Sabtu, 11 Januari 2020

Mukjizat vs Sihir, Pengobatan dan Syair

by. Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Setiap nabi yang diutus selalu dibekali mukjizat sebagai senjata. Disebut mukjizat itu senjata tentu bukan untuk membunuh, tapi untuk melemahkan argumentasi mereka yang ingkar terhadap kenabian.

Biasanya jenis mukjizat itu disesuaikan dengan trend yang berlaku di suatu kaum. Tergantung apa yang jadi trending topik disana.

Nabi Musa alaihissalam

Kepada Firaun dan kaumnya di Mesir yang lihai dalam ilmu sihir, Nabi Musa dibekali mukjizat yang bisa mengalahkan argumentasi para penyihir kerajaan. 

Ketika mereka bisa mengubah tali menjadi ular-ular kecil, maka tongkat Musa atas izin Allah bisa berubah menjadi ular yang amat besar dan melahap semua ular kecil.

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ ۖ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ

Dan Kami wahyukan kepada Musa: "Lemparkanlah tongkatmu!". Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. (QS. Al-Araf : 117) 

Dengan cara itu, maka runtuh lah argumentasi para penyihir untuk tidak beriman kepada Musa. Dan mereka pun tersungkur bersujud.

فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ

Maka tersungkurlah ahli-ahli sihir sambil bersujud (kepada Allah), (QS. Asy-Syuara : 46)

Nabi Isa alaihissalam

Tantangan di masa kenabian Isa alahissalam adalah masala pengobatan dan ketabiban. Berbeda dengan para dukun dan tabib yang berjaya di masa itu, Nabi Isa hanya butuh telapak tangannya saja untuk diusapkan ke tubuh orang sakit, langsung sembuh saat itu juga.

Maka gelar Al-Masih itu sering dikaitkan dengan kemukjizatannya yang mengusap orang sakit. Masaha - yamsahu dalam bahasa Arab berarti mengusap. Al-Masih adalah orang yang mengusap. 

Dan paling tinggi mukjizatnya ketika Nabi Isa bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati atas izin Allah. Itu beyond the science.

وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّهِ

Dan Aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah. (QS. Ali Imran : 49)

Nabi Muhammad SAW

Sedangkan di masa kenabian Muhammad SAW di kalangan bangsa Arab, yang menjadi trending topik adalah masalah sastra. Para penyair Arab saling membanggakan diri dengan karya-karya mereka dan saling berlomba untuk bisa membuat masterpiece karya sastra level paling atas.

Dan Rasulullah SAW dibekali dengan kekuatan sastra Al-Quran yang otomatis langsung menumbangkan supremasi bangsa Arab dalam bidang sastra yang tadinya mereka banggakan. Bahkan Al-Quran meanntang para pujangga Arab untuk bisa menirunya.

ِAl-Quran tidak menantang untuk membuat satu kitab yang setara dengan Al-Quran, cukup bikin 10 surat saja, kalau memang mampu.

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar". (QS. Hud : 13)

Ditantang membuat 10 surat tidak mampu, maka tantangan diturunkan menjadi satu surat saja. 

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (QS. Al-Baqarah : 23)

Ternyata satu surat pun tidak mampu juga, padahal sudah membentuk team yang terdiri dari para pujangga Arab. 

Tapi . . . 

Semua mukjizat di bidang sastra itu nampaknya kurang berarti buat kita. Karena kita bukan orang sastra, sehingga tidak bisa membedakan mana sastra atas langit dan mana sastra kolong langit. Mirip kita orang awam masuk galery lukisan abstrak yang penawaran harganya mencapai milyaran. Tidak masuk di akal kita kayak apa keindahan seni lukis aliran abstrak itu, bukan?

Lagian, kalau pun lukisan abstrak itu bagus untuk dijadikan hiasan dinding, kenapa tidak discan jadi jpg dan diprint dengan kualitas terbaik, jadi seindah aslinya. Pasti begitu logika kita orang awam. Logika seperti itu buat mereka yang mengerti seni lukis tentu saja jadi bahan tertawaan. 

Kalau kita bandingkan dengan mukjizat Nabi Musa dan Nabi Isa, mukjizat Nabi Muhammad SAW ini jadi unik dan beda sendiri. 

Pertama, mukjizat Musa dan Isa itu mudah dipahami oleh siapa saja, karena merupakan barang nyata. Ular besar makan ular kecil, itu nyata dan orang langung percaya. Orang sakit dan orang mati bisa bangun lagi, hidup dan sehat, semua orang mudah memahaminya.

Sedangkan keindahan sastra, itu hanya dipahami oleh segelintir orang saja. Jangankan kita yang bukan Arab, bahkan orang Arab sendiri pun belum tentu paham urusan keindahan sastra. 

Kedua

Tapi mukjizat-mukjizat Musa dan Isa pun punya keterbatasan, yaitu hanya dipercaya oleh yang melihat langsung saja. Yang tidak melihat langsung dan hanya dengar ceritanya, pasti tidak otomatis percaya. Jadi kemukjizatannya bersifat temporal, tidak bisa dibuktikan dan tidak berlaku untuk zaman sekarang.

Sebaliknya, mukjizat Nabi Muhammad SAW itu meksi yang paham hanya kalangan terbatas, namun sifatnya abadi sampai hari kiamat. Karena wujudnya Al-Quran, dan Al-Quran tidak akan hilang sampai kiamat. Berarti mukjizatnya bersifat abadi.

Namun untuk bisa merasakan kecanggihan sastra Al-Quran yang tidak tertumbangkan, kita sendiri kudu belajar ilmu sastra Arab yang tinggi. Bukan grammer macam Nahwu Sharaf tapi bidang sastra, yaitu Adab, Balaghah, Bayan, Badi' dan seterusnya. 

Di masa kenabian, para pemimpin orang kafir musyrikin Mekkah rata-rata jagoan sastra semua. Jadi begitu dengar ayat-ayat Al-Quran dibacakan, langsung pada klepek-klepek. 

Tapi kita di zaman sekarang yang ngaku sebagai generasi Qurani, meski hafal 30 juz tapi cuma plonga plongo saja dibacakan ayat-ayat AL-Quran yang indah sastranya itu. Kok bisa ?

Soalnya mutlak tidak paham. Inna lillahi wa innaa ilaihi rajiun.(FM)

Mutiara Hikmah

Seorang santri sedang membersihkan aquarium Kyainya, ia memandang ikan arwana merah dengan takjub..
Tak sadar Kyainya sudah berada di belakangnya.. "Kamu tahu berapa harga ikan itu?". Tanya sang Kyai..
.
"Tidak tahu". Jawab si Santri..
.
"Coba tawarkan kepada tetangga sebelah!!". Perintah sang Kyai.
.
Ia memfoto ikan itu dan menawarkan ke tetangga..
Kemudian kembali menghadap sang Kyai. .
"Ditawar berapa nak?" tanya sang Kyai. .
"50.000 Rupiah Kyai". Jawab si Santri mantap..
.
"Coba tawarkan ke toko ikan hias!!". Perintah sang Kyai lagi..
.
"Baiklah Kyai". Jawab si santri. Kemudia ia beranjak ke toko ikan hias..
.
"Berapa ia menawar ikan itu?". Tanya sang kyai..
.
"800.000 Rupiah Kyai". Jawab si santri dengan gembira, ia mengira sang Kyai akan melepas ikan itu..
.
"Sekarang coba tawarkan ke Si Fulan, bawa ini sebagai bukti bahwa ikan itu sudah pernah ikut lomba". Perintah sang Kyai lagi..
.
"Baik Kyai". Jawab si Santri. Kemudian ia pergi menemui si Fulan yang dikatakan gurunya. Setelah selesai, ia pulang menghadap sang guru.
.
"Berapa ia menawar ikannya?".
.
"50 juta Rupiah Kyai".
.
Ia terkejut sendiri menyaksikan harga satu ikan  yang bisa berbed-beda..
.
"Nak, aku sedang mengajarkan kepadamu bahwa kamu hanya akan dihargai dengan benar ketika kamu berada di lingkungan yang tepat..".

