Senin, 29 Agustus 2016

Rembulan Emas

Senja merah saga

bersandingkan rembulan emas di langit timur,

tirai awan laksana kapuk tipis,

menemani bintang gemintang yang indah dan cemerlang.





Di tepian bandara ini aku hendak melukis,

menorehkan kanvas pada lembar-lembar kehidupan

merah, kuning, biru, jingga, ungu,

tangis, tawa, rindu, diam, cemburu,

itulah cerita,

dari perjalanan kaki hingga pengembaraan kalbu,

di senja merah saga ini aku ingin berseri,

bukan tangisan meratapi bintang sunyi,

ini perjalanan bagai mengarungi samudra luas

layar terkembang, terhanyut perahu terbawa angin,

tapi perahu cinta ini tak ingin berbalik arah,

dari kasih sayang menjadi dendam benci.





Maharaniku,

tegarkanlah perjalanan ini,

setegar rembulan emas yang bertahta di langit timur,

ini jiwa bukan lembar keputusasaan,

bukan sukma tercabut dari duri,

angin dingin tetap bertiup dari tepian bandara,

menuju dermagamu

tempat bahteramu berlabuh.





Bahteramu

jiwamu

kasih sayangmu

hidup matimu

suci

tetap suci.





Maharaniku,

di senja merah saga ini aku ingin berseri

bukan tangisan meratapi bintang sunyi..





Bahteramu

permata hatimu

adalah rembulan emas

yang tetap cemerlang bercahaya

di langit timur…





Just for My Heart….created on Cirebon, West Java

2 Mei 2011 11:48

By Muhammad Saroji

Majalah Sastra

© Copyright - All rights reserved

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini