Tampilkan postingan dengan label Sultan Baabullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sultan Baabullah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 November 2017

Kisah Sultan Baabullah Dari Ternate

Sultan Baabullah saat menyambut Francis Drake (dok:Istimewa)
Forum Muslim - Sultan Baabullah adalah pejuang kemerdekaan Indonesia terbesar di abad ke-16 yang berhasil menaklukkan Portugis, dan memutus mata rantai kolonialisme barat di Indonesia selama 100 tahun.

Kepahlawan pejuang dari Indonesia Timur ini bahkan kerap disamakan dengan Salahuddin al Ayubi, pejuang Muslim yang berhasil merebut Kota Yerusalem dari kekuasaan pasukan Salib.


Seperti apa riwayat Sultan Baabullah yang tersohor itu? Capaian terbesar apa yang telah diraihnya hingga namanya layak disandingkan dengan Salahuddin al Ayubi? Cerita Pagi akan mengulasnya. 

Sultan Baabullah dilahirkan dari rahim Boki Tanjung, permaisuri Sultan Khairun Janil yang berkuasa di Ternate, pada 10 Februari 1528. Ibunda Sultan Baabullah merupakan putri Sultan Alaudin I dari Bacan.

Sejak kecil, Pangeran Baab sudah dipersiapkan oleh Sultan Khairun Janil untuk menggantikan posisinya kelak, saat sudah dewasa. Bersama saudara-saudaranya, dia dikenalkan ajaran Islam oleh mubaligh.

Sejalan dengan itu, dia juga diajarkan seni berperang oleh para panglima perang dari Kesultanan Ternate. Dia juga suka diajak ayahnya setiap kali ada urusan kenegaraan, dan kesultanan.

Setelah dewasa, Sultan Baabullah telah menjadi seorang kesatria yang pintar, dan dalam pengetahuan agamanya, serta pandai mengatur siasat perang, dan menyelesaikan masalah-masalah kesultanan.

Hingga akhirnya, meletuslah perang antara Kesultanan Ternate dengan kolonialisme Portugis. Perang ini berlangsung lama, mulai 1559-1567. Dalam peperangan itu, Sultan Baabullah diutus menjadi panglima.

Dia bertugas menghancurkan pasukan kolonial Portugis di wilayah Maluku dan Sulawesi. Dalam peperangan itu, Sultan Baabullah berhasil meraih kemenangan, dan pasukan kolonial Portugis kalah telak.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah kolonialisme barat di Indonesia, pasukan kolonial Portugis mendapat malu yang sangat besar. Namun begitu, perang masih terus terjadi di wilayah Kesultanan Ternate.

Kemenangan Sultan Baabullah melawan pasukan kolonial Portugis, diikuti dengan kemenangan-kemenangan lainnya. Wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate pun akhirnya semakin bertambah besar.

Setelah jatuhnya Ambon ke dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate, pasukan kolonial Portugis pun akhirnya bertekuk lutut, dan mengibarkan bendera putih tinggi-tinggi sebagai simbol menyerah. 

Namun begitu, Kesultanan Ternate tidak lantas percaya dengan muslihat kolonial Portugis yang licik. Hingga akhirnya, Gubernur Portugis Lopez de Mesquita mengundang Sultan Khairun Janil untuk jamuan makan, di Benteng Sao Paulo.



Pada jamuan itu, Sultan Khairun Janil hanya diperbolehkan datang sendiri. Kecurigaan Kesultanan Ternate pun semakin menjadi. Di sinilah kelicikan kolonial Portugis. Hal itu sudah diketahui oleh Sultan Khairun Janil


Dengan gagah berani, meski diluputi rasa tidak percaya, Sultan Khairun Janil akhirnya memenuhi undangan jamuan makan kolonial Portugis seorang diri, tanpa membawa seorang pun pengawal ke benteng Portugis.

Atas perintah Gubernur Portugis Lopez de Mesquita, usai jamuan makan, sang sultan dibunuh. Jantungnya diambil untuk diserahkan kepada raja muda Portugis Goa India. Peristiwa itu terjadi pada 25 Februari 1570.