.
"Oleh karena itu, jangan pernah kamu tinggal di tempat yang salah lalu marah karena tidak ada yang menghargaimu.. Mereka yang mengetahui nilai kamu itulah yang akan selalu menghargaimu..".

كُلُّنَا اَشْخَاصٌ عَادِيٌّ فِي نَظْرِ مَنْ لاَ يَعْرِفُنَا
Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yang tidak mengenal kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ رَائِعُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَفْهَمُنَا
Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita.
وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مُمَيِّزُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يُحِبُّنَا
Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مَغْرُوْرُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْسُدُنَا
Kita adalah pribadi yang menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian terhadap kita.

وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ سَيِّئُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْقِدُ عَلَيْنَا
Kita adalah orang-orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri akan kita.

لِكُلِّ شَخْصٍ نَظْرَتُهُ، فَلاَ تَتْعَبْ نَفْسَكَ لِتُحْسِنَ عِنْدَ الآخَرِيْنَ
Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing, maka tak usah berlelah-lelah agar tampak baik di mata orang lain.

يَكْفِيْكَ رِضَا اللّٰهُ عَنْكَ ، رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَك
Cukuplah dengan ridha Allah bagi kita, sungguh mencari ridha manusia adalah tujuan yang takkan pernah tergapai.

وَرِضَا اللّٰهُ غَايَةٌ لاَ تُتْرَك ، فَاتْرُكْ مَا لاَ يُدْرَكْ ، وَاَدْرِكْ مَا لاَ يُتْرَكْ
Sedangkan Ridha Allah, destinasi yang pasti sampai, maka tinggalkan segala upaya mencari keridhaan manusia, dan fokus saja pada ridha Allah . ان شاء الله

Rabu, 25 Desember 2019

Beratnya Tanggung Jawab Seorang Suami

Ilustrasi Pernikahan - File thejakartapost.com

Forum Muslim - Saya terima nikahnya.... binti.... dengan mas kawin......di bayar tunai....”.Singkat, padat dan jelas. Tapi tahukan makna “perjanjian atau ikrar” tersebut?Itu tersurat. Tetapi apa pula yang tersirat? Yang tersirat ialah :Artinya: ”Maka aku tanggung dosa-dosanya si dia (perempuan yang ia jadikan istri) dari ayah dan ibunya.
Dosa apa saja yang telah dia lakukan. Dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan sholat. Semua yang berhubungan dengan si dia (perempuan yang ia jadikan istri), aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yang menanggung. Serta akan aku tanggung semua dosa calon anak-anakku”.juga sadar, sekiranya aku gagal dan aku lepas tangan dalam menunaikan tanggung jawab, maka aku fasik, dan aku tahu bahwa nerakalah tempatku kerana akhirnya isteri dan anak-anakku yang akan menarik aku masuk kedalam Neraka Jahanam. dan Malaikat Malik akan melibas aku hingga pecah hancur badanku.

Akad nikah ini bukan saja perjanjian aku dengan si isteri dan si ibu bapa isteri, tetapi ini adalah perjanjian terus kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala ".Jika aku GAGAL (si Suami) ?”Maka aku adalah suami yang fasik, ingkar dan aku rela masuk neraka. Aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku”.
(HR. Muslim)

Duhai para istri, Begitu beratnya pengorbanan suamimu terhadapmu.
Karena saat Ijab terucap, Arsy-Nya berguncang karena beratnya perjanjianyang dibuat olehnya di depan ALLAH, dengan disaksikan para malaikat dan manusia.
Maka andai saja kau menghisap darah dan nanah dari hidung suamimu, maka itupun belum cukup untuk menebus semua pengorbanan suami terhadapmu.
Semoga ini bisa direnungkan bagi kita yang sudah nikah maupun yang belum.

Subhanallah. beratnya beban yang di tanggung suami. Bukankah untuk meringankan tanggung jawabnya itu berarti seorang istri harus patuh kepada suami, menjalankan perintah ALLAH dan menjauhi larangan-Nya? Juga mendidik putra-putri kita nanti agar mengerti tentang agama dan tanggung jawab.

Semoga kita semua menjadi orang tua yang dapat memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita kelak dengan agama dan cinta kasih sehingga tercipta keluarga kecil yang sakinah,mawaddah dan warahmah.
Aamin Yaa Rabbal'alaminn...

Sahabat semoga kita selalu dalam lindungan-Nya yang dilimpahkan kesehatan, kebahagiaan, keselamatan dan kemudahan untuk selalu beribadah kepada-Nya..

"Ya Allah, muliakanlah sahabat-sahabat Kami, Berikanlah Kami pasangan yang setia,mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah.
Kelak masukkanlah Kami disurga yang terindah.."Aamiin Ya Robbal Alamiin...

Rosulullah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari).

Subhanallah
Semoga kita dapat mengambil pengetahuan bermanfaat yang bernilai ibadah lewat tulisan ini dan mengamalkan dalam kehidupan sehari - hari. (FM)

Kisah Seorang Ahli Ibadah Yang Jenazahnya Tidak Bisa Dihadapkan Ke Arah Kiblat

Makam Nabi Muhammad SAW

(Kisah ini diceritakan oleh Al Habib Umar bin Hafidz)

Dahulu di Madinah ada seorang laki-laki, ahli Ibadah  "Si Fulan" yang selama 30 th, setiap harinya Shalat Fardhu di Masjid Nabawi Madinah.

Namun saat dia meninggal, Jenazahnya tidak bisa dihadapkan ke arah Kiblat, berulang-ulang diarahkan ke arah Kiblat tapi kembali lagi kearah yang berlawanan dengan Kiblat.

Dan akhirnya oleh orang-orang diganjal bawahnya...Namun lagi-lagi berbalik dan alat pengganjalnya pun tidak kuat untuk menghadapkan Jenazah itu ke arah Kiblat.

Para Ulama setempat berpendapat, bahwa itu Rahasia Allah, jadi biarkan saja demikian, karena pasti  Allah Swt lebih tahu "Ada apa" yang sebenarnya terjadi?

Pada akhirnya datanglah seseorang menanyakan pada istri si Fulan tersebut, tentang perbuatan apa yang telah dilakukan suaminya, sehingga saat meninggal Jenazahnya tidak bisa di hadapkan kearah Kiblat?

Dan wanita itu berkata :
"Suami saya setiap hari Shalat didalam Masjid Nabawi, hampir semua tempat didalam Masjid dia pakai untuk Shalat... Namun, belum pernah sekalipun dia Berziarah ke Maqam Rasulullah Saw".

Bagaimana mungkin Shalatmu layak diterima kalau didalam Hatimu tidak ada Perasaan Cinta Kepada Rasulullah Saw.

Allahumma Shalli 'Alaa Sayyidina Muhammad Wa 'Alaa Aali Sayyidina Muhammad. (FM)

Selasa, 24 Desember 2019

Sepuluh Sebab Kematian Hati

Ilustrasi Hati

Forum Muslim - Seorang ulama salaf (generasi terdahulu umat Islam) yang bernama Syaqiq bin Ibrahim rahimahullah menceritakan, bahwa suatu hari Ibrahim bin Adham rahimahullah melewati sebuah pasar di Kota Bashrah. Lalu orang-orang pun mengerumuninya dan bertanya kepadanya:

يَا أَبَا إِسْحَاقَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ فِي كِتَابِهِ : ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ سورة غافر آية 60 ، وَنَحْنُ نَدْعُوهُ مُنْذُ دَهْرٍ فَلا يَسْتَجِيبُ لَنَا

“Wahai Abu Ishaq, Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya : ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan doamu.’ (QS. Ghofir: 60) Sementara kami selalu berdoa kepada-Nya semenjak waktu yang lama, namun Dia tidak pernah mengabulkan doa kami.”

Maka Ibrahim bin Adham pun berkata:

يَا أَهْلَ الْبَصْرَةِ ، مَاتَتْ قُلُوبُكُمْ فِي عَشَرَةِ أَشْيَاء

“Wahai penduduk Bashrah, (yang demikian itu) karena hati kalian telah mati disebabkan sepuluh perkara.”

 أَوَّلُهَا : عَرَفْتُمُ اللَّهَ ولَمْ تُؤَدُّوا حَقَّه

 “Pertama: Kalian mengenal Allah. Namun kalian tidak menunaikan hak-Nya”.

 الثَّانِي : قَرَأْتُمْ كِتَابَ اللَّهِ ولَمْ تَعْمَلُوا بِه

“Kedua: Kalian membaca Kitabullah (Al-Quran Al-Karim). Namun kalian tidak mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya.”

وَالثَّالِثُ : ادَّعَيْتُمْ حُبَّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَرَكْتُمْ سُنَّتَه

“Ketiga: Kalian mengaku cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun kalian meninggalkan tuntunannya.”

وَالرَّابِعُ : ادَّعَيْتُمْ عَدَاوَةَ الشَّيْطَانِ وَوَافَقْتُمُوهُ

“Keempat: Kalian mengatakan benci dan memusuhi syetan. Namun kalian justru selalu menyepakati dan mengikutinya.”

وَالْخَامِسُ : قُلْتُمْ نُحِبُّ الْجَنَّةَ ولَمْ تَعْمَلُوا لَهَا

“Kelima: Kalian mengatakan, ‘kami cinta surga’. Namun kalian tidak beramal untuk mendapatkannya.”

وَالسَّادِسُ : قُلْتُمْ نَخَافُ النَّارَ وَرَهَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِهَا

“Keenam: Kalian mengatakan, ‘kami takut masuk Neraka’. Namun kalian justru menggadaikan diri kalian dengannya.”

وَالسَّابِعُ : قُلْتُمْ إِنَّ الْمَوْتَ حَقٌّ وَلَمْ تَسْتَعِدُّوا لَهُ

“Ketujuh: Kalian mengatakan, ‘sesungguhnya kematian pasti akan datang’. Namun kalian tidak mempersiapkan diri untuk menyambutnya.”

وَالثَّامِنُ : اشْتَغَلْتُمْ بِعُيُوبِ إِخْوَانِكُمْ وَنَبَذْتُمْ عُيُوبَكُمْ

“Kedelapan: Kalian sibuk mencari aib saudara-saudara kalian. Namun lalai dari aib diri kalian sendiri.”

وَالتَّاسِعُ : أَكَلْتُمْ نِعْمَةَ رَبِّكُمْ ولَمْ تَشْكُرُوهَا

“Kesembilan: Kalian memakan kenikmatan dari Rabb kalian. Namun kalian tidak pernah mensyukurinya.”

وَالْعَاشِرُ : دَفَنْتُمْ مَوْتَاكُمْ وَلَمْ تَعْتَبِرُوا بِهِم

“Kesepuluh: Kalian menguburkan orang mati diantara kalian. Namun kalian tidak mau mengambil pelajaran darinya.”

(Disebutkan oleh Abu Nu’aim Al-Ashbahani dalam Hilyatul Auliya’ VII/426 karya,  Ibnu Abdil Barr dalam Jâmi Bayân Al-‘Ilmi wa Fadhlihi no. 1220, Asy-Syâthiby dalam Al-I’tishom I/149 (Tahqîq Masyhûr Hasan Alu Salman), dan selainnya). (FM)

Sedekah Yang Tidak Diterima Oleh Allah

Ilustrasi sedekah

Forum Muslim - Dari Amru bin Auf ra katanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya sedekah seseorang Islam itu memanjangkan umur dan mencegah daripada mati dalam keadaan konyol dan Allah SWT pula menghapuskan dengan sedekah itu sikap sombong, takabur dan membanggakan diri (dari pemberiannya).” (Hadis Riwayat Bukhari).

Hadis di atas menjelaskan bahwa selain sedekah wajib, yaitu zakat harta, zakat fitrah dan sebagainya/Umat Islam umumnya digalakkan memberi sedekah (selain wajib) sebagai tanda bersyukur di atas segala nikmat yang dikaruniakan oleh Allah SWT.

Ternyata ada beberapa sedekah yang tidak diterima oleh Allah, walaupun bentuk sedekahnya sendiri diterima oleh manusia, yaitu  tidak dilakukan dengan ikhlas atau mempunyai tujuan lain bukan karena Allah.

Berikut ini ada lima sedekah yang tidak akan diterima.

1. Sedekah dari Hasil Penipuan

Pada dasarnya sedekah atau memberikan barang berharga yang kita miliki kepada orang tanpa pamrih adalah perbuatan mulia dan sangat dianjurkan oleh agama. Namun, jika memberikan sesuatu atau hasil dengan cara yang tidak halal (penipuan),  maka Allah tidak akan menerima, seperti hadis yang akan dijelaskan di bawah ini.

Abdullah ibnu Umar menjawab,”Allah tidak menerima salat (doa) tanpa bersuci dan tidak menerima sedekah dari hasil penipuan (hasil yang tidak halal)”. (HR. Muslim).

2. Sedekah yang Diungkit-ungkit

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima),seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. .” (QS. Al-Baqarah: 264)

3. Sedekah karena Riya

Ayat diatas juga merupakan dalil bahwa riya dapat menghapus pahala sedekah, juga firman Allah:

“Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.” (QS. An-Nisa:38)

4. Sedekah dari Sesuatu yang Buruk

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS.Al-Baqarah: 267)

5. Sedekah Orang Kafir dan Sedekah karena Terpaksa

“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan (terpaksa). (QS. At-Taubah:54)

Jadi,  jangan sampai niat sedekah kita dibelokkan dan akhirnya bukan mendapat pahala melainkan dosa, naudzubillah. Ulurkanlah sedekah sehingga tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanan karena itulah lambang kejujuran dan keihklasan hanya karena Allah SWT. (Galamedianews/FM)

Tujuh Keajaiban Bersedekah

Ilustrasi Sedekah - File galamedianews

Forum Muslim : Bersedekah sangat dianjurkan dalam agama islam, karena sedekah memiliki fadhilah yang sangat besar. Di antara fadhilah sedekah yang sangat besar ialah :

1. Sedekah dapat menghapus dosa

“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (hr. tirmidzi, di shahihkan al albani dalam shahih at tirmidzi, 614)

2. Sedekah memberi keberkahan pada harta.

“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan allah tambahkan kewibawaan baginya.” (hr. muslim, no. 2588)

3. Allah melipatgandakan pahala orang yang bersedekah.

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (qs. al hadid: 18)

4. Sedekah akan menjadi bukti keimanan seseorang.

“Sedekah adalah bukti.” (hr. muslim no.223)

5. Sedekah dapat membebaskan dari siksa kubur.

“Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.” (hr. thabrani, di shahihkan al albani dalam shahih at targhib, 873)

6. Orang yang bersedekah merasakan dada yang lapang dan hati yang bahagia.

“Perumpamaan orang yang pelit dengan orang yang bersedekah seperti dua orang yang memiliki baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya. orang yang bersedekah, dikarenakan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di kulitnya. sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak meninggalkan bekas pada kulitnya. sedangkan orang yang pelit, dikarenakan pelitnya ia merasakan setiap lingkar baju besinya merekat erat di kulitnya. ia berusaha melonggarkannya namun tidak bisa.” (hr. bukhari no. 1443)

7. Sedekah menjauhkan diri dari api neraka

“Jauhilah api neraka, walau hanya dengan bersedekah sebiji kurma. jika kamu tidak punya, maka bisa dengan kalimah thayyibah” (hr. al bukhari 6539, muslim 1016)

Subhan Allah, Semoga yg berkomentar Aamiin dijauhkan dari segala penyakit, diberi sehat wal afiat, rezekinya melimpah ruah, dan keluarganya bahagia Dan bisa masuk Surga melalui pintu mana saja. Aamiin ya Rabbal'alamiin. (FM)
.

