Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2015

Kapan Sayyidina Muhammad SAW Menjadi Nabi?

Ada yang bilang bahwa Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi sejak awal sebelum usia 40 tahun, bahkan sebelum Adam tercipta. Itu tidak benar. Nabi Muhammad jelas baru menjadi Nabi setelah berusia 40 tahun, sebelum itu belum menjadi Nabi meskipun sudah ada berbagai kejadian luar biasa yang menunjukkan bahwa beliau spesial. Kejadian luar biasa tersebut istilahnya irhash, bukan mukjizat sebab istilah mukjizat hanya bagi mereka yang telah diangkat menjadi Nabi saja. Hadis yang menceritakan bahwa beliau diangkat sebagai Nabi tatkala berusia 40 tahun cukup banyak. Di antaranya adalah: عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ، قالَ: «بُعِثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وهُوَ ابْنُ أرْبَعِينَ سَنَةً "Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah diangkat menjadi Nabi tatkala berusia 40 tahun"  Sebenarnya dalil di atas sudah cukup, tapi sebagian orang betul-betul meyakini sebelum Itu Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi meskipun belum mendapat wahyu pertamanya. Mereka juga menguatkan pendapatnya dengan beberapa hadis. Untuk itu per

Sebait Alpa

Aku secarik kertas rindu dendam menoreh warna menyibak cakrawala melukis cinta dalam bait alpa. Betapa kejamnya hati manusia jiwa ini menjadi saksinya haruskah hati lemah jadi korban di antara semua orang yang mengaku pahlawan? Aku hanyalah sebait alpa yang bernyanyi tentang kematian kematian pangkat kematian derajat kematian harta kematian air mata…… Mencampak kematian hakiki kematian nurani….. Betapa berdayanya manusia ini namun sombong di antara sesama tapi betapa lemahnya manusia ini selalu dilanda resah dan gelisah. Duhai jiwaku yang bergelora duhai amarahku yang membabi buta duhai kecewaku yang berkepanjangan, inilah nurani kalau hendak engkau terjemahkan..!! Aku selalu kecewa dan menyesali diri lukisan cinta hanya nyata di hamparan kertas torehan warnanya hanya tipu daya belaka kesetiaan hanyalah sebait alpa… Pemalang 29 Juli 2000 -- © Copyright - All Rights Reserved

Andai Engkau Milikku

Perjalanan masih jauh, ketika kakiku menyentuh bibir pantai itu, berharap tinggal setapak lagi langkah ini, sedikit lagi. Aku bukan siapa-siapa, merengkuhmu juga tak bisa, berkata kebenaran demi meredam kesalahan, kebenaran berujung kemarahan, sakit sekali, seperti mendaki tebing karang berduri. Aku bukan siapa-siapa, meski berkali-kali ku berkata, andai engkau milikku. -- © Copyright - All Rights Reserved

Suara Di Kesunyian

Di keheningan malam Aku dengarkan, kau seperti bersuara, dari jauh menyampaikan salam, Seperti angin yang semilir kau belai rambut kering ini. Di beranda ini kemudian aku tercengang, sudah lama kau telah tiada. Di taman itu aku tanam melati, agar tumbuh dan wangi berbunga, tapi kemarau ini begitu gersang, jauh di lereng gunung hutan itu terbakar, seperti kenangan itu yang membakar diriku, harusnya aku suntingkan bunga itu di sela-sela rambut sutramu, tapi hanya mimpi. Jauh di sana mungkin engkau menangis, tapi aku tak tahu untuk siapa atau kenapa, karena kau tak pernah terbuka. Aku dengarkan kau seperti bersuara, sebuah salam tentang kerinduan dari kedalaman jiwa, tentang sepucuk doa, tentang kepiluan tak berkesudahan. Suara itu, hanya kau yang punya hanya aku yang mendengarkan……. Pemalang 19 Oktober 2002 -- © Copyright - All Rights Reserved

