Sabtu, 27 Juni 2020

Hati Menjadi Sumbernya Nur


مطالعُ الانوارالقلوب والاسرارُ

“Sumbernya berbagai Nur cahaya Ilahi (nur ilmu bagaikan bintang, nur ma’rifat bagaikan bulan dan nur tauhid bagaikan matahari) itu dalam hati manusia dan rahasia-rahasianya (asror) ."

Hati dan sirnya para ‘Arifiin itu ibaratnya seperti langit yang menjadi tempat berjuta-juta bintang, bulan dan matahari. Seperti yang sudah diterangkan pada hikmah yang terdahulu bahwa nur yang keluar dari hati ‘Arifiin itu lebih terang dibandingkan sinarnya bintang, bulan dan matahari.

Sebagian Arifiin berkata: Andaikan الله membuka Nur hatinya para waliyulloh, niscaya cahaya matahari ,bulan akan suram (kalah). Sebab cahaya matahari dan bulan bisa tenggelam dan gerhana, sedangkan Nur hati para wali itu tidak bisa tenggelam dan gerhana.

Dalam hadits qudsi, رَسُول اللهﷺ bersabda, Firman الله : Tidak cukup untukKu bumi dan langitKu, tetapi yang cukup bagiku hanya Hati hambaKu yang beriman.

Syeih Abul Hasan As-syadzily رضي الله عنه. berkata: Andaikan الله membuka Nurnya seorang mukmin yang berbuat dosa, niscaya memenuhi langit dan bumi. Maka bagaimanakah dengan nurnya mukmin yang taat kepada الله.

Syeih Abul-Abbas al- Mursy berkata: Andaikan الله membuka hakikat kewaliannya seorang wali, niscaya wali itu akan disembah orang, sebab dia bersifat dengan sifat-sifat الله.
Jadi kalau kta tidak mengetahui nurnya ‘Arifin itu bagian dari belas kasihnya الله.

نَورمستودعٌ فى القلوبِ مددهُ من النورالواردِمن خزاءن الغيوبِ.

“Nur (cahaya keyakinan) yang tesimpan dalam hati hamba, itu itu selalu bertambah karena datang langsung dari gudang (perbendaharaan ) alam ghaib."

Sebagaimana diterangkan dalam hikmah terdahulu, bahwa الله menerangi alam semesta ini dengan cahaya benda (matahari,bulan) buatanNya. Sedangkan الله menerangi hati dengan nur sifat-sifatnya. Selanjutnya dalam hikmah ini mejelaskan bahwa Nur cahaya keyakinan dalam hati para Arifiin itu salurannya langsung dari Nur yang berasal dari perbendaharaan alam Ghaib. Sehingga Nur yang ada dalam hati Arifiin semakin bertambah terang memancar.

Dalam kitab Latho-iful-minan diterangkan: ketahilah! Apabila الله menolong seorang walinya, maka hatinya akan dijaga dari segala suatu selain الله, dan الله akan menjaga hati walinya dengan selalu menambah Nur keyakinan.
  
 Selanjutnya Syeih ibnu ‘Atho’illah memberi isyarah kalau Nur itu ada dua macam, dengan dawuh:

نوريكشفُ لك بهِ عن اٰثاره، ونوريكشف لك به عن اوصافه

“Nur yang di capai dengan panca indera itu bisa membuka /menerangkan keadaan makhluk (atsar),  dan nur keyakinan dalam hati dapat menunjukkan kamu hakikat sifat-sifat الله."

Hikmah ini juga bisa di artikan: 

1.Nur yang ada di hati Arifiin itu bisa membuka/  mengetahui keadaan makhluk , mengetahui apa yang ada di atas dan di bawah langit, apa yang ada di bawah bumi dll. Yang seperti ini dinamakan Kasyaf Shuwary. Menurut ulama’ ahli hakikat Kasyaf Shuwary itu tidak dipentingkan.
 
2. Dan Nur itu juga bisa membuka sifat-sifat keagungan,dan keindahan الله, nur yang seperti ini tidak akan bisa berhasil kecuali الله memperlihatkan sifat-sifat keagunganNya pada hamba.hal seperti ini disebut Kasyaf Ma’nawy. Dan inilah yang terpenting menurut para Arifiin. 

 ربّما وقفتِ القلوبُ مع الانوار كماحجبت النفوس بكثاءِف الاغيارِ

“Terkadang hati hamba itu terhenti pada sinar cahaya itu (sehingga hati terhijab dari الله), sebagaimana terhijabnya nafsu dengan syahwat macam-macamnya benda selain الله."

Ada dua perkara yang bisa menghijab/ menghalangi manusia berjalan menuju الله yaitu: 

1.Hijab/ penghalang yang berupa Nur, yaitu macam-macamnya cahaya ilmu dan ma’rifat. Apabila hati hamba selalu silau melihat dan condong kepada Nur ilmu dan ma’rifatnya, dan menjadikan ilmu dan ma’rifatnya sebagai tujuan ibadahnya, bukan karena الله yang memberi ilmu dan ma’rifat.

2.Hijab berupa kegelapan, yaitu kesenangan nafsu syahwat dan adat kebiasaan nafsu. 

 ستر انوار السرائـربكثائـف الظواهر،إجلالالها ان تبتذل بوجودالاظهار وان ينادٰى عليها بلسان الاِشتهارِ

“Alloh sengaja menutupi nur/ cahayanya hati dengan pekerjaan-pekerjaan yang lahir, itu karena mengagungkan nur tersebut, dan jangan sampai diremehkan dengan terbuka begitu saja, dan supaya tidak diberitakan menjadi orang yang mashur/ terkenal."

Nur cahaya kewalian itu sangatlah agung dan mulia, maka الله mengagungkannya dari kehinaan sebab diperlihatkan, dan dijaga oleh الله dari keterkenalan dikalangan makhluk.

Hikmah ini juga sudah diterangakan pada hikmah 118 terdahulu, dan juga الله menutupi nur kewalian karena rahmat /kasih sayang dari الله terhadap orang-orang mukmin,  sebab sekiranya nur kewalian terbuka pada seseorang, orang tersebut berkewajiban mencukupi hak-haknya wali, yang mungkin tidak dapat melaksanakannya. Dan dengan demikian berarti telah berbuat dosa durhaka. 

Sumber :  https://telegram.me/kitabhikam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar