Kamis, 09 April 2020

Cara Merawat Kumis, Jenggot dan Bulu


Forum Muslim - Bulu adalah rambut pendek dan lembut yang tumbuh pada tubuh manusia selain di kepala, jika rambut itu tumbuh di atas kepala disembut dengan rambut. Demikianlah batasan yang diberikan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia yang kebetulan sesuai dengan apa yang dimaksudkan dalam wacana fiqih, yaitu bulu ketiak, bulu kemaluan, dan kumis.

 

Dalam haditsnya Rasulullah saw bersabda:

 

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: « خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ:  الِاسْتِحْدَادُ و الْخِتَانُ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ

 

Lima perkara merupakan fitrah (sesuci) yaitu, memotong bulu kemaluan, berkhitan,  memotong kumis, mencabut bulu ketiak dan memotong kuku"

 

Dari hadits ini para ahli fiqih memberikan hukum sunnah kepada kegiatan yang memiliki orientasi kebersihan dan kerapian, yaitu memotong bulu yang tumbuh di sekitar daerah kemaluan dan mencabut bulu yang tumbuh di ketiak lengan tangan.

 

Bahkan khusus untuk kumis Rasulullah saw pernah menghimbau untuk memotongnya dengan tegas disabdakan   من لم يأخذ من شاربه فليس منا Barang siapa yang tidak memotong kumisnya, bukanlah golongan kami. Demikian bunyi hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Arqam.

 

Demikian fiqih sangat mementingkan perihal berbagai macam bulu yang tumbuh di dalam tubuh, karena berbagai bulu tersebut seringkali menyebabkan ketidak nyamanan, kejengkelan dan juga kegelisahan yang dapat mengganggu pribadi maupun orang lain.

 

Selain itu permasalahan bulu ini juga menyangkut kerapian penampilan. Sesungguhnya Islam sangat menghargai penampilan yang rapi. Sebagaimana dinyatakan Rasulullah saw dalam hadits tentang pemotongan kumis.

 

Demikianlah hal ini harusnya menjadi pertimbangan utama bagi mereka yang memanjangkan jenggot, walaupun Rasulullah saw sendiri pernah bersabda:

 

خالفوا المشركين وفروا اللحي واخفوا الشوارب

 

Artinya "bedakanlah dirimu dari kaum musyrikin, lebatkanlah jenggot dan panjangkanlah kumis"

 

Sesungguhnya hadits ini menganjurkan orang muslim untuk melebatkan jenggot dan memanjangkan kumis sebagai pembeda dari orang musyrik. Akan tetapi standar lebat dan panjang jangan sampai mengorbankan kerapian. Sebagaimana anjuran Rasulullah dalam hadits di atas. Karena jika jenggot itu lebat tak tertaur dan kumis itu panjang tak tertata itulah teori asal beda tanpa tahu alasan dan maknanya, na'udzubillah mindzalik. [FM]

 

Sumber: NU Online

Al Karim Tumpuan Segala Hajat




لاَ تتَعدَّ نيَّةُ هِمَّتَكَ اِلىَ غيرِهِ فاَلْكَريْمُ لاَتتخـَطـَّاهُ الاَماَلُ

"Jangan melampaui/melanggar niat dan tujuanmu [hasrat dan harapanmu] kepada lain-Nya. Maka Tuhan yang maha pemurah itu tidak dapat dilampaui oleh sesuatu harapan (angan-angan) hamba.''

Sebaiknya bagi orang yang mengharapkan berhasil hajatnya, jangan meminta kapada selain الله (makhluk), karena itu bertentangan dengan sifat ‘ubudiyyah. Itu kalau permintaan itu disandarkan/bergantung pada makhluk, dan lupa pada الله ketika berdo’a. apabila permintaan pada makhluk (manusia) menjadi perantara untuk meminta kepada الله, dan selalu memandang الله-lah dzat yang memberi. Permintaan seperti ini masih diperbolehkan.

Perasaan yang luhur enggan membuka kebutuhan [hajat] -nya kepada orang yang tidak dermawan, dan tidak ada yang dermawan pada hakikat yang sebenarnya kecuali الله تعالى.

Syeikh Junaid al-Baghdadi berkata: ''Dermawan [Al-Karim] itu ialah yang memberi kebutuhan seseorang sebelum diminta.'"