Tidak hanya itu, pasukan kolonial Portugis juga mencabik-cabik tubuh sang sultan, sebagai luapkan atas kekalahan mereka di medan perang. Tindakan brutal ini menimbulkan kemarahan rakyat Ternate, dan Maluku.

Dewan Kesultanan Ternate atas dukungan rakyat kemudian menobatkan Pangeran Baab sebagai Sultan Ternate menggantikan ayahnya dengan gelas Sultan Baabullah Datu Syah. Saat itu, usianya sudah 42 tahun.

Dalam pidato penobatannya, Sultan Baabullah bersumpah akan mengusir kolonial Portugis dari wilayah Indonesia Timur, dan berjuang mengembangkan wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate.

Sultan Baabullah merupakan generasi ke-5 dalam Kesultanan Ternate. Generasi pertama adalah Sultan Bayanullah, kedua Sultan Maharani Noekila, ketiga Sultan Tabarija, dan keempat Sultan Khairun Janil.



Sultan Baabullah
Pembunuhan Sultan Ternate Khairun Janil atas perintah Gubernur Portugis Lopez de Mesquita, memicu terjadinya perang kolonial kedua yang lebih besar di wilayah Indonesia bagian timur.


Di bawah kepemimpinan Sultan Baabullah, perang melawan pasukan kolonial Portugis berlangsung sangat hebat. Seluruh rakyat TernateMaluku, serta negeri-negeri di wilayah Indonesia bagian timur terjun dalam peperangan. 

Menikahnya Sultan Baabullah dengan adik Sultan Iskandar Sani dari Tidore, dan bergabungnya para raja, serta kepala suku di Sulawesi, dan Papua, membuat pasukan perang Sultan Baabullah tak terkalahkan.

Dengan kekuatan yang luar biasa besar itu, Sultan Baabullah berhasil merebut benteng Portugis di Tolucco, Santo Lucia, dan Santo Pedro. Kekalahan itu membuat Portugis malu dan frustasi.

Gubernur Portugis Lopez de Mesquita yang berada di Benteng Sao Paulo pun ketakutan. Di balik bentengnya itu, sang gubernur sembunyi. Selama hampir lima tahun, dia tidak berani keluar dari benteng.

Hubungannya dengan dunia luar diputus sama sekali oleh pasukan Sultan Baabullah. Pasokan makanan pun dijatah satu porsi untuk satu orang. Kehidupan di dalam benteng menjadi sangat memprihatinkan.

Keadaan yang serba sulit itu membuat Kerajaan Portugis geram. Mereka lalu mengganti Gubernur Portugis Lopez de Mesquita dengan Alvaro de Ataide, untuk menggempur wilayah yang dikuasai Sultan Baabullah.

Perang Soya-Soya atau perang pembebasan negeri dari cengkeraman kolonialisme Portugis pun dikobarkan. Tidak hanya Ternate dan Maluku, Jawa (Jepara), Melayu, Makasar, dan Buton pun ikut membantu.

Pasukan kolonial Portugis yang dilengkapi dengan persenjataan lengkap, modern, dan canggih, tidak bisa berbuat banyak menghadapi serangan pasukan Sultan Baabullah yang sangat kuat itu.

Di bawah para penglima perang terbaiknya, seluruh wilayah Kesultanan Ternate dibebaskan dari kolonialisme Portugis. Mulai dari Ambon-Seram, Sula, Baca, Luwuk, Banggai, Buton, Halmahera, dan Sulawesi.

Sultan Baabullah Datu Syah berhasil mengusir penjajah Portugis pada tahun 1575. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kolonialisme barat, pasukan penjajah Portugis berhasil dikalahkan orang pribumi.

Dengan kalahnya pasukan Portugis, suku-suku, dan kerajaan-kerajaan pribumi yang mendukung Portugis pun akhirnya berada di bawah pengaruh Kesultanan Ternate. Dari semua wilayah itu, hanya Benteng Sao Paulo yang tersisa. 

Setelah lima tahun dikepung, akhirnya Sultan Baabullah mengultimatum mantan Gubernur Portugis Lopez de Mesquita dan pasukannya yang ada di dalam benteng untuk menyerah, atau dihancurkan.



Dengan perasaan malu dan kepala tertunduk, mereka memilih untuk menyerah. Mantan Gubernur Portugis Lopez de Mesquita dan pasukannya berjalan keluar benteng dengan kepala tertunduk ke bawah, karena diliputi perasaan malu.


Tidak satu pun pasukan Lopez de Mesquita yang dilukai. Kebesaran hati Sultan Baabullah yang mengampuni pembunuh ayahnya ini sering disamakan dengan kebesaran Sultan Salahuddin al Ayubi, pejuang Muslim yang merebut Kota Yerusalem.

Demikian perang kolonial Portugis berhasil dimenangkan Sultan BaabullahBuya Hamka mengatakan, kemenangan rakyat Ternate ini merupakan satu peristiwa yang sangat penting, karena menunda penjajahan barat atas Nusantara selama 100 tahun.

Setelah Portugis pergi, Sultan Baabullah memperluas wilayah kekuasaan Kesultanan Ternate dengan misi penyebaran agama Islam. Setiap wilayah yang telah diduduki, ditempatkan wakil-wakil Kesultanan Ternate atau sangaji. 

Di Nusa Tenggara, sangaji Kesultanan Ternate ada di Sangaji Solor, Lawayong (NTT), Lamaharra, Kore (NTB dan Bali), Mena, dan Dili (Timtim). Di Pulau Jawa, ada empat sangaji, di Lor, Kidul, Wetan, dan Kulon. 

Di Sumatera ada sangaji Palembang. Sementara di Irian ada lima sangaji, yaitu Sangaji Raja Ampat (Kolano Fat), Papua Gamsio (Sorong), Mafor (Biak), Soaraha (Jayapura), dan Mariekku (Merauke).

Di Sulawesi, sangaji Kesultanan Ternate ditempatkan di Kerajaan Goa Makasar, Bone, Buton Raha, Gorontalo, Sangir, Minahasa, Luwu, Banggai, dan Selayar. Di Kalimantan ada di Kerajaan Sabah, Brunai, Serawak, dan Kutai. 

Begitu pula di Filipina, terdapat di Kerajaan Mangindano, Zulu-Zamboango. Sementara di Kepulauan Maluku ada Sangaji Seram, Ambon, Sula, Maba, Pattani, Gebe, dll. Bahkan sampai di Mikronesia, dekat pulau Marshal, Kepulauan Mariana. 

Begitu luas wilayah kekuasaan Kesultanen Ternate, membuat banyak masyarakat yang berpendapat bahwa Kesultanan Ternate di bawah kepemimpinan Sultan Baabullah merupakan model negara Islam pertama di Nusantara. (Sumber : Sindonews)

Mengenal Sultan Baabullah, Sang Khalifah Dari Ternate

Sultan Baabullah
Forum Muslim - "Khalifah Islam Nusantara”  merupakan gelar Sultan Baabullah. Lahir di Ternate, 10 Februari 1528. Baabullah merupakan generasi ke-5 Sultan Zainal Abidin (1585-1500) yang diangkat menjadi Sultan di usia ke-42 . Ketika menjadi Sultan, Baabullah telah berpengalaman berjihad melawan kafir Portugis yang hendak merampok kerajaan sekaligus merampok akidah Islam rakyatnya. 

Sebagian kerajaan Islam, setiap anak-anak di wilayah kekuasaan kerajaan ini mendapat didikan agama yang kuat sejak kecil. Tak terkecuali Baabullah. Selain pengetahuan agama, Baabullah juga mendapatkan gemblengan kemiliteran menurut Islam dari Salahaka Sula dan Salahaka Ambon, keduanya panglima perang Ternate. Baabullah memperlihatkan kecakapan yang tinggi sehingga di usia muda sudah dipercaya menjadi Kaicil Peperangan (panglima tertinggi angkatan perang).

