Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2020

Kapan Sayyidina Muhammad SAW Menjadi Nabi?

Ada yang bilang bahwa Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi sejak awal sebelum usia 40 tahun, bahkan sebelum Adam tercipta. Itu tidak benar. Nabi Muhammad jelas baru menjadi Nabi setelah berusia 40 tahun, sebelum itu belum menjadi Nabi meskipun sudah ada berbagai kejadian luar biasa yang menunjukkan bahwa beliau spesial. Kejadian luar biasa tersebut istilahnya irhash, bukan mukjizat sebab istilah mukjizat hanya bagi mereka yang telah diangkat menjadi Nabi saja. Hadis yang menceritakan bahwa beliau diangkat sebagai Nabi tatkala berusia 40 tahun cukup banyak. Di antaranya adalah: عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ، قالَ: «بُعِثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وهُوَ ابْنُ أرْبَعِينَ سَنَةً "Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah diangkat menjadi Nabi tatkala berusia 40 tahun"  Sebenarnya dalil di atas sudah cukup, tapi sebagian orang betul-betul meyakini sebelum Itu Nabi Muhammad sudah menjadi Nabi meskipun belum mendapat wahyu pertamanya. Mereka juga menguatkan pendapatnya dengan beberapa hadis. Untuk itu per

Ngaji Bareng Gus Baha' Jilid 7

Klik tautan- tautan di bawah ini untuk dapat mendengarkan pengajian dari Gus Baha' : 186. Pengajian Bareng Gus Baha' 187. Pengajian Bareng Gus Baha' 188. Pengajian Bareng Gus Baha' 189. Pengajian Bareng Gus Baha' 190. Pengajian Bareng Gus Baha' 191. Pengajian Bareng Gus Baha' 192. Pengajian Bareng Gus Baha' 193. Pengajian Bareng Gus Baha' 194. Pengajian Bareng Gus Baha' 195. Pengajian Bareng Gus Baha' 196. Pengajian Bareng Gus Baha' 197. Pengajian Bareng Gus Baha' 198. Pengajian Bareng Gus Baha' 199. Pengajian Bareng Gus Baha' 200. Pengajian Bareng Gus Baha' 201. Pengajian Bareng Gus Baha' 202. Pengajian Bareng Gus Baha' 203. Pengajian Bareng Gus Baha' 204. Pengajian Bareng Gus Baha' 205. Pengajian Bareng Gus Baha'

Keinginan Untuk Mendapatkan Sirrul Inayah

عَلِمَ اَنَّ الْعِبَادَ يَتَشَوَّقـُونَ اِلىَ ظُهُورِ سِـرِّالعِنَـَايَةِ فَقاَلَ :يَـخْتـَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَّـَشَـاءُ. وَعَلِمَ اَنّـَهُ لَوْ خَلاَّ هُمْ وَذَالكَ لَتَرَكُواالعملَ إعْتِمَادًا علىْ الاَزَلِ فَقاَلَ: إنَّ رَحْمَة َ اللهِ قَرِيْبٌ مِنَ المُحْسِنِيـْنَ “ Allah telah mengetahui bahwa hamba-hamba ingin mendapat rahasia (kebesaran) karunia الله (sirrul ‘inayah), maka الله berfirman: “الله sendiri yang menentukan (menghususkan) rahmat dan karunia pada siapa yang dikehendaki” , dan الله mengetahui andaikan manusia dibiarkan (mengetahui rahasianya), mungkin mereka meninggalkan amal usaha karena berserah pada keputusan dizaman ‘azal, karena itu الله berfirman: “Sesungguhnya rahmat الله itu dekat pada orang-orang yang berbuat kebaikan." Sir itu berarti: semua perkara yang ditutupi, karena itu sir dirahasiakan pada kita. ‘Inayah berarti: bersambungnya Irodah (kehendak الله) dengan berhasilnya Sir di masa yang akan datang. Berhubung الله mengetahui bahwa

Ngaji Bareng Gus Baha' Jilid 6

Klik tautan-tautan dibawah ini untuk dapat mendengarkan pengajian dari Gus Baha' : 135. Pengajian Bareng Gus Baha' 136. Pengajian Bareng Gus Baha' 137. Pengajian Bareng Gus Baha' 138. Pengajian Bareng Gus Baha' 139. Pengajian Bareng Gus Baha' 140. Pengajian Bareng Gus Baha' 141. Pengajian Bareng Gus Baha' 142. Pengajian Bareng Gus Baha' 143. Pengajian Bareng Gus Baha' 144. Pengajian Bareng Gus Baha' 145. Pengajian Bareng Gus Baha' 146. Pengajian Bareng Gus Baha' 147. Pengajian Bareng Gus Baha' 148. Pengajian Bareng Gus Baha' 149. Pengajian Bareng Gus Baha' 150. Pengajian Bareng Gus Baha' 151. Pengajian Bareng Gus Baha' 152. Pengajian Bareng Gus Baha' 153. Pengajian Bareng Gus Baha' 154. Pengajian Bareng Gus Baha' 155. Pengajian Bareng Gus Baha' 156. Pengajian Bareng Gus Baha' 157. Pengajian Bareng Gus Baha' 158. Pengajian Bareng Gus Baha' 159. Pengajian Bareng Gus Baha' 1

Bagian Nafsu Dalam Ibadah

حظ النفس فى المعصية ظاهرٌجليٌّ، وحظها فى الطاعة باطن خفيٌّ ومدواة ما يخفى صعبٌ علاجهُ “ Bagiannya hawa nafsu dalam perbuatan maksiat itu sangat jelas dan terang, sedangkan bagian nafsu dalam perbuatan taat (ibadah) itu halus dan samar, untuk mengobati yang samar itu itu sangat sulit penyembuhannya." Ketahuilah bahwa hawa nafsu itu selalu ambil bagian/ peran baik dalam maksiat atau dalam taat (ibadah).  Kepentingan nafsu dalam maksiat itu jelas, seperti zina, minum-minuman keras, dia jelas merasakan enaknya dan kepuasannya. Karena nafsu mengajak maksiat itu tujuannya hanya ingin merasakan kenikmatan dan kepuasan dan akhirnya terjadi bencana dan kehinaan. Sedangkan bagian nafsu dalam taat/ ibadah, sangatlah halus dan samar untuk diketahui dan disadari. Karena dalam taat/ ibadah itu nafsu akan merasa berat, karena semua ibadah itu selalu bertentangan dengan hawa nafsu. Jadi apabila nafsu memerintahkan untuk ibadah maka waspadalah! Dan telitilah apakah ada kepentingan

Doa Bukan Penyebab Allah Memberi

لا يَكُنْ طَلَبُكَ تَسَـبُّـبًا اِلى العَطَاءِ مِنْهُ فَيَقِلَّ فَهْمُكَ عَنْهُ وَاليَكُنْ طَلَبُكَ لاِظْهارِ العُبُودِ يَّةِ وَقياماً بِحُقُوقِ الرُّبُوبيَّةِ “ Jangan sampai do’a permintaanmu itu engkau jadikan alat/ sebab untuk mencapai pemberian الله (jangan punya i’tiqod bahwa pemberian الله itu sebab do’amu), niscaya akan kurang pengertianmu (makrifatmu) kepada الله, tetapi hendaknya do’a permintaanmu itu semata-mata untuk menunjukkan kerendahan, kehambaanmu dan menunaikan kewajiban terhadap keTuhanannya الله." الله سبحانه وتعالى. Telah memerintahkan hambaNya untuk berdo’a dan meminta kepadaNya, tujuan utamanya hanya supaya hamba benar-benar menunjukkan sifat fakir, hina dan bodohnya dihadapan الله, bukan untuk sebab/ alat menghasilkan apa yang diminta. Hikmah dan pemahaman ini bagi orang yang sudah Arif billah, yang mereka tidak pernah berhenti dan bosan meminta kepada الله, walaupun tidak diberikan apa yang diminta, bagi mereka antara diberi atau tidak itu sa

Hijabnya Makhluk

إِنَّمَا حَجَبَ اْلحَقَّ عَنْكَ شِدَّةَُ قُرْبِهِ مِنْكَ. “ Sesungguhnya yang menghijab (menghalangi) engkau daripada melihat الله, itu karena sangat dekatnya الله kepadamu." Bisa dimaklumi, bahwa panca indera manusia itu sangatlah terbatas, contohnya mata untuk bisa melihat, haruslah tepat pada ukurannya, terlalu jauh tidak akan kelihatan begitu juga terlalu dekat, juga tidak akan kelihatan. Seperti kalau kita baca tulisan yang kita dekatkan dan menempel pada mata tentu tidak akan bisa terbaca. Begitu juga الله, kita tidak bisa melihat الله, karena terlalu dekatnya الله, الله meliputi kita dengan cara yang sangat sempurna. الله berfirman : “Dan Aku lebih dekat (kepada mayyit) dari pada kamu semua, akan tetapi kamu semua tidak tahu” Hikmah ini tidak bisa difahami dengan sempurna kecuali orang-orang yang mata hatinya sudah terbuka terang, yang bisa melihat pendhohiran الله pada makhluknya. إنَّمَا احْتَجَبَ لِشِدَّة ِظُهُرِهِ وَخَفِيَ عَنِ الاَبْصَارِ لِعَظِيمِ نُو

Maqom Ma'rifat, Fana', dan Cinta

مَنْ عَرَفَ الحَقَّ شَهِدهُ فِىْ كُلِّ شَىءٍ “Barang siapa yang benar-benar mengenal الله (berada dimaqom Ma’rifatulloh), pasti dapat melihatNya pada tiap segala sesuatu." وَمَنْ فَنِيَ بِهِ غَابَ عَنْ كُلِّ شىءٍ “ Barang siapa yang fana’ sebab melihat الله (berada dimaqom Fana’), pasti ia lupa (ghoib) dari segala sesuatu." Jadi orang yang sudah berada di maqom fana’, mereka sudah tidak melihat apa yang ada di alam ini kecuali hanya الله, dan orang tersebut sudah lupa pada dirinya, tidak merasakan apa yang ada pada dirinya, mereka sudah tidak melihat sifat wujud dan nyata pada apa yang dilihat. Berbeda dengan orang yang berada dimaqom ma’rifat, mereka melihat makhluk dan juga melihat الله yang menciptakan makhluk, mereka dengan jelas melihat الله pada setiap perkara yang wujud(makhluk), jadi para arif itu masih merasa dirinya ada, dan masih melihat adanya makhluk. وَمَنْ اَحَبَّهُ لَمْ يُوءْ ثِـرعَلَيهِ شَيـءـاً “ Dan barang siapa yang cinta pada الله (berada d

Manfaat Al Qabdh dan Al Basthu

ربّما افادك في ليل القبض مالم تستفده في إشراق نهارالبسط لاتدْرُون ايّهُمْ اَقرَبُ لكم نفعًا. “Terkadang الله memberikan padamu faidah ilmu ma’rifat pada saat kesedihan (qobdh) yang digambarkan seperti gelapnya malam. Yang tidak kau dapatkan dalam keadaan lapang /kesenangan (basth) yang di gambarkan terangnya siang. Kamu semua tidak mengetahui manakah yang lebih bermanfaat bagimu." Dalam hikmah ke 90-92 telah diterangkan tentang al-qobdhu dan al-basthu, bahwa orang yang diberi kesenangan/ kelapangan (basth) yang nafsunya ikut mendapatkan bagiannya, yang terkadang menjadikan sebab terhijab dengan الله. Berbeda ketika orang yang dalam kondisi susah, sedih hatinya nafsunya akan lemah dan merasa sangat berhajat kepada الله, yang menjadikan sebabnya الله memberikan suatu kenikmatan yang hakiki,yaitu ilmu dan ma’rifat. Sebagaimana diterangkan lagi pada hikmah 161 ini. Sehingga orang-orang Arif sama memilih keadaan qobdh daripada basth. Tapi pada umumnya manusia memilih kes

Hati Menjadi Sumbernya Nur

مطالعُ الانوارالقلوب والاسرارُ “Sumbernya berbagai Nur cahaya Ilahi (nur ilmu bagaikan bintang, nur ma’rifat bagaikan bulan dan nur tauhid bagaikan matahari) itu dalam hati manusia dan rahasia-rahasianya (asror) ." Hati dan sirnya para ‘Arifiin itu ibaratnya seperti langit yang menjadi tempat berjuta-juta bintang, bulan dan matahari. Seperti yang sudah diterangkan pada hikmah yang terdahulu bahwa nur yang keluar dari hati ‘Arifiin itu lebih terang dibandingkan sinarnya bintang, bulan dan matahari. Sebagian Arifiin berkata: Andaikan الله membuka Nur hatinya para waliyulloh, niscaya cahaya matahari ,bulan akan suram (kalah). Sebab cahaya matahari dan bulan bisa tenggelam dan gerhana, sedangkan Nur hati para wali itu tidak bisa tenggelam dan gerhana. Dalam hadits qudsi, رَسُول اللهﷺ bersabda, Firman الله : Tidak cukup untukKu bumi dan langitKu, tetapi yang cukup bagiku hanya Hati hambaKu yang beriman. Syeih Abul Hasan As-syadzily رضي الله عنه. berkata: Andaikan الله me

Amal Jangan Ingin Dilihat Orang

غيّبْ نَظَرَالخلقِ اِليْكَ بِنَظَرِاللهِ اِليْكَ، وَغِبْ عَنْ اِقْبالهِمْ عَلَيْكَ بِشُهودِ اِقْبالِهِ عَلَيْكَ “ Hilangkan pandangan makhluk kepadamu, karena puas dengan penglihatan الله kepadamu, dan hilangkan perhatian (menghadapnya) makhluk kepadamu, karena yakin bahwa الله menghadapimu." Sebagai murid jangan terpengruh dengan penglihatan , perhatian dan pujian orang lain, karena الله selalu melihat dan memperhatikan kamu. Sebagai gambaran: sebagai seorang murid ketika kita dilihat dan diawasi oleh guru kita, tentu kita lupa dan tidak memperhatikan kalau kita sedang dilihat dan diawasi oleh orang lain. Begitu juga ketika guru kita berada dihadapan kita, tentu kita tidak akan memperdulikan orang lain yang menghadap kita. Apalagi yang melihat, mengawasi dan menghadapi kita itu الله, tentunya semua makhluk tidak ada artinya. Syeih Sahl bin Abdulloh At-Tustary berkata kepada kawan-kawannya: Seseorang tidak akan dapat mencapai hakikat kewalian sehingga menghilangka

Allah SWT Tidak Membuat Tanda Kewalian

سبحان من لم يجعل الدليلَ علىٰ اولياءه الامن حيث الدليلُ عليه ولم يوصل اليهم الا من اراد ان يوصله اليه “Maha suci الله yang sengaja tidak membuat tanda untuk para walinya, kecuali sekedar perkara yang menunjukan kepada الله, dan الله tidak akan mempertemukan dengan mereka kecuali pada orang yang dikehendaki akan wushul (sampai) kepada الله." Sebagaimana telah diterangkan pada hikmah sebelumnya, yaitu الله menutupi Nur cahaya kewalian, begitu juga الله menutupi para wali-waliNya, dengan amal-amal lahir, seperti bekerja, makan, minum, sakit dan lain-lain. Jadi sangatlah sulit untuk mengenali waliyulloh itu, karena mereka juga seperti kita keadaan lahirnya. Syeih Abul-Abbas al-Mursy berkata: untuk mengenal Waliyyulloh itu lebih sulit dari pada mengenal الله, sebab الله mudah dikenal dengan adanya bukti-bukti kebesaran, kekuasaan dan keindahan buatanNya. Tetapi untuk mengetahui seorang yang sama dengan kamu, makan, minum menderita segala penderitaanmu sungguh sangat suk

Jangan Putus Asa

إذا وقع منك ذنب فلا يكن سببالياءْسك من حصول الاستـقامة مع ربّك فقد يكون ذٰلك اٰخرذنب قدّر عليكَ. “Jika engkau terlanjur melakukan dosa, maka jangan sampai menyebabkan engkau putus asa untuk mendapatkan istiqomah menghadap Tuhanmu, sebab kemungkinan dosa itu yang kau lakukan itu sebagai dosa terahir yang telah ditakdirkan Tuhan bagimu." Engkau jangan putus asa dengan merasa tidak mungkin bisa istiqomah dalam menghamba pada الله,(sehingga mendorong kamu melakukan dosa-dosa yang lainnya) karena engkau terlanjur melakukan dosa, Perbuatan dosa itu tidak menyalahi istiqomah dalam kehambaan, kalau semata-mata terlanjur, dengan tidak ada sifat gembira dalam melakukan dosa itu, sebab manusia tidak mungkin mengelak dari takdir yang telah ditulis baginya. Kewajiban kamu ketika terlanjur berbuat dosa yaitu harus segera bertaubat. Sumber : https://telegram.me/kitabhikam

Sifat Kekanak-kanakan

متى كنت اذا اُعطيتَ بسطك العطاءُوإذامنعت قبضك المنع فاستدلّ بذالك على ثبوت طفوليّتك وعدم صدقك في عبوديتك “Apabila kamu ketika diberi (rizki) oleh الله, merasa gembira karena pemberian itu, dan jika ditolak (tidak diberi) hatinya merasa sedih karena penolakan itu, maka ketahuilah, yang demikan itu sebagai tanda adanya sifat kekanak-kanakan padamu, dan belum bersungguh-sungguh dalam sifat ke-hambaanmu kepada الله." Ketika suasana hatimu masih selalu berubah-ubah ketika menerima nikmat atau mendapat balak/ ujian. Maka nyata bahwa masih dipengaruhi oleh hawa nafsu, dan belum sungguh-sungguh dalam kedudukan kehambaan kepada الله, dan pengertian terhadap hikmah rahmat الله terhadap semua makhluknya. Sumber : https://telegram.me/kitabhikam

Roja' dan Khouf

اذااَرادْتَ ان يفْتحَ لك باب الرجاءِ فاشهد مامنه اليكَ، واذا اردت ان يفتح لك باب الخوف فاشهد مامنك إليهِ. “Apabila engkau ingin dibukakan الله pintu roja’/ harapan, maka perhatikan kebesaran nikmat pemberian الله padamu yang berlimpah. Dan apabila engkau ingin dibukakan pintu khauf/ takut,maka perhatikan hati dan amal ibadahmu kepada الله." Hikmah ini menjelaskan dua cara untuk bertaqarrub kepada الله yaitu : 1.Roja’ (berharap hanya kepada الله), caranya: selalu memperhatikan apa yang ada pada dirimu dari nikmat pemberian الله, macam-macamnya manfaat yang diberikan kepadamu, dan dihindarkan dari macam-macamnya bala’ bencana mulai dari kamu dalm kandungan ibumu sampai saat ini. Sehingga hati kamu bisa berharap secara optimis dan husnud-dhon kepada الله dan tidak akan putus asa. 2. Khouf (Takut hanya kepada الله), caranya: selalu memperhatikan apa-apa dari dirimu tentang kekurangan dan kecurangan mu dalam menghamba kepada الله, adab yang kurang baik terhadap الله. S

Kenapa Makhluk Bisa Terlihat ?

اظهركلّ شيءلانه الباطن وطوى وجودكلّ شيءلانه الظاهر “Allah yang mendhohirkan segala sesuatu (makhluk) sehingga bisa dilihat, karena Dia bersifat Batin, dan الله melipat/ menyembunylkan wujudnya segala suatu, karena الله itu Dzat yang bersifat Dhohir." Ya’ni sebab الله mempunyai sifat Bathin maka الله mendhohirkan semua makhluk, sebab makhluk itu tidak bisa terlihat kecuali dengan Nur الله, Dan الله melipat/ menyembunyikan makhluk sebab الله bersifat dhohir, tidak ada makhluk yang menyekutukan الله dalam sifat, dzat dan af’alnya الله. Artinya الله tidak menjadikan sifat wujud dengan dzatnya/ hakiki pada selain الله.  Semua makhluk itu ‘adam yang hakiki, dan semua makhluk itu tidak wujud kecuali dengan wujudnya الله. Sumber : https://telegram.me/kitabhikam

Lihat dan Pelajari Alam Ini

اباح لك ان تنظر في الممكوّنات وما اذن لك ان تقف مع ذوات المكوّنات قل انظروا ماذافى السماوات؟ فتح لك باب الافهام ولم يقل: انظرواالسماوات لـءلا يدلك على وجودالاجرام “Allah memperbolehkan kamu melihat alam sekitarmu (makhluk), tetapi الله tidak mengizinkan engkau berhenti pada benda-benda di alam ini (makhluk). Sebagaimana firman الله : katakanlah: perhatikanlah apa-apa yang di langit. Semoga الله membuka kefahaman padamu, الله tidak brkata : perhatikan langi-langt itu. Supaya tidak menunjukkan padamu adanya benda-benda itu." Pada hikmah sebelumnya mushonnif menerangkan tentang wujud/ adanya alam (bisa terlihat)itu karena Nur dari الله. الله نور السموات والارض (الله itulah yang menerangi langit dan bumi). dan pada hikmah ini kita dituntun untuk bisa melihat dan mempelajari alam ini. الله mengizinkan kita untuk melihat cipatanNya supaya kita bisa bisa melihat bahwa semua itu ciptaan الله, jangan sampai kita terjebak/berhenti hanya melihat/memperhatikan bendanya, sehi

Sikap Kita Ketika Dipuji Orang Lain

الناس يمدحونك لمايظنونه فيك فكن انت ذامّالنفسك لماتعلمه منها ”Orang-orang yang memuji padamu disebabkan oleh apa yang mereka sangka yang ada padamu, karena itu engkau harus mencela dirimu, karena apa-apa (aib) yang engkau ketahui pada dirimu." Kamu jangan sampai terpengruh/ tertipu dengan pujian orang-orang yang tidak mengetahui hakikatnya dirimu, tetapi kamu harus kembali melihat dirimu dengan mencela dirimu sebab perbuatanmu yang terbalik/ tidak sama dengan prasangka orang lain pada dirimu. Maka dari itu Sayyidina Ali berdo’a : “Allahumaj-alnaa khoirom-mimmaa yadhun-nuna,- walaa-tu-aakhidz-naa bimaa yaquuluuna ,- wagh-fir lanaa- maa-laa ya’lmuuna”. (Ya الله, jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka, dan jangan Engkau siksa mereka sebab ucapan mereka terhadap diriku, dan ampunilah semua dosaku yang tidak diketahui mereka.) Dan siapa yang merasa senang dengan pujian orang lain terhadap dirinya, berarti dia telah memberi kesempatan pada setan untuk masu

Ngaji bareng Gus Baha Jilid 5

Silahkan klik tautan di bawah ini untuk dapat mendengarkan Pengajian dari Gus Baha' : 57. Pengajian Bareng Gus Baha' 59. Pengajian Bareng Gus Baha' 60. Pengajian Bareng Gus Baha' 61. Pengajian Bareng Gus Baha' 62. Pengajian Bareng Gus Baha' 63. Pengajian Bareng Gus Baha' 64. Pengajian Bareng Gus Baha' 65. Pengajian Bareng Gus Baha' 66. Pengajian Bareng Gus Baha' 67. Pengajian Bareng Gus Baha' 68. Pengajian Bareng Gus Baha' 69. Pengajian Bareng Gus Baha' 70. Pengajian Bareng Gus Baha' 71. Pengajian Bareng Gus Baha' 72. Pengajian Bareng Gus Baha' 73. Pengajian Bareng Gus Baha' 74. Pengajian Bareng Gus Baha' 75. Pengajian Bareng Gus Baha' 76. Pengajian Bareng Gus Baha' 78. Pengajian Bareng Gus Baha' 79. Pengajian Bareng Gus Baha' 80. Pengajian Bareng Gus Baha' 81. Pengajian Bareng Gus Baha' 82. Pengajian Bareng Gus Baha' 83. Pengajian Bareng Gus Baha' 84. Pengajian Bareng Gus Baha&#

Ngaji Bareng Gus Baha' Jilid 4

Klik tautan di bawah ini untuk mendengarkan pengajian dari Gus Baha' , Semoga bermanfaat : 28. Ngaji Bareng Gus Baha' 29. Ngaji Bareng Gus Baha' 30. Ngaji Bareng Gus Baha' 31. Ngaji Bareng Gus Baha' 32. Ngaji Bareng Gus Baha' 33. Ngaji Bareng Gus Baha' 34. Ngaji Bareng Gus Baha' 35. Ngaji Bareng Gus Baha' 36. Ngaji Bareng Gus Baha' 37. Ngaji Bareng Gus Baha' 38. Ngaji Bareng Gus Baha' 39. Ngaji Bareng Gus Baha' 40. Ngaji Bareng Gus Baha' 41. Ngaji Bareng Gus Baha' 42. Ngaji Bareng Gus Baha' 43. Ngaji Bareng Gus Baha' 44. Ngaji Bareng Gus Baha' 45. Ngaji Bareng Gus Baha' 46. Ngaji Bareng Gus Baha' 47. Ngaji Bareng Gus Baha' 48. Ngaji Bareng Gus Baha' 49. Ngaji Bareng Gus Baha' 50. Ngaji Bareng Gus Baha' 51. Ngaji Bareng Gus Baha' 52. Ngaji Bareng Gus Baha' 53. Ngaji Bareng Gus Baha' 54. Ngaji Bareng Gus Baha' 55. Ngaji Bareng Gus Baha' 56. Ngaji Bareng Gus Baha

Ngaji Bareng Gus Baha' Jilid 3

Silahkan klik tautan di bawah ini untuk dapat mendengarkan pengajian dari Gus Baha' 1. Ngaji Bareng Gus Baha' 2. Ngaji Bareng Gus Baha' 3. Ngaji Bareng Gus Baha' 4. Ngaji Bareng Gus Baha' 5. Ngaji Bareng Gus Baha' 6. Ngaji Bareng Gus Baha' 7. Ngaji Bareng Gus Baha' 8. Ngaji bareng Gus Baha' 9. Ngaji bareng Gus Baha' 10. Ngaji Bareng Gus Baha' 11. Ngaji Bareng Gus Baha' 12. Ngaji Bareng Gus Baha' 13. Ngaji Bareng Gus Baha' 14. Ngaji Bareng Gus Baha' 15. Ngaji Bareng Gus Baha' 16. Ngaji Bareng Gus Baha 17. Ngaji Bareng Gus Baha' 18. Ngaji Bareng Gus Baha' 19. Ngaji Bareng Gus Baha' 20. Ngaji Bareng Gus Baha' 21. Ngaji Bareng Gus Baha' 22. Ngaji Bareng Gus Baha' 23. Ngaji Bareng Gus Baha' 24. Ngaji Bareng Gus Baha' 25. Ngaji Bareng Gus Baha' 26. Ngaji Bareng Gus Baha' 27. Ngaji Bareng Gus Baha'