Ada pula berpendapat: ''Dermawan [Al-Karim] ialah yang tidak pernah mengecewakan harapan orang yang berharap.''

Dermawan [Al-Karim] yaitu apabila berkuasa mema'afkan, dan bila berjanji menepati, dan bila memberi lebih memuaskan dari harapan, dan tidak memperdulikan tentang berapa banyak pemberiaannya, dan kepada siapa yang ia berikannya.


Al-karim adalah salah satu dari Asma’ul husna. Asma’ ini memberi pengertian yang istimewa tentang الله.

Al-karim berarti:

1. الله Maha pemurah.
2. الله memberi tanpa diminta.
3. الله memberi sebelum diminta.
4.  الله memberi apabila diminta.
5.   الله memberi bukan karena permintaan tetapi cukup sekedar harapan, cita-cita dan angan-angan hamba-hamba-Nya. الله tidak mengecewakan harapan hambanya.
6.   الله memberi lebih baik daripada apa yang diminta dan diharapkan oleh para hamba-Nya.
7.   الله Yang Maha Pemurah tidak dikira berapa banyak yang diberikan-Nya dan kepada siapa Dia memberi.
8.   Paling penting, demi kebaikan hamba-Nya sendiri, الله memberi dengan bijaksana, dengan cara yang paling baik, masa yang paling sesuai dan paling bermanafaat kepada si hamba yang menerimanya.

Sekiranya para hamba mengenali Al-Karim niscaya permintaan, harapan dan angan-angannya tidak tertuju kepada yang lain melainkan kepada-Nya. 

Sumber : https://telegram.me/kitabhikam

Bunga dan Kupu-Kupu


Penghormatan Kiai Ishaq untuk Muridnya



 
Forum Muslim - Tahun 1972, mobil masih tergolong barang langka. Dalam satu kampung, pemilik mobil bisa dihitung dengan jari. Kampung jenis apa saja bisa, kampung di desa maupun di kota. Tentu saja, pasti ada kekecualiannya. Dengan kata lain, ada kampung yang warganya pada punya mobil. Tapi silakan cari sendiri, kampung mana yang banyak mobilnya.


Gandaria, sebuah kampung di Jakarta Selatan, ada seorang yang terkenal gara-gara punya mobil, lebih terkenal lagi, karena ia seorang ulama, Kyai Ishaq Yahya namanya. “Wah, hebat nih ulama kite, bukan hanya punya ilmu agama, tapi juga punya ilmu lari kenceng,” begitu orang berdecak pada Kyai Ishaq. Maksudnya punya ilmu lari kenceng adalah punya mobil.


Ishaq terbilang kiai kondang Jakarta di zamannya. Tentu saja, popularitasnya hadir jauh sebelum masyarakat mendengar nama KH Zainuddin MZ, yang juga asal Gandaria. Karena mobilnya itu, sebuah sedan yang sudah berumur, rutin menyambangi sejumlah titik di Jakarta. Sedan itu membuat kyai kita ini mudah ke mana-mana, bahkan tampak sigap dan cepat.


Selain mendatangi majelis taklim, Kiai Ishaq juga guru agama di sejumlah yayasan pendidikan agama, dan tentu saja ceramah di acara yang diadakan masyarakat, entah itu kawinan, maulidan, dan lain-lain. Dan penguasaannya yang baik dalam “bahasa orang sekolah”, membuatnya sering diundang ke sekolah-sekolah.


Namun, itu semua tidak berlaku untuk kasus berikut. Satu malam, Hasbullah mengadakan kenduri pertemuan (upacara pelepasan naik haji). 


Hasbullah seusia dengan kiai Ishaq. Meski begitu, Hasbullah tetap berguru dan menaruh takzim kepadanya. Hasbullah pernah mengaji dua kitab pada Kyai Ishaq, Riyadlus Shalihin dan Mawahibus Shamad.


Mendengar kabar murid mengadakan kenduri, ia langsung menjulurkan tangan. Kunci mobil diraihnya. Mobil pun melesat cepat dari Gandaria menuju Pondok Pinang Bletan (Timur), kediaman Hasbullah. Tidak jauh, kedua desa ini hanya dipisahkan oleh aliran sungai. Namun, perjalanan akan lama ditempuh dengan jalan kaki karena medan persawahan dan rawa-rawa. Karenanya, Kyai Ishaq memilih mobil, meski harus memutar sedikit jauh.