Sendiri

Ku rasakan hari ini menjadi sunyi saat kau pergi padahal sebelum kau ada jiwa ini tak pernah merasa sendiri. Sebuah pertemuan bersatunya jiwa-jiwa menyulam resah menjadi riang mengukir kata-kata menjadi kenangan. Mengapa mesti resah jiwaku malam ini di hari yang lalu kau jadi tempat pelipur lara bertutur kata dengan rangkaian kata mutiara. Mengapa di saat kembali hati ini sendiri seakan telah hilang cinta yang suci. Bogor 23 Juni 1995 file gambar : rudicahyo.com -- © Copyright - All Rights Reserved

Di Persimpangan Jalan

Di persimpangan jalan ini aku berdiri, menunggu rantaumu kapan kan kembali, negeriku, negerimu terbentang jarak jauh sekali, tapi hatiku hatimu masih merekat, dekat sekali, itulah cinta jarak dan waktu memisahkan, tapi kasih dan sayang mempersatukan, kerinduan dan pengharapan menjalin jiwa resah menjadi kenangan indah. Kapan cinta dan kasih dipertemukan kembali, laksana matahari senja dijemput malam sunyi, bersanding di pelaminan, bersatu di peraduan, mencurahkan kasih dan sayang, dalam bejana-bejana cinta. Kapankah penantian ini mendapat jawab, di persimpangan jalan ini menunggu penuh harap, negeriku negerimu, mengapa tak dipersatukan saja, agar jasad rindu ini tak harus merasa dipisahkan. Di persimpangan jalan ini selalu ku pandangi wajah orang-orang, lelah lusuh berlalu lalang, di pojok rumah ini juga telah ku tanam kembang mawar dan melati, berharap cintaku kan datang kembali, pada saat kembang mawar dan melati telah bersemi, berharap kelak kan ku suntingkan seperti keindahan di m

Mawar Dalam Gelas

Sekuntum mawar dalam gelas telah layu dan mati, warna indah yang dulu berseri, kini telah layu pucat pasi, aromanya tak lagi mewangi, keindahan yang dulu ada pupus kini. Andai saja ku dapati lagi mawar yang segar berseri, tentu kan ku suntingkan untukmu, ku hiaskan di rambut sutramu, agar kau hayati keharumannya di kalbumu, tentu kau rasakan keindahannya, seperti ku sanjung keanggunanmu, di kalbuku. Tapi aku takut, tiap kali mawar aku petik, tiap kali pula dia akan layu, seperti kisah-kisah beku dalam hatimu. Ku pandangi lagi mawar dalam gelas itu, kelopaknya jatuh satu-satu, keindahan luruh, keharuman runtuh. Mawar dalam gelas saksi bisu setangkup rindu, mengiring cintamu yang telah berlalu. mawar dalam gelas keindahan yang terbuang mati sia-sia. Bogor 14 Juli 1995 sumber gambar : sentrabunga.com file puisi : muhammadsaroji.com -- © Copyright - All Rights Reserved

Berjalan Perlahan

Berjalan-lah perlahan, karena memang tidak bisa berlari. Sedikit demi sedikit-lah tapi pasti, karena hanya inilah daya yang kita miliki. Merangkak itu tidak hina, tertatih-tatih juga tidak lantas menjadi mati. Berjuang itu biasa, dan kalau tidak mau berjuang lebih baik-lah mati. Dihina itu biasa, karena memang kalau tidak dipuji, ada kemungkinan-lah akan dihina, merana itu hanya persoalan hati, hati yang merana-pun pantas mendamba kebahagiaan. Bukan-lah kebahagiaan kalau sang pangeran bersembah sujud di kaki sang puteri, bukan pula kebahagiaan kalau hanya memandang harta belaka, jangan hinakan jiwa yang memendam cinta suci, karena cinta suci yang dihina 'kan menjadi laknat terbawa mati. -- © Copyright - All Rights Reserved

Khalwat

Ada sesal, sejenak Engkau tiba, terlanjur aku terpuruk bernama nafsu Engkau memburunya dikatakan , itu derita. Prasangka bertahta tak mungkin jua Engkau dapatkan aku, karena cinta itu terpetak-petak, terlanjur aku terpuruk di dalamnya, terlanjur kau tak kan dapat mencapaiku, untuk bersatu di dalamnya. Mungkin ini awal dihempaskannya aku dari kesucian sukma, dicampak jauh sukma itu menjauhi badan. Duh Gusti, bukan Kau yang mesti memburuku, karena rasa cinta kasih Mu, akulah yang mesti merindukanMu. Duh Gusti, beri aku waktu sedetik lagi, untuk mencampak prasangka di dada ini, biar cinta itu mengalir, mengalirkan air cinta sebening telaga, dari surga suciMu dan kelak Kau katakan itu kebahagiaan. Duh Gusti, inilah cintaku, yang tak terpetak-petak -- © Copyright - All Rights Reserved

Cinta Tak Selamanya Indah

Cintaku, kubaktikan kasih sayangku demi kebahagiaanmu, mengalirkan keindahan sebening embun, dingin menetes di relung kalbumu. Cintaku, di bukit kecil ini aku mengabdi, menyeruak telaga kasih melupakan perih. Sungguh! Ingin beranjak dari perih dan kekacauan ini, kegalauan kegersangan air mata, sejenak membuatku mabuk, jalang dan binal, telah serakah-kah birahi cintaini ? Cintaku, sungguh! tak selamanya cinta itu indah bukan? Tapi kau sayangku, tapi kau deritaku, tapi kau harapanku, tapi kau kecewaku, tapi kau cintaku, tapi kau jeritanku…!! Kering dedaunan luruh di bumi, meninggalkan sepasang prenjak kecil dalam jeritan nelangsa, mega di angkasa berlalu pergi, bercerai bengawan dari derunya air, air kehidupan sepasang mata mata cinta yang tak selamanya indah. ( muhammadsaroji.com ) -- © Copyright - All Rights Reserved

PPATK : Ada Aliran Dana Teroris Dari Australia Untuk Indonesia

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengatakan bahwa ada aliran dana dari kelompok di Australia untuk jaringan radikal di Indonesia. "(Dana) untuk pihak-pihak radikal dalam membiayai terorisme. Jumlahnya tidak bisa saya sebutkan," kata Agus Santoso, wakil ketua PPATK, usai International Conference on Terrorism & ISIS di Jakarta, Senin (23/3). Untuk mengatasi aliran dana tersebut, penegak hukum, PPATK dan Australia telah bekerja sama. Namun kerja sama untuk mengendalikan aliran dana terorisme secara internasional juga dilakukan bersama negara-negara tetangga lain, terutama negara-negara tetangga Indonesia di ASEAN. "Akan diadakan pertemuan pada Oktober antara negara-negara ASEAN plus Australia untuk membicarakan hal ini. PPATK Indonesia juga telah berbicara dengan PPATK soal ini," terang Agus. Sebelumnya, di kesempatan berbeda, pada awal Maret lalu, Agus telah mensinyalir adanya aliran dana internasional yang masuk ke Indonesia selama ini.

Embun Di Pelupuk Mata

Tuhan, Ada peluh di sekujur tubuh, ada embun di pelupuk mata, ada kerinduan mengharu biru, ada sesak menghimpit rasa. Tuhan, ada doa berbalut pilu, ada pelarian terburu-buru, ada hina berharap mahkota, ada percumbuan sia-sia. Tuhan, doaku negeri ini bukan negeri bedebah, negeri ini bukan negeri taik dan bangsat, ibu pertiwi bukan ibu pecundang. Tuhan, Ada peluh di sekujur tubuh, ada embun di pelupuk mata, peluh para pejuang, air mata para pahlawan. Tuhan, kuntum doa lembut mengalun, bagai tangisan bayi kehilangan pangkuan ibunya, seiring bunga mawar mekar ranum, aku mohon maaf selembut kasih. (edisi revisi) -- © Copyright - All Rights Reserved

Kemenag RI Akan Dirikan Perguruan Tinggi Islam Skala Internasional

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa Kementerian Agama saat ini sedang merintis pendirian Perguruan Tinggi Islam berskala internasional. Rencana ini disampaikan oleh Menag saat bersilaturahim ke kediaman Pelaksana Tugas Rais 'Am Syuriah PBNU KH Mustofa Bisri di Komplek Pesantren Raudlatut-Thalibin, Rembang, Sabtu (21/03/2015) malam. Menag mengaku sudah menyampaikan rencana ini kepada Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla dan keduanya mendukung. Secara khusus, Menag menyampaikan bahwa Wapres Jusuf Kalla sangat antusias dengan hal ini. "Kemenag akan mendirikan sebuah Perguruan Tinggi Islam berskala internasional. Presiden dan Wapres bersedia menjadi pelidung," kata Menag. Menurutnya, perguruan tinggi ini nantinya akan mengusung semangat pendidikan Islam khas nusantara yang diharapkan akan menjadi model Islam rahmatan lil 'alamin. "Islam khas Nusantara; sebagai salah satu model Islam yang rahmatan lil alamin. Kita harus memberi warisan monumental p

Kemenag RI Akan Dirikan Perguruan Tinggi Islam Skala Internasional

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa Kementerian Agama saat ini sedang merintis pendirian Perguruan Tinggi Islam berskala internasional. Rencana ini disampaikan oleh Menag saat bersilaturahim ke kediaman Pelaksana Tugas Rais 'Am Syuriah PBNU KH Mustofa Bisri di Komplek Pesantren Raudlatut-Thalibin, Rembang, Sabtu (21/03/2015) malam. Menag mengaku sudah menyampaikan rencana ini kepada Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla dan keduanya mendukung. Secara khusus, Menag menyampaikan bahwa Wapres Jusuf Kalla sangat antusias dengan hal ini. "Kemenag akan mendirikan sebuah Perguruan Tinggi Islam berskala internasional. Presiden dan Wapres bersedia menjadi pelidung," kata Menag. Menurutnya, perguruan tinggi ini nantinya akan mengusung semangat pendidikan Islam khas nusantara yang diharapkan akan menjadi model Islam rahmatan lil 'alamin. "Islam khas Nusantara; sebagai salah satu model Islam yang rahmatan lil alamin. Kita harus memberi warisan monumental

Kemenag RI Akan Dirikan Perguruan Tinggi Islam Skala Internasional

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa Kementerian Agama saat ini sedang merintis pendirian Perguruan Tinggi Islam berskala internasional. Rencana ini disampaikan oleh Menag saat bersilaturahim ke kediaman Pelaksana Tugas Rais 'Am Syuriah PBNU KH Mustofa Bisri di Komplek Pesantren Raudlatut-Thalibin, Rembang, Sabtu (21/03/2015) malam. Menag mengaku sudah menyampaikan rencana ini kepada Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla dan keduanya mendukung. Secara khusus, Menag menyampaikan bahwa Wapres Jusuf Kalla sangat antusias dengan hal ini. "Kemenag akan mendirikan sebuah Perguruan Tinggi Islam berskala internasional. Presiden dan Wapres bersedia menjadi pelidung," kata Menag. Menurutnya, perguruan tinggi ini nantinya akan mengusung semangat pendidikan Islam khas nusantara yang diharapkan akan menjadi model Islam rahmatan lil 'alamin. "Islam khas Nusantara; sebagai salah satu model Islam yang rahmatan lil alamin. Kita harus memberi warisan monumental

Kemenag RI Akan Dirikan Perguruan Tinggi Islam Skala Internasional

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa Kementerian Agama saat ini sedang merintis pendirian Perguruan Tinggi Islam berskala internasional. Rencana ini disampaikan oleh Menag saat bersilaturahim ke kediaman Pelaksana Tugas Rais 'Am Syuriah PBNU KH Mustofa Bisri di Komplek Pesantren Raudlatut-Thalibin, Rembang, Sabtu (21/03/2015) malam. Menag mengaku sudah menyampaikan rencana ini kepada Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla dan keduanya mendukung. Secara khusus, Menag menyampaikan bahwa Wapres Jusuf Kalla sangat antusias dengan hal ini. "Kemenag akan mendirikan sebuah Perguruan Tinggi Islam berskala internasional. Presiden dan Wapres bersedia menjadi pelidung," kata Menag. Menurutnya, perguruan tinggi ini nantinya akan mengusung semangat pendidikan Islam khas nusantara yang diharapkan akan menjadi model Islam rahmatan lil 'alamin. "Islam khas Nusantara; sebagai salah satu model Islam yang rahmatan lil alamin. Kita harus memberi warisan monumental p

