Tampilkan postingan dengan label Hamas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hamas. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Desember 2017

Dengan Dukungan Iran Hamas Siap Perangi Israel

Forum Muslim -- Kelompok pejuang Palestina Hamas menyatakan siap berperang melawan Israel di tengah situasi politik yang memanas paska pengakuan Amerika atas Jerussalem sebagai ibukota Israel. Sementara Iran telah menawarkan bantuan tanpa syarat kepada Palestina dalam konflik melawan Israel.

Hal itu disampaikan pemimpin Hamas Yahia Sinwar dalam pertemuan dengan para pemuda Palestina di Gaza seperti dilaporkan Al Manar, kemarin (20 Desember).

Kepada para pemuda Sinwar menyebutkan bahwa situasi yang dihadapi Palestina ini sangat berbahaya, dimana terdapat konspirasi besar untuk menghapus keberadaan bangsa dan negara Palestina.


"Langkah pertama yang dilakukan para konspirator ini adalah mengakui Al Quds sebagai ibukota negara zionis (Israel)," kata Sinwar.

Meski demikian, Hamas telah bersiap untuk menghadapi konfrontasi melawan Israel. Terutama setelah adanya dukungan tanpa syarat dari Iran. Seperti dikatakan Sinwar kepada para pemuda Palestina itu, komandan Tentara Pengawal Revolusi Iran Jendral Qassem Suleimani telah menawarkan bantuan tanpa syarat kepada Palestina dalam menghadapi konfrontasi melawan Israel.

"Suleimani mengatakan kepada kita bahwa seluruh kemampuan Iran akan diberikan untuk membantu Palestine dan membebaskan Al-Quds. Ia (Suleimani) tidak meminta syarat apapun," kata Sinwar.

Sinwar membantah keras perkataan Menhan Israel Avigdor Liberman yang mengatakan bahwa Hamas dalam kondisi 'ketakutan' saat ini.

"Jika Lieberman membuat kesalahan sedikit saja, kita akan membuat rakyat Israel mengutukinya selama bertahun-tahun," kata Sinwar seraya mengingatkan bahwa sayap militer Hamas, Brigade AL-Qassam kini dalam kondisi prima.

Sinwar juga menegaskan bahwa Hamas tidak akan pernah menuruti kemauan Amerika dan Israel untuk melucuti senjatanya dan mengakui Israel. Pilihan bagi Hamas hanya satu, yaitu kapan menghapus Israel dari muka bumi.

"Masa dimana Hamas menghabiskana waktu berdiskusi tentang pengakuan negara Israel telah selesai. Kini Hamas hanya akan mendiskusikan tentang kapan menghapuskan Israel," kata Sinwar.

"Tidak seorang pun di dunia ini yang bisa melucuti senjata kita. Sebaliknya, kita akan terus memperkuat diri untuk melindungi warga kita," kata Sinwar lagi.

"Tidak ada yang bisa memaksa kita untuk mengakui sebuah pendudukan."

Pernyataan Sinwar ini merespon perkataan pejabat tinggi Amerika yang mengatakan bahwa pemerintahan Palestina harus mengakui Israel dan melucuti senjata Hamas.

Sementara itu pada hari Kamis waktu New York (Jumat WIB) Sidang Umum PBB dengan suara mayoritas menolak dengan keras klaim Amerika atas Jerussalem sebagai ibukota Israel. Hal ini merupakan tamparan keras Amerika, terlebih setelah sekutu-sekutu terdekat Amerika seperti Inggris, Perancis, Jerman dan Jepang, turut menolak klaim Amerika itu. Padahal, Amerika telah mengancam keras negara-negara yang menentang klaim Amerika.

"Kutukan yang memalukan bagi Amerika minggu ini di Sidang Umum PBB atas pengakuan Amerika terhadap Jerussalem telah membuka bagaimana Amerika telah melanggar demokrasi dan hukum internasional, dan betapa Amerika kini telah menjadi negara terisolir," tulis wartawan senior Finian Cunningham di Russia Today, 22 Desember.(ca)