Sampai di tujuan, masyarakat menghentikan sejenak rangkaian wirid untuk menyongsong kiai. Hasbullah tidak menyana kiai Ishaq datang. Keguggupan Hasbullah sedikit reda setelah menemukan tempat bagi gurunya.


“Ah Ente, kenapa kagak bilang-bilang ada acara?” tanya Kiai kepada muridnya usai pembacaan wirid.“Bukan begitu Kiai, ane khawatir Kiai kerepotan, teganggu,” tanggap Hasbullah sambil menyuguhkan teh pahit.


“Jangan begitu dong. Ente kan ama ana bukan orang lain?” jawabnya enteng sambil merenggut pisang rebus.


Pertemuan ditutup dengan saling mendoakan antara kiai dan muridnya.


Kilasan Kyai Ishaq Yahya


Ishaq Yahya lahir pada 28 April 1928 di Jakarta. Ia mendirikan Pondok Pesantren Miftahul Ulum di halaman rumahnya. Waktunya dihabiskan untuk mengajar dan berorganisasi.


Sejak kecil, ia sangat gemar menuntut ilmu. Tamat di Jamiatul Khair 1949, ia melanjutkan pendidikannya di Mekkah. Di tanah suci, ia menahan diri selama 8 tahun untuk menimba ilmu. Dari kota ini, ia banyak mengambil ilmu dan pengalaman.


Lembaga pendidikan yang dimasukinya adalah Darul Ulum. Nama ini pula yang mengilhami nama pesantrennya di Jakarta. Di lembaga ini, ia belajar kepada banyak guru ahlusunnah wal jamaah. Mereka antara lain Syekh Yasin Alfadani, Guru Muhajirin asal Bekasi, Guru Abdurrazak Makmun asal Mampang, Kiai Ali Syibromalisi asal Mampang, Sayyid Alwy Almaliki, dan lain-lain.


Ia pun aktif dalam NU. Baginya, kiai mesti melek banyak hal, termasuk organisasi. Keorganisasian yang menunjang kekuatan umat, adalah perihal penting. Pendidikannya di Mekkah, menautkannya dengan NU. Karena, banyak kiai NU berjejaring ke Mekkah. Ia Wafat di Jakarta, 28 September 1980. [
 Hafiz Kurniawan ]


Tentang Bidadara Surga


Forum Muslim - Seringkali terselib pertanyaan di dalam hati mengenai bidadari yang disiapkan oleh Allah swt untuk muslim yang taat beribadah ketika di surgRenungana nantinya. Pertanyaannya bukan tentang siapakah bidadari itu atau dari makhluk jenis apakah dia, karena janji-janji yang begitu indahnya sehingga akal lelaki tidak sempat bertanya asal muasal bidadari. Jelas dalam salah satu hadits diterangkan bahwa lirikan bidadari surga dapat redupkan matahari dunia. Begitu juga setetes liur bidadari akan tawarkan air lautan dunia.

 

Nah pertanyaannya bukan soal kecantikan bidadari. Itu semua telah disepakati dalam angan-angan. Yang ditanyakan lantas apakah bagian untuk muslimah nanti disurga apakah bidadari lelaki (bidadara)? Mengenai kesenjangan pahala antara lelaki dan perempuan ini surat an-Nisa' 124 menjawab:

 

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

 

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.

 

Artinya orang-orang perempuan tidak usah khawatir. Meskipun secara eksplisit Allah swt tidak pernah menyebut tentang bidadara, tetapi yakinlah Allah swt tahu dengan pasti apa selera kaum wanita. Begitu juga kaum perempuan tidak usahlah merasa iri hati sesungguhnya pahala-pahala Allah swt yang tidak disebut secara eksplisit biasanya lebih besar, insyallah. Surat An-nisa 32 menjelaskan dengan bahasa yang halus sekali:

 

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

 

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

 

Tidak ada ketimpangan di surga nanti. Tidak ada rasa galau karena bias gender di sana. Karena semua sudah ditakar sesui amal dan selaranya masing-masing. Jika di dunia perempuan sering tidak cocok hati dengan poligami, nanti disurga tidak akan ada perasaan semacam itu. Seperti janji Allah swt di dua ayat tersebut di atas. [FM]

 

Sumber: NU Online

Sumber gambar : hikmatikauny.org

Inspirasi Pancasila untuk Dunia Arab


Oleh: Zuhairi Misrawi

 

SAYA berkesempatan mengikuti dan menjadi narasumber dalam konferensi ulama dan pemikir Muslim sedunia Islam di Teheran, Iran, 7-9 Januari.

 

Dalam dua dekade terakhir, Iran punya kepedulian sangat besar untuk membangun titik temu, kerja sama, dan harmoni di antara dunia Arab/Islam. Namun, pertanyaan yang muncul: mengapa dunia Islam justru dirundung konflik sektarian dan polarisasi politik yang semakin runyam?

 

Dunia Islam, khususnya dunia Arab, sedang memasuki era paling sulit. Palestina masih dijajah Israel. Gaza dan Tepi Barat terus dibombardir. Upaya Palestina mengusulkan kemerdekaan di PBB selalu dikandaskan oleh veto Amerika Serikat. Israel terus melakukan pendudukan, pencaplokan, dan pembunuhan tanpa sanksi yang setimpal dari dunia internasional. Palestina menghadapi nasib mereka sendiri minus perhatian dunia Arab akibat revolusi yang melanda sebagian negara Arab. Ironisnya, justru negara-negara Eropa memberikan perhatian serius terhadap kemerdekaan Palestina.

 

Revolusi yang bergelayut dari Tunisia, lalu merambah ke Mesir, Libiya, Yaman, Bahrain, dan Suriah menghasilkan situasi yang semakin tak menentu. Konflik sektarian, maraknya gerakan ekstremis, dan instabilitas politik menjadi tantangan tersendiri bagi dunia Arab. Bahkan, tesis lama bahwa demokrasi tidak kompatibel dengan kultur Arab kembali mengemuka. Tunisia menjadi satu-satunya negara yang memberikan harapan bagi masa depan demokrasi di dunia Arab.

 

Jika tidak ada Tunisia, demokrasi hanya akan menjadi mimpi, tak pernah ada wujudnya di dalam realitas sosial politik Arab. Saat ini, dunia Arab menghadapi musuh serius, yaitu kelompok yang menebarkan ajaran pengafiran/penyesatan sebagai dalih berdirinya negara Islam. Kelompok paling gencar mengampanyekan hal tersebut adalah Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Lalu, ada Front Al-Nusra yang juga memproklamasikan pengafiran. Mereka dikenal dengan al-takfiriyyun.

 

Dulu, fenomena pengafiran/penyesatan disemburkan kelompok Wahabi untuk memvonis seluruh paham yang berbeda dengan paham mereka. Misalnya, tradisi yang dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama, seperti ziarah kubur, tahlil, dan perayaan Maulid Nabi, sudah lama dikafirkan/disesatkan oleh Wahabi. Namun, upaya mereka sia-sia.

 

Kini, pengafiran digunakan oleh NIIS untuk menebarkan fitnah dan kekacauan di dunia Arab. Mereka menjadikan kelompok Syiah sebagai salah satu target. Mereka akan menumpas siapa pun yang menentang ideologi negara Islam. Kelompok minoritas, seperti umat Kristiani dan suku Kurdi, juga menjadi salah satu target mereka. Intinya, mereka ingin agar konflik sektarian meluas sehingga dengan mudah memanfaatkan instabilitas politik.

 

Pancasila

 

Dalam konferensi yang digelar di Iran, saya menyampaikan makalah "Pancasila dan Pengalaman Toleransi di Indonesia". Hemat saya, dunia Arab butuh sebuah ideologi dan pemikiran yang konstruktif untuk membangun kebersamaan, solidaritas, dan persatuan. Apa yang dihadapi dunia Arab adalah terburuk dalam sejarah karena absennya ideologi yang mampu jadi pilar kebangsaan dan kenegaraan.

 

Pada tahun 1960-an, saat menerima gelar doktor honoris causa dari Universitas Aal-Azhar Kairo, Bung Karno menyampaikan pidato di depan Presiden Gamal Abdul Nasser dan para ulama perihal pentingnya menjadikan Pancasila sebagai falsafah negara. Pancasila merupakan common platform yang akan memperkuat sendi-sendi kebangsaan dan kenegaraan, khususnya di tengah pluralitas agama, suku, bangsa, dan bahasa.

