Jumat, 22 Maret 2019

Catatan di Seputar Puasa Senin dan Kamis

Ilustrasi Puasa




Forum Muslim - Bagi pekerja kantoran atau pelajar, Senin menjadi hari menjenuhkan. Senin merupakan hari mereka mengawali aktivitas setelah libur. Senin pagi yang padat menjadi bayangan menyeramkan. Namun, bagi Nabi Muhammad SAW Senin dan Kamis istimewa. Nabi Muhammad SAW memilih dua hari itu untuk ibadah puasa. Apa sebab?


Mungkin karena Senin merupakan hari kelahiran Beliau SAW. Lalu bagaimana dengan Kamis? Masak Rasulullah SAW dilahirkan di hari Kamis juga?



Kutipan hadist oleh Syekh Abu Zakariya Al-Anshori berikut ini dalam karyanya Fathul Wahhab setidaknya membantu menjawab:


وقال تعرض الأعمال يوم الاثنين والخميس فأحب أن يعرض عملي وأنا صائم رواهما الترمذي وغيره


Rasulullah SAW bersabda, "Amal itu diperlihatkan di hadapan Allah pada hari Senin dan hari Kamis. Aku gembira sekali amalku diperlihatkan di saat aku sedang berpuasa." HR Turmudzi dan selainnya.


Mengenai jam berapa amal itu diperlihatkan, kita tidak menemukan keterangan waktu pada hadits di atas. Apakah jam 8 pagi, jam 10, atau waktu Zhuhur? Syekh Bujairimi dalam karyanya Attajrid Linaf'il Abid, Hasyiyah ala Fathil Wahhab mengatakan,


قوله (وأنا صائم) أي قريب من زمن الصوم لأن العرض بعد الغروب كما تقدم


Ungkapan "Di saat aku sedang berpuasa" maksudnya, berdekatan dengan aktivitas puasa. Karena, amal perbuatan diperlihatkan selepas matahari terbenam saat orang sudah membatalkan puasanya.


Syekh Bujairimi masih dalam kitabnya memberi keterangan tambahan:


فائدةتعرض الأعمال على الله تعالى يوم الاثنين والخميس، وعلى الأنبياء والآباء والأمهات يوم الجمعة، وعلى النبي صلى الله عليه وسلم سائر الأيام اهـ ثعالبي


Pemberitahuan: amal perbuatan seseorang diperlihatkan di hadapan Allah SWT pada hari Senin dan hari Kamis. Di hadapan para nabi, ayah, dan ibu yang bersangkutan sendiri, amal diperlihatkan pada hari Jum'at. Sementara di hadapan Rasulullah, amal seseorang diperlihatkan setiap hari. Dikutip dari Tsa'alabi.


Untuk itu, baik-baiklah berperilaku. Minimal menjaga puasa Senin-Kamis. Karena, segala bentuk aktivitas kita diantarkan malaikat di hadirat Allah, Nabi Muhammad SAW, para nabi, ayah dan juga ibu kita yang terlebih dahulu wafat. Betapa malunya kita bila mereka semua mendapati catatan amal kita hitam kotor? Dan betapa bangganya mereka bila melihat catatan baik amal kita? Wallahu a'lam. [
NU Online]

NU adalah Perekat

Logo NU

Oleh : Ahmad Baso

Nahdlatul Ulama merupakat simbol perekat sebagaimana tali yang melingkari dunia pada logo organisasi didirikan KH Hasyim Asyari, ujar Wakil Ketua PP Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Ahmad Baso di Blambangan Umpu, Waykanan, Lampung, Senin (18/5) kemarin.

"NU adalah sebuah titik temu. Masyarakat menjadikan NU sebagai titik temu, titik simpul, disatukan oleh keyakinan oleh agama NU, bahkan yang non-Muslim juga merasa menjadi bagian ini, agama NU," kata dia saat bedah buku "Agama NU untuk NKRI" di Gedung PCNU Waykanan.

Pria kelahiran Makassar yang menempuh pendidikan pesantren  di daerahnya itu lalu menambahkan, agama NU tidak saja diyakini oleh orang Madura, Jawa Timur, namun juga Mbah Maridjan Juru Kunci Gunung Merapi (almarhum).

"Ketika ditanya, beliau dengan bangga menyatakan agamanya adalah NU," ujar penulis buku "NU Studies" dan "Pesantren Studies" yang terdiri dari beberapa jilid itu pula.

Hal tersebut, demikian Baso menambahkan, merupakan sebuah pelajaran, bahwa masyarakat mendalami dan meyakini NU dalam kehidupan sehari-hari.

"Penulis buku kenamaan Pramoedya Ananta Toer saat meninggal juga minta ditalqinkan, ditahlilkan. Bahkan tokoh-tokoh dari organisasi Islam lainnya juga demikian. Masyarakat kita butuh password ke alam barzah, doa-doa kyai, doa-doa NU. NU adalah kunci kehidupan masyarakat," paparnya.

Namun demikian, kata dia menegaskan, agama NU bukanlah agama tandingan. Agama NU adalah berbicara tentang bagaimana Islam sebagai ajaran normatif, diamalkan dan diistifidah.

Bedah buku  "Agama NU untuk NKRI" dihadiri sejumlah pengurus dan badan otonom Nahdlatul Ulama. Hadir Ketua PCNU KH Nur Huda, Rais Syuriyah KH Abdurahman, Ketua PC Lakspedam Supriyanto, dan para pengurus NU lainnya.

Ketua PC Ansor Ketua PC GP Ansor Gatot Arifianto  yang juga hadir dalam acara tersebut menambahkan, NU adalah berkah. Bagaimana peran serta NU dalam menjaga NKRI bukan hanya mulut, namun juga ditunjukan lewat sikap dan perbuatan. Karenanya, 'agama' NU harus senantiasa disyiarkan kepada generasi dan masyarakat bangsa Indonesia dengan beragam model. 

"Ini penting supaya Indonesia sebagai bangsa besar tetap adem ayem, masyarakatnya bisa menghormati dan meyakini keragaman yang menurut KH Abdurahman Wahid adalah keniscayaan akan hukum Tuhan atas alam ciptaan-Nya," ujar Gatot Arifianto menambahkan. 
Sumber :NU Online

Senin, 18 Maret 2019

Salah Kaprah "Khilafah adalah Solusi"



Oleh : Prof. Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), Ph.D.

Dalam sejarah khilafah, sesama muslim juga berperang (puncaknya adalah Tragedi Karbala, dimana cucu Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- menjadi korbannya). Jangan sampai sekarang terjadi lagi.

Pada masa Khilafah jaman 'old' terdapat sejumlah perang saudara sesama umat Islam. Daftarnya bisa sangat panjang. Korbannya juga mereka yang mengucapkan 'dua kalimat syahadat'. Umumnya perang saudara terjadi karena perebutan kekuasaan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Jadi, sebelum banyak orang tergiur dengan propaganda eks HTI yang teriak-teriak bahwa "Khilafah adalah satu-satunya solusi umat" atau "Tanpa khilafah, syari'at Islam tidak akan tegak secara kaaffah", atau jualan lainnya "Islam rahmatan lil Alamin tidak terwujud di masa Nabi Muhammad dan hanya terwujud di masa Khilafah", mari simak data sejarah di bawah ini:

1. Fitnah dalam konteks pembahasan kita ini maksudnya adalah ujian berupa perang saudara. Fitnah pertama kali yaitu pada saat pemberontakan yang mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, saat membaca al-Qur'an di rumahnya. Madinah dikuasai pemberontak beberapa hari sehingga jenazah Khalifah Utsman dikubur berjauhan dari makam Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

2. Terjadi pula perang saudara antara Sayyidina Ali dengan Siti Aisyah (perang Jamal). Saat perang Jamal di Bashrah, tidak kurang dari 18.000 sahabat gugur Perang antara istri Nabi dan menantu Nabi ini baru berakhir setelah kaki-kaki unta itu ditebas dengan pedang kemudian Siti Aisyah dipulangkan ke Madinah.

3. Selanjutnya Imam Ali berperang dengan Mu'awiyah (perang shiffin). Kitab Tarikh al-Khulafa Imam Suyuthi bercerita bagaimana dengan cerdik pasukan Mu'awiyah yang hampir kalah mengangkat Mushaf al-Qur'an di ujung pedang mereka dan meminta perundingan. Ali bin Abi Thalib paham bahwa ini hanya taktik belaka dan meminta pasukannya terus menggempur Mu'awiyah. Namun atas nama mencintai mushaf al-Qur'an pasukan Ali menjadi ragu melanjutkan pertempuran. Taktik kotor Mu'awiyah berhasil. Terjadilah gencatan senjata dan perundingan yang berakhir tragis untuk pasukan Khalifah Ali, sang menantu Nabi.

4. Periode fitnah pertama di atas berakhir dengan perdamaian antara Sayyidina Hasan dan Mu'awiyah. Kisah periode ini sudah saya ceritakan dalam berbagai tulisan saya.

5. Fitnah kedua berlangsung pada periode pembantaian Sayyidina Husain di Karbala dan berlanjut dengan perlawanan Abdullah bin Zubair. Imam al-Thabari dalam kitab Tarikhnya menceritakan dengan detil berpuluh-puluh halaman apa yang terjadi di Karbala, dan mencatat siapa saja keluarga Sayyidina Husein yang terbunuh lengkap dengan menyebutkan siapa pembunuh maisng-masing, pada 10 Muharram di Karbala. Kepala cucu Nabi dipenggal. Keturunan sayyidina Husein dihabisi, hanya tinggal sayyidina Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali -radhiallahu ta'ala anhu- yang selamat dan meneruskan generasi ahlulbait.

6. Disampaikan pula oleh Imam Thabari bahwa Abdullah bin Zubair, penguasa Mekkah saat itu, dibunuh oleh pasukan al-Hajjaj dengan cara kepalanya dipenggal dan tubuhnya disalib. Dan pasukan al-Hajjaj lantas berteriak mengumandangkan takbir.

7. Periode peperangan antara al-Walid II dan Yazid III dikenal dalam sejarah islam sebagai fitnah ketiga, yang berakhir dengan naiknya Marwan II sebagai Khalifah terakhir Umayyah.

8. Kepala al-Walid II dipenggal oleh pasukan Yazid, yang kemudian mengambil alih posisi Khalifah. Setelah dipenggal, atas perintah Yazid, kepala al-Walid II ditusuk diujung tombak dan diedarkan ke jalan raya dan pasar di Damaskus, bahkan sengaja dibawa ke bekas rumah ayahnya. Tindakan ini memicu kegeraman keluarga al-Walid II. Dinasti Umayyah terpecah belah akibat pertikaian internal mereka sendiri yang dipicu oleh kelakuan buruk al-Walid II.

9. Yang paling mengkhawatirkan untuk Marwan II adalah pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok Abbasiyah. Kelompok ini dipimpin oleh Abul Abbas bin Abdullah as-Saffah. Pemberontakan dimulai dari Khurasan. Dipimpin oleh Abu Muslim, jenderal pengikut setia Abul Abbas. Penduduk Khurasan mulai membaiat Abul Abbas sebagai Khalifah. Kubu Abbasiyah ini mengambil legitimasi dari jalur keluarga Nabi Muhammad, yaitu keturunan Abbas, paman beliau -shallallahu alaihi wasallam-. Keluarga Nabi yang pada masa Dinasti Umayyah tersingkirkan menemukan momentum untuk masuk ke kekuasaan.

10. Dalam pertempuran di dearah Zab, pasukan Marwan II bertemu dengan pasukan gabungan dari Abbasiyah, Syi'ah dan penduduk Persia, yang dipimpin oleh Abdullah bin 'Ali (paman dari Abul Abbas). Marwan II berhasil dikalahkan. Marwan sempat melarikan diri ke Syira dan kemudian kabarnya ke Mesir. Pasukan Abbasiyah dibawah kontrol Shaleh, saudara Abdullah bin Ali, kemudian berhasil menemukan Marwan II dan membunuhnya.

11. Transisi kekuasaan dari Dinasti Umayyah ke Dinasti Abbasiyah terjadi lewat pertumpahan darah. Salah satu bentuk kekejaman Abul Abbas (Khalifah pertana Abbasiyah) adalah dengan mengundang jamuan makan kepada keluarga Bani Umayyah yang tersisa. Abul Abbas membunuh Sulaiman bin Hisyam bin Abdul Malik dengan tangannya sendiri, dengan cara menariknya keluar dari meja makan. Ini juga dilakukan terhadap 90 orang Bani Umayyah lainnya: dijamu makan, lantas dibantai habis. Bahkan tubuh mereka yang masih menggelepar ditutup dengan permadani, dan as-Saffah dan keluarganya melanjutkan makan malam di atas permadani. Begitu Ibn al-Atsir dalam al-Kamil fit Tarikh menceritakan kekejian ini.

12. Pada masa Abbasiyah pula telah terjadi perang saudara. Periode pertempuran antara kedua putra Harun ar-Rasyid di masa Dinasti Abbasiyah, antara al-Amin dan al-Ma'mun, disebut-sebut sebagai fitnah keempat. Peperangan ini berlangsung pada tahun 811 – 813 Masehi.

13. Perang saudara juga terjadi pada periode berikutnya yaitu selama setahun antara al-Mu'tazz dengan pamannya, Khalifah al-Musta'in, membawa al-Mu'tazz ke tahta kekuasaan. Musta'in yang dipaksa mengundurkan diri, tidak lama kemudian kepalanya pun dipenggal. Khalifah ketiga belas Abbasiyah Al-Mu'tazz naik berkuasa dengan lumuran darah.

Daftar ini masih panjang. Khilafah yang diklaim sebagai satu-satunya solusi umat ternyata membawa perang saudara sesama umat Islam seperti tercatat dalam literatur klasik semisal Tarikh Thabari dan Tarikh Khulafa Imam Suyuthi.

Tapi bukankah sejarah demokrasi juga berdarah-darah? Benar, tapi mereka tidak membunuh atas nama al-Qur'an dan Hadits. Ekspektasi kita adalah kalau khilafah diklaim sebagai inti ajaran Islam maka hasilnya harus lebih baik dari sejarah demokrasi yang berdarah-darah itu. Ternyata justru sama saja.

Nah, perbedaannya, sistem demokrasi terus memperbaiki diri. Kekuasaan dibatasi, rule of law ditegakkan dan hak asasi warga negara diberi jaminan.

Pendukung khilafah jaman 'now' akan sulit memperbaiki sistem khilafah yg telah melahirkan perang saudara itu. Kenapa? Karena khilafah sudah terlanjur dianggap sempurna dan bagian dari ajaran Islam. Gimana mau dikotak-katik.

Maka berhentilah menganggap khilafah sebagai bagian dari inti ajaran Islam. Khilafah bukan satu-satunya solusi untuk masalah umat. Khilafah hanya ijtihad masa lalu yang sudah tidak relevan lagi dengan kondisi sekarang dan telah digantikan oleh negara-bangsa (nation-state), yang juga merupakan hasil ijtihad Ulama'. Hargailah ijtihad Ulama' kita dimasa kemerdekaan, NKRI dan Pancasila adalah produk ijtihadnya.

Minggu, 17 Maret 2019

Hukum Shalat Jum’at di Perkantoran


 

Pertanyaan:

 

Assalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Pembaca sekalian yang kami hormati. Pembahasan kali ini akan menanggapi pertanyaan kedua dari saudara kita Muchamad Wajihuddin dari kota Bogor. Adapun isi pertanyaannya adalah, "Apakah sah shalat Jum'at yang diadakan di gedung perkantoran dimana jama'ahnya adalah para pekerja yang bukan mukimin di wilayah seputaran tempat dilaksanakan shalat Jumat?"

 

Jawaban:

 

Saudara Wajihuddin yang mudah-mudahan selalu dalam naungan ridha Allah. Shalat Jum'at merupakan salah satu ibadah yang telah ditetapkan kewajibannya oleh Allah swt kepada hamba-hamba-Nya yang beriman melalui sebuah firman-Nya yang terdapat dalam surat al-Jumu'ah ayat 9. Kewajiban tersebut kemudian dijabarkan oleh Rasulullah saw tertuju kepada selain para budak, kaum perempuan, anak-anak yang belum baligh, orang yang sedang sakit dan dipandang sebagai uzur, serta orang yang sedang dalam bepergian dengan jarak yang telah memenuhi radius rukhshah (boleh tidak jum'atan).

 

Setelah melakukan analisa yang cukup mendalam mengenai dalil-dalil yang terkait dengan shalat Jum'at baik dari Al-Qur'an maupun hadist, mayoritas ulama' Syafii'yyah berpandangan bahwa termasuk syarat sah pelaksanaan khutbah Jum'at berikut shalatnya harus diikuti oleh minimal 40 orang ahli Jum'at (muslim, bukan budak, telah baligh dan dinyatakan sebagai penduduk tetap untuk satu daerah setempat yang mengadakan shalat Jum'at/mustauthin).

 

Saudara penanya yang kami hormati. Permasalahan yang anda sampaikan ini sebenarnya pernah dibahas dalam musyawarah nasional alim ulama pada tahun 1997 di Lombok dengan keputusan bahwa Shalat Jum'at tanpa mustauthin dan muqimin atau dengan mustauthin dan muqimin, tetapi tidak memenuhi syarat, hukumnya tafshil atau dirinci sebagai berikut:

 

1. Tidak sah, menurut mayoritas ulama Syafi'iyyah. Sementara Imam Syafi'i sendiri dalam qaul qadim yang dikuatkan oleh al-Muzanni memandang sah bila jumlah jama'ah itu diikuti mustauthin minimal 4 orang.

 

2. Imam Abu Hanifah mengesahkan secara mutlak. Adapun rujukan yang digunakan antara lain:  Risalah Bulugh al-Umniyah fi Fatawa al-Nawazil al-'Ashriyah karya Muhammad Ali al-Maliki:

 

بَلْ قَالَ شَيْخُنَا فِيْ تَقْرِيْرِهِ عَلَى إِعَانَتِهِ أَنَّ لِلشَّافِعِيِّ قَوْلَيْنِ قَدِيْمَيْنِ فِيْ الْعَدَدِ أَيْضًا أَحَدُهُمَا أَقَلُّهُمْ أَرْبَعَةٌ. حَكَاهُ عَنْهُ صَاحِبُ التَّلْخِيْصِ وَحَكَاهُ فِيْ شَرْحِ الْمُهَذَّبِ

 

Artinya: Bahkan guruku, al-Bakri bin Muhammad Syaththa, dalam catatan atas kitab I'anah at-Thalibinnya berkata: "Sungguh Imam Syafi'i punya dua qaul qadim tentang jumlah jamaah shalat Jum'at pula. Salah satunya adalah minimal empat orang. Pendapat ini dikutip oleh pengarang kitab al-Talkhish dan dihikayatkan al-Nawawi dalam Syarh al-Muhadzdzab.

 

Dalam Al-Muhadzdzabyang disusun oleh Abu Ishaq al-Syairazi:

 

 مِنْ شَرْطِ الْعَدَدِ أَنْ يَكُوْنُوْا رِجَالاً أَحْرَارًا مُقِيْمِيْنَ بِالْمَوْضِعِ فَأَمَّا النِّسَاءُ وَالْعَبِيْدُ وَالْمُسَافِرُ فَلاَ تَنْعَقِدُ بِهِمْ الْجُمْعَةُ لِأَنَّهُ لاَ تَجِبُ عَلَيْهِمْ الْجُمْعَةُ فَلاَ تَنْعَقِدُ بِهِمْ كَالصِّبْيَانِ وَهَلْ تَنْعَقِدُ بِمُقِيْمِيْنَ غَيْرَ مُسْتَوْطِنِيْنَ فِيْهِ وَجْهَانِ قَالَ أَبُوْ عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ تَنْعَقِدُ بِهِمْ لِأَنَّهُ تَلْزَمُهُمْ الْجُمْعَةُ فَانْعَقَدَتْ بِهِمْ كَالْمُسْتَوْطِنِيْنَ

 

Artinya: Di antara syarat jumlah jamaah tersebut adalah, mereka terdiri dari laki-laki, merdeka dan menetap di suatu tempat. Adapun perempuan, budak dan musafir, maka shalat Jum'at tidak menjadi sah dengan kehadiran mereka, karena mereka tidak berkewajiban melaksanakan shalat Jum'at sehingga shalat itu pun tidak menjadi sah dengan kehadiran mereka, sama seperti anak-anak.

 

Apakah shalat Jum'at itu sah dengan jamaah terdiri dari para muqimin (penduduk) yang tidak menetap. Dalam hal itu terdapat dua wajh; Abu Ali bin Abi Hurairah berpendapat: "Shalat Jum'at dengan mereka itu sah karena mereka berkewajiban shalat Jum'at, sehingga shalat itu menjadi sah, sama seperti para penduduk tetap."

 

Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh karya Syekh Wahbah Zuhaili:

 

وَأَقَلُّهُمْ عِنْدَ أَبِيْ حَنِيْفَةَ وَمُحَمَّدٍ فِي اْلأَصَحِّ ثَلاَثَةُ رِجَالٍ سِوَى اْلاِمَامِ، وَلَوْ كَانُوْا مُسَافِرِيْنَ أَوْ مَرْضَى لِأَنَّ أَقَلَّ الْجَمْعِ الصَّحِيْحِ إِنَّمَا هُوَ الثَّلاَثُ

 

Artinya: Dan jumlah minimal jamaah Jum'at menurut Abu Hanifah dan Muhammad dalam pendapat al-Ashah adalah tiga orang selain imam, walaupun mereka itu musafir dan orang sakit, karena minimal jumlah jamak yang sahih itu adalah tiga.

 

Dari uraian ini ada beberapa pilihan bagi kita dalam menghadapi permasalahan ini: Pertama, mengikuti pendapat mayoritas ulama syafi'iyah yang menganggap jum'atan tersebut tidak sah dengan konsekuensi karyawan kantor mencari kampung terdekat yang menyelenggarakan shalat Jum'at oleh penduduk setempat.

 

Kedua, mengikuti pendapat qaul qadim imam Syafi'i dengan konsekuensi harus ada atau kalau perlu mendatangkan minimal 4 orang penduduk di sekitar kantor untuk ikut shalat Jum'at di perkantoran.

 

Ketiga, mengikuti pendapat imam Hanafi dengan konsekuensi mengetahui tata cara yang terkait dengan pelaksanaan shalat Jum'at mulai dari tata cara wudhu sampai dengan shalatnya berikut syarat,rukun dan hal-hal yang membatalkannya menurut madzhab Hanafi.

 

Mudah-mudahan jawaban ini dapat membuka cakrawala kita mengenai keberagaman dalam menjalankan perintah agama. Amin. Wallahu a'lam. [FM]

 

Maftukhan

Tim Bahtsul Masail NU

Mi’raj: Imajinasi untuk Pengubah Keadaan


Oleh: Eman Suryaman

 

Peristiwa Isra' (perjalanan malam) dan Mi'raj (secara bahasa berarti tangga), merupakan fenomena kehidupan sejarah umat Islam. Di sana terbentang kisah-kisah unik, imajinatif dan penuh kreativitas tentang sosok Nabi Muhammad SAW yang "terbang" berkendaraan "buraq" menuju langit tujuh.

 

Peristiwa ini bukan urusan "believe or not" semata. Sebab, jika kajiannya hanya urusan itu, maka implikasinya akan menjebak pada sekadar urusan beriman (bagi yang percaya) dan kafir (bagi yang tak mempercayainya).

 

Isra' mi'raj harus ditafsirkan melalui apresiasi kreatif, melihat seorang individu (Nabi Muhammad SAW) yang dengan kepribadian unggulnya memiliki (mendapatkan) transendesi tinggi, yang kemudian mampu menerjemahkan ide-ide briliannya ke tengah masyarakat, bahkan apa yang di sampaikan olehnya, -karena ia merupakan sosok terpercaya- kemudian transendensi itu berubah menjadi imajinasi milik warga bagi masyarakat (ummatnya) di jazirah Arab, bahkan menginspirasi umat manusia di luar Arab dalam waktu yang panjang berabad-abad hingga sekarang.

 

Wajar kiranya jika kemudian seorang pemikir sejarah sosial seperti John L. Esposito dalam Ensiklopedia Oxford melukiskan kisah Isra-Mi'raj sebagai salah satu tema besar imajinasi rakyat dan elit Islam serta pelengkap tema besar lainnya, yaitu diturunkannya al-Quran.  Sebab kemudian, dengan pesan-pesan kewahyuan yang terus turun tersebut, masyarakat Arab melalui Nabi Muhammad kemudian mendapatkan bara' (cahaya) untuk penerang kehidupan.

 

Al-Quran yang secara harafiah berarti "bacaan" bisa menjadi guide, alat mapping, bahkan terposan paradigma dari luar (transendetal) untuk melihat sesuatu yang kala itu masyarakat Arab kebanyakan diombang-ambing oleh ketidakpastian imannya, ketidak jelaskan arah tuju hidupnya.

 

Dengan kehadiran al-Quran sebagai paradigma baru inilah masyarakat Arab terbebas ide-ide konvensional yang biasanya tidak memberi solusi atas persoalan hidup masyarakat yang lahir dari senandung ritmik (reka-reka) para penyair atau sikap ngawurnya para kahin (dukun/tukang sihir) di masa jahiliyah.

 

Lepas Sains, ke Tafsir Sosial

 

Isra' Mi'raj akan lebih bermakna bagi hidup kita sekarang jika ia ditafsirkan sebagai cara melihat problem dan kebutuhan manusia pada setiap zaman yang selalu membutuhkan ide-ide baru, gagasan terobosan, upaya untuk menemukan jalan keluar (berbuat ma'ruf), meninggalkan dan melawan realitas buruk (munkar) dengan modal tuma'nina billah (keyakinan transendental atau "ideologi").

 

Itulah mengapa seorang Filsuf, Muhammad Iqbal merasa bahwa pengalaman Mi'raj yang indah, fantastis dan imajinatif itu lebih sebagai tanggungjawab sosial kemanusiaan, urusan bumi, bukan urusan langit. Iqbal berpikir, jika urusan personal semata, maka Nabi barangkali akan lebih memilih tidak balik/turun ke bumi yang banyak problem, melainkan akan lebih memilih berasyik-masyuk  berada di langit bersama Tuhan selamanya.

 

Tetapi memang dalam dimensi keilmuan (utamanya filsafat dan sains), urusan Isra' Mi'raj ini tetap menarik, menjadi tantangan, karena di sana menyediakan altar lain, cakrawala imajinatif untuk ruang kreativitas untuk memecahkan teka-teki dan misteri ini dengan penyediaan metode baru dalam melihat realitas.

 

Hal ini penting karena sejauh ini, persoalan isra' -mi'raj dalam konteks sains masih belum keluar dari paradigma rasio-empirik dengan doktrin _trial and error_, atau belum keluar dari model penalaran observatif eksperimental sehingga mengalami kebuntuan saat merasionalisasi, karena memang peristiwa itu tak bisa diulang (dicoba lagi), tak bisa diobservasi melalui eksperimen ulang.

 

Namun, dalam urusan hidup kita memang kita tidak bisa terus-menerus bergantung sains. _Toh _pada kemajuan sains modern (sekalipun kita hargai sebagai keilmuan, bahkan kita hargai sebagai berkah Illahi) bukan berarti sains modern itu bebas masalah. Bahkan sains itu sendiri yang harus terus dikritik dan terus dikembangkan agar manusia tidak terjebak pada kesalahan-kesalahan hingga menyebabkan malapetaka sains.

 

Bahkan, seandainya peristiwa Mi'raj tersebut juga bisa dirasionalisasi secara saintifik, misalnya pada kasus kemampuan perjalanan Nabi Muhammad SAW, dengan kecepatan cahaya (prakiraan) 300.000 km/s, bisa jadi nanti akan muncul bantahan dalam bentuk rasionalitas sains yang lain.

 

Dengan kata lain, menunggu kepastian sains memecahkan misteri tersebut, tidak akan menjamin munculnya kebenaran tunggal. Selalu ada tafsir atas fakta, dan karena itu pada urusan Mi'raj memang lebih bermanfaat jika ditafsir dengan apa yang kita sebut dalam sains sosial sebagai imajinasi.

 

Kita tahu, dalam ruang lingkup ilmu sosial, imajinasi merupakan tonggak lahirnya sebuah pembaharuan, atau jalan baru kehidupan. Setiap tokoh-tokoh besar memiliki imajinasi. Setiap nabi membawa imajinasi.