Jumat, 13 Oktober 2017

Israel tak Bisa Tolak Perundingan Hamas-Fatah

Perundingan Fatah-hamas
Forum Muslim -  Hamas dan Fatah baru saja menyelesaikan perundingan damai di Kairo. Sejumlah kesepakatan dicapai untuk mengelola Palestina menjadi lebih kuat.
Israel menentang perundingan damai ini. Sebagaimana dikutip dari Situs ROL ketika mewawancarai Smith Alhadar, Penasihat Indonesian Society for Middle East Studies, untuk membahas masalah ini. Berikut petikan wawancaranya.
Bagaimana tanggapan Anda mengenai rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah?
Kita mesti menyambut gembira rekonsiliasi kedua organisasi Palestina ini karena dengan adanya rekonsiliasi ini lebih membuka peluang bagi perjuangan Palestina yang lebih kokoh dalam upaya mendapatkan negara merdeka bagi Palestina.
Lalu, apa tantangan yang akan dihadapi oleh kedua organisasi ini setelah tercapainya rekonsiliasi?
Tantangannya itu walaupun secara politik Fatah juga akan berkuasa di Gaza, tetapi faksi militer Hamas tetap berada di tangan Hamas. Artinya, soal keamanan Gaza masih tetap di tangan Hamas. Dengan demikian, Fatah tidak mempunyai kontrol terhadap sayap militer Hamas di Gaza.
Ini berpotensi menciptakan perpecahan lagi antara Hamas dan Fatah apabila nanti ke depannya sayap militer Hamas mengambil langkah konfrontasi dengan Israel karena dalam perjanjian Oslo antara Israel dan PLO disebutkan keamanan Palestina adalah tanggung jawab dari pemerintahan atau otoritas Palestina, yaitu di bawah Presiden Mahmud Abbas.
Jadi, kalau sampai Hamas mengambil tindakan sepihak terhadap Israel di jalur Gaza, misalnya dengan menempatkan roket atau apa saja, maka Israel akan meletakkan tanggung jawab itu kepada otoritas Palestina yang didominasi oleh Fatah.
Apakah kemungkinan perpecahan itu masih ada?
Kemungkinan itu sudah mengecil. Kalau dulu friksi Fatah dan Hamas cukup lebar, kalau sekarang ada tetapi sudah mengecil karena perjuangan Hamas sudah agak berubah. Perubahan itu, yaitu Hamas tidak lagi menuntut Israel harus digusur, tetapi dia sudah setuju untuk mendirikan negara Palestina di jalur Gaza dan Tepi Barat.
Kedua, dia telah menolak perjuangannya sebagai perjuangan agama. Ini artinya sama dengan Fatah yang berjuang mendirikan negara Palestina yang demokratis, sekuler, dan plural. Ketiga, dia telah memutuskan kaitannya dengan Ikhwanul Muslimin di Mesir karena Hamas itu tadinya adalah cabang IM di jalur Gaza. Jadi jurang pemisah makin kecil. Jadi, syarat-syarat untuk rekonsiliasi ini banyak terpenuhi sehingga sekarang perjuangan Hamas itu sudah mirip dengan Fatah.
Apakah rekonsiliasi kedua organisasi ini juga mempercepat proses perdamaian Israel dan Palestina?
Israel tidak menginginkan adanya rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah. Ketika kedua kelompok ini tetap berkelahi, Israel memiliki alasan karena dia tidak memiliki mitra untuk perdamaian.
Karena selama ini, Israel selalu berkata seperti itu karena ada Hamas di jalur Gaza dan Fatah di Tepi Barat. Jadi, Israel berkata kepada siapa dia harus berbicara untuk proses perdamaian. Nah, dengan adanya persatuan di Palestina, membuat Israel tidak memiliki alasan untuk menolak maju ke meja perundingan untuk perdamaian dengan Palestina.
Tapi, ini rawan juga karena Israel bisa memprovokasi Hamas untuk kemudian berperang dengan Israel sehingga terjadi lagi perpecahan antara Hamas dan Fatah. Dengan begini, akan terkatung-katung terus dan Israel akan terus membangun permukiman Yahudi di Tepi Barat dengan merampas tanah-tanah Palestina.
Apa dampak rekonsiliasi bagi warga Palestina?
Pertama, penderitaan di jalur Gaza itu teratasi karena sudah beberapa bulan terakhir ini Abbas meminta Israel membatasi pasokan listrik ke jalur Gaza. Sehingga dalam satu hari, hanya dua jam listrik menyala.
Nah, ini menimbulkan penderitaan luar biasa. Menghambat aktivitas warga. Kemudian, blokade total jaur Gaza ini menyebakan akses orang-orang Palestina di jalur Gaza untuk berhubungan dengan dunia luar menjadi tidak bisa. Karenanya, salah satu penawaran Mesir dalam rekonsiliasi ini, yaitu membuka gerbang Rafa, sehingga orang-orang Gaza bisa berhubungan dengan dunia luar.
Kedua, front Palestina menjadi semakin kuat dalam menekan Israel untuk maju ke meja perundingan. Dan juga negara-negara luar yang membantu Palestina, seperti Indonesia, lebih semangat untuk berjuang mendapatkan negara Palestina yang merdeka. Selama ini Indonesia bingung dengan siapa dia akan bermitra karena ada Hamas dan Fatah.
Apa dampak bagi dunia internasional dengan adanya rekonsiliasi ini?
Dengan adanya rekonsiliasi, dunia menguat untuk berpihak kepada Palestina. Karena, masalah Palestina adalah induk dari permasalahan di Timur Tengah. Oleh karena itu, dengan adaya rekonsiliasi dua kekuatan Palestina ini membuat negara-negara Arab satu kata dan juga akan berdampak pada dukungan luas di dunia Islam khususnya dan komunitas internasional umumnya. Dan, dampak yang paling bisa kita lihat, yaitu memudahkan menggerakkan kembali proses perdamaian Israel dan Palestina.
(Tulisan ini diolah oleh Fitriyan Zamzami/ROL)

Selasa, 25 Agustus 2015

80.000 Warga Inggris Tanda Tangani Petisi Penangkapan Benjamin Netanyahu Laknatullah

Hampir 80.000 orang hingga Senin menandatangani petisi mendesak
penangkapan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu atas kejahatan
perang ketika ia akan mengunjungi London bulan depan.


Petisi itu diluncurkan pada awal bulan ini oleh warga Inggris Damian
Moran dan ditayangkan di laman pemerintah, lapor AFP.
"Di bawah hukum antar bangsa, dia (Netanyahu) harus ditangkap karena
kejahatan perang setiba di Inggris atas pembantaian lebih dari 2.000
warga pada 2014," kata Moran, mengacu pada 51 hari serangan pasukan
Israel di Gaza pada tahun lalu.
Jika jumlah penandatangan mencapai 100.000, permohonan itu dapat
dipertimbangkan untuk dibahas di parlemen Inggris.


Tapi, Moran mengatakan kepada media bahwa ia meragukan akan mencapai
parlemen, yang memberi hubungan baik Israel dengan Inggris.
Pemerintah Inggris menanggapi sesudah naskah itu mendapat 10.000
penandatangan, dengan mengatakan bahwa kepala pemerintahan asing tamu,
seperti Perdana Menteri Netanyahu, memiliki kekebalan hukum dan tidak
dapat ditangkap atau ditahan.
"Kami mengakui bahwa perang di Gaza pada tahun lalu menewaskan orang
dalam jumlah mengerikan," tambahnya.
"Seperti kata perdana menteri (David Cameron), kami semua sangat sedih
akibat kekerasan itu dan Inggris berada di garis depan upaya
pembangunan kembali oleh dunia," katanya.
"Tapi, perdana menteri jelas mengenai pengakuan Inggris atas hak
Israel mengambil tindakan memadai untuk membela diri, dalam batas
hukum kemanusiaan antarbangsa," katanya.


Inggris mendorong penyelesaian "Dua Negara" untuk menuntaskan sengketa
Israel-Palestina dan akan memperkuat pesan itu ke Netanyahu dalam
kunjungannya pada September, kata tanggapan itu.


Setiap warga negara Inggris dapat meluncurkan petisi di laman
pemerintah, meminta tindakan tertentu dari pemerintah atau majelis
rendah parlemen.
Hanya warga Inggris yang dapat menandatangani petisi itu, tapi mrereka
perlu memasukkan nama, alamat E-mail dan kode pos.


Israel melancarkan serangan di Jalur Gaza, yang dikuasai Hamas, pada 8
Juli tahun lalu, yang menewaskan lebih dari 2.000 warga Palestina dan
66 tentara Israel.


Pengacara Inggris pendukung Palestina gagal menangkap mantan Menteri
Kehakiman Israel Tzipi Livni sesudah perang Gaza 2008-2009.
Kedutaan Israel di London menyebut petisi itu "ulah publisitas tanpa arti".

Sumber : antaranews.com

Sabtu, 27 Maret 2010

Hamas Mampu Balas Kejahatan Zionis

Doha, Khaled Misy’al, Kepala Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Hamas, menegaskan gerakannya telah mengirim memorandum kepada para pemimpin Arab untuk dibahas pada KTT Arab di Libya mendatang. Memo ini berkaitan dengan rekonsiliasi Palestina, masalah Al-Aqsha dan al Quds, diakhirinya blokade dan rekonstruksi Gaza, mengutuk pembunuhan Mahmud Mabhuh, di samping sikap politik Arab.

Mengomentari apa yang terjadi di al Quds, kepada televisi aljazeera pada Rabu malam (24/3), Misy’al mengatakan, “Kami menghadapi fanatisme tingkah laku Zionis di lapangan. Sementara orang-orang Arab dan Palestina di tingkat resmi hanya menonton. Sudah mulai muncul retakan dan tanah longsor di sana-sini akibat penggalian di bawah Masjid Al-Aqsha.”
Menghadapi bahawa yang mengancam al Quds  tersebut; Misy’al menyerukan para pemimpin Arab untuk mendukung perjuangan warga al Quds dengan proyek-proyek konkrit. Menunjukkan kemarahan nyata pada apa yang dilakukan negara penjajah Zionis, menyatakan bahwa mereka mempertimbangkan kembali dalam pilihan mereka, agar para pemimpin Arab berusaha memiliki kekuatan hakiki dan mengatakan kepada bangsa Palestina bahwa di depan anda tidak ada yang lain kecuali perlawanan.
Misy’al juga mengingatkan bahwa Netanyahu telah melawan dunia dalam membangun permukiman. Kemudian dia bertanya-tanya, “Lantas apa yang dilakukan orang-orang Arab?” Dia menegaskan, ada strategi yang harus dibuat Arab dalam menghadapi perilaku Zionis terahdap al Quds.”
Misy’al menyesalkan lemahnya perhatian beberapa negara Arab terhadap Palestina. Hal ini nampak pada pengekangan oleh rezim-rezim Arab terhadap aksi-aksi kemarahan warga Arab dan Islam. Sebab lain adalah apa yang dilakukan Otoritas Palestina di Ramallah yang juga mengekang warga Tepi Barat mengungkapkan kemarahan mereka atas apa yang dilakukan penjajah Zionis Israel.
Misy’al juga menekankan perlunya “Dayton hengkang dan dihentikannya koordinasi keamanan dengan entitas Zionis, membiarkan Palestina mengeluarkan reaksinyadan mengekspresikan kemarahannya.” Di saat yang sama dia mengecam proyek perdamaian ekonomi yang dilakukan Salam fayad karena ini sejalan dengan proyek perdamaian ekonomi Netanyahu.
Mengenai masalah blokade Gaza, Misy’al mengatakan ada pihak Arab dan Palestina yang turut serta bersama Zionis Israel memblokade Jalur Gaza. Dia menilai blokade ini sebagai hukuman bagi rakyat Palestina karena telah memilih Hamas, apalagi realitas di Jalur Gaza tidak bisa dihancurkan dengan perang. Dengan blokade ini mereka ingin merealisasikan target yang tidak bisa direalisasikan dengan perang.
Mengenai masalah rekonsiliasi Misy’al mengatakan pihaknya sejak detik pertama telah merespon upaya Mesir sepanjang 2009. Setelah kami sampaikan kabar gembira kepada umat tentang rekonsiliasi yang sudah dekat, tiba-tiba Mitchell datang ke kawasan dan mengancam otoritas Rammalah akan memutus dukungan dan menekan saudara-saudara kita di Mesir. Amerika lah yang telah memveto rekonsiliasi, sehingga terjadilah perubahan signifikan dalam proposal rekonsiliasi.
Misy’al menegaskan, “Kami siap untuk menandatangani rekonsiliasi di Kairo setelah dimasukannya perubahan-perubahan penting ini, yang telah kami sampaikan kepada semua pihak. Dan saya tegaskan bahwa tidak adanya tekanan dari luar kami pasti mampu untuk menyukseskan rekonsiliasi ini dalam waktu 24 jam.”
Mengenai dampak dari pembunuhan Mahmud Mabhuh di Dubai, apakah mungkin Hamas membawa pertempuran di luar negeri sebagai reaksi atas kejahatan pembunuhan ini, Misy’al mengatakan, “Kebijakan Hamas sudah jelas dan Hamas mampu untuk membalas kejahatan Zionis.” (asw/ip)