 

Menurut saya, saat ini dunia Arab mesti mentransformasikan pemikiran politik dari nostalgia "Negara Islam" (al-dawlah al-islamiyyah), baik ala Arab Saudi, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, maupun Iran menuju "Negara Pancasila" yang menjamin pluralitas agama dan suku serta bisa hidup berdampingan dengan damai. Memaksakan formalisasi syariat Islam sebagai satu-satunya model bagi dunia Arab akan membawa pada kebuntuan. Apalagi formalisasi syariat Islam yang diterapkan sejak awal abad ke-18 di Arab Saudi dan dipopulerkan kembali oleh Ikhwanul Muslimin pada awal abad ke-20 di Mesir dan dunia Arab lainnya sudah terbukti gagal. Faktanya, dalam dua abad terakhir, formalisasi syariat Islam lebih sebagai isu politik yang menguntungkan kalangan elite daripada warga Arab pada umumnya.

 

Sebaliknya, Pancasila yang diterapkan di Indonesia sudah terbukti mampu membangun solidaritas kebangsaan dan kenegaraan di tengah pluralitas agama, suku, dan bahasa. Sebab, esensi Pancasila adalah menebarkan gotong royong di tengah kebinekaan. Perbedaan dan keragaman merupakan pemberian Tuhan yang harus dikelola dengan baik agar menjadi kekuatan.

 

Karena itu, Pancasila menegaskan pentingnya nilai-nilai ketuhanan yang terkandung dalam setiap agama. Namun, nilai-nilai tersebut harus memperkokoh persatuan, persaudaraan, demokrasi, dan nilai-nilai kemanusiaan. Puncaknya, nilai-nilai ketuhanan dapat mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh warga.

 

Sayangnya, dunia Arab saat ini hanya terjebak dalam dua pilihan yang sama-sama pahit. Pertama, dunia Arab disuguhi dengan janji Islamisme: negara Islam ala Arab Saudi dan Ikhwanul Muslimin. Model ini relatif gagal dalam membangun demokrasi, keadilan sosial, dan kebebasan berserikat/berpendapat. Islamisme tidak mampu melindungi minoritas dan menjaga pluralitas.

 

Kedua, dunia Arab disuguhi model sekularisme ala Turki. Hubungan masa lalu yang buruk dengan Turki dan trauma sekularisme yang identik dengan kolonialisme membuat sekularisme selalu jadi target empuk untuk ditolak, terutama dengan menggunakan dalil keagamaan dan politik imperialisme. Hubungan antara kelompok sekuler dan Islamis cenderung memanas.

 

Inisiatif

 

Salah satu alternatif yang mungkin diadopsi oleh dunia Arab, bahkan dunia Islam yang lain, adalah model negara Pancasila. Sebagai negara dengan penduduk mayoritas Muslim, Indonesia mesti jadi contoh bagi negara-negara Arab/Muslim lain dalam membangun negara yang menjamin kesetaraan dan kebebasan berserikat/berpendapat.

 

Keberhasilan Pancasila sebagai falsafah dan dasar bernegara di Tanah Air karena dukungan yang besar dari umat Islam, khususnya Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Kedua ormas ini sejak awal menganggap Pancasila sebagai ideologi final untuk menjaga serta merawat keragaman agama, suku, dan bahasa. Berdasarkan sebuah diktum, "mencintai Tanah Air adalah bagian dari iman". Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah bersepakat mendahulukan kepentingan bersama daripada ego sektarian.

 

Eksperimentasi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar yang mampu membangun negara untuk semua warga, apa pun agama dan sukunya, membuktikan Islamisme bukan satu-satunya alternatif ideologi dalam bernegara. Negara Islam atau sistem khilafah bukanlah sebuah kewajiban bagi umat Islam dan karena itu dunia Arab perlu mencari model lain yang lebih kompatibel dengan realitas sosiokultural.