Puisi Untuk Nina

Muhammad Saroji - File Pribadi Nina,  bobok-lah sayang jangan sedih jangan bimbang, bilang bapakmu jangan ada lagi perang, karena telah berlalu nagasaki dan heroshima, telah cukup korban dan pembantaian. Jangan menangis, Ninaku sayang, ini negeri bukan alang kepalang, bukan pemerkosaan dan penjajahan, bilang bapakmu jangan berkacak pinggang, apalagi memandang sesama dengan sebelah mata, ini negeri bukan kehausan darah, bukan gumpalan lumpur bernoda, anak kambing pun bebas berjalan merdeka, ini negeri kehausan akan cinta, kelaparan akan kasih dan sayang mendamba keadilan. Bilang bapakmu, Ninaku sayang, ini negeri bukan pemerkosaan dan penjajahan, ini negeri mendamba keadilan, cinta dan kasih sayang -- © Copyright - All Rights Reserved

Maafkan…

Tak bosan kuucapkan kata maaf untukmu, atas semua kata dan sikap yang tak berkenan di hati. Pada semua yang dekat di hati, karena yang jauh tak mungkin bersinggungan. Pada istri, pada guru, pada murobi, pada anak, pada sahabat… Maafkan karena itulah diriku apa adanya, tapi sebenarnya tidak bermaksud menyakiti hati, tapi lebih kepada luapan kasih sayang yang tak terbilang. Sungguh… hanya tak mengerti caranya bagaimana seharusnya yang bijak, Karena aku ingin yang terbaik. Maka maafkan, karena sebenarnya aku sayang… -- © Copyright - All Rights Reserved

Mendung, Suram dan Kelabu

Aku di perjalanan, memandang alam sekeliling yang kelabu, pada langit teduh mendung bergulung-gulung, dimanakah matahari menyembunyikan sinarnya, agar bumi ini tak melulu tersiram air hujan, tapi inilah perjalanan alam, berjalan sesuai kodrat dan irodatNya, meski manusia kerap menodainya dengan hamparan pembunuhan dan pemerkosaan, memberangus belantara dengan alasan pembangunan, padahal penjarahan kekayaan alam penuh birahi durjana, menguras ladang-ladang tambang menjadi kering kerontang dengan alasan demi kesejahteraan seluruh bangsa, ya, seluruh bangsa di luar sana, entah berbendera apa… aku lebih baik jadi orang bodoh saja, karena banyak orang-orang pintar telah kedaluarsa, lupa bersujud dan beristighfar, mungkin telah merasa banyak berbuat amal kebajikan, dan merasa pintu sorga telah terbuka di depan mata. Jauh di ujung barat sana, negeri muslim bergolak, negeri mesir katanya, seingat saya, begitu religiusnya seluruh rakyat jelata, ulama-ulama besar lahir dari sana, dari universita

Makan Itu Cinta !!!

Makan itu cinta! begitu teriak seseorang dari balik pagar. ada apa dengan cinta? duh, kedengaran sangat mengerikan, memekakkan telinga. ah, persetan! aku nikah dengan cinta, bekerja dengan cinta, punya anak dengan cinta, masalah….? bertemu dengan cinta, berpisah dengan cinta, berpadu rindu dengan cinta, masalah…..? daaaan….. hampir mati demi cinta, masalah…..? ah, jangan marah. jangan pula gelisah, jangan pula melaknat cinta. kasihan orang yang tak punya cinta, seumur hidup rindu dendam dalam cinta. ah, kenyang benar aku makan cinta. -- © Copyright - All Rights Reserved

Aku Ingin Mencintaimu Karena Allah

Dari Anas bin Malik ra, Bahwasanya seseorang (laki-laki) sedang berada di sisi Nabi Saw, bersamaan dengan itu ada orang (laki-laki) yang lewat di hadapan mereka. Lantas ia menyatakan: Wahai Rasulullah sesungguhnya aku benar-benar mencintai orang ini (yang baru saja lewat), maka Nabi Saw berkata kepadanya: Apakah engkau telah memberitahukan hal tersebut kepadanya? Ia berkata: Belum. Beliau berkata: Hendaknya engkau utarakan kepadanya. Maka ia langsung mengejar orang itu dan mengatakan " Inni uhibbuka fillah" (sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah), orang tersebut menjawab: Ahabbakalladzi ahbabtani lahu (Semoga mencintaimu Dzat yang engkau mencintai aku karena-Nya). (HR.Abu Dawud dengan isnad Shahih) Cinta itu adalah ketika timbul perasaan aneh di sekujur tubuhmu baik ketika kau melihatnya, mendengarnya, ataupun ketika kau merasakan kehadirannya di dekatmu. Adakalanya kau selalu ingin dekat dengannya, namun yakinlah, bahwa jarak yang jauh terkadang justru mampu mendekatkan

Cinta Tak Selamanya Indah

Cintaku, kubaktikan kasih sayangku demi kebahagiaanmu, mengalirkan keindahan sebening embun, dingin menetes di relung kalbumu. Cintaku, di bukit kecil ini aku mengabdi, menyeruak telaga kasih melupakan perih. Sungguh! Ingin beranjak dari perih dan kekacauan ini, kegalauan kegersangan air mata, sejenak membuatku mabuk, jalang dan binal, telah serakah-kah birahi cintaini ? Cintaku, sungguh! tak selamanya cinta itu indah bukan? Tapi kau sayangku, tapi kau deritaku, tapi kau harapanku, tapi kau kecewaku, tapi kau cintaku, tapi kau jeritanku…!! Kering dedaunan luruh di bumi, meninggalkan sepasang prenjak kecil dalam jeritan nelangsa, mega di angkasa berlalu pergi, bercerai bengawan dari derunya air, air kehidupan sepasang mata, mata cinta yang tak selamanya indah. -- © Copyright - All Rights Reserved

Padamu Tuhan

Senja ini tidak ada mendung, angin berdebu keras menderu, daun-daun kering berserakan ke bumi, meninggalkan ranting-ranting layu dan mati. Oh bumiku, jiwaku, segenap langkah kaki gersang dan perih, ku berlindung di bawah terik sinar matahari, malam hari dingin dan amat sunyi, mimpi mencekam menghantui hati. Oh bumiku, jiwaku menangis perih meratapi nasib bilakah haus terobati, bilakah lapar terpenuhi, bilakah kedamaian melingkupi, bilakah bahagiamerengkuhi. KepadaMu Tuhan andai ku lihat Engkau, kan ku ciumTangan dan KakiMu, ku ikuti kemana Engkau pergi, ku turuti segala yang Engkau Kehendaki, tapi aku hilang diri, tak ingat betapa Engkau Maha Kasih, aku lupa diri, janji apa yang telah aku ingkari, burung-burung elang melang lang langit membuatku meratap ngeri, apakah aku telah benar-benar mati. Tuhanku senja ini tidak ada mendung tapi keresahan bergulung-gulung bagaikan awan yang kelabu, aku teringat Kau Maha Kasih, terima kasih Tuhanku, dalam siksaMu, masih Kau beri aku kesempatan ber

Gugur Bunga

Telah gugur bunga itu, tercampak dari ranting yang kering, tak ada lagi tebaran aroma wangi, bunga itu luruh ke bumi. Bungaku bunga rakyat bunga bangsa, dipuja kaum miskin, disanjung para bangsawan, bungaku, mati meninggalkan luka karena tikaman belati dari belakang, oleh kawan sendiri. Bunga itu bunga bangsa, dipuja orang sedunia, tapi dihina kawan sendiri, dia mati membawa luka, luka kaum miskin dan terpinggirkan. Bungaku kini menjadi pahlawan, meski mati dia meninggalkan kenangan, kenangan orang-orang dengki yang gila kekuasaan, yang memimpikan kedudukan dan jabatan, betapa sakit bungaku menahan tikaman, ditanggung sendiri, dirasakan sendiri. Bungaku telah gugur ke bumi, mati ditikam kawan sendiri, dari belakang, kawan yang gila jabatan kawan yang lupa daratan. 2 Februari 2001

Ketika Kebenaran Diabaikan

Ketika kebenaran diabaikan, kau tak akan berkata tidak meski nuranimu berkata tidak, dan kau akan terhimpit dalam ketakutan merki seribu pasukan mengawalmu. Hukum itu untuk siapa, tak lain adalah untuk kita semua, sesungguhnya kita adalah sederajat, punya hak asasi dan kewajiban yang sama, ingatlah dimanapun kau berbuat, kelak akan dipertanggungjawabkan, tak berarti harta benda dikumpulkan, jika amal kebajikan tak kau biasakan, dua tahun lalu ketika permaisurimu telah tiada, ternyata keagungan itu telah dicabut oleh Yang Maha Kuasa, itulah bukti yang nyata, kekuasaan dunia itu tiada kekal, dan hanya meninggalkan ratapan, Ketika rakyatmu kini kembali menggugat, adalah karena keadilan itu milik semua orang. Jakarta 22 Desember 1998

Mama, Keteguhan dan Kebenaran

Aku harus diam sejenak untuk memikirkan apa yang harus aku tuliskan. Rasanya hampir malas jari-jari ini mengetikkan satu per satu huruf-huruf menjadi kata dan kalimat, dan kadang jenuh……meski bukan aku seorang yang merasakan. Duniaku, entah apakah ini harus aku jalani semua demi bukan keinginanku, demi tugas dan kewajibanku, demi yang aku tak mengerti berakhir sedih atau bahagia, toh seperti seorang anak kecil yang menangis, menggapai-gapai keinginan namun tangan tak sampai, kemudian mama yang mengambilkan, kemudian anak kecil itupun terdiam dan tenang bermain. Ku buka jendela di pagi ini, angin dingin bertiup menyapu muka dan membasuh dinding-dinding kamar yang lusuh dan pengap. Bukankah hari ini adalah seperti hari kemarin ? hari yang seseorang harus tetap konsisten dalam kebenaran?, tak cukup kebenaran dipidatokan, tak pantas hanya dituliskan tanpa keteguhan dan perbuatan. Seseorang harus tetap berbuat benar meski dengan resiko berdarah-darah….

Permaisuri

Di ujung suaraku kau ku panggil, hati ini menggigil hendak menggapai, kau permaisuriku hilang kini, melintasi pematang, menyibak ilalang, benarkah senja semburatkan merah tembaga, permaisuriku hilang sudah. Oh raja diraja, oh jiwa berjiwa, oh cinta prahara duka, oh kelana pupus sudah, ini mawar berduri di taman, melati seroja pengantin sirna, kemana kelelawar mengepakkan sayapnya burung malam berhenti bersahutan. Ku berlari hendak meraih bejana cintaku, bertumpah air di persimpangan musim, Permaisuriku meratap menghiba, ini mahkota bertahta apa, ini singgasana kencana siapa.. Oh raja diraja, oh kepiluan meratapi apa, oh darahku terlelap sudah, oh permaisuriku, bidadari sudah, oh kemenanganku sempurna sudah, oh kematianku dekat sudah…

Permaisuri

Bilakah ku temui kau dalam sendiri, lalu ku sampaikan hasrat cintaku yang membara, kelak kau kujadikan permaisuri, dalam kerajaan asmaraku, yang luas membentang. Tapi kesendirian itu bagimu tak ada, aku sendiri yang sunyi, tak ada malam yang dapat aku sapa, siangpun hanya terik matahari yang menyengat, kulitku legam, kau bukan permaisuriku yang kupuja, bukan pula impianku yang kujelang sepanjang malam. Baiklah ku tinggalkan saja kau di sana, pada duniamu yang penuh kemegahan, tapi pantaskah aku berputus asa, dalam kisah cinta yang belum tahu menang dan kalah... Permaisuriku, hanya bertahta dalam bayangan, burung prenjak seakan tahu berlompatan di dahan mengejekku. Baiklah Aku bercinta dengan duniaku saja, dunia penuh rasa sepi, bahagia sendiri, menderita sendiri. Bogor 25 Oktober 1996

Permaisuri

Bilakah ku temui kau dalam sendiri, lalu ku sampaikan hasrat cintaku yang membara, kelak kau kujadikan permaisuri, dalam kerajaan asmaraku, yang luas membentang. Tapi kesendirian itu bagimu tak ada, aku sendiri yang sunyi, tak ada malam yang dapat aku sapa, siangpun hanya terik matahari yang menyengat, kulitku legam, kau bukan permaisuriku yang kupuja, bukan pula impianku yang kujelang sepanjang malam. Baiklah ku tinggalkan saja kau di sana, pada duniamu yang penuh kemegahan, tapi pantaskah aku berputus asa, dalam kisah cinta yang belum tahu menang dan kalah... Permaisuriku, hanya bertahta dalam bayangan, burung prenjak seakan tahu berlompatan di dahan mengejekku. Baiklah Aku bercinta dengan duniaku saja, dunia penuh rasa sepi, bahagia sendiri, menderita sendiri. Bogor 25 Oktober 1996

Halusinasi

Kamis wage malam jum'at kliwon, ku tabur kembang dan ku bakar kemenyan, di sisi makam bundaku yang telah rapuh dimakan rayap, asap wangi dupa mengingatkanku pada kematian, yang dalam hidupku paling aku takutkan. Kematian ? Ah, Begitu mengerikankah kematian ? Yang ditinggal menangis meratap-ratap, sambil tak lupa mengingat-ingat seberapa besar kelak warisan yang didapat, sang arwah sendiri entah selamat entah celaka, tetangga sekampung turut memanjatkan doa, padahal ditanggung sendiri seluruh amal perbuatan sewaktu hidup di dunia. Aku terjaga, sebuah tangan lembut menjamah pundakku, ternyata aku bermimpi yang membuatku tak bisa terlelap lagi. Ah, kematian… benarkah di dunia ini ada kematiam ? Ku layangkan pandangan ke langit, hanya kelam, tak ada bintang gemintang, ku sapa angin dingin yang menusuk tulang, kebekuannya mengantarkan aku pada sebuah pintu tinggi dan kokoh tertutup rapat, di bagaian mana aku mengetuknya atau akan ku ucapkan salam saja, tapi sunyi tiada jawaban, desah na

Kebahagiaan Hidup Diawali Dari Rumah

Hidup bahagia tentu dambaan setiap manusia. Namun ternyata tidak semua manusia dapat merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Kehidupan rumah tangga yang harmonis dalam suasana yang religi tentu akan menjadi lingkungan yang sehat bagi tumbuh berkembangnya pribadi anak-anak, mereka mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang cukup dari kedua orang tuanya, mendapatkan pendidikan akhlak yang baik dengan mencontoh perilaku kedua orang tuanya. Komunikasi yang harmonis di antara suami dan istri, antara anak dan kedua orang tuanya juga turut memberikan rasa kedamaian bagi seluruh anggota keluarga. Maka bandingkanlah dengan keadaan seseorang yang berasal dari kehidupan keluarga yang berantakan, yang terpisah dari kasih sayang kedua orang tuanya karena perceraian, atau karena seringnya terjadi pertengkaran di antara mereka, akan sangat mengganggu perkembangan jiwa sang anak, anak cenderung diliputi kekecewaan dan kesedihan, mudah mengeluh dan berputus asa, bahkan kelak berakibat liar dan beringas

Surat Al-Hijr (Daerah Pegunungan) Dan Terjemahan

بسم الله الرحمن الرحيم Alif, laam, raa. (Surat) ini adalah (sebagian dari) ayat-ayat Al-Kitab (yang sempurna), yaitu (ayat-ayat) Al Quran yang memberi penjelasan. Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan. Tidak ada suatu umatpun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan(nya). Mereka berkata: "Hai orang yang diturunkan Al Quran kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila. Mengapa kamu tidak mendatangkan malaikat kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar?" Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan benar (untuk membawa azab) dan tia