Sabtu, 27 Juni 2020

Allah SWT Tidak Membuat Tanda Kewalian


سبحان من لم يجعل الدليلَ علىٰ اولياءه الامن حيث الدليلُ عليه
ولم يوصل اليهم الا من اراد ان يوصله اليه

“Maha suci الله yang sengaja tidak membuat tanda untuk para walinya, kecuali sekedar perkara yang menunjukan kepada الله, dan الله tidak akan mempertemukan dengan mereka kecuali pada orang yang dikehendaki akan wushul (sampai) kepada الله."

Sebagaimana telah diterangkan pada hikmah sebelumnya, yaitu الله menutupi Nur cahaya kewalian, begitu juga الله menutupi para wali-waliNya, dengan amal-amal lahir, seperti bekerja, makan, minum, sakit dan lain-lain. Jadi sangatlah sulit untuk mengenali waliyulloh itu, karena mereka juga seperti kita keadaan lahirnya.
Syeih Abul-Abbas al-Mursy berkata: untuk mengenal Waliyyulloh itu lebih sulit dari pada mengenal الله, sebab الله mudah dikenal dengan adanya bukti-bukti kebesaran, kekuasaan dan keindahan buatanNya. Tetapi untuk mengetahui seorang yang sama dengan kamu, makan, minum menderita segala penderitaanmu sungguh sangat sukar. Tetapi jika الله memperkenalkan kamu dengan seorang wali, maka الله menutupi sifat-sifat manusia biasanya dan memperlihatkan kepadamu keistimewaan-keistimewaan yang diberikan الله kepada wali itu.

Dalam hadits qudsi الله berfirman: Para waliku dibawah naunganku, tiada yang mengenal mereka dan mendekat pada seorang wali, kecuali jika الله memberikan taufiq hidayahNya. Supaya ia juga langsung mengenal kepada الله dan kebesaranNya yang diberikan الله kepada seorang hamba yang dikehendakiNya.

Syeih abu Ali Al-Jurjay berkata: Seorang wali itu orang yang fana’ lupa pada dirinya dan tetap Baqo’ dalam musyahadah dan melihat Tuhan. الله mengatur segala-galanya, maka karena itu terus-menerus datang kepadanya Nur Ilahi.

Maka jika الله menghendaki memperkenalkan kamu dengan waliNya, itu suatu anugerah yang sangat besar yang wajib kamu syukuri, karena dengan itu berarti الله menghendaki kamu bisa wushul kepada الله. Karena wali itu kekasih الله, الله tidak menghendaki selain kekasihnya berkumpul dengan kekasihnya. (Laa ya’riful waliy illal-waliy).

رُبّمَا اطلعك على غيب ملكَوته وحجب عنك الإستشراف على اسرارالعباد.

“Terkadang الله memperlihatkan kepadamu sebagian dari keghoiban alam malakut (keadaan di atas langit), tetapi الله menutupi dari kamu mengetahui rahasia-rahasia hambaNya."

Adakalanya الله memperlihatkan kepada Walinya alam malakut, sehingga ia bisa mengetahui segala sesuatu yang ghoib dalam alam malakut, tetapi karena rahmat الله kepadanya tidak dibukakan padanya jalan untuk mengetahui rahasia-rahasia hati sesama manusia, itu supaya tidak ikut campur dalam urusan dan kebijaksanaan الله yang berlaku pada hambanya, selanjutnya mu’allif dawuh :

 منِ اطلع على اسرار العباد ولم يتخلق بالرحمة الإلٰهيّة كان اطلاعهُ فتـنة عليه وسببا لجرّ الوبال اليه

“Barang siapa yang dapat melihat rahasia hati manusia sedang ia tidak meniru sifat belas kasih (Rahmat) Tuhan, maka pengetahuan itu menjadi fitnah baginya,dan menjadi sebab datangnya  (bala’) bahaya bagi dirinya sendiri."

Orang yang tidak dibukakan kasyaf untuk bisa melihat rahasia dalam hati sesama manusia itu termasuk karunia belas kasih dari الله, sebab apabila dia dibukakan kasyaf sehingga bisa mengetahui rahasia hati orang lain, tapi dia tidak meniru sifat rahmat dan ampunan الله, seperti tidak mau menutupi aib orang lain, tidak mau memaafkan kesalahan orang lain, tidak kasihan pada orang yang berbuat dosa/ kesalahan, maka kasyaf yang demikian akan menjadi fitnah bagi yang diberi, dan menjadi ujian yang berat baginya, bahkan akan menjadi sebab datangnya bencana bagi dirinya.

  رَسُول اللهﷺ  bersabda: “Tidak akan dicabut sifat rahmat belas kasih kecuali dari hati orang yang celaka”. 

 Dan sabdanya lagi:

الراحمونَ يَرْحمهمُ الرَحْمن، اِرحَمُوامَنْ فى الارضِ يَرْحمكُم من فى السمَاءِ.
 
“orang yang belas kasih, dikasihi oleh الله (ar-rohman), karena itu kasihanilah orang yang di bumi niscaya kamu dikasihi orang yang di langit”.

Diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim  عليه السلام Pernah merasa dalam hatinya, seolah –olah ia sangat belas kasih terhadap makhluk, maka الله membuka kasyaf sehingga bisa melihat alam Malakut, dan bisa melihat semua penduduk bumi dan segala perbuatannya,  dan ketika Nabi Ibrohim melihat orang yang berbuat dosa/ durhaka, ia berdo’a: Ya الله, binasakanlah mereka. Dan seketika orang itu mati, dan itu berulangkali dilakukan Nabi Ibrohim,. Lalu الله memberi wahyu pada Nabi Ibrohim : hai Ibrohim, engkau itu seorang yang mustajab do’a maka jangan engkau gunakan untuk membinasakan hambaku, karena hambaku itu salah satu dari tiga golongan :

1. Ada kalanya Dia mau bertaubat, dan Aku ampuni dosa-dosanya. 
2. Ada kalanya dia akan menurunkan keturunan yang taat dan bertasbih padaku. Dan 
3. Ada kalanya ia kembali menghadap padaKu, maka terserah bagi Aku untuk mengampunkan dosanya atau menyiksanya.

  Ada keterangan ulama’ lain meriwayatkan: apa yang dialami Nabi Ibrohim itu yang menyebabkan الله memerintahkan menyembelih puteranya (Nabi Isma’il)  dan ketika Nabi Ibrohim memegang pisau untuk menyembelih puteranya ia berkata: Ya الله, ini putraku, buah hatiku orang yang sangat aku cinta. Tiba-tiba ada jawaban: ingatlah ketika engkau meminta padaku untuk membinasakan hambaku, apakah engkau tidak tahu bahwa Aku amat kasih pada hambaKu, sebagaimana kasihmu terhadap anakmu, maka jika engkau memita padaKu untuk membunuh hambaKu, maka Aku minta padamu untuk membunuh anak kandungmu, jadi satu-satu, ingatlah, yang memulai itu yang lebih kejam. 

Sumber :  https://telegram.me/kitabhikam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar