Selasa, 30 Agustus 2016

Jangan Tinggalkan Aku Sendiri, Maharani

Kukuh,

nafas terbuang menghembus di belantara,

dari puncak tebing hingga dasar lembah

langkah terhempas membelah kesendirian.





Pelipis ini berdarah-darah

mengeja kemauan sukma entah hendak kemana,

bulir rindu resah membiru

titik embun runtuh dari pucuk daun,

mata hatiku,

Maharaniku.





Lihatlah,

akar menghujam perut bumi,

tercabut,

rubuh dan perih.





Lihatlah aku menangis meratapi,

masih mampukah menterjemahkan mimpi.





Masih pantaskah aku bermimpi, Maharani ?



---

21 April 2011 00:21

By Muhammad Saroji

Majalah Sastra

© Copyright - All rights reserved

Tidak ada komentar:

Posting Komentar