 

Setiap Tokoh Membawa Imajinasi

 

Nabi Isa AS membawa imaji welas asih yang begitu kuat. Pesan-pesan cinta-kasihnya begitu mendalam. Sebagai tokoh yang kuat kepribadiannya, tegas dalam bersikap terhadap kemunkaran, dan sekaligus humanis kepada umatnya.

 

Nabi Musa dengan mentalilnya yang kuat mampu sanggup turun dari ruang kerajaan (Fir'aun) dan lebih mengabdi kepada bangsanya yang tertindas, menjadi inspirator gerakan kewargaan di mesir kuno, membawa ratusan ribu umatnya keluar dari belenggu penindasan panjang dengan imajinasi "kebangsaan" yang unggul.

 

Dan nabi Muhammad adalah sosok yang sangat berarti dalam diri kita tentang apa itu yang munkar (buruk) dan harus ditinggalkan, mana yang ma'ruf (baik) harus ditegakkan, dan pentingnya _tuma'nina billah_ (beriman kepada Allah) sebagai sarana manusia untuk tidak berpaling dari jalan hanif; yang selalu merindukan kebenaran dan kebaikan).

 

Imajinasi yang telah terbukti membawa sebuah kebaikan bersama itulah yang perlu direfleksikan secara mendalam, diserap substansinya, kemudian kita jadikan cara/model menggerakkan masyarakat agar terjadi perubahan sosial yang lebih baik.

 

Mi'raj Sosial-Kewargaan

 

Dengan Mi'raj Nabi tersebut sesungguhnya tersedia banyak pelajaran (ibrah) berharga tentang kematian ego (individu). Kesadaran Nabi sebagai manusia tentang hakikat hidup telah tuntas karena perjumpaan dengan yang lain (realitas alam lain) yang memberikan pelajaran untuk pencerahan bagi urusan bumi.

 

Dengan pengalaman "di dunia lain" itu Nabi mendapatkan sisi lain yang baru, menggetarkan, dan mengubah paradigma hidupnya, dan dari situlah pula karakter pribadi terbentuk secara khusus.

 

Dengan kata lain pula terdapat makna, bahwa seseorang bisa berubah karena faktor luar, bukan semata karena hijrah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan memang butuh hijrah batiniah (transenden) untuk perubahan diri. Kisah nabi mengendarai buraq (baraqa) yang artinya adalah "bercahaya sebagaimana kilat" bisa dimaknai sebagai pencerahan (ilumunasi).

 

Makna kontemporernya, dalam kita berinteraksi dengan manusia dan alam semesta di era modern sekarang ini, seyogyanya bermodal wawasan, pengetahuan yang tidak sekadar hanya menyerap pakem-pakem pengetahuan secara umum, melainkan harus kreatif mencari pengetahuan transendetal agar laku-hidup kita (tidak sesat dalam kegelapan, termasuk tersesat dari sains secara umum) sehingga mampu memberikan berkah/kebaikan bagi semesta.

 

Dalam pengertian itulah sebenarnya, Mi'raj juga berarti keharusan kita untuk selalu naik dari tangga satu ke tangga lain (yang lebih tinggi) sehingga setiap hari kita memang senantiasa harus mengejar prestasi untuk menghasilkan ke-ma'rufan' dan meninggalkan mengurangi ke-munkar-an sehingga semakin kuat ikatan iman kita pada yang esa.

 

Pada dimensi urusan sosial-kemasyarakatan, mi'raj berarti usaha keras untuk kita berbakti, berkhidmat secara terus-menerus dengan selalu membuka diri secara kreatif untuk menjawab persoalan urusan warga.

 

Kebuntuan demokrasi yang terjadi saat ini akibat sekadar urusan pemilu/pilkada harus diterobos dengan memperkuat dimensi demokrasi lain yang mungkin itu berat karena menyangkut urusan partisipasi, emansipasi dan menegakkan daulat rakyat melalui musyawarah (deliberasi).

 

Bagaimana menjadikan demokrasi itu mampu menyejahterakan rakyat, membawa keadilan sosial, dan memberdayakan warga secara beradab? Itu semua membutuhkan sikap transendetal dari diri kita, terutama para politisi, kaum intelektual, dan pimpinan organisasi sosial kemasyarakatan.

 

Pada urusan kemasyarakatan di organisasi juga perlu sekiranya kita ber-Mi'raj (menuju tangga kualitatif). Kemandulan gerakan organisasi, baik di organisasi kemasyarakatan (ormas), partai, mengelola bisnis, tak bisa kita berlaku tertutup sebagaimana kebiasaan mengumbar sikap cengeng menyalahkan realitas, apalagi menyalahkan sesama pengurus.

 

Tugas kita bukan berkeluh kesah sebab itu tidak menyelesaikan persoalan. Tugas utama kita bermasyarakat adalah menemukan ruang-ruang kreatif, selalu mencari imajinasi untuk terus menuju tangga yang lebih tinggi. Dan itu bukan semata kita sekadar berpikir, melainkan harus bertindak/beramal. Sebab dengan banyaknya tindakan justru sering mendapatkan banyak pengalaman yang akumulasinya nanti bisa menjelma teori/pengetahuan.

 

Tangga Kualitas

 

Hari selalu baru. Karena waktu memang terus berjalan. Tetapi hari baru dengan kualitas kehidupan kita tidak selalu terjadi karena apa yang disebut pembaharuan bukan sekadar mengikuti arus pergeseran kalender harian. Memang, berbuat atau tidak kita (secara natural) akan berubah. Tetapi perubahan alamiah bisa jadi menjelma kita sebagai spesies, atau hewan yang lahir, hidup, berkembang lalu punah.

 

Pelajaran dari Mi'raj, yakni tangga sebagai ilustrasi menandakan kita selalu dituntut untuk "naik" ke arah kualitatif. Karena itu dalam perjalanan hidup ini, upaya naik harus terus dilakukan sepanjang hayat. Naik secara ilmu, naik secara kepribadian, naik kesejahteraan, naik derajat dan keimanan kita, naik solidaritas sosial, naik bersama-sama membangun peradaban. Wallahu a'lam. [FM]

 

KH Dr Eman Suryaman MM, Ketua PWNU Jawa Barat 2011-2016

Filosofi Laut Menurut Habib Luthfi

Negeri Indonesia dikaruniai Allah swt. banyak anugerah, salah satunya lautan yang mengelilingi Nusantara ini. Selain menyimpan banyak potensi kekayaan alam, laut ternyata juga sarat makna.

Pada lautan, kita dapat belajar untuk yakin akan jati diri dan harga diri bangsa. Demikian disampaikan Rais 'Aam Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu'tabaroh An-Nahdliyyah (Jatman) Habib Muhammad Luthfi bin Ali Yahya, pada Pengajian Akbar "Solo Bersholawat" di Koridor Jalan Jendral Sudirman Solo, Sabtu (16/5) lalu.

"Ketika kita melihat laut, jangan hanya pandang keindahan gelombang dan ombaknya, atau hanya merasakan asinnya. Tapi perhatikan dan pelajarilah filosofi laut," tuturnya.

Habib Luthfi menjelaskan, apabila diperhatikan, laut ini memiliki beberapa keistimewaan. Pertama, berbagai jenis air yang masuk ke laut melalui sungai, tak mengubah laut. "Semisal sungai di Jawa ini, semua masuk ke laut, sungai tersebut membawa banyak kandungan baik limbah dan sebagainya. Tapi ketika masuk ke laut, laut dapat menepisnya, kandungan-kandungan tersebut tidak langsung ke tengah," ujar ulama asal Pekalongan itu.

Kedua, berapa pun debit air yang mengalir masuk ke laut, tak mampu mengubah keasinan laut. "Laut punya harga diri. Kalau bangsa ini seperti laut, maka tantangan apapun termasuk ekonomi global juga tidak akan membuat bangsa ini goyah," tegas Habib Luthfi.

Ketiga, meski laut asin, tapi tak turut mempengaruhi para penghuninya. "Ikan tidak terkontaminasi laut, begitu juga laut tidak terpengaruh ikan. Satu sama lain berjalan seiring, tanpa ada pemaksaan kepentingan," kata dia.

Pada kesempatan tersebut, Habib Luthfi juga berpesan agar kita bangga dengan hasil produk yang dihasilkan dari Bumi Pertiwi ini. (Sumber : NU Online)

Kisah Dr. Gary Miller (Misionaris Kristen), Sang Penantang Al Quran : "Melakukan Riset Panjang Untuk Mencari Kesalahan Al Qur'an !"

Dr. Gery Muller


Forum Muslim - Gary Miller, adalah seorang ilmuwan matematika asal Kanada.

Selain menjadi anggota dewan ahli di universitas, Miller juga aktif sebagai misionaris Kristen. Miller adalah ilmuwan yang sangat meminati bidang logika dan hal-hal logis.

Pada awalnya, dia berpikir bahwa Al-Qur'an yang turun 14 abad yang lalu itu hanya membahas berbagai masalah di masa lalu.

Namun seiring dengan menguatnya arus Islam di Barat, Miller pun terdorong untuk mempelajari Al-Quran lebih mendalam dengan tujuan mencari celah-celah kesalahannya, sekaligus membuktikan ketidakotentikan kitab suci umat Muslim itu.

Miller mengatakan, "Mulai hari itu, saya membaca Al-Quran untuk mencari celah-celah kesalahan kitab ini. Melalui usaha ini, saya berharap dapat mengangkat derajat pemeluk agama Kristen di hadapan ummat Islam."

Dikatakannya pula, "Karena Al-Quran diturunkan 14 Abad yang lalu di padang pasir, saya berpikir bahwa kitab ini sangat terbelakang serta dipenuhi dengan kekurangan. Namun semakin saya membaca Al-Quran, saya malah semakin menemukan kebenaran yang membuat saya terkesima. Saya menyadari bahwa Al-Quran ternyata membahas berbagai masalah yang sama sekali tak ditemukan di kitab samawi lainnya.

Kitab ini membuat saya semakin penasaran untuk mempelajari lebih mendalam lagi. Ketika membaca sura An-Nisa', ayat 82, saya sangat terkejut. Ayat tersebut menyebutkan; "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya."

Tentunya, hal yang dialami oleh cendekiawan asal Kanada ini bukanlah yang pertama kali terjadi bagi seorang non-muslim. Al-Quran adalah samudera yang tak ada batasnya dan mengandung mutiara ilmu yang tak ada habis-habisnya untuk digali.

Sejak 14 abad lalu, para pemikir dan cendikiawan dalam berbagai bidang mengarungi lautan ilmu yang tertuang dalam kitab ini. Namun sedemikian luas dan dalamnya samudera Al Quran, membuat mereka belum mampu menemukan tepi atau akhir dari lautan ilmu ini.

Oleh karena itu, mereka hanya bisa pasrah sambil memuji keagungan dan kebesaran Allah Swt. Al-Quran dalam surat Furqon ayat 1 menyebutkan, : "Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam."

Sebagai seorang ilmuwan, Dr. Gary Miller memahami bahwa mengenali dan membandingkan berbagai pendapat adalah salah satu metode ilmiah dalam rangka membuktikan kebenaran. Dia juga mengatakan, "Al-Quran dengan ayat-ayat yang sangat lugas mengajak manusia untuk berpikir. Di dunia ini, tak ada seorang penulis pun yang menulis sebuah buku, kemudian dengan penuh keyakinan meminta semua pihak untuk membuktikan kesalahan-kesalahannya."

