yang kalah haruslah diterima sebagai kewajaran dalam proses politik yang demokratis dan kita akan terus berjuang melalui posisi masing-masing karena sebenarnya tujuan kita sama yakni "Indonesia yang maju dan jaya".


Kita tidak perlu bermusuhan dan masing-masing kita harus menjadi Khalid ibn Walid untuk bangsa dan negara, harus terus fokus pada tujuan membangun kesejahteraan rakyat Indonesia sebagai tujuan konstitusional negara kita. Karena tujuan konstitusional dan tujuan ber-HMI kita sudah jelas, berdiri dari posisi politik mana pun asal kita konsisten dan istikamah dengan tujuan itu, hasilnya akan baik.

Kita tidak harus berkumpul di satu lingkaran, tapi bisa berada di lingkaran dan jalan yang berbeda- beda, namun dengan titik tujuanyangsama: kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Pertemuan silaturahmi ini dimaksudkan untuk menyatukan kesamaan ide dan suasana batin di antara kita yang berbeda-beda posisi.


Mari memperkuat kalimatun sawa (visi dan langkah yang disinkronkan arahnya ke tujuan yang sama) melalui pintu-pintu eksekutif, legislatif, yudikatif, auditif, konsultatif, ormas, LSM, perkumpulan, paguyuban, dan lain-lain. Yang berjuang di lingkungan eksekutif bekerjalah habis-habisan agar lembaga eksekutif sukses di dalam tugas-tugas konstitusionalnya. Begitu pun yang ada di lembaga legislatif atau lembaga lain, bekerjalah secara lurus dan istikamah agar lembaga yang digelutinya sukses pula meraih tujuan-tujuan konstitusional kita.


Semua berangkat dari idealisme HMI untuk menuju idealisme HMI pula yakni "Indonesia sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur, bukan Indonesia sebagai baldatun sayyibaldatun sayyiatun wa rabbun rujuum". Indonesia sebagai negara sejahtera yang mendapat ampunan Tuhan bukan Indonesia sebagai negara terpuruk yang dilaknat oleh Tuhan.


Tugas-tugas ke-HMI-an untuk membangun insan akademis pencipta dan pengabdi sangatlah luas, tak terbatas pada soal-soal politik. Itulah sebabnya pada malam ini MNKAHMI meluncurkan pula "Gerakan Wakaf" yang akan didedikasikan pada upaya membangun lembaga pendidikan (ambisinya, membangun universitas) dan pelayanan kesehatan (ambisinya, membangun rumah sakit) dengan harapan dapat digelindingkan oleh seluruh warga KAHMI demi khidzmah bagi bangsa dan negara. [FM]

 

Sumber : Koran SINDO, Jum'at,  23 Januari 2015

Moh. Mahfud MD, Ketua Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI)

Aswaja Berparadigma Global



Forum Muslim - Dalam sebuah sarasehan Aswaja (Ahlussunnah wal jama'ah) yang diselenggarakan para pemuda dan pemudi Nahdlatul Ulama (IPNU dan IPPNU) di sebuah kota kecil di Jawa Timur, pertanyaan jenial itu muncul: bagaimana ber-Aswaja dengan cara berpikir global?


Bukan semata-mata karena yang melontarkannya anak-anak muda yang datang dari desa dan latar belakang keluarga santri yang sederhana. Tetapi juga karena pertanyaan itu datang dari sebuah tempat di pelosok, yang cukup jauh dari hiruk-pikuk keriuhan "politik global" – berbeda bila datang dari kalangan mahasiswa atau warga NU yang berada di luar negeri.


Ada sederet hal yang menjadi kegelisahan anak-anak muda itu, yang diajukan kepada penulis untuk dijawab dalam sesi panel diskusi: bagaimana Aswaja di mata dunia? Bagaimana ber-Aswaja di era globalisasi? Dan pada gilirannya, bagaimana ber-Aswaja dengan cara berpikir global?


Pertanyaan-pertanyaan yang tak mudah. Pertama, pertanyaan itu melampaui apa yang dipikirkan oleh para tokoh NU yang berjasa merumuskan pemikiran ke-Aswaja-an NU, sebutlah – untuk menyebut generasi mutakhir – Gus Dur atau Kiai Said Aqil Siradj sendiri. (Lagi-lagi kita akan kaget bercampur gembira bahwa pertanyaan itu dilontarkan oleh santri-santri muda NU.) Wacana Aswaja yang menjadi bidang garapan para tokoh tersebut, khususnya Gus Dur (untuk menyebut stadium terakhir dan bentuk paling "kosmopolit" dari wacana Aswaja yang pernah dimunculkan NU), baru berhenti pada ranah negara (bagaimana agama mendapat tempat dalam negara yang bukan negara Islam), dan belum pada ranah antar-negara (inter-states), lebih-lebih antar-bangsa (inter-national). Secara konseptual, dalam berbagai tulisannya, ada fase ketika persoalan-persoalan dunia menjadi perhatian Gus Dur. Yang pertama, secara analogis, yaitu ketika Gus Dur mencoba memandang persoalan-persoalan dunia secara analogis dengan yang terjadi di dalam negeri. Ini fase esai-esai di Tuhan Tidak Perlu Dibela. Selebihnya fase keterlibatan (engagement), yaitu ketika Gus Dur melibati persoalan itu dengan menempatkan keprihatinannya pada titik yang sentral: bagaimana Islam dapat terlibat dalam membangun perdamaian dunia. Tetapi tidak secara khusus tentang Aswaja.


Kedua, pertanyaan itu membuka dimensi yang tidak terpikirkan dalam pemikiran ke-NU-an yang berpijak pada pengalaman lokalitas dan penghayatan atas hal-hal yang familiar dari tradisi setempat. Sangat sulit, jika bukannya "intimidatif", memaksa seorang warga NU untuk berkomentar tentang suatu dinamika politik di Argentina, atau memintanya menanggapi sebuah penangkapan demonstran di sebuah pawai massa di New York. Hal-hal itu terlalu asing dan jauh dari dunia "kultural"-nya. Praktis pertanyaan itu hanya dapat dilontarkan oleh generasi NU yang lain, yang terikat dengan lokalitasnya namun mengalami pertemuan dengan arus global dan dituntut menanggapinya, sedikit-banyak untuk meredam kontradiksi antara lokalitasnya dan arus baru yang dapat mengasingkannya dari lokalitas itu.


Dan itulah persisnya yang dihadapi anak-anak muda itu, yang mungkin merasakan bahwa dunia kini telah menjadi bagian dari kampung halaman mereka yang terdekat.


Untuk memenuhi permintaan mereka, penulis membuat sebuah draft yang berjudul "Aswaja untuk Kekinian: Tantangan Global, Jawaban Lokal". Untuk merintis suatu pendekatan "global" atas Aswaja, kita mesti menjadikan fenomena global sebagai tantangan. Namun merumuskan tantangan itu saja tidak mudah, karena persoalan-persoalan global yang dihadapi oleh umat manusia hari ini sudah sedemikian kompleks dan berjalin-kelindan dengan persoalan-persoalan struktural yang ruwet dan diferensiasi kehidupan yang kelihatannya terpisah namun terkait satu sama lain. Scott Sernau, dalam Global Problems (2006), menyebut sedikitnya dua belas rumpun persoalan: kelas, kerja, gender dan keluarga, pendidikan, kejahatan, perang, demokrasi dan HAM, etnisitas dan agama, urbanisasi, populasi dan kesehatan, teknologi dan energi, serta ekologi. Sementara Aswaja? Aswaja adalah suatu paradigma beragama. Dapatkah suatu paradigma beragama menjawab sederet persoalan yang penyelesaiannya membutuhkan pendekatan "non-agama"?