Semasa menjabat Sultan, Baabullah memperhebat peperangan terhadap Portugis. Baabullah tak kan pernah lupa bagaimana perang Salib ini membunuh ayahnya, Sultan Hairun, dengan biadab. Raga ayahnya hancur dengan dada yang bolong karena jantungnya dikeluarkan dan diambil Portugis untuk dipersembahkan kepada Rajamuda Portugis di Goa,India (1570). Dengan tangannya sendiri Baabullah membopong jasad ayahnya yang bermandikan darah.

Dalam memerangi Portugis, Sultan Baabullah senantiasa menyemangati barisan mujahidinnya dengan kalimat “Ri Jou si to nonakogudu moju se to suba!” (Hanya kepada Allah tercurah harapan, meski gaib, namun tetap akan kita sembah karena Dia ada!). Sultan Baabullah juga mengamati perkembangan Dunia Islam dan benturannya dengan kekuatan Salib Barat. Dalam salah satu tulisannya, Sultan Baabullah berkata, “Antara Islam dan Katolik terdapat jurang pemisah yang lebar. Sejarah kemenangan di Andalusia (Spanyol), Khalifah Barat, membuat mereka membenci dan iri kebesaran Kesultanan Ternate. Mereka menderita penyakit dendam kesumat serta pemusnahan di mana saja setiap melihat negeri-negeri Islam, baik di Goa, Malaka, Jawa, dan kita di Maluku sini. Kalau kita di Ternate kalah maka nasib kita akan sama dengan neger-negeri Islam di Jawa, Sulawesi, dan Sumatra”.

Sebab itu, Ternate membangun armada perangnya dengan sangat kuat. Di masa Sultan Baabullah, Ternate memiliki barisan mujahidin terlatih sebanyak lebih kurang 120.000 orang. Ternate juga menjalin kerjasama dengan sejumlah kerajaan Islam di luar Maluku seperti dengan wilayah Jawa (Jepara), Melayu, Makasar, dan Buton. Gabungan kekuatan ini akhirnya mampu merebut benteng Portugis seperti Fort Tolocce (dibangun tahun 1572), Santo Lucia Fortress (1518), dan Santo Pedro (1522).
Dalam pertempuran, pasukan canga-canga yang terdiri dari suku Tobelo dilengkapi panah api beracun, barisan Laskar Kolano Baabullah bersenjatakan meriam hasil rampasan dari benteng Portugis di Castel Sin Hourra Del Rosario, pusat kekejaman Portugis di Asia Tenggara sekaligus tempat mendidik para misionaris Portugis untuk menyebarkan Salib di Maluku dan sekitarnya.

Perang berjalan selama lima tahun (1570-1575) dengan kemenangan selalu di pihak Mujahidin. Akhirnya, pada 24 Desember 1575, Gubernur Nuno Pareira de Lacerda menaikkan bendera putih di istananya dan menyerahkan kota-benteng Santo Paulo atau kota Sen Hourra Del Rosario. Futuh Sen Houra del Rosario terjadi bertepatan di malam Natal. Para salibis keluar dari benteng dengan linangan air mata namun dijaga dengan baik oleh laskar Mujahidin Ternate. Senjata mereka dilicuti dan diantar menuju kapal laut yang membawa mereka ke Manila dan Timor.

Sikap baik Sultan Baabullah terhadap musuhnya ini menimbulkan perasaan kurang puas di kalangan pasukannya. Apalagi mereka masih ingat bagaimana ayah dari Sultan Baabullah dibunuh secara kejam. Namun Sultan Baabullah dengan sagat biujak mengatakan, “wahai rakyatku, ketahuilah bahwa Islam tidak memperbolehkan seorang Muslim mengambil keuntungan karena kelemahan musuhnya dalam perang di medan laga.” Sikap yang diperlihatkan Sultan Baabullah ini mengulang sikap ksatria yang diperlihatkan Panglima Islam Shalahuddin Al-Ayyubi saat membebaskan Yarusallaem di abad ke-12. Di Ternate, salib Portugis berhasil dikalahkan.