Tanpa Shawalat Doa Menggantung Antara Bumi dan Langit

Kaligrafi Nabi Muhammad SAW


Nabi Shallallahu alahi wa sallam bersabda:

ما منكم من أحدٍ سلّم علي إذا متُّ إلا جاءني جبريل فقال جبريل يا محمد هذا فلان ابن فلان يُقرئك السلام، فأقول وعليه السلام ورحمة الله وبركاته. (رواه أبو داود).

Artinya:
“Tidak ada salah seorang di antara kamu yang mengucapkan salam kepadaku sesudah aku mati melainkan malaikat jibril datang kepadaku seraya mengucapkan: ‘wahai Muhammad, ini Fulan bin Fulan mengucapkan salam untukmu, maka aku menjawab: “dan atasnya salam dan rahmat serta berkah dari Allah”. (HR. Abu Daud)

Shalawat adalah sebuah ibadah yang tidak berbatas alam, jarak ataupun waktu. Artinya bila diucapkan maka akan menembus alam langit yang sangat jauh, didengar para malaikat, lalu turut menyampaikan doa bagi manusia yang mengucapkannya, dan menembus Alam kubur menyampaikan salam yang diucapkan manusia kepada Nabi Muhammad

Menjadikan doa cepat terkabul
Bahwasanya Umar bin Khattab Ra berkata: “Saya mendengar bahwa doa itu ditahan diantara langit dan bumi, tidak akan dapat naik, sehingga dibacakan shalawat atas Nabi Muhammad Saw”. (Atsar Hasan, Riwayat Tirmidzi)

Minggu, 22 Desember 2019

Gus Dur Sang Petarung Kelas Dunia

KH Abdurrahman Wahid

Oleh: Dinno Brasco

Jadilah manusia agung
Bagai seorang syahid,
Seorang imam, bangkit, berdiri
Di antara rubah, serigala, tikus, domba
Di antara nol-nol, bagai yang satu

Syair intelektual pejuang bernama Ali Syari’ati dalam puisi “Satu yang Diikuti Nol-nol yang Tiada Habis-habisnya”, tak biasanya menjadi senjata untuk membangkitkan kesadaran manusia yang terlelap, bahkan mati jiwanya di alam dunia. Dibangkitkan kembali menjadi sejatinya manusia. Manusia adalah segalanya, manusia selalu menarik untuk dibedah untuk mencari jawab tentang arti kepastian. Pisau filsafat pembentukan manusia, dalam pandangan Syari’ati menyasar bahwa hanya manusia yang dibaptis Tuhan untuk menggerakkan jagat semesta, laksanakan amanah-Nya. Malaikat jauh sebelumnya sudah memprediksi kelakuan manusia, sebagai biang tengkar angkara murka di bumi. Tapi Tuhan sangat tahu yang tidak diketahui barisan malaikat. Karena itu, manusia punya darah juang pengetahuan, daya perang dan iman sejati untuk melaksanakan misi besar menjadi khalifah di bumi, bukan khalifah di syurga. Maka, maha benar deklarasi manusia yang dikaruniai dengan keberanian, strategi perang nafsu, keutamaan, kearifan dan kebijaksanaan di jagat semesta.

Penyair besar Jalaluddin Rumi berkata bahwa amanah dan karunia itu adalah kehendak. Kehendak terbesar manusia yaitu membuktikan dirinya ada, ada untuk menjadi wakil Tuhan di bumi manusia, demikian petuah wali Nusantara bernama Syaikh Siti Jenar. Disanalah awal kisah misteri dosa Nabi Adam as, tragedi dosa yang melahirkan keluarga manusia agung sepanjang sejarah, puncak hamba yang memimpin sebaik-baik umat yakni Nabi Muhammad saw. Manusia terbesar yang diakui kawan dan lawan sampai detik ini, sebagaimana sering disampaikan Karen Armstrong dalam karyanya Muhammad: Prophet for our time. Puncak hamba yang menjadi teladan akhlak mulia dan kepemimpinan Indonesia, sebagaimana dicontohkan Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gus Dur berjuang membela kemanusiaan tanpa syarat apapun tak peduli resiko bahaya dan taruhannya. Membela kearifan lokal di seluruh penjuru negeri yang bertransformasi dalam wujud dasar negara Pancasila, Konstitusi UUD 1945 dan NKRI. Gus Dur yang selalu setia terhadap visi kebangsaan yang diperjuangkannya setiap waktu.

GD: Lahir, Berjuang dan Syahid

Kita semua seyogyanya bersaksi, bahwa biografi Gus Dur disimpulkan dengan tiga kata,’ ia lahir, berjuang, dan syahid. Gus Dur masuk geng manusia ideal, sosok khalifah Tuhan yang telah bergerak di jalan puncak penghambaan yang sulit, terjal dengan memikul beban-beban amanah. Sampai ia menuju ke ujung tapal batas dan membentuk diri jadi khalifah serta penggerak amanah Tuhan. Gus Dur bernyawa manusia ‘theomorphis’, manusia yang berjalan dan bergerak dengan berakhlak sebagaimana akhlak Tuhan. Tipologi ‘manusia menuhan’ dengan segala risiko terbesar yang dialami hidupnya dalam perjalanan dari alam menuju Sang Pencipta alam.

Adalah filsuf Jerman, Dilthey yang mengatakan manusia adalah makhluk yang senang bercerita dan membangun hidupnya atas dasar kisah yang diimaninya. Tanpa cerita, hidup kita carut-marut. Dengan cerita dan kisah, kita susun pernak-pernik hidup kita yang berserakan dan centang perenang dalam narasi-narasi besar (grand narratives), yaitu untuk pengorganisasian hidup (Zusammenhang des Lebens), yang dipercayai juga oleh Hannah Arendt, pemikir besar abad kedua puluh. Narasi kisah Nabi Muhammad adalah salah satunya. Kita mendengarkan kisah beliau, menyampaikannya kepada yang lain. Bahkan manusia terkadang rela ‘bertempur’ melawan kekuatan hitam, yang menyampaikan cerita atau kisah yang berbeda tentang sang tokoh yang puja-puji.

Izinkan kami Gus, untuk menulismu, menceritahkan cerita dan kisahmu, titah pengorbananmu, setia demi Islam, Indonesia dan dunia yang lebih baik. Karena dengan jujur kami tak pernah bersentuhan secara langsung dengan Gus Dur, seperti halnya Soekarno kecil tak pernah dapatkan kehangatan kasih sayang langsung dari tokoh besar bernama HOS Cokroaminoto. Tak seperti kader-kadermu dan santrimu yang setiap hari engkau ajarkan kehidupan, ‘5 jurus dewa mabuk’ dan seluk beluk perlawanan serta gemerlap dunia malam para konspirator serta kisah hikmah dari kitab al-Hikam.

Dari geng kader-kader terbaikmu, yang kujadikan ‘shogun’ dalam ‘jalan ronin diriku’. Kami menimba jejak-jejak muliamu, samurai ilmumu, akar-akar kepemimpinanmu, jurus politikmu dan masuk dalam alam pikiranmu, ilhammu, kesetiaan visi geopolitikmu berjuang demi Islam dan Indonesia. Islammu, Islamku, Islam Kita. Indonesia, negeri tercinta kita. Hidupmu engkau abdikan sepanjang sejarah, dengan terang benderang, teguh, berani saat melakukan pembelaan dan pemihakan terhadap orang-orang tertindas dan dilemahkan, antara lain kelompok minoritas dan kaum marjinal: Ahmadiyah, Syiah, etnis Tionghoa, dan orang-orang yang hancur hatinya di setiap waktu subuh menghadapmu.

Apakah sebuah perubahan besar dalam sejarah dunia sosial politik tidak ditentukan oleh kekuatan pribadi, poros individu sebagai agen sejarah? Baik secara teoritis maupun dalam kenyataannya, perubahan besar terdorong oleh agregasi berbagai faktor yang membentuk kekuatan besar untuk memfasilitasi sebuah kejatuhan dan kemunculan geng politik baru yang ditindas dan disingkirkan. Sebagaimana yang dialami NU (Nahdlatul Ulama) yang memang tidak diharapkan oleh kekuatan tertentu di bumi Indonesia. Postulasi bersifat teroritis ini juga berlaku misalnya untuk perubahan politik Indonesia tahun 1980 sampai akhir 2002. Tanpa krisis keuangan pertengahan 1997 yang merembes kepada krisis ekonomi dan akumulasi gelombang massa aksi mahasiswa dan rakyat yang berujung pada krisis kebangsaan sosial politik. Jatuhnya rezim penguasa Orde Baru yang mendominasi pentas politik dan ekonomi negeri ini selama lebih tiga puluh tahun bisa jatuh bagai ‘istana kertas’. Oleh pakar geopolitik, dibuat mudah bahwa keruntuhan rezim Soeharto lebih merupakan permainan hitam (black game) kekuatan-kekuatan ekonomi politik tingkat tinggi, tingkat supra negara-bangsa.

Sudah pasti dalam postulat pengetahuan perubahan sejarah manapun, ada postulasi teroritis bahwa peran strategis politik pribadi-pribadi besar tertentu sebagai agen sejarah yang merubah sejarah. Adalah Thomas Carlyle, ahli sejarah dari Inggris abad ke-19 yang berfatwa “ sejarah, pada dasarnya merupakan sejarah orang-orang hebat” dan Gus Dur adalah sebuah contoh utama. Sejarawan Inggris itu adalah pencinta the great man theory. Hal tersebut sangat kontras dengan kaum materialis, yang mengatakan bahwa perubahan sejarah yaitu teknologi dan distribusi barang dan jasa sebagai sumber perubahan sosial. Bahkan kaum idealis bersabda bahwa ide dan gagasanlah yang mencipta perubahan sosial. Postulat the great man theory membumikan jejak pahlawan sebagai epicentrum dari segala perubahan sejarah dunia.

Kehadiran pahlawan adalah prototype manusia besar yang merubah dan membalik sejarah. “And I said: the great man always acts like a thunder. He storms the skies, while others are waiting to be stormed”, ucap Thomas Carlyle saat menggoreskan postulat teoritis tentang ‘manusia besar’ dalam panggung sejarah manusia. Saya katakan bahwa manusia besar selalu seperti halilintar yang membelah langit, dan manusia yang lain hanya menunggu dia seperti kayu bakar.

Dan sosok Gus Dur adalah sebuah contoh utama di bumi Indonesia. Dari segenap pergerakan pemikiran dan tindakannya dilipat dalam hasrat untuk mendirikan ‘Republik bumi di syurga’. Dengan menjadikan kemanusiaan sebagai tujuan pertama dan utama, maka pemikiran apapun takkan jadi ideologi yang tertutup dan mendebarkan bagi nyawa manusia. Gus Dur adalah katalis perubahan, pengamal cinta kemanusiaan tanpa batas seperti yang diteladaninya dari Nabi Muhammad saw.

Pertarungan Serigala Politik

Masihkah kita semua, melupakan perlakuan rezim Orde Baru yang hegemonik terhadap siapapun yang berani berkata beda dengan penguasa tiran. Sejarah politik Orde Baru, sejak decade 1980-an penuh dengan warna-warni pertempuran negara dengan ‘manusia-manusia hebat’. Pembangkangan sipil terhadap negara, muncul dan menjamur di setiap sudut kota dan desa. Megawati Soekarno Putri dengan PDI dan ‘people powernya’, Gus Dur dengan kekuatan besar NU sebagai pemilik sah negeri ini dan melalui Forum Demokrasinya melakukan protes sosial dari negara yang abai mewujudkan keadilan sosial yang tak tentu arah.

Situasi itu membentuk semangat dan kondisi pikiran Gus Dur untuk melancarkan perang posisi (war of position) untuk bertarung hadapi hegemoni Orde Baru atas nama tunggalnya Pancasila. Melalui Rapat Akbar NU tahun 1991 dan front-front sipil tafsir epistemologi ideologi Pancasila tahun 1984. Sasaran operasinya adalah menolak tunduk pencalonan kembali Soeharto sebagai Presiden pada Pemilu 1992.

Inilah jurus politik Gus Dur yang membuat Republik ini pernah geger, melawan dengan caranya berhadapan dengan penindasan penguasa Orde Baru. Gus Dur, dan NU setia abadi pada ideologi negara bangsa, bukan kepada penguasa. Peran besar Gus Dur melahirkan gelombang kejut dan tekanan besar terhadap negara. Berbaris, menyemai dan mencipta budaya perlawanan elemen massa kota yang terkonsolidir pada pelbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) serta kekuatan rakyat di perkotaan yang digalang dan gerakkan mahasiswa di penjuru negeri. Menjalani target operasi, mengalami penderitaan dan ketidakpastian zaman, Gus Dur mengirimkan semangat dan harapan di setiap sudut jiwa manusia. Penderitaan demi kesetiaan tujuan bersama pengikutnya, yang mengingatkan kita kepada perjuangan Alexander, Yesus, Nabi Muhammad saw, Mao Zedong, Lenin, Castro, dan Nelson Mandela.

Dalam kamus politik seperti yang kita ketahui, untuk menjadi manusia-manusia hebat sebagai tokoh politik Indonesia menjulang tinggi ke langit, seseorang mesti melalui 7 (tujuh) tangga yaitu laras senjata, bakat, kharisma (silsilah), kemampuan organisasi, manipulasi politik, pengetahuan kuasa dan kapital besar. Ibu Megawati adalah contoh politisi yang mengandalkan karisma ayahnya dan massa pengikut Soekarno. KH. Zainul Arifin, Ali Moertopo, Sarwo Edhie Wibowo, LB Moerdani, Subhan ZE, Akbar Tanjung jadi teladan baik dari jalur kemampuan berorganisasi baik sipil maupun militer. Nah, Gus Dur ini menjulang namanya sebagai tokoh politik, yang menggabungkan dan melewati jurus-jurus kekuasaan yaitu karisma, bakat, pengetahuan dan kekuatan besar NU (Nahdlatul Ulama). Kekuatan kharisma setara dengan charity (kedermawanan) dipandang filsuf politik Max Weber (1864-1920) sebagai kualitas diri, karakter yang memiliki kekuatan supranatural, berasal dari dukungan ilahi sebagai teladan hidup.

Atas dasar inilah Gus Dur diperlakukan sebagai pemimpin politik. Bagaimana mungkin Soeharto yang dipersenjatai laras senjata dan uang besar dari para konspirator, tumbang dengan tersenyum tanpa dendam kepadanya. Gus Dur dalam pandangan pakar strategi militer Joseph Nye berhasil menggabungkan kekuatan lembut (softpower) dan kekuatan berat (hardpower) untuk mendapatkan kekuatan cerdik yang memungkinkannya mengubah jalannya politik serta menciptakan perubahan arah baru Indonesia. Misalnya perubahan militer kembali dalam barak sejarah yang dipeloporinya, keputusan mengangkat Baharuddin Lopa sebagai Jaksa Agung, pemberantasan korupsi Soeharto, memeriksa Akbar Tanjung, Arifin Panigoro dan konglomerat hitam, menaikkan gaji pegawai negeri sipil dan lainnya.

Totalitas perjuangan Gus Dur jadi Presiden RI harus dibayar dengan kejatuhannya, seperti pernyataannya bahwa pelengserannya merupakan konspirasi politik dan tindakan yang inkonstitusional.

Tetapi, Gus Dur tidak dendam, tidak punya musuh politik. Soeharto adalah patner politik utamanya, bukan musuh politik yang banyak disalahpahami. Kemanusiaan haruslah di atas segalanya, walaupun resikonya kekuasaan Gus Dur dijatuhkan sekalipun oleh kekuatan hitam. Tanpa pertumpahan darah, tanpa benci dan dendam atas nama kebaikan negeri. Kekuatan spiritual Gus Dur di atas rata-rata pemimpin negeri manapun, sebagaimana contoh perebutan kuasa politik di Mesir, darah dan air mata ditumbangkan demi politik kepentingan semata. Biarlah sejarah yang mencatat, semoga tak ada presiden yang di jatuhkan di tengah jalan seperti yang disampaikan Kapolri Jenderal Sutarman, mantan ajudannya di Istana Negara. Sebuah ‘simphoni hitam’ kehidupan yang mendebarkan, di tengah kekuatan anak negeri yang porak-poranda, bergejolak atas nama dendam dan kebebasan.

Dari semua penulis buku yang memaparkan tentang Gus Dur dan NU, dari Greg Barton sampai Greg Fealy mestinya menulis kembali kualitas kepemimpinan dan visi geopolitiknya terhadap penataan ulang sistem dunia yang tak adil, dikendalikan superpower Amerika Serikat dan gengnya dalam group 5 Eyes (UKUSA). Visi geopolitiknya itulah yang menjadikan Gus Dur harus ditumbangkan oleh para konspirator dunia, pasca menggalang kekuatan dunia yaitu Brazil, dan Venezuela di Amerika Latin, serta menggalang Poros Jakarta, Beijing Cina dan New Delhi India. Kemudian pernyataan politik luar negeri perdananya yaitu mengumumkan rencana pembukaan hubungan dagang dengan Israel. Akar-akar kepemimpinan dan pertarungan geopolitiknya Gus Dur diperoleh dari kuasa pengetahuan dunia, sejarah Nusantara, Wali Songo, Soekarno dan transformasi jurus politik otentiknya sendiri. Sampai detik ini Gus Dur menjadi ‘sejarah hidup’ kekuatan pemain dunia baru yang terkonsolidir dalam BRIC (Brazil, Russia, India and China) sebagai kekuatan ekonomi yang dominan nanti di tahun 2050

Sayang sekali seperti halnya senior Gus Dur yaitu Soekarno yang dijatuhkan, karena tidak disenangi kelas menengah yang nyaman, yang hidup kebanyakan berpesta, berfoya foya dalam gemerlap malam di Amerika Serikat. Kaum muda itu memandang Amerika sebagai ladang dan medan kebebasan, sementara memandang Soekarno adalah anak manis ideologi komunis. Yang sejatinya, Soekarno bukanlah komunis, beliau berhasrat memerdekakan bangsanya 150%. Bahkan visi dan cita-cita geopolitiknya memang edan dan gila yaitu ingin memajukan Indonesia menjadi negara nomor satu di dunia ini. Soekarno jadi ‘target operasi imperialisme dan kolonial baru’. Soekarno dan Gus Dur menyadari itu, risiko bahaya dan perjuangannya menjadi martir, jadi panah sejarah yang hidup sampai saat ini bukan hanya di Republik Indonesia, Gus Dur diberhentikan di tengah jalan. Tapi merka jadi pedoman dan bintang penuntun negara-negara tertindas dunia Asia Afrika dan Amerika Latin, sebagaimana negara Iran yang dikomandoi Ayatullah Ali Khamenei belajar bangkit dari Soekarno dengan Pancasila-nya.

Di sanalah letak kebenaran kepemimpinan Soekarno dan Gus Dur. Keduanya pernah bergerak, yang satu menggalang kekuatan Asia-Afrika, satunya lagi menggalang Amerika Latin. Soekarno menggalang kekuatan New Emerging Forces (NEFO), melempar gagasan non-alignment, Non Blok. Sungguh, Soekarno dan Gus Dur sadar dan tahu benar struktur penguasa dunia, takkan menjadi baik dan damai bumi manusia ini, jika di atasnya hanya bercokol dan berkuasa dua kekuatan apalagi hanya satu kekuatan saja. Manusia Soekarno dan Gus Dur adalah ‘target imperalisme dan kolonial baru’, karenanya, keduanya harus dirobohkan. Propaganda hitam dan opini diproduksi, dikembangkan bangsa-bangsa neo-liberal melalui juru dakwah intelektual tukang dan penjual negara untuk melengserkannya.

Bahkan terlebih ketika Soekarno gelorakan propaganda ‘berdikari’ ke seluruh penjuru negeri, juga ke belahan alam raya ini. Ingat, ingatlah Soekarno slogan yang sangat terkenal, “Nanti… ketika Banteng Indonesia, bersatu dengan Lembu Nandi dari India, Spinx dari Mesir, dan Barongsai dari China, saat itulah imperialisme akan mati!. Visi geopolitik Soekarno itulah yang dimodifikasi oleh Gus Dur, dengan memfatwakan semangat dan harapan sampai ke ujung dunia, spirit berdiri di atas kaki sendiri. Tekad tanpa ketergantungan kepada pihak mana pun dan bersiasat menyiasati angin globalisasi dengan bekal senjata akumulasi pengetahuan (modified capitalism), kecerdasan geopolitik. sebuah wasiat dan petuah dari pendiri bangsa salah satunya Soekarno, Tan Malaka, dan ayahnya KH. Wahid Hasyim. Bagaimana kancil bisa menang menyiasati singa dan serigala yang ganas, menghadapi kekuatan fasisme militer Jepang.

Sang visioner Gus Dur ingin berwasiat kepada kita semua sebagaimana pendahulu Nusantara, Raja Kertanegara yang menolak tunduk kepada imperium Jenghis Khan melalui Kubilai Khan, cucunya dan penjajah negeri selama berabad-abad lamanya di bumi Indonesia. Gus Dur menggelorakan negeri ini bukan bangsa tempe, bangsa kita adalah bangsa yang tak mau kalah, bangsa besar, keagungan, kemenangan, penaklukan, tak kenal takut, bangsa agung, bangsa paling berani dan bangsa paling gila dan edan di dunia. Sebagaimana disaksikan sendiri pelaut Italia, Diogo Do Couto, yang datang ke Nusantara tahun 1526 dalam karyanya yang berjudul Decadas da Asia, “ ……for he will permit no person to stand above him, nor would a javan carry carry any weight or burthen on his head, even if they should threaten him with death”.