 

Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla mesti mulai memikirkan mengenalkan model negara Pancasila ke dunia Arab/Islam. Hal ini penting agar Indonesia memberikan sumbangsih kepada dunia Arab/Islam dalam rangka merekonstruksi ideologi bernegara. Perlu jalan alternatif sehingga mereka tidak terjerumus dalam kubangan kehancuran dan kegagalan yang semakin nyata.

 

Kita pun mesti bangga dan percaya diri, Pancasila adalah karya terbaik para pendiri bangsa. Mereka sangat visioner dalam memikirkan masa depan bangsa dan negaranya. Karena itu, sangat tak pantas jika masih muncul kelompok yang berusaha mengimpor ideologi ekstremis dari Timur Tengah, apalagi bertujuan menggantikan Pancasila dengan ideologi lain yang belum teruji atau sudah terbukti gagal.

 

Pancasila dapat dijadikan pilot project untuk Palestina yang sedang merintis jalan kemerdekaan. Jikadapat dilakukan, ini akan menjadi sumbangsih sangat besar dalam konteks diplomasi luar negeri, terutama bagi kemerdekaan Palestina. Model negara Pancasila di Palestina akan menutup beragam konspirasi yang dibuat Israel bahwa masa depan Palestina adalah terorisme. Palestina adalah negara berdaulat yang mendorong perdamaian dan persatuan. Saatnya Pancasila dijadikan sumber inspirasi bagi dunia Arab. [FM]

 

Sumber : Kompas, 24 Januari 2015

Zuhairi Misrawi, Analis Pemikiran dan Politik Timur Tengah The Middle East Institute

Jangan Menuduh Allah




طلبُكَ منهُ اِتـِّهامٌ لهُ وطلَبُكَ لهُ غيْبَة ٌمنكَ عنـْهُ وطلبكَ لغيرِهِ لقِلَّةِ حياءـكَ منهُ وطلَبُكَ من غيرهِ لِوُجُودِ بُعْدِكَ عَنْهُ

"Permintaanmu dari الله mengandung pengertian menuduh الله, khawatir tidak memberimu. Dan engkau memohon kepada الله supaya mendekatkan dirimu kepada-Nya, berarti engkau masih merasa jauh dari pada-Nya

Dan engkau memohon kepada الله untuk mencapai kedudukan dunia dan akhirat, membuktikan tiada malunya engkau kepada-Nya, dan permohonanmu kepada sesuatu selain dari الله menunjukkan engkau jauh dari pada-Nya. Permohonan seorang hamba kepada الله terbagi dalam empat macam, dan kemudian kesemuanya itu tidak tepat bila diteliti dengan seksama dan mendalam. Permintaan kepada الله mempunyai pengertian menuduh, sebab sekiranya ia percaya bahwa الله akan memberi tanpa minta, ia tidak akan minta, disebabkan karena khawatir tidak diberi apa yang dibutuhkannya menurut pendapatnya, atau menyangka الله melupakannya, dan lebih jahat lagi bila ia merasa berhak, tetapi oleh الله belum juga diberi. Dan permintaanmu untuk taqarrub, menunjukkan bahwa engkau merasa ghaib dari pada-Nya. Sedang permintaanmu sesuatu dari kepentingan-kepentingan duniawi membuktikan tiada malunya engkau dari pada-Nya, sebab sekiranya engkau malu dari الله tentu tidak merasa ada kepentingan bagimu selain mendekat kepada-Nya. Sedang bila engkau minta dari sesuatu selain الله, membuktikan jauhmu dari pada-Nya, sebab sekiranya engkau mengetahui bahwa الله dekat kepadamu, tentu engkau tidak akan meminta selain kepada-Nya. Kecuali permintaan yang semata-mata untuk menurut perintah الله, karena hanya inilah yang benar. 

Sumber : https://telegram.me/kitabhikam

Jangan Menuduh Allah




طلبُكَ منهُ اِتـِّهامٌ لهُ وطلَبُكَ لهُ غيْبَة ٌمنكَ عنـْهُ وطلبكَ لغيرِهِ لقِلَّةِ حياءـكَ منهُ وطلَبُكَ من غيرهِ لِوُجُودِ بُعْدِكَ عَنْهُ

"Permintaanmu dari الله mengandung  pengertian menuduh الله, khawatir tidak memberimu. Dan engkau memohon kepada الله supaya mendekatkan dirimu kepada-Nya, berarti engkau masih merasa jauh dari pada-Nya”

Dan engkau memohon kepada الله untuk mencapai kedudukan dunia dan akhirat, membuktikan tiada malunya engkau kepada-Nya, dan permohonanmu kepada sesuatu selain dari الله menunjukkan engkau jauh dari pada-Nya. 