Belajar dari kegagalan setiap gerakan yang ingin menjadikan agama sebagai solusi yang tuntas dan instan, maka Aswaja tidak dapat diperlakukan sebagai satu-satunya jawaban "dogmatis", melainkan sebagai tawaran, suatu proposal, suatu kerangka kerja, suatu inspirasi bagi transformasi dunia yang lebih baik, dalam arti sebenarnya. Tidak semua orang, tentu saja, menganut Aswaja, tetapi Aswaja dapat menjadi kerangka kerja yang memungkinkan berbagai pihak bekerja bersama untuk mencari solusi atas persoalan bersama yang dihadapi.


Lagi-lagi persoalannya tidaklah semudah membalik telapak tangan. Lebih mudah menjawab "bagaimana Aswaja di mata dunia" daripada "bagaimana ber-Aswaja dengan cara berpikir global", lebih-lebih "bagaimana memecahkan persoalan dunia dengan kerangka berpikir Aswaja". Pertanyaan pertama dapat dijawab dengan menyajikan statistik: Aswaja, atau Sunnism, dianut oleh kira-kira delapan puluh persen umat Muslim di dunia, kecuali di beberapa negara di mana Syi'ah (Shiism) atau ideologi-ideologi keagamaan lain dominan. Kepenganutan itu sendiri sudah menjadi kekuatan besar untuk suatu perubahan, atau minimal mempertahankan suatu tradisi yang baik dari pengrusakan kekuatan-kekuatan luar.


Hal itu terlihat dari kasus Tunisia dalam Pemilu terakhir baru-baru ini – kekuatan politik Sunni dapat membendung kekuatan politik reaksioner anti-demokratis, yang ingin memanfaatkan situasi pasca-revolusioner untuk tujuan-tujuannya yang sempit. Namun, itu pun tidak sepenuhnya. Kepenganutan Aswaja yang kuat tidak menjamin kemampuannya untuk diporakporandakan oleh ekstremisme dan ideologi-ideologi keagamaan militan yang reaksioner. Gerakan takfiri dan ekstremis-teroristik yang haus kekuasaan, seperti Wahhabi (untuk yang pertama) dan ISIS (untuk yang kedua), terus menjadi tantangan yang mengintai setiap saat.


Pertanyaan tentang "bagaimana Aswaja di mata dunia", dengan kata lain, adalah semata soal membuka dan mengetahui seberapa dalam dan seberapa besar kekuatan "internal" umat Muslim di dunia hari ini, yang sebagian besar bisa dipastikan menganut setidaknya satu dari keempat mazhab fiqh dan berakidah dengan salah satu dari dua mazhab teologi Asy'ariyyah dan Maturidiyyah, serta menerima tasawuf sebagai warisan tradisional yang berharga. Namun itu bukan jaminan untuk membanggakan diri. Mengetahui kenyataan demikian, juga berarti bertanya tentang seberapa kuat daya tahan Aswaja menghadapi godaan perpecahan umat, sektarianisme, dan aksi-aksi kekerasan yang dilancarkan oleh kaum puritan. Seberapa ampuh dan efektif Aswaja dapat menjadi pelindung bagi tradisi-tradisi yang baik (al-qadim ash-shalih) yang setiap saat berada dalam ancaman destruksi, dan terus-menerus menjadi sasaran kaum puritan itu?


Dengan bertanya demikian, mungkin kita akan mampu menjawab "bagaimana ber-Aswaja di era globalisasi". Dengan mengetahui kekuatan dan daya tahan internal Aswaja, kita dapat mengukur seberapa jauh kekuatan tersebut mampu menghadapi tantangan-tantangan global. Seperti disinggung di atas, tidak cukup memahami Aswaja semata-mata Aswaja sebagai paham keagamaan, sementara tantangan global yang dihadapi tidak mesti bersifat keagamaan. Paham keagamaan itu merupakan modal yang perlu di-upgrade  agar dapat menjadi perekat bagi ikatan-ikatan sosial yang riil yang setiap saat mengalami proses pelapukan dan destruksi karena globalisasi yang mendorong individualisme, eksploitasi, kekerasan, dan oportunisme yang sempit. Dengan berlandaskan pada sikap-sikap tawassuth, tawazun, dan i'tidal, maka keragaman pemahaman dan praktik keagamaan yang menjadi mozaik dari kaum Sunni di berbagai negeri akan dapat meregenerasi ikatan-ikatan sosial itu, dan memperkuat tidak saja persaudaraan seagama (ukhuwwah islamiyyah) tetapi juga persaudaraan kemanusiaan (ukhuwwah basyariyyah). Aswaja tidak saja muncul sebagai ikatan keagamaan, tapi juga ikatan sosial baru. Seorang Muslim kulit langsat di pelosok Indonesia dapat menjalin ikatan dengan seorang Muslim kulit hitam dari Afrika Tengah, atau seorang muallaf kulit putih dari sebuah negeri di Eropa Barat. Perbedaan dan keragaman latar belakang ras, budaya, dan mazhab fiqh yang dianut menjadi kekuatan yang mempertemukan dan memungkinkan lahirnya solidaritas baru.


