Tampilkan postingan dengan label Jurnalisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnalisme. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 April 2019

Hukum Kejahatan Plagiat

Ilustrasi Plagiat
Forum Muslim - Secara hakiki segala yang diam dan bergerak di muka bumi baik daratan maupun lautan memang milik Allah. Kalau secara hakiki ini diterapkan dalam keseharian, kehidupan mendadak chaos karena siapa saja merasa khalifatullah. Namun, secara majazi hak milik Allah bisa diidhofahkan kepada siapa saja agar kehidupan jadi terang dan terus berjalan.


Allah sendiri mengakui adanya antara lain hak milik (haqqul milk) dan hak guna (haqqul intifa') hamba-Nya. Dengan hak milik dan hak guna ini, segala makhluq bisa bergerak secara fungsional, tidak bebas semaunya. Lalu bagaimana dengan plagiat menurut fiqih?


Kamus besar bahasa Indonesia menyebutkan plagiat sebagai "Pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri, msl menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri; jiplakan."


Lembaga Fatwa Mesir, Darul Ifta Al-Mishriyyah melansir keterangan berikut melalui websitenya yang diakses pada Kamis, 5 Maret 2015.http://www.dar-alifta.org/ViewFatwa.aspx?ID=426


حقوق التأليف والاختراع أو الابتكار مصونة شرعا، ولأصحابها حق التصرف فيها، ولا يجوز الاعتداء عليها والله أعلم. وبناء على ذلك: فإن انتحال الحقوق الفكرية والعلامات التجارية المسجلة لأصحابها بطريقة يفهم بها المنتحل الناس أنها العلامة الأصلية هو أمر محرم شرعا يدخل في باب الكذب والغش والتدليس، وفيه تضييع لحقوق الناس وأكل لأموالهم بالباطل


Hak karya tulis dan karya-karya kreatif, dilindungi secara syara'. Pemiliknya memunyai hak pendayagunaan karya-karya tersebut. Siapapun tidak boleh berlaku zalim terhadap hak mereka. Berdasarkan pendapat ini, kejahatan plagiasi terhadap hak intelektual dan hak merk dagang yang terregistrasi dengan cara mengakui karya tersebut di hadapan publik, merupakan tindakan yang diharamkan syara'. Kasus ini masuk dalam larangan dusta, pemalsuan, penggelapan. Pada kasus ini, terdapat praktik penelantaran terhadap hak orang lain; dan praktik memakan harta orang lain dengan cara batil.


Melihat dari keterangan di atas, sudah semestinya setiap orang mengapresiasi karya orang lain dan menghargainya dengan tidak melakukan plagiasi. Setidaknya kalau tidak bisa izin, menyebutkan sumber lengkap dengan nama pembuatnya kalau mau mengutip semisal karya apa saja mulai dari seni rupa, seni tari, seni musik, sastra, karya jurnalistik, atau temuan budaya lokal lainnya. Wallahu A'lam.



Sumber: NU Online

Senin, 31 Desember 2018

Surat Tertutup untuk Goenawan Mohammad Cs


Saya telah membaca surat terbuka yang Anda tujukan kepada Amien Rais, ketua Dewan Pertimbangan PAN. Anda meminta agar Pak Amien mundur dari politik praktis karena Anda anggap dia melakukan manuver politik yang tak sejalan dengan prinsip-prinsip PAN.

Pak Goenawan Cs, yang terhormat! Sementara Anda mengirimkan surat terbuka kepada Pak Amien, saya memilih sebaliknya. Saya kirimkan surat tertutup ini kepada Anda semua. Sengaja tertutup, supaya terlihat berbeda dengan surat terbuka Anda itu. Bukankah Anda sekarang merasa berbeda dengan Pak Amien?

Ok. Setelah menyimak kembali prinsip-prinsip PAN seperti yang Anda uraikan, memang betul ada perbedaan besar antara Pak Amien dengan Anda berlima. Misalnya, prinsip pertama menyebutkan bahwa PAN adalah partai reformasi yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan menegakkan demokrasi setelah 32 tahun di bawah kekuasaan absolut Orde Baru.

Kalau dicermati prinsip pertama di atas, justru Pak Amien Rais menunjukkan bahwa beliau konsisten. Masih tetap teguh dengan prinsip reforamasi yang memperjuangkan kebebasan berpendapat dan demokrasi. Sebab, pada era Jokowi sekarang ini kebebasan dan demokrasi itu sedang diotoriterkan oleh beliau. Pak Amien melawan ini, sedangan Anda berlima menyuruh Pak Amien mundur atau berhenti melawan kesewenangan. Sangat mengherankan kalau Anda berlima melihat Pak Amien bertindak tak sesuai prinsip reformasi.

Menurut hemat saya, yang Anda sebut kekuasaan absolut Orde Baru selama 32 tahun itu, sekarang bersemi kembali. Cuma, mungkin, karena Anda semua mengidolakan Jokowi, maka kesewenangan yang beliau lakukan menjadi tak terasa. Misalnya, Anda tak merasa media-media mainstream bulat-bulat dikooptasi oleh Jokowi.

Acara Reuni 212 yang menghadirkan berjuta-juta orang, tidak diberitakan oleh media-media besar. Gubernur Anies Baswedan (AB) mendapat sejumlah penghargaan, tak digubris. Tak diliput. Kondisi Jakarta yang lebih baik, didiamkan saja oleh media. Persija Jakarta menjadi juara liga semasa AB, juga disembunyikan. Padahal, selebrasinya berlanngsung meriah.

Tak ada lagi berita positif tentang kegiatan oposisi. Semua serentak menjadi corong Jokowi. Bagaikan ada kendali kepada media untuk melakukan pengkhianatan terhadap ‘fair journalism’.

Bukankah semua ini bertentangan dengan prinsip PAN? Tentu saja iya. Tapi karena Anda mengidolakan Jokowi, semua itu tak terasa sebagai tindakan anti-demokrasi dan sewenang-wenang.

Kemudian, coba Anda tengok juga bagaimana para penguasa menyalahgunakan kepolisian. Jokowi menjadikan polisi sebagai alat untuk melindungi misi politik dia dan para pendukungnya. Seperti pada era Orde Baru, hari ini sangat jelas bahwa untuk kepentingan politik Jokowi, kepolisian pun terkooptasi juga.

Polisi begitu cepat dan sigap bertindak ketika mereka menangani dugaan pidana atau pengaduan pidana yang terduga atau tertuduhnya adalah para pegiat oposisi. Sebaliknya, Pak Polisi tak bersemangat menangani kasus-kasus yang dilaporkan oleh orang-orang yang berseberangan dengan Jokowi.

Kalau ada waktu dan minat, coba Anda amati tingkah-laku oknum-oknum kepolisian di kawasan pedesaan. Para oknum itu ikut menggiring-giring dukungan untuk Pak Jokowi.

Tempohari, sekitar Agustus-September, jelas-jelas para petugas kepolisian ikut melakukan persekusi terhadap berbagai kegiatan deklarasi #GantiPresiden. Kegiatan yang legal dan demokratis ini dilakukan oleh para pendukung oposis di sejumlah daerah.

Nah, bagaimana pendapat Pak Goenawan Cs tentang polisi yang ikut melakukan persekusi? Bukankah kondisi seperti ini sangat memprihatinkan? Tentu saja iya.

Tapi karena Anda mengidolakan Jokowi, semua itu tak terasa sebagai tindakan anti-demokrasi dan sewenang-wenang.

Terus, coba Anda perhatikan macam-macam ‘abuse of power’ (penyelewengan kekuasaan) yang dilakukan oleh Jokowi secara terang-terangan. Lihat bagi-bagi sertifkat tanah yang dilakukan pada masa kampanye pilpres saat ini. Lihat juga tindakan beliau menggratiskan jembatan Suramadu. Bacalah berita-berita tentang “dukungan sukarela” dari para gubernur dan bupati kepada Jokowi.

Bukankah ini cara-cara Orde Baru yang telah kita koreksi, Pak Goenawan, Cs? Saya yakin kita sepakat bahwa rezim Jokowi meniru itu.

Tapi karena Anda mengidolakan Jokowi, semua itu tak terasa sebagai tindakan anti-demokrasi dan sewenang-wenang.

Selanjutnya, coba Pak Goenawan tengok kendali penguasa atas kampus-kampus perguruan tinggi. Sama-sama kita pahami infiltrasi kekuasaan ke situ. Tampak begitu rapi implementasi kekuasaan terhadap kampus-kampus. Padahal, di zaman Orde Baru sekalipun tidak sampai seperti sekarang.

Misalnya, Pak Harto dulu membiarkan kebebasan mimbar di dalam pagar kampus. Yang penting tidak keluar. Sekarang, warga kampus (baik mahasiswa maupun dosen) tampak tak berkutik. Bagaikan ada kekuasaan tingkat tinggi yang ‘membina’ mereka. Bukankah ini hal yang memprihatinkan, Pak Gonawan? Pastilah iya.

Tapi karena Anda mengidolakan Jokowi, semua itu tak terasa sebagai tindakan anti-demokrasi dan sewenang-wenang.

Itulah segelintir contoh tentang keotoriteran yang berkembang pesat saat ini, Pak Goenawan Cs. Pak Amien Rais berusaha menentang itu dengan segala daya upaya beliau. Heran sekali kalau Anda berlima tidak melihat keotoriteran itu sebagai penyimpangan dari prinsip reformasi PAN.

Terakhir, coba Anda semua amati fenomena perlawanan rakyat terhadap rezim yang juga sedang dilawan oleh Pak Amien. Di mana-mana anak-muda dan orang dewasa sengaja memamerkan ‘dua jari’ ketika ada sesi foto bersama Jokowi. Lihat juga kampanye-kampanye Jokowi, indoor atau outdoor, yang sering kosong. Banyak kursi kosong. Orang tak mau datang. Tengok juga foto-foto atau video tentang Reuni 212 belum lama ini. 

Tidakkah semua ini membuktikan adanya ‘pendapat mutawatir’ di kalangan rakyat bahwa rezim yang ada ini sudah menyimpang dari semangat reformasi? Menyimpang dari prinsip PAN yang Anda sebutkan di surat terbuka Anda itu?

Tentu saja iya. Tapi karena Anda mengidolakan Jokowi, justru yang Anda katakan menyimpang adalah Pak Amien Rais. Padahal, beliau sekarang ini sedang berusaha untuk menghentikan antitesis reformasi yang dibangun oleh Jokowi. Yang dilakukan Pak Amien sekarang ini adalah mencegah rekonstruksi Orde Baru.

Kelihatannya, ini feeling saya saja, Anda semua tidak berkeberatan dengan cara-cara Orde Baru sepanjang itu dilakukan oleh Jokowi. Sepanjang itu cocok dengan selera Anda. Sepanjang itu bertujuan untuk menghancurkan moral bangsa. Sepanjang itu bertujuan untuk menyuburkan liberalisme; memberikan keleluasaan tumbuh-kembang kepada semua aliran dan gaya hidup yang akan menghancurkan umat beragama.

Sekian saja surat tertutup yang saya tujukan kepada Abdillah Toha, Albert Hasibuan, Goenawan Mohammad, Toeti Heraty, dan Zumrotin. Kalau surat ini akhirnya terbuka juga, itu pertanda rakyat tidak menginginkan kesewenangan penguasa berlanjut.

(Penulis adalah wartawan senior)

Minggu, 30 Desember 2018

Orang - Orang Merdeka

Forum Muslim - Kaget saya dengan  tulisab Aktivis Jebolan ITB  Bang Syahganda Nainggolan soal orang merdeka dan saya ada di dalamnya. Padahal saat ini begitu berat menjadi orang merdeka  Bang.
Saya misalnya Bang, lima tahun ini menjadi manusia terbully di dunia rasanya, difitnah yg demikian kejam. Setiap hari rasanya ada air mata yg mentes atas pedih dan perih yg harus saya terima.
Terimakasih sudah memberi kado akhir tahun buat kami yg mencoba menjadi orang merdeka.

-------------------------------------

*ORANG -ORANG MERDEKA*

(Catatan akhir tahun, By Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle)

Beberapa hari lalu saya melihat tulisan Tjahja Gunawan Diredja berdedar di media sosial menyoroti soal ketidakpantasan  Jokowi selfie di bencana Banten/Lampung.

Saya mengenal dia puluhan tahun lalu sebagai wartawan di Bandung. Terakhir dia menulis biography Chairul Tanjung si Anak Singkong.

Tulisan dia yang melakukan kritik terhadap rezim Jokowi, menambah jumlah wartawan senior atau mantan sebagai penulis2 volunteer dalam membela kebenaran di masyarakat kita.

Keheranan saya yang bercampur kekaguman saat ini berfokus pada banyaknya mantan2 wartawan top saat ini membuat tulisan2 di media sosial untuk mengkritik Jokowi dan pendukung2nya.

Tentu saja mereka sebagian besarnya, kalau tidak semua, juga membela Prabowo Subianto.

Awalnya penulis2 eks wartawan di kelompok oposisi hanya nama2 itu saja, seperti Naniek S Dayeng, Djoko Edhi Abdurrahman, Zeng Wie Jan, dan  Nasihin (Nasihin sekarang menghilang atau menghilangkan dirinya?). Namun, saat ini sudah berpuluh eks wartawan yang menulis sebagai oposisi. Ada Asyari Usman, Hersubono Arief,  Tony Rasyid, M Ali, Nasrudin Joha, Tjahja Gunawan dll. yang saya sulit menghapal namanya.

Oh dulu juga ada alm. Derek Manangka, yang bahkan membuat tulisan "Jokowi ada Affair dengan Rini Sumarno". Kita doakan saja beliau masuk Surga. Aamiin

Kenapa kita perlu mencatat fenomena ini? pentingkah?

Ada 3 hal yang menjadi alasan bagi kita untuk membahas tentang mereka. 1) Soal idealisme. 2) Soal kemampuan menulis. 3) "Seeking the Truth".

1) Soal idealisme, ini benar benar menyentakkan kita. Sebab, mayoritas wartawan saat ini identik dengan amplop. Berbeda di masa lalu, di mana wartawan identik dengan perjuangan. Jaman Mocthar Lubis, misalnya, menjadi wartawan dianggap sebuah idelalisme.

Jus Soema Dipraja, misalnya, bergabung dengan pemberontak Malari, th 74, ketika koran di mana dia menjadi wartawan dianggapnya tidak sejalan dengan hati nurani.

Tentu wartawan bajingan juga ada di masa lalu. Namun, wartawan sebagai simbol idealisme menjadi mainstream. Sehingga pemilik koran atau media memberi ruang kebebasan bagi wartawan dan keredaksian.

Namun, sejak media menjadi industri dan sumber uang, informasi dan berita harus tunduk pada kepentingan pemilik modal. Wartawan dianggap hanya sebagai alat produksi. Karyawan semata.

Disinilah awal hilangnya idealisme.

Wartawan wartawan atau mantan yang semakin banyak menulis di dunia media sosial menulis tanpa uang. Mereka bukan seperti konsultan politik, misalnya seperti Denny JA yang dibayar mahal untuk setiap Meme. Saya coba tanyakan hal itu ke Kisman Latumakulita, yang mengenal mereka, menurut Kisman semuanya volunteer.

2). Soal kemampuan menulis. Wartawan senior biasanya terkena doktrin 5W+1 (what, who, when, where, why dan how). Doktrin ini membuat mereka jeli, dalam dan "cover both side" dalam menulis. Ini beda dengan kebanyakan generasi medsos, generasi "copy paste" dan "forward". Apalagi jika menulis atau penulis berbayar, tentu yang disajikan hanyalah data data dan informasi propaganda, untuk medukung kelompoknya saja.

Dengan kemampuan menulis ala doktrin 5W+1 itu, Asyari Usman, Arief Sofianto, Tony Rasyid, Nasrudin Joha, hersubeno Arif dll, juga terkahir ini Tjahja Gunawan menghadirkan tulisan berkelas. Tulisan berkelas artinya menampilkan fakta sebagai alat ukur. Sehingga kebenaran yang dicari pembaca bukan manipulasi, melainkan hal nyata.

3) "Seeking the truth"

Terlepas dari keterbelahan masyarakat (divided society) saat ini, masyarakat yang terbelah itu juga ingin mengetahui kebenaran yang sesungguhnya atas sebuah informasi yang beredar.

Hal ini tentu sulit didapatkan saat ini. Karena media sebagai pilar informasi sudah menjadi industri. Bahkan, lebih parah dari industri, media sudah lebih jauh berubah menjadi alat propaganda penguasa. (beberapa media alternatif saat ini seperti rmol, teropong senayan, tabayun, eramuslim, nusantaranews, seruji, ahad, swamedium, pribuminews, faktanews, suaramerdeka, dlsb. menjadi serbuan alternatif rakyat yang muak dengan informasi versi pemerintah)

Di masa Suharto, ketika media dikontrol penguasa untuk memberitakan semua kebaikan penguasa, masih ada cela kebaikan karena wartawan2 saat itu masih independen. Saat ini mencari wartawan baik pun susah.

Penulis2 (eks) wartawan senior ini pada kelompok oposisi akhirnya berfungsi menjadi pencerah dalam konteks mendapatkan informasi yang benar.

Banyak penulis seperti saya, eddy junaidi, salamuddin daeng, Dr. ahmad yani dlsb bahkan Sri Bintang telah dipersepsikan begitu bias. Penulis seperti saya misalnya, seringkali menghindari "cover both side". Meskipun tentunya soal "truth" yang saya sampaikan memenuhi unsur. ("Truth vs falsehood" yang diperbincangkan Aristoteles dan Plato  dalam Theory of Correspondence dan Bertrand Russell dalam Theory or Coherence, bagi seorang ideolog tidak sepenuh benar. ini bahasan lain nantinya).

Sebaliknya, penulis2 berlatar belakang wartawan ini menyajikan fakta lengkap, sehingga lebih utuh informasinya. Ada kehausan masyarakat kepada tulisan mereka.

Dalm tulisan ini, saya melihat penulis2 (eks) wartawan ini adalah orang2 merdeka, karena tiga alasan penting tadi sebagai latarbelakang kajian kita: idelaisme, kemampuan menulis dan "seeking the truth". Mereka manusia2 pencerah, namun tak berbayar. Tanpa bayaran, mereka menjadi jaminan kemerdekaan mereka berpikir. Kemerdekaan berpikir tentu membuat mereka menjadi rujukan rakyat, disampinng kaum ideolog. Rujukan ini minimal untuk kebutuhan rakyat oposisi yang cinta kebenaran.

Sumber : Nanik S Deyang