Tampilkan postingan dengan label Embun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Embun. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 September 2016

Catatan Kecil Sang Narapidana : Embun Di Pelupuk Mata

 


Tuhan,
Ada peluh di sekujur tubuh,
ada embun di pelupuk mata,
ada kerinduan mengharu biru,
ada sesak menghimpit rasa.


Tuhan,
ada doa berbalut pilu,
ada pelarian terburu-buru,
ada hina berharap mahkota,
ada percumbuan sia-sia.


Tuhan,
doaku negeri ini bukan negeri bedebah,
negeri ini bukan negeri taik dan bangsat,
ibu pertiwi bukan ibu pecundang.


Tuhan,
Ada peluh di sekujur tubuh,
ada embun di pelupuk mata,
peluh para pejuang,
air mata para pahlawan.

Tuhan,
kuntum doa lembut mengalun,
bagai tangisan bayi kehilangan pangkuan ibunya,
seiring bunga mawar mekar ranum,
aku mohon maaf selembut kasih.

Minggu, 26 April 2009

Sunyi

Rembulan adalah penjelmaan sunyiku
yang terlukis menjadi kata-kata


Matahari adalah gelora jiwaku
yang mengalir bersama desah nafas kecewaku


Bintang-bintang adalah harapanku
yang aku kepal menjadi bara api
aku terkapar
menggelepar
tak setitik embun membekukan jiwaku.


Aku akan tertawa
menghikmati segala sunyiku
tak hendak agar engkau tahu
perjuanganku itu percuma
untuk mencapai cinta kasihmu
dan rembulan adalah penjelmaan sunyiku
di saat engkau tiada lagi bersamaku.


Jakarta
11 Juli 1992

Jumat, 27 Maret 2009

Sebening Embun Seputih Salju

Biarlah seindah purnama
hatimu yang sebening embun.
Biarlah secerah mentari
cintamu yang seputih salju.

Di musim semi
purnama adalah pelita sunyiku
di tiap malam yang makin kelabu.

Engkau kekasihku
biarlah berlalu dengan cinta
yang terpendam di dada.

Engkau kekasihku
biarlah bertahta dalam agung
karena cintamu aku tak mampu mengharap.

@
Jakarta 17 Januari 1992