KemenanganTernate ini menginspirasikan para Mujahidin seluruh Nusantara. Kesultanan Ternate menjelma menjadi pusat dakwah yang andal di timur Indonesia. Banyak tenaga da’I dikirim ke wilayah-wilayah yang jauh dari pusatnya, seperti ke Kepulauan Nusa Tenggara. Sultan Baabullah dinaugrahi gelar “Khalifah Islam Nusantara Penguasa 72 Negeri” . Sultan Baabullah meninggal dunia pada 25 Mei 1583. Cucunya, Sultan Zainal Abidin, membentuk Aliansi Kekuatan Islam Nusantara yakni antara Kesultanan Ternate, Kerajaan Aceh Darusslama, dan Kerajaan Demak.

Sumber : Era Muslim 

Simaklah Sejarah: Siapa Cinta NKRI?

Sultan Baabullah
Oleh: Dr. Ir. Masri Sitanggang 
Aku betul-betul terganggu dengan tudingan anti NKRI, anti kebhinekaan dan anti Pancasila yang dialamatkan kepada kelompok Islam hanya karena mereka mengamalkan syariat agamanya. Aku tersinggung, marah dan “terpaksa” menuliskan kembali catatan-catan penting sejarah tentang perjuangan memerdekakan bangsa ini; agar jelas kelompok mana berperan sebagai apa : Pahlawan cinta NKRI atau bagian dari penjajah ? Terpaksa, karena akhlaq Islam mengajarkan umatnya untuk tidak menepuk dada, menyebut-nyebut kebaikan yang pernah dibuatnya. Karena itu pula Aku, dalam artikel ini, akan mengutip sumber-sumber dari kalangan non muslim.
Perjuangan kemerdekaan muncul karena adanya penjajahan dan itu dimulai sejak Portugis menyerang Kesultanan Malaka di sekitar tahun 1511. Sebelum itu, tidak ada perjuangan kemerdekaan, artinya, tidak ada penjajahan. Meski berbeda suku bangsa dan bahasa di tengah mayoritas muslim, rakyat hidup aman tentram di bawah Pemerintahan Kesultanan. Nusantara ketika itu memang berada di bawah kekuasaan kesultanan-kesultanan di mana antar kesultanan terjalin hubungan erat bahkan hingga ke luar Nusantara; dan perlu diingat, yang namanya Sultan sudah pastilah muslim dan Syariat Islam diberlakukan.