Detik ini kita mesti bisa membayangkan, seandainya jika negara-negara besar seperti Indonesia, Cina, India, Mesir, Amerika Latin bersatu padu, mau apa Amerika Serikat dan geng Baratnya? Justru dalam keadaan terpecah, justru dalam keadaan tidak berdikari, neo-kolonialisme sangat merajalela melalui militer, investasi dan aparatus ideologi liberalnya. Lihatlah konflik dan titik merah berkobar di Timur Tengah, situasi tersebut diperparah dengan ketidak-kompakan, kesatuan di antara bangsa Arab sendiri. Negara-negara di luar Indonesia membutuhkan Soekarno, dan petarung sekaliber Gus Dur. Karenanya, dalam panah semangat dan hasrat untuk menghidupkan kembali visi kebangkitan kesadaran Nusantara saat ini, semangat dan darah juang Gus Dur harus dihidupkan kembali dalam konteks kekinian di tengah prahara globalisasi.

Gus Dur mesti jadi ruh sejarah bangsa ini untuk maju dan bersatu padu di masa kini dan masa depan. Kita semua mesti menoleh dan memilih siapa tokoh penggerak bangsa, maka lihatlah di buku-buku sejarah, Nusantara, biografi dan autobiografi semua tokoh Indonesia. Gus Dur pasti sangat berpengaruh paling besar terhadap Ke-Islam-an dan Ke-Indonesia-an sebagaimana para petinggi negeri menyampaikannya dari mulai Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, Megawati, Prabowo Subianto, Akbar Tanjung, Jenderal Sutarman dan lainnya. Semoga pemimpin negeri kita Tahun 2014 tak kehilangan bimbingan Gus Dur, yakni 9 (Sembilan) nilai dasar pergerakan Gus Dur yaitu ketauhidan, keadilan, kemanusiaan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, ksatriaan, dan kearifan lokal. Jaring-jaring pemikiran Gus Dur antara lain pribumisasi Islam terpatri pada Islam sebagai etika sosial bagi kemanusiaan.

Dengan visi itu, mengapakah kita tidak datang lagi Di Bawah Bendera Revolusinya Bung Karno dan Visi Kemanusiaan Gus Dur, agar rakyat Indonesia terselamatkan dari kehancuran bangsa, kooptasi kapital asing, banjir bandang globalisasi demi mencapai kedamaian, keadilan sosial, kemajuan martabat negeri tercinta di tengah pergaulan dunia yang dipenuhi para serigala. Di titik pijak inilah Gus Dur bagi PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dan kaum muda NU adalah warga pergerakan, Gus Dur sebagai paradigma, weltanschauung. Pengetahuan Gus Dur terdiri dari semua ragam warna pemikiran dunia baik Islam, Timur dan Barat. Dari humanisme, marxisme, zarathustra Nietzsche sampai hikmah al Hikam Ibn Atha’illah. Dari nasionalisme, pluralisme, demokrasi, de-ideologi Islam, filsafat, toleransi, kebudayaan, kesetaraan gender sampai jurus-jurus politik tingkat dewa. Langkah Gus Dur merujuk pergerakannya pada buku ilmiah, film, kitab, hikmah tasawuf, kisah tokoh dunia, cerita silat, film dan riang gembira bergumul, bertarung dalam palung sejarah, power struggle.

Akhirnya, penulis bisa bersaksi bahwa Gus Dur adalah manusia “menuhan”, sang petarung kebaikan, yang hatinya dipenuhi keikhlasan berjuang demi negerinya dan sistem dunia yang lebih baik. Kesadarannya menjulang tinggi ke langit, tetapi amal bakti pertarungan hidupnya demi negeri menggores aktivisme di bumi manusia. Mewujudkan kesadaran sejarah human social life, seperti halnya peristiwa Isra’ Mi’raj Sang Nabi Muhammad SAW. Bergerak menemui Tuhan dan kembali menemui manusia. Gus Dur setia membela martabat kehormatan manusia tanpa pembeda dan pembatas, siapapun, dimanapun dari ujung bumi Sumatera, Papua sampai ujung dunia. Membela yang tertindas dan orang yang hancur hatinya. Kepemimpinan Gus Dur bukanlah kekuasaan yang berasal dari laras senjata, seperti dipandang sah oleh Nicollo Machiavelli, Jenghis Khan, Attila The Hun, Mussolini, Hitler dan Mao Zedong. Tapi bisa dari banyak cara, yakni pemilihan, demokrasi, musyawarah, kebaikan dan keikhlasan berjuang, mengabdi untuk negeri. Gus Dur sudah pernah memulai ‘pertarungan’ melawan blok sejarah yang tak adil. Akankah kita lanjutkan semangat dan visi abadinya sebagai petarung besar sampai ke ujung dunia? Membentuk cerita dan kisah Indonesia yang bagus dan lembut untuk dirapalkan oleh generasi muda pasca Gus Dur.

Jejak-jejakmu merahimi kebangkitan”, adalah mantra dan do’a yang dirapalkan dalam lukisan hidup yang dilukis dan dirupakan sebagaimana jejak tradisi perjuangan leluhurmu. Ada ruh Hadrussyaikh Sang Kiai Hasyim Asy’ari dan ayah-ibumu yang mulia. Berjuang tanpa henti demi setia kepada Islam dan Indonesia, rela mati demi kebaikan negeri. Di belakang lukisan leluhurmu, ada warisan jejak darah dan air mata rakyat Indonesia yang berjuang demi Tanah Air. Kami pernah menghadap dengan benar, bersujud di ruang pribadimu dan terharu di atas sajadah sembahyangmu di markas besar PBNU. Merapalkan kembali mantra itu di kedalaman jiwa, demi kebaikan bangsa.

Pendamlah dirimu dalam bumi kekosongan, Gus. Selamat “bersatu” bersama Tuhan dan tertawa bareng Ibn Atha’illah ya, Gus. Gitu aja kok repot!

Jakarta, 06 Januari 2014
DINNO BRASCO, Ketua Pengurus Besar PB PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia)
Periode 2011-2014 (FM)

Kiai Sahal: Penjaga Nurani NU

KH Sahal Mahfudh

Oleh: Rumadi Ahmad

Kabar duka datang Jumat dini hari (24/1/14). “Innalillahi wainnailaihi raji’un, KH Sahal Mahfudh kapundut”. Membaca SMS itu, aliran darah saya seperti terhenti. Saya hanya bisa membaca surat fatihah untuk beliau.

Kepergian Kiai Sahal–– demikian beliau biasa dipanggil— adalah kehilangan besar, bukan saja bagi warga NU, melainkan juga bangsa. Hingga mengembuskan nafas terakhir, Kiai Sahal adalah pemimpin tertinggi NU, rais aam, dan ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).


Kiai Sahal adalah kiai par excellent. Kekiaiannya benar-benar otentik, tidak dibentuk media, tapi oleh ilmu dan amalnya. Kesetiaannya pada pesantren dengan seluruh tradisinya tidak menjadikan dirinya teralienasi dari pergaulan sosial. Keahliannya dalam bidang fikih juga tidak menjadikan dirinya terkungkung pada persoalan halal dan haram, tapi justru menjadikan fikih sebagai etika sosial dan jendela untuk melihat realitas kehidupan.


Inilah yang mengantarkannya mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari UIN Jakarta pada 2003. Hampir sepanjang hidupnya diabdikan dan berkhidmat untuk NU. Dia menghidupi dan menjaga NU, bukan hidup dari NU. Sejak muda Kiai Sahal sudah menjadi rais syuriah PC NU Pati, PW NU Jawa Tengah sampai kemudian menjadi rais aam PB NU sejak 1999.


