Tampilkan postingan dengan label Kebenaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebenaran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Oktober 2016

Ketika Kebenaran dan Keadilan Diabaikan

Muhammad saroji - File Pribadi

Ketika kebenaran diabaikan,
kau tak akan berkata tidak meski nuranimu berkata tidak,
dan jiwamu akan terhimpit dalam ketakutan,
meski seribu pasukan mengawalmu.


Hukum itu untuk siapa,
tak lain adalah untuk kita semua,
sesungguhnya kita adalah sederajat,
punya hak asasi dan kewajiban yang sama,
ingatlah apapun yang kau perbuat,
kelak akan dipertanggungjawabkan,
tak berarti harta benda dikumpulkan,
jika amal kebajikan tak kau biasakan,
dua tahun lalu
ketika permaisurimu telah tiada,
keagungan dan kekuasaanmu semakin sirna,
dicabut oleh Yang Maha Kuasa,
itulah bukti yang nyata
kekuasaan dunia itu tiada kekal,
dan hanya meninggalkan kenangan sejarah,
Ketika rakyatmu kini kembali menggugat,
adalah karena keadilan itu milik semua orang.

---

Jakarta 22 Desember 1998
By Muhammad Saroji
© Copyright - All rights reserved

Minggu, 04 September 2016

Ketika Kebenaran Diabaikan






Ketika kebenaran diabaikan
kau tak akan berkata tidak meski nuranimu berkata tidak
dan kau akan terhimpit dalam ketakutan
merki seribu pasukan mengawalmu.

Hukum itu untuk siapa
tak lain adalah untuk kita semua
sesungguhnya kita adalah sederajat
punya hak asasi dan kewajiban yang sama
ingatlah dimanapun kau berbuat
kelak akan dipertanggungjawabkan
tak berarti harta benda dikumpulkan
jika amal kebajikan tak kau biasakan
dua tahun lalu
ketika permaisurimu telah tiada
ternyata keagungan itu telah dicabut oleh Yang Maha Kuasa
itulah bukti yang nyata
kekuasaan dunia itu tiada kekal
dan hanya meninggalkan ratapan

Ketika rakyatmu kini kembali menggugat
adalah karena keadilan itu milik semua orang.

Jakarta
22 Desember 1998

Minggu, 22 Maret 2015

Ketika Kebenaran Diabaikan

Ketika kebenaran diabaikan,
kau tak akan berkata tidak meski nuranimu berkata tidak,
dan kau akan terhimpit dalam ketakutan
merki seribu pasukan mengawalmu.


Hukum itu untuk siapa,
tak lain adalah untuk kita semua,
sesungguhnya kita adalah sederajat,
punya hak asasi dan kewajiban yang sama,
ingatlah dimanapun kau berbuat,
kelak akan dipertanggungjawabkan,
tak berarti harta benda dikumpulkan,
jika amal kebajikan tak kau biasakan,
dua tahun lalu
ketika permaisurimu telah tiada,
ternyata keagungan itu telah dicabut oleh Yang Maha Kuasa,
itulah bukti yang nyata,
kekuasaan dunia itu tiada kekal,
dan hanya meninggalkan ratapan,
Ketika rakyatmu kini kembali menggugat,
adalah karena keadilan itu milik semua orang.


Jakarta
22 Desember 1998

Mama, Keteguhan dan Kebenaran

Aku harus diam sejenak untuk memikirkan apa yang harus aku tuliskan.
Rasanya hampir malas jari-jari ini mengetikkan satu per satu
huruf-huruf menjadi kata dan kalimat, dan kadang jenuh……meski bukan
aku seorang yang merasakan.


Duniaku, entah apakah ini harus aku jalani semua demi bukan
keinginanku, demi tugas dan kewajibanku, demi yang aku tak mengerti
berakhir sedih atau bahagia, toh seperti seorang anak kecil yang
menangis, menggapai-gapai keinginan namun tangan tak sampai, kemudian
mama yang mengambilkan, kemudian anak kecil itupun terdiam dan tenang
bermain.


Ku buka jendela di pagi ini, angin dingin bertiup menyapu muka dan
membasuh dinding-dinding kamar yang lusuh dan pengap. Bukankah hari
ini adalah seperti hari kemarin ? hari yang seseorang harus tetap
konsisten dalam kebenaran?, tak cukup kebenaran dipidatokan, tak
pantas hanya dituliskan tanpa keteguhan dan perbuatan.

Seseorang harus tetap berbuat benar meski dengan resiko berdarah-darah….

Senin, 16 Februari 2009

Berkata Benar Walaupun Pahit

Katakan Yang Benar meskipun pahit

Katakan Yang Benar meskipun pahit

sumber, http://mubarok-institute.blogspot.com

Sebenarnyalah bahwa jiwa manusia didesain untuk berbuat jujur. Dalam
al Qur'an disebutkan; laha ma kasabat wa `alaiha ma iktasabat;
(Q/2:286) artinya, bahwa manusia akan memperoleh pahala atas
perbuatan baik yang dikerjakan, dan memperoleh hukuman dari perbuatan
buruk yang dilakukan. Kalimat kasabat mengandung arti mudah
mengerjakan, sedang kalimat iktasabat mengandung arti sulit
mengerjakan.

Jadi maknanya, manusia jika bertindak jujur, mengerjakan perbuatan
kebaikan, maka secara psikologis ia akan melakukannya dengan nyaman,
karena tidak disertai oleh konflik batin. Tetapi untuk tidak jujur,
untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan bisikan hati
nuraninya, maka manusia harus bersusah payah "berjuang" melawan
nurani¬nya sendiri yang tidak mau diajak kompromi. Seseorang, ketika
pertamakali melakukan kebohongan, maka ia berdebar-debar, bingung
bahkan susah tidur karena terganggu oleh pikiran dan perasaan
bagaimana harus meluruskan kebohongan yang sudah terlanjur dilakukan.
Untuk kebohongan kedua, gangguan itu semakin terasa berkurang, dan
jika ia sudah menjadi pembohong "profesional " maka baginya berbohong
atau jujur tak ubahnya pekerjaan memasang kaset, dan dalam keadaan
demikian, ia akan sulit melakukan introspeksi karena nuraninya
bagaikan cermin yang retak-retak.

Kejujuran dan kebohongan bukan sesuatu yang berdiri sendiri tetapi
berkaitan dengan keadaan sebelumnya dan membawa implikasi pada
sesudah¬nya. Kebohongan dilakukan seseorang untuk berbagai tujuan;
misalnya untuk memperoleh keuntungan materi secara tidak fair, untuk
membuat kesal atau mencelakakan orang lain, dan adakalanya untuk
menutupi kebohongan yang lain. Implikasi dari kebohongan juga berbeda-
beda. Jika kebohongan itu pada hal yang bersifat informasi,
implikasinya bisa menyesatkan atau mencelakakan orang lain. Jika
kebohongannya pada janji, maka implikasinya pada mengecewakan atau
merugikan orang lain. Jika kebohongannya pada sumpah maka
implikasinya pada merugikan dan mencelakakan orang lain.

Nabi bersabda; Sesunggguhnya kebohongan adalah satu diantara
beberapa pintu kemunafikan, innal kizba babun min abwab an nifaq.
Jadi orang yang melakukan kebohongan berarti sedang berada dalam
proses menjadi seorang munafik. Kata Nabi, tanda-tanda orang munafik
itu ada tiga; (1) jika berkata, ia berdusta, (2) jika berjanji, ia
ingkar dan (3) jika diberi kepercayaan, ia berkhianat.

Seseorang jika sudah sering berbohong, apalagi jika sudah menjadi
pembohong profesional, maka berkata benar merupakan pekerjaan yang
sangat berat bagaikan meminum obat yang pahit. Oleh karena itu Nabi
bersabda; Katakanlah yang benar meskipun pahit, Qul al haqqa walau
kana murran. Hadis ini sering disalah artikan, yakni dijadikan dasar
untuk berani membongkar kesalahan pejabat di depan umum, padahal
hadis ini juga ditujukan kepada setiap orang agar ia berani mengakui
kesalahannya secara terbuka, meski berat. Membuka kesalahan orang
lain, apalagi jika orang itu public figur, adalah pekerjaan yang
menarik syahwat, kebalikan dari mengakui kesalahan sendiri secara
terbuka.

Jika kebohongan merupakan pintu kemunafikan, maka kejujuran merupakan
pintu amanah. Sebagai contoh, Nabi memiliki sifat siddiq (benar dan
jujur), maka sifat lain yang menyertainya adalah amanah
(tanggungjawab), fathanah (cerdas) dan tabligh (menyam¬paikan secara
terbuka apa yang mesti di¬sampaikan). Kebalikannya, dusta (kizib)
akan diiringi oleh sifat curang (khiyanah), bodoh, yakni melakukan
perbuatan bodoh (jahil) dan menyembunyikan apa yang semestinya
disampaikan secara terbuka (kitman).

Manajemen Kejujuran
Manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak akan secara otomatis menjadi
pembohong atau jujur. Seorang yang jujur, lama kelamaan bisa menjadi
pembohong jika peluangnya terbuka, sebaliknya pembohong bisa
di¬batasi ruang geraknya oleh sistem pengawasan. Untuk membangun
masyarakat dan bangsa yang beradab dan bermartabat, dibutuhkan sistem
yang memberi reward kepada orang jujur dan manajemen transparansi
yang mempersempit ruang kebohongan. Jika sistem ini berlangsung lama,
maka kebohongan akan dipandang aneh oleh masyarakat. Penulis pernah
menjumpai di Washington, koran dijual tanpa penunggu. Setiap orang
yang mau beli, cukup menaroh uang $1, di kotak dan mengambil satu
koran, dan nampaknya tidak ada orang yang berfikir untuk mengambil
lebih dari yang dibayar. Juga ada pintu tol yang tidak dijaga dimana
setiap pengendara cukup memasukkan uang ke kotak yang disediakan.
Sistem ini pasti belum bisa diterapkan di Jakarta, karena masih
banyak orang berfikir, jika bisa tidak membayar kenapa mesti bayar?

Membangun budaya jujur dan membatasi ruang gerak kebohongan memang
tidak mudah, tetapi sinergi antara sistem pendidikan, penegakan
hukum, transpa¬ransi administrasi publik, sudah barang tentu
keteladanan para pemimpin, pasti akan sangat efektif. Insya Allah.

sumber, http://mubarok-institute.blogspot.com

Salam Cinta,
agussyafii