Kedatangan Portugis tidak terlepas dari semangat Perang Salib.
Dr.W.Bonar Sijabat (dalam KH Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, 1979) menerangkan, sekalipun orang-orang Eropa kocar-kacir akibat pukulan-pukulan dari musuhnya (Islam) dalam bagian terakhir dari Perang Salib, namun takluknya Kerajaan Islam di Granada (Spanyol) tahun 1492 dan berhasilnya Colombus mendarat di benua Amerika membuat Spanyol dan Portugis masuk kepada suatu lonjakan sejarah yang maha hebat. Tetapi itu bukanlah alasan satu-satunya. Menurut Pdt. Dr. Jan S. Aritonang (Sejarah Penjumaan Kristen dan Islam di Indonesia, 2005), Paus Alexander VI membagi dua kekuasaan di dunia : belahan Barat untuk Spanyol dan belahan Timur untuk Portugis. Paus memberi restu dan mandat kepada kedua negara –sebagai penghargaan atas jasa merka dalam Perang Salib melawan tentara Islam, untuk menaklukkan kawasan-kawasan yang mereka lalui dan menanamkan Kristen kepada penduduknya. Mandat ini tertuang di dalam Bulla (maklumat) Paus Alexander VI tanggal 4 Mei 1493 dan perjanjian Tordesillas 9 Juni 1494. Karena itulah Hamka (Sejarah Umat Islam IV, 1976) menilai penyerbuan ke negeri-negeri Timur lebih besar karena dorongan kemenangan dan penyiaran agama ketimbang keinginan berniaga. Demikian juga pendapat tokoh gereja Indonesia, TB. Simatupang (Iman Kristen dan Pancasila, 1989), katanya:
“ Orang Portugis datang ke Indonesia dengan suatu pengertian teologi dan politik di balik tujuan mereka untuk mematahkan ekonomi orang Islam (yang menguasai perdagangan dari Indonesia ke Eropa), dan menduduki wilayah negeri-negeri lain dalam nama raja Portugal serta memenangkan penduduk negeri-negeri itu untuk Gereja Roma Katolik”.
Jan S. Aritonang (2005) menyebut bangsa Barat datang sambil mengibarkan panji-panji Kristen, termasuk tanda salib di bendera kapal-kapal dagang mereka. Di dalam diri penguasa Portugis dan Sepanyol tertanam dendam yang mendalam terhadap Islam, dendam Perang Salib. Dan Semua itu tergambar dalam pidato Panglima Perang Portugis Alfonso Albuquerque di depan pasukannya ketika akan menyarang kerajaan Islam Malaka ( Hamka, 1976) :
“Adalah satu pengabdian maha besar dari kita kepada Tuhan apabila kita telah dapat mengusir orang Arab dari daerah ini kelak, sehingga nyala pelita ajaran Muhammad itu padam dan tidak akan bangkit lagi untuk selama-lamanya”.
Pada bagian lain pidatonya, dikatakan :
“…karena saya yakin apabila semenanjung Malaka ini telah kita rebut dari tangan mereka, Kaum Muslimin itu, dengan sendirinya Kairo dan Mekkah jadi tanah tandus yang tidak ada penduduknya lagi. Dan orang Venesia sendiri tidak akan dapat berniaga rempah-rempah kalau tidak membeli kepada kita”.
Bagian akhir pidato ini membuktikan hal lain, yakni eratnya hubungan negeri-negeri Islam saat itu, betapa negeri Melayu ini tidak terpisahkan dengan (sejarah) negeri Islam di mana pun. Saifuddin Zuhri (1979) bahkan mengatakan bahwa peranan Kerajaan Pasai di Aceh sangat besar dalam mempertahankan Masjid Aqsha pada masa Perang Salib. Karena itu pula kemudian dapat dipahami mengapa Mesir (Kairo) dan negara-negara Islam menjadi negara pertama yang mengakui Kemerdekaan RI, sementara negara Barat Kristen sangat terlambat.
Di mana-mana di Nusantra ini Portugis menghadapi kekuatan Islam yang dipimpin para Sultan dan Ulama. Meski Kesultanan Malaka dan Kerajaan Islam Pasai di Aceh dapat ditaklukkan, tetapi ambisi Portugis untuk menguasai Sunda Kelapa dapat dipatahkan oleh Sultan Fatahillah yang kemudian memberi nama Jayakarta (Jakarta) untuk daerah itu.
Di Ternate, setelah terjadi beberapa kali konflik senjata, terdapat kesepakatan antara Portugis dan Sultan Khairun : perdagangan boleh dimonopoli Portugis, tapi bidang agama Sultan Khairun yang berwenang. Namun seperti dikatakan T.B. Simatupang (1989) bahwa misi Portugis ke Indonesia adalah menduduki wilayah dalam nama raja Portugal serta memenangkan penduduk negernyai untuk Gereja Roma Katolik, maka keadaan tetap tidak aman; umat Islam di mana-mana mendapat tekanan. Akhirnya Sultan Khairun membolehkan penyiaran Kristen dengan catatan harus dilakukan di daerah yang penduduknya belum Islam, yakni Ambon. Di Ternate, karena pendudukya sudah Islam, Portugis hanya boleh berdagang. Ini ditempuh Sultan karena Baginda merasa bertanggung jawab terhadap aqidah rakyatnya.
Tetapi oleh Portugis dibalik, Ambon dijadikan pusat perdagangan dan Ternate dijadikan pusat penyiaran Kristen, yang menyebabkan Sultan memaklumkan’’Perang Sabil’’. Kepada pasukannya, Baginda memerintahkan untuk mengusir semua orang Kristen dari Ternate, baik orang Portugis maupun pribumi. Mengapa ? Menurut Hamka (1976), orang-orang yang telah memeluk Kristen tidak mau mengakui kekuasaan Sultan lagi. “Dan yang lebih berbahaya daripada itu”, tulis Hamka, “ialah bahwa seketika terjadi perselisihan-perselisihan di antara Sultan dengan Gabnor, orang-orang Krsiten anak negeri selalu berpihak kepada Potugis, bahkan ada yang menjadi mata-mata Portugis.” Jan S. Aritonang (2005) mengonfirmasi adanya missionaris Portugis bersama Kristen anak negeri yang tewas dalam beberapa kali bentrokan melawan pihak kesultanan, yang memberi bukti bahwa anak negeri yang telah Kristen memang berada di pihak Penjajah.
Ketika Portugis terdesak dan kemudian meminta damai, Sultan bersedia bersahabat lagi asal portugis tidak menjadikan Ternate sebagai pusat penyiaran Kristen. Ini menunjukkan betapa faktor agama menjadi begitu penting dalam hubungan kedua bangsa ini. Perjanjian damai ditandatangani, Sultan memegang Al-Quran dan Gubernur Portugis memegang Injil; do’a dipimpin oleh qadi Islam.
Tapi sayang, Sultan di bunuh ketika bersantap dalam jamuan makan yang sengaja dibuat oleh Portugis untuk menghormati perjanjaian suci itu, Pebruari 1570. Suatu penghianatan yang sangat keji, yang membakar semangat perang total melawan Portugis, Sultan Babullah, pengganti Sultan Khairun, mengepung benteng penjajah Portugis di Ambon. Terbukti pula Raja Bacan, yang telah memeluk Kristen, membantu Portugis yang terkepung dengan menyuplai bahan makanan. Bukan main murkanya Sultan Babullah sehingga mengancam akan memusnahkan kerajaan Bacan. Takut akan ancaman, Bacan berhenti menyuplai bahan makanan. Benteng Ambon jatuh ke tangan Pasukan Islam, Portugis lari ke Malaka. Sultan Babullah menyatakan tidak akan membunuh Kristen anak negeri dan tidak akan dipaksa masuk Islam asal mereka tunduk kepada kekuasaan Sultan.
Masuklah ke era kolonial Kristen Protestan Belanda. Sudah umum pula diketahui bahwa mereka yang tampil memimpin perjuangan mengusir Belanda adalah para pemuka agama Islam. Clefford Greetz (dalam A. Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah : Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, 1995) menyebut perlawanan menentang Belanda ini sebagai “pemberontakan Santri’’. Simbol-simbol perjuangan dan selogannya menonjolkan semangat Islam, semangat jihad dan kesediaan mati syahid. Imam Bonjol di Padang dengan perang Paderinya, Teuku Umar dan Cik Ditiro di Aceh dengan “Perang Sabil” melawan orang “kape”-nya, Diponegoro di Jawa dengan “Perang Sabil” dan jubah putihnya, begitu juga Sultan Hasanuddin di Sulawesi dan Si Singamangaraja ke XII di Toba. Suryanegara (1995) menyebut, penyebaran Kristen menjadi pangkal perlawanan Si Singamangaraja XII (SSM XII) terhadap Belanda. Ini sejalan dengan pernyataan J.P.G.Westhoff, : ”Untuk tetap memiliki jajahan-jajahan kita, sebagian besar adalah tergantung dari pengkristenan rakyat.”