Keterpilihan Kiai Sahal sebagai rais am dalam tiga kali Muktamar NU, sejak Muktamar di Lirboyo Kediri (1999), Muktamar di Solo (2004), dan Muktamar di Makassar (2010), menunjukkan bahwa keulamaannya di lingkungan NU sudah paripurna. Meskipun harus bolak-balik Pati-Jakarta hingga usia senja, sepanjang bulan Ramadan, Kiai Sahal selalu bersama santri-santrinya di pesantren membaca sejumlah kitab kuning.


Kiai Sahal merupakan sedikit dari kiai NU yang rajin menulis. Hampir seluruh karyanya terkait hukum Islam, baik fikih maupun usul fikih. Kalau toh ada tema-tema lain, perspektif yang dia gunakan tetap fikih.


Tidak sedikit juga makalah-makalah yang ditulis dalam berbagai pertemuan yang sebagian besar bertema fikih sosial. Beberapa karya antara lain Thariqatal-Hushul ila Ghayahal-Ushul (2000), Al-Bayan al-Mulamma’ ‘an Alfdz al-Lumd (1999), Al-Faraid al-Ajibah (1959), Nuansa Fiqih Sosial (1994), Pesantren Mencari Makna (1999), dan sebagainya.


Menahan Arus Politisasi NU


Salah satu tugas terpenting Kiai Sahal selama menjadi rais aam PBNU adalah menjaga khitah 1926 NU pada saat di mana terjadi euforia politik luar biasa di Indonesia, termasuk warga NU. Arus politik itu sangat potensial merusak prinsip khitah NU. Di sinilah Kiai Sahal harus memberi bingkai bagaimana agar NU tidak tergerus arus politik, namun pada saat yang sama aspirasi NU dapat disalurkan.


Dari sinilah Kiai Sahal kemudian merumuskan tiga peran politik yaitu politik praktis yang berorientasi pada perebutan kekuasaan, politik kerakyatan yang lebih berorientasi untuk pembelaan nasib rakyat dari ketertindasan dan ketidakadilan, serta politik kenegaraan yang lebih berorientasi pada upaya menjaga keutuhan dan kedaulatan negara.


Peran NU adalah pada level politik kerakyatan dan kenegaraan, bukan politik praktis. Dengan mengambil peran itu, politik NU akan lebih strategis dan tidak disibukkan dengan gesekan-gesekan antara merebut dan mempertahankan kekuasaan. Politik praktis biarlah dilakukan partai politik. Ini tidak berarti NU harus mengasingkan diri dari persoalan kekuasaan.


Tugas NU terkait kekuasaan politik adalah memastikan terpeliharanya prinsip-prinsip moral yang diperjuangkan NU. Dengan meletakkan politik NU pada level kerakyatan dan kenegaraan, khitah NU sebagai organisasi sosial keagamaan akan terjaga. Namun, menjaga NU dari politik praktis bukan perkara mudah.


Dalam wawancara dengan Majalah Tempo pada September 2008, dengan nada putus asa, Kiai Sahal mengatakan: “Praktik khitah di NU sekarang sedang macet”. Ungkapan tersebut tentu saja beralasan karena kala itu banyak pengurus-pengurus NU dalam berbagai tingkatan menggunakan NU untuk alat untuk merebut kekuasaan, mulai dari presiden, gubernur, sampai bupati/wali kota.


Kiai Sahal tidak setuju dengan perilaku politik itu. Baginya, pengurus NU yang hendak merebut kekuasaan politik harus mundur dari kepengurusan NU. Namun, khitah yang digariskan Kiai Sahal ini tidak ditaati pengurus-pengurus NU sendiri. Kiai Sahal tidak berdaya menghadapi syahwat politik pengurus NU.


Kiai Sahal hanya bisa merintih dan diam, sikap yang biasa dilakukan bila marah atau tidak setuju. Sikapnya itu akhirnya dituangkan dalam “kontrak jam’iyah” (semacam kontrak politik) pada Muktamar Ke-31 NU di Asrama Haji Donohudan Boyolali.


Kontrak yang harus ditandatangani calon ketua umum tanfidziyah berisi 5 hal: 1) Ketua umum PB NU akan taat sepenuhnya kepada AD/ART NU, khitah NU, rais aam syuriah, dan keputusan syuriah; 2) Melaksanakan hasil-hasil Muktamar Ke-31 NU; 3) Tidak akan secara langsung mengatasnamakan NU, kecuali bersama rais aam dan berdasarkan rapat PB NU; 4) Tidak akan terlibat dalam kegiatan politik praktis apa pun; 5) Tidak akan mencalonkan diri untuk jabatan politik praktis, baik legislatif maupun eksekutif.


Meski tidak berjalan efektif, Kiai Sahal sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahan arus politisasi NU. Menjaga arus politisasi NU ini akan selalu menjadi agenda penting NU dari waktu ke waktu.


Melawan Arus Formalisasi Islam


Hal penting lain yang digariskan Kiai Sahal adalah upaya melawan arus formalisasi Islam. Dalam pidato pembukaan Munas dan Mubes NU pada 27-30 Juli 2006 di Surabaya, Kiai Sahal mengemukakan, salah satu corak keagamaan yang khas bagi NU yaitu kemampuannya menerapkan ajaran teks keagamaan yang bersifat sakral dalam konteks budaya yang bersifat profan.


NU, menurut Kiai Sahal, dapat membuktikan bahwa universalitas Islam dapat diterapkan tanpa harus menyingkirkan budaya lokal. NU juga sejak awal mengusung ajaran Islam tanpa melalui jalan formalistik, lebih-lebih dengan cara membenturkannya dengan realitas secara formal. NU berpegang teguh pada tujuan (ghayah), tapi lentur dalam hal cara (wasilah). Inilah yang memungkinkan NU menjadi organisasi yang lentur.


Dalam pidato itu, Kiai Sahal juga mengemukakan, NU berkeyakinan bahwa syariat Islam dapat diimplementasikan tanpa harus menunggu atau melalui institusi formal. NU lebih mengidealkan substansi nilai-nilai syariah terimplementasi di dalam masyarakat ketimbang mengidealisasikan institusi. Kehadiran institusi formal bukan suatu jaminan untuk terwujudnya nilai-nilai syariah di dalam masyarakat.


Apalagi NU sudah berkesimpulan bahwa NKRI dengan dasar Pancasila sudah merupakan bentuk final bagi bangsa Indonesia. Pidato Kiai Sahal tersebut penegasan soal kesetiaan menjaga keutuhan bangsa di satu sisi dan penegasan bahwa keislaman yang dikembangkan NU bukanlah Islam egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri.


Pada level ini Kiai Sahal berdiri bersama-sama dengan tokoh NU lain seperti KH Abdurrahman Wahid, KH Mustofa Bisri, dan sebagainya dalam memastikan tegaknya Islam melalui jalur kultural yaitu Islam yang lebih mementingkan substansi daripada simbol.


Cara pandang seperti inilah yang menjadikan NU dipercaya sebagai teman baik dan melindungi aneka keragaman bangsa ini. Karena itu, tidak berlebihan kalau sepanjang hayat Kiai Sahal mengabdikan dirinya sebagai penjaga nurani NU agar NU bermanfaat bagi bangsa.


Sebagai penjaga nurani, Kiai Sahal memang bukan tipe kiai yang suka teriak-teriak agar pendapatnya diikuti atau berkonfrontasi dengan orang yang berseberangan dengannya. Dia punya cara sendiri untuk menyampaikan kesetujuan atau ketidaksetujuan. Wafatnya Kiai Sahal semoga tidak mengubur nurani yang selama ini dia jaga. [FM]


Sumber : KORAN SINDO, 27 Januari 2014
Rumadi Ahmad ; Peneliti Senior the WAHID Institute, Dosen FSH UIN Jakarta