Miller juga mengatakan, "Di saat mempelajari Al-Quran, saya menanti ayat yang menyinggung peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, seperti wafatnya Sayidah Khadijah atau kehidupan anak-anaknya. Namun, saya malah dikejutkan oleh surat yang bernama Maryam. Sedangkan dalam kitab Injil dan Taurat, tak ada satupun surat khusus dengan nama Maryam. Selain itu, Al-Quran menyebut nama Isa Al-Masih sebanyak 25 kali, sedangkan kitab ini hanya menyebut nama Rasulullah Muhammmad Shallallahu 'alaihi wasallam sebanyak 5 kali. Bahkan, tak ada surat yang menyebutkan nama putri atau istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam."

Namun, cendekiawan Barat ini masih belum mantap dengan apa yang didapatkannya. Ia pun kembali melanjutkan mencari kesalahan-kesalahan Al-Quran. Kali ini, ia dikejutkan oleh ayat lainnya, yaitu Surat Al Anbiya ayat 30, yang berbunyi : "Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup…"

Miller berkata, "Ayat ini menyinggung masalah ilmiah yang penemunya mendapatkan penghargaan Nobel pada tahun 1973. Ayat ini menjelaskan teori "Big Bang" yang menghasilkan penciptaan dunia, langit, dan bintang-bintang."

Miller melanjutkan, "Bagian akhir ayat tersebut menyebutkan bahwa air adalah sumber kehidupan. Ini merupakan salah satu keajaiban penciptaan alam yang baru dipahami oleh sains modern. Ilmuwan modern membuktikan bahwa sel hidup terbentuk dari sitoplasma atau zat separuh cairan lekat, sedangkan bagian inti sitoplasma bersumber dari air. Dengan mempelajari ayat ini, saya sama sekali tidak lagi mempercayai klaim-klaim bohong yang menyebut Al-Quran sebagai buatan Muhammmad Shallallahu 'alaihi wasallam semata. Bagaimana mungkin Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang tak bisa menulis dan membaca sebelum diturunkannya Al-Quran, 1400 tahun yang lalu, tiba-tiba dapat berbicara soal materi dan gas yang membentuk dunia?"

Akhirnya, riset panjang ini menyebabkan Dr. Gary Miller tunduk menerima Islam sebagai AGAMA YANG BENAR. Dia kini aktif menulis berbagai makalah terkait mukjizat-mukjizat sains yang tercantum dalam Al-Quran. Di antara karya-karya Miller berjudul "Al-Qur'an Yang Menakjubkan", "Perbedaan Al-Quran dan Kitab Injil", dan "Pandangan Islam tentang Metode-Metode Pemberian Kabar Gembira".

Di samping berbicara mengenai mukjizat dan keagungan Al-Quran, Dr. Gary Miller juga membahas masalah lainnya. Dia mengatakan, "Di antara mukjizat Al Quran adalah menyampaikan ancaman-ancaman untuk manusia di masa mendatang yang tak bisa diprediksikan oleh manusia. Hal ini tak bisa diprediksi oleh manusia karena manusia seringkali menjadikan eksperimen sebagai tolak ukur kebenaran. 

Al-Qur'an juga mengidentifikasi sahabat dan musuh ummat Islam. Selain itu, kitab ini juga memperingatkan persahabatan dengan orang-orang musyrik dan mengingatkan bahwa ummat kristiani adalah sahabat yang paling dekat dengan umat Islam. Lebih dari itu, Al Quran mengemukakan data yang konkrit dan ini adalah di antara metode Al-Quran yang luar biasa."

Menurut Miller, "Al-Quran juga menarik perhatian para pembacanya pada hal-hal yang spesifik, bahkan kitab ini juga menyampaikan informasi-informasi baru. Informasi semacam ini tak pernah disinggung dalam kitab samawi lainnya. Sebagai contoh, surat Al-Imran ayat 44 menyampaikan peristiwa undian untuk mengasuh Sayidah Maryam as. Ayat tersebut menyebutkan, "Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa."

Dikatakannya pula, "Dalam Kitab Injil, jika kita ingin lebih mengetahui sebuah cerita atau mengkaji permasalahan, seringkali kita tidak mendapatkan jawabannya di kitab itu dan bahkan kita harus merujuk sumber-sumber referensi lainnya. Sementara Al-Quran menyatakan, jika seseorang ragu akan kebenaran yang disampaikannya, maka Al Quran sendiri yang akan menjawabnya. Namun, setelah saya mempelajari kitab ini secara detail, saya menyimpulkan bahwa tak seorangpun dapat menanggapi tantangan Al-Quran ini, karena pada prinsipnya, informasi-informasi dalam kitab ini Kitab ini mengungkap peristiwa masa lalu, masa kini, dan masa mendatang."

Pada tahun 1977, Miller terlibat debat terbuka dengan penceramah Islam terkenal; Ahmad Deedat. Logikanya jelas dan pembenarannya tampak berdasarkan niat baik untuk mencapai kebenaran tanpa kebanggaan beragama atau prasangka buruk. Banyak orang yang kemudian memperkirakan bahwa ia akan segera memeluk Islam setelah debat itu.

Pada tahun 1978 Miller memutuskan memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Abdul Ahad Omar. Dia bekerja selama beberapa tahun di Universitas Minyak & Mineral di Saudi Arabia dan kemudian mengabdikan hidupnya untuk da'wah melalui program TV dan ceramah-ceramah umum tentang Islam.

Pesan Dr. Gary Miller kepada umat Muslim:

"Wahai ummat Islam, kalian tak mengetahui betapa Allah Subhanahu wa ta'ala telah melimpahkan kemuliaan kepada kalian, yang tak dimiliki oleh agama-agama lain. Untuk itu, bersyukurlah karena kalian telah menjadi muslim. Berpikirlah secara mendalam untuk mengungkap kebenaran-kebenaran yang indah dalam Al-Quran. Saya mempelajari Al-Quran secara mendalam, dan kitab inilah yang menyebabkanku mendapatkan hidayah Ilahi."

Renungkanlah, dan jangan biarkan prasangka mencegah Anda menemukan jalan yang benar.