Aritonang (2005) menyebut SSM XII menentang Zending Kristen dikarenakan Zending dijadikan alat pemerintah Hindia Belanda untuk menguasai wilayahnya. Menurut Suryanegara (1995) daerah–daerah yang telah dipengaruhi Kristen secara administrasi diserahkan oleh misionaris kepada Belanda. Untuk itu pemerintah Belanda merasa berhutang budi kepada missionaris Nomensen sehingga 1991 ia diberi bintang Officer van Oranje-Nassau.
Fakta-fakta yang disampaikan Suryanegara (1995) berupa kliping koran yang diterbitkan Belanda dan kenyataan bahwa dalam perlawanannya menentang Belanda Raja Toba itu dibantu oleh Panglima Nali dari Minangkabau dan Panglima Teuku Mohammad dari Aceh, meyakinkan Bahwa SSM XII adalah muslim.
Bagaimana sikap orang-orang yang telah “ditunjuki” Belanda kepada Kristen ? T.B. Simatupang (1989) menuturkan : “Orang-orang Kristen yang menjadi nasionalis –yang berarti menentang Belanda, dianggap oleh gereja sebagai tidak lagi orang-orang Kristen yang baik.” Sementara tokoh Kristen lainnya, Dr. Mulia (dalam Simatupang 1989) mengakui adaya kesan bahwa misi Kristen di Tapanuli, Minabasa dan Maluku hanya melayani tata hidup kolonial dan kapitalis. Artinya, gereja secara lembaga tidak berada pada barisan perjuangan kemerdekaan, melainkan di pihak penjajah Belanda.
Uraian Ahmad Mansur Suryanegara (Api Sejarah 2, 2012) ini perlu juga dicatat. Kongres Nasional Syarikat Islam di Bandung, 17-24 Juni 1916, memutuskan memelopori tuntutan pemerintahan sendiri, berjuang untuk Indonesia merdeka dan tegaknya pemerintahan yang demokratis dengan adanya parlemen. Lain dari itu, para pemimpin Islam berupaya membangun organisasi kesenjataan modern melalui Indie Weerbar Actie, untuk membangkitkan kembali semangat keprajuritan pemuda.
Namun tuntutan Indie Weerbar itu itu ditolak Belanda. Ini terjadi karena pimpinan partai-partai non religius dan sekuler seperti Parindra, Gerindo, Parpindo serta partai non Islam seperti Partai Kristen dan Partai Katolik dengan politik asosiasinya berpihak dan memertahankan pemerintahan penjajah Belanda. Mengutip A.K. Pringgodigdo, Suryanegara (2012) mengatakan sikap partai-partai Kristen itu sebagai akibat partai tersebut dipimpin oleh orang Belanda.
Begitulah perjuangan Ummat Islam memerdekaan bangsa ini dari penjajah Katolik Portugis, begitu pula di masa penjajah Protestan Belanda serta Inggris dan demikian juga di masa mempertahankan kemerdekaan dari sekutu. Pada masa serangan sekutu, Resolusi Jihad Ulama dan teriakan Takbir Bung Tomo serta kepemimpinan Jendral Sudirman adalah legenda rakyat muslim Indonesia mempertahankan NKRI yang tak boleh dilupakan.
Jujurlah pada sejarah, agar kita bisa saling hormat dan menghargai. Jujur pulalah dalam bernegara agar Indonesia benar-benar menjadi milik bersama. Jangan ada dusta di antara kita, agar bangsa ini bisa tumbuh besar dan kuat dengan rakyat yang rukun dan damai. Meski di antara kita ada yang “ditunjuki” oleh penjajah (Portugis atau Belanda), tinggalkanlah cara-cara bangsa asing itu. Jadilah sepenuhnya bangsa Indonesia. Janganlah Umat Islam dituduh anti NKRI, anti kebhinekaan, radikal dan lain semacamnya karena itu menyakitkan. Tuduhan itu hanya layak dilontarkan oleh penjajah dan itu berarti membangkitkan kenangan lama : perlawanan umat Islam menentang penjajah dan antek-anteknya !
Wallahu a’lam bishshawab
Sumber : Porosnews