Globalisasi yang dimungkinkan oleh interaksi dan konektivitas di antara berbagai pihak, dapat memungkinkan ikatan-ikatan baru yang tak terduga di antara berbagai elemen penganut Aswaja di berbagai negeri. Hal ini akan memungkinkan pengenalan akan lokalitas masing-masing, dengan melihat keterbatasan masing-masing lokalitas sebagai salah satu dari sekian manifestasi dari keragaman wajah Islam. Kekhasan dialek, kekhasan tradisi zikir dan perayaan sosial (Maulid, khitanan, perayaan kelahiran) akan terungkap dalam pertemuan antar-lokalitas itu. Jika Gus Dur pernah menggulirkan gagasan "pribumisasi Islam", maka dalam perspektif global, penting melihat bagaimana pribumisasi itu terjadi di masing-masing negeri; bagaimana setiap komunitas Muslim mempribumikan Islam dengan caranya masing-masing. Tekanan akan lokalitas masing-masing komunitas Muslim itulah yang akan membedakan "kosmopolitanisme" Aswaja dari kosmopolitanisme dalam teori-teori liberal yang mempromosikan pluralisme tanpa keberakaran tertentu atas lokalita.


Lokalitas itu mungkin menjadi suatu parameter bagi suatu konsepsi yang lebih komprehensif tentang Aswaja berparadigma global. Tetapi itu baru satu parameter, yang bisa jadi belum satu-satunya. Dibutuhkan "ijtihad" untuk menggali Aswaja berparadigma global. Tetapi satu hal setidaknya pasti: generasi Aswaja berwawasan global merupakan generasi poliglot yang mampu berinteraksi dengan beragam bahasa. [FM]


Perempuan Boleh Menyembelih Hewan


Forum Muslim - Di dalam kitab fiqih ada keterangan yang menyatakan bahwa seorang perempuan memiliki hak yang sama dalam hal penyembelihan. Seorang perempuan dibenarkan memotong ataupun menyembelih ayam, begitu pula diperbolehkannya menyembelih kambing ataupun kerbau, jika mampu. Namun hak itu diutamakan kepada lelaki terlebih dahulu. Karena masalah penyembelihan biasanya membutuhkan tenaga ekstra. Dalam kitab I'anatut Thalibin diterangkan:

 

والحاصل أولى الناس بالذبح الرجل العاقل المسلم ثم المرأة العاقلة المسلمة ثم الصابي المسلم المميز ثم الكتابي ثم الكتابية ...

 

Yang lebih utama untuk memotong adalah muslim yang berakal, kemudian muslimah yang berakal, kemudian anak-anak muslim yang sudah mumayyiz dan baligh, kemudian kafir kitabi (laki-laki), kafirah kitabiyah(perempuan)....

 

Demikianlah pada dasarnya tidak ada pelarangan tentang penyembelihan. Akan tetapi ada jenjangnya. Selama ada lelaki muslim maka hendaknya dialah yang menyembelih bukan muslimah. Walaupun tidak ada larangan untuk muslimah. Maka ketika seorang muslimah melakukan penyembelihan sementara ada di sana seorang muslim. Itu namanya khilaful aula menyalahi keutamaa. [FM]

 

Sumber: NU Online