Permohonan seorang hamba kepada الله terbagi dalam empat macam, dan kemudian kesemuanya itu tidak tepat bila diteliti dengan seksama dan mendalam. 

Permintaan kepada الله mempunyai pengertian menuduh, sebab sekiranya ia percaya bahwa الله akan memberi tanpa minta, ia tidak akan minta, disebabkan karena khawatir tidak diberi apa yang dibutuhkannya menurut pendapatnya, atau menyangka الله melupakannya, dan lebih jahat lagi bila ia merasa berhak, tetapi oleh الله belum juga diberi. 

Dan permintaanmu untuk taqarrub, menunjukkan bahwa engkau merasa ghaib dari pada-Nya. Sedang permintaanmu sesuatu dari kepentingan-kepentingan duniawi membuktikan tiada malunya engkau dari pada-Nya, sebab sekiranya engkau malu dari الله tentu tidak merasa ada kepentingan bagimu selain mendekat kepada-Nya. Sedang bila engkau minta dari sesuatu selain الله, membuktikan jauhmu dari pada-Nya, sebab sekiranya engkau mengetahui bahwa الله dekat kepadamu, tentu engkau tidak akan meminta selain kepada-Nya. Kecuali permintaan yang semata-mata untuk menurut perintah الله, karena hanya inilah yang benar. 

Sumber : https://telegram.me/kitabhikam

Pentingnya Bershalawat Ketika Berdoa Shalawat



السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

AMAL-AMALAN TANPA DI SERTAI DENGAN SHALAWAT DIHENTIKAN DAN DO'A-DO'A DI TAHAN

DIKUTIP DARI KITAB : DHURATUN NASHIHIN.

Dikisahkan, ada seorang yang Shalih duduk untuk membaca Tasyahud dan dia lupa Bershalawat atas Nabi Saw.

Saat tidur ia bermimpi bertemu Rasulullah Saw dan Rasulullah Saw bertanya : "Kenapa kau lupa Bershalawat kepadaku.....................?".

Orang Shalih itu menjawab :
"Yaa Rasulullah, aku sibuk Memuji Allah Swt dan menyembah kepada-Nya, Sehingga aku lupa Bershalawat Kepadamu".

Rasulullah Saw lalu Bersabda :
Tidakkah kau mendengar Perkataanku.
Amal-amal dihentikan dan Doa-Doa ditahan, sehingga dibacakan Shalawat untukku dan sekiranya Manusia datang pada hari Kiamat dengan membawa kebaikan-kebaikan dari seluruh penduduk Dunia, Sedang didalamnya tidak terdapat Shalawat untukku, maka kebaikan-kebaikan itu dikembalikan kepadanya, sedikitpun tidak ada yang diterima".

Subhanallah.

SEMOGA BERMANFAAT AMIIN... .. .

آميــــــــــــــن يـــــــــــــارب العالميــــــــــــــــــن

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ، الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ .

Fadhilah Membaca sholawat





Apabila seorang hamba brsholawat, maka sholawat itu akan keluar dr mulutnya secepat kilat dlm bentuk cahaya,

Dan cahaya itu mengelilingi seluruh penjuru barat dan timur sambil berteriak:
AKU ADALAH SHOLAWATNYA FULAN BIN FULAN.

Lalu sholawat itu Allah jadikan seekor burung yg mempunyai 70rb sayap,

Dalam 1 sayap ada 70rb kepala,
Dalam 1 kepala ada 70rb wajah,
Dalam 1 wajah ada 70rb mulut,
Dalam 1 mulut ada 70rb lidah, &
Setiap 1 lidah bertasbih dengan 70rb bahasa yang pahalanya untuk orang yang bersholawat.

Subhanallah.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Sumber: Sayyidiy Al-Imam Al-Quthub As-Syekh Abi 'Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuliy Al-Hasani.

SEMOGA BERMANFAAT AMIIN... .. .

آميــــــــــــــن يـــــــــــــارب العالميــــــــــــــــــن

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ، الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ .