Senin, 29 Agustus 2016

Catatan Kecil Sang Narapidana : Tuhan, Bolehkah ?

Pekan ini Aku pulang Kang, meski tak penuh kantongku,

tapi cukuplah untuk setoranku

aku kangen thole Kang,

sebak dadaku menahan himpitan kuasa dan angkaramu tak mampu membendung

rasa kangenku pada buah hatiku.





O, iya Kang,

ada sebuah hadiah juga untukmu, tapi masih ku rahasiakan darimu,

hanya Tuhan yang tahu, karena aku telah mengadukan perihal hadiahku kepadaNya.

Tak usah menjemputku di stasiun seperti biasanya ya Kang, aku mau

menikmati perjalanan sendirian saja, karena nanti aku tak kan bisa

menikmatinya.





Ini suratku untuk suamiku tersayang, minggu lalu, suami yang telah

menikahiku dengan mahar sekeping uang ratusan sisa kalah judi domino.

Tak apalah, yang penting syaratnya sudah terpenuhi, itu kata suamiku.





Malam ini, saat semua terlelap tertidur, bayangan suamiku tergambar

jelas di langit-langit kamar pengap ini.

Tubuh tegapnya berlumuran darah !!

Pisau dapur seharga Rp 3500, menancap di punggungnya!!





Ah, suamiku sayang, kini kaupun mati terjengkang!!, Siapa suruh kau

setiap saat membuatku melacurkan diri ? Siapa suruh kau menyandera

buah hatiku demi menuntut uang setoran dariku yang kau pergunakan

untuk judi domino dan tidur dengan pelacur !!





Tuhan, bolehkah aku mengucap Alhamdulillah atas tercapainya hajat

membunuh suamiku tersayang ??





18 Mei 2011 12:00

By Muhammad Saroji

Majalah Sastra

© Copyright - All rights reserved

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini